menu

Touché Rosetta Bab 03

Mode Malam
Bab 03
EDWARD  mendengar seseorang memanggil  namanya  saat  dia  baru  keluar  dari  gedung  flat, tempat tinggalnya. ”Kim?”

”Ya?” edward menoleh. Yang memanggilnya adalah pria berkacamata yang kemarin menemui Profesor fischer di kantornya.

Pria itu mengulurkan tangan. ”Yunus King, tapi kau bisa memanggilku Yunus.”

”edward Kim,” edward menjawab uluran tangan lelaki itu. ”Bagaimana Anda bisa tahu alamat saya? Dari Profesor?” Yunus King tersenyum. ”Dari membaca peta.” edward mengerutkan kening.

”Aku ingin minta bantuanmu,” kata Yunus King tanpa berbasa-basi.

”Bantuan apa?”

Yunus King menunjuk mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri. ”Ayo ikut, nanti kuberitahu.”

edward melihat ke arah mobil yang ditunjuk dan ke wajah Yunus King secara bergantian. Dia berpikir sejenak. ”Maaf, saya menolak,” katanya lalu berjalan meninggalkan Yunus King.

”Hei, kau belum mendengar bantuan apa yang kuinginkan darimu!”

”Maaf, saya tidak bisa membantu Anda,” jawab edward. ”Saya ada kuliah pagi.”

”Aku ingin minta bantuanmu untuk menyentuh naskah kuno dan mengatakan padaku apa yang terbaca di sana!” teriak Yunus King.

Langkah edward terhenti. Dia membalikkan badan dan melihat Yunus King tersenyum menang seolah mengatakan ”Aku tahu rahasiamu”.

”Bagaimana Anda...?” ”Ikut denganku dan akan kukatakan semuanya,” bujuk Yunus King.

Apakah Profesor Fischer yang mengatakannya? Tidak mungkin, reputasi Profesor sendiri dalam bahaya jika hal seperti ini terbongkar, berbagai macam pikiran muncul di kepala edward. Bagaimana dia tahu? Siapa se­ benarnya pria ini? Ah, tapi semua bukan masalah. Ada yang lebih penting lagi!

”Ayo,” ulang Yunus King. ”Berapa?” tanya edward. ”Hah?”

”Berapa yang berani Anda bayar jika saya mau membantu Anda?” edward menatap lelaki di hadapannya dengan serius.

Yunus King terdiam, tak menyangka justru uanglah yang akan dipermasalahkan edward. Oke, ini di luar dugaan.

”Berapa pun yang kau mau,” jawabnya kemudian.

”Saya butuh kepastian nominal,” jawab edward tegas.

Yunus King mengeluarkan sebuah lempeng dari saku mantelnya, lalu menyerahkannya pada edward. ”Ini untuk uang muka.” Mata edward langsung membelalak saat menerimanya. ”Ini lempengan Harihara!”

Arca Harihara yang berdiri di atas bantalan teratai ganda terlukis di lempengan itu.

”Benar.” Yunus King mengangguk. ”Dan aku masih punya lempeng bulan sabit beraksara dan naga mendekam berenkripsi, setelah kita selesai.”

”Bukankah ketiga benda ini diberitakan dicuri dari museum di Indonesia?” tanya edward tak percaya.

”Aku baru saja membelinya di pasar gelap dan hendak menyimpannya di gudang koleksiku setelah mampir ke sini,” desah Yunus King. ”Tapi kau boleh memilikinya jika bersedia membantuku. Kau pasti bisa menghitung sendiri berapa nilainya.”

edward terdiam. Dia tinggal mencari orang yang bisa menjualnya di pasar gelap dan uang hasil penjualan ketiga benda itu bisa membuatnya bersenangsenang selama lima puluh tahun.

”Jadi bagaimana?” Yunus King bertanya sambil berjalan tegap menuju mobil.

edward pun segera berlari mengikuti lelaki itu.

*  * * Yunus King mengeluarkan kertas dari saku bajunya lalu menunjukkannya pada edward. ”Baca.”

Edward melihat kertas itu. Ada tulisan yang sepertinya aksara Cina: 书是随时携带的花园.

”Ini yang harus saya terjemahkan?” Edward me­

ngerutkan kening.

”Bukan, tapi aku ingin memastikan kemampuan­ mu,” jawab Yunus King. ”Kau bisa bahasa Cina?”

Edward menggeleng.

”Tapi kau tahu apa artinya jika kau menyentuh­ nya?”

”Dari mana Anda tahu?”

Yunus King mengangkat alis. ”Benar, kan?”

edward menarik napas panjang lalu menyentuh tulisan di kertas itu. Satu demi satu kata terangkai  di kepalanya, seperti proyektor.

”Sebuah buku seperti taman yang dibawa dalam saku,” kata edward kemudian.

Yunus King melipat kertas yang dipegangnya. ”Benar.”

”Jadi bagaimana Anda bisa tahu tentang kemampuan saya yang ini?” ulang edward dengan nada menuntut.

”Aku membayarmu. Jadi apa masih perlu kau tahu dari mana aku tahu tentang kemampuanmu?” Yunus King tersenyum menang.

edward hanya diam dan memasang tampang kesal.

Yunus King memencet tombol di pintu mobil dan tiba-tiba pembatas muncul di antara sopir dan kursi penumpang belakang. Setelah seluruh bagian pembatas itu terbentang, Yunus King menoleh ke arah edward, menatapnya dalam-dalam. ”Karena kau sama denganku,” katanya. ”Kita punya kemampuan yang sama.”

Apa?

”Kita berdua adalah kaum touché.” ”To...” ulang edward. ”Touché?”

”Setidaknya itulah nama yang diberikan Casanova,” jelas Yunus King. ”Untuk orang-orang seperti kita yang mempunyai kemampuan khusus yang diperoleh dari menyentuh. Touché sendiri ada bermacam-macam bentuk.”

”Tunggu! Tunggu!” potong edward. ”Apa itu touché? Casanova? Kemampuan? Ini plot film fiksi ilmiah baru atau bagaimana?”

Yunus King menghela napas. ”Ada banyak orang seperti kita di dunia. Orang-orang yang memiliki kemampuan dari sentuhan. Orang-orang ini diberi nama kaum touché oleh Casanova. Beberapa touché yang pernah kutemui memiliki kemampuan menyerap tulisan, menyerap mesin, menyerap memori alat musik, me—”

”Menyerap?” potong edward.

Yunus King mengangguk. ”Cara kerja kemampuan kita ini sebenarnya menyerap. Ada touché yang bisa membaca pikiran, tapi mungkin lebih tepat dikatakan dia menyerap apa yang ada dalam pikiran orang yang disentuhnya. Begitu juga touché yang disebut empath, dia menyerap emosi seseorang. Kau pun begitu.”

”Saya menyerap tulisan?”

”Tidak sesederhana itu,” jawab Yunus. ”Jika hanya menyerap tulisan, kau akan sekadar mengingatnya dan tidak memahaminya. Tapi kau justru sebaliknya, kau memahami tulisan dari aksara yang bahkan belum pernah kau lihat. Aku sudah pernah bertemu orang yang memiliki kemampuan yang sama denganmu. Touché­mu mampu menyerap makna di balik tulisan yang kausentuh. Apa kau tahu ada orang terkenal yang kemungkinan besar punya kemampuan touché sepertimu?” edward menggeleng.

”Jean-françois Champollion.”

”Orang yang menerjemahkan Batu Rosetta?”

edward tampak terkejut. ”Benarkah?”

”Dia sudah menerbitkan jurnal tentang penerjemahan teks demotik pada saat usianya baru enam belas tahun,” jelas Yunus King. ”Dia baru mulai melakukan penelitian tentang Batu Rosetta pada tahun 1820, dan pada tahun 1822 sudah memublikasikan laporan penerjemahannya.  Jika bukan karena kemampuan touché, apa lagi?”

”Bukankah dia bisa menerjemahkan Batu Rosetta

karena penelitian Thomas Young juga?”

Yunus King menatap edward. ”Sepertimu. Kau mampu memahami arti satu kalimat dari aksara yang sama sekali belum pernah kaulihat. Tapi apakah kau tahu cara mengucapkannya? Memisahkannya per huruf? Hingga bisa menyusun kalimat lain dengan huruf-huruf itu? Untuk menjelaskan itu semua dan menuangkannya ke laporan, Jean-françois Champollion menggunakan dasar penelitian Thomas Young yang saat itu belum sempurna.”

edward sebenarnya masih belum bisa percaya, tapi penjelasan Yunus King sangat meyakinkan. ”Anda sendiri?” tanya edward kemudian. ”Apa yang Anda serap?”

”Aku tidak menyerap apa-apa,” jawab Yunus King sambil menatap telapak tangannya. ”Aku pengecualian. Kemampuanku adalah menemukan jejak.”

”Seperti GPS?” tanya edward takjub. ”Itu sebabnya Anda bisa menemukan tempat saya tinggal.”

Yunus King hanya tersenyum. Dia memencet tombol di pintu lagi untuk menurunkan pembatas antara sopir dan penumpang.

”Apakah kita sudah sampai?”

”Sudah, Tuan King,” jawab sang sopir.

Mobil mereka berhenti di depan townhouse di Kensington yang masih terbentang pita kuning polisi.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊