menu

Bad Boys #2 Troy's Spy Bab 11

Mode Malam
Bab 11

KALAU bukan karena Troy, rasanya malas sekali aku datang ke pesta ulang tahun Natasha. Untungnya, sehari sebelumnya, Ivy memberiku berita bagus. Karena dia akan pergi dengan Austin, maka menyuruh Troy pergi denganku.

Ah,  sahabatku  yang  satu  itu.  Kapan-kapan  aku  akan benar-benar mengecup keningnya.

Sebagai persiapan, aku mengajak Ivy berdandan di salon. Awalnya dia menolak karena merasa itu berlebihan, dan bisa berdandan sendiri, tapi aku tetap memaksanya. Aku kan tidak mau kalah cantik dari Natasha. Ya, ya, aku tahu Natasha memang lebih cantik dariku. Tapi setidaknya aku harus berusaha agar kami tidak terlihat terlalu timpang.

Paksaanku pada Ivy berhasil karena aku membawa-bawa soal calon mertuanya—alias orangtua Austin. Dia kan akan bertemu untuk pertama kalinya dengan mereka, jadi harus tampil secantik mungkin.

Supaya terlihat beda, rambutku memakai clip-in hair extention. Kini rambutku jadi panjang ikal. Ivy saja sampai pangling melihatku.

”Lo cantik juga kalau rambut lo panjang,” puji Ivy. ”Jelas dong!” selorohku. ”Gue mah mau rambut pendek

atau rambut panjang, tetap aja cantik.”

Ivy langsung terlihat menyesal telah memujiku. Dia sendiri, dengan rambut keriting spiralnya, juga terlihat sangat cantik. Austin pasti akan kejang-kejang saat melihatnya nanti.

Pulang dari salon, kami naik taksi—sama seperti ketika kami pergi tadi. Kami memang sengaja naik taksi karena aku tidak ingin Troy melihatku sampai tiba saatnya pergi ke pesta ulang tahun Natasha, Ivy pun demikian dengan Austin.

Aku mengenakan gaun biru langit bermodel asimetris dengan tali spageti. Gaun itu tadinya agak kebesaran di tubuhku, tapi sekarang begitu pas. Gawat, ini berarti aku gemukan. Aku sedang memeriksa tubuhku di depan cermin, mencari-cari lemak-lemak bandel yang beraniberaninya menimbun di tubuhku, ketika Jason sambil cemberut masuk ke kamarku dan memberitahu bahwa Troy sudah sampai. Sejak tahu aku diundang Natasha ke pesta ulang tahunnya, Jason memang tidak henti-hentinya merengek padaku agar dia diajak. Tapi dengan kejamnya aku tidak mengabulkannya.

Baru selangkah keluar kamar, aku teringat kado yang kusiapkan untuk Natasha—bukan lagi boneka ular yang kini sudah menghuni ranjangku, tentunya, melainkan boneka beruang—masih tertinggal di meja riasku, jadi aku masuk kembali untuk mengambilnya. Bungkus kadonya tidak begitu rapi, sebab aku memang tidak ahli membungkus kado, tapi masa bodo deh. Toh hanya untuk Natasha ini.

Entah siapa yang lebih terpukau melihat penampilan satu sama lain, ketika aku dan Troy bertemu di beranda. Troy mengenakan kemeja merah marun dengan lengan digulung hingga sebatas siku dan celana hitam. Tak ada sedikit pun cacat yang bisa merusak penampilannya.

Ya Tuhan... bukankah suatu kejahatan kalau terlihat sesempurna itu?

Bukannya aku ke-GR-an atau apa, tapi Troy sendiri juga sampai tidak berkedip melihatku. Baru kali ini aku mendapat reaksi seperti itu darinya.

”You look so beautiful, Miss Wyna,” puji Troy.

”Thank  you,  Mr.  Cornelius,”  balasku.  ”You  look  so handsome yourself.” Troy mengangsurkan sikunya padaku. ”Shall we?”

Aku tersenyum sembari mengaitkan tanganku ke lekukan siku Troy. ”Sure.”

Meski hanya beberapa langkah aku berpegangan pada Troy—hingga sampai ke mobilnya—aku cukup puas. Apalagi setelah kami sampai di hotel tempat berlangsungnya pesta ulang tahun Natasha, aku kembali berpegangan padanya. Setelah mengisi buku tamu, aku meletakkan kadoku di gift corner. Troy tampaknya tidak membawa kado apa-apa. Entah dia memang tidak berniat memberikan kado, atau akan memberikan kadonya secara pribadi pada Natasha.

Sepertinya pilihan terakhir yang lebih mungkin.

Kami memasuki ballroom yang sangat luas, dengan dekorasi serba pink. Di salah satu sisi ballroom terdapat panggung. Latar belakang panggung itu gambar istana. Oh, aku tahu. Di pesta ini Natasha pasti akan menjadi putri.

Dilihat dari betapa banyaknya orang yang memenuhi ballroom, kutebak orang yang diundang Natasha mencapai ratusan.

”Ramai banget,” komentarku.

”Yang diundang Natasha emang bukan cuma teman seangkatannya, tapi sekaligus satu sekolahnya,” jelas Troy. ”Bahkan teman-teman SMP-nya juga diundang. Selain itu, masih ada juga keluarga besarnya dan kenalan bokapnyokapnya.”

Ada yang sepertinya dengan sengaja dilewatkan Troy yaitu anggota geng Austin. Tadi aku memang sempat melihat beberapa anggota geng Austin berseliweran.

”Padahal ini baru ultah keenam belasnya, ya,” gumamku. ”Gimana nanti ultah ketujuh belasnya?”

Ah, tapi aku tidak boleh iri. Natasha boleh saja menjadi putri dan mengadakan pesta ulang tahunnya di hotel dengan ratusan atau ribuan tamu. Tapi cuma aku yang menghabiskan hari ulang tahunku berdua bersama Troy.

”Eh, itu Ivy,” tunjukku tiba-tiba. Aku melihat sekilas, Ivy berdiri bersama Austin sebelum sekelompok orang menutupi mereka.

”Lo ke sana aja,” kata Troy. ”Ada beberapa teman Natasha yang gue kenal. Gue mau nemuin mereka dulu.” Aku tidak langsung menghampiri Ivy, melainkan mengecek terlebih dahulu teman-teman Natasha yang dimaksud Troy. Ternyata teman-teman Natasha itu cowok. Kalau

sampai cewek, aku pasti akan ikut dengannya.

Mungkin Troy lebih memilih menghampiri teman-teman Natasha karena tidak ingin bertemu Austin. Memang lebih baik mereka tidak bertemu sih, daripada mereka membuat pesta ini kacau—meskipun sebenarnya aku tidak begitu peduli dengan kelangsungan pesta ini.

Semakin mendekati Austin dan Ivy, aku baru bisa melihat mereka dengan jelas. Ivy mengenakan gaun hitam bermodel sabrina, sedangkan Austin... Astaga, Austin! Dia terlihat sangat ganteng dengan tuksedo hitamnya. Aku jadi teringat pada Tuksedo Bertopeng. Waktu kecil aku sempat naksir berat padanya.

Lho, kenapa aku malah memikirkan Tuksedo Bertopeng?

”Udah dari kapan datangnya, Vy?” tanyaku pada Ivy begitu tiba di dekatnya dan Austin.

”Dari setengah jam lalu,” sahut Ivy. ”Mana Troy?”

Aku menunjuk jauh ke belakangku. ”Di sana, sama teman-teman Natasha.”

Ivy melongok-longok ke arah yang kutunjuk. ”Nggak kelihatan,” keluhnya. ”Kalau dilihat dari cara lo ngebiarinin Troy, gue tebak teman-teman Natasha pasti cowok.”

Aku nyengir. ”Benar banget!” celetukku. ”Tapi selain itu, nggak apa-apa kok kalau Troy emang mau nemuin temanteman Natasha. Gue kan nggak mau membatasi pergaulannya.” Lagakku seolah-olah aku pacar Troy yang dengan bijak membiarkannya memilih teman-teman yang diinginkannya.

”Yah emang nggak apa-apa, selama teman-teman Natasha cowok,” kata Ivy. ”Nah, coba kalau cewek, apa lo akan tetap ngebiarinin dia begitu?”

”Jelas nggak!” tandasku.

Austin hanya mengernyit tidak senang mendengar pembicaraanku dan Ivy. Kernyitannya semakin dalam ketika ada yang memanggil Ivy, dan orang itu adalah orang yang paling tidak diinginkannya berada di dekat-dekat Ivy. ”Lionel!” seru Ivy girang. Memang Lionel yang barusan memanggilnya, dan kini berdiri bersama kami. Dia mengenakan kemeja hitam dan celana hitam. ”Kamu datang sama siapa?”

”Sendiri,” sahut Lionel singkat.

Malang sekali sih Lionel. Seharusnya dia mengajak cewek bersamanya ke sini sehingga tidak terlihat nelangsa begitu.

Lionel dan Ivy mulai membicarakan hal lain, tapi pembicaraan itu hanya berlangsung supersingkat sebab Austin buru-buru menginterupsi mereka.

”Sayang,” panggil Austin pada Ivy. Bukan cuma Ivy, aku pun melongo mendengarnya. Sejak kapan dia memanggil Ivy dengan sebutan ”Sayang”? Jelas dia hanya ingin membuat Lionel cemburu. ”Aku mau ngenalin kamu sama papa-mamaku.”

Wajah Ivy langsung memucat. ”S-sekarang?” gagapnya. ”Nanti aja deh, pas udah mau pulang.”

”Harus sekarang!” tandas Austin, lalu dia menarik Ivy agar mengikutinya. Berhasil juga dia memisahkan Ivy dari Lionel.

Aku sampai terkikik geli melihat Ivy. Dia memang ingin Austin mengenalkannya pada orangtuanya, tapi pada saat yang bersamaan, dia juga tegang setengah mati. Lihat saja, ekspresinya seolah dia akan bertemu Cerberus, dan bukan orangtua Austin. Begitu Austin dan Ivy menghilang dari pandanganku, aku berpaling pada Lionel. ”Lo udah nggak marah lagi kan sama gue?” tanyaku. Aku memang belum sempat berbicara padanya sejak dia memarahiku di telepon.

”Tergantung lo masih bandel kayak kemarin atau nggak,” sahut Lionel.

”Gue kadang-kadang aja kok bandelnya,” kataku. ”Jadi kalau pas bandel gue kumat, lo maklumin aja ya.”

Lionel mendengus. ”Gue nggak mau maklumin.”

Ya sudah deh, terserah dia saja. Yang penting Lionel tidak membuka mulut pada Troy. Aku kan masih harus menjalankan tugasku sebagai mata-mata Troy, apalagi aku masih belum tahu kenapa Edgar dan empat anggota gengnya datang ke pabrik terbengkalai yang penuh preman itu. Memang hanya dua preman sih yang kulihat, tapi aku yakin masih ada banyak preman lagi di dalam pabrik itu.

Omong-omong soal Edgar, kok aku tidak melihatnya ya dari tadi? Natasha kan mengundang teman satu sekolah, jadi seharusnya Edgar juga diundang.

”Apa lo ngelihat Edgar?” tanyaku pada Lionel. ”Nggak,”  geleng  Lionel.  ”Gue  rasa  dia  nggak  bakal

datang. Entah bagaimana dia tahu Troy akan ada di sini.”

Bagus deh kalau Edgar tidak datang. Dia kan tidak boleh sampai melihatku bersama Troy.

Troy mendatangi kami tidak lama kemudian. Dia bertukar sapa sejenak dengan Lionel, lalu penerangan di ballroom

mulai meredup—tanda acara akan segera dimulai.

Setelah penampilan DJ, MC pun naik ke panggung dan memanggil Natasha. Pintu di samping panggung terbuka, dan dari dalamnya muncullah Natasha. Terdengar desah kagum dari para tamu begitu melihat penampilan Natasha.

Meski  tidak  ingin  memuji  Natasha,  tapi  dia  memang terlihat seperti putri. Dia mengenakan gaun brokat pink dengan bagian bawah seperti kelopak bunga mawar. Rambutnya ditata dalam sanggul modern, dan mahkota kecil di kepalanya.

Diam-diam aku melirik Troy, ingin mengetahui reaksinya. Matanya tidak pernah lepas dari Natasha. Memang wajar sih. Tidak ada cowok normal yang tidak terpukau melihat penampilan Natasha. Aku saja yang tadinya sudah merasa cantik langsung merasa biasa-biasa saja. Kecantikan Natasha memang sulit ditandingi.

Kata-kata selamat datang dari Natasha disusul salam dan sedikit cerita dari orangtuanya. Sebelum ini, aku hanya pernah melihat orangtua Natasha lewat foto keluarga yang dipajang di ruang tamu rumahnya.

Ada beberapa permainan yang disiapkan, dari tebak kata, menggulung seluruh tubuh dengan tisu gulung, sampai memecahkan balon dengan bokong. Hadiah-hadiah menggiurkan menanti para pemenangnya. Ballroom dipenuhi gelak tawa karena tingkah konyol para pesertanya.

Saat makan malam, Natasha pun turun dari panggung dan berbaur dengan para tamu. Aku hanya makan berdua dengan Troy, sementara Lionel menghilang—entah untuk berburu makanan lain, atau mencari Ivy kembali.

Ketika melihatku dan Troy, Natasha langsung menghampiri kami. Senyum mengembang di wajahnya, terutama ditujukan pada Troy.

”Happy birthday, Princess,” ucap Troy, setelah Natasha menyapa kami.

Princess? PRINCESS??? Apa itu memang panggilan kesayangan Troy untuk Natasha, atau dia hanya memanggilnya begitu hari ini karena penampilan Natasha seperti putri?

”Thank you, Troy,” balas Natasha, masih dengan senyumnya.

Kini giliranku. ”Happy birthday,” ucapku, dengan sedikit jutek. Aku bahkan sampai harus menggigit lidah untuk mencegahku dengan sinis menambahkan ”Princess” di akhir kalimatku.

”Thank you, Sophie,” balas Natasha. Senyumnya sedikit menghilang karena kejutekanku. Kemudian dengan cepat dia berpaling pada Troy, dan berkata, ”Troy, ikut aku sebentar yuk.”

Sebelum Troy sempat menyahut, aku sudah angkat bicara terlebih dahulu. ”Emang lo mau ajak dia ke mana?” tuntutku. ”Dia kan lagi makan.”

Natasha menatap piring berisi makanan yang berada di tangan Troy seakan tidak menyadarinya sebelumnya. ”Oh, ya udah,” katanya pada Troy. ”Kamu habisin dulu aja makananmu.”

”Nggak apa-apa,” kata Troy, tidak memedulikan usahaku untuk membuatnya tetap tinggal. ”Aku bisa lanjut makan nanti.”

Dengan kecewa aku memperhatikan Troy meletakkan piringnya ke meja kecil terdekat, lalu berjalan pergi bersama Natasha. Ini semua memang gara-gara Natasha. Dari sekian banyak tamu di pestanya, masih saja Troy yang diganggunya.

Terbagi antara rasa lapar dan rasa penasaran akan tujuan mereka, aku memutuskan untuk buru-buru menyuap makanan banyak-banyak ke mulutku sebelum mengikuti mereka. Aku sempat kehilangan jejak mereka, tapi untungnya segera menemukan mereka lagi. Mataku sampai membelalak ketika menyadari ternyata Natasha mengajak Troy menemui orangtuanya.

Wajar bagi Austin untuk mengenalkan Ivy pada orangtuanya, sebab mereka memang berpacaran. Nah, kalau Natasha? Troy kan mantan pacarnya, jadi untuk apa, coba? Apa jangan-jangan kini mereka memang sudah berpacaran kembali? Ah, sudahlah. Jangan soal itu lagi. Troy jelas berhasil merebut hati orangtua Natasha—atau setidaknya ibunya—sebab mereka tampak berbincangbincang akrab. Dia bahkan berhasil membuat ibu Natasha tertawa. Dasar si penakluk wanita itu! Pesonanya memancar ke mana-mana, bahkan tanpa memedulikan usia targetnya.

Aku begitu fokus mengamati perbincangan mereka sampai-sampai tidak menyadari kehadiran Ivy di sebelahku. Nyaris saja aku terlompat kaget ketika merasakan sentuhan tangannya di lenganku.

”Serius amat sih lo,” komentar Ivy. ”Lagi ngelihatin apa sih?”

Aku hanya mengedikkan kepala ke arah Troy, Natasha, dan orangtua Natasha sebagai jawabannya, dan Ivy bisa mengerti dengan sendirinya.

”Jangan khawatir, Soph,” kata Ivy. ”Paling Natasha cuma mau ngenalin Troy sebagai kakak gue aja. Tadi kan ada dia juga waktu Austin ngenalin gue ke bokap-nyokap mereka.”

Oh iya, aku belum sempat menanyakan pada Ivy mengenai hasil pertemuannya dengan orangtua Austin. Lumayan deh ada yang bisa mengalihkan perhatianku sesaat dari perbincangan  antara  Troy,  Natasha,  dan  orangtua Natasha.

”Gimana, Vy? Apa lo dan Austin udah dapat restu dari bokap-nyokapnya?” godaku. Ivy tersipu. ”Bisa dibilang gitu deh,” tanggapnya. ”Nyokapnya bilang gue cantik. Beliau nggak henti-hentinya muji gue. Sedangkan bokapnya nggak begitu banyak ngomong.”

”Kalau beliau emang nggak begitu banyak ngomong, terus lo tahu dari mana lo dan Austin dapat restu dari beliau?” tuntutku.

”Nebak aja,” kata Ivy. ”Habis beliau juga senyum sama gue, meski cuma sekali.”

”Paling senyum basa-basi aja,” kataku menakut-nakuti Ivy. ”Mungkin sebenarnya beliau nggak mau ngasih restunya ke lo dan Austin.”

”Jangan nakut-nakutin ah!” omel Ivy. ”Austin aja bilang, dia kaget juga ngelihat bokapnya senyum sama gue, soalnya beliau tuh orangnya pelit senyum.”

Seakan mendengar namanya disebut, Austin muncul di tengah-tengah kami. Dia membawa sepiring penuh makanan dan mengangsurkannya ke Ivy.

”Tadi kan aku udah makan,” protes Ivy.

”Makan  lagi  aja,”  kata  Austin.  ”Nanti  kan  kita  bakal berdisko, jadi kamu butuh energi banyak.”

”Iya juga ya.” Ivy setuju dan menerima piring itu dari Austin dan mulai makan.

Melihat Ivy makan, aku jadi sadar sebenarnya aku masih lapar. Daripada aku ngiler di sini sementara perbincangan antara Troy, Natasha, dan orangtua Natasha tidak selesaiselesai, lebih baik aku makan lagi.

Aku makan sebanyak yang kubisa, dan tahu-tahu saja, prosesi tiup lilin dan potong kue segera dimulai. Aku mencari-cari Troy, tapi kerumunan orang yang mulai menyemut di sekitar panggung menyulitkanku.

Selesai  prosesi,  seperti  kata  Austin,  waktunya  untuk berdisko. Musik ingar-bingar memekakkan telingaku, sementara lampu disko bekerlap-kerlip menyinari orangorang yang asyik berdisko. Aku belum berhasil menemukan Troy, dan yang membuatku curiga, Natasha juga ikut menghilang. Dia tidak terlihat lagi sejak turun dari panggung.

Belum mau menyerah, aku mengelilingi ballroom hingga dua kali, tapi tetap tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka sedikit pun. Aku berdiri di depan panggung, melongok ke sana kemari, dan saat itulah mataku tertumbuk pada pintu yang berada di samping panggung—pintu di mana Natasha muncul untuk yang pertama kalinya. Merasa mereka mungkin ada di dalamnya, aku memutuskan untuk memasuki pintu itu.

Ruangan berbentuk segi empat menyambutku. Ada cermin besar di seberangku, dan dua pintu di sebelah kiri dan kananku. Aku membuka pintu yang kiri, dan langsung melihat Troy. Kakiku yang akan melangkah masuk langsung terhenti ketika menyadari dia tidak sendirian, meski awalnya kusangka begitu. Ada Natasha di sana, tersembunyi di balik tembok, sementara hanya bagian bawah gaunnya yang mencuat keluar dari balik tembok yang memberitahukan keberadaannya.

Tak satu pun dari mereka berdua yang menyadari kehadiranku. Troy mengangkat kedua tangannya ke depan, lalu kepalanya pun ikut menunduk ke arah Natasha. Dilihat dari posisinya, hanya ada satu hal yang terpikirkan olehku.

Troy mencium Natasha.

Aku hanya bisa berdiri terpaku dengan hati berdenyutdenyut nyeri. Tidak cukupkah dulu aku melihat mereka berpelukan, sehingga kini aku juga harus melihat mereka berciuman?

Kurva keyakinanku bahwa Troy berpacaran kembali—atau setidaknya berniat untuk berpacaran kembali—dengan Natasha memang naik-turun, dan kini sedang dalam titik tertinggi karena ciuman itu. Troy jelas berbohong padaku dan Ivy mengenai dia tidak berpacaran kembali dengan Natasha.

Dengan susah payah aku memaksakan diriku untuk bergerak kembali ke pintu yang mengarah ke ballroom. Aku membukanya, dan nyaris saja bertabrakan dengan Lionel.

”Sophie?” Lionel tampak khawatir melihat wajahku yang pucat, seakan aku baru melihat hantu. Terus terang saat ini aku lebih memilih melihat hantu daripada ciuman itu. ”Lo kenapa?”

Aku hanya menggeleng dan mendorong tubuh Lionel ke samping, agar aku bisa lewat. Bisa kudengar dia memanggilku lagi, tapi aku tidak mengacuhkannya. Untung saja dia tidak mengejarku, sebab aku memang sedang tidak ingin berbicara dengannya—atau lebih tepatnya, dengan siapa pun.

Sekembalinya ke ballroom, aku terhuyung-huyung menuju meja bundar, yang di atasnya berjajar gelas-gelas berisi air putih. Aku mengambil satu gelas, lalu dengan cepat menandaskan isinya.

Sekujur tubuhku gemetaran, dan aku harus berpegangan pada tepi meja agar tidak terjatuh. Lama aku hanya berdiam diri, sampai kemudian menyadari tidak seharusnya aku berada lebih lama lagi di sini. Persetan dengan status Troy sebagai pacar Natasha, aku akan memintanya mengantarku pulang.

Setelah memastikan aku bisa berdiri tegak, barulah aku melepaskan pegangan pada tepi meja dan berjalan kembali ke pintu di samping panggung. Bersamaan dengan aku memasuki pintu itu, Troy, Natasha, dan Lionel juga keluar dari pintu di sebelah kiriku. Kami bertemu di tengah ruangan, sementara tatapanku hanya terpancang pada Troy.

”Troy, gue mau pulang,” pintaku. ”Pulang?” ulang Troy. ”Kenapa?”

”Gue nggak enak badan,” kataku. Aku tidak sepenuhnya berbohong sebab aku memang mulai merasa tidak enak badan. Efek melihat ciuman tadi, sepertinya.

”Apa lo butuh obat?” tawar Natasha.

Obat, kata Natasha? Yang kubutuhkan bukanlah obat, melainkan Troy. Andai saja Troy mau mencampakkan Natasha sekali lagi, dan memilih untuk bersamaku, maka aku pasti akan langsung sembuh.

Natasha mungkin bermaksud baik, tapi tidak, dia tidak akan menerima ucapan terima kasih dariku. Lagi pula, berani-beraninya dia berbicara padaku. Ketika aku mengalihkan tatapanku padanya—berniat menjutekinya—aku melihat sesuatu di lehernya yang tidak ada sebelumnya— kalung emas putih dengan liontin berbentuk mahkota. Entah kenapa, aku yakin sekali kalung itu kado ulang tahun dari Troy, sehingga kemarahanku pada Natasha pun semakin menjadi-jadi.

”Nggak usah sok perhatian begitu!” bentakku. ”Gue nggak butuh apa pun dari lo.”

Bukan cuma Natasha, tapi Troy dan Lionel pun terkejut mendengar bentakanku. Tapi untuk saat ini, aku bahkan tidak berusaha untuk jaim di depan mereka, sebab yang terpenting adalah aku bisa melampiaskan kemarahanku pada Natasha.

”Oke, gue akan antar lo pulang,” kata Troy tiba-tiba, mungkin ingin secepatnya memisahkanku dari Natasha sebelum aku menampar cewek itu. Dia pamit pada Lionel dan Natasha, sedangkan aku langsung berbalik pergi.

Aku dan Troy diam hingga tiba di mobilnya. Troy yang terlebih dulu membuka suara, beberapa saat setelah mobil meninggalkan hotel.

”Soph, sebenarnya ada apa antara lo dan Natasha?” tanya Troy. ”Kenapa lo ngebentak-bentak dia begitu?”

Aku  mendengus.  ”Oh,  jadi  lo  marah  gue  ngebentakbentak dia?”

”Bukan marah,” kilah Troy. ”Gue cuma ingin tahu.”

Oke, kalau Troy memang ingin tahu, maka bersiaplah untuk mendengar kejujuranku. ”Dari awal gue tahu tentang Natasha, bahkan sebelum gue ketemu dia, gue emang udah nggak suka sama dia,” akuku. ”Dia orang yang paling nggak mungkin gue terima jadi teman. Apalagi sekarang, setelah gue tahu lo balikan sama dia.”

”Gue kan udah pernah bilang, gue nggak balikan sama dia,” Troy mengingatkan.

”Jangan bohong!” tukasku. ”Mungkin lo balikan sama dia di restoran Eureka, karena gue pernah melihat lo memeluknya di tempat parkirnya.”

Troy tampak terkejut. ”Lo juga ada di restoran Eureka saat itu?”

”Gue bahkan sampai lebih dulu dari lo,” kataku. ”Sore sebelum pertemuan kalian, gue ketemu Natasha, dan dari dialah gue tahu kalian janjian untuk ketemu malam itu. Karena penasaran, gue memutuskan untuk mengawasi pertemuan kalian.”

Meski tampak sedikit terganggu dengan kenyataan aku mengawasi pertemuannya dengan Natasha, untungnya Troy tidak mempermasalahkannya. Dia malah lebih memilih untuk menjelaskan kenapa dia sampai memeluk Natasha. ”Malam itu Natasha emang minta balikan sama gue,” beber Troy, yang tentu saja tidak mengejutkanku lagi. ”Tapi gue menolaknya, karena gue udah nggak punya perasaan apa pun sama dia. Gue tahu dia sedih, juga kecewa—nggak peduli meski dia bilang dia bisa mengerti. Sebelum pulang, di tempat parkir dia menangis. Dia meminta gue memeluknya untuk terakhir kalinya, dan karena gue merasa mungkin itu bisa sedikit menghiburnya, gue pun melakukan-

nya.”

Sungguhkah Troy menolak Natasha? Aku mungkin akan langsung percaya kalau tidak ada kejadian tadi—kejadian yang membuatku ingin cepat-cepat pulang.

”Anggap aja lo emang menolak Natasha, lantas kenapa tadi lo menciumnya?” tuntutku. Lalu, dengan sinis aku menambahkan, ”Atau berciuman memang sesuatu yang wajar dalam pertemanan kalian?”

”Omongan lo benar-benar ngaco,” tanggap Troy. ”Terakhir kali gue mencium Natasha adalah sehari sebelum kami putus.” Itu kan sudah berbulan-bulan lalu. Kalau begitu, apa yang kulihat tadi? Padahal aku sudah yakin sekali Troy mencium Natasha, meski tidak benar-benar melihatnya.

”Sebenarnya ngapain lo dan Natasha berduaan di ruangan tempat kalian baru keluar tadi?” tanyaku akhirnya. ”Lionel kan masuk belakangan.”

”Gue lagi ngasih kalung buat kado ultah Natasha,” jelas Troy.

Oh,  kalung  emas  putih  dengan  liontin  berbentuk mahkota yang tadi kulihat dipakai Natasha! Berarti memang benar tebakanku, kalung itu kado ulang tahun dari Troy.

”Sejak kami masih pacaran,” lanjut Troy, ”Natasha udah suka banget sama kalung itu. Gue pernah janji akan ngebeliin dia kalung itu, tapi sebelum kesampaian, kami udah keburu putus. Ketika tadi gue memakaikan kalung itu ke leher Natasha, rasanya lega karena gue bisa menepati janji gue.”

Kalimat terakhir Troy membuatku jadi memikirkan kembali kejadian tadi. Posisi Troy, mungkinkah bukan untuk mencium Natasha, melainkan untuk memakaikan kalung ke lehernya?

Ya, pasti begitu. Aku malah menuduh Troy yang bukanbukan, padahal tidak tahu kebenarannya.

”Sori,” gumamku. ”Habis karena lo cukup sering ketemuan  Natasha,  gue  jadi  curiga  ada  sesuatu  antara kalian.” ”Nggak apa-apa,” tanggap Troy. ”Wajar kalau lo curiga. Tapi perlu lo tahu, setiap kali gue ketemuan sama Natasha, pasti selalu ada Lionel.”

”Apa lo perlu Lionel supaya dia bisa mengingatkan lo untuk nggak tergoda lagi sama Natasha?” Belum apa-apa, kecurigaanku sudah muncul lagi.

Troy mengabaikanku. ”Lionel patah hati karena Ivy, dan Natasha patah hati karena gue,” katanya, seolah aku belum tahu. ”Hal itu membuat gue merasa bertanggung jawab, dan ingin melakukan sesuatu untuk mereka, supaya mereka bisa menemukan seseorang yang baru. Lalu gue pikir, karena mereka sama-sama patah hati, mungkin mereka jadi merasa senasib. Siapa tahu mereka bisa saling tertarik. Gue pun mulai ngajakin mereka ketemuan, yang lamakelamaan intensitasnya jadi semakin sering, untuk mendekatkan mereka. Tapi karena gue nggak ahli dalam hal-hal begituan—buktinya dulu hubungan Lionel dan Ivy aja nggak berkembang meski gue nyuruh mereka pura-pura pacaran— gue nggak bisa memastikan hasilnya. Gue mengusahakannya dengan membuka jalan untuk mereka, tapi untuk seterusnya... yah terserah mereka. Sampai saat ini sih mereka masih asyik-asyik aja temenan.”

Aku jadi ingat, waktu dulu aku menanyakan pada Lionel tentang Troy dan Natasha, Lionel terlihat salah tingkah. Dulu kusangka itu karena dia tahu ada sesuatu antara mereka, tapi rupanya dia hanya malu untuk memberitahuku tentang kedekatannya dengan Natasha.

Andai saja Lionel mau jujur padaku, masalahnya tidak akan serumit ini. Meski merasa teramat lega karena ini kesalahpahaman belaka, aku kan tetap tidak enak pada Troy. Baru aku akan membuka mulut untuk meminta maaf sekali lagi pada Troy, dia sudah keburu berbicara lagi.

”Gue nggak nyangka masalah Natasha akan begitu memengaruhi lo,” komentar Troy. Bukan hanya memengaruhi, sebenarnya, juga membuatku nyaris gila—sampai-sampai aku memutuskan untuk blakblakan saja. ”Padahal, seandainya pun gue benar-benar balikan sama Natasha, nggak ada hubungannya dengan lo, kan?”

”Emang nggak ada hubungannya sama gue, karena gue bukan siapa-siapa lo,” kataku setuju. Lalu, entah mendapat keberanian dari mana, aku melanjutkan, ”Tapi apa gue salah, kalau gue ingin menjadi seseorang yang spesial buat lo?”

Selama tiga setengah tahun ini, aku berdiri di atas danau membeku yang lapisan esnya begitu tipis—mencerminkan hubungan pertemananku dengan Troy. Dan dengan katakataku barusan, aku telah maju selangkah, membuat lapisan es di bawahku mulai retak. Kalau aku tidak ingin jatuh ke dalam air yang dingin, aku harus berhenti melangkah. Itu artinya aku tidak boleh mengatakan hal-hal yang berbahaya lagi. Masalahnya, aku sudah terlalu lama berdiri di atas danau yang membeku ini. Kalau berhenti melangkah, aku tidak akan pernah ke mana-mana. Padahal ada Troy di seberangku, di pinggir danau, dan butuh beberapa langkah lagi untuk mencapainya.

Lagi pula, sepertinya Troy sudah tahu perasaanku padanya—entah sejak dulu, atau baru hari ini. Kecemburuanku pada Natasha, yang terang-terangan kuperlihatkan, tentu semakin meyakinkannya. Karena Troy telanjur tahu, ditambah dengan suasana yang mendukung, aku jadi semakin yakin untuk mengungkapkan perasaanku padanya.

Sebelum melanjutkan langkah, aku menatap Troy. Niatku terbaca olehnya, dan dengan tegas dia menggeleng.

”Berhenti, Sophie,” perintah Troy. ”Jangan diteruskan.” Hanya saja, aku tetap keras kepala. ”Gue nggak ingin berhenti,” kataku. ”Kalau gue berhenti, bagaimana

hubungan kita bisa berkembang?” ”Sophie, gue bilang ber—”

”Gue suka sama lo, Troy,” kataku setengah berseru, memotong kata-katanya. ”Gue sangat suka lo.”

Akhirnya kuungkapkan sudah. Rasanya beban yang mengimpit dadaku selama tiga setengah tahun ini—karena terpaksa memendam perasaanku pada Troy—terangkat, dan membuatku bisa bernapas lega. Aku tahu kelegaan ini tidak akan berlangsung lama.

Langkah-langkahku membawaku mendekati Troy, sekaligus semakin memperlebar retakan di lapisan es. Aku akan segera jatuh, dan kini keputusan ada di tangan Troy—apa dia akan membiarkanku jatuh, atau menyelamatkanku?

Aku menunggu, dan terus menunggu. Tapi sampai bermenit-menit setelahnya, yang bagiku terasa bagai berabadabad, Troy belum juga mengambil keputusan. Sampai kemudian dia mendesah berat.

”Maaf, Sophie.” Dua kata. Hanya dua kata itu, dan aku tahu keputusan yang telah diambil Troy. Kali ini giliranku menyuruhnya berhenti berbicara, sebab aku tidak ingin mendengar apa pun yang akan dikatakannya selanjutnya. Sayangnya, Troy tidak kalah keras kepalanya dariku. ”Tapi gue nggak bisa membalas perasaan lo.”

Hatiku langsung terasa hampa. Kosong. Tak ada isinya. Tapi itu hanya berlangsung sedetik, sebab pada detik selanjutnya, lapisan es di bawahku jebol. Aku pun jatuh ke dalam air dingin—begitu dinginnya hingga menusuk tulang. Setiap bagian tubuhku terasa sangat sakit. Aku memberontak dengan sekuat tenaga, berusaha melarikan diri dari rasa sakit itu, tapi malah semakin tersiksa.

”Kenapa?” Suaraku terdengar begitu jauh. ”Kenapa nggak bisa?”

”Karena lo sahabat Ivy,” kata Troy.

Aku masih tidak mengerti. ”Apa hubungannya dengan hal itu?” ”Sebenarnya, Sophie, udah dari dulu gue tahu perasaan lo ke gue,” aku Troy. Ternyata benar, dia memang sudah tahu. ”Gue bisa melihatnya dari gerak-gerik lo setiap kali kita lagi bersama-sama. Tapi meski begitu, gue memutuskan untuk pura-pura nggak tahu. Gue punya prinsip, gue nggak akan pernah memacari sahabat Ivy. Karena kalau sampai kita pacaran, lalu kemudian putus, maka itu akan memengaruhi persahabatan lo dengan Ivy. Gue nggak mau itu sampai terjadi. Ivy kan sayang banget sama lo.”

”Kenapa lo begitu yakin kita akan putus?” tuntutku. ”Padahal kan mungkin aja hubungan kita bisa awet.”

”Ayolah, Sophie,” desah Troy. ”Lo lihat aja hubunganhubungan gue yang sebelumnya. Nggak ada satu pun yang awet.”

”Jangan jadiin itu sebagai patokan,” protesku. ”Kalau lo bisa menyukai gue sebesar gue menyukai lo, maka nggak ada alasan bagi kita untuk putus, kan?”

”Akan ada alasan lainnya yang bisa merusak hubungan kita, nggak peduli meski kita saling menyukai sekalipun,” tukas Troy. ”Apa lo bisa menjamin alasan-alasan itu nggak akan muncul?”

Meski ingin mengatakan aku bisa menjaminnya, pada kenyataannya aku tahu aku tidak bisa. Di sisi lain, aku juga belum mau menyerah.

”Dengan lo menolak gue begini, toh gue juga akan patah hati,” kataku. ”Jadi apa bedanya dengan kalau kita putus nanti?”

”Tentu aja beda,” tandas Troy. ”Kalau gue tetap memacari lo padahal gue tahu gue hanya akan menyakiti lo, berarti gue mempermainkan lo. Apa kata Ivy kalau dia tahu gue mempermainkan sahabatnya? Lagi pula, akan lebih mudah bagi lo untuk mengatasi patah hati lo kalau gue menolak lo sejak awal. Persahabatan lo dengan Ivy juga akan baikbaik aja.”

”Dari tadi cuma Ivy yang lo pikirin,” sentakku. ”Lantas bagaimana dengan gue?”

”Itu kan demi kebaikan lo juga,” kata Troy. ”Jadi, Sophie, lebih baik lo lupain aja ya perasaan lo sama gue.”

Beginikah akhir yang harus kuhadapi? Troy malah menyuruhku melupakan perasaanku padanya, seolah mudah bagiku melakukannya.

Tanpa kusadari, air mata mulai jatuh ke pipiku. Aku berpaling, tidak ingin Troy melihatku menangis. Tanganku sibuk menghapus air mata, tapi air mata justru mengucur semakin deras.

Sudah beberapa saat lamanya aku berada di dalam air dingin, dan kini paru-paruku mulai menuntut oksigen. Aku berjuang untuk mencari lapisan es yang jebol, tempatku terjatuh tadi, ingin secepatnya mencapai permukaan air.

Sesak...  Rasanya  sesak  sekali...  Aku  bergerak-gerak gelisah di jok, merasa kesulitan untuk bernapas. ”Troy, hentikan mobilnya,” pintaku.

”Apa?” tanya Troy, tidak yakin dengan apa yang didengarnya.

”Hentikan mobilnya,” ulangku. ”Please.”

Meski bingung, Troy menurutiku. Dia menepikan mobil, lalu aku melompat turun. Bisa kudengar dia memanggilku, memintaku kembali, tapi aku tidak memedulikannya.

Aku berhasil menemukan lapisan es yang jebol, dan begitu mencapai permukaan air, aku langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya. Tidak sepenuhnya menghilangkan rasa sesakku, memang, hanya sedikit menguranginya. Troy tiba-tiba saja sudah berada di dekatku, di trotoar.

Aku tidak bisa lagi menyembunyikan air mataku darinya. Dia melihatnya, dan wajahnya langsung dipenuhi rasa bersalah.

”Sophie, kenapa lo turun?” tanya Troy. ”Ayo, masuk lagi ke mobil.”

Aku menggeleng. ”Gue nggak mau pulang sama lo,” tolakku. Berdua dengan Troy di mobilnya hanya akan membuat rasa sesakku kembali. Bisa-bisa aku mati kehabisan napas.

Troy tampaknya mengerti kenapa aku tidak mau pulang bersamanya, karena tidak lagi memaksaku masuk ke mobilnya.

”Seenggaknya biar gue temenin lo sampai lo dapat taksi,” tawar Troy. Lagi-lagi aku menggeleng. ”Gue mau pulang jalan kaki aja,” kataku.

”Apa lo gila?” Ya, aku memang sudah gila. Troy menolakku, jadi wajar saja aku kehilangan kewarasanku. ”Rumah lo masih cukup jauh. Lagi pula bahaya, Soph. Ini kan udah malam.”

Ternyata Troy masih mengkhawatirkanku. Jika saja dia bersikap cuek padaku, mungkin malah lebih tidak menyakitkan.

”Gue nggak mau cepat-cepat sampai di rumah, karena butuh waktu untuk nenangin diri,” kataku beralasan. ”Bokap-nyokap gue nggak boleh sampai melihat gue kayak begini.”

”Tapi mana bisa gue ngebiarinin lo pulang jalan kaki sendirian malam-malam begini?” tukas Troy. ”Kalau sampai terjadi apa-apa sama lo, kan tanggung jawab gue juga.”

”Gue bisa menjaga diri baik-baik,” kataku. ”Jadi please, Troy, pergilah. Jangan buat ini semakin sulit buat gue.”

Permintaanku membuat Troy frustrasi. Tapi setelah memikirkannya masak-masak, yang diwarnai dengan aksi mondar-mandir, dia memutuskan untuk memenuhinya—asal dengan satu syarat.

”Telepon gue begitu lo sampai rumah,” cetus Troy.

Mau tak mau, aku jadi teringat pada Ivy ketika dia mencoba bernegosiasi dengan Austin agar Austin mengizinkannya pulang bersamaku. Dia berjanji akan menelepon Austin begitu sampai rumah. Sekarang, sepertinya aku juga harus menjanjikan hal yang sama pada Troy.

”Oke, gue akan telepon lo,” janjiku.

Sampai ketika sudah berdiri di sebelah mobilnya, Troy masih saja ragu untuk pergi. Tapi karena memegang janjiku, dia masuk juga kembali ke mobil.

Troy sudah pergi dari pinggir danau. Bagai tamparan keras, aku pun tersadar, bahwa memang tidak akan ada lagi Troy dalam hidupku—Troy yang sangat kusuka, dan membuatku sangat bahagia selama ini. Dia sudah pergi, dan tidak akan pernah kembali lagi.

Aku menggeleng-geleng tanpa sadar. Tidak... Troy tidak boleh pergi! Aku tidak ingin dia pergi! Dia harus kembali! Harus!!!

”Troy!” seruku. Aku berlari secepat yang kubisa dengan sepatu hak tinggi, turun ke jalan, berusaha mengejar mobil Troy yang mulai menjauh. ”Troy, kembali! Troy!”

Tapi mobil Troy semakin menjauh. Dalam kegelapan, hanya lampu belakangnya yang terlihat. Lariku semakin lama semakin lambat, hingga akhirnya aku terjatuh ke aspal. Aku menangis meraung-raung, membuat beberapa orang yang sedang melintasi trotoar memandangiku dengan heran, tapi tahu apa mereka? Mereka tidak merasakan apa yang kurasakan, betapa luar biasanya sakit di hatiku karena Troy meninggalkanku. ”Troy, j-jangan pergi,” tangisku. ”Jangan tinggalin gue.

Jangan setega itu sama gue.”

Salah satu dari beberapa orang yang berada di trotoar— ibu penjaga warung—turun ke jalan dan menghampiriku. Mungkin aku terlihat begitu menyedihkan sehingga dia menjadi tidak tega.

”Neng, jangan nangis di tengah jalan begini,” kata ibu penjaga warung itu, seraya membantuku berdiri. ”Nanti ada mobil.”

Sedari tadi jalanan memang sepi, tidak ada mobil lewat. Kalau sampai ada, mungkin aku sudah tertabrak mobil karena kecerobohanku.

Sekembalinya kami ke trotoar, aku menggumamkan terima kasih pada ibu penjaga warung itu dan segera berjalan pergi. Entah arah mana yang kutuju, tidak akan mengherankan kalau aku sampai tersasar.

Hanya insting yang menuntunku hingga aku bisa sampai di rumah, sebab sepanjang perjalanan, aku sibuk menangis. Untung Papa dan Mama sudah tidur. Tapi ketika aku menuju kamarku, aku berpapasan dengan Jason.

”Sophie?” panggil Jason, terkejut melihat air mata di wajahku. ”Kenapa lo nangis?”

Aku tidak bisa menjawab. Kalau menjawab, berarti aku harus menceritakan pada Jason soal Troy menolakku. Padahal aku belum siap untuk menceritakannya. Setidaknya, tidak malam ini. ”Karena Troy, ya?” Ternyata Jason bisa menebaknya sendiri. ”Pasti dia kan, yang bikin lo nangis?”

Mulutku tetap tertutup. Jason menganggap diamnya diriku sebagai tanda bahwa aku membenarkan tebakannya.

”Keterlaluan si Troy,” geram Jason. ”Terus terang ya, Soph, gue jadi mulai nggak respek sama dia. Gue merasa dia nggak pernah menghargai lo. Padahal dia beruntung karena disukai sampai segitu dalamnya sama lo.”

Ya, kenapa Troy tidak menyadari betapa beruntungnya dirinya? Mungkin memang masih banyak cewek yang menyukainya, tapi apakah mereka menyukainya sedalam aku?

”Gue tahu Troy jauh lebih kuat dari gue,” kata Jason. ”Dan sekali dia mukul gue, mungkin gue bakal langsung semaput. Tapi kalau gue bisa memberi dia satu-dua pukulan aja, untuk membalas perlakuannya ke lo, gue cukup puas.”

Betapa aku sangat terharu mendengarnya. Adikku, yang biasanya hanya bisa membuatku kesal, kini malah jadi semanis ini. Aku tidak tahan untuk tidak memeluknya. Tak seperti biasanya, dia membiarkan saja aku memeluknya dan tidak memberontak. Tapi itu hanya bertahan beberapa detik, sebelum akhirnya dengan wajah memerah dia melepaskan pelukanku dan ngibrit ke kamarnya. Kami memang tidak terbiasa menunjukkan kasih sayang terhadap satu sama lain.

Sedikit terhibur dengan ulah Jason, aku juga masuk ke kamarku. Saat akan naik ke ranjang, aku baru menyadari aku masih mengenakan sepatu hak tinggi. Aku membukanya, dan ternyata akibat aku berjalan kaki sejauh tadi, tumitku terluka parah. Sakit di hatiku membuatku tidak merasakan sakit di tumit.

Terlalu malas untuk mengambil obat luka dan plester, aku membaringkan tubuh di ranjang. Teringat aku berjanji pada Troy akan meneleponnya begitu sampai rumah, aku mengambil ponsel. Ada delapan missed calls dari Troy. Ponselku memang ku-silent sehingga aku tidak tahu dia meneleponku.

Pernahkah aku menerima delapan missed calls dari Troy sebelum ini? Bahkan satu missed call pun tidak pernah. Dia nyaris tidak pernah meneleponku, kecuali untuk mencari Ivy saat Ivy tidak bisa dihubungi.

Baru aku akan menelepon balik Troy, dia sudah terlebih dulu meneleponku. Setelah menarik napas panjang-panjang—berusaha menguatkan diriku—aku mengangkatnya.

”Halo?”

”Sophie?” Terdengar kelegaan dalam suara Troy, mungkin karena aku akhirnya mengangkat teleponnya. ”Lo udah sampai rumah?”

”Udah,” sahutku singkat. ”Syukurlah,” desah Troy. Ada jeda sejenak sebelum dia melanjutkan, ”Sophie, gue benar-benar minta maaf.”

Tanpa menanggapi permintaan maaf Troy, aku langsung mematikan telepon. Kubenamkan wajahku ke bantal, membasahinya dengan air mata. Meski merasa sangat lelah, sepertinya aku tidak akan bisa tidur.

Sekeluarnya dari danau, salju segera menyambutku, menemaniku yang tetap berkeras menunggu Troy kembali, meski aku tahu sia-sia saja. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊