menu

Bad Boys #2 Troy's Spy Bab 10

Mode Malam
Bab 10

MINGGU akhirnya datang. Khusus untuk hari ini, aku tidak ingin memikirkan Edgar, tugasku sebagai mata-mata Troy, ataupun hal lainnya.

Yang ada hanyalah aku dan Troy.

Tepat pukul dua belas malam tadi, Papa, Mama, dan Jason memberiku kejutan ulang tahun. Mereka masuk ke kamarku sambil membawa kue, yang di atasnya terdapat lilin berangka enam belas—sesuai dengan usiaku. Sebagian kue itu berakhir di wajah dan rambutku karena ulah Jason, dan sebelum aku sempat membalasnya, dia sudah keburu diomeli Mama karena mengacak-acak kue. Tapi di luar itu, mereka cukup membuatku terharu.

Aku nyaris tidak bisa tidur karena terlalu tegang. Tentu saja aku tegang karena, ayolah, ini kan kencan pertamaku dengan Troy. Sudah lama aku menanti-nantikannya, tepatnya sejak aku jatuh cinta padanya. Bahkan semakin mendekati pukul sembilan, waktu yang dijanjikan Troy untuk menjemputku, perutku semakin melilit.

Pakaian yang kukenakan hari ini adalah kaus hijau dengan gambar hati merah besar-besar, yang hampir memenuhi semua permukaan kaus. Kaus yang akan kupadankan dengan hot pants merah itu seakan berkata, ”Ini, Troy, gue persembahkan hati gue buat lo.”

Begitu Troy sampai, aku langsung setengah berlari keluar rumah. Troy berdiri di sebelah mobilnya. Dia mengenakan polo shirt putih dan celana jins biru selutut. Santai, tapi tetap memukau. Senyumnya mengembang seiring dengan setiap langkahku mendekatinya.

”Happy birthday, Miss Wyna,” ucap Troy. Baru kali ini dia memanggilku ”Miss Wyna”, dan aku menyukainya.

”Thank you, Mr. Cornelius,” balasku. Baru kali ini juga aku memanggilnya ”Mr. Cornelius”, entah dia menyukainya atau tidak.

”Ready to go?” ”Always.”

Perjalanan menuju Dunia Fantasi kami lalui dengan sangat menyenangkan. Troy banyak membuatku tertawa, sehingga keteganganku berangsur-angsur menghilang. Bahkan pencarian tempat parkir yang memakan waktu lama pun tidak membuat kami bete.

Di loket, ketika aku akan mengeluarkan dompet untuk membayar tiket masuk, Troy mencegahku.

”Kan gue yang ultah,” protesku.

”Gue nggak biasa dibayarin cewek,” kata Troy.

Tidak ingin menyerang ego pujaanku itu, aku membiarkannya membayar tiket masuk. Setelah masuk, kami sibuk menentukan wahana pertama yang akan kami naiki.

”Gimana kalau Halilintar aja?” usulku.

”Yakin mau langsung yang ekstrem?” komentar Troy. ”Kenapa? Takut?” tantangku.

Troy menyeringai. ”Nantangin nih ceritanya?” tanggapnya. ”Gue mah ayo aja. Malah gue takut lo yang pingsan.”

”Halilintar mah nggak ada apa-apanya,” selorohku.

Aku memang sangat menyukai roller coaster. Bukan hanya roller coaster, melainkan semua permainan yang menantang adrenalin.

”Ivy kalau ke sini paling cuma berani ke Istana Boneka,” cerita Troy, dalam perjalanan kami menuju wahana Halilintar.

”Makanya gue paling malas ke sini bareng dia,” kataku. ”Habis kasihan dianya juga, kerjaannya ngejagain tas terus.” Memang itu yang selalu terjadi tiap kali aku ke Dunia Fantasi bersama Ivy. Aku akan asyik-asyikan naik berbagai wahana sementara dia hanya menjaga tasku. Lama-kelamaan dia bosan sendiri dan merengek meminta pulang.

Kalau tidak perlu mengantre lagi, selesai naik Halilintar, aku pasti akan naik lagi. Bagiku, satu putaran tidaklah cukup.

”Udah pernah nyoba naik Battlestar Galactica yang di Universal Studios Singapore belum?” tanyaku pada Troy seraya merapikan rambutku yang berantakan setelah naik Halilintar.

Troy mengangguk. ”Justru gue ke sana niatnya emang mau naik itu.”

”Lebih suka yang Human atau yang Cylon?” tanyaku lagi.

”Yang Cylon dong,” pilih Troy. ”Soalnya kan treknya di atas.”

”Kapan-kapan kita harus ke sana berdua,” kataku bersemangat. Lalu, sadar aku seolah sedang mengajak Troy liburan ke luar negeri berdua, aku buru-buru menambahkan, ”M-maksudnya sama Ivy juga.”

”Kayaknya bakalan seru,” kata Troy tak menyadari kegugupanku.

Wahana kedua yang kami naiki adalah Hysteria, yang akan melontarkan kami ke atas dengan kecepatan tinggi, dan kembali melontarkan kami ke bawah dengan kecepatan yang tidak kalah tingginya. Setelah naik itu, aku sampai merasa jiwaku masih ketinggalan di atas, sementara ragaku sudah sampai di bawah.

Seharusnya wahana ketiga yang kami naiki adalah Tornado, tapi batal karena ulah segerombolan cewek genit yang mengantre di depan kami. Cewek-cewek itu terus berbisik-bisik seraya melirik-lirik Troy dengan tatapan memuja. Mungkin menurut mereka Troy cowok terganteng yang pernah mereka lihat, tapi tetap saja aku tidak suka mereka menunjukkan ketertarikan mereka secara terangterangan begitu. Kalau Troy pacarku, aku pasti sudah memeluknya di depan mereka sebagai tanda kepemilikanku. Tapi karena dia bukan pacarku, yang bisa kulakukan hanyalah sebatas memelototi cewek-cewek itu agar mereka sadar dan bisa menjaga mata mereka. Parahnya, mereka tidak sadar-sadar juga. Salah satu dari cewek-cewek itu malah balik memelototiku. Sialan.

Akhirnya aku memutuskan untuk menyelamatkan Troy dari cewek-cewek itu. Kepadanya aku berkata, ”Gue nggak mau naik ini.”

”Lho, kenapa?” tanya Troy bingung. Jelas dia tidak sadar sedari tadi dirinya dijadikan objek cuci mata cewek-cewek itu.

Aku hanya menggeleng dan segera keluar dari antrean. Mau tak mau Troy mengikutiku. Cewek-cewek itu pasti kecewa karena objek cuci mata mereka pergi. ”Bukannya tadi lo mau naik ini?” kejar Troy.

Aku menatap Tornado dengan penuh damba. Aku memang kepingin sekali menaikinya. Tapi menyelamatkan Troy jelas lebih penting.

”Nggak jadi,” kataku dengan terpaksa. ”Gue mau naik yang lain aja.”

Kora-kora akhirnya menjadi wahana ketiga yang kami naiki. Wahana berbentuk perahu raksasa yang mengayun maju-mundur itu sekilas memang tampak tidak menantang, tapi justru selalu berhasil membuatku agak keder. Setiap ayunannya menghasilkan ngilu tidak tertahankan di perutku, dan akibatnya aku jadi mual.

Troy turun dari Kora-kora dengan segar bugar, sementara aku justru kepingin muntah. Aku mengajaknya duduk sebentar di bangku panjang.

”Lo sakit, Soph?” tanya Troy khawatir. ”Muka lo pucat banget.”

”Cuma mual sedikit,” sahutku. ”Istirahat sebentar juga bakal hilang. Efek naik Kora-kora buat gue emang selalu kayak begini.”

”Asal lo jangan pingsan beneran aja,” komentar Troy.

Setelah merasa agak enakan, aku pun berdiri dan berniat melanjutkan ke wahana berikutnya, tapi Troy mengajakku makan dulu. Aku baru sadar jam makan siang sudah lewat.

Di restoran, aku menjaga meja, sementara Troy mengantre untuk memesan makanan. Dengan puas, aku mengamati setiap gerak-geriknya—membayangkannya sebagai pacarku. Ketika dia akhirnya menangkap basah diriku, dia justru tersenyum.

Melihat senyum Troy, rasanya aku jadi ingin membalikkan meja dan menerobos kerumunan orang di antara kami, lalu memeluknya erat-erat dan tidak pernah melepaskannya lagi.  Sumpah,  pengaruh  senyum  Troy  padaku  memang benar-benar dahsyat!

Sepertinya kami sama-sama lapar, kalau dilihat dari betapa fokusnya kami pada makanan masing-masing. Selesai makan, begitu melihat pasangan di meja sebelah selfie, mendadak aku terinspirasi untuk melakukan hal serupa.

”Troy, selfie yuk,” ajakku.

”Di sini?” tanya Troy tidak yakin.

Asal dengan Troy, selfie di toilet pun aku mau. Tapi selama ini aku memang sudah sering selfie di toilet sih. Sendiri, maksudku. Bukan dengan Troy.

”Iya, di sini,” tegasku. Aku pindah ke kursi di sebelah Troy, lalu mengeluarkan ponselku. Memakai kamera depan, kami mulai berpose. Kepala dan bahu kami sampai menempel satu sama lain saking dekatnya posisi kami.

Begitu foto sudah berhasil diambil, aku cukup puas dengan hasilnya. Kami tampak seperti pasangan kekasih sungguhan. Ketika Troy tidak melihat, diam-diam aku menjadikan foto itu sebagai wallpaper ponselku.

Wahana keempat, kelima, dan keenam yang secara berturut-turut kami naiki adalah Kicir-kicir, Niagara-gara, dan Arung Jeram. Di Kicir-kicir, kami diputar-putar di udara. Di Niagara-gara, begitu perahu menukik tajam ke bawah, kami terkena sedikit cipratan air. Sedangkan di Arung Jeram, setengah pakaian kami basah kuyup. Sayangnya, kami sama-sama tidak membawa baju ganti.

Wahana ketujuh sekaligus wahana terakhir yang kami naiki adalah Bianglala. Saat itu hari sudah sore, jadi kami tidak terkena panas. Kami duduk berhadapan, sama-sama menikmati pemandangan Jakarta yang terlihat dari ketinggian.

”Kalau nanti ada cowok yang mau nembak gue,” gumamku, ”gue ingin deh ditembak di sini.”

”Terus begitu lo tolak, tuh cowok tinggal lompat deh,” kelakar Troy.

”Ih, jangan!” sergahku. ”Lagian nih ya, gue nggak mungkin naik ini dengan cowok yang gue nggak suka. Jadi kalau tuh cowok nembak gue, ya pasti gue terima.” Lalu setelah semua kata itu selesai kuucapkan, aku baru sadar secara tidak langsung aku sudah mengakui Troy sebagai cowok yang kusuka.

Sekalian aja nyatain cinta kalau kayak begitu, dasar Sophie idiot! rutukku dalam hati pada diriku sendiri. Untungnya, Troy sepertinya tidak begitu menangkap maksud di balik kata-kataku. Tapi untuk berjaga-jaga seandainya dia hanya berpura-pura, aku buru-buru mencari topik pembicaraan baru.

”Lo udah pernah pacaran berapa kali sih, Troy?” tanyaku.

Troy sepertinya melakukan penghitungan di dalam kepalanya. ”Dua belas kali, kalau nggak salah.”

Wow, Troy sudah punya selusin mantan pacar, dan itu belum termasuk cewek-cewek yang hanya sekadar diajaknya berkencan. Sedangkan aku? Satu cowok pun tidak ada!

”Yang paling lama berapa lama, dan yang paling cepat berapa lama?” tanyaku lagi.

”Yang paling lama tiga bulan...” Ternyata ada yang lebih lama dari Natasha. Sebenarnya aku sudah bisa menebak bahwa yang paling cepat pasti tiga jam. Lionel kan pernah menyebut-nyebutnya.”Dan  yang  paling  cepat  tiga  jam.” Benar kan tebakanku?

”Dua-duanya nggak ada yang bagus,” komentarku. ”Sebenarnya dua-duanya sekolah di SMA Vilmaris,” kata

Troy. ”Biasanya gue paling nggak mau punya pacar satu sekolah, soalnya kalau udah putus ribet, tapi mereka berdua pengecualian.”

”Pasti karena mereka cantik-cantik,” tebakku.

Troy tertawa. ”Mereka emang cantik-cantik,” dia membenarkan. ”Malah Pacar-Tiga-Bulan gue itu cewek tercantik di SMA Vilmaris.”

Tidak heran deh kalau Troy bisa berpacaran dengan cewek tercantik di SMA Vilmaris. Mana hubungan mereka yang paling lama pula.

”Pacar-Tiga-Bulan gue dan Pacar-Tiga-Jam gue bersahabat,” lanjut Troy. ”Tapi Pacar-Tiga-Bulan gue memiliki terlalu banyak masalah, jadi kami terpaksa putus. Waktu gue pacaran sama Pacar-Tiga-Jam gue, Pacar-Tiga-Bulan gue nggak suka, soalnya dia mau dirinya jadi satu-satunya cewek yang pernah pacaran sama gue di SMA Vilmaris. Nggak ingin persahabatan mereka hancur gara-gara gue, gue terpaksa mutusin Pacar-Tiga-Jam gue walaupun baru tiga jam kami pacaran.”

Oh, jadi itu penjelasannya. Omong-omong, aku setuju Troy menggunakan istilah ”Pacar-Tiga-Bulan” dan ”PacarTiga-Jam” untuk menyebut mantan-mantan pacarnya itu, sebab memang tidak ingin mendengar nama mereka.

Sekeluarnya dari Dunia Fantasi, aku tidak ingin langsung pulang, jadi mengajak Troy berjalan-jalan di pantai. Kami membicarakan berbagai macam hal sampai akhirnya Troy kembali mengungkit Ivy, dan kali ini ditambah dengan Austin.

”Tadi malam gue lewat di depan kamar Ivy, dan mendengar dia lagi bertengkar sama Austin di telepon,” kata Troy. Aku berdecak. ”Nggak heran deh,” tanggapku. ”Mereka emang sering banget bertengkar, tapi baikannya juga cepat.”

”Apa Austin pernah main fisik sama Ivy kalau mereka lagi bertengkar?” selidik Troy.

”Austin ngejagain Ivy banget, jadi nggak mungkin main fisik sama Ivy,” tukasku. ”Pokoknya lo tenang aja, selama sama Austin, Ivy bakal aman. Bahkan nih ya, waktu dulu para penggemar Austin yang jealous sama Ivy suka ngegangguin Ivy, Austin marah banget. Dia memperingatkan mereka supaya nggak ngegangguin Ivy lagi, atau bakal bikin hidup mereka nggak tenang.”

”Masih ada gue yang bakal bikin hidup mereka nggak tenang, kalau peringatan Austin aja belum cukup,” geram Troy. ”Apa ada kemungkinan Austin bakal selingkuh sama salah satu dari mereka?”

”Kalau soal selingkuh sih gue jamin nggak,” kataku. ”Dari yang gue lihat, kayaknya Austin termasuk tipe yang sekali suka sama satu cewek, bakal terus setia.”

Kesetiaan Austin memang tidak kuragukan, sebab aku tahu betapa dia sangat mencintai Ivy. Lagi pula dia pasti tahu risiko yang harus dihadapinya jika dia berani selingkuh dari Ivy.

Jejak-jejak langkahku dan Troy di pasir sudah sangat panjang ketika kami memutuskan pulang. Kalau mengikuti kata hati, sebenarnya aku masih ingin bersama Troy. Tapi aku tahu hari yang indah ini memang harus segera berakhir.

Sungguh luar biasa bahwa seorang Troy Cornelius mau menghabiskan satu harinya bersamaku. Dia bahkan sama sekali tidak mengeluarkan ponselnya, padahal aku yakin banyak cewek meneleponnya. Seluruh perhatiannya hanya dicurahkan kepadaku, dan aku sangat menghargainya.

Rasanya cepat sekali kami sampai di depan rumahku. Belum sempat aku mengucapkan apa-apa pada Troy, tibatiba dia mengulurkan tangan ke arah dasbor dan membukanya, lalu mengeluarkan kotak beledu hitam. Diberikannya kotak itu kepadaku sementara aku hanya memandangi kotak itu dengan wajah bingung.

”Itu kado ultah buat lo,” Troy menjelaskan kebingunganku.

Aku sampai tercengang. ”Lo nggak perlu ngasih gue kado apa-apa,” kataku tidak enak. ”Lo mau nemenin gue ke Dufan aja udah cukup kok.”

”Tetap aja, rasanya nggak afdal kalau gue nggak ngasih lo kado apa-apa,” kata Troy.

Aku mengelus permukaan kotak itu. ”Boleh gue buka sekarang?”

”Buka aja.” Troy mempersilakan.

Aku sampai menahan napas ketika membuka kotak itu. Aku memang penasaran akan isinya. Cincinkah? Sepertinya bukan, sebab ukuran kotaknya sedikit lebih besar. Astaga, bisa-bisanya aku menebak isinya cincin! Troy kan hanya memberikan kado ulang tahun kepadaku, bukan melamarku.

Ternyata setelah kubuka, isi kotak itu gelang perak bermotif daun. Sumpah, itu gelang terindah yang pernah kulihat seumur hidup. Mungkin pendapatku sedikit bias karena yang memberikan gelang itu Troy, tapi intinya, aku sangat menyukai gelang itu.

”Troy, gelangnya bagus banget,” pujiku.

”Gue yang milih gelang itu sendiri,” aku Troy. ”Tadinya gue takut nggak sesuai dengan selera lo, tapi untunglah lo suka.”

Kenyataan bahwa Troy sendiri yang memilih gelang itu, setelah sebelumnya aku sempat berpikir dia meminta Ivy untuk membantunya, semakin menambah nilai gelang itu di mataku.

”Pasti akan gue pakai setiap hari,” janjiku.

”Nggak setiap hari juga nggak apa-apa kok,” kata Troy.

Meski Troy bilang tidak apa-apa, aku akan tetap memakai gelang itu setiap hari. Bahkan saat ini gelang itu sudah menghiasi pergelangan tanganku.

”Makasih ya, Troy,” ucapku. ”Makasih untuk gelang ini, dan makasih juga karena lo mau nemenin gue ke Dufan. Gue senang banget hari ini, jadi makasih ya.”

Troy tersenyum geli. ”Dalam waktu kurang dari semenit, lo udah empat kali ngucapin makasih sama gue,” katanya.

Wah, aku bahkan tidak sadar. Tapi mungkin karena aku begitu berterima kasih pada Troy, sehingga sekali saja mengucapkannya rasanya belum cukup.

”Kalau begitu, untuk yang kelima kalinya, makasih ya, Troy,” tambahku, sedikit menggodanya.

”Sama-sama, Sophie,” balas Troy. ”Dan bukan cuma lo, gue juga senang banget hari ini.”

Sungguh melegakan karena bukan cuma aku yang menikmati kencan pertama kami—yang masih terbayangbayang bahkan sampai aku sudah berbaring di ranjangku malam itu. Secara bergantian, aku memandangi fotoku dengan Troy di ponselku dan gelang di pergelangan tanganku. Rasanya aku tidak sabar untuk memamerkannya pada Jason dan Ivy. Jason sudah tidur tadi, dan sayangnya mengunci pintu kamarnya, sehingga aku tidak bisa membangunkannya dengan paksa. Kalau hanya sekadar mengetuk pintu kamarnya sih, sampai dunia kiamat juga dia tidak akan bangun. Dia memang lebih parah dari kerbau kalau sudah tidur.

Yang terjadi kemudian adalah entah sudah berapa juta kali aku berhasil memamerkan fotoku dengan Troy dan gelang itu pada Jason dan Ivy. Awalnya mereka memang tertarik, dan bahkan memintaku menceritakan kencan pertamaku dengan Troy. Tapi lama-kelamaan mereka mulai muak karena aku tidak henti-hentinya bercerita, membuat mereka jadi hafal hingga ke detail terkecil sekalipun.

Sekembalinya aku pada tugasku sebagai mata-mata Troy, bukannya menemui Edgar, aku justru menguntitnya. Ketika melakukannya pertama kali dulu, aku berhasil membongkar keterlibatan Andy. Kini aku berharap hal berguna lainnya bisa kubongkar juga. Tapi dua kali aku menguntitnya, dan dua kali juga Edgar hanya pulang ke rumahnya. Akhirnya aku tahu juga rumahnya. Rumahnya cukup besar, meski tidak sebesar rumah Austin.

Mungkin lebih baik aku menemui Edgar saja. Tapi sebelum itu, aku bertekad menguntitnya untuk yang terakhir kalinya. Dan ternyata kali ini aku beruntung. Aku melihatnya masuk ke mobilnya bersama empat anggota gengnya. Itu berarti dia tidak mungkin pulang ke rumahnya, kan?

Memang benar, Edgar menuju tempat lain, karena arah yang diambilnya berbeda. Cukup lama aku menguntitnya, sampai ke daerah yang cukup sepi. Mobilnya memasuki pelataran parkir pabrik yang terbengkalai, dan parkir di sana. Dia dan empat anggota gengnya turun dari mobil. Mereka disambut dan dipersilakan masuk ke pabrik oleh pria gemuk yang—kalau dilihat dari penampilannya yang sangar—sepertinya preman.

Sedang apa ya mereka di sini? Bersama dengan preman, lagi. Tapi dalam insiden foto-foto Troy, Edgar kan berurusan dengan geng preman yang bernama geng Cebol. Apa preman itu anggota geng Cebol? Dan apa pabrik ini markas geng Cebol?

Aku berniat menelepon Lionel untuk menanyakan lebih lanjut mengenai geng Cebol. Tapi sebelum aku sempat mengeluarkan ponsel, aku melihat preman lain, yang berkepala botak keluar dari pintu gerbang pabrik. Aku langsung kelabakan mencari tempat bersembunyi, sebab posisiku saat ini—nangkring di atas motorku yang berada di depan pabrik, tidak jauh dari pintu gerbangnya—begitu rentan. Sayangnya, tidak ada tempat bersembunyi, yang bisa sekalian menyembunyikan motorku. Aku kan tidak mungkin meninggalkan motorku. Bisa-bisa motorku malah hilang dicuri preman itu. Akibatnya, aku pun ketahuan.

”Eh, ada Neng Cantik,” sapa preman itu sambil menyeringai mengerikan. Mungkin hanya aku satu-satunya cewek yang pernah dilihatnya di sekitar pabrik ini. ”Ngapain Neng di sini? Mau nemenin Abang?”

Tanpa menyahuti preman itu, aku buru-buru ngibrit bersama motorku. Aku baru merasa aman begitu tiba di rumahku. Segera aku menelepon Lionel, yang sempat tertunda tadi. Begitu aku menceritakan padanya apa yang baru saja kualami, dia malah memarahiku. Aku sampai kaget. Tidak kusangka dia bisa marah juga.

”Lo kok nekat banget sih nguntit Edgar sampai ke tempat berbahaya kayak gitu?” tuntut Lionel marah. ”Tapi gue nggak apa-apa kok.” Aku berusaha menenangkan Lionel.

”Untungnya lo nggak apa-apa,” tandas Lionel, menekankan pada  kata  ”untungnya”.  ”Serius,  Sophie.  Sekali  lagi  lo membahayakan diri lo kayak gitu, akan gue pastikan Troy sendiri yang akan menghentikan lo.”

”Iya, iya, nggak lagi-lagi deh,” kataku mengalah.

Ancaman Lionel jelas bukan ancaman kosong. Untuk mencegahnya membuka mulut pada Troy, sepertinya aku memang tidak boleh lagi membahayakan diriku seperti tadi. Atau setidaknya, jangan sampai Lionel mengetahuinya. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊