menu

Bad Boys #2 Troy's Spy Bab 03

Mode Malam
Bab 03

SETELAH pulih dari rasa syok karena mengetahui Edgar membicarakan Troy, aku langsung membayar iced cappuccino dan berlari keluar kafe.

Aku harus memberitahukan Troy informasi yang kudengar itu. Sebenarnya aku bisa memberitahukannya lewat telepon, tapi sepertinya lebih baik secara langsung, face to face.

Jason muncul ketika aku baru akan menaiki motor. Hampir saja aku meninggalkannya sebab lupa harus menunggunya. Dengan tidak sabar aku menyuruhnya buru-buru naik ke motor. Jason menurutiku. ”Kenapa sih?” tanyanya heran ketika melihatku seperti cacing kepanasan.

”Gue ngedengar pembicaraan Edgar dengan salah satu anggota gengnya di kafe.” Aku menjelaskan seraya mengemudikan motor ke luar pelataran parkir kafe. ”Mereka berniat menghancurkan geng Troy.”’

Terdengar seruan kaget Jason di belakangku. ”Masa?” cetusnya tidak percaya. ”Gue pikir mereka nggak ada masalah.”

”Kalau mereka nggak ada masalah, nggak mungkin Edgar segitu bencinya sama Troy,” tukasku.

Aku penasaran, apa kiranya yang dilakukan Troy pada Edgar. Tentu tidak ada hubungannya dengan cewek, bukan?

Aku mengantar Jason pulang terlebih dahulu sebelum ke rumah Troy. Sebenarnya dia ingin ikut, tapi aku tidak mengizinkannya. Dia membuatku berjanji untuk memberitahukannya bagaimana tanggapan Troy atas masalah itu.

Lega rasanya ketika melihat Nissan Juke putih Troy teparkir di depan rumahnya. Tadinya aku sudah takut dia tidak ada di rumah. Aku turun dari motor dan memencet bel. Yang membukakanku pintu Tante Lydia—ibu Troy, sekaligus calon ibu mertuaku.

”Tante,” sapaku dengan suara sesopan mungkin. Sebenarnya aku lebih ingin memanggilnya ”Mama” daripada ”Tante”, tapi ya sudahlah. Nanti juga akan ada saatnya. ”Eh, Sophie,” balas Tante Lydia. ”Ivy-nya lagi nggak ada di rumah.”

Ivy pasti sedang berkencan dengan Austin, untuk menggantikan kencan mereka yang batal kemarin karena aku dan Ivy harus mengerjakan tugas. Dasar tidak mau rugi.

”Saya bukan mau ketemu Ivy, Tante,” ralatku. ”Saya mau ketemu Troy.”

Tante Lydia sedikit kaget, mungkin karena baru kali ini yang ingin kutemui adalah Troy. Sepertinya beliau harus mulai membiasakan diri, karena nanti aku pasti akan lebih sering menemui Troy.

”Sebentar ya, biar Tante panggilin dulu,” kata Tante Lydia. Beliau mempersilakanku duduk di beranda sementara beliau masuk ke rumah untuk memanggil Troy.

Aku memeriksa bayanganku di jendela. Tadi aku tidak sempat berdandan, sehingga pasti terlihat kucel. Aku berusaha merapikan diri sebisaku, terutama rambutku yang acak-acakan.

Troy keluar, terlihat luar biasa seksi dengan kaus tanpa lengan yang memperlihatkan otot biceps-nya. Oh, tidak. Dia seksi sekali, bisa-bisa aku ngiler.

”Hai, Sophie,” sapa Troy seraya duduk. ”Ada apa?”

Aku tidak bisa langsung menjawab sebab tatapanku masih terpaku pada otot biceps Troy. Aku sampai harus menggeleng untuk menjernihkan pikiranku. Oke, aku harus fokus. Lupakan dulu otot biceps Troy yang berpendar-pendar laksana kunang-kunang itu.

”Mmm... Jason mau masuk SMA Soteria,” mulaiku. Kukira Troy akan bereaksi heboh karena itu juga sekolah

Natasha, tapi ternyata tidak. Dia malah mengerutkan keningnya.

”Siapa Jason?” tanyanya bingung.

Ternyata Jason tidak diingat Troy. Kasihan deh dia. ”Adik gue,” sahutku.

”Ah,” kata Troy sambil mengangguk-angguk. Sepertinya dia sudah ingat. ”Terus?”

”Kemarin gue nganterin Jason ke SMA Soteria,” kataku. ”Di sana gue hampir jatuh, dan ada cowok yang nolongin gue.”

Aku diam sejenak, untuk melihat apakah ada tandatanda cemburu dari Troy, tapi sepertinya tidak. Mungkin kalau aku bilang ada cowok yang menciumku pun, dia tidak akan peduli.

”Jason bilang cowok itu Edgar Julian—ketua geng SMA Soteria,” lanjutku.

Seketika Troy tersentak. ”Edgar Julian?”

”Ya,” anggukku. ”Tadi gue ketemu sama dia lagi, dan tanpa sengaja gue ngedengar pembicaraannya dengan salah satu anggota gengnya. Mereka berniat menghancurkan geng lo.” Troy tidak langsung menanggapi. Dia sibuk berpikir sambil mengetuk-ketukkan jari-jarinya ke lengan kursi.

”Lalu apa lagi yang lo dengar?” tanyanya kemudian. ”Edgar bilang dia punya rencana,” sahutku. ”Tapi dia

nggak membeberkan lebih lanjut rencananya itu.” Troy mendesah. ”Oke,” katanya singkat.

Oke apa?

”Sebenarnya lo ada masalah apa sih sama Edgar?” tanyaku, untuk mengobati rasa penasaranku.

”Cuma masalah antargeng,” sahut Troy. ”Hanya Edgar menanggapinya terlalu serius. Gue sih nggak mau ambil pusing.”

”Tapi lo pasti akan melakukan sesuatu kan setelah mendengar soal niatnya itu?” tuntutku.

”Entahlah,” kata Troy ringan.

”Lo nggak boleh diam aja,” kataku. ”Edgar serius lho, Troy. Gimana kalau dia berbuat macam-macam ke lo?” Dan supaya tidak terlalu mencolok, aku menambahkan, ”Dan ke anggota geng lo?”

”Dia nggak akan melakukannya,” bantah Troy. ”Tapi—”

”Kalaupun dia melakukannya,” potong Troy, ”gue pasti bisa mengatasinya. Jadi lo jangan khawatir.”

Tetap saja aku khawatir. Bagaimana tidak, kalau tahu cowok yang aku suka setengah mati ini terancam bahaya? ”Makasih ya, Soph,” kata Troy. ”Lo mau repot-repot datang ke sini untuk memberitahu soal niat Edgar itu.”

Aku  tersipu.  ”Sama-sama,  Troy,”  balasku.  ”Gue  cuma nggak mau lo kenapa-kenapa.”

”Gue kan lebih kuat dari Edgar,” seloroh Troy. ”Percaya deh,” cetusku.

Apa pembicaraan kami sudah berakhir? Tapi aku belum mau pulang. Aku masih ingin di sini bersama Troy. Sepertinya aku harus mencari topik pembicaraan baru.

”Mmm... apa Ivy lagi pergi?” tanyaku berbasa-basi, seolah aku tidak tahu jawabannya.

Wajah Troy langsung berubah masam. ”Ya, sama Austin,” jawabnya tidak suka. ”Austin emang sering banget ngajak dia pergi. Heran gue, kayak nggak cukup aja mereka ketemu di sekolah.”

”Kapan sih lo berniat untuk sepenuhnya merestui hubungan mereka?” tanyaku.

”Mungkin masih lama,” jawab Troy. ”Atau mungkin nggak sama sekali. Selama ini gue bertahan nggak mencincang Austin karena gue lihat dia membuat Ivy sangat bahagia.” Troy benar. Ivy memang sangat bahagia sekarang. Wajahnya selalu terlihat berbinar-binar, apalagi setiap kali ada

Austin. Andai saja aku dan Troy juga seperti mereka... ”Oh iya, Soph, lo mau pulang atau nunggu Ivy?” tanya

Troy tiba-tiba. ”Soalnya habis ini gue mau pergi.” Yah... aku diusir secara tidak langsung. ”Gue mau pulang aja,” putusku. Percuma aku tetap di sini kalau tidak ada Troy. ”Lo mau nge-date, ya?”

Troy mengangguk. Tadinya aku berharap tebakanku salah, tapi ternyata justru benar.

”Sama Vivian?” ”Bukan.”

Astaga, cewek lain lagi!

”Sekali-kali gue dong yang lo ajak nge-date,” kataku. Agak nekat, memang, tapi aku hanya ingin mengecek reaksinya.

Troy tertawa. ”Boleh,” katanya. ”Kapan-kapan, ya.”

Aku jadi bersemangat. Semoga ”kapan-kapan” itu akan segera terjadi. Besok, misalnya.

Troy mengantarku sampai ke pintu pagar. Dia terus mengamatiku selama aku naik ke motor dan menyalakan mesinnya, membuatku jadi grogi.

”Hati-hati, ya,” pesan Troy.

Aku hanya mengangguk, dan memberikan senyum penuh cintaku pada cowok itu sebelum berlalu dari hadapannya. Aku senang sekali, sampai-sampai ingin melampiaskannya dengan kebut-kebutan. Tapi, sesuai pesan Troy, aku harus berhati-hati.

Ketika aku sampai di rumah, Jason menagih janjiku. Perasaan senangku pun langsung menguap. Aku jadi kembali memikirkan niat Edgar. Troy mungkin tidak menganggapnya sebagai masalah, tapi tidak demikian denganku. Bukannya aku tidak memercayai kemampuan Troy. Hanya saja Edgar memiliki rencana yang tampaknya berbahaya. Sebelum aku tahu apa rencananya itu, aku tidak akan bisa tenang.

Jadi malam itu, sebelum tidur aku sibuk memikirkan cara untuk mengetahui rencana itu. Aku ingin membantu Troy. Bukan semata-mata untuk mendapatkan cintanya, tapi karena aku sangat mengkhawatirkannya.

Aku berguling-guling di ranjang, berharap ada ide yang tiba-tiba muncul di kepalaku. Seperti aku yang menjadi mata-mata Troy untuk mengawasi Austin dan Ivy, semoga aku juga bisa berguna baginya dalam hal ini.

Eh... tunggu! Mata-mata?

Aku langsung terduduk dengan mata melotot. Ya, itu dia! Mata-mata! Aku juga bisa menjadi mata-mata Troy untuk mengawasi Edgar. Bukan mengawasi tepatnya, tapi mencari informasi mengenai rencananya. Dengan demikian aku bisa menyampaikannya pada Troy supaya dia bisa berjaga-jaga.

Aku memang genius.

Tapi... sepertinya Troy tidak akan mengizinkanku menjadi mata-matanya. Dia pasti tidak ingin aku ikut campur dan membahayakan diriku. Bukan demi diriku, aku tahu, tapi demi Ivy. Kalau sampai terjadi apa-apa padaku, bisa membuat Ivy sedih dan Troy pasti berusaha sebisanya untuk menghindarinya. Aku harus menyampaikan informasi pada Troy melalui orang lain, jadi dia tidak perlu mendengarnya langsung dariku. Itu berarti aku perlu memiliki rekan. Yang jelas orang itu bukan Ivy, karena hasilnya akan sama saja. Austin? Kupikir dia tidak akan peduli segala hal yang berhubungan dengan Troy, meskipun Troy kakak Ivy. Lantas siapa?

Berbagai nama orang-orang yang dekat dengan Troy berkelebat di pikiranku, dan mendadak saja aku tahu siapa orang yang tepat.

Lionel—wakil ketua geng Troy.

Troy sudah bersahabat dengan Lionel sejak SMP, dan sangat memercayainya. Dia pasti mau mendengarkan apa pun yang dikatakan Lionel. Sekarang aku hanya perlu membujuk Lionel supaya mau menjadi rekanku.

Jadi hal pertama yang kulakukan begitu tiba di sekolah keesokan paginya adalah menanyakan nomor ponsel Lionel pada Ivy. Ivy tidak langsung memberikannya dan malah mencurigai niatku.

”Kenapa lo nanyain nomor HP Lionel?” selidik Ivy. ”Emangnya nggak boleh?” aku membalikkan.

”Lo mau berpaling ke Lionel gara-gara nggak ngedapetin Troy, ya?”

Aku memutar bola mataku. Mana mungkin sih aku berpaling dari Troy. Aneh-aneh saja pikiran si Ivy.

”Lionel kan sahabat Troy, jadi wajar dong kalau gue nanyain nomor HP dia,” kataku beralasan. ”Jadi kalau nanti gue nggak bisa menghubungi Troy, gue bisa menghubungi Lionel.”

”Kenapa harus Lionel?” Ivy keras kepala. ”Kenapa nggak gue aja?”

”Lo kan nggak selalu bareng Troy,” kataku.

Akhirnya Ivy memberikan juga nomor ponsel Lionel. Saat jam istirahat, aku meninggalkan Ivy bersama Austin dan menuju toilet. Di sana aku menelepon Lionel.

”Halo?”

”Halo, Lionel?” balasku. ”Ini Sophie.” ”Sophie?” Lionel terdengar bingung.

”Ya,” sahutku. Dan untuk memperjelas, aku menambahkan, ”Sahabat Ivy.”

”Oh,” kata Lionel. ”Ada apa?”

”Ada hal penting yang ingin gue bicarakan sama lo,” jelasku. ”Apa kita bisa ketemuan hari ini?”

”Bisa aja,” kata Lionel. ”Mau ketemuan di mana?” Tentunya tidak di sekolahku atau di sekolahnya. ”Di Kafe

Pandora aja,” putusku. ”Jam empat. Tapi jangan bilangbilang sama Troy, ya.”

Kalaupun Lionel penasaran kenapa aku melarangnya mengatakan pada Troy soal pertemuan kami, dia tidak menanyakan apa-apa. Dia hanya mengiyakannya dan menutup telepon.

* * * Lionel sudah duduk di salah satu meja yang terletak di sebelah kaca ketika aku tiba di Kafe Pandora. Dia sedang memainkan ponselnya sehingga tidak melihatku. Sembari berjalan ke arahnya, aku mengamatinya. Dia berambut jabrik dan—menurut Ivy—memiliki senyum sangat menawan.

Aku setuju dengan Ivy. Aku memang jarang bertemu Lionel, tapi pada sedikit kesempatan itu, beberapa kali aku melihat senyumnya.

Lionel menyukai Ivy, tapi Ivy tidak bisa menyukainya lebih dari sekadar teman. Kini mereka tetap berteman, meski aku tidak tahu apakah Lionel masih menyukai Ivy. Sepertinya sih masih.

Menurutku Lionel tidak cocok menjadi anggota geng. Alasannya tidak ada hubungannya dengan fisiknya—kalau itu sih masalah Jason—tapi karena dia sangat baik. Bukan berarti aku menganggap semua anggota geng pasti jahat. Aku tidak akan menjelek-jelekkan anggota geng sebab Troy sendiri ketua geng. Hanya saja, kebaikan Lionel berbanding terbalik dengan kekerasan yang biasanya dilakukan anggota geng.

”Lionel,” panggilku begitu tiba di dekat meja Lionel.

Cowok itu mendongak dari ponselnya dan memperlihatkan senyum menawannya. ”Sophie,” balasnya.

Aku duduk di hadapan Lionel. ”Udah lama nunggunya?” tanyaku. Lionel menggeleng. ”Baru sebentar kok,” katanya. ”Gue baru aja pesan minuman. Lo mau pesan apa?”

”Gue jus jeruk aja,” kataku.

Lionel memanggil pramusaji dan memesankanku jus jeruk. Setelah pramusaji itu berlalu, tanpa berbasa-basi lagi dia bertanya, ”Jadi, apa hal penting yang ingin lo bicarakan sama gue?”

Aku pun mulai menceritakan pada Lionel tentang niat Edgar dan pertemuanku dengan Troy kemarin. Lionel mendengarkan ceritaku dengan tekun. Ceritaku hanya disela sekali saat pramusaji mengantarkan pesanan kami. ”Troy bilang emang ada masalah antargeng,” kataku di akhir ceritaku. ”Tapi masalah antargeng kayak gimana sih

maksudnya?”

Kini giliran Lionel bercerita. ”Sekitar dua minggu lalu, ada anggota geng kami dan anggota geng Edgar yang berantem,” mulainya. ”Gue nggak tahu siapa yang lebih dulu memulainya, tapi yang jelas, anggota geng kami babak belur dan ngadu ke Troy. Troy pun membalas anggota geng Edgar itu. Lalu, seminggu setelahnya, Edgar sendiri yang mendatangi Troy.”

”Buat apa dia mendatangi Troy?” tanyaku.

Lionel mengangkat bahu. ”Entahlah,” sahutnya. ”Gue juga heran kenapa dia senekat itu. Gue menanyakannya pada Troy, tapi dia nggak mau menjawabnya.”

”Lalu apa yang terjadi?” tanyaku lagi. ”Mereka berantem,” sahut Lionel. ”Tapi Edgar jelas bukan tandingan Troy, dan keadaannya semakin parah setelah Troy dibantu dua anggota geng kami. Kalau satu lawan satu aja Edgar masih belum tentu menang, apalagi ditambah dua orang lagi.”

Jadi itu pemicunya. Tapi aku tetap tidak bisa membenarkan niat Edgar. Kalau dia tidak bisa melawan Troy, ya sudahlah, tidak perlu sampai menghancurkan gengnya segala.

”Gue nggak nyangka Edgar sampai sedendam itu sama Troy,” kata Lionel. ”Lo nggak tau apa rencananya, ya?”

”Nggak,” kataku. ”Tapi gue punya cara untuk mengetahuinya.”

Lionel  tampak  tertarik.  ”Oh,  ya?”  cetusnya.  ”Gimana caranya?”

Inilah saatnya untuk menyampaikan ide geniusku. Lionel pasti akan bertepuk tangan setelah mendengarnya.

”Gue akan menjadi mata-mata Troy.”

Bukannya bertepuk tangan, Lionel malah bengong. ”Mata-mata?” ulangnya tidak yakin.

”Iya, mata-mata,” tegasku. ”Gue akan mendekati Edgar dan berpura-pura ingin menjadi temannya. Begitu dia udah percaya sama gue, pelan-pelan gue akan mengorek informasi darinya.”

”Lalu apa kata Troy tentang itu?” tanya Lionel. ”Mmm... Troy nggak tahu tentang itu,” akuku. ”Dan sebenarnya gue nggak ingin dia tahu. Dia pasti nggak akan setuju.”

”Tapi lo kan belum mencoba ngomong sama dia,” kata Lionel.

”Percuma,” sergahku. ”Yang ada ide genius gue bakalan sia-sia. Lebih baik gue melakukannya secara diam-diam. Untuk itu gue butuh bantuan lo. Kalau gue udah berhasil mendapatkan informasi dari Edgar, gue mau lo yang menyampaikannya ke Troy. Lo bisa bilang lo mendapatkan informasi itu sendiri, atau dari orang lain yang bukan gue. Gimana? Lo mau jadi rekan gue?”

”Gue  nggak  bisa,  Soph,”  tolak  Lionel  tanpa  berpikir lama-lama.

”Kenapa nggak bisa?” tuntutku. ”Karena itu berbahaya,” kata Lionel.

”Nggak seberbahaya yang lo pikir kok,” kataku. ”Edgar nggak akan tahu gue mata-mata Troy. Gue akan melakukannya dengan sangat berhati-hati.”

”Tapi nggak seharusnya lo melibatkan diri dalam masalah geng kami,” kata Lionel. ”Kalau nanti ada apa-apa, lo akan kebawa-bawa.”

”Gue udah siap kok dengan segala konsekuensinya,” kataku, meski sebenarnya sama sekali tidak pernah terlintas di pikiranku soal konsekuensi yang harus kuhadapi. ”Jadi bantuin gue ya, Nel? Please?”

Sepertinya Lionel menghadapi dilema. Di satu sisi, dia ingin aku membantu gengnya. Tapi di sisi lain, dia tidak ingin membahayakanku.

”Kalau lo nggak mau, gue akan minta tolong sama yang lain,” ancamku, sembari berdiri.

Sebenarnya aku hanya menggertak, karena tidak serius ingin minta tolong pada yang lain. Hanya Lionel yang kuinginkan menjadi rekanku.

”Tunggu!” kata Lionel akhirnya.

Termakan juga Lionel. Sambil tertawa dalam hati, aku pun duduk kembali dan menunggunya melanjutkan ucapannya.

Lionel mendesah berkali-kali seolah sulit baginya untuk mengambil keputusan. ”Oke,” katanya. ”Gue setuju menjadi rekan lo, dengan satu syarat.”

Apa pun syarat dari Lionel, selama masih masuk akal, aku akan menyetujuinya. Itu masih lebih baik daripada dia menolak mentah-mentah.

”Kalau sampai ada masalah, sekecil apa pun, lo langsung hubungin gue,” lanjut Lionel. ”Oke?”

Gampang itu. ”Oke,” sahutku mantap.

Selama beberapa saat kami pun sibuk dengan minuman kami, baru kemudian melanjutkan pembicaraan kami.

”Sebenarnya kenapa sih lo begitu ngotot ingin membantu geng kami?” tanya Lionel penasaran.

Aku terus menyesap jus jeruk sambil memikirkan jawabannya, tapi sepertinya aku akan jujur saja pada Lionel.

”Karena gue suka sama Troy,” ceplosku. Lionel tercengang. ”Lo yakin?”

”Emang kenapa gue harus nggak yakin?”

”Habis lo kan udah mengenal Troy sejak lama, dan tahu betapa playboy-nya dia,” kata Lionel. ”Kok lo tetap mau sama dia?”

”Ivy juga pernah nanyain hal yang sama,” kataku. ”Waktu itu gue bilang sama dia bahwa gue nggak peduli, karena gue telanjur suka Troy. Gue yakin gue akan bisa mengubah dia menjadi cowok yang setia.”

”Kayaknya akan sulit deh, Soph,” tanggap Lionel.

”Gue tau,” kataku. ”Tapi gue nggak akan menyerah sebelum mencobanya. Gue udah berjanji pada diri gue sendiri akan mengembangkan hubungan gue dengannya.”

”Semoga aja lo berhasil,” kata Lionel.

”Lo setuju nggak kalau Troy sama gue?” Kupikir wajar bertanya begitu pada sahabat Troy. Meskipun mau dia setuju atau tidak setuju, aku akan tetap jalan terus.

Lionel tertawa. ”Gue mah setuju-setuju aja,” katanya. ”Ada kemungkinan nggak sih, Nel, kalau Troy suka sama

gue?” tanyaku dengan nada berharap.

”Gue nggak tahu, Soph,” jawab Lionel. ”Gue sama Troy kan nggak pernah ngomongin masalah gitu-gituan.”

”Selama ini gue udah cukup sering menunjukkan perasaan gue ke dia lho,” kataku. ”Tapi Troy-nya tetap cuek-cuek aja.”

”Mungkin dia cuma pura-pura nggak tahu,” tebak Lionel.

”Ya, tapi kenapa?” tuntutku. ”Apa karena gue bukan tipenya? Sebenarnya tipe cewek Troy kayak gimana sih?” ”Kalau dilihat dari cewek-cewek yang pernah dipacarinya, kayaknya tipenya bermacam-macam deh,” kata Lionel. ”Tapi kalau boleh muji, dibanding mereka, lo nggak kalah

cantik kok.”

Sepertinya harus ada yang memegangiku supaya aku tidak terbang. Bisa-bisa aku menabrak langit-langit di atasku saking GR-nya dipuji Lionel.

”Oh iya, omong-omong, sekarang Troy lagi punya pacar nggak sih?” tanyaku ingin tahu.

”Baru tiga hari lalu dia putus,” jawab Lionel.

Aku mengerutkan kening. ”Tapi kemarin dia lagi mau nge-date sama cewek.”

”Berarti ceweknya lain lagi,” kata Lionel.

”Cepat amat move on-nya,” komentarku. ”Emang udah berapa lama dia pacaran sama tuh cewek?”

”Lima hari.”

”Terus putusnya kenapa?” ”Bosan, katanya.”

”Baru pacaran lima hari dan dia udah bosan?” pekikku kaget. ”Masih mending lima hari,” kata Lionel. ”Dulu bahkan ada yang cuma bertahan tiga jam.”

Kalau nanti aku sudah berhasil pacaran dengan Troy, akan kupastikan hubungan kami akan bertahan sampai ke jenjang pernikahan. Kan ironis juga kalau aku sudah menyukainya selama tiga setengah tahun tapi cuma pacaran dengannya selama tiga jam.

”Kalau cewek yang namanya Vivian siapa?” tanyaku, masih penasaran dengan cewek genit itu.

”Vivian?” ulang Lionel. Dia berpikir sejenak, kemudian berkata, ”Waktu geng kami lagi ngumpul, ada segerombolan cewek yang ngajak Troy kenalan. Vivian salah satunya.”

Ih, memang benar-benar cewek genit!

”Kayaknya dia ngebet banget sama Troy,” kata Lionel. ”Dia sampai minta nomor HP Troy ke gue. Terpaksa deh gue kasih.”

”Ternyata lo yang ngasih,” gerutuku. ”Lain kali kalau ada cewek minta nomor HP Troy, jangan dikasih. Bilangin juga ke anggota geng kalian yang lain.”

”Tapi kayaknya Troy-nya oke-oke aja,” kata Lionel. ”Guenya yang nggak oke-oke aja,” tukasku. ”Pokoknya,

cuma gue cewek yang boleh lo dukung buat jadi pacar Troy.”

Kalau Lionel tidak menyudahi, rasanya aku bisa membicarakan Troy sampai malam. Dia membayar minuman kami, dan mengajakku pulang. Di selasar kafe, aku mengingatkannya supaya merahasiakan soal aku menjadi matamata Troy dari siapa pun. Dia hanya mengangguk, lalu beranjak menuju Kawasaki Ninja hijaunya, sementara aku menuju motorku.

Aku sudah berhasil menjadikan Lionel rekanku. Mulai besok aku akan menjalankan tugas sebagai mata-mata Troy. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊