menu

Bad Boys #2 Troy's Spy Bab 02

Mode Malam
Bab 02

ATAU mulanya kupikir begitu—aku akan jatuh dan terkapar di lapangan. Aku bahkan sudah memejamkan mata dan menanti rasa sakit itu tiba, sambil dalam hati merutuk Natasha.

Sialan dia, membuatku terjatuh seperti ini.

Ternyata ada yang menahan tubuhku. Aku bisa merasakan tangan yang melingkar di punggungku. Aku membuka mata, dan melihat wajah cowok paling jutek yang pernah kulihat seumur hidupku, dibingkai rambut ikal berantakan. Seandainya saja cowok yang berada dalam posisi seperti ini Troy, pasti dia sudah kukecup dari tadi.

Cowok itu membantuku hingga aku bisa berdiri tegak kembali. Aku baru akan mengucapkan terima kasih padanya, tapi urung melakukannya begitu melihat wajah juteknya berkerut tidak senang.

”Lain kali hati-hati dong,” omelnya.

Aku hanya bisa bengong sementara dia berlalu pergi. Cih, sombong sekali. Aku kan juga bukannya sengaja jatuh.

Aku berpaling ke tempat terakhirku melihat Natasha dan ternyata cewek itu sudah tidak ada. Yah sudahlah. Lagi pula, aku juga tidak berniat menghampiri dan mengajaknya mengobrol. Bisa-bisa aku malah menggaruk wajahnya dengan garpu.

Seseorang menepuk pundakku, dan ketika aku menoleh, aku melihat Jason berdiri sambil membawa map merah. Dia menatapku ternganga.

”Soph, kenapa lo peluk-pelukan begitu sama cowok?”

Aku menepuk keningku. Astaga, kenapa Jason mengira aku habis berpelukan dengan sembarang cowok? Apalagi aku tidak mengenal cowok itu.

”Gue nggak peluk-pelukan kok,” tukasku. ”Tadi gue mau jatuh, terus tuh cowok nolongin.”

”Beneran?” selidik Jason. ”Ya beneran lah. Ngapain gue bohong?” sungutku. ”Lagian gue nggak akan selingkuh dari Troy.”

Padahal aku bukan pacar Troy, jadi tidak tepat kalau dibilang selingkuh. Tapi tetap saja aku merasa bersalah pada Troy kalau ada main dengan cowok lain.

”Justru itu,” tandas Jason. ”Gue pikir lo sengaja meluk tuh cowok karena tau dia ketua geng di sini—sama kayak Troy ketua geng di Vilmaris.”

Aku tercengang. ”Serius lo? Tuh cowok ketua geng di sini?” ulangku memastikan.

Jason mengangguk. ”Namanya Edgar Julian,” katanya. ”Dia emang nggak seterkenal Troy atau Austin. Gue juga baru tahu tentang dia gara-gara mau sekolah di sini.”

Pantas lagaknya sok begitu. Ternyata dia memang punya posisi penting di sini. Tapi Jason salah kalau dia mengira aku akan tertarik pada cowok bernama Edgar hanya karena dia ketua geng. Dibanding Troy, dia jelas kalah keren.

”Tapi, Soph,” kata Jason. ”Tadi lo bersikap hormat kan sama dia? Maksud gue, lo nggak ada ngomong yang macam-macam, kan? Mulut lo kan suka cablak.”

Sembarangan saja Jason mengatai mulutku!

”Nggak, gue nggak ada ngomong macam-macam,” kataku. ”Malah gue nggak sempat ngomong apa-apa sama dia.” Lalu aku menatap adikku, penasaran. ”Emangnya kenapa lo tanya begitu?” Jason menggaruk-garuk kepalanya dengan salah tingkah. ”Yah... gue kan berniat menjadi anggota geng di sini.”

Nyaris saja tawaku menyembur. ”Lo? Jadi anggota geng?” seruku tidak percaya. ”Jiaahhh... lo mah ditowel dikit juga mental.”

Jason tampak keki kubilang begitu. Habis, mau bagaimana lagi? Badan Jason yang agak pendek dan kurus membuatnya tidak cocok menjadi anggota geng. Belum lagi wajahnya seperti bayi. Menurutku dia lebih cocok bermain kelereng bersama anak tetangga kami.

Bukannya selama ini Jason tidak pernah melakukan itu sih.

Dengan cepat wajah Jason berubah cerah kembali. ”Eh, Soph, tadi sekilas gue ngelihat cewek yang gue taksir lho,” ceritanya. ”Dia baru keluar kelas bareng teman-temannya.”

Mendadak firasatku menjadi tidak enak. Jangan-jangan...

”Apa cewek yang lo taksir itu yang pakai bando pink?” Mata Jason membesar. ”Kok lo tahu? Lo lihat dia juga,

ya?”

Aaaaahhh... ternyata benar! Cewek yang ditaksir adikku memang Natasha. Dasar Jason begooo!

”Gue kenal sama tuh cewek,” cetusku. ”Namanya Natasha, adik Austin. Dan yang lebih penting...” Aku mendekatkan wajahku ke wajah Jason hingga hanya berjarak beberapa senti, ”dia mantan pacar Troy.”

Jason begitu kaget sampai hampir menabrakkan keningnya ke keningku. Aku langsung melompat mundur untuk menghindar.

”Cowok-cowok di sekitarnya seram-seram amat,” komentar Jason ngeri.

”Nah, itu lo tahu, kan,” tanggapku. ”Makanya, jangan sok-sokan mau PDKT ke dia segala.”

Jason memang belum bilang mau pendekatan ke Natasha, tapi ujung-ujungnya pasti mengarah ke situ. Aku harus mencegahnya. Aku kan tidak mau Natasha menjadi adik iparku.

”Tapi masalahnya, Soph, gue benar-benar naksir dia,” kata Jason. ”Gue nggak pernah ngerasain yang kayak gini sama cewek lain sebelumnya.”

”Nggak,”  tolakku.  ”Pokoknya  nggak  boleh.  Lo  nggak boleh naksir Natasha, apalagi sampai ngejadiin dia pacar lo segala.”

”Lho, kenapa?” tanya Jason.

Masih tanya kenapa, lagi. Kuledakkan juga nih si Jason lama-lama.

”Karena gue nggak suka sama dia,” jelasku, berusaha sabar. ”Dia kan mantan pacar Troy, yang berarti dia musuh gue.”

”Kan udah mantan,” kata Jason keras kepala. ”Tetap aja, dulunya kan dia pacar Troy,” sergahku. ”Bukannya seharusnya lo senang kalau gue macarin dia?

Itu kan berarti dia nggak akan balikan sama Troy.”

Wah, benar juga. Natasha tidak akan mengharapkan Troy lagi kalau dia punya pacar baru. Dengan begitu aku tidak akan ketakutan kalau suatu saat mereka akan kembali bersama.

Tapi tidak. Kalau dia berpacaran dengan Jason, lalu aku berpacaran dengan Troy, maka kesempatan mereka untuk bertemu akan semakin besar. Aku harus menjauhkan Natasha dari lingkunganku. Biar cowok lain saja yang nanti jadi pacar barunya.

”Kalau lo tetap ngotot mau macarin Natasha, lo nggak boleh minjam motor gue lagi,” ancamku.

”Lha, kan emang udah nggak boleh dari kemarin-kemarin,” kata Jason heran.

Oh iya, aku lupa.

”Gue akan anggap lo nggak sayang sama gue lagi,” ralatku.

”Emangnya siapa yang sayang sama lo?” Jason membalikkan.

Aku langsung mati kutu. Sambil mengentakkan kaki, aku langsung berbalik dan berjalan menuju pelataran parkir sekolah. Bisa kudengar Jason mengikutiku.

Huh, suka-suka Jason-lah! Lagi pula, belum tentu Natasha mau sama dia. Kalau mantan pacarnya saja Troy, berarti selera Natasha sangat tinggi.

Sebagai aksi ngambekku, aku sengaja mendiamkan Jason sepanjang perjalanan pulang. Kubiarkan saja dia berciapciap sendirian di belakangku. Sepertinya sih dia masih membicarakan Natasha.

Karena setelah ini aku masih harus mengerjakan tugas kelompok biologi di rumah Ivy, jadi begitu sampai di rumah, aku langsung mandi dan berdandan. Aku kan harus tampil cantik untuk bertemu Troy. Jason sempat berpesan agar aku membeli makanan ketika pulang, tapi aku hanya bergumam tak jelas sebagai jawabannya.

Mobil Troy tidak ada ketika aku sampai di depan rumah Ivy. Ivy membukakanku pintu dan bisa membaca kekecewaan di wajahku. Tapi dia bersikap cuek karena terbiasa melihat wajahku seperti itu setiap Troy tidak ada di rumah. Dia malah langsung meminta kertas folio yang kemarin kubawa pulang begitu kami duduk di ruang tamu.

Sementara Ivy mengerjakan tugas, aku justru sibuk menceritakan padanya mengenai kejadian yang kualami di SMA Soteria.

”Gue tadi ketemu Natasha pas lagi ngantar Jason ke SMA Soteria,” ceritaku. ”Emang dia sekolah di sana, ya?” Ivy mengangguk sembari terus menulis. ”Iya,” jawabnya. ”Natasha pernah bilang ke gue waktu kami ngobrol-ngobrol

dulu.” ”Kok lo nggak bilang ke gue sih?” protesku. ”Tahu begitu kan gue nggak ngizinin Jason sekolah di situ.”

”Gimana gue mau bilang ke lo?” sergah Ivy. ”Lo kan nggak pernah mau dengar cerita tentang Natasha. Setiap kali gue mengungkit dia, lo selalu motong dan ujung-ujungnya pasti ngejelek-jelekin dia.”

”Oh, jadi lo marah kalau gue ngejelek-jelekin dia?” ”Yah marah lah,” balas Ivy. ”Dia kan calon adik ipar

gue.”

Aku berdecak. ”Omong-omong soal calon adik ipar,” kataku, ”si Jason ternyata naksir sama Natasha. Kepingin pingsan rasanya gue pas dengar.”

Ivy sempat kaget sejenak, kemudian tertawa. ”Wah, ternyata si Jason pintar milih cewek,” komentarnya.

”Ih, justru dia bego,” umpatku. ”Kayak nggak ada cewek lain aja, pakai acara naksir Natasha segala.”

”Tapi Natasha kan cantik,” kata Ivy.

”Sebodo amat dia cantik,” kataku tidak peduli. ”Cewek cantik kan banyak. Jason aja yang kuper.”

Sepertinya aku tidak sedang menjelek-jelekkan Natasha, tapi malah menjelek-jelekkan Jason. Untung saja kemudian perhatianku teralih pada suara mesin mobil yang dimatikan di luar. Semburan semangat langsung mengalir di sekujur tubuhku. Troy pulang!

Aku buru-buru merebut bolpoin Ivy dan memindahkan kertasnya ke hadapanku. Protes Ivy hanya kuanggap sebagai cicitan tikus. Ketika Troy masuk, aku menoleh dan berpura-pura memasang wajah kaget—seakan tidak tahu dia sudah pulang saking seriusnya aku mengerjakan tugas.

”Rajin amat,” komentar Troy padaku.

Aku tersenyum. ”Habis tugasnya banyak,” kataku. ”Ini dari tadi gue nulis terus nggak habis-habis.”

Padahal sehuruf pun aku tidak menulis apa-apa. Bisa kudengar dengusan Ivy di sebelahku, gemas dengan kebohonganku.

”Mendingan makan dulu,” kata Troy. Dia mengangkat kantong plastik yang dipegangnya dan menggoyangkannya ke arah Ivy seraya berkata, ”Nih, makanan yang lo titip, Vy.”

Ivy langsung berdiri dan mengambil kantong plastik itu dari tangan Troy, sementara Troy berlalu ke kamarnya. Sahabatku memberiku tanda agar mengikutinya ke ruang makan. Dengan senang hati kutinggalkan tugas kami.

”Emang nyokap lo nggak masak, Vy?” tanyaku sembari memperhatikan Ivy meletakkan kantong plastik itu di meja makan.

”Nggak sempat,” jawab Ivy. ”Nyokap gue buru-buru pergi dari pagi.”

”Oh,” kataku. ”Terus gue boleh ikut makan nih?” ”Gue emang nitip makanan buat lo juga,” kata Ivy.

Jadi Troy membelikanku makanan. Aku pasti akan menghabiskannya—kalau perlu sama kantong plastiknya sekalian. Aku sempat teringat pada Jason yang menitip makanan, tapi bodo ah. Siapa suruh tadi dia membuatku kesal?

Kukira aku hanya akan makan berdua dengan Ivy, jadi itu aku kaget ketika tiba-tiba Troy bergabung bersama kami di meja makan. Aku yang sudah bersiap menghabiskan satai ayam dan lontong yang ada di meja dengan kecepatan cahaya, langsung bersikap alim dan makan dengan pelan. ”Kenapa sih lo selalu minta dibeliin satai ayam, Vy?”

tanya Troy heran pada Ivy. ”Karena gue suka,” jawab Ivy.

”Nggak mungkin cuma suka doang,” tukas Troy. ”Lo sering banget makan satai ayam. Udah gitu dulu kan lo pernah nangis pas ngelihat satai ayam. Jadi lo ngaku aja deh. Ada apa antara lo dan satai ayam?”

Ivy memasukkan lontong banyak-banyak ke mulut sampai pipinya menggembung. Dia sengaja melakukan itu, karena kalau mulutnya penuh, dia tidak bisa bicara—yang berarti dia juga tidak bisa menjawab pertanyaan Troy.

Aku tahu kenapa Ivy menolak menjawab pertanyaan Troy. Dia tidak bisa menjawabnya tanpa membawa-bawa Austin. Sedangkan kalau mendengar soal Austin, mood Troy pasti menjadi jelek.

Satai ayam bagaikan simbol untuk Austin dan Ivy, karena itulah yang mereka makan saat kencan pertama dan saat Austin meminta Ivy menjadi pacarnya. Jadi tidak aneh kalau Ivy begitu terobsesi pada satai ayam.

Meski Ivy tidak menjawab pertanyaan Troy, kakaknya bisa menebak sendiri. Dia mengaitkan satai ayam dengan Austin, membuat Ivy langsung terbatuk-batuk karena nyaris tersedak lontong. Aku menepuk-nepuk punggung Ivy dengan perlahan.

”Udah gue duga,” dengus Troy. ”Lama-lama si brengsek itu bisa bikin lo jadi gila.”

Ivy tidak menanggapi karena sibuk meneguk air putih banyak-banyak. Tetesan air sampai mengalir turun ke dagunya.

”Sophie, apa Austin pernah macam-macam pada Ivy di sekolah?” tanya Troy padaku.

Yang kutahu, Austin memang pernah mencium Ivy di perpustakaan sekolah saat mereka baru kembali berpacaran. Ivy sendiri malu-malu menceritakannya padaku. Tapi karena aku sedang berbaik hati, aku tidak akan menceritakannya pada Troy. Apalagi Ivy juga sudah memberiku tatapan penuh peringatan dari balik gelas.

”Nggak,” dustaku, ”paling mereka suka makan sepiring berdua.”

Troy melotot mendengarku membeberkan kebiasaan norak Austin dan Ivy. ”Vy, kalau Austin emang pelit begitu ke lo, gue bisa bagi lo duit jajan gue,” katanya. ”Jangan kayak orang susah begitu.” ”Bukan begitu,” sergah Ivy. Lalu dengan suara pelan, sehingga hanya aku yang bisa mendengarnya, dia menambahkan, ”Kan biar lebih romantis aja.”

Troy kembali berbicara padaku. ”Mulai sekarang lo laporin ke gue ya setiap hal yang berhubungan sama Austin dan Ivy.”

”Lo mau gue jadi mata-mata?” ”Yah, semacam itu,” kata Troy.

Aku mengacungkan jempol pada Troy. ”Beres,” cetusku.

Mana mungkin aku menolak permintaan Troy, apalagi aku jadi punya alasan untuk sering-sering bicara padanya. Tidak kupedulikan tatapan dasar-pengkhianat-nanti-guemakan-juga-lo yang diberikan Ivy.

Mendadak terdengar bunyi ponsel. Troy mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dia menatap layar dengan kening berkerut sebelum mengangkatnya.

”Ya, siapa nih?” tanyanya. Dia diam sejenak, mendengarkan si penelepon berbicara, lalu berkata, ”Oh... Vivian. Iya, ini aku Troy. Dari mana kamu tahu nomor HP-ku?”

Cewek! Yang menelepon Troy cewek! Dasar cewek gatel, berani-beraninya dia menelepon Troy! Apa dia tidak tahu Troy  sedang  menikmati  makan  malam  denganku?  Yah, dengan Ivy juga sih sebenarnya, tapi anggap saja sahabatku itu tidak ada. Dari kata-kata Troy, jelas dia tidak memberitahukan nomor ponselnya pada cewek bernama Vivian itu. Genit sekali sih, pakai acara mencari-cari nomor ponsel Troy segala. Memangnya apa yang ingin dibicarakannya dengan Troy? Dia pasti hanya ingin merayu Troy.

Darahku rasanya mendidih. Aku berharap Troy segera mematikan telepon dari Vivian, tapi dia malah mengambil makanannya dari meja dan membawanya ke kamar, sambil terus  berbicara  pada  Vivian.  Aku  hanya  bisa  menatap punggung Troy berlalu, dengan nanar. 

”Siapa Vivian?” tanyaku pada Ivy.

Ivy mengangkat bahu. ”Mana gue tahu?” sahutnya. ”Gue kan nggak pernah kenal sama cewek-ceweknya Troy.”

”Kalau gue sampai ketemu Vivian, pasti langsung gue tinju dia,” geramku. ”Ngeganggu acara makan malam orang aja.”

”Lo yang bakal gue tinju,” kata Ivy. Kukira dia sedang membela Vivian, tapi ternyata masih dendam soal aku menjadi mata-mata Troy. ”Tega banget lo mengkhianati gue. Padahal seharusnya kan lo berpihak sama gue, bukannya sama Troy.”

Aku memasang tampang licikku. ”Sori, Vy,” kataku. ”Kalau disuruh milih antara lo dan Troy, gue pasti milih Troy.”

Ivy cemberut. ”Ya udah,” katanya kesal. ”Sana lo pilih Troy, biar setiap hari lo ngedengerin dia telepon-teleponan sama cewek.” ”Emang setiap hari dia telepon-teleponan sama cewek?”

”Iya,” sahut Ivy. ”Udah gitu ceweknya selalu beda-beda, lagi. Syukurin, lo jadi banyak saingan.”

Kini gantian aku yang cemberut. Ternyata masih banyak Vivian lain. Seharusnya aku sudah bisa menduganya. Troy kan memang punya banyak penggemar.

”Cepat habisin satai lo,” kata Ivy ketika melihatku hanya bengong sambil memandangi satai. ”Kita kan masih harus ngelanjutin tugas kita.”

Rasanya aku semakin tidak mood melanjutkan tugas kami. Meski tidak mengerjakan apa-apa, aku sudah berniat membantu Ivy setelah selesai makan malam dengan Troy. Sayangnya Vivian menelepon dan memupuskan niatku.

Tapi demi Troy yang sudah membelikanku makanan, aku memaksakan diriku untuk kembali makan—sambil dalam hati merutuki Vivian dan cewek-cewek lain yang sejenis dengannya.

* * *

Jason kembali memintaku mengantarnya ke SMA Soteria, untuk mengembalikan formulir pendaftaran. Aku jadi sedikit menyesali keputusanku tidak memperbolehkannya meminjam motorku, sehingga aku jadi direpotkan begini. Mana tempat tujuan kami juga sama sekali tidak asyik, apalagi setelah aku tahu itu juga sekolah Natasha.

Di sinilah aku sekarang, menurunkan Jason di depan pintu gerbang SMA Soteria. Kali ini aku tidak ikut masuk bersama Jason, melainkan memutuskan untuk menunggunya di Kafe 99, yang terletak persis di sebelah SMA Soteria.

Karena sudah jam pulang sekolah, kafe itu dipenuhi murid-murid SMA Soteria. Untungnya Natasha tidak terlihat. Kalau sampai ada dia, lebih baik aku menyusul Jason saja, karena malas melihat tampang Natasha.

Ketika menemukan meja kosong, aku langsung menempatinya. Aku memesan iced cappuccino dari pramusaji, dan setelah pesananku datang, aku menyesapnya sambil memainkan ponselku.

Di tengah hiruk-pikuk kafe, aku bisa mendengar dengan jelas pembicaraan dua cowok di meja belakangku. Aku tidak bermaksud menguping, tapi suara mereka masuk begitu saja ke telingaku. Begitu mendengar salah satu dari mereka menyebut nama Troy, aku langsung menajamkan pendengaran.

”Jadi, apa yang harus kita lakukan pada si Troy Cornelius?” tanya cowok pertama.

”Membalasnya, tentu aja,” sahut cowok kedua. ”Tadinya gue berniat menyelesaikan masalah gue dengannya baikbaik. Tapi mengingat apa yang dilakukannya minggu lalu, gue pun bersumpah akan memberinya pelajaran.” Aku terkesiap. Memberi Troy pelajaran?

”Lo yakin bisa melakukannya?” tanya cowok pertama, skeptis. ”Anggota geng dia kan lebih banyak dibanding anggota geng kita.”

”Tenang aja,” kata cowok kedua. ”Gue punya rencana, dan kalau rencana itu sukses, Troy akan hancur. Bukan cuma dia, tapi seluruh anggota gengnya. Mereka akan tinggal sejarah.”

Tubuhku gemetaran, karena takut bercampur marah. Dua cowok itu berniat menghancurkan geng Troy. Aku tidak bisa membiarkan mereka melakukan itu. Tapi apa yang bisa kulakukan?

Mereka masih bercakap-cakap selama beberapa saat, lalu aku mendengar mereka berdiri dan meninggalkan meja. Ketika mereka berjalan melewati mejaku, sekilas aku melirik ke arah mereka. Aku tidak mengenal cowok yang pertama, tapi sepertinya aku pernah melihat cowok yang kedua. Otakku sibuk berpikir. Ah, aku tiba-tiba teringat siapa dia. Edgar.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊