menu

Bad Boys #2 Troy's Spy Bab 15 (Tamat)

Mode Malam
Bab 15 (Tamat)

PIKIRAN pertamaku adalah Troy mati. Tanpa tedeng alingaling langsung menuju yang terburuk, membuatku kontan jadi panik.

Air mataku terus mengalir sementara aku menggulingkan tubuh Troy ke samping, dan berlutut untuk memeriksa keadaannya. Bukan untuk memeriksa keadaannya, sebenarnya. Lebih tepatnya, aku menggoncang-goncangkan tubuhnya dengan panik.

”Troy?”  panggilku.  ”Troy,  bangun!  Ayo,  bangun!  Buka mata lo!”

Tak ada respons dari Troy. Matanya tetap terpejam, dia tetap diam tidak bergerak. Kugoncangkan tubuhnya semakin keras.

”Troy, jangan begini!” isakku. ”Jangan bikin gue takut!

Gue mau lo bangun! Please, Troy.”

Ketika tetap tak ada respons dari Troy, kepanikanku pun bertambah, dan aku mulai histeris. Kini aku tak hanya sekadar menggoncang-goncangkan tubuhnya, tapi juga menepuk-nepuk pelan pipinya.

”Troy, jangan mati!” jeritku. ”Lo nggak boleh mati! Lo nggak boleh mati gara-gara gue! Bangun! Cepat bangun sekarang!”

Seandainya aku bisa lebih tenang sedikit, aku akan menyadari Troy masih bernapas. Dia tentu saja tidak mati, melainkan hanya pingsan.

Seandainya aku bisa lebih tenang sedikit, aku akan menyadari pertempuran sudah berhenti. Perhatian semua orang hanya tertuju pada Troy, sampai-sampai mereka melupakan lawan masing-masing.

Seandainya aku bisa lebih tenang sedikit, aku akan menyadari Edgar berdiri dengan tampang syok. Pasti dia teringat akan kematian kakaknya.

Seandainya aku bisa lebih tenang sedikit, aku akan menyadari Ivy berada di dekatku dan Troy. Sama sepertiku, dia juga berlutut dan menjerit-jerit histeris. Jeritanku dan jeritan Ivy silih berganti memenuhi pabrik. Austin sampai setengah mati berusaha menenangkan Ivy, mendekapnya dari belakang sambil berbisik-bisik di telinganya.

Seandainya aku bisa lebih tenang sedikit, aku akan menyadari Natasha juga berusaha menenangkanku. Dia menahan tanganku, supaya aku tidak terus-menerus menggoncang-goncangkan tubuh Troy.

Tapi aku tidak bisa tenang. Sama sekali tidak tenang.

Aku bahkan mengamuk ketika Natasha menarikku mundur karena ingin memberi jalan pada Lionel untuk memeriksa keadaan Troy. Butuh usaha ekstra bagi Natasha untuk memegangiku, sebab tenagaku lebih besar dari tenaganya.

”Telepon ambulans,” perintah Lionel—entah kepada siapa.

Andy-lah yang menanggapinya. ”Ambulans?” ulangnya. ”Kenapa nggak kita bawa sendiri aja ke rumah sakit? Kan yang bawa mobil banyak.”

”Kita nggak bisa sembarangan mindahin dia,” jelas Lionel. ”Takutnya tulangnya ada yang patah, dan kita malah memperparah keadaannya.”

Andy mengangguk-angguk mengerti, lalu bergegas bergeser untuk menelepon ambulans. Dia menelepon agak jauh dari kami, mungkin merasa terganggu dengan jeritanku dan Ivy.

Aku tidak tahu apa yang dilakukan geng Edgar dan geng Cebol selama kami menunggu kedatangan ambulans, sebab aku (sibuk) menangis sambil memanggil-manggil nama Troy. Betapa aku sangat menyesal telah membuat Troy celaka. Lebih baik aku yang tadi tertimpa potonganpotongan kayu itu daripada Troy.

Ini jauh dari lebih parah daripada saat Troy menolakku dulu. Kalau Troy sampai mati, aku tidak akan bisa bertahan.

Ketika ambulans datang, dan beberapa paramedis turun sambil membawa brankar untuk memindahkan Troy, lagilagi aku mengamuk. Natasha masih memegangiku, jadi aku hanya bisa mencakar-cakar udara, sambil meneriaki mereka.

”Jangan bawa Troy!” teriakku marah. ”Jangan bawa dia ke mana-mana! Dia harus tetap di sini!”

Natasha mulai kewalahan memegangiku. ”Nel,” panggilnya pada Lionel. ”Nel, bantuin gue dong.”

Lionel pun membantu Natasha memegangiku. Hampir saja wajahnya terkena cakaranku, tapi dengan sigap dia menahan tanganku.

”Sophie, lo harus tenang,” bujuk Lionel. ”Mereka kan mau bawa Troy ke rumah sakit.”

Tentu saja aku tahu mereka mau membawa Troy ke rumah sakit. Hanya saja aku tidak bisa berpikir dengan jernih, dan malah menyangka mereka mau memisahkanku dengan Troy. Austin dan Ivy ikut mendampingi Troy di ambulans. Ivy nyaris tidak bisa berjalan, sehingga Austin harus memapahnya.

Ambulans berlalu dengan cepat, sirenenya meraungraung di tengah kegelapan malam, dan yang kuinginkan hanyalah mengejarnya. Tapi sulit sekali melepaskan diri dari Lionel dan Natasha, yang dengan tekun memegangiku.

”Gue mau bersama Troy,” isakku. ”Tolong bawa gue ke dia.”

”Iya,” kata Lionel mengerti. ”Kita juga akan ke rumah sakit sekarang.”

”Naik mobil gue aja,” tawar Natasha. Dia menyerahkan kunci mobilnya pada Lionel, membiarkan Lionel yang menyetir, sementara dia sendiri menemaniku di jok belakang.

Lucu juga sebenarnya. Aku kan begitu membenci Natasha, dan bahkan menganggapnya sebagai musuh, tapi lihat apa yang terjadi sekarang? Aku menangis di pelukannya sementara dia berusaha menghiburku.

”G-gimana kalau Troy b-benar-benar mati?” isakku. ”Gimana kalau g-gue nggak bisa ngelihat dia lagi?”

”Troy nggak akan mati,” kata Natasha, lembut. ”Kita kan sama-sama tahu betapa kuatnya dia. Jadi dia nggak akan mati. Lo harus meyakini itu, Soph.”

Ya, Natasha benar. Troy memang sangat kuat. Tapi akan cukup kuatkah dia untuk mempertahankan hidupnya? Tuhan, tolong selamatkan Troy, doaku dalam hati. Tolong biarkan dia tetap hidup.

Setelah berdoa panjang, aku menjadi sedikit tenang. Aku bahkan sempat berhenti menangis. Tapi tangisku kembali pecah ketika bertemu Ivy di rumah sakit. Troy sedang diperiksa di Instalasi Gawat Darurat sementara Austin, Ivy, dan beberapa anggota geng Troy yang sudah sampai lebih dulu menunggu di depannya.

Aku memeluk Ivy, dan menangis bersama-sama. Tadi di pabrik kami sama-sama histeris sehingga baru sekarang sempat berbicara.

”Maaf, Vy,” isakku. ”M-maafin gue. Gue udah bikin Troy celaka. Kalau bukan karena gue, Troy nggak akan ada di sini saat ini. Dia pasti masih baik-baik aja.”

”Bukan salah lo kok,” balas Ivy. ”Lagi pula, Troy pasti senang karena berhasil nyelametin lo.”

”Gue nggak mau diselametin,” sergahku. ”Buat apa gue diselametin kalau akhirnya malah Troy harus masuk rumah sakit?”

”Lo seharusnya bersyukur karena lo nggak apa-apa, Soph, dan bukannya malah ngomong sembarangan begitu,” tegur Ivy. ”Kalau Troy sampai dengar, dia pasti bakal marah sama lo.”

Biar saja Troy marah. Dia harus sadarkan diri terlebih dahulu kalau dia memang mau memarahiku. Aku rela kok dimarahinya. Tak lama kemudian Tante Lydia—ibu Troy—datang. Wajah beliau dipenuhi air mata, sementara beliau berjalan dengan langkah-langkah cepat, oleh Oom Douglas—ayah Troy. Begitu melihat orangtuanya, Ivy langsung berlari menghampiri dan memeluk erat.

Ivy menceritakan secara singkat kronologi kejadian yang menimpa Troy kepada papa-mamanya. Lalu bersama-sama mereka masuk ke Instalasi Gawat Darurat. Mungkin Troy sudah selesai diperiksa.

Aku duduk di antara Lionel dan Natasha, menunggu kabar tentang Troy. Austin duduk di seberang Natasha, beberapa kali bertukar pandang cemas dengan Natasha. Aku tahu yang dicemaskan Austin bukanlah Troy, melainkan Ivy. Melihat Ivy histeris seperti tadi pasti membuatnya syok.

Mungkin yang benar-benar mencemaskan Troy adalah anggota gengnya yang lain. Sebagian dari mereka duduk di deretan kursi yang sama denganku, di sebelah Lionel, sedangkan sebagian lagi tetap berdiri. Troy memang bukan hanya ketua yang mereka hormati, tapi juga teman mereka, meski dia sering bersikap galak pada mereka.

Semua yang duduk langsung melompat berdiri begitu Ivy keluar dari Instalasi Gawat Darurat. Kami merubungi Ivy seperti semut merubungi gula.

”Troy udah sadar,” kata Ivy. Seketika desahan lega terdengar dari mana-mana. Bahkan, saking leganya aku, tubuhku sampai limbung. Mungkin aku akan jatuh kalau Natasha tidak buru-buru memegangiku. ”Dia pingsan karena tertimpa potongan kayu. Selain itu tubuhnya juga penuh dengan luka. Tapi lukanya udah diobati, dan sekarang dia sedang dipindahin ke ruang rawat inap. Kata dokter, dengan beristirahat beberapa hari, Troy akan kembali pulih.”

Terima kasih, Tuhan, ucapku dalam hati. Terima kasih sudah menyelamatkan Troy.

Oom Douglas sibuk mengisi data-data yang diperlukan dan membayar deposit untuk biaya rumah sakit, jadi hanya Tante Lydia dan Ivy yang menemani Troy di ruang rawat inap. Tante Lydia berada di dalam sebentar, lalu keluar dan mempersilakan kami masuk. Austin dan Lionel masuk, dan geng Troy hanya diwakili Andy. Aku sendiri tidak langsung masuk karena ingin bicara dengan Tante Lydia terlebih dahulu sementara Natasha dengan setia mendampingiku. Aku ingin minta maaf pada Tante Lydia seperti tadi aku minta maaf pada Ivy.

”Maafin saya, Tante,” kataku tidak enak. ”Troy jadi begitu karena mau nyelametin saya.”

”Kamu nggak perlu minta maaf,” kata Tante Lydia. ”Yang penting kamu nggak apa-apa, dan Troy juga nggak apa-apa. Lagi pula, Tante juga sudah berkali-kali nasihatin Troy supaya berhenti main geng-gengan begitu. Nggak ada bagusnya kan, malah yang ada berantem melulu. Tapi anaknya benar-benar kepala batu, susah dibilanginnya, nggak pernah mau dengar perkataan Tante. Sekarang, dengan kejadian ini, mungkin dia akan kapok. Semoga bisa jadi pembelajaran buat dia, supaya ke depannya bisa lebih menjaga diri.”

Mengamini kata-kata Tante Lydia, aku juga berharap kejadian seperti ini terakhir kalinya terjadi. Aku tidak ingin melihat Troy celaka lagi, apalagi gara-gara aku.

”Ya sudah, Tante nyusul Oom dulu ya,” pamit Tante Lydia. ”Kamu masuk saja. Troy nyariin kamu dari tadi.”

Sepeninggal Tante Lydia, aku dan Natasha berjalan masuk ke ruang rawat inap Troy. Ada dua ranjang di sana, dan Troy menempati ranjang di samping jendela, sementara ranjang yang satunya kosong.

Ivy sibuk mengomeli Troy. Suaranya keras sekali, padahal kami sedang berada di rumah sakit. Tapi tampaknya Troy tidak mendengarkannya, perhatiannya terpecah padaku. Sejak aku masuk, sampai aku berhenti di dekat kaki ranjang yang satunya, Troy tidak henti-hentinya menatapku.

Bukan hanya Troy, aku pun demikian. Meski lega karena Troy masih hidup, tak pelak aku sedih juga melihat keadaannya. Wajah Troy tampak pucat, tubuhnya diperban di sana-sini, termasuk kepalanya.

”Troy, lo ngedengerin gue nggak sih?” omel Ivy, mau tak mau membuat perhatian Troy sepenuhnya kembali padanya. ”Pokoknya udah cukup ya. Nggak ada lagi yang namanya geng-gengan. Lo harus segera berhenti jadi ketua geng.” Troy mendesah. ”Masa jabatan gue emang tinggal beberapa bulan lagi kok,” katanya.

”Terlalu lama kalau harus nunggu beberapa bulan,” protes Ivy. ”Harus secepatnya. Kalau bisa malah hari ini juga.”

Austin tersenyum puas mendengar Troy diomeli Ivy, dan sampai disuruh berhenti menjadi ketua geng segala. Tapi senyum Austin itu tertangkap sudut mata Ivy.

”Jangan senyam-senyum!” bentak Ivy pada Austin. Austin nyaris terlompat saking kagetnya, bahkan senyum dengan segera menghilang dari wajahnya. ”Itu juga berlaku buat kamu. Kamu pun harus segera berhenti jadi ketua geng.” Austin menunjukkan wajah keberatan, tapi untuk amannya, hanya manggut-manggut. Kalau dia sampai berani mendebat Ivy, bisa-bisa pulang-pulang dia hanya tinggal

nama.

Kini, gantian Troy yang tersenyum puas, meski samar saja. Dia dan Austin memang sama saja—sama-sama tidak berkutik di depan Ivy.

Puas mengomel, Ivy berbaik hati memberiku dan Troy privasi. Dia pamit pada Troy, secara tidak langsung juga mengusir yang lain supaya segera keluar dari ruang rawat inap Troy.

”Awas ya kalau lo nggak cepat sembuh!” ancam Ivy pada Troy, sebelum berlalu bersama Austin. Giliran Natasha selanjutnya. ”Cepat sembuh ya, Troy,” ucapnya.

”Thanks, Natasha,” balas Troy.

Oke, ini bukan saat yang tepat untuk merasa cemburu. Jadi aku berusaha menahan rasa cemburu yang sempat menggelegak, dan memaksakan senyum di wajahku ketika Natasha berpaling padaku. Bagaimanapun, aku sudah berutang banyak padanya malam ini.

”Baik-baik ya, Sophie,” kata Natasha—terdengar tulus. ”Thanks,” gumamku kikuk.

Natasha tidak lupa pada Lionel. ”Gue pulang dulu ya, Nel,” pamitnya.

”Lo mau pulang naik apa, kalau kunci mobil lo masih di gue?” goda Lionel.

Natasha menepuk kening. ”Astaga, gue lupa!” cetusnya. Tersipu malu, dia mengambil kunci mobilnya dari tangan Lionel. ”Thanks ya, Nel.”

Lionel dan Natasha pasti akan menjadi pasangan yang cocok. Seharusnya mereka cepat-cepat berpacaran saja. Setelah itu Andy pamit, dan yang terakhir adalah Lionel.

Lionel sempat berbisik-bisik dengan Troy, entah tentang apa, dan baru kemudian meninggalkan ruang rawat inap Troy.

Ruangan ini langsung terasa sepi, kontras dengan saat dipenuhi omelan Ivy tadi. Aku masih berdiri di dekat kaki ranjang yang satunya, sedikit salah tingkah karena hanya tinggal berdua dengan Troy.

”Sophie,” panggil Troy. ”Sini. Jangan jauh-jauh begitu.” Aku menurut, dan berpindah ke samping ranjang Troy.

Semakin dekat jarakku dengannya, semakin aku menyadari betapa tidak berdayanya dia—hanya terbaring di ranjang, dan tampak begitu lemas. Tanpa kuinginkan, air mataku mulai mengalir lagi.

”Sophie, jangan nangis,” bujuk Troy. ”Gue kan udah nggak apa-apa.”

”Tapi gue benar-benar nggak tega ngelihat lo,” akuku. ”Lo pasti kesakitan banget.”

”Cuma sedikit kok,” kilah Troy.

Aku mendengus. ”Nggak mungkin cuma sedikit, karena lo sampai pingsan begitu,” sergahku. ”Gue takut banget tadi. Gue takut lo mati. Kalau... kalau lo benar-benar mati”—tangisku semakin menjadi-jadi—”mendingan gue mati juga.”

”Sophie, nggak baik ngomong soal kematian,” nasihat Troy.

”Gue serius,” tandasku. ”Pokoknya, lain kali lo nggak boleh lagi membahayakan diri lo demi gue. Nggak peduli apa pun yang akan terjadi sama gue, lo tetap harus mengutamakan keselamatan lo sendiri.”

”Gue sama sekali nggak menyesali apa yang udah gue lakukan tadi,” kata Troy. ”Selama ini gue sangat sering melukai hati lo. Gue nggak ingin melihat lo terluka lagi.”

”Kalau gue sampai terluka pun, itu semua karena salah gue sendiri,” kataku. ”Lo udah nyuruh gue berhenti menjalankan tugas gue sebagai mata-mata lo, tapi gue nggak melakukannya. Akibatnya gue malah disandera sama geng Edgar dan geng Cebol, dan membuat lo terpaksa nyelametin gue.”

”Jadi yang kemarin malam di bioskop, lo nge-date sama Edgar emang buat menjalankan tugas lo sebagai mata-mata gue?” tanya Troy. ”Bukan karena lo... mmm... jatuh cinta sama dia?”

”Gue cuma mau lo berpikir bahwa gue udah move on,” akuku.

Entah perasaanku saja atau bukan, tapi Troy tampak lega. ”Syukurlah,” gumamnya.

Syukurlah? Kenapa Troy mengatakan itu?

”Sophie, gue mau jujur sama lo,” kata Troy tiba-tiba. Hanya dengan satu kalimat itu, dia sukses membuatku tegang setengah mati, sekaligus penasaran—yang sama setengah matinya, sampai-sampai aku tidak tahu mana yang porsinya lebih besar. ”Sejak nolak lo, gue merasa kehilangan lo. Kita emang nggak selalu ketemu setiap hari, tapi gue udah begitu terbiasa dengan kehadiran lo. Sehingga ketika lo nggak ada, rasanya seperti ada yang... kurang.”

Ketidakhadiranku berdampak pada Troy? Kukira tidak akan ada bedanya untuknya, baik aku ada maupun tidak.

”Beberapa hari ini gue merasa seperti ada di neraka,” lanjut Troy. ”Setiap hari gue selalu memikirkan lo, dan kangen sama lo, tapi nggak bisa ketemu lo. Bisa, sebenarnya, andai aja gue nggak menyanggupi permintaan lo supaya untuk sementara kita nggak saling ketemu dulu.”

Wajar jika aku yang selalu memikirkan dan merindukan Troy, tapi kalau sebaliknya? Pikiran Troy pastilah sudah penuh dengan banyak cewek, tidak akan ada tempat lagi untukku. Jadi tidak mungkin dia memikirkanku, apalagi merindukanku, tidak peduli meski dia sendiri yang mengatakannya.

”Gue senang banget ketika kemarin malam kita nggak sengaja ketemu di bioskop,” kata Troy. ”Tapi ternyata lo malah bersama Edgar, dan gue ngelihat lo menggandeng tangannya. Sumpah, Sophie, rasanya gue harus mati-matian menahan diri supaya nggak langsung menyerang Edgar saat itu juga. Mungkin gue... cemburu. Entahlah. Yang jelas, gue nggak rela kalau lo jadi milik cowok lain.”

Mulutku sampai menganga. Troy? Cemburu? Padahal dulu bahkan dia yang menyuruhku untuk mencari pacar. Kalau dia cemburu, berarti kan...

Ah, tidak, tidak. Jangan berpikir macam-macam. Ingat, aku tidak boleh berharap pada Troy lagi. Bisa-bisa aku patah hati untuk yang kedua kalinya, oleh orang yang sama, padahal aku belum pulih dari patah hatiku yang pertama.

”Gue udah mempersiapkan geng gue untuk melawan geng Edgar dan geng Cebol,” kata Troy. ”Sayangnya gue nggak nyangka mereka akan menyandera lo. Terang aja gue langsung kalang kabut, hingga memutuskan untuk meminta bantuan Austin. Dibanding geng lainnya, geng Austin-lah yang paling kuat. Saat gue yakin lo udah aman, gue malah ngelihat lo hampir kejatuhan potongan-potongan kayu dari rak. Tanpa berpikir panjang, gue langsung melompat ke arah lo. Gue nggak ingin kehilangan lo, Sophie. Membayangkannya aja begitu menyakitkan. Kalau gue sampai gagal nyelametin lo, gue nggak akan pernah bisa memaafkan diri gue sendiri.”

Jika aku yang tertimpa potongan-potongan kayu itu, mungkin aku akan mati, karena tidak sekuat Troy. Troy memiliki dua pilihan: menyelamatkanku dan mengorbankan dirinya sendiri, atau tidak menyelamatkanku dan membiarkanku mati. Dua-duanya tidak ada yang enak.

”Gue memikirkan ulang semua kejadian itu,” beber Troy. ”Dari sana, cuma ada satu kesimpulan.”

Baik atau burukkah kesimpulannya itu? Aku bahkan tidak berani mengambil kesimpulan sendiri.

Troy menatapku lurus-lurus dan berkata, ”I think i’m falling in love with you, Miss Wyna.”

Aku langsung jatuh. Tidak main-main, aku langsung menghantam lantai. Pandanganku kabur karena begitu derasnya aliran air mataku, sementara tubuhku gemetaran tak terkendali.

Sungguhkah Troy jatuh cinta padaku? Ini bukan sembarang orang, ini Troy Cornelius—cowok yang sudah kutaksir sejak tiga setengah tahun lalu. Mendengarnya menyatakan cinta padaku rasanya begitu aneh, begitu tak nyata, sehingga aku sulit memercayainya.

Untuk kedua kalinya hari ini, aku mencubit pipiku keraskeras. Sakit. Ini juga bukan mimpi.

Aku langsung mendongak ketika mendengar erangan kesakitan Troy, dan melihat ia dalam posisi setengah duduk sambil memegangi kepalanya. Sepertinya dia khawatir karena aku jatuh tiba-tiba, dan berusaha duduk supaya bisa melihatku lebih jelas, tapi usahanya itu membuat kepalanya sakit.

Tidak ingin Troy kesakitan, buru-buru aku berdiri, meski dengan susah payah. Aku membantunya untuk berbaring kembali.

”Sophie, kenapa lo jatuh?” tanya Troy.

”H-habis lo bercandanya ngagetin begitu,” sahutku. ”Gue nggak lagi bercanda kok,” bantah Troy. ”Yang gue

bilang itu emang benar, dan langsung dari hati gue.” ”Tapi... tapi kenapa gue?” tanyaku tidak mengerti. ”Kan

masih banyak cewek lain.” ”Mungkin emang banyak cewek lain.” Troy setuju. ”Tapi cuma ada satu Sophie Wyna, kan?”

Cewek-cewek lain bisa mengucapkan selamat tinggal, karena Troy tidak menginginkan mereka. Troy-cuma-menginginkanku.

”Dulu lo nolak gue dengan alasan gue sahabat Ivy.” Aku mengingatkan kakak temanku itu. ”Sekarang kan gue masih sahabat Ivy. Jadi apa yang membuat lo berubah pikiran?”

”Gue kepingin cari pacar yang serius,” Troy beralasan. ”Dan siapa yang lebih tepat dibanding sahabat Ivy?”

Astaga, pacar yang serius! Troy berniat serius denganku! Katakan padaku, kalau sudah begini, bagaimana aku bisa berhenti menangis? Aku begitu bahagia sampai-sampai air mataku terus mengalir. Mengingat begitu seringnya aku menangis hari ini, juga hari-hari sebelumnya, aku heran air mataku tidak habis-habis.

”Oh iya, gue juga mau minta maaf untuk ciuman tadi,” tambah Troy, membuat wajahku langsung memerah. ”Gue udah lancang karena mencium lo tanpa seizin lo. Mungkin karena gue begitu kangen sama lo, jadi melampiaskannya seenaknya begitu.”

”N-nggak apa-apa kok,” gumamku, malu.

Sebenarnya Troy tidak perlu minta maaf padaku. Tapi akan sangat memalukan kalau aku mengakui padanya bahwa aku senang dia menciumku. Sekali lagi aku melihat Troy memegangi kepalanya, dan meski kali ini tidak terdengar erangan kesakitannya, aku tahu kepalanya pasti sakit lagi. Bodohnya aku. Aku sudah membuat Troy banyak bicara, padahal kan dia butuh istirahat.

”Gue pulang dulu deh, Troy,” pamitku, meski enggan. ”Lo istirahat aja. Kalau lo nggak keberatan, besok gue datang lagi.”

”Tentu aja gue nggak keberatan,” kata Troy. ”Gue malah kepingin lo datang. Tapi lo datangnya sama Lionel, ya.”

”Gue bisa sendiri kok,” kataku.

”Jangan,” larang Troy. ”Pokoknya selama beberapa hari ini, lo jangan ke mana-mana sendiri dulu. Takutnya Edgar masih mengincar lo. Gue akan nyuruh anggota geng gue untuk gantian jagain lo. Kalau nanti gue udah keluar dari rumah sakit, gue sendiri yang akan jagain lo.”

Aku ragu Edgar masih mengincarku. Tapi daripada Troy jadi khawatir, dan malah melarangku datang, aku mengangguk saja.

Kakiku tidak mau bergerak dari samping ranjang Troy sehingga aku harus mati-matian memaksanya supaya mau melangkah ke pintu ruang rawat inap Troy. Sampai aku sudah membuka pintu itu pun, aku masih berkali-kali menengok ke arah Troy. Wajahnya terakhir kulihat sebelum akhirnya dengan berat hati aku menutup pintu itu.

Lionel langsung bangkit dari kursi yang sedang didu_ dukinya ketika melihatku keluar. Ternyata dia belum pulang.

”Kok lo masih di sini?” tanyaku heran.

”Troy nyuruh gue nganterin lo pulang,” jawab Lionel. Kapan Troy menyuruhnya? Ah, pasti saat mereka berbisikbisik tadi. Ternyata penjagaanku sudah dimulai dari malam ini. ”Tapi kita pulangnya naik taksi aja ya, soalnya motor gue kan masih di markas geng Cebol. Kuncinya juga masih lo pegang kan, Soph?”

Kalau Natasha lupa mengambil kunci mobilnya dari Lionel, aku lupa mengembalikan kunci motor Lionel pada Lionel. Kunci itu masih tersimpan di saku celanaku. Aku mengeluarkannya dan mengembalikannya padanya.

”Terus kapan lo mau ambil motor lo?” tanyaku. ”Mobil Troy juga masih di sana, kan?”

”Gue ambil nanti, setelah nganterin lo pulang,” jawab Lionel. ”Tadi Troy juga udah ngasih kunci mobilnya ke Andy, nyuruh dia ambil mobilnya. Sekarang Andy dalam perjalanan balik ke sana.”

Masih sambil membicarakan motornya dan mobil Troy, aku dan Lionel berjalan menuju pintu depan rumah sakit. Lionel berharap motornya dan mobil Troy masih dalam keadaan utuh, dalam artian tidak dirusak anggota geng Edgar atau anggota geng Cebol.

Di lobi rumah sakit, kami bertemu dengan orang yang tidak disangka-sangka. Edgar. Dia berdiri di dekat pintu depan, dan begitu melihat kami, dia langsung berjalan menghampiri kami.

Lionel refleks memasang sikap defensif—berdiri sedikit di depanku, memelototi Edgar. Tapi yang dipelototi tampaknya tidak sadar, atau tidak peduli, karena dia terus saja berjalan. Dia baru berhenti setelah jaraknya dirasanya cukup dekat dengan kami.

”Ngapain lo ke sini?” desis Lionel tidak senang. ”Gue mau bicara sama Sophie,” kata Edgar.

”Jangan ngimpi!” bentak Lionel. ”Gue nggak akan ngizinin lo bicara sama Sophie.”

Edgar menatap langsung kepadaku. ”Sophie, please,” pintanya. ”Gue janji nggak akan makan waktu lama.”

Edgar tampak begitu memelas sehingga aku jadi tidak tega menolaknya. Aku memang membencinya karena ia telah memukuli Troy, tapi akan memberinya kesempatan untuk menjelaskan.

”Lima menit,” cetusku.

Lionel terkejut karena aku masih mau bicara dengan Edgar. ”Sophie, dia bisa melukai lo,” dia memperingatkan.

”Gue nggak akan melukai Sophie,” protes Edgar. ”Setelah lo menyanderanya, apa lo pikir gue bakal

percaya?” balas Lionel.

Aku buru-buru menengahi mereka. ”Lo bisa mengawasi kami,” usulku pada Lionel. ”Jadi kalau dia berani macammacam, lo akan melihatnya.” Lionel masih tampak keberatan, tapi akhirnya setuju juga. Dia menjauh dariku dan Edgar, memberi kami privasi, tapi tetap di tempat dia bisa mengawasi kami.

Setelah ditinggal berdua, atmosfer di antara aku dan Edgar langsung berubah canggung. Tentu saja. Belum lama, aku disandera olehnya. Bagaimana kami jadi tidak canggung?

Akhirnya Edgar yang terlebih dulu membuka mulut. ”Gimana keadaan Troy?” tanyanya.

”Dia masih lemas, tentu saja,” aku memberitahunya. ”Tapi dia nggak apa-apa.”

Edgar tidak berkomentar apa-apa mendengar keadaan Troy. Wajahnya juga datar saja, tidak menunjukkan rasa lega atau kecewa.

”Gue nggak bermaksud melukai Troy sampai separah itu, Soph,” gumam Edgar tiba-tiba. ”Gue emang udah sesumbar bakal bikin dia babak belur. Tapi niat gue memukulinya hanya untuk membalasnya, bukan untuk... membunuhnya.”

”Gue tahu lo nggak berniat membunuhnya,” tanggapku. ”Lagi pula, yang terjadi sama Troy juga bukan sepenuhnya salah lo. Itu salah gue juga. Lo emang menepak tangan gue, tapi gue yang menabrak rak itu dan menyebabkan potongan-potongan kayu itu jatuh.”

”Makasih atas pengertian lo, Soph,” ucap Edgar. Wow, seorang Edgar Julian mengucapkan terima kasih padaku? ”Sekarang gue sadar bahwa kata-kata lo saat di markas geng Cebol tadi emang benar. Gue emang nggak ada bedanya dengan orang-orang yang menyebabkan kakak gue meninggal. Gue ingin membalas orang-orang seperti mereka, tapi dalam prosesnya, gue malah berubah menjadi seperti mereka juga.”

”Seenggaknya kan sekarang lo udah sadar,” kataku menghibur Edgar. ”Jadi jangan lo ulangi lagi perbuatan lo itu.”

”Gue juga udah kapok,” cetus Edgar. ”Gue akan menghentikan rencana gue untuk menghancurkan geng Troy. Termasuk foto-foto Troy, yang akan segera gue hapus. Lo tahu tentang foto-foto itu, kan? Salah satu anggota geng Cebol bilang, lo mengambil laptop gue, dan gue tebak alasannya pastilah karena foto-foto itu.”

Sepertinya preman berkepala botak itu sudah siuman, makanya dia bisa mengadu pada Edgar bahwa salah satu bidadarinya mengambil laptop Edgar. Omong-omong, di mana laptop itu sekarang? Terakhir aku menjatuhkannya begitu saja di kaki tangga pabrik.

”Lo benar-benar akan menghapus foto-foto itu?” selidikku.

Edgar mengangguk. ”Selain di laptop, gue juga menyimpan foto-foto itu di flash drive,” akunya. ”Tapi jangan khawatir, akan gue hapus semuanya.”

Berarti masalah Troy sudah selesai. Oh, betapa senangnya. Aku mungkin akan memeluk Edgar kalau tidak ingat ada Lionel yang mengawasi kami.

”Cukup tentang Troy,” kata Edgar. ”Sekarang gue mau bicara tentang lo.”

Tentangku? Tidak apa-apa deh. Belum sampai lima menit, jadi Edgar masih punya waktu untuk menumpahkan unekuneknya.

”Sebenarnya alasan utama gue menyandera lo adalah karena gue begitu marah dan kecewa sama lo,” beber Edgar. ”Gue kira lo tulus mau temenan sama gue. Tapi ternyata lo hanya mau membantu Troy.”

Aku jadi tidak enak. ”Gue emang nggak memikirkan dampaknya ke lo,” gumamku.

”Dampaknya jauh lebih besar dari yang lo kira, Soph,” kata Edgar. ”Apalagi, karena lo cewek pertama yang pernah gue kasih waktu lebih dari seminggu.”

Keningku berkerut, tidak mengerti maksud Edgar. Tapi kemudian kata-katanya saat untuk ketiga kalinya kami berada di Kafe 99 terngiang-ngiang di benakku.

”Biasanya, kalau gue suka sama cewek, gue akan kasih waktu seminggu untuk melihat apakah dia ada sedikit perasaan yang sama dengan gue.”

Edgar bahkan memberiku waktu lebih dari seminggu. Apa itu berarti dia menyukaiku, melebihi cewek-cewek lain yang pernah disukainya? Ah, tidak mungkin. Dia kan selalu menjutekiku. ”Entah sejak kapan, gue selalu memikirkan lo, dan itu membuat gue heran,” lanjut Edgar. ”Lo emang cantik, tapi juga pemaksa dan superberisik. Jadi seharusnya mudah bagi gue untuk menyingkirkan lo dari pikiran gue.”

Sialan Edgar. Memujiku, tapi ujung-ujungnya justru mengataiku.

”Tapi justru sifat-sifat lo yang seperti itulah yang membuat hidup gue jadi lebih berwarna,” kata Edgar. ”Gue jadi nggak bisa memungkiri lagi bahwa gue emang memiliki perasaan ke lo.”

Edgar tidak serius menyukaiku, kan? Sebab kalau dia serius, berarti dia menyembunyikan perasaannya dengan sangat baik di balik kejutekannya.

”Gue suka sama lo, Sophie,” ungkap Edgar.

Astaga. Ternyata Edgar memang benar-benar menyukaiku. Jelas ini rekor untukku—dua cowok menyatakan cinta padaku pada hari yang sama. Masalahnya, cowok pertamalah yang sudah pasti kuterima cintanya.

Sebelumnya aku sudah beberapa kali menolak cowok, tapi sepertinya inilah yang tersulit. Mungkin karena aku sudah merasakan sendiri sakitnya ditolak, sehingga tidak ingin Edgar merasakan hal yang sama denganku, meski sebenarnya itu tidak bisa dihindari.

”Gue sangat menghargai perasaan lo ke gue,” tanggapku. ”Tapi gue nggak bisa—”

”Gue tahu lo nggak bisa membalas perasaan gue,” potong Edgar. ”Gue juga tahu cinta lo cuma untuk Troy seorang. Tapi tetap aja, itu nggak menghentikan gue untuk mengungkapkan perasaan gue ke lo. Gue nggak mengharapkan jawaban apa pun dari lo. Gue cuma ingin lo tahu.”

Oh. Baguslah.

”Mungkin ini karena gue udah melanggar prinsip yang gue buat sendiri,” kata Edgar. ”Andai gue nggak melanggarnya, dan tetap kasih lo waktu seminggu, gue nggak akan patah hati begini.”

Tuh kan, Edgar jadi patah hati. Aku harus menghiburnya. Patah hatinya tidak boleh sampai berkepanjangan—walau aku ragu dia akan menangis berhari-hari sepertiku. Ketika mataku tertumbuk pada kafeteria yang berada di seberangku, mendadak aku tahu apa yang harus kulakukan.

”Tunggu sebentar, ya,” kataku. ”Tetap di sini, jangan ke mana-mana.” Lalu, tanpa memedulikan kebingungan Edgar, aku segera berlari ke arah kafeteria itu.

Bukan hanya Edgar yang kebingungan, melainkan juga Lionel. Dia sudah akan mengikutiku, tapi aku mengangkat tangan, memintanya tetap diam di tempatnya.

Mungkin karena sudah malam, makanan di kafeteria tinggal sedikit. Akhirnya aku hanya membeli tiga kroket, tiga lemper, dan sebotol Aqua. Secepat kilat, aku berdiri kembali di depan Edgar. Kuulurkan kantong plastik berisi makanan dan minuman yang kupegang padanya. ”Berkali-kali gue mau traktir lo, tapi selalu gagal, dan baru kesampaian hari ini,” kataku. ”Nggak bisa dibilang traktir juga sih, sebenarnya, karena sebagian besar gue belinya pakai duit lo—kembalian waktu lo traktir gue. Intinya, gue udah nggak ada utang apa-apa lagi sama lo. Oh, dan satu lagi.” Aku mengaduk-aduk tasku, mengeluarkan saputangan Edgar, kemudian mengulurkannya padanya. ”Udah gue cuci kok. Sekarang udah kembali bersih dan wangi.”

Awalnya Edgar hanya bisa terpana menatap kantong plastik dan saputangan yang kini sudah berada di tangannya. Lalu dia tersenyum, dan tidak seperti senyumnya yang kulihat sebelumnya, senyumnya kali ini bertahan lebih dari sedetik. Aku terkagum-kagum melihat betapa gantengnya dia kalau tersenyum begitu.

”Lo seharusnya lebih sering tersenyum kayak begitu,” komentarku. ”Dijamin deh, banyak cewek yang bakal berlomba-lomba memperebutkan hati lo.”

Senyum Edgar langsung lenyap. Salahku. Seharusnya aku tidak berkomentar apa-apa.

”Makasih untuk traktirannya, Soph, dan makasih juga karena lo udah mau bicara sama gue,” ucap Edgar. Total sudah tiga kali dia mengucapkan terima kasih padaku. ”Meski cuma lima menit, gue udah cukup senang.”

Ditambah dengan waktu yang kuperlukan untuk ke kafeteria, sebenarnya sudah lebih dari lima menit. Tapi, kalau bisa lebih menghibur Edgar, aku akan memberinya lima menit waktu tambahan. Eh, lebih dari itu, satu jam juga tidak apa-apa. Paling-paling Lionel yang lumutan.

Bahu Edgar merosot ketika pamit padaku dan berjalan menuju pintu depan. Sedih juga melihatnya begitu, apalagi dia jadi begitu karena aku.

”Kenapa lo ngebeliin Edgar makanan dan minuman?” tanya Lionel, yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku.

”Buat ngehibur dia, sekaligus ngelunasin utang gue sama dia,” jawabku.

Mengikuti Edgar, aku dan Lionel kemudian juga berjalan menuju pintu depan. Edgar menghilang dengan cepat, karena begitu kami tiba di selasar rumah sakit, dia sudah tidak terlihat di mana-mana.

* * *

Reaksi Jason dan Ivy sangat bertolak belakang ketika aku menceritakan pada mereka tentang Troy yang menyatakan cinta padaku. Aku baru menceritakan pada mereka keesokan paginya, karena tadi malam Jason sudah tidur—menyebalkannya, lagi-lagi dia mengunci pintu kamarnya—dan aku merasa sudah terlalu malam untuk menelepon Ivy.

Jason masih belum sepenuhnya bisa memaafkan Troy karena pernah membuatku patah hati. Dia bertekad tetap akan memberi Troy satu-dua pukulan. Aku berusaha meyakinkannya bahwa dia tidak perlu memberi Troy satu-dua pukulan karena toh sekarang aku sudah tidak patah hati lagi.

Ivy, di lain pihak, sampai terharu mendengar ceritaku. Dengan mata berkaca-kaca, dia mengatakan padaku bahwa dia ikut bahagia untukku. Sebenarnya aku sempat mengira dia sudah tahu lebih dulu dari Troy. Tapi karena harus sekolah, dia belum sempat menjenguk Troy. Ponsel Troy juga dipegang mamanya, supaya Troy bisa beristirahat dengan lebih maksimal, dan bukannya memusingkan hal-hal di luar kesehatannya. Hal-hal itu, aku yakin, berkaitan dengan masalah gengnya.

Ketika Jason dan Ivy dengan kompak bertanya, apakah itu berarti sekarang aku dan Troy berpacaran, aku hanya bisa menggeleng. Troy memang sudah menyatakan cinta padaku, tapi belum memintaku menjadi pacarnya.

Selama berhari-hari aku menemani Troy di rumah sakit, dia tidak pernah lagi mengungkit soal perasaannya padaku lagi. Sempat tercetus rasa takut di hatiku, Troy pura-pura lupa karena menyesal sudah menyatakan cinta padaku.

Sebenarnya aku ingin bertanya langsung pada Troy, tapi takut  dia  menganggapku  agresif.  Oke,  aku  tahu  Troy menganggapku agresif, karena bagaimanapun aku yang lebih dulu menyatakan cinta padanya. Tapi sekarang kami sudah sampai pada tahap ini, jadi jangan sampai dia malah jadi ilfil padaku.

Kejutan datang seminggu setelah Troy keluar dari rumah sakit—dia mengajakku berkencan ke Dunia Fantasi. Tempat yang sama seperti kencan pertama kami, dan mungkin dia memilihnya karena begitu menikmati kebersamaan kami di sana.

Setelah puas menaiki berbagai wahana yang ada—termasuk wahana Tornado, yang akhirnya bisa kami naiki—wahana terakhir yang kami naiki sama seperti dulu yaitu wahana Bianglala. Troy, entah kenapa, begitu bersikeras ingin menaiki wahana itu.

”Gue udah membuat keputusan,” kata Troy tiba-tiba, dalam perjalanan kami menuju Bianglala. ”Gue akan sepenuhnya merestui hubungan Austin dan Ivy.”

”Serius?” tuntutku. ”Terus Ivy udah tahu?”

”Belum,” geleng Troy. ”Nanti gue akan mengatur makan malam lagi, untuk ngasih tahu Ivy, sekaligus ngasih tahu Austin juga. Buat Austin, terutama, akan gue tambahkan beberapa peringatan. Sedikit aja dia berbuat kesalahan, akan gue cabut restu gue itu.”

”Apa gue boleh ikut makan malam itu?” tanyaku meminta izin. ”Jadi kan kita berempat bisa double date lagi.”

”Rencananya gue emang mau ngajak lo,” kata Troy. ”Bahkan lo boleh pilih restorannya.”

Restoran Eureka jelas tidak akan kupilih, karena terlalu mengingatkanku pada Natasha, tentu ketika aku masih membencinya. Bukan berarti sekarang aku tidak membencinya. Hanya saja, sudah tidak sebesar dulu. ”Gue jadi penasaran apa alasan lo membuat keputusan itu,” kataku. ”Apa itu karena Austin udah mau ngebantu lo?”

”Salah satunya itu,” aku Troy. ”Tapi gue juga ngerasa emang udah waktunya aja. Lagi pula, Austin sebenarnya, yah, boleh juga.”

Untuk ukuran Troy, ”boleh juga” sudah lumayan, bahkan mungkin yang terbaik yang bisa didapat Austin. Lengkaplah sudah kebahagiaan Ivy. Bukan hanya dia yang ikut bahagia untukku, aku juga ikut bahagia untuknya.

Topik tentang Austin dan Ivy langsung terlupakan begitu aku dan Troy menaiki Bianglala, dan tergantikan dengan topik tentang kami sendiri. Tepatnya, yang berhubungan dengan kencan pertama kami, saat kami berada di wahana yang sekarang sedang kami naiki lagi.

”Apa lo ingat apa yang pernah lo katakan di sini?” tanya Troy.

Butuh sedikit waktu bagiku untuk bisa mengingatnya, karena banyak yang kukatakan pada Troy pada kencan pertama kami, sedangkan aku agak lupa-lupaingat yang mana kukatakan di mana. Tapi akhirnya aku bisa mengingatnya, apa yang kukatakan beberapa saat sebelum Troy menceritakan tentang Pacar-Tiga-Bulan dan Pacar-TigaJam-nya.

”Kalau nanti ada cowok yang mau nembak gue, gue ingin deh ditembak di sini.” Ya Tuhan... itukah sebabnya? Itukah sebabnya Troy mengajakku berkencan di Dunia Fantasi, dan begitu bersikeras ingin menaiki wahana ini? Bukan sekadar karena dia begitu menikmati kebersamaan kami di sini dulu, tapi karena dia ingin memintaku menjadi pacarnya di wahana ini, seperti keinginanku?

Tubuhku menegang, dipenuhi antisipasi. Mungkin wajahku seperti orang yang kebelet, karena Troy sampai tersenyum geli melihatnya.

”Santai aja dong mukanya.” Troy menggoda sembari menjawil ujung hidungku dengan gemas.

Aku langsung tersipu. Bahkan saat segenting ini pun, masih saja aku bersikap memalukan.

Troy kembali serius. Dia menggenggam tanganku, mengirimkan kehangatan yang luar biasa, hingga ke dalam hatiku. Matanya, yang tidak pernah lepas dariku, menatapku dengan sorot penuh... cinta. Sungguh tidak kusangka, akan datang hari Troy menatapku dengan cara yang sama seperti aku menatapnya.

”So,  Miss  Wyna,”  kata  Troy,  dengan  suara  selembut beledu. ”Will you be my girlfriend?” 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊