menu

Bad Boys #2 Troy's Spy Bab 05

Mode Malam
Bab 05

KARENA sejak awal aku tahu kehadiranku tidak diinginkan, aku bisa memaklumi tatapan tidak senang Troy saat melihatku. Aku tersenyum dan menyapanya, tapi dia hanya menanggapiku seadanya.

Di mobil, aku duduk di jok belakang—di belakang Ivy. Tampaknya kini bujuk rayu Ivy sedang dilancarkannya pada Troy.

”Troy, kita batalin aja ya makan malamnya,” bujuk Ivy. ”Kita kan telanjur berangkat, masa mau dibatalin?”

tanggap Troy. ”Tenang ajalah, Vy. Apa sih yang lo takutin?” ”Gue takut lo berantem sama Austin,” aku Ivy.

”Kalau gue mau berantem sama dia, gue nggak bakal ngajakin makan malam,” kata Troy.

”Berarti lo janji ya lo nggak bakal berantem sama Austin?”

”Itu sih tergantung Austin-nya.”

”Tuh, kan!” sungut Ivy. ”Jangan begitu dong, Troy! Lo mah bikin gue takut. Lagian lo mau nanya-nanya apaan sih ke Austin? Lo kan bisa tanya ke gue aja.”

”Gue nggak mau dengar jawabannya dari mulut lo, tapi langsung dari mulut Austin,” kata Troy.

”Apa bedanya?” tuntut Ivy.

Troy tampak mulai gerah dengan perlawanan Ivy. ”Udah deh, lo jangan bawel,” omelnya. ”Pokoknya acara makan malam ini demi kelangsungan hubungan kalian ke depannya juga.”

Kata-kata Troy sama sekali tidak bisa menenangkan Ivy, sebab kesannya seolah-olah kalau sampai ada yang salah sedikit saja dengan makan malam ini, maka Troy akan menyuruh Ivy mengakhiri hubungannya dengan Austin.

Ketika kami sampai di restoran Eureka, Troy menyuruhku dan Ivy untuk turun terlebih dulu sementara dia mencari parkir. Aku sampai harus menarik Ivy mendekati pintu masuk restoran sebab dia berjalan ogah-ogahan.

Ternyata Austin sudah datang dan menunggu di selasar restoran. Ivy langsung menghampirinya dan mereka pun sibuk berbisik-bisik—mungkin mendiskusikan cara menghadapi Troy.

Saat Troy muncul, tampak Austin dan Ivy begitu fokus satu sama lain sehingga hanya aku yang menyadari kehadirannya. Tatapan Troy turun ke tangan Austin yang menggenggam tangan Ivy, dan dia pun langsung melotot.

Si Austin juga cari masalah saja deh, pakai acara menggenggam tangan Ivy segala. Sudah tahu ada Hulk alias Troy yang siap melumatnya kapan saja.

Tanpa banyak bicara, Troy berjalan di antara Austin dan Ivy, dan dengan sengaja menabrakkan bahunya ke bahu Austin—membuat Austin terpaksa melepaskan tangannya dari tangan Ivy. Dia bahkan sampai terhuyung ke samping. Mungkin ditabrak Troy rasanya seperti ditabrak truk.

”Nggak ada pegang-pegangan tangan di depan gue,” Troy memperingatkan tanpa menoleh ke belakang.

Austin tampak luar biasa keki. Untung Ivy dengan sigap menggantikan  Troy  meminta  maaf  pada  Austin.  Tanpa memedulikan peringatan kakaknya barusan, dia malah menggenggam tangan Austin.

Aku berjalan melewati pasangan Austin-Ivy dan menyusul Troy yang sudah memasuki restoran. Sepertinya Troy sering datang ke restoran ini, dilihat dari cara pramusaji—omongomong, pramusaji itu cewek—menghampirinya dan berbincang-bincang akrab dengannya. Dengan sedikit genit, kalau boleh kutambahkan. Dia bahkan sempat mencari-cari kesempatan memegang Troy dengan memukul pelan lengannya. Seharusnya aku melaporkan pramusaji itu ke manajernya. Mana boleh dia bersikap segenit itu pada tamu, tidak peduli tamu itu ganteng dan seksi macam Troy.

Pramusaji itu mengantarkan kami ke sisi kanan restoran. Di sana berjajar beberapa ruang VIP, dan kami memasuki salah satunya. Meja untuk delapan orang, tapi saat ini hanya kami berempat yang mengisinya. Aku duduk di sebelah Troy, sementara Austin dan Ivy di seberang kami.

Sepertinya Troy sudah terlebih dulu memesan makanan, karena tidak lama kemudian beberapa jenis makanan tiba di meja kami. Ada brokoli saus tiram, udang goreng mayones, dan ayam garam. Perutku berdemo minta diisi. Selain aku, tampaknya tidak ada yang berniat mengambil makanan. Duh, aku kan tidak mungkin makan sendirian.

Suasana di ruangan ini terasa begitu... canggung. Ivy terlihat resah—matanya terus berpindah-pindah antara Troy dan Austin. Troy dan Austin sendiri justru terlihat lebih santai, meskipun bahasa tubuh mereka menandakan mereka tetap waspada, seolah kalau salah satu dari mereka lengah sedikit saja, maka yang lainnya akan segera menyerang.

”Terus terang, gue tersanjung karena lo mau repot-repot mengatur makan malam ini buat gue,” kata Austin sinis. ”Maaf mengecewakan, tapi gue mengatur makan malam ini buat Ivy, bukan buat lo,” balas Troy, tak kalah sinisnya. Jelas ini bukan awal yang baik. Mungkin karena mereka tidak bisa adu tinju di sini, mereka jadi memilih adu mulut. Aku dan Ivy berpandangan pasrah. Sepertinya kehadiranku tetap tidak bisa membuat Troy lebih menjaga sikap. Tapi mungkin seperti inilah cara Troy menjaga sikap. Kalau tidak ada aku, mungkin saat ini dia dan Austin sudah berguling-

guling di lantai sambil hantam-hantaman.

”Jadi, apa lo mau memulai proses interogasinya sekarang?” tanya Austin. ”Walau sebenarnya gue udah tahu apa yang mau lo tanyakan.”

”Oh, ya? Kalau begitu apa yang mau gue tanyakan?” tantang Troy.

”Yang pasti lo mau tahu bagaimana gue memperlakukan Ivy,”  sahut  Austin.  ”Lo  tenang  aja  soal  itu,  karena  gue memperlakukan Ivy dengan sangat baik. Lo bisa tanya sendiri ke dia.”

”Baguslah,” komentar Troy. ”Gue hanya ingin mastiin lo nggak akan bikin Ivy nangis lagi, seperti yang pernah lo lakukan dulu.”

”Tunggu, tunggu.” Austin mengangkat tangan, menyuruh Troy berhenti berbicara. ”Seperti yang pernah gue lakukan dulu? Kenapa kesannya seolah-olah cuma gue yang salah? Kalau gue nggak salah ingat, lo juga bikin dia nangis.”

”Jadi lo nyalahin gue?” tuntut Troy. ”Seenggaknya, setengahnya memang salah lo,” tandas Austin.

”Lupain aja soal yang dulu,” Ivy menengahi. ”Yang penting kan sekarang kalian nggak bikin gue nangis lagi.”

Kalau adu mulut antara Troy dan Austin terus berlanjut, Ivy mungkin akan menangis lagi. Dia tampak begitu putus asa mengharapkan kakaknya dan pacarnya berhubungan baik.

Sebenarnya Austin memiliki kartu ace yang bisa langsung membungkam Troy yaitu kenyataan bahwa Troy pernah berlutut di hadapannya dulu. Tapi mungkin Ivy sudah memberinya peringatan agar tidak mengungkit-ungkit hal tersebut.

”Lo udah ngapain aja sama Ivy?” tanya Troy tiba-tiba. Wajah Ivy langsung memerah mendengar pertanyaan

Troy. Mungkin dia teringat ciumannya dengan Austin di perpustakaan, atau ciuman-ciuman lainnya yang tidak diberitahukannya padaku.

”Maksud lo, apa gue pernah memeluk atau menciumnya, gitu?” Austin balik bertanya.

Troy langsung melotot. ”Mencium?”

Red alert. Austin baru saja mengatakan hal berbahaya. Dilihat dari cara dia mendadak mengaduh dan melirik Ivy, sepertinya Ivy diam-diam menendang kakinya di bawah meja.

”Apa lo pernah mencium Ivy?” kejar Troy. Austin dan Ivy sama-sama langsung melengos, menolak untuk menjawab pertanyaan Troy. Troy pun berpaling pada satu-satunya manusia yang tersisa di ruangan ini—aku.

Mati aku. Aku harus menjawab apa?

Aku menyempatkan diri untuk melirik Ivy dan sepertinya dia pasrah saja dengan apa yang akan kukatakan. Aku harus mengatur kata-kataku dengan hati-hati.

”Mmm... mereka kan pacaran, jadi kayaknya nggak apaapa kalau Austin mencium Ivy.”

Aku tidak tahu kenapa aku menutup mata setelah mengatakan itu. Mungkin aku takut Troy akan tiba-tiba melompat ke meja dan menerjang Austin. Tapi ketika aku membuka mata, Troy masih berada di bangkunya. Dia sedang menatap Austin dengan garang.

”Jadi itu yang lo maksud dengan memperlakukan Ivy dengan sangat baik?”

”Lantas kenapa?” cetus Austin. ”Kayak lo nggak pernah mencium adik gue aja.”

Austin ngaco. Kenapa dia harus membawa-bawa Natasha?

Troy sempat tersentak, tapi kemudian berkata, ”Ini nggak ada hubungannya dengan Natasha.”

”Tentu aja ada hubungannya,” kata Austin. ”Karena kita membicarakan adik lo, jadi bisa sekalian membicarakan adik gue juga.”

Ivy  menyentuh  lengan  Austin,  mungkin  memberinya tanda supaya berhenti membicarakan Natasha, tapi Austin tidak memedulikannya.

”Lo mau tahu dari mana gue bisa tahu lo pernah mencium Natasha?” lanjut Austin. ”Gue menanyakannya sendiri padanya, karena ingin tahu seberapa banyak dia dirugikan saat lo mencampakkannya begitu aja.”

Bayangan Troy mencium Natasha begitu menyakitkan sampai-sampai aku langsung mengusirnya jauh-jauh dari kepalaku. Rasanya aku ingin membantu Ivy mendiamkan Austin dengan mengambil ayam dari meja dan menyumpalkannya ke mulut Austin.

”Natasha sangat rapuh,” kata Austin. ”Dia nggak terbiasa disakiti. Jadi waktu lo meninggalkannya, patah hatinya benar-benar parah. Dia menangis berminggu-minggu, sempat nggak mau makan, dan sering mengurung diri di kamar. Nilai-nilainya di sekolah juga menurun drastis. Orang-orang sampai menyangka dia mengalami depresi. Gue bahkan sempat takut dia berniat bunuh diri.”

Sedalam itukah perasaan Natasha pada Troy, sampaisampai ketika Troy meninggalkannya keadaannya jadi separah itu?

”Jadi yah, gue yakin gue memperlakukan adik lo jauh lebih baik daripada lo memperlakukan adik gue,” kata Austin. ”Karena nggak seperti lo, gue masih punya hati.” Setelah itu dia langsung berdiri dan berjalan keluar ruangan. Ivy ikut berdiri. Dia sempat ragu sejenak, tapi akhirnya dengan takut-takut memutuskan pamit pada Troy dan menyusul Austin.

Kini tinggal aku berdua dengan Troy. Aku melirik Troy, dan kulihat dia hanya diam sambil memandangi bangku yang tadi diduduki Austin. Sepertinya kata-kata Austin benar-benar memengaruhinya. Aku harus melakukan sesuatu untuk mencairkan suasana.

”Wah, tinggal kita berdua deh yang harus menghabiskan semua makanan ini,” kataku dengan nada yang kubuat seceria mungkin.

Troy tidak bereaksi. Dia masih diam saja. Sepertinya aku tidak bisa mengalihkan perhatiannya ke makanan.

”Bukan salah lo kok, Troy, kalau Natasha serapuh itu,” hiburku.

Mendengar nama Natasha, barulah Troy bereaksi. ”Lo kenal Natasha?” tanyanya.

”Gue pernah ketemu dia sekali,” sahutku. Dua kali, sebenarnya, kalau menghitung pertemuan tidak sengaja kami di SMA Soteria. Tapi saat itu kan dia tidak melihatku.

Troy kembali diam sejenak, lalu tiba-tiba berkata, ”Lo juga boleh menganggap gue nggak punya hati kalau lo mau, Soph.”

Aku terperangah. ”Gue nggak pernah menganggap lo begitu,” kataku cepat-cepat. ”Lo emang meninggalkan Natasha, tapi kalau aja dia lebih kuat, keadaannya nggak akan separah itu.”

”Sebenarnya gue tahu gimana keadaannya setelah gue meninggalkannya,” kata Troy. ”Tapi meskipun tahu, gue memutuskan untuk nggak peduli. Sebab kalau sampai gue peduli, gue jadi semakin sulit melupakannya.”

Apa Troy benar-benar mencintai Natasha? Apa selama ini dia bergonta-ganti cewek untuk membantunya melupakan Natasha?

Kepalaku mendadak pusing. Aku tidak suka dengan arah pembicaraan ini. Aku tidak ingin membicarakan Natasha. Tapi jarang-jarang Troy mau mengungkapkan isi hatinya seperti ini. Kalau tidak sekarang, mungkin tidak akan ada lagi kesempatan untuk mendengar tentang Natasha langsung dari Troy. Lagi pula, Natasha kan musuhku. Untuk mengalahkan musuh, kita harus mengetahui kelemahannya terlebih dulu, kan?

”Emang gimana sih awalnya lo bisa kenal sama Natasha?” tanyaku.

”Kami punya teman yang sama,” jawab Troy. ”Waktu teman kami itu ultah, dia ngundang kami, dan di sanalah kami ketemu. Kami kenalan dan tukeran nomor HP, dan sejak saat itu kami jadi sering kontak-kontakan. Nggak lama setelah itu gue nembak dia dan kami pun jadian.”

Siapa sih teman mereka itu? Rasanya aku ingin menemuinya dan menggetok batang hidungnya dengan remote, sekadar supaya dia tahu betapa kesalnya aku padanya karena telah mempertemukan pujaan hatiku dengan cewek rapuh itu.

”Terus gimana lo bisa tahu dia adik Austin?” tanyaku lagi.

”Pas gue nganterin dia pulang,” jawab Troy. ”Udah sering gue nganterin dia pulang tanpa tahu itu rumah Austin. Tapi suatu saat kami pulang berbarengan dengan Austin, dan saat itulah gue tahu dia adik Austin. Pulang dari sana, gue langsung SMS dia. Mutusin dia.”

”Lo mutusin dia lewat SMS?” ulangku tidak percaya. Troy mengangguk. ”Gue tahu itu memang agak kejam,”

katanya. ”Gue cuma nggak ingin menemuinya lagi. Tapi dia nggak bisa mengerti, dan malah membombardir gue dengan SMS dan telepon, dan bahkan mendatangi gue. Gue memilih untuk nggak menanggapinya dan membiarkannya sampai dia capek sendiri.”

Wajar kalau Natasha tidak bisa mengerti, sebab hubungan mereka pasti sedang bahagia-bahagianya ketika Troy meninggalkannya. Sebenarnya ada hal yang membuatku penasaran sehubungan dengan hal itu, dan aku memutuskan untuk menanyakannya.

”Kalau Natasha bukan adik Austin, apa kira-kira lo masih akan jadian sama dia sampai sekarang?”

Troy mendesah. ”Mungkin,” katanya.

Cukup.  Hentikan  saja  semua  pembicaraan  tentang Natasha. Tidak ada gunanya selain menyakiti hatiku. Aku berhenti bertanya, dan Troy pun tidak mengatakan apa-apa lagi. Kami hanya diam dan tenggelam dalam pikiran masingmasing.

”Lebih baik kita makan sekarang,” kata Troy akhirnya, memecah keheningan.

Mana bisa aku makan sekarang, setelah mendengar tentang Natasha. Nafsu makanku rasanya menghilang. Tapi untuk menghargai Troy, aku memaksakan diriku untuk makan sesuap demi sesuap.

”Ayam garamnya enak,” kata Troy, sembari meletakkan sepotong ayam ke piringku. ”Cobain deh.”

Aku menggigit ayam itu, mengunyahnya, dan kemudian memekik. ”Iya, lo benar!” seruku. ”Ini enak banget!”

Troy tertawa melihat reaksiku. Aku jadi malu sendiri. Oke, ayam garamnya memang enak, tapi tampaknya aku berlebihan dalam mengekspresikannya.

Tawa Troy menular padaku. Kalau sedang malu begini, lebih baik ikut menertawakan diri sendiri. Perasaanku mulai membaik, dan aku jadi bisa menikmati makanan yang ada di meja.

”Lo sendiri gimana, Soph?” tanya Troy di tengah-tengah acara makan. ”Sejak kenal sama lo, kayaknya gue nggak pernah ngelihat lo punya pacar.”

”Habis gue kan nungguin lo,” ceplosku tanpa sadar. ”Apa?” Entah Troy tidak dengar, atau merasa salah dengar.

Aku buru-buru meralatnya. ”Cuma bercanda,” gumamku, meskipun sebenarnya aku tidak bercanda. ”Habis nggak ada cowok yang mau sama gue.”

Akan sangat menyedihkan jika itu benar, tapi untungnya tidak. Nasibku tidak semalang itu, dan Troy pun tahu itu. ”Nggak mungkin,” tukas Troy. ”Lo cantik dan menyenang-

kan. Pasti banyak cowok yang mau sama lo.”

Perasaanku langsung sepenuhnya membaik. Troy menganggapku cantik dan menyenangkan, dan itu pujian tertinggi yang pernah diberikannya padaku. Rasanya aku jadi ingin menari-nari di meja saking senangnya.

”Terus kok lo nggak mau sama gue?” tanyaku nekat. ”Lo terlalu baik buat gue,” jawab Troy.

Kok jawabannya jadi seperti alasan yang diberikan seseorang waktu mengakhiri hubungan dengan pacarnya? Dan bagaimana bisa Troy menganggapku terlalu baik untuknya? Apa itu hanya untuk menutupi kenyataan bahwa aku tidak memenuhi standar untuk bisa menjadi pacarnya?

”Cari pacar, sana,” kata Troy. ”Jangan terlalu milih.” ”Ntar kalau gue punya pacar, lo patah hati, lagi,” goda-

ku.

”Iya deh. Kalau begitu jangan punya pacar,” Troy balas menggodaku.

Aku memang tidak bisa membayangkan punya pacar lain selain Troy. Bahkan untuk jatuh cinta pada cowok lain pun rasanya aneh sekali.

”Lo niat banget ya, sampai mengatur makan malam buat Ivy segala,” kataku, berusaha mengalihkan pembicaraan sebelum Troy lagi-lagi menyuruhku mencari pacar. Kalau dia mau menjadi pacarku sih boleh-boleh saja.

”Gue cuma takut Ivy mendapat cowok yang salah,” kata Troy. ”Dari kecil Ivy bergantung banget sama gue. Ke mana pun gue pergi, dia selalu mau ngikut. Susah banget memisahkan dia dari gue. Maka itu gue juga jadi terbiasa melindungi dia. Sekarang setelah dia punya pacar, gue merasa kehilangan.”

Tiba-tiba aku tertawa. Aku tahu seharusnya aku tidak tertawa karena Troy sedang sangat serius, tapi aku tidak bisa menahan diri.

”Lo tahu nggak, lo udah kayak bokapnya aja, bukan kakaknya.”

Troy ikut tertawa. ”Lionel juga pernah bilang begitu.” ”Kalau sama adik lo aja lo kayak begitu, apalagi kalau

nanti lo punya anak cewek.”

”Makanya gue ingin anak cowok aja.”

Oh, jadi Troy ingin anak cowok. Tapi aku ingin anak cewek...

Tuh, kan! Pikiranku malah melantur ke anak segala. Padahal aku masih SMA, dan seharusnya aku lebih memikirkan sekolah. Aku bahkan tidak punya bayangan sama sekali tentang masa depanku nanti, kecuali bagian aku menikah dengan Troy. Aku baru sadar betapa dangkalnya diriku. Bagaimana aku bisa menjadi orang sukses kalau otakku isinya Troy semua? Aku harus mulai membenahi diriku. Nanti deh. Akan kulakukan kapan-kapan. Sekarang aku harus fokus menghabiskan makanan yang sudah tersaji.

Masalahnya, aku mulai kenyang. Aku terus makan hanya karena ingin memperlama waktuku bersama Troy. Aku berharap perutku kuat menampung semua makanan yang kupaksakan masuk.

”Kalau emang udah kenyang, lo nggak usah maksain makan, Soph,” kata Troy tiba-tiba. Sepertinya dia bisa melihat aku terancam jadi balon udara sekeluarnya dari restoran ini. ”Dibungkus aja.”

”Tapi dibagi dua, ya.” ”Nggak, buat lo semua aja.”

”Siapa tahu Ivy belum makan.”

Troy tidak mendebat lagi setelah aku menyebut nama Ivy, tapi dia juga tidak melewatkan kesempatan untuk mengumpat Austin. ”Gue gepengin si brengsek itu kalau sampai membuat adik gue kelaparan.”

Setelah sisa makanan dibungkus dan Troy selesai membayar, dengan berat hati aku mengikuti Troy berjalan ke luar. Rela deh aku bantu-bantu cuci piring di sini asalkan bisa tetap bersama Troy. ”Gue ke toilet dulu, ya,” kata Troy sewaktu kami melewati toilet.

”Jangan nyasar ya di dalam,” candaku. ”Ntar nggak ada yang nganterin gue pulang, lagi.”

”Kalau gue nggak keluar dalam waktu satu jam, lo kirim tim SAR aja,” balas Troy sebelum menghilang di balik pintu toilet.

Aku menunggu sembari bersandar di dinding antara toilet cowok dan toilet cewek. Ketika mendengar suara pintu toilet terbuka, aku menoleh ke arah toilet cowok, tapi ternyata pintunya masih tertutup. Aku pun berpaling ke arah toilet cewek, dan melihat seseorang melangkah ke luar dari sana—seseorang yang baru saja kami bicarakan tadi.

Natasha.

Dari sekian banyak restoran yang ada di Jakarta, cewek itu kok bisa-bisanya memilih untuk makan di restoran ini? Mungkin dulu dia sering diajak Troy makan di sini ketika mereka masih berpacaran, dan karena itu restoran ini menjadi favoritnya. Apa pun alasannya, tidak seharusnya dia berada di sini saat ini—saat Troy hanya berada beberapa langkah darinya.

Aku buru-buru membuang muka. Semoga saja Natasha tidak melihatku, atau kalaupun dia melihatku, semoga saja matanya mendadak siwer.

”Sophie?” Sial, tajam sekali sih mata Natasha! Aku terpaksa berbalik, dan melihat wajah Natasha dipenuhi senyum.

”Sophie,  kan?”  tanya  Natasha  memastikan.  ”Sahabat Ivy?”

Bukan, gue alien dari planet Venus, jawabku dalam hati.

”Udah lama ya kita nggak ketemu,” kata Natasha ramah, meskipun aku tidak menjawab pertanyaannya.

Terdengar suara pintu toilet terbuka lagi, dan kali ini Troy yang melangkah ke luar. Dia berhenti mendadak saat menyadari aku tidak sendirian.

Di depanku, Troy dan Natasha bertemu kembali. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊