menu

Bad Boys #2 Troy's Spy Bab 13

Mode Malam
Bab 13

KEESOKAN harinya, lagi-lagi Edgar muncul di luar rumahku. Saat itu hari sudah sore, dan Edgar mengajakku pergi. Aku menerima ajakannya, meski dia tidak mau memberitahuku mau ke mana.

Ternyata yang menjadi tempat tujuan kami adalah pabrik terbengkalai yang pernah didatangi Edgar saat aku menguntitnya dulu. Pabrik yang kucurigai sebagai markas geng Cebol. Aku tidak menyadarinya sampai kemudian mobilnya melewati daerah yang cukup sepi, yang tidak asing bagiku.

Perasaan tidak enak mulai menyelimutiku saat mobil Edgar memasuki pelataran parkir pabrik itu. Ada beberapa mobil lain, beserta beberapa motor, yang parkir di sana. Tebakanku, milik anggota geng Edgar. Tapi untuk apa mereka berkumpul di pabrik itu?

Setelah memarkir mobil, Edgar meraih laptop dari jok belakang. Aku menatapnya dan laptopnya secara bergantian dengan curiga. Tapi mungkin bukan Troy—atau lebih tepatnya, foto-foto Troy di dalamnya—yang membuatnya ingin menggunakan laptop, jadi aku berusaha mengusir kecurigaanku. Lagi pula, ada hal lain yang lebih perlu kucemaskan.

”Ini tempat apa?” tanyaku, seolah ini pertama kalinya aku ke sini. ”Kenapa lo ngajak gue ke sini?”

”Kalau mau tahu jawabannya, lo ikut gue ke dalam,” sahut Edgar. Dia keluar dari mobil seraya membawa serta laptop.

Tentu saja aku ingin mengetahui jawabannya, tapi akan berbahayakah? Pilihan lain yang kupunya adalah tetap di mobil, menunggu Edgar, entah sampai kapan. Tidak ada angkutan umum yang bisa kunaiki, seandainya aku ingin pulang sendiri.

Pasti akan membosankan, jadi aku memutuskan untuk mengikuti Edgar keluar dari mobil. Dia sudah setengah jalan menuju pintu depan pabrik, yang dijaga dua preman, sementara aku berusaha menyusulnya. Salah satu dari kedua preman itu mengedikkan kepalanya ke arah pintu, mengizinkan Edgar masuk. Ketika tiba giliranku, mereka menatapku dengan penuh minat. Aku langsung mempercepat langkah, berjalan sedekat mungkin dengan Edgar. Di tempat yang penuh preman, hanya Edgar yang bisa membuatku merasa aman, karena aku tidak mengenal satu pun anggota gengnya.

Pabrik ini cukup luas. Di sisi sebelah kiri terdapat beberapa pintu—sebagian terbuka, dan sebagian lagi tertutup. Dari pintu-pintu yang terbuka aku bisa melihat ruangan-ruangan yang penuh dengan kotak kayu. Sedangkan di sisi sebelah kanan terdapat puluhan rak berjajar rapi. Rak-rak itu cukup tinggi, berisi potonganpotongan kayu berbagai ukuran. Mungkin ini dulunya pabrik kayu.

Edgar terus memimpinku berjalan mendekati bangku yang terdapat di ujung, menghadap ke pintu depan. Dia menyuruhku duduk di bangku itu, dan aku pun menurutinya. Baru sebentar aku duduk, tiba-tiba ada seutas tali yang melilit tubuhku, hingga ke sandaran bangku. Sebelum benar-benar menyadari apa yang terjadi, aku sudah terikat, menyatu dengan bangku. Tasku, yang tadinya kuletakkan di pangkuanku, sampai jatuh dalam usaha tanpa hasilku untuk melepaskan diri.

”Apa-apaan sih ini?” seruku pada orang yang mengikatku, yang ternyata salah satu anggota geng Edgar. Anggota geng Edgar itu hanya menatapku sekilas. Setelah mengambil laptop Edgar yang diulurkan Edgar, dia menaiki tangga yang terdapat di sudut kiri, lalu menghilang di baliknya.

Tidak mendapat respons dari anggota geng Edgar, aku beralih pada Edgar. Kesal juga melihat Edgar hanya berdiri diam, membiarkan anggota gengnya mengikatku, padahal seharusnya dia menolongku. Tapi, saat melihat tatapan dingin Edgar, aku pun sadar.

Edgar memang menginginkan aku diikat. Bahkan sepertinya dia sendiri yang menyuruh anggota gengnya untuk mengikatku. Mungkin diam-diam dia memberi tanda pada anggota gengnya sebelum aku duduk tadi. Ini sudah direncanakan, dan karena itu dia mengajakku ke sini. Benar-benar bodoh karena tadi aku sempat menganggap hanya Edgar yang bisa membuatku merasa aman.

”Edgar...,” gumamku. ”Kenapa?”

”Berhentilah berpura-pura, Sophie,” tukas Edgar. ”Lebih baik lo akui aja identitas lo yang sebenarnya.”

”Identitas gue yang sebenarnya?” ulangku bingung. ”Identitas apa?”

”Identitas lo sebagai mata-mata Troy.”

Kalau dulu aku sudah begitu kaget karena ternyata Troy tahu tentang tugasku sebagai mata-matanya, itu tidak sebanding dengan kekagetanku saat ini. Troy jelas tahu dari Lionel, tapi kalau Edgar? Dari mana dia tahu? Dan yang tidak kalah penting, sejak kapan dia tahu? ”B-bukan,” sangkalku. ”Gue bukan m-mata-mata Troy.

Gue bahkan nggak mengenalnya.”

Edgar hanya mendengus. Jelas, apa pun yang kukatakan, dia tidak akan memercayainya. Tampaknya dia begitu yakin aku benar mata-mata Troy. Jadi lebih baik aku tidak menyangkal lagi, karena memang tidak ada gunanya.

”Lo mungkin menganggap gue jahat,” kata Edgar. ”Tapi yang jahat sebenarnya Troy. Lo tahu apa yang udah dilakukannya?”

Yang kuketahui mengenai hal yang sudah dilakukan Troy—tentunya yang berhubungan dengan alasan Edgar ingin menghancurkan gengnya—hanya sebatas yang pernah kudengar dari Lionel. Tapi tidak ada salahnya jika aku mendengarnya dari Edgar juga. Dengan begitu aku akan mendengar ceritanya dari kedua sisi. Jadi aku memasang wajah bingung, yang segera ditangkap Edgar.

”Kalau lo emang nggak tahu, maka gue akan menceritakannya sama lo,” kata Edgar. ”Lagi pula, dengan keadaan lo yang terikat seperti itu, lo emang berhak mendapatkan penjelasan.”

Tidak bisakah aku mendengarkan ceritanya tanpa harus diikat?

”Gue akan menceritakannya dari awal, dari kejadian sekitar dua bulan lalu,” mulai Edgar. ”Waktu itu ada anggota geng gue yang ngelihat anggota geng Troy dipalak preman. Selain diambil duitnya, anggota geng Troy itu juga dipukulin sampai babak belur. Anggota geng gue berusaha menolongnya, tapi preman itu keburu kabur. Hanya karena mereka berada di tempat yang sama, anggota geng Troy jadi salah paham dan mengira anggota geng gue bekerja sama dengan preman itu untuk malak dia. Dia ngadu ke Troy, bilang bahwa anggota geng gue mukulin dia, tanpa menyebut-nyebut soal preman itu. Lalu Troy, tanpa mengonfirmasi kebenaran cerita itu terlebih dulu, langsung balas mukulin anggota geng gue. Anggota geng gue menceritakannya ke gue belakangan, jadi baru seminggu setelahnya gue mendatangi Troy, menuntutnya supaya minta maaf sama anggota geng gue. Meski akhirnya Troy tahu kebenarannya, tetap nggak mau minta maaf. Gue terus memaksanya, dan akibatnya, gue juga ikut dipukulin dia—ditambah dua anggota gengnya.”

Cerita Lionel tidak selengkap cerita Edgar, karena dia sendiri pun tidak diberi tahu kebenarannya oleh Troy. Troy mungkin tahu sebenarnya dia memang harus meminta maaf, tapi tetap tidak melakukannya, dan tidak ingin Lionel tahu.

”Gue jadi begitu membenci Troy, juga anggota gengnya, yang suka seenaknya mukulin orang,” kata Edgar. ”Karena itu gue pun mulai menyusun rencana untuk menghancurkan gengnya. Gue tahu gue nggak bisa melakukannya hanya dengan mengandalkan geng gue, jadi gue mencari geng lain yang bisa gue ajak kerja sama. Pilihan pertama gue adalah geng Austin, karena gue tahu dia musuh bebuyutan Troy. Sayangnya Austin menolak bicara sama gue. Bahkan lo juga nggak berhasil membuat Austin bicara sama gue. Jadi gue beralih ke pilihan kedua yaitu geng Colin. Dia sempat ragu, minta waktu beberapa hari untuk berpikir. Tapi kalau dibujuk terus, gue yakin dia bakal mau kerja sama dengan gue. Dan dia emang hampir mau, ketika tibatiba aja dia nelepon gue buat ngasih tahu bahwa dia nggak mau kerja sama dengan gue. Gue curiga, entah bagaimana pasti Troy tahu gue ngajak Colin kerja sama. Dia mungkin ngancam Colin, tapi gue nggak punya bukti.”

Troy tahu dariku, tentu saja, dan dia memang mengancam Colin. Tak ada yang bisa membuktikannya, kecuali Colin sendiri yang membuka mulut. Untungnya Colin terlalu takut pada Troy untuk melakukannya.

”Gue belum menetapkan pilihan ketiga gue,” lanjut Edgar. ”Tapi sementara itu gue berusaha melemahkan geng Troy dari dalam. Kebetulan ada anggota gengnya yang adiknya sekolah di SMA Soteria, jadi dengan memanfaatkan adiknya, gue ngancam anggota gengnya itu untuk ngebantu gue memecah belah geng mereka. Awalnya dia mau nurutin gue, tapi kemudian berhenti begitu aja, dan nggak takut lagi dengan ancaman gue. Lagi-lagi gue curiga, Troy tahu gue ngancam anggota gengnya itu, dan menyuruhnya berhenti.”

Troy juga tahu dariku, karena Andy—anggota geng Troy yang dimaksud Edgar itu—tidak mau mengambil risiko sehinga akhirnya jujur pada Troy. Entah apa Edgar tahu Troy menugaskan preman kenalannya untuk membantu menjaga adik Andy.

”Gue mulai bertanya-tanya, dari mana Troy tahu rencana gue?” kata Edgar. ”Kalau bukan karena ada anggota geng gue yang berkhianat, mungkin ada orang luar yang menjadi mata-mata Troy. Lalu gue ingat, memang ada orang yang sebelumnya nggak ada, tapi kini sering sekali muncul di sekitar gue. Dan orang itu, gue yakin lo juga bisa menebaknya...”

Aku menelan ludah. Apa cuma aku satu-satunya kandidat yang dicurigai sebagai mata-mata Troy? Seharusnya aku tidak sesering itu muncul di sekitar Edgar. Tapi kalau berlaku seperti itu, bagaimana aku bisa menjalankan tugasku?

”Lo ada waktu gue lagi ngomongin Colin sama anggota geng gue di telepon, dan lo juga ada di tempat gue ketemu anggota geng Troy,” sebut Edgar. ”Meski begitu, gue masih nggak yakin lo mata-mata Troy. Sampai tadi malam, saat gue ngelihat sendiri lo bicara sama Troy di bioskop, barulah gue benar-benar yakin.”

Jadi Edgar melihatku berbicara pada Troy? Tapi kenapa tadi malam dia tidak bilang apa-apa dan tetap bersikap normal  seakan  tidak  ada  yang  terjadi?  Normal  di  sini, maksudku adalah tetap jutek seperti biasa. ”Padahal gue udah begitu berhati-hati,” desah Edgar. ”Gue melakukannya selangkah demi selangkah, memastikan nggak ada yang terlewat. Meski bisa aja gue langsung membalas Troy, tanpa perlu menunggu dua bulan begini. Gue nggak mau terburu-buru dan akhirnya malah gagal. Bahkan, karena nggak ada geng sekolah lain yang bisa gue ajak kerja sama”—dia mulai mengecilkan suaranya—”gue terpaksa menetapkan geng Cebol sebagai pilihan ketiga gue. Gue harus mengeluarkan banyak uang untuk membayar mereka. Bukan cuma itu, gue harus susah payah meyakinkan mereka supaya diperbolehkan menggunakan markas mereka ini.”

Nah,  benar  kan!  Pabrik  ini  memang  markas  geng Cebol.

”Tapi lo seenaknya aja merusaknya,” rutuk Edgar. ”Gue nggak nyangka Troy menyuruh cewek menjadi matamatanya. Licik sekali dia, tahu gue akan lengah.”

”Dia nggak menyuruh gue.” Akhirnya aku membuka suara setelah sedari tadi hanya diam. ”Gue sendiri yang mau menjadi mata-matanya.”

”Kenapa?” tuntut Edgar. ”Kenapa lo mau menjadi matamatanya?”

Haruskah  aku  jujur?  Ah,  sudah  telanjur.  Untuk  apa kututup-tutupi lagi?

”Gebetan gue yang udah bikin gue patah hati adalah Troy,” akuku. ”Jadi sekarang lo tahu kan kenapa gue mau menjadi mata-matanya? Karena gue suka sama dia. Nggak peduli meskipun dia udah nolak gue, gue tetap nggak bisa ngelupain perasaan gue sama dia. Gue udah mencobanya, bahkan sampai sekarang pun gue masih mencobanya, tapi rasanya sulit sekali.”

Edgar sempat terdiam sejenak mendengar alasanku, sebelum akhirnya berkata, ”Menyedihkan sekali.”

Memang menyedihkan, aku tidak akan membantahnya, tapi masa dia tidak bersimpati padaku barang sedikit pun? Baru aku akan memprotesnya soal itu, ada anggota gengnya yang mendekatinya, membisikkan sesuatu padanya. Edgar hanya mengangguk, dan anggota gengnya itu pun menjauh kembali.

Hampir bersamaan dengan itu, terdengar bunyi ponselku, sedikit teredam karena berada di dalam tasku. Aku dan Edgar sama-sama melirik ke arah tasku yang tergeletak di lantai.

”Mungkin itu Troy,” tebak Edgar. ”Tadi anggota geng gue”—dia mengedikkan kepalanya ke arah anggota gengnya yang tadi membisikinya—”meneleponnya, dan memberitahu bahwa kami menyandera lo di sini.”

Ternyata Edgar bukan hanya ingin membalasku, melainkan juga memanfaatkanku untuk memancing Troy datang. Seharusnya aku sudah menyadarinya sejak aku diikat tadi. Tapi memang apa bedanya? Toh aku tetap tidak bisa melepaskan diri. ”Apa yang akan lo lakukan pada Troy kalau dia ke sini?” tuntutku.

”Sebelum menjawab pertanyaan lo, gue harus memastikan dulu siapa yang menelepon lo,” kata Edgar. Dia berjongkok dan membuka tasku, mencari-cari ponselku. ”Kalau benar Troy, maka gue harus menjawabnya.”

Semoga bukan Troy, harapku dalam hati. Semoga, walaupun dia tahu gue di sini, dia nggak datang. Dia nggak boleh datang dan masuk jebakan Edgar.

Edgar berhasil menemukan ponselku. Dilihat dari cara dia tersenyum puas saat menatap layarnya, aku langsung tahu harapanku tidak menjadi kenyataan, bahkan sebelum dia memperlihatkan nama Troy yang tertera di layar padaku. Dia mengangkatnya dan menyalakan loudspeakernya. Belum sempat dia mengatakan apa pun, terdengar suara panik Troy.

”Sophie?” seru Troy panik. ”Lo di mana?” ”Ini bukan Sophie.”

Hening sejenak. Mungkin Troy kaget karena bukan aku yang mengangkat telepon, dan berusaha menebak suara siapa yang didengarnya.

”Edgar,” desis Troy setelah itu. ”Mana Sophie? Kenapa lo yang mengangkat teleponnya?”

”Sophie ada di sini,” sahut Edgar. ”Tapi dia nggak sedang dalam keadaan bisa mengangkat telepon.”

”Gue peringatkan sama lo, Edgar,” geram Troy. ”Sedikit aja  lo  berani  menyentuh  Sophie,  meski  hanya  sehelai rambutnya pun, gue bersumpah akan menghabisi lo.”

Dengan dibuat-buat, Edgar mendesah. ”Entahlah, Troy,” katanya. ”Gue nggak yakin gue bisa menahan diri untuk nggak menyentuh Sophie.” Setelah itu dia langsung mematikan telepon, lalu melemparkan ponselku ke atas tasku.

Akan kugigit tangan Edgar kalau dia berani menyentuhku. Serius. Maka itu, demi kebaikan tangannya, lebih baik dia tidak macam-macam.

”Apa Troy benar-benar udah bikin lo patah hati?” tanya Edgar. ”Karena dari caranya mengancam gue, rasanya nggak mungkin dia nggak suka sama lo.”

”Dia nggak suka sama gue,” tegasku. ”Jadi percuma aja lo menyandera gue di sini. Troy nggak akan terpengaruh.”

”Dari percakapan kami di telepon tadi, jelas dia terpengaruh,” kata Edgar. ”Tapi sebenarnya, baik gue menyandera lo atau nggak, dia tetap akan datang ke sini. Beberapa hari lalu gue menantangnya, apa dia berani melawan geng gue dan geng Cebol, dan dia menerima tantangan gue itu. Waktunya udah ditentukan hari ini. Dan ini juga sekalian untuk menjawab pertanyaan lo tadi—gue akan menghajar Troy dan anggota gengnya habis-habisan, memastikan mereka akan pulang dalam keadaan babak belur.”

Selain jumlah anggotanya lebih banyak, geng Troy juga lebih kuat dibanding geng Edgar. Tapi kalau dibantu geng Cebol, bukan tidak mungkin geng Edgar bisa mengalahkan geng Troy.

Sejujurnya, aku tidak begitu peduli dengan anggota geng Troy, kecuali mungkin Lionel. Itu pun hanya sedikit. Troy-lah yang benar-benar kukhawatirkan.

”Jangan,” pintaku. ”Jangan lakukan itu. Jangan sakiti Troy.

Gue nggak mau dia terluka. Please, Edgar.”

”Mau lo memohon sampai berlutut pun, gue tetap akan melakukannya,” tandas Edgar, hatinya tidak tergerak sedikit pun.

Mungkin aku benar-benar akan berlutut seandainya tidak sedang diikat. Aku jelas akan mengusahakan berbagai cara supaya Edgar tidak menyakiti Troy.

Edgar berbalik, berjalan ke arah beberapa anggota gengnya yang berkumpul di depan rak terdekat. Sebagai usaha terakhirku, aku mengungkit orang yang begitu disayangi Edgar.

”Kakak lo pasti nggak mau lo melakukannya,” seruku.

Langkah Edgar langsung terhenti. Dia membeku selama beberapa saat sementara aku melanjutkan kata-kataku.

”Lo pasti sangat membenci orang-orang yang terlibat di tawuran itu, terutama orang yang menyebabkan kakak lo meninggal,” kataku. ”Tapi kalau lo menghajar Troy dan anggota gengnya, maka lo nggak akan ada bedanya dengan orang-orang itu.” ”Jangan samakan gue dengan mereka!” bentak Edgar. Dia kembali berbalik dan memelototiku. ”Mereka hanya orang-orang bodoh yang tawuran karena hal sepele—nggak dibagi rokok. Hanya karena sepuntung rokok sialan, kakak gue meninggal. Meski orang yang menyebabkan kakak gue meninggal udah dipenjara, tetap aja, nggak bisa menghidupkan kakak gue kembali. Jadi untuk mencegah ada korban lagi seperti kakak gue, gue pun membalas orang-orang seperti mereka, agar mereka jera. Dan orang-orang itu, termasuk Troy dan anggota gengnya.”

”Lo hanya mencari pembenaran untuk tindakan lo, yang jelas-jelas salah,” kataku.

”Terserah bagaimana lo menilainya,” kata Edgar. ”Tapi satu hal yang harus lo ingat, Sophie, jangan pernah bersikap seolah lo tahu apa yang dipikirkan kakak gue.”

Aku memang tidak tahu. Hanya saja dulu Edgar pernah bilang, kakaknya anak baik-baik. Jadi aku hanya berusaha menebak-nebak pendapat kakaknya tentang tindakan yang akan dilakukan Edgar—jika kakaknya masih hidup.

Lagi-lagi Edgar berbalik, melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti tadi. Setibanya di dekat anggota gengnya, dia mulai berbicara serius dengan mereka. Mungkin mereka sedang merancang strategi untuk melawan geng Troy. Atau kalaupun mereka sudah merancangnya, mungkin mereka sedang mendiskusikannya kembali.

Tak berapa lama, seorang preman ikut bergabung dengan mereka. Meski tubuh anggota geng Cebol yang lain memang besar-besar, tubuh preman itu lebih besar lagi. Mungkin dia ketua geng Cebol.

Sampai sekarang aku tidak habis pikir kenapa geng preman  ini  dinamakan  geng  Cebol.  Mungkin  untuk mengecoh lawan, membuat lawan berpikir yang akan mereka hadapi adalah sekelompok kurcaci, dan bukannya sekelompok raksasa.

Entah sudah berapa lama aku diikat, ketika salah satu dari kedua preman yang berjaga di pintu depan—yang mengizinkan Edgar masuk tadi—berlari-lari masuk dan mengumumkan kedatangan geng Troy.

Aku langsung merasa lemas. Ternyata Troy benar-benar datang. Seharusnya dia tidak membahayakan dirinya, apalagi dia kan tahu apa yang akan dilakukan Edgar.

Baik anggota geng Edgar maupun anggota geng Cebol langsung memasang posisi masing-masing. Mereka memenuhi sisi kiri dan sisi kanan pabrik. Edgar sendiri berdiri di sebelah kiriku.

Semua mata, termasuk mataku, terpancang ke pintu depan. Yang pertama masuk adalah Troy, disusul Lionel, baru kemudian anggota geng mereka yang lain. Aku agak kaget juga ketika melihat Andy ada di antara mereka. Kupikir dia tidak akan berani kalau harus melawan Edgar secara langsung.

Mereka berhenti tidak jauh dariku dan Edgar. Api kemarahan yang sudah tersulut dalam diri Troy kini mulai berkobar, dikarenakan melihatku diikat. Aku pernah beberapa kali melihat Troy marah; yang paling menakutkan adalah ketika dia mengetahui Ivy berpacaran dengan Austin, dan kemarahannya saat ini sama menakutkannya dengan kemarahannya saat itu.

”Lepaskan Sophie!” perintah Troy pada Edgar. Tampak jelas dia berusaha menahan amarahnya. ”Dia nggak ada hubungannya dengan masalah di antara geng kita.”

”Tentu aja ada hubungannya,” kata Edgar. Tahu Troy sedang marah, dengan sengaja Edgar meletakkan tangannya di bahuku. ”Dia kan mata-mata lo.”

Satu sentuhan Edgar di bahuku, dan Troy tidak bisa lagi menahan amarahnya. Nyaris saja dia menerjang Edgar, kalau tidak ditahan Lionel, yang tidak ingin Troy bertindak gegabah.

”Singkirkan tangan kotor lo dari Sophie,” geram Troy.

Karena keadaanku tidak menguntungkan, aku jadi tidak bisa menggigit tangan Edgar, padahal ingin melakukannya. Bahuku jadi gatal-gatal karena disentuh olehnya.

Bukannya menuruti Troy, Edgar justru berpindah ke belakangku. Kini kedua tangannya diletakkan di kedua bahuku, membuat bahuku yang satunya jadi ikut gatalgatal.

”Gue yakin lo akan kalah nanti, dan karena itu lo harus menuruti perintah gue untuk membubarkan geng lo,” titah Edgar. ”Kalau nggak, gue akan membongkar ke geng lainnya tentang lo yang nggak mau minta maaf dan justru mukulin gue dan anggota geng gue, padahal lo tahu anggota geng lo yang salah. Lo akan kehilangan respek mereka.”

Troy mencibir. ”Jangan yakin dulu,” tanggapnya. ”Gue nggak akan kalah semudah itu. Apalagi, sama seperti lo, gue juga punya bala bantuan.”

Edgar pasti bingung mendengar kata-kata Troy, karena aku sendiri pun bingung. Tapi kebingungan kami segera mendapat penjelasan ketika pintu depan—sepertinya preman yang satunya, yang seharusnya berjaga di sana, sudah  lenyap  diculik  alien—terbuka,  lalu  Austin,  David, serta anggota geng mereka yang lain melangkah masuk. Pasti mereka bala bantuan yang dimaksud Troy. Tak pernah aku merasa selega ini melihat mereka. Dan mengenai preman yang satunya, ternyata dia tidak diculik alien, melainkan terjengkang ke lantai karena dihajar Austin.

Berbeda denganku, Edgar sangat terkejut—terlihat dari cara dia langsung mengangkat kedua tangannya dari kedua bahuku. Tentu saja. Dia sudah merasa di atas angin karena dibantu geng Cebol, dan ternyata Troy juga dibantu geng Austin.

Seperti yang dulu pernah dikatakan Austin padaku, dia baru akan mempertimbangkan untuk membantu Troy jika Troy sendiri yang memintanya. Jadi jelas, Troy telah memenuhi syarat itu. Aku tidak tahu jumlah anggota geng Troy sehingga tidak bisa  memastikan,  tapi  untuk  geng  Austin,  aku  tahu anggotanya yang datang ke sini tidak lengkap—termasuk Austin sendiri, hanya sepuluh dari enam belas orang. Mungkin awalnya Troy berniat untuk melawan geng Edgar dan geng Cebol sendiri, dan baru ketika dia tahu aku disandera di sini, dia memutuskan untuk tidak mengambil risiko dan meminta bantuan Austin. Dalam waktu yang begitu mepet, Austin tidak berhasil mengumpulkan semua anggota gengnya. Tapi tidak apa-apa, karena tambahan sepuluh orang pun sudah cukup membantu.

Geng Austin juga berhenti tidak jauh dariku dan Edgar, persisnya tepat di sebelah geng Troy. Sungguh luar biasa, bahwa dua geng yang merupakan musuh bebuyutan, kini justru bersatu melawan geng Edgar dan geng Cebol. Lihat saja Troy dan Austin—sama-sama berdiri paling depan, bersebelahan, dan siap menyerang musuh yang sama. Sayang Ivy tidak di sini untuk melihat pemandangan langka itu. Dia pasti akan mati kegirangan karena kakaknya dan pacarnya tidak lagi bermusuhan, meski mungkin hanya untuk sementara.

”Austin,” kata Edgar, setelah pulih dari keterkejutannya. ”Lo menolak bicara sama gue ketika gue mau ngajak lo kerja sama, tapi lo malah kerja sama dengan Troy?”

”Sebenarnya tadinya gue nggak mau ikut campur,” aku Austin. ”Tapi karena yang lo sandera adalah murid SMA Emerald, itu jadi urusan gue juga.”

Bukan cuma karena aku murid SMA Emerald, tapi karena aku juga sahabat Ivy. Kalau sampai Ivy tahu Austin tidak membantu Troy untuk menyelamatkanku, dia pasti akan menendang Austin. Terkadang, menjadi sahabat Ivy ada untungnya juga.

”Berani-beraninya lo melawan gue, padahal Natasha sekolah di SMA Soteria,” kecam Edgar. ”Apa lo nggak takut gue akan menyakitinya?”

”Gue tahu lo pernah suka sama Natasha,” bongkar Austin. Mungkin Natasha sendiri yang memberitahunya, sedangkan dulu aku hanya menduganya. ”Tapi karena dia nggak bisa membalas perasaan lo, akhirnya kalian cuma menjadi teman dekat. Dia juga yang selalu menghibur lo setiap kali lo bersedih karena teringat kakak lo. Jadi gue yakin lo nggak akan menyakitinya, apalagi dia udah segitu baiknya sama lo.”

Edgar tidak membantah—membuktikan perkataan Austin memang benar. Mungkin tadinya dia ingin memanfaatkan Natasha untuk mengancam Austin, sama seperti ketika dia memanfaatkan adik Andy untuk mengancam Andy, tapi tidak berhasil karena Austin mengetahui kedekatannya dengan Natasha.

Merasa mulai tersudut, diam-diam Edgar memberi tanda pada anggota gengnya dan anggota geng Cebol untuk bersiap menyerang. Tapi gerakan mereka terbaca geng Troy dan geng Austin, yang langsung bersiaga.

Lalu terjadilah...

Pertempuran dimulai dalam sekejap mata.

Bagai dalam film kolosal, semua orang saling menyerang. Ada yang menonjok, menendang, dan bahkan memukul dengan potongan kayu. Teriakan marah bercampur dengan teriakan kesakitan. Dalam suasana yang begitu kacau, aku heran mereka masih dapat membedakan yang mana kawan dan yang mana lawan. Kalau aku yang berada di tengahtengah pertempuran itu, mungkin aku akan menonjok ke sana kemari, tidak peduli siapa yang akan kukenai.

Aku mencari-cari Troy. Sulit untuk menemukannya, padahal tadi dia berdiri paling depan. Mungkin dia terdorong-dorong hingga tenggelam ke dalam kerumunan itu. Yang kutemukan malah Lionel, sedang menghindari tendangan salah satu anggota geng Edgar, dan kemudian balas menendangnya.

Setelah beberapa tonjokan, tendangan, dan pukulan yang kusaksikan, Troy keluar juga dari dalam kerumunan. Dia berlari ke arahku, sambil tangannya merogoh-rogoh saku celananya, dan ternyata yang dikeluarkannya adalah pisau lipat. Tentunya pisau lipat itu bukan untuk menusukku—yang benar saja—melainkan untuk memotong tali yang mengikatku, yang langsung Troy lakukan begitu tiba di dekatku. Dari jarak sedekat ini, barulah terlihat olehku luka di dekat alis Troy. Hanya luka kecil, tapi membuatku nyaris menangis, membayangkan penyebabnya.

”Troy,” panggilku, lirih. ”Lo terluka.”

Troy tidak menanggapiku. Dia begitu fokus dalam usahanya untuk melepaskanku, sehingga tidak memedulikan keadaannya sendiri. Setelah berhasil melepaskanku, dia memasukkan kembali pisau lipat ke saku celananya—pada saat yang sama, aku mengambil tasku dari lantai, beserta ponselku yang berada di atasnya—lalu menarikku berdiri. ”Ayo,” ajak Troy, sambil menggandeng tanganku, memimpinku berlari menuju pintu depan. Gandengannya terasa mantap, memberiku rasa aman. Pertempuran yang sedang terjadi bahkan tidak mampu menghentikan debaran jantungku, yang saking kerasnya sampai seperti akan mendobrak rongganya. Tapi itu wajar saja, karena ini

pertama kalinya dia menggandeng tanganku.

Kami berlari menembus kerumunan. Belum setengah jalan, tiba-tiba ada seorang preman mengadang kami. Preman itu menyeringai begitu melihatku berdiri di belakang Troy. Troy melepaskan gandengannya dariku. Sebelum preman itu sempat melakukan apa pun, dia sudah terlebih dulu menyerang. Dihantamkannya tinjunya ke preman itu, tepat di rahangnya, membuat preman itu langsung tersungkur jatuh.

Tahulah aku kenapa Troy begitu ditakuti. Hanya dengan satu pukulan, dia mampu merobohkan preman yang berbadan bak troll itu. Aku tahu dia memang kuat, tapi tidak menyangka akan sekuat itu.

Tampaknya Troy mengubah rencana dalam pikirannya. Pintu depan masih jauh, sedangkan akan berbahaya jika kami tetap meneruskan berlari ke sana, sebab dia membawaku. Preman itu pasti bukan satu-satunya yang akan mengadang kami. Jadi, setelah kembali menggandengku, dia berbalik dan memimpinku berlari menuju salah satu pintu yang berada di sisi kiri. Pintu itu dalam keadaan tertutup, dan berada paling dekat dengan tangga. Setelah Troy membukanya, kami berdua masuk, lalu dia buru-buru menutupnya kembali.

Ruangan di balik pintu itu, sama seperti ruangan-ruangan lainnya yang sempat kulihat tadi, penuh dengan kotak kayu. Kotak-kotak kayu itu terbagi menjadi beberapa tumpukan yang begitu tingginya hingga hampir mencapai langitlangit.

”Sophie, dengar,” kata Troy. Kami berdiri berhadapan, tangannya tidak lagi menggandengku. ”Di balik tumpukan kayu itu”—dia mengedikkan kepalanya ke arah tumpukan kayu yang berada di depan kami—”ada pintu samping. Lo bisa keluar dari sana.”

Kalau Troy bisa sampai tahu letak pintu samping pabrik ini, berarti ini bukan pertama kalinya dia ke sini. Bahkan sepertinya, lebih dariku, dia sampai masuk segala. ”Begitu lo berada di luar,” lanjut Troy, ”cari motor Lionel, dan langsung pulang. Jangan ke mana-mana lagi.”

Troy menyerahkan kunci padaku, yang pastinya kunci motor Lionel. Meski dia berharap aku segera berlari ke pintu samping, nyatanya aku hanya diam di tempatku berdiri.

”Kenapa, Troy?” gumamku. ”Kenapa lo datang ke sini?” ”Nggak mungkin gue nggak datang, apalagi setelah gue

tahu lo disandera di sini,” kata Troy.

”Tetap aja, seharusnya lo nggak datang,” sergahku. ”Lo nggak usah peduliin gue. Mau Edgar nyakitin gue pun, lo biarinin aja.”

”Sophie, ayolah,” desah Troy. ”Jangan bodoh.”

Dan tiba-tiba saja, aku jadi histeris sendiri. ”Iya, gue emang bodoh!” seruku. ”Gue bodoh karena nggak bisa ngelupain perasaan gue sama lo. Gue bodoh karena masih aja ngarepin lo mau nerima gue. Gue bodoh karena—” Kata-kataku langsung terhenti begitu Troy menarikku mendekat, dan seketika saja mencium keningku. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊