menu

Bad Boys #2 Troy's Spy Bab 12

Mode Malam
Bab 12

MATAKU yang bengkak karena menangis semalaman langsung menarik perhatian Ivy begitu kami bertemu di kelas. Sewaktu dulu Ivy baru putus dengan Austin, dia yang datang ke sekolah dengan mata bengkak, dan sekarang malah giliranku.

Tampaknya Troy tidak menceritakan tentang penolakannya karena Ivy tampak bingung melihat mataku bengkak. Dia malah mulai menebak-nebak apa yang menyebabkanku menangis.

”Apa lo dimarahin sama bokap-nyokap lo?” tebak Ivy. ”Terakhir kali gue nangis karena dimarahin bokap-nyokap gue adalah ketika mereka nggak ngizinin gue sekolah di SMA Vilmaris,” tanggapku. ”Tapi saat itu gue nggak sampai nangis semalaman.”

”Lantas kenapa dong lo sampai nangis semalaman?” tuntut Ivy.

”Lo pasti tahu kenapa,” kataku.

Ivy mengernyit, berpikir, dan kemudian bisa menebaknya seperti Jason. ”Apa karena... Troy?”

”Siapa lagi selain Troy yang bisa bikin gue nangis semalaman?” kataku, membenarkan tebakan Ivy. ”Gue ngungkapin perasaan gue ke dia tadi malam, tapi dia nolak gue.”

”Lo ngungkapin perasaan lo ke dia?” ulang Ivy kaget. ”Tapi kenapa? Selama tiga setengah tahun ini kan lo udah diam-diam aja. Kenapa tiba-tiba lo mutusin buat ngungkapin perasaan lo ke dia?”

”Dulu kan gue udah pernah janji untuk mengembangkan hubungan  gue  dengan  Troy,”  jelasku.  ”Nah,  gue  udah mengusahakannya, tapi ternyata gagal.”

”Lantas sekarang lo dan Troy gimana?” tanya Ivy.

”Yah nggak gimana-gimana,” jawabku. ”Gue dan Troy nggak akan pernah bisa pacaran selama status gue masih sahabat lo, karena itulah alasan dia nolak gue. Andai gue bukan sahabat lo, maka gue akan punya kesempatan untuk pacaran sama dia. Jadi kenapa, Vy? Kenapa kita harus sahabatan?” Air mata mulai menggenangi mata Ivy. ”Sophie, jangan ngomong begitu,” pinta Ivy lirih.

Melihat air mata Ivy membuat air mataku sendiri mendesak keluar. Jadi aku segera berlari ke luar kelas, dan menyembunyikan diriku di bilik toilet. Di sana, kutumpahkan air mataku.

Apa yang sudah kulakukan? Bukan salah Ivy kalau Troy menolakku, jadi kenapa aku malah menyakitinya? Padahal yang ingin dihindari Troy adalah rusaknya persahabatanku dengan Ivy.

Ivy pasti terpukul mendengar kata-kataku tadi. Sebelumnya aku memang pernah beberapa kali bertengkar dengannya, tapi tidak sampai membuatnya menangis.

Aku menangis sampai bel tanda masuk berbunyi. Setelah meninggalkan toilet, dan berjalan ke arah lapangan untuk mengikuti upacara bendera, aku melihat Austin dan Ivy duduk di salah satu bangku panjang di koridor. Ivy menangis tersedu-sedu, sementara Austin merangkul bahunya, berusaha menghiburnya.

Merasa bersalah, aku mendekati mereka. Keduanya langsung berdiri begitu menyadari kehadiranku. Setelah memberiku tatapan penuh peringatan, Austin pun meninggalkanku berdua dengan Ivy.

Selama sesaat, aku dan Ivy hanya bertatapan. Lalu, tanpa dikomando, kami saling menghambur ke pelukan masingmasing—dengan diiringi suara tangisan kami. ”M-maafin gue ya, Vy,” tangisku. ”Nggak seharusnya gue ngomong kayak tadi.”

”Nggak apa-apa kok,” balas Ivy. ”Gue ngerti lo cuma lagi sedih.”

Pengertian Ivy memperparah tangisanku. ”Gue baru tahu beginilah rasanya patah hati,” tangisku lagi. ”Sakit, Vy... Ssakit banget...”

Bukannya menghiburku, Ivy malah menangis lebih keras dariku. Dia juga pasti tahu rasanya patah hati, sebab pernah mengalaminya dengan Austin dulu.

Selesai dengan acara tangis-menangis, kami pun kembali ke kelas, karena toh sudah terlambat untuk mengikuti upacara bendera. Paling-paling kalau nanti ketahuan guru BK, kami akan dimarahi.

”Nanti lo pulang sama gue aja ya, Vy, soalnya gue mau ke rumah lo sepulang sekolah,” kataku pada Ivy setelah kami duduk di bangku masing-masing. ”Gue mau ketemu Troy untuk... menyelesaikan semuanya secara baik-baik.”

Ivy hanya mengangguk. Sehubungan Ivy akan pulang denganku, Austin pasti akan mengajukan keberatannya lagi, karena Ivy harus naik motor. Tapi masa bodo dengan Austin, seperti dulu, Ivy akan tetap pulang denganku.

Untuk memastikan Troy ada di rumah nanti, Ivy menghubunginya terlebih dulu dan memintanya tidak ke manamana sepulang sekolah. Ivy bilang Troy mengiakannya dan akan menungguku. Aku berterima kasih pada Ivy karena mau membantuku, bahkan tanpa kuminta.

Aku tidak bisa berkonsentrasi selama pelajaran hari itu, terlalu tegang menantikan pertemuanku dengan Troy. Sebenarnya bukan tiba-tiba aku merencanakan pertemuan itu, melainkan sudah dari tadi malam. Meski menyakitkan, aku mulai bisa menerima keputusan Troy. Daripada memaksanya menerimaku, dan membuat perasaanku hanya menjadi beban untuknya, lebih baik aku pasrah saja. Mungkin memang sudah saatnya aku menyerah.

Bel tanda pulang akhirnya berbunyi.

* * *

Setibanya di rumah Ivy, aku duduk di beranda sementara Ivy masuk untuk memanggil Troy. Debaran jantungku mulai menggila, sama seperti ketika aku akan mengajak Troy berkencan.

Oh, kencan itu... Andai saja aku bisa kembali ke hari itu...

Troy keluar, dan jika biasanya aku senang melihatnya, kali ini tidak demikian. Rasa senang itu masih ada, sedikit, tapi terasa begitu samar karena didominasi rasa sedih.

Tak ada sapaan yang biasa dari Troy. Dia hanya menatapku, sedikit lebih lama pada mataku yang bengkak, lalu duduk. Tahu Troy menungguku mengutarakan maksud kedatanganku ke sini, aku segera berbicara.

”Gue mau minta maaf untuk yang tadi malam, Troy,” mulaiku. ”Gue seenaknya ngungkapin perasaan gue ke lo padahal lo udah nyuruh gue berhenti.”

”Lo nggak perlu minta maaf untuk hal itu,” kata Troy. ”Hak lo untuk ngungkapin perasaan lo ke siapa pun yang lo mau.”

Tidak kepada siapa pun. Aku hanya pernah mengungkapkan perasaanku pada Troy seorang, yang sayangnya tidak berakhir baik.

”Kalau begitu gue mau minta maaf untuk hal lainnya,” kataku. ”Gue udah bikin Ivy nangis tadi.”

Troy menoleh padaku dengan cepat. ”Kalian bertengkar?”

”Cuma sebentar,” sahutku. ”Gue segera minta maaf sama dia.”

”Lo udah minta maaf sama dia,” kata Troy. ”Jadi nggak perlu minta maaf sama gue.”

”Masih ada lagi,” tambahku buru-buru. ”Gue juga mau minta maaf karena untuk sementara gue nggak bisa ketemu sama lo dulu. Kalau misalnya kita nggak sengaja ketemu, berpura-puralah kita nggak saling mengenal. Lo akan sangat membantu gue untuk ngelupain perasaan gue sama lo dengan cara itu. Dan tentang Ivy, lo jangan khawatir, karena gue akan tetap sahabatan sama dia seperti biasa.” Troy memikirkannya sejenak, kemudian berkata, ”Gue ngerti.”

Kenapa Troy tidak memprotes bahwa dia tetap ingin bertemu denganku? Sebegitu mudahnyakah baginya untuk melepasku pergi dari hidupnya?

Tunggu. Mungkin memang sejak awal Troy memang tidak pernah menganggapku ada dalam hidupnya. Lagi pula, tidak seharusnya aku berharap padanya lagi, sebab harapan hanya akan membuatku jatuh ke dalam air dingin lagi. Aku mengangkat tangan, berniat menghapus air mata yang mulai terbit di sudut mataku, dan saat itulah aku menyadari keberadaan gelang di pergelangan tanganku—

kado ulang tahun dari Troy.

Keraguan mulai melandaku. Haruskah kukembalikan gelang itu pada Troy? Sepertinya memang iya, karena aku jelas tidak bisa memakainya lagi tanpa teringat pada Troy. Jadi dengan berat hati kulepas gelang itu dan kuulurkan pada Troy.

”Gue mau ngembaliin gelang ini sama lo,” kataku. ”Gue kan udah ngasih gelang itu buat lo,” tolak Troy,

tidak ingin menerima gelang itu kembali.

”Kalau gue tetap memakai gelang ini,” kataku, ”maka akan terus keingetan sama lo.”

”Nggak usah lo pakai, cukup simpan aja,” saran Troy. ”Atau kalau lo emang nggak mau simpan, bisa lo buang aja.” Daripada membuang gelang itu, aku lebih memilih untuk menyimpannya. Jadi kumasukkan gelang itu ke tasku, sambil memikirkan di mana aku akan menyimpannya nanti. Mungkin di bawah tumpukan pakaianku, atau di kolong ranjang—pokoknya yang penting aku tidak bisa melihatnya. Sempat terpikir untuk menguburnya di dalam tanah, tapi sepertinya itu terlalu ekstrem.

Aku jadi teringat fotoku dengan Troy di Dunia Fantasi yang kujadikan wallpaper ponselku. Aku tidak akan menghapusnya, tapi akan mengganti wallpaper ponselku dengan foto lainnya.

”Sophie,”  panggil  Troy  tiba-tiba.  ”Tentang  tugas  lo sebagai mata-mata gue, apa lo masih menjalankannya?”

Mataku membesar. ”Lo tahu tentang itu?” ”Sebenarnya gue udah tahu sejak hari lo meminta Lionel

jadi rekan lo,” aku Troy. ”Lionel sendiri yang menceritakannya sama gue.”

Satu pelajaran untukku: jangan pernah memercayakan rahasia pada Lionel Orlando. Aku jadi seperti orang bodoh saja, selama ini mengira Troy tidak tahu.

”Awalnya gue nggak setuju,” kata Troy. ”Tapi Lionel ngeyakinin gue supaya memberi lo kesempatan. Takut lo kenapa-kenapa, gue nugasin preman kenalan gue untuk bantu ngejagain lo.”

Preman kenalan Troy? Aku jadi teringat pada pria berkumis lebat itu. Apa dia yang dimaksud Troy sebagai preman kenalannya?

”Maksud lo, bapak-bapak kumisan yang sering berkeliaran di sekitar SMA Soteria itu?” tebakku.

Troy mengangguk. ”Tapi dia jadi nggak bisa datang ke SMA Soteria lagi sejak terpaksa ngegebukin anggota geng Edgar untuk memancing Edgar menjauh dari lo, supaya lo bisa memeriksa laptopnya,” katanya.

Oh,  ternyata  itu  sama  sekali  bukan  kebetulan.  Pria berkumis lebat itu memang sudah merencanakannya. Entah dari mana dia tahu aku ingin memeriksa laptop Edgar, tapi mungkin bisa melihat rasa penasaranku akan isi laptop Edgar dari pancaran wajahku. Edgar kan tidak mungkin datang membantu anggota gengnya yang sedang digebuki dengan membawa-bawa laptopnya, jadi pasti akan meninggalkan laptop itu bersamaku.

”Gue nggak tahu apa lo masih berniat menjalankan tugas lo sebagai mata-mata gue, tapi kalau memang ya, lo hentikan aja,” kata Troy. ”Gue sangat berterima kasih karena lo mau membantu geng gue, tapi itu udah cukup.”

Jadi tugasku sebagai mata-mata Troy juga akan berakhir? Sebenarnya aku tidak keberatan menjalankan tugasku itu. Aku kan tidak perlu bertemu Troy, dan seperti biasa cukup menyampaikan informasi melalui Lionel. Tapi karena Troy menyuruhku berhenti, yah sudahlah.

”Gue akan berhenti,” janjiku. Setelah itu hening, masing-masing dari kami tidak tahu apa yang ingin dibicarakan lagi. Atau dalam kasusku, sebenarnya aku tahu, tapi terlalu banyak yang ingin kubicarakan sampai-sampai tidak bisa memilahnya.

Mungkin Troy masih banyak urusan, dan karena tidak ingin menghambatnya, aku pun memutuskan untuk pulang.

”Gue pulang sekarang deh, Troy,” pamitku, seraya berdiri.

Troy mengikutiku. Kami sama-sama berjalan ke arah pintu pagar. Ini detik-detik menuju perpisahan yang sesungguhnya dengan Troy. Betapa aku berharap saat ini aku bisa menghentikan waktu, sehingga momen menyedihkan itu tidak perlu terjadi.

Sebelum naik ke motor, aku berbalik, berhadapan dengan Troy. Kutatap dia selama mungkin, berusaha mematri wajahnya ke dalam ingatanku—wajah yang selama ini selalu mengisi hari-hariku, bahkan sampai ke mimpi-mimpiku.

Ya Tuhan, betapa aku menykai Troy. Aku tidak akan pernah sanggup melupakan perasaanku padanya, tidak peduli seberapa kerasnya pun aku mencoba. Dia akan selalu ada di hatiku, bercokol di sana tanpa tergantikan.

Pernahkah aku ada di hati Troy? Siapkah aku mendengar jawabannya, kalau aku menanyakannya sekarang? Ya, apa pun jawabannya, kupikir aku akan siap. ”Troy, meski cuma satu persen, apa lo pernah suka sama gue?”

Troy mendesah. ”Lebih dari satu persen, Sophie,” sahutnya, melebihi harapanku. ”Tapi meski begitu, sejak awal gue berusaha untuk menghilangkannya.”

”Itu juga udah cukup,” gumamku. ”Makasih ya, Troy. Bukan cuma karena lo udah mau jujur sama gue, tapi juga karena udah membuat gue sangat bahagia selama tiga setengah tahun ini.”

Troy tidak tahu cara menanggapi ucapan terima kasihku, yang mungkin dirasanya tidak pantas untuk diterimanya. Padahal aku benar-benar bersyukur, karena sejak dia hadir dalam hidupku, aku serasa mendapat suntikan semangat untuk apa pun yang kulakukan.

Aku kembali berbalik, naik ke motor. Ketika aku akan menyalakan mesinnya, aku baru menyadari tanganku gemetaran.

Saatnya perpisahan.

Aku menggigit bibir bawahku, mati-matian menahan tangis. Aku tidak ingin terakhir kali Troy melihatku, wajahku penuh air mata. Jadi aku menoleh padanya, dan memaksakan senyum. Kata-kata selanjutnya yang keluar dari mulutku, kuucapkan dengan hati luluh lantak.

”Selamat tinggal, Troy.”

Troy terperangah, seakan baru nyata baginya bahwa kami akan berpisah. Dia seperti akan mengucapkan sesuatu, tapi aku keburu memacu motorku pergi. Dari kaca spion, kulihat dia masih berdiri di tempatnya, menatap ke arahku.

Di tikungan, aku berbelok, lalu berhenti di pinggir jalan. Tidak perlu lagi menahan air mata, aku langsung menangis sejadi-jadinya.

* * *

Hari-hari setelah itu bagai datang dan pergi begitu saja bagiku. Sudah tak terhitung berapa kali aku menangis. Troy selalu ada dalam pikiranku. Baru beberapa hari aku tidak bertemu dengannya, tapi sudah begitu merindukannya.

Sedang apa Troy sekarang? Apa dia sedang nge-gym? Atau mungkin dia sedang berkencan dengan cewek? Sudahkah dia makan? Kuharap dia tidak telat makan, karena tidak ingin dia sakit.

Terkadang saat rasa rindu nyaris membunuhku, aku akan memandangi fotoku dengan Troy di Dunia Fantasi. Aku bersyukur tidak menghapusnya. Sedangkan gelang kado ulang tahun dari Troy, kini berada di bawah tumpukan pakaianku.

Ivy sangat mengkhawatirkanku. Tak ada lagi teman sebangkunya yang selalu ceria dan membuatnya sering diomeli guru karena ketahuan mengobrol. Bahkan, karena aku selalu berada di kelas pada jam istirahat, dia ikut-ikutan di kelas juga. Tinggal Austin jadi seperti cacing kepanasan karena sering ditinggal Ivy.

Hari itu, ketika lagi-lagi aku hanya mendekam di kelas pada jam istirahat, Ivy untuk pertama kalinya kembali mengungkit soal Troy setelah beberapa hari kemarin menghindari topik itu.

”Sebenarnya gue ragu apa gue harus ngomong soal ini atau nggak,” kata Ivy. ”Gue nggak mau lo semakin sedih karena Troy. Tapi gue rasa lo perlu tahu.”

Nama Troy sukses membuatku langsung duduk dengan tegak, setelah sebelumnya hanya bersandar malas-malasan ke bangkuku. Aku menatap Ivy, tidak sabar menunggunya melanjutkan kata-katanya.

”Troy nanyain lo terus,” lanjut Ivy. ”Dia khawatir banget sama lo.”

Seharusnya aku senang mendengarnya, tapi nyatanya tidak. Aku justru ingin Troy berhenti mengkhawatirkanku. ”Sekarang dia juga nggak pernah nge-date sama cewek lagi,” kata Ivy. ”Bahkan sekadar telepon-teleponan juga nggak pernah. Dia malah lebih sering ada di rumah. Atau

kalau keluar pun, paling cuma buat nonton sendirian.” Salahku... Itu semua salahku! Aku yang menyebabkan

Troy jadi seperti itu. Mungkin dia akan merasa semakin bersalah kalau bersenang-senang dengan cewek lain setelah menolakku. Dia melakukannya untuk menghukum dirinya sendiri. Aku mencengkeram tangan Ivy. ”Vy, lo harus bilang sama Troy bahwa gue baik-baik aja,” pintaku. ”Bilang sama dia, gue udah move on, dan ada cowok lain yang gue suka. Bahkan kalau lo mau bilang gue udah jadian sama cowok lain juga nggak apa-apa.”

Ivy terlihat ragu. ”Troy mana percaya sih kalau lo move on secepat itu?” protesnya.

”Pokoknya lo harus ngeyakinin dia bahwa nggak ada yang perlu  dia  khawatirin  dari  diri  gue,”  tandasku.  ”Ya,  Vy? Please?”

Ivy masih terlihat ragu, dan setelah aku mempererat cengkeramanku pada tangannya, barulah dia menyahut, ”Oke.”

Aku tidak bisa hanya mengandalkan Ivy. Aku juga harus bisa mengatasi patah hatiku, karena hanya dengan begitu, Troy bisa membebaskan dirinya dari rasa bersalah.

Apa ya yang bisa membantuku mengalihkan pikiranku dari Troy? Lalu yang terpikirkan olehku adalah tugasku sebagai mata-mata Troy. Aku tahu hal itu memang masih berhubungan dengan Troy, tapi tidak bisa memikirkan hal lain. Lagi pula, tugasku memang belum selesai, dan mungkin masih banyak informasi yang bisa kukorek dari Edgar.

Masalahnya, aku sudah berjanji pada Troy untuk tidak lagi menjalankan tugasku itu. Bolehkah aku melanggar janjiku? Dan masih maukah Lionel menjadi rekanku? Aku memang belum memberitahunya bahwa Troy menyuruhku berhenti—sekaligus memarahinya karena sejak awal dia membongkar soal aku menjadi mata-mata Troy pada Troynya sendiri, dan membohongiku selama ini—tapi bisa jadi dia sudah mengetahuinya dari Troy.

Cukup lama aku berpikir, sampai akhirnya memutuskan untuk melanggar janjiku dan kembali menjalankan tugasku itu—dengan atau tanpa Lionel. Meski Troy tahu pun tidak apa-apa. Toh semua demi kebaikannya juga.

Jadi sore itu, setelah beberapa lama absen, aku kembali berada  di  pelataran  parkir  SMA  Soteria.  Reaksi  Edgar ketika melihatku sedikit mengejutkanku, karena dia terlihat... senang. Tidak jelas-jelasan, memang, melainkan hanya ada setitik rasa senang di wajah juteknya.

”Akhirnya lo nongol lagi,” kata Edgar.

”Kenapa emangnya? Lo kangen sama gue?” godaku. Edgar mendengus. ”Gue pikir lo mati atau kenapa.” Sialan Edgar. Bisa-bisanya berpikir aku sudah mati. ”Kemarin-kemarin gue nggak datang soalnya sibuk.”

Sibuk memikirkan Troy, tepatnya. Dan ternyata, tebakan Edgar juga menyerempet ke situ.

”Sibuk sama gebetan lo?” tebak Edgar. ”Apa hubungan lo dengan dia berjalan lancar?”

Sia-sia saja. Meski aku tahu aku akan tetap teringat pada Troy saat sedang bersama Edgar, tidak kusangka hal itu akan terjadi kurang dari semenit setelah aku bertemu dengan Edgar. Lagi pula, apanya yang berjalan lancar? Hubunganku dengan Troy malah mandek. Macet. Tidak berlanjut lagi.

Aku bersandar pada mobil Edgar, menunduk, memandangi paving block. Setelah tadi semangatku sempat muncul, dan bahkan membuatku dengan entengnya bisa menggoda Edgar, kini aku justru kembali sedih.

”Gue dibikin patah hati sama gebetan gue,” akuku. ”Seharusnya dulu, waktu lo nyuruh gue ngelupain dia, gue nurutin lo. Jadi gue nggak perlu sampai ditolak sama dia dan patah hati begini.”

Sungguh memalukan, aku menangis di depan Edgar, menunjukkan kelemahanku. Dia pasti mengolok-olokku.

Ternyata tidak. Dari sudut mataku, aku bisa melihat Edgar ikut bersandar pada mobilnya, di sebelahku. Setelah tangisku mereda menjadi isak-isak kecil, dia mengulurkan saputangan padaku.

”Pakai aja,” Edgar mempersilakan. ”Masih bersih, belum gue pakai.”

Aku menerima saputangan itu. ”T-thanks,” gumamku. Kugunakan saputangan itu untuk menghapus air mata dan mengeringkan hidung. Ketika aku mengulurkan saputangan itu kembali pada Edgar, bukannya menerimanya, dia malah hanya menatapnya dengan jijik.

”Cuci dulu, baru balikin ke gue,” kata Edgar.

Karena Edgar sudah berbaik hati mau meminjamkanku saputangannya, aku menurutinya dan akan mencucinya. Lagi pula, saputangan itu memang sudah penuh air mata bercampur ingusku, jadi agak keterlaluan juga barusan aku mengembalikannya begitu saja.

”Jam tujuh nanti, lo siap-siap, gue mau ngajak lo nonton,” kata Edgar tiba-tiba. ”Lagi-lagi, anggap aja sebagai penghiburan.” Setelah itu, dia masuk ke mobilnya dan berlalu meninggalkanku.

Butuh beberapa saat bagiku untuk bisa mencerna katakata Edgar, hingga akhirnya aku menyadari dia baru saja mengajakku berkencan. Tidak mungkin. Dia pasti bercanda.

* * *

Edgar tidak bercanda. Dia benar-benar muncul di luar rumahku malam itu. Aku masih saja terheran-heran, bahkan ketika kami sudah sampai di mal dan memilih-milih film di bioskop. Hampir semua film yang sedang tayang adalah film romantis, padahal aku sedang tidak ingin menonton film semacam itu—dan Edgar pun tahu, karena jelas-jelas kukatakan padanya bahwa aku sedang patah hati—jadi film yang kami pilih adalah film horor.

Sementara Edgar mengantre untuk membeli tiket, aku berjalan menuju konter makanan dan minuman. Edgar sudah mentraktirku menonton, jadi aku akan mentraktirnya popcorn, mungkin ditambah akua. Semakin mendekati konter makanan dan minuman, aku baru menyadari kehadiran seseorang yang entah sejak kapan mengamatiku.

Troy.

Kami berdiri berhadapan, dengan jarak tiga langkah. Sejauh yang kulihat, Troy hanya sendiri. Kebetulan sekali dia memilih bioskop yang sama denganku dan Edgar.

Tak ada senyum, hanya mata kami bertautan. Ingin rasanya aku memeluk Troy erat-erat, untuk melampiaskan rasa rinduku yang meluap-luap.

Tapi tidak. Tidak bisa. Tidak boleh.

”Kalau misalnya kita nggak sengaja ketemu, berpurapuralah kita nggak saling mengenal.”

Aku sudah mengucapkan itu, dan karena itu harus menepatinya. Jadi aku pun berbalik, batal mentraktir Edgar.

”Sophie, tunggu!” Baru selangkah aku berjalan, Troy sudah mencengkeram lenganku, memaksaku untuk kembali berbalik. ”Jangan pergi begitu aja. Gue mau bicara sama lo.”

Aku hanya berdiri dengan gelisah, terutama karena tangan Troy masih mencengkeram lenganku. Sentuhannya membuat aku tidak bisa berpikir jernih. Untung tidak lama kemudian dia melepaskan cengkeramannya dari lenganku.

”Kenapa lo masih ketemu Edgar, Soph?” tuntut Troy. Ternyata dia sempat melihatku bersama Edgar, mungkin saat aku dan Edgar sedang memilih-milih film. ”Bukankah lo udah janji akan berhenti menjalankan tugas lo sebagai mata-mata gue?”

Tak perlu susah-susah mencari alasan, aku akan jujur saja. Tapi ide melintas di benakku. Aku bisa menggunakan kesempatan ini untuk menunjukkan pada Troy bahwa aku, seakan-akan, sudah move on darinya.

”Lo salah paham, Troy,” kataku. ”Gue emang masih ketemu Edgar, tapi bukan buat menjalankan tugas gue sebagai mata-mata lo. Kami lagi dekat sekarang, dan bahkan hari ini kencan pertama kami. Hari-hari yang kami lalui bersama tanpa sadar membuat kami saling jatuh cinta.”

Bahkan di telingaku sendiri, kata-kataku terdengar begitu palsu. Troy juga tampaknya antara percaya dan tidak percaya.

”Gue harus segera kembali ke Edgar,” pamitku. ”Dia nggak boleh sampai ngelihat kita sama-sama.”

Langkahku membawaku meninggalkan Troy—sementara Troy tetap bergeming di tempatnya—terasa begitu berat. Aku kembali ke Edgar, yang baru selesai membeli tiket. Sebelum dia sempat bertanya kenapa aku kembali dengan tangan kosong, aku mengarahkannya ke teater. Film yang akan kami tonton memang akan segera dimulai.

Tahu Troy masih mengikuti kami dengan tatapannya, tanpa mengindahkan Edgar yang mengernyit heran, aku menggandeng Edgar. Aku sengaja melakukannya, berharap dengan begitu, bisa membuat Troy sepenuhnya memercayai kata-kataku tadi. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊