menu

Bad Boys #2 Troy's Spy Bab 07

Mode Malam
Bab 07

KENAPA aku harus melihat Troy memeluk Natasha? Dan kenapa juga aku tidak bisa memalingkan wajahku?

Sementara Natasha sesenggukan, Troy terus berbisik di telinganya sambil membelai rambutnya. Setiap kali tangan Troy membelai rambutnya, setiap kali itu pulalah hatiku serasa diiris. Hatiku yang terluka dibuat semakin berdarahdarah saat melihat Troy menghapus air mata Natasha dengan tangannya, setelah melepaskan pelukannya.

Troy mengatakan sesuatu pada Natasha, yang disambut dengan anggukan Natasha. Masih ada sisa-sisa air mata di wajahnya. Dengan satu belaian terakhir Troy pada rambutnya, dia pun masuk ke mobilnya. Troy menunggu sampai mobil Natasha lenyap dari pandangan, barulah kemudian dia masuk ke mobilnya sendiri.

Aku jatuh terduduk ke paving block. Topiku sampai ikut jatuh karena gerakan yang tiba-tiba itu, tapi aku bahkan tidak memiliki tenaga untuk mengambilnya. Kubiarkan saja topi tersebut tergeletak di sampingku.

Aku sungguh terganggu dengan tangis Natasha. Apa itu tangis kesedihan karena Troy menolaknya? Atau justru tangis kebahagiaan karena Troy menerimanya kembali?

”Permisi, Mbak.” Lagi-lagi aku mendengar suara seseorang, dan lagi-lagi orang itu adalah pramusaji genit yang tadi. ”Apa teman Mbak udah datang?”

Aku hanya menatap garang sebagai jawabannya. Aku sedang tidak ingin meladeninya. Jadi aku memungut topi, dan segera berlari ke motorku.

Bayangan Troy memeluk Natasha menemaniku sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Aku bahkan sampai mempercepat laju motorku, berharap dengan begitu bayangan itu bisa segera terbang keluar dari kepalaku.

Kamar menjadi tujuan utamaku begitu tiba di rumah. Tapi belum sempat membuka pintunya, aku sudah dikejutkan seruan Jason.

”Astaga, Soph!” seru Jason. ”Lo ngapain pakai serbahitam begitu? Gue pikir lo maling. Hampir aja gue gebukin lo pakai kemoceng.” Mungkin akan lebih bagus kalau Jason benar-benar menggebukiku. Setidaknya rasa sakit di hatiku bisa teralihkan ke anggota tubuhku yang lain.

”Tadi gue ngelihat Troy meluk Natasha,” kataku dengan tidak nyambungnya. Seperti kemarin malam, aku ingin berbagi kegelisahanku dengan Jason.

”Troy balikan sama Natasha?” tanya Jason kaget. ”Nggak tahu deh,” sahutku, lemas. Aku mendudukkan

diriku di lantai, bersandar pada pintu kamarku. ”Gue harap nggak.”

Jason mengikutiku, mendudukkan dirinya di lantai, juga bersandar pada pintu kamarku. ”Semoga aja emang nggak,” imbuhnya. ”Masa gue belum sekolah di SMA Soteria, tapi Natasha udah jadi pacar orang aja?”

Aku dan Jason berpandangan dengan nelangsa. Saat ini kami merasa seperti dua kakak-beradik paling malang sedunia.

* * *

Tampaknya Troy tetap tidak menceritakan tentang Natasha pada Ivy, karena tentang dia memeluk Natasha pun, Ivy mengetahuinya dariku. Tadinya kupikir mungkin Troy hanya perlu waktu, tapi sampai beberapa hari berlalu pun, nama Natasha tetap tidak pernah keluar dari mulutnya.

Apa Troy tutup mulut tentang Natasha pada Ivy karena tidak ingin hal itu turut didengar Austin? Atau dia menganggap hal itu tidak penting, sehingga Ivy tidak perlu mengetahuinya?

Karena ikut penasaran, akhirnya Ivy sendiri yang menanyakan itu pada Troy. Agak sulit baginya untuk mendapat jawaban, sebab Troy selalu menghindar kalau ditanyakan tentang Natasha. Akhirnya yang dapat Ivy pastikan hanyalah bahwa Troy tidak kembali berpacaran dengan Natasha. Meskipun merasa lega mendengarnya, tetap ada secuil kekhawatiran kalau Troy berbohong pada Ivy. Mungkin kekhawatiran itu merupakan efek luka di hatiku yang belum sembuh betul karena melihat Troy memeluk Natasha.

”Gue tetap nggak yakin deh, Vy,” kataku pada Ivy saat kami berada di rumahnya pada Minggu.

”Nggak yakin kalau gue mau beli album terbaru SHINee?” tanya Ivy. Tadi kami memang membicarakan tentang keinginan Ivy untuk membeli album terbaru SHINee, sebelum pikiranku melayang kembali ke Troy.

”Bukaaan,” sahutku. ”Kalau soal album terbaru SHINee sih, lo minta dibeliin aja sama Austin. Ngapain capek-capek nabung?”

”Lo mau ngajarin gue jadi matre?” sentak Ivy.

”Sekali-kali bolehlah matre. Cowok lo kan tajir,” kataku santai. ”Tapi ini bukan soal album terbaru SHINee. Maksud gue tadi, gue nggak yakin Troy nggak balikan sama Natasha. Siapa tahu dia cuma bohong sama lo karena nggak mau lo ngember ke Austin.”

Ivy berdecak. ”Masih soal itu juga?” tuntutnya. ”Sophie, Troy jelas-jelas bilang ke gue bahwa dia nggak balikan sama Natasha. Lagian, dia juga masih nge-date sama banyak cewek kok.”

”Mungkin itu keringanan yang dikasih Natasha asalkan Troy mau balikan sama dia,” tebakku.

”Cewek waras mana yang ngizinin pacarnya nge-date sama cewek lain?” tukas Ivy.

”Natasha kan nggak waras,” umpatku.

”Kalau lo yang jadi pacar Troy, emang lo bakal ngizinin dia nge-date sama cewek lain?” Ivy membalikkan, tanpa memedulikan umpatanku pada Natasha.

Aku menimbang-nimbang sejenak. Belum sampai pada jawabannya, aku sudah keburu dijitak Ivy.

”Tuh kan, lo juga nggak waras,” kata Ivy. ”Masa masih dipertimbangin juga sih? Jawabannya kan udah pasti nggak.”

”Yah, emang nggak,” tegasku. ”Enak aja. Troy cuma milik gue seorang. Tapi Natasha kan mungkin aja beda pemikirannya. Dia kan habis patah hati. Kesempatan sekecil apa pun pasti diembat sama dia.”

Tahu kalau aku tidak akan mau kalah soal Natasha, Ivy memutuskan untuk mengembalikan pembicaraan ke album terbaru SHINee. Tapi aku tetap saja membuatnya kesal karena lagi-lagi mengungkit soal kekayaan Austin. Akhirnya dia menyuruhku pulang, karena dia mulai kesulitan menahan hasratnya untuk menggembok mulutku.

Jadi aku pun pulang. Tapi baru beberapa meter meninggalkan rumah Ivy, aku berpapasan dengan Lionel. Kami pun sama-sama menepikan motor.

”Hai, Nel,” sapaku. ”Mau ke rumah Ivy, ya?” Padahal dilihat dari arahnya, tanpa perlu kutanyakan pun, dia sudah jelas mau ke rumah Ivy.

”Iya,” angguk Lionel. ”Gue mau ngobrol-ngobrol sebentar sama dia.”

Austin pasti tidak akan senang mendengarnya. Sebenarnya dia dan Ivy sudah sering kali ribut masalah Lionel. Austin tidak suka kalau Ivy sedekat itu dengan Lionel. Begitu-begitu, ternyata Austin cemburuan juga. Tapi kalau dilarang, Ivy pasti ngambek. Jadi Austin terpaksa harus menahan cemburu. Lagi pula, kalau Troy sampai tahu Austin membatasi pergaulan Ivy, bukan tidak mungkin dia akan mencabut restunya yang baru setengah itu.

Ada hal lain yang kuingat selain Austin dan Ivy saat melihat Lionel yaitu tugasku sebagai mata-mata Troy. Karena masalah Natasha, beberapa hari ini aku tidak pernah menemui Edgar. Aku memang mata-mata payah.

”Sori ya, Nel,” kataku tiba-tiba. ”Gue belum dapat informasi apa-apa lagi dari Edgar.” ”Nggak apa-apa, Soph,” tanggap Lionel. ”Jangan jadiin itu sebagai kewajiban.”

”Gue kan udah memutuskan jadi mata-mata Troy, jadi itu emang udah kewajiban gue,” kataku. Lalu aku bertanya, ”Apa ada sesuatu yang terjadi di geng kalian beberapa hari ini?”

”Kok lo bisa tahu?” Lionel malah balik bertanya.

Aku hanya bisa bengong. Padahal aku hanya asal bertanya, karena mengira Edgar melakukan sesuatu pada geng Troy selama aku tidak menemuinya. Tapi ternyata aku benar.

”Memang ada sesuatu yang terjadi di geng kami,” lanjut Lionel. ”Beberapa hari ini geng kami secara berturut-turut ditimpa masalah internal. Ada yang berebutan cewek, padahal sebelumnya mereka nggak tahu mereka suka sama cewek yang sama. Ada juga yang HP-nya hilang, dan begitu dicari, ternyata ada di tas anggota lainnya. Dan yang terakhir, baru aja terjadi kemarin, ada yang dilaporin ke bokapnya karena bawa mobil bokapnya. Bokapnya emang nggak pernah ngasih mobilnya dibawa sama dia, jadi dia bawa diam-diam, dan yang tahu cuma satu anggota kami. Semua masalah itu membuat gue berpikir bahwa ada orang yang dengan sengaja memecah belah geng kami. Gue curiga orang itu Edgar. Tapi kalau emang benar dia, gimana cara dia melakukan itu?”

Aku juga jadi ikut berpikir. Mungkin Edgar memiliki cara yang bisa membuatnya mengendalikan anggota geng Troy. Kalau ingin mengetahui cara itu, berarti aku harus segera kembali pada tugasku sebagai mata-mata Troy. Aku tidak boleh menundanya lebih lama lagi. Besok kutemui Edgar. Masalahnya, aku tidak memiliki alasan lain untuk menemui Edgar selain mentraktirnya. Apa aku harus memakai alasan itu dengan risiko kembali didamprat olehnya? Se-

pertinya aku harus mengambil risiko itu.

Jadi ketika Edgar memasuki pelataran parkir SMA Soteria, aku berdiri dengan tampang siap didamprat sambil bersandar pada pintu pengemudi mobilnya. Dia mendengus saat melihatku. Tidak heran.

Ketika Edgar tiba di dekatku, aku mulai berkata, ”Gue ke sini lagi karena mau—”

”—traktir gue?” sambung Edgar dengan nada bosan. ”Wah, ternyata lo tahu,” kataku, berpura-pura takjub.

Untuk kedua kalinya Edgar mendengus. Dia berusaha menyingkirkanku dari samping mobilnya, tapi aku tetap bertahan—tidak mengizinkannya masuk ke mobilnya.

”Gue bertekad hari ini gue harus berhasil traktir lo,” kataku.

Edgar tidak peduli pada tekadku. ”Minggir, atau gue bakal dorong lo,” ancamnya.

”Silakan aja dorong,” tantangku.

Tak dinyana, cowok itu benar-benar mendorongku. Nyaris saja aku terjerembap ke paving block kalau tidak buru-buru berpegangan pada mobilnya.

Cowok macam apa dia? Berani-beraninya mendorong cewek! Aku tahu aku memang sudah menantangnya, tapi bukan berarti aku berharap dia benar-benar mendorongku.

Amarahku naik ke ubun-ubun, apalagi begitu melihat Edgar dengan santai membuka pintu mobil seolah sebelumnya dia tidak membuatku hampir mencium paving block. Cukup sudah dia memperlakukanku. Aku tidak bisa menolerirnya lagi.

”Kenapa sih mau traktir aja rasanya susah banget?” seruku marah. ”Padahal kan gue yang mau traktir lo, bukan sebaliknya. Toh lo juga nggak rugi apa-apa. Malah seharusnya lo bersyukur karena gue tahu berterima kasih.” Lalu amarahku mulai melenceng dari soal traktir-mentraktir ke soal perasaanku. ”Perasaan gue lagi buruk banget selama beberapa hari ini. Mau ngapa-apain juga rasanya nggak enak. Jadi tolong, jangan semakin memperparahnya dengan mempersulit gue kayak begini.”

Edgar hanya bisa terbengong-bengong mendengarnya. Mungkin dia tidak menyangka akan menjadi korban kemarahanku. Siapa suruh dia membuatku marah saat tidak tepat seperti ini?

Setelah berhasil menguasai diri, untuk ketiga kalinya Edgar mendengus. Dia menutup kembali pintu mobil, menguncinya, dan langsung ngeloyor pergi. Meskipun tidak mengatakan apa-apa, aku tahu itu tanda dia bersedia kutraktir.

Bergegas aku mengikuti Edgar. Di tengah jalan sebelum mencapai Kafe 99, kami sempat berpapasan dengan pria berkumis lebat itu. Baru aku berpikir tumben dia tidak muncul, tapi ternyata muncul juga. Bukan berarti aku mengharapkan kehadirannya. Hanya saja, dia sudah kuanggap  sebagai  pelengkap  SMA  Soteria.  Semacam maskot, begitu. Jadi kalau tidak ada dia, rasanya malah aneh.

Aku dan Edgar sama-sama memesan iced cappuccino. Kami menunggu pesanan kami tiba dalam diam. Setelah tadi marah-marah padanya, kini aku malah jadi merasa malu sendiri. Seharusnya tadi aku tidak perlu membawa-bawa soal perasaanku segala. Bisa-bisa Edgar malah menganggapku sebagai cewek labil.

Pesanan kami tiba, dan aku buru-buru menyesap iced cappuccino. Bukan karena aku haus, tapi untuk mengalihkan rasa maluku.

Sialnya, Edgar tetap saja mengamatiku lekat-lekat. Jadi menyesap iced cappuccino juga tidak membawa pengaruh apa-apa. Aku malah nyaris tersedak karena minum dengan begitu buru-buru.

Masih sambil mengamatiku, Edgar berkata, ”Lo pasti lagi ada masalah cinta.” ”Kenapa lo bisa berpikir begitu?” tuntutku.

”Kalau buat cewek,” kata Edgar, menekankan pada kata ”cewek” dengan nada yang jelas-jelas meremehkan kaumku, ”apa lagi sih yang dipusingkan selain masalah cinta?”

”Nggak semua cewek begitu.” ”Tapi lo begitu, kan?”

Memang iya sih, tapi aku kan tidak perlu mengakuinya pada Edgar. Lagi pula, aku merasa aneh membicarakan masalah cinta dengan Edgar. Tapi rupanya dia belum mau menyudahi topik itu.

”Apa lo bertengkar sama cowok lo?” tebak Edgar. ”Gue belum punya cowok,” akuku.

”Kalau begitu, apa gebetan lo nggak suka sama lo?” tebak Edgar lagi.

”Lebih tepatnya, mungkin dia mau balikan sama mantan ceweknya,” gumamku tanpa sadar.

”Ah,” cetus Edgar. ”Jadi lo patah hati?”

”Gue nggak patah hati!” sentakku. Belum, mungkin. Tapi amit-amit deh. Jangan sampai aku benar-benar patah hati.

”Gue jadi heran,” kata Edgar. ”Kenapa sih cewek demen banget meribetkan masalah? Padahal kalau cowoknya emang nggak suka, ya udah, tinggalin aja. Cari yang lain. Kayak cowok cuma ada satu di dunia.”

”Nggak semudah itu,” sergahku. ”Ini kan masalah hati.

Mana bisa main pindah-pindah begitu aja?” ”Bisa aja,” tegas Edgar. ”Biasanya, kalau gue suka sama cewek, gue akan kasih waktu seminggu untuk melihat apakah dia ada sedikit aja perasaan yang sama dengan gue. Kalau emang nggak ada, maka gue akan cari cewek lain.”

”Seminggu?” ulangku kaget. ”Apa itu nggak terlalu cepat?

Perasaan suka kan bisa dipupuk waktu.” ”Buang-buang waktu,” dengus Edgar.

Jelas, Edgar bukan tipe cowok yang akan memperjuangkan cintanya. Tapi mungkin itu karena dia belum menemukan cewek yang benar-benar dicintainya, yang membuatnya rela jungkir balik meski hanya untuk disenyumi olehnya.

Mendadak ponsel Edgar berbunyi. Dia melirikku sejenak, mungkin ragu untuk mengangkatnya karena ada aku di hadapannya. Tapi dia mengangkatnya juga. Selama beberapa saat, dia hanya mendengarkan si penelepon berbicara.

”Jadi belum ada jawaban juga dari Colin?” tanya Edgar saat bersuara. ”Kita kan udah kasih dia waktu selama beberapa hari ini. Bilang sama dia bahwa hal ini sangat penting, dan kita mau dia kerja sama dengan kita. Kemarin-kemarin kan dia selalu mau, jadi kenapa kali ini dia malah ragu?”

Colin? Siapa ya Colin?

”Pokoknya lo bujuk dia terus, dan usahakan besok udah ada jawaban,” kata Edgar. ”Jangan lupa besok lo kabarin gue lagi.” Setelah itu dia menutup telepon. Aku langsung berpura-pura lebih tertarik pada iced cappuccino daripada pembicaraan yang baru saja kudengar. Meski penasaran dengan identitas Colin, aku kan tidak mungkin menanyakannya pada Edgar. Aku harus mencegah timbulnya segala bentuk kecurigaan dari Edgar.

”Soal gebetan lo itu,” kata Edgar tiba-tiba, ”mendingan lo lupain aja. Jelas, dia cuma bikin lo jadi kacau. Lihat aja, lo sampai marah-marah sama orang yang belum lama lo kenal.”

Apa hak Edgar menyuruhku melupakan Troy? Okelah aku memang marah-marah padanya, tapi itu kan tidak akan terjadi kalau dia tidak memprovokasiku.

Edgar menyesap iced cappuccino-nya sampai tandas, mengeluarkan dompet, lalu melemparkan selembar uang ke meja. Aku menatap uang itu dengan heran.

”Buat apa lo ngeluarin duit?” tanyaku heran. ”Kan gue yang mau traktir lo.”

”Karena lo lagi patah hati—” ”Dibilangin gue nggak patah hati!”

”—jadi gue aja yang traktir lo,” kata Edgar, tanpa memedulikan bantahanku. ”Anggap aja sebagai penghiburan.”

”Berarti besok-besok gue akan datang lagi buat traktir lo,” kataku, memanfaatkan hal ini untuk bisa menemui Edgar lagi.

”Terserah.”

Edgar tidak keberatan? Padahal belum sampai satu jam lalu, dia masih tidak senang begitu aku mengungkit soal traktir-mentraktir. Apa mungkin berbicara soal cinta membuatnya jadi lebih pengertian?

Tapi tidak mungkin. Yang lebih mungkin adalah karena dia menganggapku sedang patah hati, sehingga menggunakan cara ini untuk mengasihaniku. Ah, sial. Aku kan tidak ingin dikasihani olehnya.

Edgar berdiri, dan tanpa berpamitan padaku, dia berjalan keluar kafe. Aku tidak mengikutinya sebab masih ingin menghabiskan iced cappuccino yang baru kuminum setengah.

Sambil minum, aku menelepon Lionel. Aku akan memberitahukannya soal Edgar menyebut-nyebut nama Colin. Mungkin Colin berhubungan dengan rencana Edgar. Dan sepertinya dugaanku itu benar, sebab ternyata Lionel tahu identitas Colin.

”Setahu gue, Colin ketua geng SMA Hamadi,” kata Lionel.

Ketua geng lagi? Apa anak SMA zaman sekarang punya geng semua atau bagaimana? Mungkin ini semacam tren. Seharusnya aku dan Ivy ikut-ikutan. Aku yang jadi ketua geng, dan Ivy wakilnya. Lalu siapa yang jadi anggotanya? Masa cuma kami berdua? Hm... sepertinya harus kupikirkan lagi rencana ini.

”Memang sih, bukan cuma ketua geng SMA Hamadi yang namanya Colin, tapi yang paling mungkin berhubungan dengan Edgar ya cuma dia,” lanjut Lionel. ”Lagi pula, Colin juga bukan nama yang terlalu umum, bukan?”

Aku bahkan tidak pernah mengenal siapa pun yang bernama Colin sebelumnya. Tapi kalau dia memang ketua geng SMA Hamadi, ya pasti dialah yang dimaksud Edgar. ”SMA Hamadi memang merupakan salah satu sekolah yang dicurigai Troy akan diajak kerja sama oleh Edgar,” kata Lionel. ”Dulu Edgar dan Colin selalu kerja sama saat

mereka lagi ada masalah dengan geng lain.”

”Tapi kalau begitu, kenapa dulu Edgar nggak langsung ngajak Colin kerja sama aja?” tanyaku. ”Kenapa dia malah ngajak Austin?”

”Geng Colin nggak sebesar geng Austin,” kata Lionel. ”Dan yang musuh bebuyutan Troy kan Austin. Jadi lebih masuk akal kalau dia ngajak Austin. Selain itu, Edgar tahu Colin respek sama Troy.”

”Respek atau takut?” pancingku.

Lionel terkekeh. ”Takut sih sebenarnya,” akunya. ”Yah, selain Austin, geng lainnya emang pada takut sama Troy. Dulu Edgar juga sebenarnya takut, tapi nggak tahu deh kenapa sekarang dia malah mau nyari masalah begitu. Troy sengaja belum bertindak dulu, sebab kepingin tahu sampai sejauh mana rencana Edgar. Siapa tahu Edgar punya rencana cadangan. Jadi kalau sampai Troy bertindak sekarang, takutnya Edgar malah menggunakan rencana yang belum kita ketahui.” Bangga rasanya mengetahui orang-orang takut pada Troy. Di mataku dan para penggemarnya, Troy mirip dewa Yunani yang tak bercela. Tapi di mata cowok-cowok lain, Troy mungkin mirip Megatron.

Aku jadi membayangkan seandainya aku menjadi pacar Troy. Orang-orang pasti juga akan takut padaku. Siapa coba yang berani macam-macam pada pacar Megatron? Janganjangan Troy juga akan menyuruh anggota gengnya untuk mengawalku ke mana-mana. Wah, pasti keren kalau aku sampai punya pengawal pribadi!

Tanpa kusadari, aku jadi cengar-cengir sendiri. Aku bahkan tidak mendengarkan apa yang sedang dikatakan Lionel. Aku baru menyadari tingkah memalukanku ketika melihat orang-orang di sekitarku menatapku dengan tatapan mendingan-gue-buru-buru-cabut-dari-sini-sebelumjadi-ikutan-gila. Aku pun segera menghilangkan cengiranku dan kembali fokus pada Lionel.

”Sori, Nel, barusan lo nanya apa?” tanyaku, ketika menyadari Lionel sedang menanyakan sesuatu padaku tapi aku tidak mendengarnya.

”Gue tanya, apa tadi lo bilang belum ada jawaban dari Colin untuk Edgar?” Lionel mengulangi pertanyaannya.

”Iya,” sahutku. ”Mungkin dia ragu karena takut sama Troy. Nah, karena itu lo dan Troy harus bergerak cepat. Temuin Colin dan yakinkan dia agar nggak kerja sama dengan Edgar. Kalau bisa lakukan malam ini juga, karena Edgar mau besok udah ada jawaban dari Colin.”

”Gue akan bicara dengan Troy setelah ini,” kata Lionel. Aku menutup telepon dengan perasaan puas. Kalau sampai Troy yang ditakutinya menemuinya, pasti Colin akan berpikir seribu kali untuk kerja sama dengan Edgar. Aku menghabiskan iced cappuccino dan mengambil uang Edgar yang masih tergeletak di meja. Lumayanlah, aku jadi bisa minum gratis hari ini. Mana masih ada kembaliannya pula. Tapi tidak kok, aku tidak berencana menilapnya. Aku akan mengembalikannya pada Edgar saat kami bertemu lagi nanti. Semoga saja dia tidak mau menerimanya, jadi aku bisa menggunakan sisa uang itu untuk mentraktirnya.

Aku jadi tidak rugi deh.

Heran, sebenarnya aku niat tidak sih jadi mata-mata Troy? Masa aku tidak mau keluar uang sama sekali? Kalau jadi mata-mata, seharusnya aku modal sedikit. Kasihan juga Troy, punya mata-mata kere seperti aku.

Selesai membayar, aku pun mengantongi kembaliannya dengan tekad sisa uang itu harus kembali pada Edgar.

* * *

Pagi-pagi, ketika aku baru mendudukkan bokongku di bangku di kelasku, aku menelepon Lionel. Aku ingin mengetahui hasil pertemuannya dan Troy dengan Colin tadi malam.

”Sukses, Soph,” kata Lionel, membuatku langsung girang bukan main. ”Di depan kami, Colin nelepon Edgar buat ngasih tau bahwa dia nggak mau kerja sama dengannya, meski nggak bilang bahwa alasannya adalah karena dia diancam Troy. Tapi sayangnya, Colin juga belum sempat dikasih tahu Edgar mengenai rencananya.”

”Mungkin Edgar nunggu Colin mau kerja sama dengannya dulu, baru ngasih tahu rencananya,” tebakku. ”Terus, Colin kaget dong waktu kalian nemuin dia tadi malam?”

”Bukan kaget lagi,” kata Lionel. ”Dia bahkan hampir mati jongkok, soalnya pas kami nemuin dia, dia emang lagi jongkok buat ngikat tali sepatunya. Kalau tadi malam lo lihat tampang Troy yang garang banget, mungkin lo juga akan mikir-mikir lagi buat pertahanin cinta lo sama dia.”

”Justru semakin garang, Troy semakin cool,” pujiku. ”Tapi malang banget ya si Edgar. Setelah gagal sama Austin, sekarang gagal lagi sama Colin.”

”Meski begitu, kita tetap nggak boleh lengah,” kata Lionel. ”Edgar pasti berusaha supaya ada geng lain yang mau kerja sama dengannya. Dia nggak akan bisa melawan geng kami hanya dengan gengnya sendiri.”

”Tenang aja,” kataku. ”Gue akan terus mengorek informasi darinya.”

Tepat pada saat itu, aku mendengar suara-suara dari luar kelasku, dan melihat Austin dan Ivy. Sementara aku mendengarkan kata-kata Lionel yang seperti biasa menyuruhku berhati-hati, aku memperhatikan interaksi antara Austin dan Ivy. Ivy menyerahkan kotak makan pada Austin, yang balasannya Austin mengecup kening Ivy. Austin menunggu sampai Ivy masuk ke kelas, barulah dia berjalan pergi.

Aku menyudahi pembicaraanku dengan Lionel berbarengan dengan duduknya Ivy di bangkunya.

”Siapa yang ngasih izin tuh, kecup-kecupan kening di luar kelas?” tuntutku, berpura-pura mengomel. ”Sekolah tuh gunanya buat belajar, bukan buat kecup-kecupan kening. Lo lupa ya, gue mata-mata Troy? Gue laporin ke Troy, baru tahu rasa lo.”

”Sirik aja lo,” tanggap Ivy.

”Jelas gue sirik. Gue juga mau kecup-kecupan kening sama Troy,” kataku tidak tahu malu. ”Jangan-jangan tanpa sepenglihatan gue, setiap hari sebelum pisah di luar kelas lo dan Austin kecup-kecupan kening dulu, ya?”

”Yah, nggak setiap hari lah,” tukas Ivy. ”Tadi kebetulan gue bikinin dia sarapan, jadi sebagai ucapan terima kasih, dia ngecup kening gue.”

”Ide bagus tuh, bikinin sarapan,” komentarku. ”Gue juga jadi pengin bikinin Troy sarapan.” Siapa tahu, kalau aku membuatkan Troy sarapan, dia juga akan mengecup keningku. ”Nyokap gue setiap hari rajin bikinin Troy sarapan kok,” kata Ivy, serta-merta langsung memusnahkan keinginanku. Sementara aku sibuk misuh-misuh, dia bertanya, ”Tadi lo lagi telepon-teleponan sama siapa?”

”Lo nggak kenal, pokoknya,” dustaku.

”Jangan-jangan cowok nyebelin yang waktu itu lo bilang ke gue, ya?” tebak Ivy.

”Bukan kok.” Kali ini aku jujur, meski yang sedang kubicarakan di telepon tadi memang Edgar.

Ivy menatapku, curiga. ”Entah kenapa, akhir-akhir ini gue ngerasa ada sesuatu yang lo rahasiakan dari gue,” katanya.

Ivy memang terlalu mengenalku. Biasanya kami tidak pernah merahasiakan apa pun satu sama lain. Aku tahu hampir segala hal tentang Ivy, dan Ivy pun demikian.

Tapi soal aku menjadi mata-mata Troy untuk mencari informasi dari Edgar, aku terpaksa merahasiakannya dari Ivy. Habis mau bagaimana lagi? Kalau Ivy sampai tahu, dia pasti akan membocorkannya pada Troy. Dia memang menginginkan keselamatan Troy, tapi tentunya tidak dengan membahayakan diriku.

Aku tidak membantah kecurigaan Ivy, tapi juga tidak membenarkannya. Aku hanya balik menatapnya, berharap lewat mataku dia bisa menyimpulkannya sendiri. Dan nyatanya dia memang bisa.

”Gue yakin pasti ada alasan lo harus merahasiakannya dari gue,” kata Ivy. ”Dan gue juga yakin kalau waktunya tepat nanti, lo akan menceritakannya sama gue.”

Betapa menyenangkannya memiliki sahabat pengertian seperti Ivy. Bukannya memaksaku menceritakannya, dia justru menungguku hingga aku siap lebih dulu.

”Sini, Vy,” kataku, sambil menarik sebelah lengan Ivy. ”Biar gue kecup kening lo juga.”

Ivy langsung memberontak, berusaha menjauhkan dirinya dariku. ”Nggak mau!” pekiknya ngeri.

”Ih, kok lo gitu sih?” protesku, tanpa melepaskan tanganku dari lengan sahabatku itu. ”Sama Austin aja lo mau dikecup. Masa sama gue nggak?”

Semakin aku berusaha menarik Ivy, dia juga semakin menjauhkan dirinya dariku. Akibatnya, dia nyaris terjungkal dari bangkunya. Mungkin dia akan benar-benar terjungkal kalau saja bel tanda masuk tidak berbunyi, membuatku menghentikan usahaku untuk mengecup keningnya.

Hari ini kami ada pelajaran biologi, dan menjelang akhir pelajaran, lagi-lagi kami diberi tugas kelompok. Berbeda dengan teman-teman sekelasku yang mengeluh, aku justru senang, karena aku sekelompok dengan Ivy. Aku jadi bisa sekalian melihat Troy deh saat mengerjakan tugas di rumahnya nanti.

”Kita langsung kerjain aja ya, Soph, sepulang sekolah nanti,” kata Ivy. ”Tugasnya kan nggak sebanyak yang kemarin, jadi seharusnya bisa langsung selesai hari ini juga.”

”Ngerjainnya di rumah lo, kan?” tanyaku penuh harap. ”Terserah,” sahut Ivy. Kemudian dia memelototiku. ”Awas

ya kalau berani nunda-nunda ngerjain tugas kayak dulu lagi.”

Ah, si Ivy tahu saja rencanaku. Meskipun dia bilang tugas ini bisa selesai hari ini juga, tadinya aku berencana untuk menunda menyelesaikannya sampai beberapa hari ke depan, jadi aku bisa lebih sering melihat Troy.

Karena kami akan mengerjakan tugas di rumah Ivy, maka Ivy memutuskan untuk pulang bersamaku. Tapi hal itu ditentang habis-habisan oleh Austin. Mereka berdebat di luar kelas saat aku dan Ivy bersiap-siap pulang.

”Aku nggak mau kamu naik motor,” larang Austin. ”Gimana kalau nanti kamu jatuh?”

Aku jadi tersinggung mendengarnya. Selama ini kan aku selalu berhati-hati mengendarai motor, kecuali beberapa kali saat aku kebut-kebutan. Yang jelas, aku tidak pernah menabrak sepeda tukang siomay seperti Jason. Lagi pula, sebelum mereka kembali berpacaran dulu, Ivy juga sering naik motor denganku. Dan mungkin Austin tidak tahu, waktu bertengkar dengannya dulu, Ivy naik ojek ke sekolah. Dibanding tukang ojek, aku yakin Ivy lebih aman bersamaku.

”Sophie jago kok naik motornya,” bela Ivy. ”Jadi nggak apa-apa, aku pulang sama Sophie aja. Lagian Sophie kan emang mau ke rumahku.”

”Kamu tetap pulang sama aku, dan biar Sophie sendiri aja ke rumahmu,” kata Austin. ”Ujung-ujungnya kan tetap aja kalian ketemu di rumahmu.”

”Aku nggak mau Sophie sendiri.”

”Ivy, kamu bandel banget sih kalau dibilangin!”

”Kalau kamu khawatir, nanti begitu sampai rumah aku langsung telepon kamu,” kata Ivy, mencoba bernegosiasi. ”Jadi aku boleh kan pulang sama Sophie?”

Austin menghela napas. Ditatapnya Ivy dengan jengkel bercampur sayang. Sepertinya hatinya mulai luluh.

”Oke,” kata Austin akhirnya. ”Tapi kamu janji ya, begitu sampai rumah kamu akan langsung telepon aku.”

”Iya, aku janji,” cetus Ivy.

Dengan janji Ivy itu, Austin pun melepaskan kami pergi.

Tapi tidak sebelum dia berbicara padaku.

”Lo harus benar-benar berhati-hati bawa motornya,” kata Austin memperingatkan. ”Jangan sampai jatuh.”

”Nggak bakal jatuh kok,” kataku yakin. ”Gue kan nggak kalah walaupun dibandingin sama pembalap profesional.”

Kalimat terakhirku langsung membuat Austin waswas. ”Nggak usah berlagak kayak pembalap profesional,” katanya. ”Lo akan boncengin Ivy, jadi nggak boleh kebutkebutan. Lain halnya kalau lo sendiri. Mau lo ngebut sampai ke Samudra Atlantik juga gue nggak akan peduli.”

Siapa juga yang mau ngebut sampai ke Samudra Atlantik? Sebelum Austin menyuruhku ngebut sampai ke samudra lainnya, Ivy buru-buru menyeretku pergi.

Untuk menyenangkan Austin, meskipun dia tidak bisa melihatnya, aku mengendarai motorku dengan sepelan mungkin—begitu pelannya sampai-sampai Ivy menjadi gerah sendiri.

”Soph, lo pelan amat sih bawa motornya?” omel Ivy. ”Bahkan orang yang jalan kaki aja lebih cepat dari kita.”

”Kan biar aman,” kataku. ”Bisa berabe kalau kita jatuh beneran. Nanti gue direbus, lagi, sama Austin.”

Aku yakin, begitu mereka bertemu, hal pertama yang akan dilakukan Austin adalah memeriksa Ivy dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kalau sampai ada lecet sedikit saja, meski harus sampai ke dasar neraka sekalipun, Austin pasti akan mengejarku.

Mendekati rumah Ivy, aku bersorak dalam hati ketika melihat mobil Troy teparkir di depan. Baru saja motorku berhenti, terdengar lagu SHINee—yang menandakan ponsel Ivy berbunyi. Tidak perlu jadi peramal untuk tahu yang meneleponnya adalah Austin. Sebegitu khawatirnyakah Austin padanya, sehingga dia bahkan tidak bisa menunggu Ivy meneleponnya? Toh Ivy sudah berjanji akan meneleponnya. Ivy begitu sibuk dengan ponselnya sehingga tidak menyapa Troy yang berpapasan dengannya di pintu pagar. Troy menyempatkan diri untuk mengacak-acak rambut Ivy, membuat Ivy mendelik sebal padanya.

”Hai, Sophie,” sapa Troy begitu melihatku.

”Hai, Troy,” balasku sambil tersenyum penuh cinta. ”Kok tumben lo yang ngantar Ivy pulang?” tanya Troy. ”Soalnya kami mau ngerjain tugas,” jawabku.

”Oh,” tanggap Troy. ”Gue pikir si brengsek itu udah malas nganterin Ivy pulang.”

”Nggak kok,” kataku. ”Malah dia maksa banget mau nganterin Ivy pulang. Dia khawatir kalau Ivy pulang naik motor.”

Entah kenapa, aku malah membela Austin. Tidak apa-apa deh. Anggap saja itu untuk membantu Ivy agar Troy mau sepenuhnya merestui hubungannya dengan Austin.

Troy tampak cukup terkesan dengan kekhawatiran Austin. Meski begitu dia tidak mengatakan apa-apa untuk memujinya.

”Ya udah deh,” kata Troy sambil beranjak mendekati mobilnya. ”Selamat ngerjain tugas ya.”

”Tunggu,” cegahku, sebelum Troy sempat membuka pintu mobil. ”Boleh gue nanya satu hal sama lo?”

Tentu, yang ingin kutanyakan adalah soal Natasha. Meski sudah mendengar jawabannya dari Ivy, aku baru bisa yakin setelah mendengar jawabannya dari Troy sendiri. ”Boleh,” kata Troy. ”Mau nanya apa?”

”Apa benar lo nggak balikan sama Natasha?”

Troy malah tersenyum mendengar pertanyaanku. ”Sepertinya lo dan Ivy tertarik pada hal yang sama,” komentarnya. ”Dan seperti jawaban gue ke Ivy: nggak, gue nggak balikan  sama  Natasha.  Tapi  gue  emang  cukup  sering ketemuan sama dia.”

”Maksud lo, setelah pertemuan kalian di Restoran Eureka itu?”

Sebenarnya, yang kumaksud adalah pertemuan kedua mereka di Restoran Eureka, saat aku mengawasi mereka. Tapi karena Troy tidak tahu aku sudah tahu soal pertemuan kedua mereka itu, tentu mengira yang kumaksud adalah pertemuan pertama mereka di sana—pertemuan yang tak disengaja.

”Ya,” sahut Troy. ”Kami memutuskan bahwa lebih baik kami temenan, daripada harus jadi kayak orang asing.”

Setelah mendengar jawaban Troy sendiri, apakah kini aku bisa yakin? Mungkin, kalau saja Troy tidak menambahkan soal pertemuannya dengan Natasha yang ternyata sudah beberapa kali. Kalau memang mereka tidak berniat untuk berpacaran kembali, untuk apa mereka bertemu? Janganjangan, keputusan mereka untuk berteman hanya taktik untuk memulai kembali hubungan mereka.

Aku jadi tidak bisa berkonsentrasi mengerjakan tugas kelompok biologi. Untungnya, setelah kuceritakan alasannya, Ivy bisa mengerti. Dia yang menyelesaikan tugas kami, dan dengan cepat pula.

Tidak ingin tugas mata-mataku kembali terhambat perasaanku, sepulangnya dari rumah Ivy, aku memutuskan untuk berangkat ke SMA Soteria. Hari memang sudah sore, tapi siapa tahu Edgar masih berada di sekolah.

Sayangnya, aku terlambat beberapa menit. Yang kulihat sesampainya aku di SMA Soteria adalah mobil Edgar meluncur keluar dari pelataran parkir sekolah. Tadinya aku ingin putar balik dan pulang saja, tapi setelah kupikir-pikir, ini kesempatan bagus untuk menguntitnya. Memang sih, besar kemungkinan kalau yang ditujunya adalah rumahnya, tapi itu juga tidak buruk. Bukan berarti aku mau bertandang ke rumahnya. Sekadar tahu saja.

Tapi rupanya Edgar tidak menuju rumahnya. Dia berhenti di depan warnet dan memarkir mobilnya di sana. Mulanya kupikir dia mau masuk ke warnet itu, tapi ternyata malah berjalan ke pohon besar yang berada tidak jauh dari sana. Kalau aku tidak melihat cowok yang sedang berjongkok di bawah pohon besar itu dan segera berdiri begitu melihat Edgar, aku pasti menyangka Edgar sudah kebelet dan mau pipis di sana.

Aku mengintip dari balik pohon lain. Edgar berbicara serius dengan cowok itu. Sayangnya, karena jarak kami agak jauh, aku tidak bisa mendengar isi pembicaraan mereka. Pembicaraan tersebut berlangsung singkat, diwarnai kemarahan Edgar dan ketakutan cowok itu. Bahkan setelah Edgar pergi meninggalkannya pun, ketakutan masih saja menguasai cowok itu.

Ketika cowok itu berjalan ke arahku, aku segera keluar dari balik pohon—berniat untuk mengajaknya berbicara dan menyelidiki identitasnya.

”Hai,” sapaku pada cowok itu. ”Lo anak SMA Emerald, ya?”

Tentu saja cowok itu bukan anak SMA Emerald. Aku hanya memancingnya supaya dia meralatku dan memberitahukanku nama sekolahnya. Dia sempat bingung sejenak, mungkin tidak fokus karena ketakutannya, sebelum akhirnya mampu menyerap pertanyaanku.

”Bukan,” sahut cowok itu. ”Gue anak SMA Vilmaris.” Aku begitu kaget mendapati cowok itu anak SMA

Vilmaris, sampai-sampai aku lupa menanyakan namanya. Begitu ingat, dia sudah menghilang bersama angin.

Kenapa anak SMA Vilmaris bisa berurusan dengan Edgar? Sudah begitu, Edgar membuatnya ketakutan, lagi. Apa ini cara yang dimiliki Edgar, memanfaatkan cowok itu untuk memecah belah geng Troy? Tapi kalau benar begitu, kenapa cowok itu mau-mau saja dimanfaatkan Edgar? Apa Edgar mengancamnya, yang menjelaskan ketakutan cowok itu? Dan yang lebih penting lagi, cowok itu hanya sekadar anak SMA Vilmaris, atau juga anggota geng Troy? Kalau dia memang anggota geng Troy, berarti dia sudah mengkhianati Troy.

Rentetan pertanyaan itu mengisi benakku, sehingga aku tidak menyadari ada yang berdiri di belakangku. Dan ketika aku berbalik, aku berhadapan langsung dengan Edgar. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊