menu

Bad Boys #2 Troy's Spy Bab 14

Mode Malam
Bab 14

OTAKKU langsung nge-hang. Serius, rasanya aku sama sekali tidak bisa berpikir. Tubuhku membeku, dengan mata terbuka lebar. Seiring dengan kerja otakku yang kembali normal, aku pun menyadari apa yang sedang terjadi, bibir siapa yang sedang berada di keningku. Perlahan, aku menutup mata.

Kini jantungku tidak hanya sekadar berdebar keras seperti saat Troy menggandengku tadi, tapi juga sekalian melakukan somersault. Berkali-kali.

Ciuman Troy berlangsung cukup lama sampai Troy menghentikannya. Ketika merasakan sentuhan tangannya di pipiku, aku membuka mata, dan melihatnya sedang tersenyum padaku.

Kurasa aku akan meleleh...

”Kita bicarain ini nanti,” kata Troy. Kali ini dia tidak menunggu sampai aku berlari ke pintu samping, melainkan langsung menghilang ke balik pintu tempat kami masuk tadi—kembali ke pertempuran. Dia pasti tahu, dibanding berlari, yang lebih mungkin adalah aku jatuh pingsan. Dan aku memang benar-benar jatuh, meski tidak sampai pingsan. Lututku rasanya sudah berubah menjadi keju, tidak kuat lagi menopang tubuhku, sehingga aku langsung jatuh terduduk.

Aku memegang keningku, masih merasa seperti sedang bermimpi. Aku bahkan sampai mencubit pipiku keras-keras, merasakan sakitnya yang menyengat, untuk meyakinkan diriku bahwa ini bukan mimpi.

Ini pertama kali cowok mencium keningku, dan cowok itu Troy!

Tapi kenapa Troy menciumku?

Maksudku, dia kan tidak menyukaiku. Apa dia menciumku hanya untuk membuatku diam?

Ah, untuk apa merusak kesenangan? Yang penting Troy melakukannya dalam keadaan sadar, dan tidak ada yang memaksanya. Mungkin memang sangat mendadak, dan sangat mengejutkanku, tapi aku tidak keberatan.

Aku masih berada di awang-awang ketika mendengar ada yang memanggil namaku. Aku menoleh, dan yang kulihat dua orang yang tidak kusangka akan berada di sini.

Ivy dan Natasha.

Mereka keluar dari balik tumpukan kayu di sebelah kananku. Sepertinya sudah sedari tadi mereka bersembunyi di sana.

”Kok kalian berdua bisa ada di sini?” tuntutku. Sebelum salah satu dari Ivy atau Natasha sempat menjawab, mendadak aku teringat akan hal yang lebih penting lagi, yang membuat wajahku sedikit memerah dan aku jadi tergagap saat melanjutkan, ”A-apa kalian sempat m-melihat apa yang terjadi antara g-gue dan Troy tadi?”

Wajah Ivy ikut memerah saat menyahut, ”Sedikit. Paling cuma beberapa detik pertama. Tapi habis itu gue langsung tutup mata kok. Beneran. Tanya aja sama Natasha.”

Natasha hanya mengangguk, mendukung kata-kata Ivy. Terlihat senyum geli di wajahnya, mungkin menganggap reaksiku dan Ivy lucu.

Rasanya aku jadi ingin membenamkan diriku ke bawah tumpukan kotak kayu dan tidak keluar-keluar lagi sampai sejuta tahun mendatang. Ciumanku dengan Troy dilihat adik dan mantan pacarnya. Adakah yang lebih memalukan lagi?

”Mendingan sekarang jelasin kenapa kalian berdua bisa ada di sini,” ulangku, sebab Ivy dan Natasha belum sempat menjawabnya. Semoga dengan begitu mereka bisa sekalian melupakan adegan yang mereka lihat tadi.

”Natasha nelepon gue tadi,” cerita Ivy. ”Dia bilang Troy datang ke rumahnya dan nemuin Austin. Dia nguping pembicaraan mereka sehingga tahu Troy minta bantuan Austin untuk melawan geng Edgar dan geng Cebol. Troy nggak mau ambil risiko melawan mereka sendiri, sebab mereka menyandera lo. Austin sih sempat jual mahal sedikit, tapi akhirnya mau juga ngebantuin Troy. Baguslah. Kalau nggak, gue tendang dia.”

Ternyata Ivy benar-benar mau menendang Austin. Padahal tadi aku cuma asal bicara.

”Austin nggak tahu markas geng Cebol,” lanjut Ivy. ”Dia nggak pernah ke sini, jadi minta alamatnya sama Troy, dan Natasha  ikut  mencatatnya.”  Yay,  tepuk  tangan  untuk Natasha. ”Karena penasaran dengan apa yang akan terjadi, juga khawatir, gue dan Natasha memutuskan untuk ikut datang ke sini. Tadinya kami mau masuk lewat pintu depan, tapi begitu melihat preman pingsan di sana, kami jadi takut. Kami nyari pintu lain, dan ketemu pintu samping. Belum lama kami masuk, kami dengar ada yang masuk juga dari pintu lainnya. Kami buru-buru sembunyi, dan baru belakangan kami tahu ternyata yang masuk lo dan Troy. Sebenarnya kami mau langsung nyamperin kalian, tapi kayaknya kalian lagi terlibat pembicaraan serius. Ujung-ujungnya, kalian malah ci—” Aku langsung menutup telingaku rapat-rapat. ”Udah, nggak usah disebut-sebut lagi!” potongku malu.

Selesai memberi penjelasan, Ivy menuntut hal yang sama dariku. Dia menatapku dengan pandangan menyelidik. ”Kenapa lo bisa disandera geng Edgar dan geng Cebol?” tuntutnya. ”Gue bahkan nggak pernah ngedengar lo menyebut-nyebut mereka. Apa itu ada hubungannya dengan sesuatu yang lo rahasiakan dari gue itu?”

Tepat sekali!

Berhubung Ivy sudah mengungkitnya, maka aku akan menceritakannya padanya. Toh memang sudah saatnya dia tahu.

Aku memulainya dari awal—dari pertama kali aku bertemu Edgar, berlanjut ke niat Edgar untuk menghancurkan geng Troy, sampai tugasku sebagai mata-mata Troy. Untuk yang terakhir itu, aku sengaja tidak menceritakan detailnya, terutama bagian aku menguntit Edgar sampai ke sini. Aku tidak mau membuat Ivy marah.

Meski aku sudah melewatkan bagian itu, tetap saja Ivy marah. Seperti yang kuduga, dia tidak mau aku membahayakan diriku.

”Lo benar-benar ceroboh, bego, dan nekat,” rutuk sahabat sejatiku itu. Ceroboh, bego, dan nekat—benar-benar kombinasi hebat. ”Kalau lo sampai kenapa-kenapa, gimana, Soph?”

”Gue kan melakukannya demi Troy.” Aku berusaha membela diri dengan sengaja menyebut-nyebut Troy, karena siapa tahu Ivy akan melunak. ”Justru gue nggak mau dia kenapa-kenapa.”

”Gue juga nggak mau dia kenapa-kenapa,” tandas Ivy. ”Tapi itu kan masalah gengnya. Dia pasti bisa mengatasinya sendiri.”

”Mungkin bisa, tapi lebih cepat dengan bantuan gue.” ”Sophie!”

”Iya, iya, gue tahu.” Akhirnya aku mengalah. ”Lionel juga udah marahin gue kok.”

”Bagus itu,” tanggap Ivy puas. ”Lo emang harus dimarahin. Tapi gue juga harus marahin Lionel karena dia maumau aja jadi rekan lo.”

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menertawakan Lionel. Dalam hati, tentu saja. Benar-benar cari masalah namanya kalau aku malah tertawa-tawa saat Ivy menyemburkan api kemarahannya. Ivy memang mirip naga kalau sedang marah. Tanya saja pada Austin yang sering jadi korbannya.

Natasha ikut menimbrung. ”Pantas aja beberapa kali gue ngelihat lo lagi ngobrol bareng Edgar di SMA Soteria,” komentarnya padaku. ”Padahal tadinya gue pikir lo sering ke SMA Soteria hanya karena adik lo mau sekolah di sana, tapi ternyata juga karena—”

”Karena apa? Karena gue tertarik sama Edgar?” potongku judes. ”Apa lo tertarik sama Edgar?” cetus Ivy kaget.

Dua orang ini sebentar lagi benar-benar akan membuatku gilaaaaaa. ”Mana mungkin sih gue tertarik sama cowok lain selain Troy?” sergahku bete. ”Udah deh. Daripada ngomongin hal yang nggak penting begitu, mendingan kalian berdua temenin gue ke atas.”

Ivy tampak keberatan. ”Ke atas? Ngapain?”

Aku jadi heran. Sebenarnya tujuan Ivy—Natasha juga sebenarnya, tapi dia tidak kusebut karena hanya Ivy yang menunjukkan keberatannya—datang ke sini untuk apa sih? Kalau dia memang penasaran, seharusnya kan dia justru bersemangat untuk menjelajahi tempat ini, apalagi dia juga belum melihat pertempuran yang sedang terjadi. Apa dia cuma ingin duduk-duduk di sini sambil ngopi-ngopi cantik? Padahal di sini tidak ada kopi.

”Gue mau nyari laptop Edgar,” jelasku. ”Dia nyimpan foto-foto Troy yang lagi ngebobol SMA Vilmaris. Troy dijebak. Dia bisa dikeluarkan dari sekolah kalau Edgar sampai menyebarkan foto-foto itu, jadi gue harus menghapusnya.”

Ya, aku baru teringat perihal laptop Edgar ketika tadi bercerita pada Ivy, sehubungan dengan tugasku sebagai mata-mata Troy. Itu termasuk bagian yang kulewatkan, tapi akhirnya kuceritakan juga pada Ivy. Tadi anggota geng Edgar membawa laptop itu ke lantai atas, mungkin untuk menyembunyikannya. Aku harus menemukannya dan menghapus foto-foto itu. Soal apakah Edgar juga menyimpan foto-foto itu di tempat lain atau tidak, urusan belakangan.

Mendengar Troy bisa dikeluarkan dari sekolah, Ivy langsung setuju untuk menemaniku ke lantai atas. Dia bahkan memintaku agar buru-buru menunjukkan jalan. Natasha mengikut saja.

Aku membuka sedikit pintu tempatku dan Troy masuk tadi, untuk mengintip suasana di dalam. Ivy dan Natasha ikut-ikutan mengintip. Mereka tampak terkejut dengan apa yang mereka lihat, mungkin tidak menyangka pertempurannya sebesar itu. Sekarang barulah mereka panik, setelah tadi tenang-tenang saja.

Pertempuran masih berlangsung seru. Kalau aku, Ivy, dan Natasha berjalan menuju tangga di sudut kiri, apa kira-kira kami akan ketahuan ya oleh geng Edgar dan geng Cebol? Tapi kami tetap harus mencobanya, karena cuma itu satu-satunya jalan yang kutahu untuk mencapai lantai atas. Mungkin ada jalan lain, tapi karena tidak mengenal tempat ini, aku tidak mau membuang-buang waktu untuk berputar-putar mencari jalan lain.

Setelah memastikan—sebenarnya tidak bisa disebut memastikan sih, karena jumlah mereka cukup banyak untuk kuperhatikan satu per satu, apalagi mereka juga bercampur baur dengan geng Troy dan geng Austin—tidak ada anggota geng Edgar dan anggota geng Cebol yang melihat, aku buru-buru memimpin Ivy dan Natasha masuk. Selain anggota geng Edgar dan geng Cebol, sebenarnya ada satu orang lagi yang aku tidak ingin sampai melihat kami, terutama melihatku. Orang itu tentu saja Troy. Tadi kan dia menyuruhku langsung pulang, tapi aku justru sok-sokan jadi Dora the Explorer di sini.

Aku, Ivy, dan Natasha berbelok ke kiri, lalu mengendapendap menuju tangga. Kami berada di tengah-tengah tangga ketika tiba-tiba terdengar seruan tertahan Natasha, membuatku langsung memasang kuda-kuda untuk menendang siapa pun—terbatas pada geng Edgar dan geng Cebol—yang memergoki kami.

”Sori,” bisik Natasha tidak enak. ”Barusan gue hampir jatuh.”

Ternyata tidak ada yang perlu kutendang. Mengagetkan saja si Natasha. Ceroboh sekali, bisa hampir jatuh begitu. Aku sih tidak peduli, meskipun dia jatuh terguling-guling. Mau dia jadi kambing guling pun aku akan cuek saja, yang penting dia tidak membuat kami ketahuan.

”Hati-hati dong!” desisku memperingatkan. Aku kembali melanjutkan langkah menaiki tangga sementara dari sudut mata aku tetap mengawasi Natasha yang berada beberapa anak tangga di bawahku. ”Nanti di atas lo jangan sampai kesandung ini-itu dan bikin heboh. Gue butuh ketenangan supaya bisa konsentrasi nyari laptop Edgar yang mungkin disembunyiin di tempat yang sulit ditemukan.” ”Maksud lo kayak di sana?” tunjuk Ivy. Tidak jauh dari puncak tangga, terdapat meja, di mana di atasnya laptop Edgar nongkrong dengan gagahnya.

Oke, lupakan saja kata-kataku soal tempat-tempat yang sulit ditemukan. Mana kusangka ternyata aku hanya tinggal mencomot laptop Edgar dari atas meja?

Sisa-sisa anak tangga yang ada kunaiki dengan berlari, tidak lagi berjalan seperti sebelumnya. Mungkin sedikit menimbulkan kegaduhan, apalagi aku berlari dengan penuh semangat, tapi toh kegaduhan itu akan tersamarkan teriakan-teriakan yang berasal dari pertempuran.

Baru saja aku tiba di depan meja itu, bahkan sebelum aku sempat membuka laptop Edgar, tiba-tiba muncul preman berkepala botak. Preman itu, dengan cepat kusadari, adalah preman yang pernah memergokiku ketika pertama kali aku datang ke pabrik ini. Kini dia kembali memergokiku— kali ini bersama Ivy dan Natasha, yang berdiri di belakangku. Mereka agak terlambat tiba karena tidak ikut berlari sepertiku.

”Wah, ini kan Neng Cantik yang dulu,” kata preman itu, lagi-lagi sambil menyeringai mengerikan. Ternyata dia juga mengingatku. ”Sekarang bawa dua Neng Cantik lain.” Seringai mengerikannya berpindah ke Ivy dan Natasha. ”Beruntung banget Abang, malam-malam begini kejatuhan tiga bidadari.”

Bidadari gundulmu, sungutku dalam hati. Kebetulan preman itu memang gundul. Bukannya aku tidak mau disebut bidadari. Hanya saja, lihat-lihat dulu yang menyebutku begitu siapa.

Tanganku gesit mengambil laptop Edgar, lalu aku, Ivy, dan Natasha berlari cepat menjauhi preman itu. Preman itu mengejar, tentu saja. Mana mungkin dia membiarkan tiga bidadarinya lolos begitu saja?

Di pertigaan koridor, kami memutuskan untuk berpencar— aku lurus, Ivy ke kiri, dan Natasha ke kanan. Dan tebak, siapa yang tetap dikejar preman itu?

Yup. Aku.

Menyebalkan sekali. Ada Natasha yang begitu cantik, dan Ivy yang tidak kalah cantiknya, tapi preman itu dengan setianya tetap memilihku. Apa karena aku membawa laptop Edgar?

Ujung koridor sudah mulai terlihat, menampakkan jendela berteralis. Di sisi kiri dan kanan terdapat pintu. Aku mencoba membuka pintu kiri. Terkunci. Begitu pun pintu kanan.

Gawat, sepertinya aku terjebak. Kalaupun jendela yang berada di ujung koridor ini tidak berteralis, aku tetap tidak mungkin melompat ke bawah. Bisa-bisa aku patah tulang, atau yang lebih parah, mati. Aku juga tidak mungkin berlari kembali dan mencoba membuka pintu-pintu lain yang tadi kulewati, karena itu sama saja aku berlari menyambut preman itu. Preman itu mulai memperlambat larinya begitu menyadari aku terjebak. Kini dia malah berjalan, selangkah demi selangkah, mendekatiku.

Aku mendekap erat laptop Edgar di dada, seolah laptop itu bisa melindungiku. Mungkin laptop itu memang bisa melindungiku. Setidaknya aku bisa menggunakan laptop itu untuk memukul kepala preman itu kalau dia berani macam-macam padaku.

”Nggak bisa lari lagi ya, Neng Cantik?” goda preman itu. Seringai mengerikan tidak pernah meninggalkan wajahnya. ”Makanya, daripada lari, mendingan sini Abang sayangsayang.”

Bolehkah aku muntah?

Preman itu semakin mendekatiku. Hanya tinggal tiga langkah, dan dia akan mencapai tempatku berdiri.

”Berhenti!” Tiba-tiba terdengar suara Ivy. Preman itu langsung berhenti—bukan karena dia menuruti Ivy, tapi lebih karena kaget—lalu berbalik, dan mendapati Ivy berdiri gemetaran sambil membawa potongan kayu. Ivy mengangkat potongan kayu itu, bersiap memukul. ”K-kalau lo terus mendekat, gue bakal p-pukul lo.”

”Neng Cantik berani mukul Abang?” tantang preman itu. Dia maju selangkah mendekati Ivy, dan Ivy spontan bergerak selangkah—tapi mundur—membuat preman itu ter_ tawa meremehkan. ”Kok Neng Cantik malah mundur?”

Aku tahu pasti seumur-umur Ivy belum pernah memukul orang, jadi jelas dia tidak akan berani memukul preman itu. Tapi aku salut juga, karena bukannya bersembunyi, dia justru datang untuk menyelamatkanku.

Mumpung perhatian preman itu tidak tertuju padaku, aku mencoba menyelinap melewatinya. Baru aku bergerak sedikit, dia kembali berbalik. Gagal deh. Dia benar-benar awas.

Ah, ralat. Ternyata dia tidak seawas itu. Mungkin dia hanya kebetulan berbalik. Buktinya, dia bahkan tidak menyadari kemalangan yang akan segera menimpanya.

Seseorang muncul dari belakang Ivy, mengambil potongan kayu yang dipegang Ivy—posisi tangan Ivy tetap tidak berubah meskipun potongan kayu itu tidak lagi di tangannya, menandakan dia tidak menyangka akan ada yang mengambilnya—lalu memukulkannya ke kepala preman itu. Tanpa permisi lagi, preman itu langsung jatuh pingsan.

Tidak dengan laptop Edgar, preman itu malah dipukul dengan potongan kayu. Pingsan pula.

”Austin!” seru Ivy panik. Memang Austin yang tadi memukul preman itu. ”Kamu membunuhnya!”

”Aku nggak memukulnya sekeras itu, sampai bisa membunuhnya,”  bantah  Austin.  Dia  melemparkan  potongan kayu yang dipegangnya ke lantai. ”Dia cuma pingsan.”

”Tetap aja, seharusnya kamu nggak memukulnya,” sergah Ivy. Padahal tadi dia sendiri juga mengancam akan memukul preman itu, meski hanya asal mengancam.

”Kalau aku nggak memukulnya, bisa-bisa dia memanggil bantuan.” Austin membela diri. ”Lagi pula, lebih baik kamu berhenti mengkhawatirkan preman itu, dan mulai mengkhawatirkan dirimu sendiri. Aku lagi marah banget sama kamu. Apa-apaan sih kamu, muncul di sini seenaknya? Aku hampir aja kena serangan jantung waktu ngelihat kamu dan Natasha naik tangga tadi. Untung aja aku yang ngelihat, gimana kalau anggota geng Edgar atau anggota geng Cebol?”

Diomeli begitu, Ivy langsung cemberut. Tapi mungkin karena dia tahu dirinya memang salah, dia tidak melawan Austin.

”Omong-omong, di mana Natasha?” tanya Austin.

”Di sini.” Terdengar jawaban Natasha. Dengan takuttakut, dia menghampiri kami. Ke mana saja dia dari tadi, baru muncul sekarang?

Omelan Austin segera berpindah ke adiknya. ”Pasti lo nguping pembicaraan gue dengan Troy, lalu menyampaikannya ke Ivy,” tuduhnya. ”Apa lo nggak tahu betapa berbahayanya datang ke sini?”

Natasha juga tidak melawan Austin. Dia hanya menunduk.

”Dan lo!” sentak Austin padaku. Astaga, aku kena semprot juga! ”Troy mati-matian berusaha melindungi lo, tapi lo malah seenaknya jalan-jalan di sini, kayak ini mal aja. Pakai acara ngajak-ngajak Natasha dan Ivy, lagi.”

Ih, mentang-mentang Troy sudah meminta Austin untuk membantunya, sekarang dia malah membela Troy. Dan apa katanya tadi? Jalan-jalan? Apa dia tidak lihat laptop siapa yang sekarang sedang kupegang?

Oh iya, Austin memang tidak tahu ini laptop Edgar, dan foto-foto siapa yang ada di dalamnya. Kalau tahu pun, tetap saja dia akan marah.

Serangan balasan siap untuk kulancarkan, tapi akhirnya kuurungkan. Ivy dan Natasha saja bisa menahan diri untuk tidak melawan Austin, masa aku tidak bisa?

”Ayo, kalian harus segera pergi dari sini!” perintah Austin. Tangan kirinya menggamit lengan Natasha, sedangkan tangan kanannya menggamit lengan Ivy. Tanpa memedulikan protes keduanya, dia mulai menyeret mereka pergi.

Aku mengikuti mereka. Setelah menuruni tangga— mungkin Ivy atau Natasha yang memberitahu Austin dari mana mereka masuk—mereka mengarah ke pintu tempat kami masuk tadi.

Berbeda dengan mereka, aku justru terdiam di kaki tangga. Tatapanku terarah ke depan rak terdekat—tempat Edgar berbicara dengan beberapa anggota gengnya dan seorang preman yang kucurigai sebagai ketua geng Cebol. Di sana Troy sedang dipegangi dua preman sementara Edgar memukulinya. Kondisi Troy cukup parah. Darah mengalir dari pelipisnya, juga dari bibirnya.

Seiring dengan aliran darah Troy, air mataku juga ikut mengalir. Terang saja. Melihat Troy dipukuli saja aku sudah begitu panik, apalagi ditambah dengan darah. Anggota gengnya dan anggota geng Austin masih sibuk dengan lawan masing-masing, sehingga tidak bisa membantunya. Jadi, itulah kenapa sekarang aku seorang diri berlari menembus kerumunan, berusaha menolong Troy. Laptop Edgar sampai kujatuhkan begitu saja.

Samar-samar aku bisa mendengar Ivy memanggilku, tapi aku terus saja berlari. Nyaris aku terkena tonjokan nyasar dari salah satu preman, karena anggota geng Troy yang ditujunya berada terlalu dekat denganku.

Ivy benar. Aku memang ceroboh, bego, dan nekat. Memangnya apa yang akan kulakukan begitu berhadapan dengan Edgar dan kedua preman itu? Toh mereka tetap tidak akan melepaskan Troy meskipun aku memintanya.

Edgar berdiri membelakangiku, sehingga tidak melihatku berlari menghampirinya. Yang melihatku, dengan sedikit terlambat, adalah kedua preman itu. Tapi sebelum mereka sempat memperingatkan Edgar, aku sudah keburu tiba tepat di belakangnya, menahan tangannya yang akan memukul Troy untuk kesekian kalinya.

”Jangan!” cegahku.

Dengan satu sentakan keras, Edgar melepaskan tangannya dariku. Tubuhku sampai limbung, dan menabrak rak di belakangku. Rasanya punggungku seperti sedang dibelahbelah saking sakitnya.

Erangan kesakitan yang keluar dari mulutku langsung menyadarkan Troy. Menggunakan sisa-sisa tenaganya, dia memberontak, melepaskan dirinya dari pegangan kedua preman itu. Tampaknya kemunculanku membuat kedua preman itu lengah.

Troy bersiap menerjang Edgar, tapi perhatiannya teralihkan sesuatu di atasku. Wajahnya berubah ngeri, dan dia langsung berteriak memperingatkanku.

”SOPHIE, AWAAASSSS!!!” teriak Troy.

Bingung, aku mendongak, dan melihat potongan-potongan kayu di rak teratas meluncur jatuh ke arahku. Sebenarnya potongan-potongan kayu itu akan tetap berada di tempatnya andai tadi tubuhku tidak menabrak rak, memicu goncangan pada rak.

Meski ingin menghindar, aku tidak mampu bergerak. Aku justru menutup mata, menanti rasa sakit itu tiba.

Saat itulah Troy menubrukkan tubuhnya ke tubuhku, menjatuhkanku ke lantai. Sebelah tangannya melindungi belakang kepalaku, sehingga tidak langsung menghantam lantai. Tubuhku terjepit di bawah tubuh Troy, sementara potongan-potongan kayu itu menimpanya. Beberapa potongan kayu yang terjatuh ke lantai menimbulkan suara yang memekakkan telinga, tapi aku bahkan tidak bisa menutup telingaku. Jangankan untuk menutup telinga, untuk sekadar bernapas saja rasanya sulit sekali.

Setelah semua potongan kayu itu jatuh, Troy mengangkat tubuhnya sedikit. Buru-buru aku mengambil kesempatan itu untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya.

”S-sophie...,” gumam Troy. Setetes darahnya jatuh ke pipiku. ”Lo ng-nggak apa-apa?”

Merasa tidak mampu bersuara, aku hanya mengangguk.

Troy tersenyum samar. ”S-syukurlah...,” gumamnya lagi. Lalu senyumnya perlahan menghilang, berganti dengan kernyit kesakitan. Tubuhnya kembali jatuh menimpa tubuhku, dan kali ini dia hanya diam, tidak bergerak. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊