menu

Bad Boys #2 Troy's Spy Bab 06

Mode Malam
Bab 06

SENYUM langsung menghilang sepenuhnya dari wajah Natasha sementara dia bertatapan dengan Troy. Ekspresi keduanya bisa dibilang sama—mata mereka membesar penuh keterkejutan.

Sorot mata Natasha perlahan berubah menjadi sorot mata penuh kerinduan. Dia terlihat senang sekaligus sedih. Mungkin dia senang karena bisa bertemu kembali dengan Troy, dan sedih karena mengingat perlakuan Troy padanya dulu.

Troy lebih dulu menguasai diri. Dia berdeham dan berkata, ”Hai, Natasha.” Natasha membuka mulut, seakan bermaksud membalas sapaan Troy, tapi tak ada suara yang keluar. Jadi dia menutup mulut lagi dan hanya terus menatap Troy. Mungkin dia mendadak bisu.

”Sama siapa?” tanya Troy. Kupikir dia tidak benar-benar ingin tahu dan berbasa-basi saja.

”Sama Ellen dan Portia,” jawab Natasha. Ternyata dia tidak bisu. Tapi suaranya pelan sekali sampai nyaris menyerupai bisikan. Aku bahkan tidak yakin Troy mendengarnya, tapi ternyata suara Natasha sampai juga ke telinganya.

”Oh,” tanggap Troy singkat. Apa dia merasa lega karena Natasha tidak sedang bersama cowok? Entahlah, tapi yang jelas sepertinya dia mengenal kedua cewek yang namanya disebutkan Natasha.

Aku tidak bisa membiarkan pertemuan ini berlangsung lebih lama lagi. Aku bahkan sudah berbaik hati dengan memberi sedikit waktu pada mereka untuk saling berbicara. Kalau aku tidak ingin Troy menyuruhku pulang naik taksi sementara dia kembali merajut kasih dengan Natasha, aku harus segera mengambil tindakan.

”Troy, gue harus pulang sekarang,” kataku pada Troy. Untuk pertama kalinya sejak bertemu kembali dengan

Natasha, Troy berpaling padaku. Dia sempat terlihat tidak fokus, tapi menyahut, ”Oke.”

”Tunggu!” cegah Natasha panik. Dia sampai memegang lengan Troy, mungkin takut Troy akan tiba-tiba menghilang. ”Troy, bisa aku bicara sama kamu sebentar?”

Troy terlihat ragu. Aku memanfaatkan keraguan Troy untuk membuatnya menolak permintaan Natasha.

”Jason sendirian di rumah,” tambahku. Padahal, meski Jason sendirian di Papua Nugini pun, aku akan cuek saja. Toh dia memang lebih suka sendirian daripada bersamaku, yang hanya bisa mengganggunya.

”Please,” desak Natasha. Dia tidak melepaskan tangannya dari lengan Troy. ”Lima menit aja.”

Troy menatapku dan Natasha bergantian, mungkin bingung permintaan siapa yang harus diturutinya. Setelah beberapa saat, dia pun mendesah. Sepertinya dia sudah menentukan pilihannya.

”Sebentar ya, Sophie,” kata Troy, membuatku langsung lemas. Dia mengajak Natasha berjalan ke arah ruang VIP yang tadi kami tempati.

Tidak... ini tidak mungkin! Troy tidak boleh memilih Natasha. Pokoknya tidak boleh! Seharusnya dia mengantarku pulang, dan bukannya berbicara pada mantan pacarnya yang tidak bisa move on itu.

Merasa akan jatuh, aku pun buru-buru bersandar kembali di dinding. Aku berusaha menenangkan diri.

Baiklah, akan kuberikan mereka waktu lima menit. Kalau sampai lima menit mereka belum juga kembali, aku akan masuk ke ruangan itu dan menyeret Troy ke luar dari sana.

Tapi tidak sampai lima menit, Troy sudah kembali. Dia hanya sendirian, tanpa Natasha. Apa pembicaraan mereka tidak berjalan lancar? Kuharap begitu.

Troy segera mengajakku pulang. Tidak seperti saat pertama kali dia mengantarku pulang dulu, kali ini suasana di mobil sangat sunyi. Dilihat dari kekalutan di wajah Troy, aku tahu dia sedang memikirkan Natasha. Sebenarnya aku ingin menanyakan apa yang mereka bicarakan tadi, tapi takut mendengar jawabannya.

Setibanya di rumah, aku mendapati Jason sedang menonton film di ruang keluarga dalam keadaan gelap. Aku menyalakan lampu, namun ia segera memprotes. Tanpa memedulikan protesnya, aku mendudukkan diriku di sebelahnya. Kuraup popcorn dari mangkuk di pangkuannya. Meski sudah kenyang, aku berharap makan popcorn setidaknya bisa meredakan kegelisahanku yang diakibatkan pertemuan dengan Natasha tadi. Harapan yang sia-sia, aku tahu.

”Tadi gue dan Troy ketemu sama Natasha.” Aku memutuskan untuk berbagi kegelisahanku dengan Jason, biar dia gelisah juga. Setidaknya aku tidak gelisah sendirian.

Jason tampak terkejut. Untuk sementara film yang sedang ditontonnya terlupakan olehnya. Dia malah lebih tertarik mendengarkan ceritaku. Ini pasti efek Natasha. ”Kok bisa?” selidik Jason. ”Terus apa yang terjadi?” ”Mereka bicara berdua,” kataku. ”Tapi gue nggak tahu

apa yang mereka bicarakan, dan gue juga takut untuk menanyakannya sama Troy.”

”Harusnya ditanya aja, lagi,” kata Jason.

”Ogah!” tukasku. ”Gimana kalau nanti jawabannya ternyata malah membuat gue patah hati? Kalau gue patah hati, berarti lo juga akan patah hati.”

”Tapi sekarang lo malah jadi penasaran, kan?” ”Mendingan penasaran daripada patah hati.”

”Kalau udah penasaran terus ujung-ujungnya patah hati juga?”

Aku melempar popcorn yang masih tersisa di tanganku ke muka Jason. ”Kok lo malah nyumpahin gue patah hati sih?” sungutku.

”Sophie ah! Berantakan nih,” omel Jason. Dia memunguti popcorn yang jatuh ke lantai dan meletakkannya di meja kopi, untuk dibuang belakangan. ”Gue nggak nyumpahin lo patah hati. Tapi kan lebih enak kalau lo tahu apa yang mereka bicarakan daripada penasaran begini.”

Aku tidak mau mengakuinya pada Jason, tapi agak menyesal juga karena tidak menanyakannya pada Troy. Pembicaraannya dengan Natasha kan cuma berlangsung kurang dari lima menit, jadi seharusnya tidak ada hal yang bisa membuatku patah hati. Mungkin Troy menceritakannya pada Ivy. Aku akan mencoba menanyakannya pada Ivy di sekolah besok.

* * *

Dengan langkah tersaruk-saruk aku memasuki kelas X-5— kelasku. Mataku rasanya berat sekali. Tadi malam aku nyaris tidak tidur—terima kasih pada Natasha.

Ivy sudah duduk di bangkunya. Wajahnya terlihat bete.

”Kenapa lo?” tanyaku sembari melemparkan tasku ke meja dan duduk di bangkuku.

”Gue bertengkar sama Austin,” sahut Ivy. ”Gara-gara tadi malam?” tebakku.

Ivy mengangguk. ”Gue marah sama dia karena bawabawa Natasha,” katanya. ”Bukannya sadar, dia justru balik marah sama gue. Dia merasa nggak adil karena Troy boleh mengonfrontasinya soal gue, sedangkan dia nggak boleh mengonfrontasi Troy soal Natasha. Padahal kan seharusnya kami fokus untuk membuat Troy bisa sepenuhnya merestui hubungan kami. Tapi lihat, apa yang dilakukannya? Dia merusak makan malam itu dan pergi begitu aja. Benar-benar bikin gue kesal. Jadi tadi malam pas pulang gue sengaja diemin dia sepanjang jalan. Gue juga sengaja nggak ngangkat teleponnya, meski dia nelepon gue berkali-kali.”

”Terus tadi lo berangkat sama siapa? Sama Troy?” tanyaku, karena biasanya Ivy diantar-jemput Austin ke sekolah.

”Gue naik ojek,” kata Ivy. ”Gue nggak mungkin berangkat sama Troy, karena bisa-bisa dia tahu gue bertengkar sama Austin.”

”Kenapa lo nggak minta jemput sama gue aja?” Sok sekali aku menawarkan diri untuk menjemputnya, padahal aku sendiri bangun kesiangan. Untung saja aku tidak sampai telat.

”Gue kan udah nelepon lo tadi, tapi nggak lo angkat,” kata Ivy.

Oh iya, aku baru ingat tadi Ivy meneleponku. Tapi aku tidak mengangkatnya karena masih sibuk mengumpulkan nyawa.

”Troy cerita sesuatu nggak ke lo?” tanyaku tiba-tiba. ”Nggak,” sahut Ivy. ”Tadi malam kan gue langsung me-

ngurung diri di kamar. Terus tadi juga gue nggak sempat ngomong banyak sama Troy.”

”Berarti dia nggak cerita ke lo soal tadi malam kami ketemu sama Natasha?” tanyaku lagi.

Ivy melongo. ”Serius lo?” tuntutnya. ”Natasha ada di restoran itu juga?”

”Kebetulan yang menyebalkan, kan?” dengusku. ”Dia mengambil kesempatan itu untuk bicara berdua sama Troy. Tadinya gue pikir Troy bakal cerita ke lo apa yang dibicarakannya sama Natasha.” ”Paling mereka bertukar kabar aja,” tebak Ivy.

”Model Natasha cuma bertukar kabar?” cemoohku. ”Gue malah lebih percaya kalau dia dengan genitnya minta balikan sama Troy.”

”Kayaknya nggak mungkin deh kalau Natasha minta balikan sama Troy,” kata Ivy ragu.

”Kenapa nggak mungkin?” tantangku. ”Lo kan tahu Natasha masih ngarep banget sama Troy.”

”Memang sih.” Ivy setuju. ”Tapi kayaknya aneh aja kalau setelah apa yang dilakukan Troy padanya, Natasha masih mau balikan sama dia.”

Memang aneh, tapi untuk Natasha, mungkin saja dilakukan, kan? Sebenarnya aku ingin memuaskan diri dengan mengumpat Natasha, tapi sepertinya energiku terkuras habis. Mungkin ini karena aku kurang tidur. Sekali lagi, terima kasih pada Natasha.

”Gue takut, Vy,” gumamku. ”Gue takut Troy akan balikan sama Natasha. Bisa hancur hati gue.”

”Nggaklah,  Soph,”  kata  Ivy  menenangkanku.  ”Lagian kenapa sih lo bisa berpikir Troy akan balikan sama Natasha?”

”Habisnya setelah lo dan Austin pulang tadi malam, gue sempat omongin Natasha sama Troy,” kataku. ”Dari katakata Troy, gue nangkap kesan seolah-olah dia masih suka sama Natasha.”

”Dia bahkan nggak pernah berusaha menghubungi Natasha lagi,” kata Ivy. ”Jadi mana mungkin dia masih mencintainya?”

”Mungkin dia mengira dirinya udah melupakan Natasha,” dugaku. ”Tapi setelah ketemu lagi tadi malam, dia pun sadar dia masih menyukai Natasha.”

”Itu kan dugaan lo aja,” tukas Ivy.

Bagaimana kalau dugaanku itu memang benar? Apalagi semua tanda mengarah ke situ.

”Kalau Troy omongin Natasha ke lo, lo langsung kasih tahu gue ya, Vy,” pintaku.

”Pasti,” janji Ivy. Lalu setelah mengatakan itu, tiba-tiba saja dia membeku. Tatapannya terpaku ke belakangku. Penasaran, aku pun menoleh ke belakang, dan melihat Austin berjalan memasuki kelas.

Ivy langsung melengos. Dia mengarahkan tatapannya ke mana pun, kecuali ke Austin. Tapi itu tidak membuat Austin gentar, karena buktinya dia terus berjalan sampai tiba di dekat kami.

”Bisa lo kasih kami privasi sebentar?” pinta Austin padaku.

Barulah Ivy mengarahkan tatapannya ke Austin. Itu juga untuk memelototinya. ”Jangan ngusir-ngusir Sophie!” bentaknya.

Ya, jangan ngusir-ngusir Sophie! Enak aja lo mau ngusir gue, sungutku dalam hati.

Jadi aku tetap di tempatku. Austin tampak ingin melubangi kepalaku karena aku tidak memenuhi permintaannya. Tapi akhirnya dia mengalah dan duduk di bangku di depan Ivy—menghadap ke arah Ivy tentu saja.

”Kenapa kamu nggak ngangkat teleponku?” tanya Austin.

”Karena nggak ada yang perlu kita omongin,” kata Ivy judes.

”Aku tahu kamu marah sama aku.” ”Baguslah kalau kamu tahu.”

”Kuakui aku memang salah,” kata Austin. ”Aku hanya sedang emosi. Lain kali aku akan mencoba lebih menahan diri. Jadi maafin aku ya, Vy.”

Ivy tampak bimbang. Sepertinya kemarahannya pada Austin mulai surut, tapi dia gengsi kalau harus memaafkan Austin secepat itu. Jadi dia lebih memilih menunduk.

Austin menyentuh dagu Ivy, lalu mengangkat kepala cewek itu hingga mata mereka kembali sejajar. ”Ivy Cornelia,” panggilnya. ”Kamu mau kan, maafin aku?”

Ditatap selembut itu, ditambah dengan suara yang tidak kalah lembutnya, pastilah Ivy luluh. Jangankan Ivy, aku sendiri juga akan rela diusir.

Benar saja. Senyum mulai terbit di sudut bibir Ivy. Austin pasti menganggapnya menggemaskan, dan menyayangkan kenapa mereka sedang berada di sekolah, sehingga dia tidak bisa menciumnya—apalagi ada penonton yang menyaksikan dari tempat duduk VIP seperti aku. ”Nanti kita ke kantin bareng, ya,” kata Austin, dan Ivy pun mengangguk.

Sepeninggal Austin, aku langsung menyikut Ivy. ”Jangan mentang-mentang cowok lo ganteng, lo jadi cepat luluh begitu dong sama dia,” omelku.

Ivy nyengir. ”Habis gue nggak bisa marah lama-lama sama dia.”

Aku berdecak. Ivy sudah terlihat ceria kembali sehingga aku tidak tega mengungkit soal Natasha lagi padanya. Tadinya aku ingin meminta Austin lebih memperhatikan Natasha—terutama agar adiknya tidak mendekati Troy lagi—tapi aku tidak ingin menambah masalah Ivy.

Untuk sementara aku memutuskan melupakan soal Natasha. Lebih baik aku kembali pada tugasku sebagai mata-mata Troy. Jadi sore itu aku kembali berada di SMA Soteria.

Ketika aku selesai memarkir motor di pelataran parkir sekolah dan menghampiri mobil Edgar, aku merasa ada seseorang yang memanggil namaku. Aku menoleh, dan langsung tercengang.

Astaga, itu Natasha lagi! Dosa apa aku hingga harus bertemu dengannya dua hari berturut-turut seperti ini? Baru saja aku memutuskan untuk melupakan soal dia, eh dia malah menampakkan dirinya lagi di depanku.

Tampaknya Natasha baru akan masuk ke Honda Jazz pink-nya yang teparkir tidak jauh dari mobil Edgar. Tapi begitu melihatku, dia mengurungkan niatnya dan memilih untuk menghampiriku.

”Kita ketemu lagi,” kata cewek itu senang, padahal aku sama sekali tidak senang. ”Kok lo bisa ada di sini?”

”Adik gue mau sekolah di sini.” Jason pasti kegirangan setengah mati kalau tahu aku mengungkit soal dia pada Natasha.

”Dia nggak sekolah di SMA Emerald?” tanya Natasha. ”Emangnya hanya karena gue sekolah di SMA Emerald,

lantas dia harus ngikut gue?” aku membalikkan, agak judes. ”Lagian lo sendiri juga nggak sekolah di SMA Emerald, padahal kakak lo sekolah di sana.”

”SMA Emerald terlalu jauh dari rumah gue,” kata Natasha. ”Gue malas kalau harus nyetir jauh-jauh.”

Padahal Natasha kan naik mobil. Bagaimana dengan murid-murid yang tidak seberuntung dirinya, yang harus naik angkutan umum ke sekolah? Seperti aku pas SMP, misalnya. Sekolahku dulu jauh sekali dari rumahku. Lagi pula dia kan bisa nebeng Austin kalau memang malas menyetir jauh-jauh. Atau mungkin kalau dia nebeng Austin, maka dia tidak akan dibelikan mobil. Dasar cewek manja yang licik!

Topik tentang sekolah langsung terlupakan saat Natasha bertanya, ”Tadi malam lo nge-date ya sama Troy?”

”Iya,” jawabku cepat dan tanpa ragu. Dan merasa Natasha tidak akan tahu aku berbohong, aku menambahkan, ”Gue emang lagi dekat sama dia.”

Dengan puas aku menyaksikan wajah Natasha berubah sayu. Tapi dia berusaha menutupinya dengan tersenyum. ”Sejak kapan?” tanya Natasha, seakan menyelidiki apa-

kah benar aku sedang dekat dengan Troy.

”Udah lama,” jawabku. Lalu untuk menghindari Natasha bertanya kenapa aku dan Troy tidak juga berpacaran padahal kami sudah lama dekat, aku berkata, ”Karena itu, boleh dong gue tanya sama lo apa yang kalian bicarakan tadi malam?” Tidak dari Troy dan Ivy, aku kan bisa mendapatkan jawabannya dari Natasha.

”Dalam waktu singkat begitu, kami cuma bertukar kabar,” kata Natasha, membenarkan tebakan Ivy. ”Kami juga janjian untuk ketemu lagi di sana malam ini.”

”Apa?” ceplosku kaget. ”Buat apa? Nggak ada lagi yang perlu kalian bicarakan. Hubungan kalian kan udah berakhir.”

Natasha sempat kaget dengan kata-kataku yang blakblakan, tapi karena setahunya aku sedang dekat dengan Troy, tatapannya pun berubah mengerti. ”Sophie,” katanya. ”Lo suka ya sama Troy?”

Aku tertawa sinis. ”Suka?” ulangku. Aku paling benci kalau ada yang meremehkan perasaan yang kumiliki pada Troy selama tiga setengah tahun ini dan menganggapnya sebagai perasaan suka belaka. ”Lebih dari sekadar suka, gue cinta mati sama dia.”

”Bukan cuma lo yang cinta mati sama dia,” kata Natasha.

Keterlaluan. Nih cewek sudah menabuh genderang perang padaku.

”Lo nggak tahu gimana sakitnya saat lo mencintai seseorang dan orang itu malah mencampakkan lo begitu aja,” lanjut Natasha. Matanya mulai berkaca-kaca. Cih, apa dipikirnya kalau dia menangis maka aku akan kasihan padanya?

”Justru itu,” tandasku. ”Emangnya lo mau mengalaminya untuk yang kedua kalinya?”

”Troy kan udah tahu gue adik Austin,” kata Natasha. ”Jadi dia nggak akan mencampakkan gue lagi.”

”Nggak!” gelengku kuat-kuat. ”Pokoknya nggak boleh! Lo harus ngebatalin pertemuan kalian malam ini. Batalin!”

Natasha tersenyum sedih. ”Maaf, Sophie,” katanya. ”Untuk hal lain, mungkin gue mau mengalah, tapi nggak untuk Troy.” Setelah itu dia langsung berbalik menuju mobilnya. ”Lo egois, tahu nggak?” teriakku marah pada punggung

Natasha. ”Egois!”

Aku tidak peduli pada tatapan bingung yang diarahkan beberapa orang yang ada di pelataran parkir—termasuk pria berkumis lebat itu yang seperti biasa muncul lagi— karena sudah berteriak-teriak seperti itu. Malah ingin rasanya aku mengejar Natasha dan menjambaknya. Tapi aku tidak ingin Troy tahu aku bertindak sekasar itu pada mantan pacarnya, karena siapa tahu saja Natasha akan mengadu padanya untuk menjelek-jelekkan namaku.

Aku menatap mobil Edgar tanpa minat. Aku tidak bisa menemuinya dengan suasana hati seperti ini. Bisa-bisa kemarahanku pada Natasha malah kulampiaskan pada Edgar. Jadi aku memutuskan untuk kembali ke motorku dan bergegas pulang.

* * *

Natasha salah kalau menyangka aku akan berpangku tangan saja. Meskipun tidak bisa membuatnya membatalkan pertemuannya dengan Troy, sebagai gantinya, aku bisa mengawasi pertemuan mereka.

Masalahnya, aku tidak tahu waktu pertemuan mereka. Tebakanku pukul tujuh malam, sama dengan waktu pertemuan kami dengan Austin tadi malam.

Sebagai persiapan, aku memakai serbahitam—mulai dari sepatu, celana jins, kaus, jaket, sampai dengan topi, semuanya hitam. Tadinya aku ingin melengkapinya dengan kacamata hitam, tapi masa aku memakai kacamata hitam malam-malam?

Di restoran Eureka, aku tidak ke dalam, melainkan hanya mengintip dari luar melalui kaca. Tadinya aku khawatir saja kalau Troy dan Natasha akan makan di ruang VIP—yang artinya aku tidak bisa mengawasi pertemuan mereka—tapi kemudian aku melihat Natasha duduk sendirian di meja yang berada di tengah-tengah restoran. Berkali-kali dia melihat jam tangannya, mungkin takut Troy batal datang. Semoga saja Troy memang tidak datang. Aku akan terbahak-bahak melihat Natasha menunggu Troy sampai lumutan di restoran ini. Tapi sayangnya keinginanku untuk melihat Natasha lumutan tidak kesampaian, karena beberapa saat kemudian aku melihat Troy memasuki restoran. Natasha langsung berdiri saat menyadari kehadiran Troy.

Wajahnya tampak luar biasa lega. Setelah duduk dan memesan makanan, mereka pun mulai berbicara. Pembicaraan yang serius, kalau dilihat dari wajah mereka. Andai saja aku bisa membaca gerak bibir...

Apa lebih baik aku masuk dan duduk di meja yang berada di dekat meja mereka saja, ya? Dengan begitu aku akan bisa menguping pembicaraan mereka. Tapi tidak, itu terlalu berisiko.

Makanan mereka datang, dan mereka pun lanjut berbicara sambil makan. Perutku jadi keroncongan melihatnya. Seharusnya sebelum berangkat tadi aku makan dulu.

”Permisi, Mbak.” Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang. Aku kaget sekali sampai-sampai lidah topiku membentur kaca. Aku menoleh untuk melihat siapa yang mengagetkanku, dan ternyata orang itu pramusaji genit yang kemarin malam mengantar kami ke ruang VIP. Apa dia mengenaliku? Sepertinya tidak. ”Apa Mbak mau makan di sini?”

Aku pasti terlihat mencurigakan, makanya si genit bertanya begitu. ”Iya,” dustaku. ”Tapi saya mau nunggu teman saya dulu.”

”Mbak bisa nunggu di dalam aja,” kata pramusaji itu.

Ah, bawel banget sih! Apa dia tidak bisa lihat aku tidak mau masuk? Aku tahu dia bermaksud baik, tapi tetap saja menggangguku.

”Nggak apa-apa,” kataku. ”Biar saya nunggu di luar aja.”

Akhirnya pramusaji itu pergi juga. Aku kembali mengawasi Troy dan Natasha. Rasanya lama sekali mereka makan. Begitu selesai makan pun, mereka masih saja berbicara. Gawat, bisa-bisa aku yang lumutan.

Setelah dua jam, barulah Troy dan Natasha keluar dari restoran. Natasha berjalan sambil menunduk, agak sedikit di belakang Troy. Troy sampai berkali-kali menoleh ke belakang untuk memastikan Natasha masih mengikutinya.

Mungkin Natasha masih ingin berada di restoran itu, sebab dua jam dirasanya belum cukup baginya. Aku juga selalu merasa seperti itu setiap kali bersama Troy. Berapa jam pun rasanya tidak pernah cukup.

Atau mungkin ada hal lain yang tidak memuaskan Natasha, misalnya hasil pembicaraan mereka yang dianggapnya tidak sesuai dengan keinginannya.

Troy mengantar Natasha sampai ke mobilnya. Natasha tidak langsung masuk, melainkan memanfaatkan waktu yang sempit itu untuk kembali mengajak Troy berbicara. Aku sampai gerah melihat betapa sulitnya dia melepaskan diri dari Troy.

Aku menutup mata sejenak, berharap ketika aku membukanya kembali Natasha sudah masuk ke mobilnya dan pergi selamanya dari hidup Troy. Tapi kenyataannya, aku justru melihat Natasha menangis.

Dalam pelukan Troy. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊