menu

Bad Boys #2 Troy's Spy Bab 08

Mode Malam
Bab 08

TANPA bisa kucegah, pekikan kaget keluar dari mulutku. Aku tidak menyangka Edgar berdiri di belakangku. Kupikir dia sudah pergi. Tadi aku memang tidak begitu memperhatikan ke mana dia pergi, sebab perhatianku terfokus pada anak Vilmaris itu. Sama sekali tidak terlintas dalam pikiranku bahwa Edgar akan kembali dalam waktu singkat. Apa dia sempat melihatku berbicara pada cowok itu? Kalau memang ya, kuharap dia tidak curiga.

Kekagetan membuat tubuhku limbung ke belakang. Kalau Edgar tidak buru-buru menangkapku, pasti aku sudah jatuh ke tanah. Tapi karena Edgar menyentakkanku dengan begitu keras ke arahnya, aku justru jatuh ke pelukannya.

Ini memang bukan pertama kalinya terjadi. Pertama kali bertemu Edgar, aku juga nyaris jatuh, dan Edgar juga menolongku. Tapi saat itu tangannya hanya sekadar melingkar di punggungku, bukan memelukku seperti ini.

Aku tahu seharusnya aku melepaskan pelukan Edgar. Tapi lagi-lagi, karena kekagetanku, aku jadi tidak bisa bereaksi cepat. Aku malah hanya diam dan memandangi wajahnya yang berada begitu dekat dengan wajahku sementara dia juga balas memandangiku dengan begitu... intens.

Salahkan saja Edgar. Dia kan tahu aku sedang kaget, jadi seharusnya dia yang melepaskan pelukannya. Tapi ketika kesadarannya mendadak pulih dan dia melepaskan, aku yang tidak siap. Kehilangan peganganku padanya membuatku kali ini benar-benar jatuh ke tanah. Sikuku langsung terasa perih, dan ketika aku memeriksanya... ternyata berdarah—mungkin karena tergores batu.

”Kenapa lo bisa ada di sini?” tanya Edgar padaku, tanpa ada niat sama sekali untuk membantuku berdiri. Dia juga tidak benar-benar menatapku. Mungkin dia malu karena tadi memelukku. ”Apa lo nguntit gue?”

”Nggak,” dustaku. ”Gue cuma kebetulan lewat.”

Aku kembali memeriksa luka di sikuku. Sepertinya tanpa sadar aku mengaduh, sehingga Edgar berjongkok di sebelahku dan ikut memeriksanya.

”Sebentar,” kata Edgar. Dia kembali berdiri, lalu setengah berlari menuju apotek di seberang jalan. Ketika kembali, dia membawa Betadine dan plester. Dengan hati-hati, dia meneteskan Betadine dan memasangkan plester ke sikuku.

”Thanks,” kataku kikuk.

”No problem,” balas Edgar. Dia duduk di sebelahku, sehingga kami sama-sama duduk di bawah pohon tempatku mengintip tadi. ”Jadi, kenapa lo bisa kebetulan lewat sini? Emangnya lo mau ke mana?”

”Ke rumah teman gue,” dustaku lagi. ”Rumahnya emang ada di dekat sini.”

”Apa teman lo anak SMA Vilmaris?”

Aku langsung panik. Kenapa Edgar membawa-bawa SMA Vilmaris? Tapi Edgar menyalahartikan kepanikanku sebagai kebingungan, sehingga menjelaskan pertanyaannya.

”Ini kan wilayah SMA Vilmaris,” jelas Edgar. ”Jadi kalau rumah teman lo emang ada di dekat sini, mungkin dia anak SMA Vilmaris.”

”Oh,” kataku, lega karena Edgar tidak mengaitkannya dengan Troy. ”Nggak kok. Dia udah kuliah.”

Entah siapa teman yang sudah kuliah yang kumaksud itu. ”Gue juga udah lama penasaran,” kata Edgar. ”Urusan apa sih yang membawa lo ke SMA Soteria?”

Kenapa Edgar harus menanyakan itu? Apa dia mulai menyelidikiku? Tentu aku tidak bisa bilang padanya bahwa urusan yang membawaku ke SMA Soteria berhubungan dengan dirinya.

”Adik gue sih yang sebenarnya ada urusan.” Oke, itu kan memang benar. ”Dia mau sekolah di SMA Soteria.”

”Adik lo cowok atau cewek?”

”Cowok,” sahutku. Dan ketika teringat Jason berharap aku bersikap hormat pada Edgar, sekalian saja aku menyampaikan keinginannya pada ketua geng SMA Soteria ini. ”Dia bilang dia mau jadi anggota geng di SMA Soteria.”

Edgar tampak tertarik. ”Oh, ya?”

”Iya,” anggukku. ”Tapi menurut gue, dia nggak cocok jadi anggota geng. Habis selain dia emang nggak jago berantem, fisiknya juga nggak mendukung.” Maaf-maaf saja pada Jason, aku kan cuma berkata jujur.

”Terkadang bukan cuma kemampuan yang penting, tapi juga semangat,” kata Edgar. ”Kalau adik lo emang semangat mau melindungi SMA Soteria, kenapa nggak?”

”Ah, kayaknya nggak sampai sekeren itu deh tujuannya,” tukasku. ”Dia mah paling mau keren-kerenan aja.”

”Lo sama adik lo sebenarnya akur nggak sih?” tanya Edgar, mungkin heran karena aku sama sekali tidak membela Jason.

”Akur kok,” sahutku. ”Gue cuma jujur aja menilai dia.” ”Enak ya, lo punya adik,” komentar Edgar.

”Lo sendiri, apa punya saudara?” ”Gue punya satu kakak cowok.”

”Terus, sekarang dia masih kuliah atau udah kerja?” ”Udah meninggal.”

Aku langsung terdiam, tidak tahu bagaimana harus menanggapi kenyataan menyedihkan itu. Mana kusangka kakak Edgar sudah meninggal?

”Sori,” gumamku akhirnya. ”Gue nggak tahu.”

Tanpa menanggapi permintaan maafku, Edgar berbicara mengenai kakaknya. ”Roger, kakak gue itu, anak baik-baik. Dia sama sekali nggak pernah berantem, tapi tiga tahun lalu, dia justru meninggal karena tawuran. Ironisnya, dia bahkan nggak ikut tawuran. Dia cuma berada di tempat yang salah pada waktu yang salah.”

Tawuran? Tentunya bukan tawuran yang melibatkan SMA Vilmaris, kan? Maksudku, kalau sampai ya, berarti secara tidak langsung Troy sudah menyebabkan kakak Edgar meninggal. Akan benar-benar mengerikan kalau Edgar berniat menghancurkan geng Troy karena ingin balas dendam atas kematian kakaknya.

”Apa yang tawuran itu SMA Vilmaris?” Masa bodo aku membawa-bawa SMA Vilmaris, yang penting tahu kenyataannya.

”Bukan,” sahut Edgar. ”Bukan SMA Vilmaris.”

Oh, untunglah. Berarti Troy memang tidak terkait dengan kematian kakak Edgar. Dia tidak boleh sampai terkait dengan kematian siapa-siapa.

”Sejak saat itu,” kata Edgar, ”gue jadi benci banget kalau ada orang yang seenaknya mukulin orang lain tanpa alasan masuk akal, apalagi kalau orang itu nggak salah apa-apa. Gue jadi merasa harus membalas orang yang seperti itu.” Nah, kalau soal ini, apakah terkait dengan Troy? Troy kan pernah memukuli anggota geng Edgar untuk membela anggota gengnya sendiri, bahkan pernah memukuli Edgar juga. Apa karena itu Edgar berniat menghancurkan geng

Troy?

”Apa saat ini ada orang yang mau lo balas?” pancingku. ”Ada,” aku Edgar. ”Dan gue sedang dalam proses melaku-

kannya.”

Pasti orang yang ingin dibalas Edgar adalah Troy. Aku mau mencoba-coba membujuknya agar tidak melakukannya ah.

”Lo harus menghentikannya,” bujukku. ”Nggak baik membalas orang.”

”Habis kalau nggak, mereka nggak akan jera,” tukas Edgar. ”Selain itu, dengan begini, gue juga bisa sekalian melindungi SMA Soteria.” Kalau Edgar sudah membawa-bawa soal melindungi SMA Soteria segala sih, susah deh. Tidak akan mempan, meski aku membujuknya seperti apa pun.

Edgar mendadak berdiri. ”Gue harus pergi,” katanya. Aku juga ingin ikut berdiri, tapi kakiku kesemutan parah.

Mana bokongku sakit pula karena terlalu lama duduk di tanah berbatu-batu.

”Tunggu!” seruku. ”Gue nggak bisa berdiri.”

Edgar mendengus, tapi bersedia juga menarikku berdiri dengan paksa. Nyaris aku jatuh lagi karena kesemutan membuatku tidak bisa berdiri normal.

”Oh iya,” kataku, mendadak teringat sesuatu. Aku mengambil dompet dari tas dan mengeluarkan beberapa lembar uang. ”Ini kembalian waktu lo traktir gue.”

”Pegang aja,” kata Edgar, menolak menerimanya. ”Lo butuh itu buat traktir gue nanti.”

”Kalau begitu sama aja lo yang traktir gue lagi dong,” protesku.

”Itu kan jumlahnya nggak seberapa,” kata Edgar. ”Lo pasti akan ngeluarin duit buat nambahin.”

Wah,  jangan-jangan  Edgar  memang  berencana  untuk membuatku mentraktirnya yang mahal-mahal. Gawat. Sepertinya memang lebih baik kalau aku menyimpan sisa uang itu saja.

”Ya udah deh,” kataku akhirnya, mengalah. ”Gue pegang duitnya. Tapi lo nggak boleh ngambil lagi ya. Kalau emang mau  ngambil,  sekarang  masih  belum  terlambat.  Ayo, sebelum gue masukkin lagi ke dompet.”

Selama sedetik—hanya selama sedetik—aku melihat setitik senyum muncul di wajah Edgar. Senyum itu membuat kejutekan di wajahnya menghilang tak berbekas, dan dia jadi terlihat—yah—ganteng. Tapi lewat sedetik, senyum itu lenyap secepat munculnya, dan dia jadi jutek kembali. Ampun deh.

”Jangan mamer-mamerin dompet lo kayak gitu,” omel Edgar. Mulanya kupikir dia mengomel begitu karena khawatir ada pencuri yang berniat mencuri dompetku, tapi aku tahu aku keliru saat mendengar ia melanjutkan, ”Kayak isinya banyak aja.”

Sialan Edgar. Isi dompetku memang tidak banyak, tapi kan tidak perlu diumbar-umbar begitu. Aku memasukkan dompet kembali ke tas sambil cemberut.

Tanpa menungguku naik ke motorku, Edgar lebih dulu menuju mobilnya. Sebelum masuk ke mobilnya, dia sempat menoleh ke arahku. Aku berbaik hati melambai padanya, tapi dia malah melengos.

* * *

Aku baru teringat pada cowok anak SMA Vilmaris itu setelah aku selesai mandi, dan karena itu, aku menelepon Lionel untuk memberitahukan soal cowok itu. ”Apa lo tahu siapa namanya?” tanya Lionel.

”Justru itu,” sahutku penuh sesal. ”Gue lupa nanya namanya.”

”Ciri-cirinya kayak gimana?” tanya Lionel lagi.

Aku berpikir-pikir, berusaha mengingat-ingat wujud cowok itu. ”Mmm... dia tinggi, putih, dan rambutnya lurus,” jabarku.

”Wah, susah, Soph,” kata Lionel. ”Di SMA Vilmaris banyak cowok yang ciri-cirinya kayak begitu.”

”Udah gue duga sih,” kataku. ”Tapi, Nel, mungkin—cuma mungkin ya—cowok itu anggota geng kalian. Habis kalau nggak, aneh aja rasanya dia bisa berurusan sama Edgar.” ”Itu memang mencurigakan,” kata Lionel setuju. ”Sayangnya, lo nggak kenal sama anggota geng kami, jadi lo

nggak bisa mengidentifikasi cowok itu.”

Aku juga menyayangkan hal yang sama. Dulu sebenarnya aku sudah pernah bilang pada Ivy agar meminta Troy mengenalkan anggota gengnya pada kami. Tapi dia tidak mau, karena sebagian besar anggota geng Troy yang memang naksir padanya, selalu tebar pesona saat bertemu dengannya. Itu membuat Ivy jadi malas, dan sebisa mungkin menghindari mereka. Padahal kan Troy sudah memperingatkan anggota gengnya agar tidak pernah mengganggu Ivy, atau habislah mereka.

”Terus gimana dong, Nel?” tuntutku. ”Kalau Edgar emang memanfaatkan cowok itu untuk memecah belah geng kalian, dia kan harus segera dihentikan. Lo nggak mau kan, jadi semakin banyak masalah internal di geng kalian?”

Ada jeda sejenak sebelum Lionel menanggapiku. ”Begini aja deh,” putusnya. ”Besok sore kebetulan geng kami mau main biliar. Lo ikut aja.”

”Tapi gue nggak bisa main biliar.”

”Bukan buat main biliar,” koreksi Lionel. ”Semua anggota geng kami akan ikut, jadi kalau cowok itu emang anggota geng kami, lo bisa mengidentifikasinya.”

Aku langsung bersemangat, dan setuju untuk ikut tanpa ragu lagi. Tentu yang membuatku bersemangat bukan karena bisa mengidentifikasi cowok itu, tapi karena bisa ikut nongkrong bersama Troy, sekaligus berkenalan dengan anggota gengnya.

”Emang tempat main biliarnya di mana?” tanyaku. ”Agak susah dijelasinnya,” sahut Lionel. ”Besok lo bareng

gue aja ke sananya. Gue jemput di rumah lo jam empat.” Begitu telepon ditutup, aku langsung sibuk menyiapkan pakaian yang akan kukenakan besok. Memang terlalu dini, tapi aku kan ingin memberikan impresi yang bagus pada anggota geng Troy, apalagi ini pertama kalinya aku akan bertemu mereka. Kalau mereka menganggapku cocok untuk Troy, siapa tahu bisik-bisik itu sampai ke telinga Troy, dan membuat Troy mau mempertimbangkanku menjadi

pacarnya.

Pilihanku jatuh pada tank top kuning, yang kulapisi dengan kardigan abu-abu, dan celana jins biru. Aku menyampirkan ketiga potong pakaian itu ke punggung bangku meja belajar, lalu duduk di tepi ranjang, menatapnya puas.

* * *

”Nel, kalau Troy sampai nanya kenapa gue bisa ke sana bareng sama lo, gimana?” tanyaku pada Lionel di motor, saat kami dalam perjalanan menuju tempat main biliar.

”Bilang aja, kita ketemu di jalan,” kata Lionel mencarikan alasan. ”Lo lagi nggak ada kerjaan, jadi mutusin ngikut ke sana.”

”Tapi nanti Troy marah, lagi, kalau tahu-tahu gue ikutan nongkrong,” kataku khawatir.

”Yah nggak lah,” tukas Lionel. ”Malah dia bakal senang karena ada lo.”

Tapi rupanya bukan kehadiranku saja yang membuat Troy senang, karena ada cewek lain bersamanya. Cewek itu tidak lain dan tidak bukan Natasha.

Mulanya, ketika mengikuti Lionel masuk, perhatianku hanya tercurah pada Troy—duduk di salah satu bangku di sebelah meja biliar. Anggota gengnya tersebar di manamana. Ketika aku melebarkan pandangan, barulah kusadari Natasha duduk di sebelah Troy.

Apa yang dilakukan Natasha di sini? Apa dia datang sendiri atau bersama Troy? Aku tidak melihat mobilnya di luar, jadi mungkin dia memang datang bersama Troy.

Troy tampak terkejut ketika melihatku. Dia segera berdiri untuk menyambutku. Heran karena Troy tiba-tiba berdiri, Natasha menoleh, dan tatapannya yang tidak kalah terkejut dari Troy pun ikut jatuh padaku.

”Hai, Sophie,” sapa Troy. ”Kejutan banget.”

Demi Troy, meski mood-ku sudah hancur berantakan karena kehadiran Natasha, aku memaksakan senyum di wajahku.

”Nggak nyangka kan gue bakal nongol di sini?” cetusku.

”Nggak nyangka banget,” tanggap Troy. ”Kok lo bisa ke sini? Bareng Lionel, lagi.”

Dan aku pun memberikan alasan yang sudah dirancang Lionel saat di motor tadi. Troy percaya-percaya saja, mungkin karena tahu aku memang sering tidak ada kerjaan.

Aku melihat Natasha tersenyum sambil melambai padaku, tapi dengan sengaja aku melengos. Biar dia tahu aku tidak senang dia ada di sini.

Troy meninggalkanku sejenak, lalu kembali sambil membawa Coca-Cola. Diberikannya Coca-Cola itu padaku. Aku berterima kasih padanya, berharap dia mau menemaniku, tapi malah kembali pada Natasha.

Lionel mengajakku duduk di bangku yang berseberangan dengan bangku yang diduduki Troy—di antara kami dipisahkan meja biliar. Aku hampir lupa dengan tujuan utamaku datang ke sini, dan baru diingatkan dengan pertanyaan Lionel.

”Jadi, apa cowok itu ada di sini?”

Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang main biliar. Sebagian besar anggota geng Troy masih mengenakan seragam sekolah, jadi aku bisa mengenali mereka.

”Mmm... nggak ada,” gumamku, sambil terus mengedarkan pandangan. ”Eh, tunggu!” Di pojok ruangan, agak tersembunyi di balik tubuh anggota geng lain, aku melihat cowok itu. Dia juga melihatku, dan dilihat dari matanya yang mendadak membesar penuh rasa takut, aku tahu dia mengenaliku sebagai cewek yang kemarin sore. Mungkin disangkanya aku menyaksikan saat ia berbicara dengan Edgar kemarin. Yah, aku memang melihatnya sih, tapi kan dia tidak tahu.

Cowok itu berdiri dan berjalan cepat-cepat menuju pintu keluar. Untungnya, sebelum dia keluar, aku sempat memberitahu Lionel bahwa dialah cowok yang kumaksud.

”Namanya  Andy,”  kata  Lionel.  ”Dia  emang  rada-rada pengecut sih. Jadi nggak heran kalau dia mudah dimanfaatkan Edgar.”

”Apa lo nggak akan ngejar dia?”

”Nggak perlu. Toh dia juga nggak bisa ke mana-mana.” ”Seenggaknya kasih tahu Troy dong.” ”Nanti. Troy-nya juga lagi sibuk.”

Troy memang sedang sibuk dengan Natasha. Sekarang, setelah tujuan utamaku datang ke sini tercapai, aku jadi bisa mengamati interaksi mereka dengan lebih saksama. Dan bisa dibilang, aku sama sekali tidak menyukainya.

Aku tidak suka cara Troy memandangi Natasha. Aku tidak suka cara Troy berbicara pada Natasha. Aku tidak suka cara Troy dan Natasha duduk berdempetan. Aku tidak suka cara tangan Troy, entah disengaja atau tidak, menyentuh tangan Natasha. Dan aku paling tidak suka cara Troy berbisik di telinga Natasha, dan Natasha balas berbisik di telinganya, lalu mereka tertawa bersama-sama.

Aku mencengkeram kaleng Coca-Cola di tanganku dengan geram. Sialan, kenapa mereka malah mesra-mesraan di depanku seperti itu?

”Soph,  mau  dibukain  Coca-Cola-nya?”  tanya  Lionel berbaik hati.

Aku melirik Lionel, yang tampaknya tidak tahu aku sedang geram. Tapi aku tetap memberikan Coca-Cola itu untuk dibukakan olehnya. Ketika dia memberikannya balik padaku, aku langsung minum dengan ganas, dan sodanya seakan menyetrika kerongkonganku.

”Pelan-pelan, Soph, minumnya,” saran Lionel.

Setelah Coca-Cola-ku tandas, dengan asal-asalan aku melempar kaleng kosongnya ke tong sampah terdekat. Masuk pula. Andai aku juga bisa melempar Natasha ke tong sampah...

Oh, ternyata sekarang bangku di sebelah Troy yang satu lagi kosong. Anggota geng yang tadinya duduk di situ baru saja pergi. Dengan tekad tidak akan membiarkan Troy dan Natasha terus bermesra-mesraan, aku segera bangkit dari bangkuku dan pindah ke bangku itu.

”Hai, Troy,” sapaku sambil menepuk bahu Troy, membuat Troy langsung menoleh padaku dan membelakangi Natasha. ”Kok lo nggak main?”

”Sebentar lagi gue main,” kata Troy. ”Lagi gantian dulu.”

”Lo pasti jago ya mainnya?” godaku.

”Bukannya gue sombong, tapi emang jago,” seloroh Troy. ”Lo nggak mau nyobain main?”

”Gue nggak bisa,” akuku. ”Lo ajarin dong.”

Sebelum Troy sempat menanggapiku, Natasha mencoleknya, mengembalikan perhatian Troy padanya. Aku memelototinya, sementara yang kupelototi tidak sadar dan malah sibuk menunjukkan ponselnya pada Troy.

”Jocelyn balas SMS-ku,” celetuk Natasha.

”Benar kan tebakanku,” komentar Troy. ”Terus dia bilang apa?”

”Dia bilang dia usahain datang,” kata Natasha. ”Aku masih nggak percaya. Kupikir dia udah lupa sama aku.” ”Yah, nggak mungkinlah dia lupa sama kamu,” tukas Troy. ”Kalian kan pernah temenan lumayan lama.”

”Tapi selama ini kami benar-benar nggak pernah kontakkontakan lagi.”

Kali ini aku yang memanggil Troy, sehingga lagi-lagi Troy membelakangi Natasha. Rasakan Natasha!

”Apa lo sering ke sini?” tanyaku. ”Lumayan,” sahut Troy singkat.

”Kalau Ivy, apa dia pernah ke sini?” tanyaku lagi.

Troy hampir menggeleng, tapi kemudian memikirkannya sebentar, baru setelahnya menyahut, ”Sekali. Waktu itu Lionel juga yang bawa dia ke sini.”

Aku baru akan menanyakan pertanyaan lain lagi ketika datang interupsi dari Natasha.

”Aku harus balas apa ya, Troy?” tanya cewek itu sambil menimang-nimang ponselnya. ”Nanya alamatnya gitu, buat ngirim undangan?”

”Emang kamu nggak tahu alamatnya?” Troy balik bertanya. ”Bukannya kamu pernah main ke rumahnya?”

”Rumahnya sih aku tahu, tapi alamat pastinya aku nggak ingat.”

”Kalau begitu kamu tanya aja alamatnya.”

Kesibukan Natasha dengan ponselnya kumanfaatkan untuk merebut perhatian Troy darinya. Tapi baru beberapa detik aku berbicara, Natasha sudah balik merebutnya. Hal itu berlangsung terus-menerus sampai tidak terhitung lagi berapa kali Troy harus bolak-balik bicara di antara kami. Mungkin dia lega ketika akhirnya tiba gilirannya bermain. Setidaknya dia jadi tidak perlu takut otot lehernya terkilir karena kecerewetan kami.

Sepeninggal Troy, aku sama sekali tidak melirik ke arah penghuni bangku yang hanya berjarak satu bangku di sebelahku itu. Aku lebih tertarik untuk mengamati Troy yang sedang bermain. Posenya ketika memegang stik dan wajahnya yang begitu berkonsentrasi melihat bola, bagiku terlihat  sangat  seksi.  Sayangnya,  keasyikanku  mengagumi keseksian Troy terganggu suara menyebalkan Natasha.

”Apa lo ke sini bareng Lionel?” tanya Natasha, jelas sekali hanya ingin berbasa-basi.

Aku hanya mengangguk. Aku tidak sudi mengeluarkan barang satu kata pun untuk Natasha. Biar dia tahu aku malas berbicara padanya.

Selama beberapa saat Natasha memang kembali diam. Tapi sepertinya kejutekanku sama sekali tidak berpengaruh padanya, karena dia mulai mencerocos lagi.

”Oh iya, Soph,” kata Natasha. ”Dua minggu lagi gue ultah, dan gue ngadain pesta. Lo datang, ya.”

Peduli amat dua minggu lagi Natasha ulang tahun. Toh ulang tahunku lebih cepat seminggu darinya, meskipun aku tidak mengadakan pesta. Ya ampun, aku bahkan tidak rela kami lahir pada bulan yang sama. Hanya berbeda seminggu pula. Dan apa tadi kata Natasha? Dia mengundangku ke pesta ulang tahunnya? Ih, amit-amit. Aku tidak akan mau datang. Pokoknya aku tidak akan—

”Troy juga akan datang.”

Oke, aku pasti akan datang! Mana mungkin aku tidak datang kalau Troy datang? Pintar sekali Natasha, membawabawa Troy supaya aku mau datang.

”Nanti undangannya gue titip sama Ivy, ya.”

Lagi-lagi aku hanya mengangguk. Setuju datang ke pesta ulang tahun Natasha rasanya seperti setuju untuk berdamai dengannya, padahal aku tidak ingin berdamai. Tapi jangan salahkan aku karena terpaksa setuju.

Lionel sudah tidak ada di bangkunya, dan sejauh mataku memandang, dia tidak ada di mana pun. Padahal aku ingin memintanya untuk sementara menempati bangku Troy, untuk mencegah pembicaraanku dengan Natasha melebar dari soal pesta ulang tahunnya ke soal pribadi lainnya. Selain Lionel, pasti tidak ada cowok lain yang berani. Kalaupun ada yang berani, ada dua kemungkinan: entah cowok itu memang terlalu percaya diri, atau terlalu nekat.

Akhirnya aku memutuskan untuk ke toilet saja. Karena tidak ingin pipis, aku hanya berdiri di depan wastafel sambil merapikan riasan. Puas dengan hasilnya, aku menghabiskan banyak waktu untuk mengaca.

Saat sedang asyik-asyiknya melatih senyum yang kuanggap cukup menawan untuk Troy, aku mendengar pembicaraan dua anggota gengnya di luar toilet.

”Cewek yang ke sini bareng Lionel kalau nggak salah Sophie Wyna, sahabat Ivy, kan?” tebak cowok yang pertama.

Wah, kok cowok di luar itu tahu namaku? Untuk menyenangkan hatiku, aku menganggap dia tahu namaku dari Troy.

”Kayaknya sih,” tanggap cowok kedua.

”Dia ceweknya Lionel atau ceweknya Troy sih?” Lho, kenapa aku bisa digosipkan dengan Lionel?

”Troy, yang lebih mungkin,” kata cowok kedua sementara aku mengangguk-angguk setuju.

”Kalau begitu Natasha siapanya Troy?” ”Natasha mah mantan ceweknya.”

”Gila ya si Troy,” komentar cowok pertama. ”Nggak mantan ceweknya, nggak ceweknya yang sekarang, cantiknya sama-sama selangit.”

Cengiran bangga spontan terpampang di wajahku.

Mmm... aku dianggap cantik oleh anggota geng Troy.

Lihat kan, Troy, kataku dalam hati. Gue nggak malumaluin kok kalau lo mau ngejadiin gue cewek lo.

Sekembalinya aku dari toilet, Troy dan Natasha sudah bersiap-siap pulang. Ternyata benar, Natasha memang datang bersama Troy. Dengan panik aku menghampiri mereka. ”Kok cepat banget udah mau pulang, Troy?” tuntutku pada Troy.

”Gue mesti ngantar Natasha pulang,” kata Troy. Natasha berpamitan padaku sambil tersenyum. Bagiku,

senyumnya itu tampak seperti senyum penuh kemenangan, karena Troy lebih memilih bersamanya daripada bersamaku.

Dengan tidak rela, aku memperhatikan Troy dan Natasha berjalan menjauh, menuju pintu keluar. Ketika aku sadar aku bisa nebeng pulang bareng Troy— sekaligus mencegah Troy dan Natasha berduaan saja di dalam mobil—ternyata sudah terlambat. Mobil Troy sudah berlalu pergi.

Saat itulah Lionel baru muncul kembali. Kebetulan, karena sedari tadi ada yang ingin kutanyakan padanya.

”Kenapa Troy bisa ngajak Natasha ke sini?” tanyaku.

Lionel langsung terlihat salah tingkah. ”Mmm... nggak tahu deh.”

Jelas ada yang dirahasiakan Lionel. Tidak biasanya dia terlihat salah tingkah seperti ini. Dia bahkan berusaha menghindari mataku.

”Jujur aja, Nel,” desakku.

”Beneran,” tandas Lionel. ”Gue nggak tahu.”

Mendadak, aku pun sadar. Lionel pasti tahu ada sesuatu di  antara  Troy  dan  Natasha.  Dan  satu-satunya  alasan kenapa dia memilih untuk merahasiakannya dariku karena tidak ingin aku patah hati. Dia kan tahu aku mencintai Troy.

Benar, pasti begitu. Lionel sahabat Troy. Tidak mungkin dia tidak tahu. Kalau soal Natasha, dibanding pada Ivy, sepertinya Troy bisa bicara lebih jujur dan terbuka pada Lionel.

”Nel, gue mau pulang sekarang deh,” kataku. Aku sudah tidak bersemangat untuk berkenalan dengan anggota geng Troy, padahal itu salah satu tujuanku datang ke sini.

”Oke,” kata Lionel. ”Gue antar lo pulang.”

”Lo tetap di sini aja,” tolakku. ”Biar gue pulang naik taksi.”

”Nggak bisa begitu,” tukas Lionel keberatan. ”Gue yang udah antar lo ke sini, jadi gue juga yang akan antar lo pulang.”

Karena Lionel berkeras, aku mau diantar pulang olehnya. Sepanjang perjalanan pulang, dia mengajakku berbicara soal Andy, mungkin untuk mengalihkan perhatianku dari Troy dan Natasha. Dan meski sedikit, kuakui dia berhasil. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊