menu

Touché Rosetta Bab 04

Mode Malam
Bab 04
YUNUS KING melewati pita kuning, membuka pintu, lalu menyuruh edward masuk. Di dalam rumah, edward melihat pola garis putih berbentuk orang di lantai, persis seperti yang sering dia lihat  di film-film kriminal.

”Ini bukannya TKP?” tanya edward agak ragu. ”Benar,” jawab Yunus King santai lalu naik ke

lantai dua.

Mereka masuk ke ruangan yang sepertinya kamar kerja. Di sana sudah menunggu seorang gadis cantik berkacamata yang seumuran edward atau lebih muda, berdiri sambil memandangi lukisan kaligrafi yang tergantung di belakang meja kerja. Gadis itu berwajah Asia, berambut hitam sebahu, dan bermata cokelat tua.

”ellen,” panggil Yunus King lalu menghampiri gadis itu dan mengecup pipinya.

”Apakah dia orang yang dimaksud?” tanya ellen sambil menatap edward. ”Orang yang seperti... Papa?”

Yunus King mengangguk. Dia memperkenalkan edward pada ellen. ”ellen, ini edward Kim,” kata Yunus King. ”Dan edward, ini ellen Hamilton.  Anak Profesor Hamilton.”

edward tampak terkejut. Jadi ini rumah Profesor Hamilton? Dan gadis ini anak Profesor Hamilton? Tapi dia...

ellen mengulurkan tangan untuk menyalami edward.

”Aku anak angkat Profesor Hamilton,” jelas ellen seolah bisa membaca pertanyaan di pikiran edward. ”Orangtuaku, yang merupakan sahabat Profesor, meninggal saat aku masih kecil. Profesorlah yang kemudian mengasuhku.”

edward mengangguk-angguk sambil menjabat uluran tangan ellen. Sekarang tinggal pertanyaan lain. ”Untuk apa saya di bawa ke sini?” tanya edward. ”Memangnya boleh, kita memasuki TKP tanpa pengawalan polisi? Yah... walaupun ini rumah Anda sendiri.”

”Tidak,” jawab ellen dan Yunus King hampir berbarengan.

”Baiklah.” edward memutar bola matanya.

”Aku punya kenalan di Scotland Yard,” kata Yunus King, tanpa menyebut bahwa yang dimaksud adalah Komisaris Polisi. Karena tidak mungkin polisi berpangkat rendah memperbolehkan orang sipil seperti dirinya memasuki TKP. ”Dia yang memperbolehkan.”

”Jadi, naskah yang mana yang harus saya baca?” tanya edward, tak mempermasahkan lagi soal keberadaan dirinya di situ.

ellen mengambil lukisan yang tampak seperti kaligrafi yang ternyata terbuat dari aksara yang sangat asing, yang menempel di dinding tepat di belakang meja kerja, lalu meletakkannya di lantai. Di balik lukisan itu terdapat sejenis tempat penyimpanan rahasia. Tempat yang berupa brankas itu tampak canggih dengan layar sentuh dan beberapa tombol.

”Bantuan yang kuminta darimu sebenarnya menyangkut sesuatu yang ada di dalamnya,” kata Yunus King. ”Tapi pertama-tama kita harus memecahkan kodenya dulu.”

”Anda meminta saya memecahkan kodenya juga?” tanya edward.

”Kalau iya, kau mau minta tambahan biaya?” Yunus King balik bertanya.

ellen langsung menatap tajam edward. ”Dia  minta bayaran?”

”Memangnya salah?” edward mengempaskan tubuhnya ke kursi di tengah ruangan. ”’Terima kasih’ tidak bisa untuk membeli makan malam.”

”Yunus, tidak perlu ada biaya tambahan lagi, kita pecahkan sendiri saja,” gerutu ellen.

”Terserah.” edward mengangkat bahu. ”Tapi Nona Hamilton, Anda anaknya, kan? Bukankah seharusnya Profesor memberitahu Anda kodenya? Dan bukankah semestinya polisi juga sudah tahu tentang hal ini dan sudah membukanya untuk mendapat bukti atau apalah...?”

Yunus King menghela napas. ”Kalau ellen tahu, sekarang kita tidak perlu berkutat dengan brankas ini. Dan polisi sudah mencoba membukanya, tapi brankas yang khusus dipesan Leonidas... maksudku Profesor Hamilton, entah berasal dari mana. Terlalu canggih. Jika salah memasukkan kata kunci setelah tiga kali, dia akan menghanguskan apa pun yang ada di dalamnya. Lagi pula, tak ada sidik jari orang lain selain milik Profesor Hamilton di brankas ini sehingga polisi tidak menganggapnya sebagai bukti penting.”

Ditambah aku minta secara pribadi kepada Komisaris Polisi agar brankas ini tidak disentuh, kata Yunus King dalam hati.

edward agak tidak percaya mendengar penjelasan Yunus King. ”Memangnya di mana Profesor Hamilton memesan brankas seperti itu? Impossible Mission force? MI6? Tony Stark? Kenapa tidak coba dihancurkan saja?”

”Brankas ini dibuat agar tahan api, getaran, dan tumbukan. Tidak ada cara lain untuk membukanya selain memecahkan kodenya,” jawab Yunus King.

”Lalu sudah berapa kali kalian coba?”

”Dua kali,” jawab ellen. ”Kesempatan kita memasukkan kata kuncinya tinggal satu kali.”

edward terdiam.

”Tambahan berapa pun yang kau minta, akan kubayar,” kata ellen kemudian. eh? edward mendongak. ”Kenapa berubah pikiran?”

”Karena mungkin kau satu-satunya jalan keluar yang kami punya,” jelas ellen. ”Karena kalian sama.”

”Kami pikir karena kau punya kesamaan dengan Profesor Hamilton...,” Yunus menjelaskan, ”bisa jadi kau pun memiliki cara berpikir yang sama dengannya.”

”Sama?”

”Kalian berdua sama-sama punya kemampuan membaca tulisan-tulisan dari abjad kuno, tulisan yang telah mati.” ellen menatap mata edward sungguh-sungguh. ”Kalian berdua seperti Rosetta berbentuk manusia.”

edward tertegun. Jadi Profesor Hamilton juga se­ orang... Apa tadi yang dibilang Yunus King... touché? ”Memangnya apa yang ada di dalam brankas

itu?” tanya edward lagi.

”Benda yang mungkin berhubungan dengan pembunuhan Papa,” jawab ellen.

edward berpikir sejenak. ”Apakah harus berupa angka?”

”Sebaliknya. Berupa kata,” jawab Yunus King. ”Papa bilang brankas ini hanya menerima kata kunci berupa kata,” jelas ellen.

edward mulai berpikir sebentar lalu melirik ellen. ”Sudah Anda coba dengan nama Anda, Nona?”

”Sudah,” jawab ellen pendek. ”Dan?”

”Kalau berhasil, kita sudah melihat isi brankas itu,” jawab ellen.

”Lalu kenapa kalian pikir petunjuknya ada di kamar ini?”

Yunus King berjalan pelan mengitari kamar. ”Profesor Hamilton berumur 68 tahun. Dia pasti sadar ingatannya tidak tajam lagi. Itulah sepertinya alasan dia meminta desain khusus brankas yang menerima kata kunci hanya berupa kata. Bukankah mengingat kata lebih mudah daripada mengingat angka? Itu juga sebabnya aku yakin, ada sesuatu di ruangan ini yang dia letakkan untuk mengingatkannya pada kata kunci brankas.”

Pemikiran yang masuk akal, batin edward.

edward menegakkan punggung dan mulai mengamati sekeliling kamar itu. Tidak ada yang mencolok di sana. Kamar kerja ini rapi, dengan banyak sekali buku tersusun di lemari dan lukisan-lukisan burung yang menghiasi dinding.

Burung... banyak sekali burung..

”Apa jenis burung favorit Profesor?” tanya edward.

”elang,” jawab ellen. ”Mungkin i—”

”Itu yang menyebabkan kesempatan kita tinggal satu,” desah Yunus King.

Mata edward kemudian tertuju pada rak buku di dekat jendela. ”Bagaimana dengan buku? Ada banyak buku di sini. Apa judul buku favoritnya?”

ellen menggeleng. ”Ini bukan saatnya main tebaktebakan.”

edward menghela napas. ”Sementara hanya itu yang terpikir—” Kata-katanya terhenti saat melihat lukisan berbentuk seperti kaligrafi yang tergeletak di lantai.

”Itu...”

”Itu apa?” ketus ellen.

”Sepertinya lukisan itu kata kuncinya.” edward bangkit lalu mengambil lukisan itu.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊