menu

Touché Rosetta Bab 02

Mode Malam
Bab 02
PROFESOR HAMILTON dibunuh.

Dia tewas ditembak di kediamannya. Tidak ada

bekas perlawanan, dan yang paling aneh, tidak ada barang yang hilang sama sekali. Setidaknya itulah kesimpulan sementara pihak kepolisian wilayah London atau yang lebih dikenal dengan sebutan Scotland Yard.

Sejak Profesor Hamilton meninggal, edward merasa sikap Profesor fischer berubah. Dia jadi lebih banyak melamun. Dia pun tidak pernah meninggalkan ruang kerjanya lagi sejak itu. edward mulai khawatir. ”Profesor,” akhirnya edward memberanikan diri setelah dua minggu. ”Mungkin Anda perlu berlibur sejenak atau berjalan-jalan mencari udara segar.”

”Kenapa kau berpikir begitu?” tanya Profesor fischer dingin.

edward menggaruk-garuk kepalanya. ”Karena sejak kematian Profesor Hamilton, saya lihat Anda tampak kurang sehat.”

”Ini namanya berduka, Kim,” jawab Profesor fischer. ”Dan terima kasih telah mengkhawatirkanku, walau itu terasa tidak seperti dirimu yang biasanya.”

edward tidak menjawab lagi. Dia tidak bisa bilang bahwa sebenarnya dia mengkhawatirkan penghasilan rutinnya ikut menurun kalau Profesor fischer sakit.

Telepon di meja kerja Profesor fischer berdering. ”Halo?” jawab Profesor fischer dengan intonasi datar. ”Sudah datang, Mary? Baiklah, suruh dia ma-

suk.”

”Kalau begitu saya permisi dulu, Profesor,” edward pamit lalu mengepak tasnya.

Profesor fischer mengangguk.

Belum sempat edward memegang hendel pintu, pintu sudah terbuka. Di depannya berdiri pria bertubuh tinggi, keturunan Asia, berkacamata, dan berambut hitam. Pria itu tampak terkejut melihat edward. Pandangannya pada edward terlihat aneh, tapi sesaat kemudian pria itu tersenyum. edward membalas senyumnya lalu begitu saja berjalan keluar dari ruangan Profesor fischer.

Pandangan pria itu masih mengikuti edward sampai pintu ditutup.

”Ada yang bisa saya bantu, Tuan King?” tanya Profesor fischer sambil menggerakkan tangan untuk mempersilakan tamunya duduk.

Profesor fischer sudah banyak mendengar tentang King Group. Hampir semua pasar dikuasainya: dari perkebunan, pertambangan, hingga barang konsumsi. Anak perusahaannya tersebar di seluruh dunia. Keluarga King juga salah satu donatur tetap British Museum. Tapi salah satu keluarga terkaya di muka bumi itu sangat tertutup. Amat jarang berita di media massa tentang mereka. Bahkan sejujurnya ini adalah kali pertama Profesor fischer bertemu salah satu pewarisnya, Yunus King.

”Sebelumnya,” Profesor fischer menuang air panas ke cangkir, ”mau teh?” Yunus King mengangguk.

”Ada urusan apa Anda jauh-jauh datang ke sini, Tuan King?” Profesor fischer bertanya sambil menyuguhkan teh kepada Yunus King.

”Siapa anak yang baru saja keluar?” tanya Yunus King setelah meneguk teh.

Profesor fischer menatap tamunya itu lekat-lekat, bingung. ”Kim?”

”Jadi namanya Kim?”

”edward Kim.” Profesor fischer mengangguk. ”Ada apa dengannya?”

Yunus King menggeleng. ”Tidak ada apa pun.” Dia bangkit dan pamit. ”Saya permisi dulu.”

Profesor fischer ikut bangkit dan menatap tamunya, bingung. Dia sampai tak bisa berkata apa-apa melihat Yunus King membuka pintu ruangannya dan pergi begitu saja.

Apa­apaan orang itu? batin Profesor fischer.

*  * *

Saat masuk ke ruang kantor Profesor fischer, sebenarnya Yunus King masih belum tahu apa pun tentang edward. Dia hanya tahu bahwa di dalam British Museum ada kaumnya. Seseorang yang memiliki kemampuan sepertinya. Dia melihatnya saat menyentuh peta London. Yunus King bisa mengetahui letak seseorang hanya dengan menyentuh peta, persis seperti yang dilakukan Profesor X dengan cerebro-nya di film X­Men. Dia juga bisa membedakan orang biasa dari orang yang memiliki kemampuan sama dengannya hanya melalui penglihatannya saat menyentuh peta. Bagi matanya, ada perbedaan warna antara kedua kelompok orang tersebut.

Mengikuti kecepatan dan ketepatan laporan Profesor fischer, semula Yunus King menduga si Profesor-lah yang memiliki kemampuan serupa dirinya. Itu sebabnya dia juga membawa lempengan Harihara untuk ditawarkan sebagai imbal balik. Tetapi dia langsung mendapat jawabannya saat tak sengaja bertemu edward di ruang kerja si Profesor yang ingin dijumpainya. Tanpa harus menyentuh peta pun Yunus King langsung tahu edward-lah orang yang dicarinya. Mungkin seiring waktu, kemampuannya juga meningkat. Dia bisa melihat warna edward yang hampir sama dengan warna dirinya. Lalu dengan cepat Yunus King bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa laporan Profesor fischer merupakan hasil kemampuan edward semata. Kemampuan menyerap tulisan dari bahasa yang telah mati kemudian menerjemahkannya. Kemampuan seperti milik salah satu sahabatnya, yang dua minggu lalu ditemukan mati terbunuh di dalam rumahnya.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊