menu

Bad Boys #2 Troy's Spy Bab 09

Mode Malam
Bab 09

SUDAH hampir satu jam aku menunggu Edgar di pelataran parkir SMA Soteria. Biasanya aku tidak pernah menunggunya selama ini. Ke mana sih dia? Kenapa dia tidak munculmuncul juga? Apa dia tidak mau pulang? Betah sekali dia di sekolah.

Merasa capek menunggu, aku memutuskan untuk mendatangi bangunan sekolahnya. Ternyata selama aku menunggunya, dia justru sedang duduk di pinggir lapangan bersama salah satu anggota gengnya—yang pernah kulihat bersamanya di Kafe 99 saat dia membicarakan niatnya untuk menghancurkan geng Troy—sambil memainkan laptop.

Aku memutuskan untuk menunggu sampai Edgar berniat pulang, atau sampai anggota gengnya itu pergi. Tentunya mereka tidak akan bersama-sama sampai malam, kan? Kalau sampai ya, aku kan tidak bisa menemui Edgar.

Aku mengamati Edgar dan anggota gengnya yang begitu serius memelototi laptop. Sesekali mereka berbicara sambil menunjuk-nunjuk layar laptop. Aku jadi penasaran, ada apa sih di laptop itu? Masa iya mereka sedang mengerjakan tugas?

Selain tentang laptop itu, aku juga penasaran apa Edgar sudah tahu dia tidak akan bisa memanfaatkan Andy lagi. Sembari menunggu, aku sempat menelepon Lionel, dan dia memberitahuku bahwa Edgar memang memanfaatkan Andy untuk memecah belah geng mereka.

”Adik cewek Andy sekolah di SMA Soteria,” kata Lionel saat di telepon. ”Edgar ngancam Andy, kalau dia sampai nggak mau ngebantu Edgar, maka adiknya akan kena akibatnya. Jadi Andy terpaksa nurutin kemauan Edgar. Kebetulan Andy emang dekat dengan hampir semua anggota geng kami sehingga tahu rahasia-rahasia mereka, yang bisa digunakannya untuk memecah belah geng kami.”

”Troy pasti kecewa sama Andy,” gumamku.

”Jelas,” Lionel membenarkan. ”Troy berharap dari awal Andy bilang sama dia bahwa Edgar ngancam dia, tapi dia malah udah ketakutan duluan. Untungnya pas dikonfrontasi Troy akhirnya dia mau ngaku, dan janji nggak akan ngebantu Edgar lagi. Soal adiknya, Troy berhasil ngeyakinin dia bahwa Edgar cuma asal ngancam. Nggak mungkin Edgar benarbenar menyakiti adiknya. Tapi supaya dia lebih yakin, Troy akan nugasin preman kenalannya untuk bantu ngejagain adiknya. Meski cuma dari jauh, tapi lumayan, kan?”

Kini, masih sambil terus mengamati Edgar dan anggota gengnya, aku jadi tidak habis pikir. Mengingat bagaimana Edgar kehilangan kakaknya, rasanya agak keterlaluan kalau dia mengancam akan menyakiti adik orang lain—terlepas dari dia hanya asal mengancam.

Akhirnya, setelah lama kutunggu, anggota geng Edgar pergi juga. Aku pun segera menghampiri Edgar.

”Ternyata lo di sini,” cetusku, seolah aku baru saja menemukan Edgar. ”Gue udah nungguin lo di tempat parkir dari tadi.”

Edgar mendongak, dan cepat-cepat menutup laptop. ”Siapa suruh lo nungguin gue di tempat parkir?” tanggapnya.

Aku mendudukkan diriku di sebelahnya, tepat di tempat yang diduduki anggota gengnya sebelumnya. ”Lo ngapain aja sih di sini?”

”Mainin laptop,” kata Edgar sambil menunjuk laptopnya. ”Boleh gue pinjam laptop lo?” tanyaku tanpa tedeng aling-aling.

”Baterainya udah mau habis,” larang Edgar.

Jelas, aku tidak boleh meminjam laptop Edgar, dan itu membuatku semakin penasaran akan isi laptopnya. Pasti ada sesuatu yang tidak boleh orang lain lihat di sana.

”Daripada di sini, mending ke Kafe 99 aja yuk,” ajakku. ”Biar gue bisa sekalian traktir lo.”

”Gue nggak bisa,” tolak Edgar. ”Hari ini gue ada urusan, jadi harus buru-buru pulang.”

Aku mendesah kecewa. ”Sia-sia aja dong gue nungguin lo,” keluhku. ”Hampir satu jam lho gue nongkrong di tempat parkir.”

”Makanya lain kali lo telepon gue dulu sebelum datang,” saran Edgar. ”Lo kan ada nomor HP gue.”

”Gue kira gue cuma boleh nelepon lo kalau ada urusan penting,” kataku sok lugu.

”Anggap aja traktir gue juga termasuk urusan penting.” Memang penting sih, sebenarnya. Itu kan satu-satunya alasan yang bisa kuberikan pada Edgar untuk tetap men-

jalankan tugasku sebagai mata-mata Troy.

”Edgar!” Tiba-tiba anggota geng Edgar yang tadi kembali lagi. ”Cepat ke pintu gerbang. Hans lagi digebukin.”

Edgar langsung berdiri. ”Sama siapa?”

”Sama bapak-bapak kumisan yang pernah kita omongin itu lho,” kata anggota geng Edgar. ”Belakangan ini kan dia sering berkeliaran di sekitar sini.”

Apakah yang dimaksud anggota geng Edgar adalah pria berkumis lebat itu?

Edgar meletakkan laptop begitu saja ke pangkuanku. ”Lo tetap di sini,” katanya padaku, lalu segera berlari ke arah pintu gerbang bersama anggota gengnya.

Aku menatap laptop Edgar dengan berbinar-binar. Entah yang menggebuki si Hans pria berkumis lebat itu atau bukan, tapi yang jelas dia sudah memilih waktu yang tepat untuk melakukannya. Kebetulan sekali kan, Edgar jadi meninggalkan laptopnya bersamaku saat aku ingin memeriksanya?

Aku memang sangat beruntung. Setelah memastikan Edgar dan anggota gengnya sudah menghilang dari pandanganku, barulah dengan semangat ’45 aku membuka laptopnya, dan mendapati laptop itu ternyata... dikunci password.

Sial. Ternyata keberuntunganku hanya sampai di sini. Bagaimana aku bisa mengetahui password laptop Edgar selain dari orangnya sendiri? Padahal dia tidak mengizinkanku meminjam laptopnya.

Dengan asal-asalan namun tetap berharap, aku mengetikkan  nama  cowok  itu.  EDGAR.  Lalu  EDGARJULIAN. Keduanya gagal. Aku juga mencoba memasukkan nama sekolahnya:  SOTERIA.  Gagal  lagi.  Kesal,  aku  mencoba kata-kata acak, yang tentu saja tetap gagal.

Aaaaaahhh... apa password-nyaaaa???

Kusentak laptop Edgar hingga kembali menutup. Isi laptopnya yang ingin kuketahui berada begitu dekat, tapi juga begitu jauh, membuatku benar-benar gemas.

Edgar kembali dengan cepat. Dia sendirian, tidak bersama anggota gengnya. Untung saja aku sudah berhenti mengutak-atik laptopnya.

”Apa lo balas gebukin bapak-bapak kumisan itu?” tanyaku, berpura-pura penasaran.

Edgar menggeleng. ”Udah keburu kabur,” sahutnya. ”Tapi awas aja kalau besok-besok dia berani datang ke sini lagi.”

”Gue rasa dia nggak bakal berani.” ”Jelas, kecuali kalau dia mau mati.”

Aku mengernyit mendengarnya. Entah kenapa aku beranggapan Edgar tidak main-main dengan kata-katanya. Mungkin wajah juteknya membuatnya terlihat lebih serius.

”Gue harus pulang sekarang,” kata Edgar seraya mengambil laptop dari pangkuanku. Dan kalimat terakhirnya sebelum meninggalkanku duduk sendirian di sini adalah ”Lo diperkenankan melihat-lihat sekolah ini.”

Cara Edgar mengucapkan kata ”diperkenankan” seolaholah jika dia tidak memperkenankannya, maka ujung jempol kakiku pun tidak akan bisa melewati pintu gerbang sekolah ini.

Tidak berniat melihat-lihat sekolah ini, aku beranjak ke pelataran parkirnya. Aku sudah naik ke motor dan baru akan menyalakan mesinnya, ketika ponselku berbunyi. Aku mengambilnya dari saku rok dan melihat nama Ivy tertera di layarnya.

”Halo, Vy? Ada apa?”

”Soph,  undangan  dari  Natasha  buat  lo  udah  di  gue nih.”

Aku  mendengus  mendengar  nama  Natasha.  Padahal sejak pulang sekolah tadi aku berhasil tidak memikirkan Natasha, karena memikirkannya hanya membuat perasaanku tidak keruan.

”Terus kenapa?”

”Yeee... kok malah kenapa sih? Yah, gue mau kasih undangan ini ke lo nanti sore. Kita sekalian ke mal yuk, beli kado ultah buat Natasha.”

Aku berdecak. ”Ultahnya kan masih lama, ngapain beli kado dari sekarang?” protesku. ”Lagian nih ya, yang ultahnya lebih cepat kan gue, jadi seharusnya lo beli kado buat gue dulu.”

”Lha, terus yang kemarin ini lo milih-milih baju online

dan ujung-ujungnya nyuruh gue yang bayar, apa?” ”Emangnya itu buat kado ultah gue?” ”Ya iya lah. Kalau bukan buat kado ultah lo, mana mau gue bayarin lo? Mending gue beli baju buat gue sendiri.”

”Jiah, tahu begitu, gue pilih banyakan.”

”Lo mau bikin gue bangkrut, ya?” sungut Ivy. ”Jadi gimana, Soph? Mau pergi nggak, nih?”

”Naik motor gue?” tawarku.

”Boleh, kalau lo mau diomelin Austin lagi,” kata Ivy santai.

Oh iya, Austin pasti tidak akan mengizinkan Ivy pergi naik motor. Kurasa motor musuh terbesar kedua Austin setelah Troy.

”Terus dia mau nganterin kita, gitu?” tebakku. Kalau tidak mengizinkan Ivy pergi naik motor, setidaknya kan Austin harus mengantarkan kami.

”Berarti lo mau kita pangku-pangkuan?” balas Ivy.

Mulanya aku tidak mengerti maksud Ivy, tapi kemudian aku ingat Toyota 86 merah Austin hanya muat dua orang. Dan tidak, aku tidak ingin pangku-pangkuan dengan Ivy.

”Apa Troy bisa nganterin kita?” tanyaku penuh harap. ”Dia ada kencan,” sahut Ivy.

”Bukan sama Natasha, kan?” selidikku. Aneh, memang, tapi saat ini aku tidak keberatan Troy berkencan dengan cewek mana pun kecuali Natasha.

”Nggak tahu,” kata Ivy. ”Tapi kayaknya sih bukan.” ”Pulangnya deh gitu dia jemput,” usulku, belum mau

menyerah. ”Coba nanti gue minta sama dia,” kata Ivy. ”Perginya kita naik taksi aja, ya. Biar gue yang pesan taksinya, habis itu baru jemput ke rumah lo—mungkin sekitar jam tujuh.”

”Sip,” jawabku setuju.

Setelah mematikan telepon, aku menyalakan mesin motor dan mengarah pulang ke rumah—bersiap untuk acaraku bersama Ivy malam ini.

* * *

”Lo serius mau beliin Natasha tas semahal itu?” tanyaku pada Ivy ketika kami sedang memilih-milih tas di department store.

”Biarpun mahal, barangnya bagus,” kata Ivy. Dia tampak begitu mengagumi tas pink pucat yang sedang diamatinya.

”Janganlah, Vy,” larangku. ”Beliin dia yang palsu aja, dia juga nggak akan tahu.”

”Masa buat Natasha, gue beliin yang palsu?” tukas Ivy. ”Seenggaknya, jangan yang semahal itu lah,” larangku lagi. ”Buat beli tas itu, lo pasti kudu ngebobol tabungan,

kan? Ntar lo nggak bisa beli abum terbaru SHINee lho.” ”Album terbaru SHINee bisa gue beli kapan-kapan,” kata

Ivy.

Meski mulutku sampai berbusa-busa melarangnya, Ivy tetap saja membeli tas itu. Dia bahkan tampak sangat senang karena berhasil mendapatkan kado ulang tahun yang bagus untuk Natasha, tidak peduli besarnya jumlah uang yang baru saja dikeluarkannya.

”Lo sendiri mau beliin Natasha kado apa, Soph?” tanya Ivy.

”Emang gue kudu beliin dia kado juga?” aku balik bertanya.

Ivy langsung melotot mendengar pertanyaanku. ”Dia kan ngundang lo ke pesta ultahnya, jadi jelas lo kudu beliin dia kado,” tandasnya.

Aku mengerang. ”Gue lagi bokek nih,” keluhku. ”Jangan banyak alasan,” kecam Ivy. ”Sebokek-bokeknya

lo, pasti lo tetap ada duit meski cuma sedikit. Lo kan nggak perlu beliin kado yang mahal-mahal kayak gue.”

”Siapa juga yang mau beliin kado mahal-mahal?”

Sebenarnya aku memang hanya tidak ingin mengeluarkan barang sepeser pun untuk Natasha. Tapi melihat Ivy begitu memaksaku agar membelikan kado untuk calon adik iparnya, sepertinya uangku akan melayang juga.

”Gue beliin dia boneka aja deh,” putusku akhirnya.

Kami pun menuju bagian mainan anak-anak. Di sana terdapat beraneka ragam boneka. Tadinya aku ingin memilih boneka standar saja, seperti boneka beruang, tapi boneka yang berada di rak paling bawah membuat niat jailku kumat.

”Ini  boneka  yang  paling  pas  buat  Natasha,”  kataku sembari menunjukkan boneka itu pada Ivy. ”Gue jamin dia pasti suka.”

Ivy sampai tercengang melihat boneka itu. ”Boneka ular?” tuntutnya tidak percaya.

”Kan lucu,” kataku membela diri.

”Nggak ada yang lucu dari boneka ular,” sentak Ivy. ”Di sini kan banyak boneka yang bisa lo pilih. Kenapa mesti ular sih?”

”Soalnya, selain untuk dimainin dan dipeluk-peluk—” ”Apa enaknya meluk boneka ular?”

”—boneka ular juga punya kegunaan lain,” kataku, tanpa memedulikan pertanyaan sinis Ivy. Aku mengaitkan boneka ular itu ke sekeliling leherku. ”Lihat, bisa jadi syal juga.”

Ivy menatapku seolah aku sudah gila. ”Terserah lo deh,” katanya akhirnya, putus asa dengan pilihanku.

Setelah membayar boneka ular, kami pun keluar dari department store. Kami sempat makan di food court, lalu SMS masuk di ponsel Ivy. Dari Troy, memberitahu kami bahwa ia akan menjemput kami setengah jam lagi di selasar mal.

”Omong-omong,  Troy  kasih  Natasha  kado  apa,  Vy?” tanyaku penasaran pada Ivy dalam perjalanan menuju selasar.

Ivy mengangkat bahu. ”Troy nggak bilang,” katanya.

Aku menghela napas. ”Lo tahu, sebenarnya gue sedih banget,” gumamku. ”Troy akan hadir di pesta ultah Natasha. Sedangkan gue, udah nggak ngadain pesta, Troy juga nggak akan hadir pada hari ultah gue. Padahal gue ingin banget ngabisin hari ultah gue seharian bareng Troy.”

”Dan kenapa lo nggak ngejadiin itu kenyataan?” Aku berpaling pada Ivy dengan cepat. ”Maksud lo?”

”Kalau lo emang mau Troy hadir saat hari ultah lo, kenapa lo nggak minta aja sama dia?” Ivy memperjelas pertanyaannya.

”Emang dia akan mau?”

”Nggak ada salahnya dicoba dulu, kan? Ajak aja dia ngedate. Gue rasa dia nggak akan nolak, secara itu hari ultah lo.”

Semangatku langsung meledak-ledak. ”Lo benar,” kataku. ”Gue akan coba ajak dia nanti.”

Di selasar terdapat beberapa bangku panjang, dan kami duduk di salah satunya. Aku sedang meminta saran Ivy terkait cara aku mengajak Troy berkencan, ketika tiba-tiba ada dua cowok duduk di sebelah kiri dan kanan kami.

”Hai, Cewek,” sapa cowok yang duduk di sebelahku. ”Boleh kenalan, nggak?”

Aku dan Ivy langsung berpandangan dengan tatapan terganggu. Meski sebelumnya kami sudah sering diajak berkenalan oleh cowok-cowok yang tidak jelas, bukan berarti kami senang karena dianggap menarik oleh mereka.

”Nggak boleh!” tanggapku galak. Bukannya malu, cowok itu malah tertawa mengikik bak kuda meringkik. ”Widih, galak amat sih kamu,” komentarnya. ”Tapi nggak apa-apa, saya suka sama cewek galak.”

Aku hanya mengernyit jijik mendengarnya.

”Tahu nggak, kalian mirip banget lho sama personel Girls’ Generation,” puji cowok yang duduk di sebelah Ivy, mulai merapalkan jampi-jampinya.

”Nama kalian siapa sih? Jangan bilang YoonA ya.” Cowok yang duduk di sebelahku berkelakar, lalu kembali mengeluarkan tawa mengikik bak kuda meringkiknya itu.

Daripada menanggapi mereka, Ivy lebih memilih untuk berdiri, dan aku kompak mengikutinya. Tapi cowok-cowok itu tidak menyerah, tetap mengganggu kami.

”Ayo dong, kasih tahu kami nama kalian,” pinta cowok yang tadi duduk di sebelahku.

Cowok yang tadi duduk di sebelah Ivy, yang tampaknya benar-benar tertarik pada Ivy, kini berdiri sangat dekat dengan sahabatku. Ivy sampai harus mundur dengan tidak nyaman.

”Kalau nggak nama, nomor HP juga boleh,” timpal cowok itu. Dan kepada Ivy, dia bertanya, ”Berapa nomor HP-mu, Cantik?”

Mendadak,  ada  seseorang  yang  menarik  lengan  Ivy, memosisikan dirinya di antara Ivy dan cowok itu—seseorang yang dengan lega kusadari ternyata Troy. Tatapan marah Troy yang diarahkan pada cowok itu, juga pada cowok yang tadi duduk di sebelahku, kupikir sanggup membakar mereka hingga menjadi debu.

”Ada urusan apa kalian berdua sama adik gue?” geram Troy.

Kedua cowok itu langsung menciut begitu melihat Troy, apalagi mereka dapat merasakan hawa pembunuh yang memancar dari tubuh Troy, yang dengan tinggi 183 senti terlihat begitu menjulang di depan mereka. Tahu nyawa mereka terancam, mereka hanya menanggapi Troy dengan bergumam pelan dan setelah itu buru-buru ngibrit. Troy akan mengejar mereka, tapi Ivy menahannya.

”Udah,” kata Ivy. ”Biarin aja.”

Troy menatap Ivy lekat-lekat. ”Apa mereka ngapa-ngapain lo?” selidiknya. ”Bilang sama gue, gue masih bisa kejar mereka.”

”Nggak kok,” kata Ivy menenangkan. ”Mereka cuma mau ngajak kenalan.”

Kata-kata itu jelas tidak mampu menenangkan Troy. ”Berani banget mereka ngajak lo kenalan!” raungnya. ”Nggak bisa dibiarkan. Orang-orang kayak mereka emang harus dihajar.” Dia berusaha melepaskan dirinya dari Ivy. Meski harus bersusah payah, Ivy tetap bergeming menahan tubuh kakaknya kuat-kuat.

Melihat Ivy mulai kewalahan menahan Troy, aku pun langsung angkat bicara. ”Tapi mereka gagal kok, Troy,” timbrungku. ”Ivy sama sekali nggak nanggepin mereka.” Seolah baru sadar aku juga ada di sini, Troy menoleh padaku. ”Mereka juga nggak ngapa-ngapain lo, kan?”

Meskipun sedikit terlambat, aku senang karena Troy juga mengkhawatirkanku. Aku malah jadi penasaran, kalau sampai aku memang diapa-apakan kedua cowok itu, apakah dia akan mengejar mereka dan menghajar mereka hingga bulu kaki mereka rontok semua?

”Mereka mah takut buat ngapa-ngapain gue,” bualku. ”Habis sebelumnya udah gue galakin mereka.”

Senyum yang muncul setelahnya di wajah Troy seolah menandakan dia setuju aku bersikap galak pada kedua cowok itu. Akhirnya dia tidak perlu lagi ditahan Ivy, dan justru mengajak kami ke mobil.

Pintu pengemudi mobil Troy dalam keadaan terbuka. Mungkin begitu sampai di depan selasar tadi dan melihat ada dua cowok yang menggangguku dan Ivy, dia langsung melompat turun dari mobil tanpa sempat menutup pintunya.

Ivy duduk di sebelah Troy, sedangkan aku di belakang Ivy. Begitu mobil berjalan, Ivy mengeluarkan tas yang tadi dibelinya untuk Natasha dari kantong kertas dan menunjukkannya pada Troy.

”Bagus nggak, Troy?” tanya Ivy meminta pendapat Troy.

Troy hanya melirik sekilas dan mengangkat bahu. ”Gue nggak ngerti soal gitu-gituan.” ”Tapi kira-kira Natasha bakalan suka, nggak?” kejar Ivy. ”Mungkin,” kata Troy singkat.

”Semoga aja dia suka,” harap Ivy sembari memasukkan kembali tas itu ke kantong kertas. ”Seenggaknya kan kado gue jauh lebih baik daripada kado Sophie. Tahu nggak, Troy, Sophie beliin apa buat Natasha?” Dan sebelum aku sempat membungkam mulutnya, dia sudah keburu melanjutkan, ”Boneka ular!”

Aku langsung mencubit pinggang Ivy, karena berani-beraninya membongkar isi kado yang kubeli untuk Natasha pada Troy. Ivy mengaduh dan berusaha membalasku, tapi aku berhasil mengelak.

”Natasha kan paling takut sama ular,” komentar Troy.

Di luar ketidaksukaanku karena Troy tahu apa yang paling  ditakuti  Natasha,  aku  mendesah  kecewa. ”Yaaaahhhh... berarti gue mesti beliin dia kado lain dong.” Niatku membeli boneka ular kan untuk menjaili Natasha, dan bukan untuk menakutinya.

”Syukurin!” cetus Ivy. ”Kan udah gue bilang jangan boneka ular. Lonya aja yang ngeyel.”

Aku cemberut. Dasar Ivy, sama sekali tidak bersimpati padaku yang harus mengeluarkan uang lagi. Kukeluarkan boneka ular itu dari kantong kertas dan kulemparkan pada Ivy.

”Buat lo aja deh bonekanya,” kataku. Tidak sampai sedetik, boneka ular itu sudah kembali padaku. Jelas Ivy tidak menginginkannya.

”Ogah!” tolak Ivy mentah-mentah.

Sia-sia saja deh kubeli boneka ular itu. Seharusnya tadi aku membeli boneka beruang saja. Tidak mungkin kan Natasha takut pada beruang juga?

Aku menyampirkan boneka ular itu di tengkukku. Kupegang bagian kepala dan ekornya dengan kedua tanganku, lalu kutarik bergantian, sehingga boneka itu menggosokgosok tengkukku. Sembari melakukannya, aku pun memikirkan hal lain yang jauh lebih penting daripada sekadar kado ulang tahun Natasha—tempat yang tepat untuk kencanku dengan Troy kalau dia menerima ajakanku. Entah sudah berapa lama aku berpikir, tapi tahu-tahu saja mobil Troy sudah berhenti di depan rumahku.

Aku turun, dan Troy pun ikut turun, sementara Ivy tetap di dalam mobil. Jantungku berdebar begitu keras mengingat setelah ini aku akan mengajak Troy berkencan.

Wajah Troy mengernyit heran melihatku saat kami berdiri di depan pintu pagar rumahku. Mulanya kupikir itu karena aku tidak juga membuka pintu pagar, tapi setelah kuperhatikan lagi, ternyata tatapannya jatuh pada boneka ular yang tanpa sadar masih kusampirkan di tengkukku.

Merasa malu, aku hanya cengar-cengir sembari melepaskan boneka ular itu dari tengkukku. Ketika aku ingin memasukkannya kembali ke kantong kertas, aku baru sadar kantong kertas itu tertinggal di mobil Troy. Biarkan sajalah kantong kertas itu di sana. Siapa tahu Troy ingin memakainya.

Dengan boneka ular itu di tanganku, aku berusaha mengumpulkan keberanian. ”Mmm... Troy,” panggilku. Sial, kenapa suaraku bergetar begini? ”Mungkin lo nggak tahu, Minggu ini gue ultah.”

”Gue tahu kok,” kata Troy.

Troy tahu? Jadi selama ini dia ingat ulang tahunku? Iya juga sih, pada ulang tahunku yang lalu-lalu, dia selalu mengucapkan selamat padaku.

”Ivy yang ngasih tahu,” lanjut Troy.

Harapanku langsung pupus. Ternyata Ivy yang memberitahu Troy. Aku sudah ke-GR-an saja.

”Rencananya gue mau ke Dufan,” kataku. Aku memang sudah memutuskan untuk ke Dunia Fantasi saja, karena itu salah satu tempat favoritku. ”Apa lo mau nemenin gue ke sana?”

Troy tampak agak terkejut dengan ajakanku. Dia tidak langsung menjawab, dan itu membuatku langsung berkeringat dingin. Rasanya aku tidak pernah merasa setegang ini seumur hidup. Ini jauh lebih tegang daripada saat aku berebutan bakwan yang tinggal satu-satunya di kantin sekolah dengan kakak kelasku.

”Oke,” jawab Troy akhirnya, melegakan hingga ke sumsum tulangku. ”Nanti detailnya kita bicarain lebih lanjut aja, ya.”

Aku mengangguk dengan penuh semangat. Begitu Troy membalikkan badan menuju mobilnya, aku langsung mengacungkan jempol ke arah Ivy. Meski tidak bisa melihat Ivy karena gelapnya kaca mobil, aku tahu dia pasti bisa melihatku.

Setelah mobil Troy menghilang dari pandanganku, aku mengangkat boneka ular yang ada di tanganku dan menghadapkan kepalanya ke arahku.

”Ular, lo pasti ngiri deh sama gue,” kataku pada boneka ular itu. ”Gue bakal nge-date sama Troy.” Lalu, merasa kegirangan sendiri dengan kata-kataku, aku langsung meloncat-loncat untuk melampiaskannya.

Masa bodo deh dengan apa kata tetanggaku, kalau mereka sampai melihatku. Bukan mereka yang akan berkencan dengan Troy, jadi mereka tidak akan mengerti kenapa aku bisa sampai segirang ini.

* * *

Tekadku, sebelum kencanku dengan Troy, aku sudah harus berhasil membuka laptop Edgar. Maka itu, ketika aku datang ke SMA Soteria dan lagi-lagi mendapati Edgar duduk di pinggir lapangan, aku langsung menghampirinya dan dengan blakblakan menanyakan soal password. ”Teman gue nyimpan foto memalukan gue di HP-nya,” karangku. ”Gue ingin menghapusnya diam-diam, tapi ternyata HP-nya dikunci password. Kira-kira apa ya password yang digunakannya, supaya gue bisa membuka HP-nya?”

”Emangnya foto memalukan lo yang kayak gimana yang disimpannya?” tanya Edgar, benar-benar salah fokus.

Aku berpikir-pikir sejenak. ”Mmm... foto gue lagi tidur,” putusku akhirnya.

”Kalau sampai lo menganggapnya memalukan, berarti lo pasti mangap pas tidur,” tebak Edgar.

Sialan Edgar. Tidurku kan imut seperti bayi.

”Gue nggak mangap pas tidur!” sentakku. ”Dan jangan omongin foto itu lagi! Yang mau gue tahu password-nya. Kalau lo nih, misalnya, apa yang akan lo gunakan sebagai password? Apa kombinasi angka?”

”Kalau nggak diharuskan pakai angka, gue nggak akan pakai angka.”

Oke,  jadi  angka  bisa  disisihkan  dari  kemungkinan password Edgar. Aku akan mencoba memancingnya lagi, dan semoga dia tidak sadar.

”Jadi apa dong? Kata-kata acak?”

”Gue bisa lupa kalau pakai kata-kata acak.”

Tanpa angka dan kata-kata acak, seharusnya bisa lebih mudah menebak password-nya. Tapi tetap saja masih ada sejuta kemungkinan lainnya.

”Daripada kata-kata acak,” lanjut Edgar, ”mendingan pakai sesuatu yang akan selalu lo ingat, dan nggak akan pernah lupakan.”

Ya, ya, aku setuju. Aku saja menggunakan TROYSOPHIE sebagai password-ku. Perpaduan nama Troy dan namaku adalah sesuatu yang sangat indah. Jadi aku akan selalu mengingatnya. Tidak akan pernah melupakannya.

Tapi mungkin, bagi orang-orang yang tahu betapa tergilagilanya aku pada Troy, akan bisa menebak password-ku ada hubungannya dengan Troy. Serbasalah juga sih, jadinya.

Aku baru akan menanggapi Edgar, tapi urung melakukannya begitu melihat wajahnya mendadak berubah sendu. Lho, apa itu hanya karena kami membicarakan password?

Lalu aku pun sadar, dengan kata-katanya tadi, Edgar mungkin sedang membicarakan password-nya. Apa kiranya sesuatu yang akan selalu diingatnya, dan tidak akan pernah dilupakannya, yang bisa membuatnya mendadak berubah sendu begitu?

Jawabannya, tentu saja kakak Edgar yang sudah meninggal itu. Aku yakin sekali dia menggunakan nama kakaknya sebagai password-nya. Tapi untuk lebih memastikannya, aku harus mencobanya langsung pada laptopnya.

Sayangnya,  Edgar  tidak  membawa  laptop.  Sebelum pulang, aku sempat mengintip ke dalam mobilnya, dan melihat laptopnya tergeletak begitu saja di jok belakang. Aku berdecak. Itu kan tidak aman, bisa memancing pencuri. Contohnya ya aku. Bukan, bukan aku mau mencuri laptop Edgar. Aku hanya ingin meminjamnya sebentar.

Keesokan harinya, Edgar tetap tidak membawa laptopnya, dan laptop itu tetap berada di jok belakang mobilnya. Jadi keesokan harinya lagi, dengan nekat aku datang diantar Jason. Rencananya aku akan meminta Edgar mengantarku pulang, dan di tengah jalan nanti, aku akan berpura-pura sakit. Begitu dia turun untuk membelikanku obat, aku akan mencoba membuka laptopnya.

Sekarang harapanku hanyalah, semoga Edgar mau mengantarku pulang, dan semoga dia tidak memindahkan laptopnya dari jok belakang mobilnya. Kalau tidak, kan bisabisa aku harus pulang naik ojek. Aku lupa, seharusnya aku meminta Jason menunggu sampai aku benar-benar diantar pulang Edgar.

Aku masuk ke bangunan sekolah, dan kebetulan melihat Edgar berjalan di koridor. Dia baru akan menaiki tangga menuju lantai dua ketika aku memanggilnya.

”Gue masih ada urusan di atas,” kata Edgar begitu aku tiba di dekatnya.

”Nggak apa-apa. Lo urus aja urusan lo itu,” kataku. ”Tapi habis itu apa lo mau ngantar gue pulang?”

Wajah Edgar seolah aku baru bertanya padanya apakah dia mau jika rambutnya kucukur hingga botak. ”Emangnya tadi lo naik apa ke sini?” ”Naik ojek, soalnya motor gue lagi di bengkel,” dustaku.

”Lo tetap bela-belain ke sini meskipun harus naik ojek?” tanya Edgar tidak percaya.

”Soalnya gue mau ketemu lo,” sahutku, berusaha merebut hati Edgar.

”Terus kenapa lo nggak pulang naik ojek juga?” kejar Edgar.

”Gue kan berharap lo mau ngantar gue pulang,” kataku. ”Lo mau, kan? Sekali ini aja.”

Edgar menimbang-nimbang sejenak, kemudian berkata, ”Oke.”

Meskipun itu memang harapanku, tetap saja aku terkejut karena Edgar benar-benar mau mengantarku pulang. Dan ketika dia sudah menaiki beberapa anak tangga, mendadak aku memiliki rencana lain.

”Tunggu!” seruku, membuat Edgar berhenti di tengahtengah tangga dan menoleh ke bawah. ”Apa gue boleh nunggu di mobil lo? Habis cuacanya lagi panas banget.” Aku berpura-pura mengipas-ngipas dengan tanganku.

”Biasanya kan lo nggak pernah masalah meskipun cuacanya panas.”

”Tapi nggak pernah sepanas ini.”

Edgar menyipitkan matanya dengan curiga. ”Janganjangan lo mau bawa kabur mobil gue,” tuduhnya. Aku mendengus. ”Gue bahkan nggak bisa nyetir mobil,” tukasku. ”Gue cuma bisa nyalain mesinnya.”

”Gue kan nggak tahu itu benar atau nggak,” kata Edgar. ”Dan lagi pula, siapa tahu lo punya komplotan.”

Komplotan apa pula?

”Udah deh. Lo mah ngaco aja,” sungutku. ”Mobil lo bakal aman sama gue. Makanya, siniin kuncinya.”

Akhirnya Edgar mau juga memberikan kunci mobilnya, meskipun dengan cara melemparnya padaku, membuatku nyaris nyungsep saat berusaha menangkapnya.

”Satpam di tempat parkir nggak akan ngizinin mobil gue ke luar dari tempat parkir kalau bukan gue yang bawa,” kata Edgar, masih saja mencurigaiku. ”Jadi lo ingat-ingat aja hal itu kalau tetap mau nyoba bawa kabur mobil gue.” Setelah itu dia kembali melanjutkan langkahnya menaiki tangga.

Aku menjulurkan lidah pada punggung Edgar. Kesal sekali dicurigainya. Tapi di luar kecurigaannya itu, sepertinya dia sudah mulai sedikit memercayaiku. Kunci mobil itu buktinya.

Aku setengah berlari ke pelataran parkir sekolah. Kutuju mobil Edgar, dan kubuka pintu penumpang belakangnya. Betapa senangnya diriku melihat laptop Edgar, mungkin sama senangnya seperti melihat tumpukan uang. Aku mengangkat laptop itu, mendudukkan diriku di jok, lalu meletakkan laptop itu di pangkuanku. Aku menyalakan laptop, dan ketika tiba saatnya untuk memasukkan password, aku sampai berdoa supaya berhasil.

Oke, aku akan mengetikkan nama kakak Edgar. Eh, siapa ya nama kakaknya? Tidak lucu kalau aku sampai lupa. Aku terus memutar otakku, sampai nama Roger terlintas dengan sendirinya.

Ah iya, nama kakak Edgar adalah Roger. Jadi aku pun memasukkan nama itu. ROGER.

Gagal.

Aku sampai terbelalak. Tidak mungkin! Tidak mungkin nama kakak Edgar gagal! Aku sampai mencobanya sekali lagi, menyangka mungkin tadi aku salah ketik huruf, tapi tetap saja gagal.

Padahal aku sudah begitu yakin...

Aku menyandar ke jok, benar-benar lemas. Seharusnya Edgar menggunakan nama kakaknya. Habis kalau bukan itu, apa lagi password-nya?

Selama beberapa saat, aku hanya memandangi layar laptop. Seandainya aku tahu lebih banyak tentang Edgar, pasti ada alternatif password yang bisa kumasukkan. Apa aku memang tidak akan pernah bisa membuka laptop ini?

Tapi tidak, aku tidak boleh menyerah. Siapa tahu di dalam laptop ini ada sesuatu yang bisa menyakiti Troy. Aku akan menyesal kalau membiarkannya begitu saja. Biar kupikirkan kemungkinan lain yang berhubungan dengan nama kakak Edgar.

Mungkin kakak Edgar memiliki nama panggilan lain. Atau mungkin juga aku harus memasukkan nama belakang kakaknya.

Dudukku tiba-tiba menjadi tegak kembali. Nah, itu dia! Aku tidak memasukkan nama belakang kakaknya, dan mungkin itu sebabnya aku gagal. Tapi aku tidak tahu nama belakang kakaknya. Apa mungkin sama dengan Edgar? Akan kucoba dulu. Kalau ternyata berbeda, aku tinggal menanyakannya pada Edgar dan menjalankan rencanaku yang semula.

Jadi aku pun memasukkan nama kakak Edgar dan nama belakang Edgar. ROGERJULIAN.

Berhasil!

Aku sampai harus menekap mulut dengan tanganku untuk mencegah diriku menjerit-jerit kegirangan.

Dengan semangat menggebu-gebu, aku meneliti laptop itu. Edgar menggunakan gambar langit malam sebagai wallpaper laptopnya. Tadinya kupikir aku harus lama mencari-cari, tapi ternyata di desktop ada folder mencurigakan yang berjudul ”BUKTI”. Aku membukanya dan isinya membuatku mengerutkan kening dengan heran.

Ada sembilan foto di sana, dan kesemuanya merupakan foto Troy. Sebenarnya foto-foto itu agak buram karena diambil pada malam hari, dan sepertinya secara diam-diam, tapi jelas itu Troy. Tiga foto menunjukkan Troy sedang berjalan di luar bangunan, tiga foto lagi menunjukkan Troy sedang berdiri di depan pintu gerbang bangunan itu, dan tiga foto sisanya menunjukkan Troy sedang memanjat pintu gerbang itu.

Bangunan apa ya itu? Sepertinya terlihat familier. Apa aku pernah ke sana? Oh, jelas aku pernah ke sana! Itu kan SMA Vilmaris. Dulu aku pernah beberapa kali iseng-iseng melewati  SMA  Vilmaris,  berharap  bisa  bertemu  Troy, meskipun hasilnya selalu nihil.

Apa yang dilakukan Troy malam-malam begitu di SMA Vilmaris? Dan kenapa Edgar bisa memiliki foto-foto ini?

Mungkin Lionel tahu jawabannya, dan sementara itu aku harus memutuskan apakah aku harus menghapus foto-foto ini atau tidak. Kalau kuhapus, takutnya Edgar menyadari laptopnya pernah diutak-atik. Tapi kalau tidak kuhapus, takutnya akan menimbulkan masalah bagi Troy. Jadi harus kuhapus atau tidak?

Belum sempat aku memutuskan, secara tidak sengaja aku menoleh ke depan kaca mobil dan melihat Edgar berjalan ke arah mobil. Tak terkira paniknya diriku. Aku buru-buru mematikan laptop dan menutupnya, lalu meletakkannya di jok—tepat ketika Edgar tiba di sebelahku, menatapku melalui pintu mobil yang terbuka.

”Kenapa lo nggak nyalain mesinnya?” tanya Edgar. ”Tadi bukannya lo bilang lo bisa?” Kutenangkan diriku dulu sebelum menjawab, ”Ternyata gue nggak bisa.”

Bukannya tidak bisa sih, tapi tidak sempat melakukannya. Aku sudah begitu tidak sabar untuk membuka laptop Edgar.

Edgar mendengus. ”Cepat pindah ke depan!” perintahnya. ”Gue nggak mau kelihatan kayak sopir lo. Kalau lo tetap di belakang, gue bakal nyuruh lo pulang naik ojek.”

Aku buru-buru menuruti Edgar. Setelah aku pindah ke jok penumpang depan dan Edgar sudah duduk di jok pengemudi, dia pun menyalakan mesin mobil.

”Lo nggak tahu betapa leganya gue ketika gue sampai di tempat parkir dan ngelihat mobil gue masih ada di sini,” kata Edgar sembari mengemudikan mobil ke luar pelataran parkir.

Aku hanya melirik sinis pada Edgar, lalu kembali memikirkan foto-foto tadi. Tanganku sudah gatal ingin menelepon Lionel, tapi tentu saja aku tidak bisa melakukannya dengan kehadiran Edgar di sebelahku. Aku sama sekali tidak berbicara kepadanya sepanjang perjalanan, kecuali untuk menunjukkan arah ke rumahku.

Akhirnya, setelah tiga kali dibentak Edgar karena membuatnya berbelok secara mendadak, kami sampai juga di rumahku.

”Makasih ya udah mau nganterin gue pulang,” kataku. ”Semoga ini akan jadi yang pertama dan terakhir kalinya,” balas Edgar.

Ya, kuharap juga begitu. Baru saja aku turun dan menutup pintu mobil, cowok itu sudah melaju pergi—seolah berlama-lama di depan rumahku akan membuat mobilnya karatan.

Setelah mobil Edgar menghilang dari pandangan, aku segera melakukan hal yang sudah sedari tadi ingin kulakukan—menelepon Lionel. Kuceritakan padanya semua mengenai foto-foto tadi. Di luar dugaanku, Lionel terdengar sangat terkejut.

”Serius Edgar punya foto-foto Troy yang lagi ngebobol sekolah kami?” tuntut Lionel tidak percaya.

”Iya,” kataku. ”Emangnya untuk apa sih Troy ngebobol sekolah kalian?”

”Untuk nyelametin salah satu anggota geng kami,” jelas Lionel. ”Lo tahu geng Cebol?”

”Geng Cebol?” ulangku. Aku langsung membayangkan geng yang isinya orang-orang cebol semua. ”Apaan tuh? Kok namanya aneh begitu?”

”Meskipun namanya aneh begitu,” kata Lionel, ”geng Cebol salah satu geng preman kuat. Beberapa hari lalu, Troy dapat surat dari mereka, yang isinya memberitahunya bahwa mereka menahan salah satu anggota geng kami di sekolah kami. Saat itu udah malam, dan sekolah juga udah kosong, jadi Troy terpaksa manjat pintu gerbang untuk masuk. Memang ada anggota geng kami di sana, udah dibikin pingsan. Troy berhasil membawanya ke luar. Nah, masalahnya, keesokan harinya kami baru tahu ada beberapa perangkat sekolah yang hilang—komputer dan sebagainya. Jelas yang mencurinya geng Cebol, tapi sayangnya, nggak ada bukti. Kalau sampai foto-foto itu tersebar, maka—”

”Troy yang akan disangka mencurinya,” sambungku ngeri. ”Pasti Edgar yang nyuruh mereka. Tapi kenapa mereka mau?”

”Biasanya mereka meminta bayaran,” kata Lionel. ”Lagi pula, tanpa dibayar pun mereka masih bisa mendapat duit dari hasil curian mereka.”

Aku merasa ada yang ganjil. ”Kenapa Edgar nggak menyebarkan foto-foto itu, padahal udah memilikinya sejak beberapa hari lalu?”

”Gue rasa dia akan menggunakannya sebagai senjata terakhir,” tebak Lionel. ”Jadi meski rencananya untuk menghancurkan geng kami berhasil atau nggak, Troy tetap akan dikeluarkan dari sekolah.”

”Tahu begitu tadinya gue hapus aja dong foto-foto itu,” kataku penuh sesal.

”Percuma,” sergah Lionel. ”Siapa tahu dia juga menyimpan foto-foto itu di tempat lain.”

Aku mendesah. ”Iya juga sih,” gumamku. ”Tapi kita kan nggak bisa diam aja dan membiarkan Edgar menyebarkan foto-foto itu.” ”Nggak  banyak  yang  bisa  kita  lakukan,  Soph,  sebab kendali atas foto-foto itu sepenuhnya ada di tangan Edgar,” kata Lionel. ”Foto-foto itu kan dia yang simpan.”

”Berarti sekarang kita cuma bisa berharap agar Edgar nggak menyebarkan foto-foto itu?”

”Sayangnya begitu.”

Ini benar-benar gawat. Mana mungkin Edgar tidak menyebarkan foto-foto itu? Tapi semoga saja dia mau berbaik hati, dan tidak membuat Troy dikeluarkan dari sekolah. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊