menu

Bad Boys #2 Troy's Spy Bab 01

Mode Malam
Bab 01

”HAI, Sophie.”

Setiap kali mendengar sapaan itu, dunia terasa lebih indah. Kalau boleh diibaratkan, seperti terjadi musim semi di hatiku, saat bunga-bunga bermekaran di setiap sudutnya. Atau mungkin seperti ada ledakan kembang api pada malam yang gelap. Mungkin juga seperti ada yang menawariku berendam air es di ruangan ber-AC saat aku sedang kepanasan.

Oke, yang terakhir memang agak tidak nyambung, tapi biar sajalah. Pokoknya aku ingin menyatakan betapa senangnya diriku. Tentu tidak semua orang yang menyapaku bisa menghasilkan efek seperti itu terhadapku. Hanya Troy. Aku memang menyukai cowok bertubuh tinggi besar dan berambut cepak itu sejak tiga setengah tahun lalu. Pesonanya memikatku sejak pandangan pertama.

Kalau ditanya apa yang memesona dalam diri Troy, aku juga tidak bisa menjelaskan. Aku hanya merasa ada sesuatu yang spesial dalam dirinya, yang tidak bisa membuatku berpaling. Serius, sejak menyukai Troy, aku tidak pernah suka pada cowok lain—tidak peduli cowok itu seganteng personel boy band Korea sekalipun.

Sayangnya, sepertinya Troy tidak memiliki perasaan yang sama denganku. Sudah sering aku berusaha mengiriminya sinyal cinta, tapi dia tetap lempeng seperti jalan tol. Entah dia tidak menangkap sinyal itu, atau memang sengaja membiarkan sinyal itu berlalu begitu saja.

Aku tidak akan menyerah. Aku yakin suatu saat nanti Troy menjadi pacarku. Bahkan, kalau sedang lebay, aku berangan-angan akan menikah dengannya dan punya anak seribu.

Bolpoin yang mendarat di kepalaku membuat lamunanku soal Troy buyar. Aku menoleh dan melihat Ivy, sahabatku, sedang menatapku sambil menggeleng-geleng.

”Lo kebiasaan deh,” omel Ivy. ”Jangan pasang ekspresi aneh-aneh gitu kek kalau ada Troy.”

Ekspresi aneh-aneh bagaimana? Sepertinya dari tadi ekspresiku biasa-biasa saja. Kecuali kalau wajahku yang sedang tersenyam-senyum sendiri ini disebut aneh. Tapi menurutku itu wajar. Aku kan sedang senang.

Aku memang lagi mengerjakan tugas kelompok biologi bersama Ivy di ruang tamu rumahnya ketika tadi Troy lewat dan menyapaku. Dia baru pulang dan segera masuk ke kamarnya. Hanya saja, meskipun dia sudah tidak terlihat lagi, aku masih belum bisa menghilangkan senyumku. Mungkin karena itulah Ivy jadi gemas melihatku.

Ivy yang cantik jelita adalah adik Troy. Dia memiliki kulit putih, wajah berbentuk hati, dan rambut lurus yang panjangnya melewati bahu. Tidak terhitung banyaknya cowok yang naksir padanya. Tapi cowok-cowok itu harus patah hati karena kini dia sudah punya pacar.

Aku bersahabat dengan Ivy sejak SMP. Kini kami juga satu SMA dan berada di kelas yang sama, bahkan juga duduk sebangku. Aku harus berterima kasih padanya karena berkat dialah aku bisa mengenal Troy. Ivy mengajakku ke rumahnya ketika pertama kali aku bertemu Troy.

Tapi Ivy mengalami dilema, apakah dia harus mendukungku jadian dengan abangnya atau tidak. Bukan karena dia merasa aku tidak cocok untuk Troy, tapi dia tidak ingin aku sakit hati nantinya. Troy, dengan berat hati kukatakan, memang playboy. Lebih dari sekadar playboy, dia playboy cap kakap, saking seringnya dia berganti cewek. Aku tidak keberatan dengan sifat playboy Troy, karena merasa bisa mengubahnya menjadi cowok setia. Mungkin akan butuh usaha ekstra, tapi aku bersedia melakukannya.

Aku justru heran. Troy kan playboy, tapi kenapa dia sama sekali tidak pernah melirikku? Apa aku kurang cantik untuknya? Aku pernah bertemu dengan salah satu mantan pacarnya, dan kuakui kecantikan mantan pacarnya itu membuatku minder. Kalau dia hanya menyukai cewek yang kecantikannya luar biasa seperti itu, berarti aku sama sekali tidak ada harapan. Aku memang tidak jelek—Ivy bilang rambut pendek ikalku membuatku terlihat menarik—tapi tetap saja tidak bisa dibandingkan dengan mantan pacarnya itu.

Bolpoin, lagi-lagi, mendarat di kepalaku. Pelakunya juga masih orang yang sama.

”Jangan ngelamun terus dong,” omel Ivy lagi. ”Bisa-bisa tugas kita nggak selesai-selesai nih.”

”Gue malas bikin makalah tentang kodok,” keluhku. ”Mendingan juga gue bikin makalah tentang Troy.”

”Kita kan nggak lagi bikin makalah kodok,” protes Ivy. ”Tetap aja,” tandasku. ”Buat gue, nggak tau kenapa

biologi identik sama kodok.”

Perdebatan tentang kodok mungkin akan terus berlanjut kalau Troy tidak melangkah ke luar dari kamarnya. Aku langsung memberikan senyum penuh cintaku padanya. ”Lo mau pergi, Troy?” tanyaku ketika melihatnya memegang kunci mobil.

Troy mengangguk. ”Mau nge-gym.”

Ikut dong, kataku dalam hati. Terus lo jadi personal trainer gue. Dijamin gue pasti bakal rajin nge-gym.

”Vy,” kata Troy pada Ivy. ”Camilan lo jangan diumpetin dong. Bagi Sophie, jangan lo makan sendiri aja.”

Ivy langsung memasang tampang bete. ”Siapa juga yang ngumpetin?” sungutnya. ”Camilan gue udah habis. Kan lo yang makanin terus.”

Troy berpura-pura tidak pernah melihat camilan Ivy sebelumnya dan ngeloyor pergi. Aku jadi berbunga-bunga karena Troy tidak mau aku kelaparan.

Begitu mendengar mobil Troy menderu pergi, aku langsung merebut bolpoin yang dipegang Ivy.

”Oke, selesai,” cetusku.

”Apanya yang selesai?” protes Ivy. Dia berusaha merebut kembali bolpoinnya. ”Masih kurang tiga halaman lagi.”

Aku menjauhkan bolpoin Ivy dari jangkauannya. ”Tapi kan lusa baru dikumpulin,” kataku. ”Jadi kita masih bisa ngerjain besok. Jangan terlalu dipaksain harus selesai hari ini juga, Vy. Nanti hasilnya malah nggak bagus.”

”Jangan pura-pura mentingin hasilnya deh,” kata Ivy, yang seperti biasa mengetahui akal bulusku. ”Lo sengaja nggak nyelesaiin hari ini supaya besok masih punya alasan untuk datang ke sini. Tentunya lo mau datang bukan buat ngerjain tugas, tapi buat ngelihat Troy.”

Bingo! Meskipun Ivy sudah bisa menebaknya, untuk amannya, lebih baik aku tidak mengaku.

”Tugas lebih penting kok,” kilahku.

”Kalau gitu biar gue selesaiin hari ini,” kata Ivy. Dia tidak lagi berusaha mengambil bolpoinnya, tapi justru mengincar bolpoinku yang sedari tadi menganggur di meja.

Dengan cepat aku mengambil kertas folio yang setengah halamannya sudah penuh dengan tulisan Ivy. Meskipun dia sudah memegang bolpoin, tapi memerlukan kertas folio ini untuk melanjutkan tugas kami.

”Soph, siniin nggak kertasnya?” Ivy memerintah sambil mengulurkan tangan.

Aku malah buru-buru memasukkan kertas itu ke tas. ”Biar gue bawa pulang aja,” kataku. ”Besok gue balikin lagi ke sini.” Lalu, setelah membereskan semua barang-barangku yang masih berserakan di meja, aku berdiri.

Ivy mengikutiku. Dia masih cemberut karena ulahku menunda menyelesaikan tugas kami.

”Awas kalau besok kertasnya sampai ketinggalan!” ancam Ivy.

”Tenang aja, nggak bakal gue keluarin dari tas kok,” kataku.

Ivy mengantarku sampai ke pintu pagar. Aku melambai padanya sebelum memacu Yamaha Mio pink pergi. Dalam waktu singkat, aku sudah tiba di rumah. Aku memasukkan motor ke garasi dan melangkah melewati pintu depan.

”Jason.” Aku memanggil adikku sambil melempar tasku ke sofa di ruang tamu.

”Ya?” Terdengar sahutan dari dapur.

Aku segera menuju dapur dan mendapati Jason sedang mengais-ngais isi kulkas. Sepertinya dia lapar dan berharap bisa menemukan makanan di kulkas. Orangtua kami bekerja dari pagi sampai malam sehingga di rumah sering tidak ada makanan. Setiap kali aku memprotes ke mereka soal itu, mereka selalu bilang bahwa aku dan Jason harus belajar mandiri.

Yang ditemukan Jason di kulkas hanyalah telur, jadi dia mengambilnya dan mendekati kompor.

”Masakin gue juga dong,” pintaku. ”Masak aja sendiri,” tanggap Jason cuek.

Aku mencubiti Jason supaya dia mau menurutiku. Dia mengaduh-aduh, lalu mengambil sebutir telur lagi. Dia memang paling takut dengan cubitanku. Dia bahkan menjuluki tanganku sebagai capit kepiting saking pedihnya cubitanku.

”Soph,”  kata  Jason  di  tengah-tengah  kesibukannya memasak. ”Besok anterin gue ke SMA Soteria, ya. Gue mau ambil formulir pendaftaran.”

”Kenapa lo nggak sendiri aja ke sana?”

”Boleh,” jawab Jason. ”Asal lo mau pinjemin motor lo.” Aku memelototi adikku. Motorku kini terlarang untuk dipinjamnya. Semua bermula dari dua minggu lalu, ketika dia meminjam motorku dan menabrak sepeda tukang siomay di dekat rumah kami. Keduanya—Jason dan tukang siomay itu—jatuh terguling-guling. Untungnya mereka tidak apa-apa. Hanya siomay-siomay yang terkapar di jalanan tidak bisa diselamatkan.

Tapi motorku jadi lecet, padahal selama ini aku selalu merawatnya baik-baik. Aku kesal sekali pada Jason, jadi tidak memperbolehkannya lagi meminjam motorku.

”Kan lo bisa naik sepeda,” kataku.

”Gila aja lo,” kata Jason. ”Jauh banget, kali.”

”Lha, terus nanti kalau lo udah mulai sekolah di sana gimana?” tanyaku heran.

”Papa dan Mama kan janji beliin gue motor setelah gue SMA,” kata Jason.

Ada dua hal yang membuatku iri pada Jason. Pertama, wajahnya begitu imut seperti bayi. Andai aku juga memiliki wajah sepertinya, mungkin Troy akan menyukaiku. Yang kedua, Papa dan Mama selalu mengabulkan permintaannya. Aku tidak mempermasalahkan soal motor karena aku pun baru dibelikan motor setelah aku SMA. Tapi soal sekolah, aku benar-benar keberatan.

Aku diharuskan masuk SMA Emerald karena Papa dan Mama alumninya. Aku sampai memohon-mohon supaya diizinkan sekolah di SMA Vilmaris—alasannya tentu saja karena Troy sekolah di sana—tapi mereka tetap berkeras. Sedangkan Jason boleh memilih sekolah sendiri, hanya karena aku sudah sekolah di SMA Emerald. Benar-benar tidak adil. Aku jadi melewatkan kesempatan satu sekolah dengan Troy. Untung Ivy mengikutiku sekolah di SMA Emerald sehingga setidaknya aku ada teman.

”Jadi gimana, Soph?” tanya Jason. ”Bisa kan besok lo anterin gue?”

Sebenarnya aku malas sekali, apalagi besok aku juga harus menyelesaikan tugas kelompok biologi bersama Ivy. Tapi aku tidak bisa membiarkan Jason meminjam motorku lagi.

”Ya udah,” jawabku malas-malasan. ”Jam berapa?” ”Besok begitu lo pulang sekolah, langsung berangkat

aja,” kata Jason.

Aku mengangguk setuju, lalu begitu Jason menghidangkan telur mata sapi, aku langsung menyendok nasi dan makan dengan lahap. Troy tidak mau aku kelaparan, jadi aku harus makan yang banyak.

* * *

Setiap jam istirahat, aku selalu mengikuti Ivy ke kantin. Kami akan duduk bersama dengan seluruh anggota geng sekolah kami. Hal itu tidak mengherankan, sebab pacar Ivy ketua geng SMA Emerald. Ivy kembali berpacaran dengan Austin sejak tiga bulan lalu. Sebelumnya mereka sempat pacaran, tapi harus putus karena Austin akhirnya mengetahui Ivy adalah adik Troy. Troy yang merupakan ketua geng SMA Vilmaris memang musuh bebuyutan Austin. Sebenarnya, dalam skala yang lebih besar, SMA Emerald dan SMA Vilmaris saling membenci selama bertahun-tahun ini.

Karena itulah Troy marah besar saat tahu Ivy pacaran dengan  Austin.  Mereka  sempat  perang  dingin  selama beberapa saat. Troy bahkan menjebak Austin dengan mengiriminya SMS sebagai Ivy dan menyuruhnya datang ke taman di dekat SMA Emerald. Di sana dia mengeroyok Austin bersama beberapa anggota gengnya.

Aku sempat kecewa pada Troy atas apa yang dilakukannya. Tapi pada akhirnya dia membayarnya. Dia tidak tega melihat Ivy terus menangis, dan memutuskan mendatangi Austin. Bukan untuk minta maaf, melainkan untuk meminta Austin menghentikan tangis Ivy.

Troy dan Austin bertemu di lapangan SMA Emerald. Yang membuat kami—para penonton yang menyaksikan pertemuan itu—terkesiap, ketika Troy menjatuhkan harga diri dengan berlutut di depan Austin. Aku berada di pinggir lapangan saat itu, menyaksikannya dengan berlinangan air mata, apalagi saat Ivy ikut berlutut di depan Troy dan menangis sambil memohon pada sang kakak agar mau berdiri. Tapi, omong-omong, hari itu juga merupakan hari yang membahagiakan untukku. Sepulangnya Troy dari SMA Emerald, Ivy menyuruh Troy untuk mengantarku pulang. Sungguh tindakan yang tidak disangka-sangka dari Ivy. Mungkin dia sangat senang karena hubungannya dengan Austin bisa baik kembali, dan ingin aku ikutan senang juga.

Tentu saja tujuan itu tercapai. Aku senang bukan main. Untuk pertama kali aku diantar pulang oleh Troy. Mana kami juga cuma berdua di mobilnya. Sepanjang perjalanan, kami asyik mengobrol. Betapa saat itu aku berharap rumahku ada di Kutub Selatan sehingga aku bisa berlamalama bersamanya. Tapi dalam beberapa menit saja kami sudah sampai di rumahku, dan sayangnya perjalanan itu berakhir tanpa ada kejutan apa pun. Maksudku, tidak ada ciuman atau apa.

Ya iya lah. Lagi pula, apa yang kuharapkan? Kami bahkan belum pernah berkencan.

Kembali lagi ke soal Austin dan Ivy. Setelah resmi pacaran lagi, mereka jadi semakin lengket satu sama lain. Padahal Troy belum sepenuhnya merestui hubungan mereka. Lihat saja, kini mereka bahkan makan satu piring berdua. Mereka bukannya mau irit. Austin kan tajir sehingga mereka tidak perlu irit seperti itu. Di depan mereka masing-masing ada piring berisi makanan, tapi mereka lebih memilih menghabiskan makanan di piring Austin dulu, lalu berpindah ke piring Ivy. Norak sekali, kan? Kenapa sih mereka tidak makan dari piring masing-masing saja? Apa mereka mau cari-cari alasan supaya bisa berdempetdempetan terus?

Ya deh, kuakui, aku memang iri. Iri sekali, malah. Austin dan Ivy benar-benar pasangan serasi. Kecantikan Ivy diimbangi dengan kegantengan Austin. Sedikit bagian di sisi kiri rambut Austin dicat merah, memanjang hingga mencapai poni. Wajahnya yang tanpa cela ditunjang rahang yang tegas, hidung mancung, dan bulu mata panjang.

Tidak heran kalau Austin memiliki banyak penggemar. Kurasa semua cowok ganteng juga begitu—kalau disuruh memberikan contoh lainnya, aku akan menyebut nama Troy.

Salah satu penggemar Austin yang terang-terangan mengejarnya adalah Greta, teman sekelasnya di XII IPS-1. Cewek yang memiliki rambut panjang hampir sepinggang dengan tawa yang menurut Ivy mirip suara hyena, benarbenar menyebalkan. Dialah biang keladi yang membocorkan pada Austin soal Ivy adalah adik Troy, dan menyebabkan Austin mengakhiri hubungannya dengan Ivy. Greta memang sudah mengakui kesalahannya, tapi entahlah, sepertinya aku masih kesulitan untuk memaafkannya. Padahal yang disakitinya itu Ivy, dan Ivy sendiri pun tampaknya sudah tidak mempermasalahkan itu lagi, tapi tetap saja aku keras kepala.

Sejak Ivy kembali berpacaran dengan Austin, Greta tidak pernah mengganggu Austin lagi. Malah kini dia dekat dengan wakil ketua geng sekolah kami yang bernama David— cowok berbibir tebal yang hobi cengengesan. Itu menjelaskan kenapa kini Greta duduk bersama kami di kantin. Jadi, sementara di seberangku aku melihat Austin dan Ivy sedang dimabuk cinta, di sebelah kananku ada David dan Greta yang mulai menunjukkan gejala yang sama. Intinya, aku dikelilingi pasangan yang menebarkan aura cinta. Malang sekali nasibku.

”Vy,” panggilku, berusaha menarik perhatian Ivy dari binar-binar cinta Austin. ”Gue lupa bilang sama lo, ntar sore gue mesti nganterin Jason pergi. Jadi ngerjain tugas biologinya ditunda malam aja, ya.”

Ivy ragu-ragu. Dia melirik Austin sejenak, seolah meminta pendapatnya. Aku tahu mereka punya janji kencan malam ini.

”Nggak apa-apa,” kata Austin pada Ivy. ”Kamu kerjain tugasmu dulu aja. Kita bisa pergi besok.”

Untunglah Austin mau mengalah. Meski begitu, Ivy tetap marah-marah padaku. Jelas dia masih gondok karena masalah kemarin.

”Makanya,  kalau  ngerjain  tugas  tuh  jangan  ditundatunda,” omelnya. ”Kalau misalnya malam ini gue nggak bisa, gimana? Tugas kita bisa nggak selesai.”

”Iya, deh,” kataku. ”Besok-besok gue nggak bakal nundanunda ngerjain tugas lagi.”

Tentu saja, kalau menyangkut pertemuanku dengan Troy, tugas adalah nomor kesekian untukku. Aku pasti akan menundanya lagi. Tapi, untuk membuat Ivy diam, aku terpaksa mengatakan yang sebaliknya.

Dengan beresnya jadwal mengerjakan tugas kelompok biologi, aku jadi bisa mengantar Jason ke SMA Soteria dengan tenang. Dia sudah siap berangkat ketika aku pulang.

”Kenapa sih lo harus milih sekolah yang jauh?” tanyaku di tengah perjalanan.

”Banyak teman gue yang mau masuk ke Soteria,” jawab Jason dari belakangku. ”Jadi gue ikut mereka.”

Aku berdecak. ”Seharusnya lo masuk Vilmaris aja,” kataku. ”Dengan begitu kan gue jadi punya alasan untuk datang ke sana dan ngelihat Troy.”

”Tadinya juga rencana gue begitu,” kata Jason. ”Tapi nggak ada teman gue yang mau masuk ke sana.”

”Kan lo bisa dapat teman baru di sana,” kataku.

”Gue udah nyaman sama teman-teman gue yang sekarang,” kata Jason. ”Lagi pula, di Soteria ada cewek yang gue taksir.”

Hampir saja aku mengerem motor secara mendadak begitu mendengar kata-kata Jason. Baru kali ini dia terangterangan mengaku naksir cewek. Ternyata adikku sudah besar.

”Kok bisa-bisanya ada cewek yang lo taksir di sana?” ”Beberapa bulan lalu gue ngikut teman gue ke sana,”

jelas Jason. ”Teman gue itu punya kakak yang sekolah di sana. Nah, cewek yang gue taksir itu teman sekelas kakaknya. Lo mesti lihat tuh cewek, Soph. Cantiiikkk banget! Lo sih nggak ada apa-apanya dibandingkan sama dia.”

”Sekali lagi lo ngomong gitu, gue bakal langsung putar balik ke rumah,” ancamku.

Jason pun langsung mingkem. Tapi aku masih penasaran dengan cewek yang ditaksirnya itu.

”Tuh cewek kelas berapa?” tanyaku.

”Sama kayak lo,” jawab Jason. ”Kelas sepuluh.” ”Kenapa lo pilih cewek yang seumuran gue?” tanyaku

lagi.

”Gue pilih dia bukan karena dia seumuran lo,” bantah Jason. ”Lagian menurut gue nggak masalah. Gue kan cuma lebih muda setahun dari dia.”

Sepertinya Jason memang menyukai cewek yang lebih tua darinya. Aku yakin dulu dia juga sempat naksir Ivy. Tapi mungkin karena Ivy begitu dekat denganku, lama-kelamaan Jason menganggapnya sebagai kakak sendiri.

Sesampainya di SMA Soteria, aku memarkir motor di pelataran parkir sekolah. Masih ada beberapa kendaraan yang parkir, mungkin milik guru atau murid yang belum pulang.

Aku mengikuti Jason memasuki bangunan sekolah. Ketika dia masuk ke ruang tata usaha untuk mengambil formulir pendaftaran, aku memutuskan untuk menunggu di luar dan melihat-lihat mading.

Tidak ada yang menarik, hanya beberapa pengumuman. Jadi aku membalikkan badan dan melihat ke arah lapangan yang kosong. Tepat pada saat itu, di seberang lapangan, ada beberapa cewek yang baru keluar dari kelas. Mereka mengobrol sambil tertawa-tawa.

Meski terpisahkan lapangan, aku masih bisa melihat dengan jelas wajah salah satu cewek yang tampak familier. Cewek itu sangat cantik, dengan mata oval dan rambut panjang bergelombang, dihiasi bando pink.

Tunggu... bukankah cewek itu Natasha? Aku sempat tidak yakin karena baru sekali bertemu dengannya, tapi sepertinya itu memang dia.

Sungguh aku tidak menyangka bisa bertemu Natasha lagi di sini. Kalau boleh jujur, aku tidak menyukainya. Bukan karena dia jahat—justru sebaliknya, dia sangat baik—tapi karena dia mantan pacar Troy. Selain itu, dia juga adik Austin. Kenyataan itu baru diketahui Troy setelah satu bulan mereka berpacaran sehingga membuat Troy langsung mencampakkan Natasha. Itulah sebabnya Austin memiliki dendam pribadi pada Troy. Kalau soal itu, aku bisa mengerti. Maksudku, siapa yang rela adiknya diperlakukan seperti itu? Tapi yang membuatku kesal, sepertinya Natasha masih mengharapkan Troy. Untuk apa sih dia masih mengharapkan cowok yang sudah membuatnya patah hati? Lagi pula, dia kan cantik. Cowok yang mau jadi pacarnya pasti antre dari Sabang sampai Merauke. Jadi, kenapa harus Troy?

Aku takut Troy tahu, dan memutuskan untuk kembali pada Natasha. Mungkin dia tidak akan peduli lagi soal fakta Natasha  adik  Austin.  Toh  dia  juga  sudah  mengizinkan Austin untuk memacari Ivy. Berarti tidak ada lagi yang mengalangi hubungannya dengan Natasha.

Tapi itu tidak boleh terjadi. Mereka tidak boleh bersama lagi. Aku tidak akan bisa bersaing dengan Natasha. Dia terlalu sempurna.

Aku terus mengamati Natasha dengan pikiran dipenuhi dirinya, sehingga tanpa sadar kakiku bergerak maju dengan sendirinya. Begitu kakiku menginjak tepi koridor—yang berbatasan langsung dengan lapangan—tubuhku langsung limbung. Tanganku menggapai-gapai mencari sesuatu yang bisa dijadikan pegangan, tapi tidak ada apa pun. Sepertinya aku hanya bisa pasrah.

Yah... jatuh deh. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊