menu

Bad Boys #2 Troy's Spy Bab 04

Mode Malam
Bab 04

BARU kali ini aku berada di SMA Soteria tanpa kehadiran Jason. Aku sengaja tidak mengajaknya karena dia hanya akan merepotkan. Bisa-bisa nanti dia malah akan mengacaukan tugasku.

Aku terbiasa menceritakan segala hal tentang Troy pada Jason, jadi dia pun tahu soal aku menjadi mata-mata Troy. Sebenarnya dia agak keberatan karena SMA Soteria calon sekolahnya, jadi sebagai kakaknya, seharusnya aku tidak mendukung SMA Vilmaris.

Enak saja Jason.

Tanpa memedulikan pendapat Jason, aku tetap mencari Edgar. Ternyata tidak sulit mencarinya, karena baru beberapa langkah aku memasuki pintu gerbang sekolah, aku melihat dia sedang duduk di pinggir lapangan bersama dengan beberapa cowok, yang kuduga merupakan anggota gengnya.

Merasa agak risi kalau harus menghampiri Edgar saat dia sedang bersama anggota gengnya, aku memutuskan untuk menunggu tidak jauh darinya. Untung tidak lama kemudian mereka bubar.

Aku berjalan mengikuti Edgar. Sepertinya dia menuju pelataran parkir sekolah. Tatapanku terpaku padanya sehingga aku bahkan tidak menyadari ketika ada seorang pria berkumis lebat melintas di depanku. Aku menabraknya, dan setelah meminta maaf, aku kembali mengikuti Edgar. Aku harus belajar berhati-hati. Belum apa-apa, aku sudah main tabrak saja. Kalau begini terus, bisa-bisa aku ketahuan

Edgar.

Sebenarnya bukan masalah sih. Toh aku juga bukannya sedang mengikuti Edgar secara diam-diam. Justru aku ingin dia menyadari kehadiranku. Tapi kalau suatu saat aku harus melakukan pengintaian tanpa sepengetahuannya, sedangkan aku tetap bersikap ceroboh, maka bisa gawat akibatnya.

Di pelataran parkir sekolah, Edgar berjalan mendekati Suzuki Swift silver. Melihat cowok itu akan memasuki mobil itu, aku langsung panik. 

ri. ”Edgar!” seruku, lalu langsung menekap mulutku sendi-

Aduh, bodoh sekali sih aku! Seharusnya aku tidak menyerukan nama Edgar. Kan pura-puranya aku tidak tahu siapa dia.

Tapi telanjur. Edgar membiarkan pintu mobil terbuka sementara dia membalikkan badannya dan melihat ke arahku. Wajahnya yang senantiasa jutek sempat membuatku agak keder, tapi aku tetap berjalan menghampirinya.

”Hai,” sapaku begitu tiba di dekat Edgar. ”Masih ingat gue?”

Hanya dari tatapan bingungnya saja aku tahu cowok itu tidak mengingatku. Tidak apa-apa. Tidak usah sakit hati.

”Beberapa hari lalu lo nolongin gue, pas gue mau jatuh,” aku mengingatkan Edgar.

Tetap tatapan bingung yang sama. Heran, masa semudah itu sih nih cowok melupakan cewek cantik yang baru ditolongnya beberapa hari lalu?

”Nggak apa-apa kalau lo nggak ingat,” kataku, meski dalam hati aku keki juga. ”Gue cuma ingin berterima kasih sama lo.”

”Buat apa lo berterima kasih atas hal yang bahkan nggak gue ingat?” balas Edgar ketus, sebelum akhirnya masuk ke mobil dan berlalu pergi, tanpa aku sempat mengatakan apa-apa lagi.

Sialan. Aku ditinggalkan Edgar begitu saja. Kalau bukan demi Troy, aku tidak akan mau mendekati cowok jutek nan menyebalkan macam Edgar. Buang-buang waktu saja. Lebih baik aku menggunakan waktuku untuk merayu Troy. Tapi meski setengah mati ingin mencekik Edgar, aku harus tetap bersabar.

Aku ke rumah Ivy, berniat berkeluh kesah padanya. Troy tidak ada di rumah, dan Ivy sendiri satu jam lagi ada kencan dengan Austin. Tapi aku tidak peduli. Aku tetap memaksa masuk dan menumpahkan kekesalanku padanya. Tentu saja aku tidak secara jelas menyebutkan Edgar.

”Baru kali ini gue nemuin cowok nyebelin kayak dia itu,” gerutuku begitu berada di kamar Ivy. Aku berbaring di ranjangnya sambil memeluk bantal guling.

Ivy yang sedang merias wajahnya menatapku melalui cermin meja rias. ”Siapa sih yang lo maksud?”

”Ada satu cowok,” kataku tidak jelas. ”Dia benar-benar bikin gue kesal. Tapi masalahnya, gue harus bikin dia tertarik sama gue.” Dan sebelum Ivy lagi-lagi berpikir aku berniat berpaling dari Troy, aku buru-buru menambahkan, ”Sebagai teman lho, bukan sebagai pacar.”

”Gue nggak ngerti,” kata Ivy. ”Tadi lo bilang dia cowok nyebelin, tapi kenapa lo justru mau bikin dia tertarik sama lo?”

Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Ivy tanpa membongkar semuanya, jadi untuk menghindarinya, aku balas melontarkan pertanyaan padanya. ”Kalau lo sendiri, Vy, gimana cara lo membuat cowok tertarik sama lo?”

”Gue nggak pernah mencoba membuat cowok tertarik sama gue kok,” kata Ivy santai. ”Biasanya mereka tertarik sama gue dengan sendirinya.”

Memang benar, cowok-cowok selalu tertarik pada Ivy tanpa dia perlu melakukan apa pun. Tapi menyebalkan sekali mendengar dia menyombongkan hal itu. Aku melemparkan bantal guling yang kupeluk ke arahnya. Dia menghindar, dan bantal itu hampir menyapu bersih seluruh peralatan makeup di meja rias ke lantai.

Merasa tidak terima, Ivy memungut bantal itu dari lantai, dan balas melemparku—mengenaiku tepat di mukaku. Kepalaku sampai tersentak ke belakang saking keras lemparannya. Sementara aku sibuk mengaduh, dia pun kembali pada riasan wajahnya. Sepertinya dia puas dengan hasil lemparannya.

Sepuluh menit menjelang kedatangan Austin, dengan kejam Ivy mengusirku pulang. Aku pun pulang sambil bersungut-sungut. Sepertinya kedatanganku ke rumah Ivy tidak menghasilkan apa pun kecuali membuat leherku nyaris patah. Aku bahkan tidak bertemu Troy.

* * *

Jelas, aku harus mencari cara sendiri untuk menghadapi Edgar. Aku tidak mau lagi ditinggal seperti kemarin. Jadi kali selanjutnya ke SMA Soteria, aku langsung ke pelataran parkir. Kudekati mobil Edgar, dan kutunggu pemiliknya sambil bersandar di pintu pengemudi. Dengan begini Edgar tidak akan bisa masuk mobil tanpa melewatiku. Yah, kecuali kalau dia nekat masuk melalui pintu lain dan kemudian mau bersusah payah memanjat ke jok pengemudi.

Nyaris tidak ada orang di pelataran parkir ini kecuali satpam yang berada di posnya, dan pria yang sedang mengelap motor. Ketika kuperhatikan lebih lanjut, ternyata itu pria berkumis lebat yang kutabrak kemarin. Aku langsung membuang muka, berpura-pura tidak melihatnya. Aku tidak mau dia sampai mengenaliku dan berpikir kemarin dia terlalu baik melepaskanku pergi begitu saja, lalu memutuskan untuk mengonfrontasiku sekarang.

Cuaca begitu terik, membuat keringatku mengucur deras bak air dari baju yang sedang diperas. Kerongkonganku kering kerontang, dan rasanya semakin parah ketika mendadak aku teringat iced cappuccino di Kafe 99. Aku bagaikan mengalami fatamorgana—ke mana pun aku memandang, yang kulihat adalah iced cappuccino. Lebih lama lagi dijemur seperti ini, bisa-bisa aku berubah menjadi ikan asin.

Untung tidak lama kemudian Edgar muncul. Kali ini aku tahu dia mengingatku, sebab kadar kejutekannya bertambah dua kali lipat. Tadinya kupikir orang dengan wajah jutek tidak bisa menjadi lebih jutek lagi, tapi nyatanya bisa.

”Ngapain sih lo ke sini lagi?” tuntut Edgar tidak senang.

”Gue kan udah bilang gue mau berterima kasih sama lo,” kataku, mencoba tidak terintimidasi dirinya.

”Dan bukannya gue juga udah bilang bahwa gue nggak butuh ucapan terima kasih dari lo?” Edgar membalikkan. ”Nggak bisa begitu,” sergahku. ”Gue orang yang tahu berterima kasih, jadi seenggaknya gue harus melakukan

sesuatu untuk membalas kebaikan lo itu.”

Edgar tampak begitu frustrasi. Mungkin dia berusaha mengingat kebaikan yang dilakukannya padaku, yang membuatnya harus meladeni kengototanku untuk berterima kasih.

”Oke,” desah Edgar, akhirnya sedikit melunak. ”Emangnya apa yang akan lo lakukan untuk membalas kebaikan gue itu?”

Wah, aku belum memikirkannya. Tapi ketika muka Edgar mendadak berubah menjadi iced cappuccino—efek dari fatamorgana yang belum sepenuhnya menghilang—aku pun tahu apa yang harus kulakukan.

”Gue mau traktir lo di Kafe 99.”

Edgar tertawa sinis. ”Gue nggak butuh ditraktir,” tolaknya. ”Gue punya cukup banyak duit.”

Malah pamer lagi. ”Tapi lo harus mau,” paksaku. ”Gue nggak peduli meskipun harus nyeret lo. Yang jelas lo harus mau ke Kafe 99 bareng gue.”

Semoga saja aku tidak perlu menyeret Edgar, sebab tidak akan kuat. Meskipun tubuh Edgar tidak begitu besar, tapi menyeretnya sama saja seperti menyeret seekor sapi.

Bukan berarti aku mengatai dia mirip sapi ya.

”Lo bukan anak sekolah ini, kan?” tanya Edgar tibatiba.

”Bukan,” gelengku. ”Gue anak SMA Emerald.”

Wajah Edgar langsung berubah. Dia tampak terkejut mendengar nama sekolahku. Lalu, begitu dia berhasil menguasai diri, sikapnya padaku jadi lebih kooperatif.

”Kalau lo emang maksa traktir gue, oke, gue mau ditraktir,” kata Edgar, langsung ngeloyor pergi.

Aku jadi bingung. Sebelumnya cowok itu begitu berkeras menolak traktiranku, tapi begitu mendengar nama sekolahku, mendadak dia langsung menerimanya. Apa ada sesuatu dari sekolahku yang membuatnya berubah pikiran?

Ternyata memang ya. Aku baru selesai memesan minuman untukku sendiri—tentu saja yang kupesan adalah iced cappuccino yang kuidam-idamkan sementara Edgar malah mengusir pramusaji yang menanyakan pesanannya— ketika dia menanyakan hal yang tidak kusangka. ”Jadi lo anak SMA Emerald,” kata Edgar. ”Berarti lo kenal Austin Allen, kan?”

”Tentu aja kenal,” sahutku. ”Dia kan—” Aku baru akan mengucapkan, ”pacar sahabat gue”, tapi setengah jalan mengubahnya menjadi, ”—ketua geng di sekolah gue.”

”Apa lo bisa membuat dia bicara sama gue?” tanya Edgar.

Aku mengernyit, heran. ”Kenapa lo nggak bicara sendiri sama dia?”

”Udah gue coba,” kata Edgar. ”Tapi dia menolak bicara sama gue.”

”Emang lo mau bicara apa sama dia?” selidikku.

”Itu bukan urusan lo,” sergah Edgar. ”Kalau lo bisa membuatnya bicara sama gue, itu akan jadi ucapan terima kasih yang jauh lebih baik daripada lo traktir gue kayak gini.”

Ih, apa yang salah sih dengan mentraktir?

”Adik Austin kan sekolah di SMA Soteria,” kataku. ”Jadi seharusnya lo minta tolong sama dia aja.”

”Natasha? Dia bilang dia nggak mau ikut campur,” kata Edgar. ”Dan gue nggak akan memaksanya.”

Melihat betapa pengertiannya Edgar pada penolakan Natasha untuk ikut campur, sepertinya dia menyukai—atau setidaknya pernah menyukai—Natasha. Tidak mengherankan sih. Kecantikan Natasha pasti mampu menaklukkan kejutekan Edgar. ”Siapa nama lo?” Edgar menanyakan namaku sungguh peningkatan pesat.

”Sophie,” sahutku.

”Mana HP lo?” Edgar mengulurkan tangan, meminta ponselku.

Meskipun bingung, aku memberikan ponselku pada Edgar. Dia mengetikkan sesuatu di ponselku, dan ketika ponselku kembali padaku, aku melihat sebaris nomor tertera di layarnya.

”Itu nomor HP gue.” Edgar memberikan nomor ponselnya padaku adalah peningkatan yang lebih pesat lagi. ”Gue tunggu kabar baik dari lo.” Lalu setelah itu dia langsung meninggalkanku, padahal iced cappuccino-ku baru saja datang.

Aku tidak akan mengejar cowok itu. Aku pasti sudah gila kalau lebih memilih mengejarnya daripada menikmati iced cappuccino. Lagi pula, pembicaraan kami sepertinya sudah final. Jadi aku menggeser iced cappuccino mendekatiku, menggenggam gelasnya yang berembun dengan kedua tangan, dan menatapnya dengan perasaan mendamba.

Kuletakkan bibirku di sedotan, dan ketika aku mulai menyedotnya, kurasakan cairan dingin itu menyejukkan kerongkongan. Ternyata seperti ini rasanya surga...

Nah,  sekarang  setelah  aku  segar  kembali,  aku  mulai memikirkan kata-kata Edgar tadi. Apa ya kiranya yang ingin dibicarakannya dengan Austin? Apa ada hubungannya dengan Troy? Dan apa aku harus membujuk Austin agar mau berbicara dengan Edgar? Tapi bagaimana kalau mereka malah bersatu untuk menjatuhkan Troy?

Tidak ada gunanya bertanya-tanya sendiri. Lebih baik aku meminta pendapat Lionel tentang hal ini, sekalian melaporkan hasil penyelidikanku hari ini.

”Menurut gue, Edgar mau ngajak Austin kerja sama untuk menghancurkan geng kami,” kata Lionel di telepon. ”Austin mungkin nggak tahu, dan menolak bicara sama Edgar hanya karena malas berurusan dengannya. Mungkin lo bisa mencoba membujuk Austin agar mau bicara sama Edgar. Meski kemungkinannya kecil, mungkin Austin mau membantu kita. Edgar pasti akan memberitahukan rencananya ke Austin, dan Austin bisa meneruskannya ke kita.”

”Tapi gimana kalau Austin terpengaruh dan akhirnya malah benar-benar kerja sama dengan Edgar untuk menghancurkan geng kalian?” tanyaku khawatir.

”Nggak akan,” kata Lionel yakin. ”Austin mungkin membenci Troy, tapi demi Ivy, nggak akan menyakitinya. Bahkan Ivy juga yang membuat geng kami dan geng Austin melakukan gencatan senjata.”

Kalau aku memang harus membujuk Austin untuk berbicara dengan Edgar, aku sudah harus yakin dia melakukannya untuk membantu kami. Mungkin aku akan membawa-bawa Ivy sedikit, untuk memastikan Austin tidak akan berkhianat. Masalahnya, sulit berbicara pada Austin tanpa kehadiran Ivy. Kalau tidak sedang bersamaku, Ivy pasti sedang bersama Austin—atau bahkan bersama kami berdua. Mungkin satu-satunya tempat yang bebas Ivy adalah rumah Austin. Aku tahu letak rumahnya sebab pernah mengantar Ivy ke sana. Tapi kalau aku ke sana, besar kemungkinan aku akan bertemu Natasha, padahal itu hal terakhir yang kuinginkan di muka bumi.

Akhirnya aku memutuskan untuk menemui Austin di tengah-tengah jam pelajaran. Aku izin ke toilet, padahal sebenarnya menuju kelas Austin. Di koridor yang mengarah ke  kelas  Austin,  aku  melihat  Greta  berjalan  sendirian. Sepertinya dia baru dari toilet dan akan kembali ke kelasnya. Kebetulan sekali, jadi aku bisa sekalian memintanya untuk memanggilkan Austin.

”Greta!” panggilku.

Greta menoleh dengan gaya sangat lebay. Rambutnya sampai mengayun mengikuti gerakan kepalanya. Dia mengernyit tidak senang saat mengetahui aku yang memanggilnya.

”Apa?” cetus Greta.

”Panggilin Austin dong,” pintaku.

Kernyitan Greta semakin dalam. ”Kenapa gue harus manggilin Austin?”

”Karena gue ada urusan sama dia.” ”Urusan apa?” Astaga, diminta untuk memanggilkan Austin saja kenapa sampai harus dibuat ribet begini sih?

”Urusan yang berkaitan dengan Ivy,” dustaku. ”Jadi kalau lo nggak buru-buru manggilin Austin, bisa-bisa dia bakal ngamuk sama lo.”

Dengan ancaman palsu itu, Greta pun langsung masuk ke kelasnya. Rasanya baru sebentar dia menghilang di balik pintu kelasnya, sedetik kemudian Austin sudah muncul di hadapanku.

”Ada apa dengan Ivy?” tanya Austin. Kepanikan terlihat jelas di wajahnya.

Aku sempat bengong sesaat. Apa yang sudah dikatakan Greta pada Austin sampai dia jadi panik begini?

”Nggak ada apa-apa dengan Ivy,” sahutku. ”Gue emang mau bicara sama lo, tapi nggak ada hubungannya dengan Ivy.”

Austin mendesah—setengahnya lega, dan setengahnya lagi sepertinya ingin mendampratku karena berani-beraninya membuatnya panik.

”Ada hubungannya dengan Ivy sih, sebenarnya, tapi sedikit,” buru-buru aku menambahkan, sebelum dia mendampratku betulan. Troy kan kakak Ivy, jadi memang benar ada hubungannya dengan Ivy, kan?

”Kalau begitu cepat bicara,” perintah Austin. ”Apa lo kenal Edgar Julian?” tembakku langsung.

”Ketua geng SMA Soteria?” tanya Austin memastikan, yang  kusambut  dengan  anggukan.  ”Ya,  gue  kenal  dia. Emang kenapa lo nanyain dia? Apa dia berbuat sesuatu pada Ivy?”

Aduh, Ivy lagi!

”Bukan pada Ivy, tapi sepertinya dia emang mau berbuat sesuatu pada Troy,” kataku.

Austin mendengus. ”Dan kenapa itu jadi urusan gue?” ”Edgar punya rencana untuk menghancurkan geng Troy,”

kataku. ”Karena itu gue berinisiatif menjadi mata-mata Troy dan mencari informasi mengenai rencananya. Kemarin gue ketemu Edgar, dan begitu dia tahu gue anak SMA Emerald, dia langsung nanyain lo. Dia bilang dia mau bicara sama lo. Akan bagus kalau lo mau bicara sama dia, karena dengan begitu lo bisa membantu kami. Dia pasti akan—”

”Nggak,” potong Austin. ”Apa?” tanyaku tidak yakin.

”Nggak,” ulang Austin. ”Gue nggak mau membantu kalian.” Setelah itu dia langsung berbalik—berniat meninggalkanku.

”Tunggu!” seruku. Aku mengulurkan tangan dan mencengkeram lengannya, tapi Austin langsung menyampaknya dengan kasar.

Oh iya, Ivy pernah bilang, Austin tidak suka disentuh.

Tahu deh, cuma mau disentuh Ivy.

”Sori,” gumamku. ”Gue cuma nggak ngerti kenapa lo nggak mau membantu kami. Troy kan kakak Ivy, kalau dia sampai kenapa-kenapa, akan berpengaruh ke Ivy.”

”Troy memang kakak Ivy,” kata Austin. ”Tapi itu bukan berarti gue harus membantu kalian. Kalaupun kalian mau gue membantu kalian, maka Troy sendiri yang harus memintanya. Dengan begitu, gue mungkin akan mempertimbangkannya.”

Jelas itu mustahil. Setelah mengingatkan Austin agar tidak memberitahu Ivy soal pembicaraan kami barusan, terpaksa aku membiarkannya kembali ke kelasnya. Sikap cueknya benar-benar membuatku kesal. Untung saja dia ganteng, jadi aku bisa menahan hasrat mencakarnya. Bisabisa Ivy ngamuk padaku kalau tahu tubuh pacarnya jadi baret karena kucakar.

Sekarang, bagaimana caraku memberitahu hal ini pada Edgar? Dia kan menunggu kabar baik dariku, padahal yang akan kuberitahukan padanya jelas bukan kabar baik.

Tapi aku tetap menelepon Edgar. Awalnya aku sempat menyangka dia tidak akan mengangkatnya sebab ini masih di tengah-tengah jam pelajaran, tapi ternyata dia mengangkatnya.

”Siapa nih?”

Lho, kok Edgar tidak tahu aku yang meneleponnya? Apa dia tidak menyimpan nomor ponselku? Lalu kemudian aku teringat bahwa dia memang hanya memberikan nomor ponselnya padaku. ”Ini Sophie.”

”Sophie? Apa lo nelepon gue buat ngasih kabar baik?” Kabar buruk, lebih tepatnya.

”Gue mau ngajak lo ketemuan,” kataku. ”Soalnya lebih enak kalau kita ngomong langsung.”

Sebenarnya bukan supaya lebih enak sih. Tapi kalau aku memberitahu kabar buruk lewat telepon, dia pasti akan langsung menutup telepon. Aku akan kehilangan kesempatan bicara padanya lagi.

”Oke. Jam empat di Kafe 99,” kata Edgar.

Pukul empat kurang sepuluh menit, aku sudah nongkrong di Kafe 99. Di antara murid-murid SMA Soteria yang memenuhi kafe, aku melihat pria berkumis lebat itu lagi. Dia seperti penampakan saja, muncul di mana-mana.

Aku kembali memesan iced cappuccino, dan hanya minuman itulah yang menemaniku sampai pukul setengah lima, ketika Edgar menampakkan diri. Padahal dia yang menentukan jamnya, tapi dia juga yang terlambat setengah jam. Dan dia sama sekali tidak meminta maaf.

”Jadi gimana?” tanya Edgar langsung. ”Austin nggak mau bicara sama lo,” kataku.

Edgar mendengus, begitu kerasnya sampai-sampai rasanya bisa mengalahkan kebisingan di kafe. ”Kalau begitu ngapain lo ngajak gue ketemuan?” tuntutnya.

”Gue kan nggak bisa membuat Austin bicara sama lo, jadi gue tetap harus traktir lo,” kataku. ”Jangan balik ke soal traktir-mentraktir itu lagi!” bentak Edgar. Beberapa pasang mata sampai menoleh ke arah kami, terutama mata pria berkumis lebat itu—begitu intens menatap kami. ”Lo membuang-buang waktu gue. Seharusnya dari awal gue udah bisa menduga bahwa lo cuma cewek nggak berguna.” Dengan kata-kata menyakitkan itu, dia pun meninggalkanku.

Ini sih sama saja seperti Edgar menutup telepon. Malah lebih parah karena kami sampai menjadi tontonan.

Aku membayar iced cappuccino dan berjalan keluar kafe. Namun baru beberapa langkah aku berjalan di selasar kafe, aku melihat Edgar berdiri sambil menelepon, tidak jauh dariku. Dia membelakangiku, jadi tidak menyadari kehadiranku. Dengan nekat aku mengendap-endap mendekatinya, berusaha mencuri dengar.

”Sepertinya nggak bisa SMA Emerald. Kita harus mencari sekolah lain.” Hanya itu yang sempat kudengar sebelum Edgar mulai berjalan menjauh. Aku tidak mengikutinya sebab terlalu berisiko. Jadi yang kulakukan adalah menelepon Lionel.

”Halo?”

”Nel, Austin nggak mau bicara sama Edgar, jadi sekarang Edgar mau mencari sekolah lain,” laporku.

”Apa dia ada bilang nama sekolahnya?” tanya Lionel. ”Nggak,” sahutku. ”Tapi gue akan mencari tahu.” ”Tetap hati-hati ya, Soph,” pesan Lionel. ”Gue juga akan mendiskusikannya sama Troy. Mungkin dia tahu sekolah mana yang kira-kira diincar Edgar.”

Baru aku menutup telepon, ponselku sudah berbunyi lagi. Ternyata Ivy. Aku langsung mengangkatnya.

”Ha—”

”SOPHIIIIIEEEE!!!” Aku langsung menjauhkan ponsel dari telingaku. Gila si Ivy, membuat kupingku pengang saja. Kenapa sih dia harus berteriak-teriak seperti itu? Itu kan ciri khasku. Jadi yang seharusnya berteriak-teriak yah aku.

”Kenapa sih lo teriak-teriak begitu?” tuntutku. ”Gimana nih, Soph? Troy ngajakin gue sama Austin

makan malam bareng,” kata Ivy.

”Bagus dong,” komentarku. ”Itu berarti dia mau mendekatkan diri sama Austin.”

”Nggak, itu sama sekali nggak bagus,” tukas Ivy. ”Dan dia juga bukannya mau mendekatkan diri sama Austin. Dia mau menginterogasi kami. Sebenarnya udah dari berminggu-minggu lalu dia mau melakukannya, tapi gue selalu menunda-nundanya. Sekarang gue nggak bisa menundanya lagi karena Troy keukeuh banget.”

”Lebih baik lo nggak menundanya lagi,” kataku. ”Siapa tahu dengan menginterogasi kalian, Troy akhirnya sadar bahwa kalian emang cocok satu sama lain dan kemudian memutuskan untuk sepenuhnya merestui hubungan kalian.” ”Gue juga kepinginnya begitu,” kata Ivy. ”Tapi Troy kan nggak bisa diprediksi. Ntar dia malah berantem, lagi, sama Austin.”

”Emang Austin mau diajakin makan malam bareng Troy?”

”Dia terpaksa mau,” sahut Ivy. ”Itu juga setelah gue bujuk rayu selama berjam-jam. Sekarang, setelah dia mau, tinggal guenya yang stres.”

Mendengar suara Ivy begitu kalut, aku jadi kasihan padanya. Kalau Troy sampai mengatur makan malam segala, berarti dia serius. Dua musuh bebuyutan dipertemukan dalam satu meja, apa yang akan terjadi? Tapi sepertinya aku mengetahui jawabannya dari kata-kata Ivy selanjutnya.

”Lo ikut ya, Soph?” pinta Ivy. ”Kalau ada lo, mungkin Troy akan lebih menjaga sikap.”

Aku tertarik. ”Maksud lo, kita double date?”

”Terserah kalau lo menyebutnya double date,” kata Ivy.

”Gue mau!” seruku bersemangat. ”Emang kapan sih makan malamnya? Di mana?”

”Jam tujuh di Restoran Eureka,” sahut Ivy. ”Malam ini?”

”Iya, malam ini.”

Aku melihat jam tanganku. ”Ya ampun, tinggal dua jam lagi!” seruku panik. ”Waktunya mepet banget. Gue kan harus dandan dulu.”

”Ntar lo ke rumah gue aja,” kata Ivy. ”Rencananya gue sama Troy berangkat dari rumah jam setengah tujuh. Lo bareng aja sama kami.”

”Oke. Lima belas menit sebelumnya gue akan ke rumah lo,” kataku. Lalu, tanpa mengatakan apa-apa lagi, aku langsung mematikan telepon. Buru-buru aku menuju motorku dan memacunya pulang ke rumah.

* * *

Aku mandi secepat kilat dan memilih pakaian yang akan kukenakan malam ini. Akhirnya aku menjatuhkan pilihanku pada blus putih dan rok lipit cokelat muda. Untuk mencocokkan dengan pakaianku, aku memilih sepatu putih dan tas cokelat tua milik Mama.

Aku merias wajah. Maskaraku sampai berlepotan karena aku begitu terburu-buru. Setelah selesai, aku memanggil Jason yang sepertinya sedang mendengarkan musik di kamarnya. Dia keluar dengan raut wajah terganggu.

”Apaan sih?” tanya adikku.

”Untuk malam ini, gue kasih lo izin buat bawa motor gue,” kataku. Jason sudah girang saja, tapi kembali manyun saat aku menambahkan, ”Soalnya lo kudu nganterin gue ke rumah Ivy.” Meski terpaksa, Jason tetap mengantarku ke rumah Ivy. Dan sesuai janjiku pada Ivy, aku tiba di rumahnya lima belas menit sebelum pukul setengah tujuh malam. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊