menu

Touché Rosetta Bab 01

Mode Malam
Bab 01
”BAGAIMANA kuliahmu, Kim?” Profesor fischer bertanya sambil membuka-buka jurnal penemuan

terbaru.

edward yang duduk di lantai kantor si Profesor dan dikelilingi manuskrip-manuskrip kuno, mendongak sambil tersenyum. ”Menyenangkan.”

Profesor fischer ikut tersenyum lalu bangkit dari duduknya.

”Kau mau teh?” tanya Profesor fischer sebelum menuangkan air panas ke cangkir.

”Tidak, terima kasih,” jawab edward. ”Profesor,” kata edward lagi setelah menutup catatannya. ”Apakah pernah terpikir bagaimana jika ini ketahuan?”

”Ketahuan?” Profesor fischer balik bertanya sambil mengaduk-aduk teh di cangkir.

”Bahwa saya menerjemahkan tulisan untuk benda-benda bersejarah seperti ini,” edward menunjuk manuskrip-manuskrip kuno di sekelilingnya, ”atas nama Anda.”

Profesor fischer menyeruput teh. ”Tidak akan ketahuan, kecuali jika kau membocorkannya.” Dia menatap edward dengan tajam. ”Apakah sekarang kau sedang berencana memerasku?”

edward menggeleng. ”Memeras itu tindakan bodoh, Profesor. Saya sudah cukup dapat banyak uang setiap membantu Anda, ditambah Anda membiayai kuliah saya di Oxford. Jadi tidak ada untungnya memeras Anda. Setidaknya ‘belum’,  untuk  saat ini.”

”Jalan pikiranmu yang susah ditebak itu kadangkadang membuatku takut.” Profesor fischer menggeleng.

edward meringis.

”Bagaimana kau sendiri? Jika rahasia ini terbongkar, kemampuanmu juga akan ketahuan, bukan?” ”Jangan khawatir. Tidak akan ada yang percaya ada orang bisa membaca tulisan kuno hanya dengan menyentuhnya,” edward mengangkat bahu.

”Tapi bukankah aku percaya?”

”Itu yang aneh,” jawab edward lalu mendongak, menatap Profesor fischer. ”Kenapa Anda bisa percaya kemampuan yang tidak terjelaskan seperti  ini?”

”Kemampuan anehmu itu bukan tidak terjelaskan, tetapi belum terjelaskan,” Profesor fischer menghela napas lalu meletakkan cangkir teh. ”Aku yakin suatu saat kita akan menemukan penjelasannya. entah dari penelitian pada masa depan atau mungkin dari peninggalan pada masa lalu. Pergantian malam dengan siang, gerhana, dan banyak hal yang sekarang tampak biasa-biasa saja sesungguhnya merupakan kejadian aneh pada masa lalu.”

edward mengangguk lalu tersenyum. ”Saya pikir karena Anda sama seperti saya, selama menguntungkan, kita tidak perlu repot-repot mencari penjelasan.”

”Jangan samakan aku denganmu yang mata duitan,” gerutu Profesor fischer. edward hanya tertawa.

Tiba-tiba pintu ruangan Profesor fischer terbuka. Dua pria paruh baya dan seorang wanita masuk dengan ekspresi panik. Salah satu pria itu adalah Profesor Leonidas Hamilton, rekan kerja Profesor fischer. Dia pernah datang beberapa kali.

edward langsung membereskan semua catatannya, termasuk manuskrip-manuskrip yang berserakan.

”Maafkan saya, Profesor, saya sudah bilang kepada mereka untuk menunggu sebentar, tapi...,” kata si wanita dengan gugup.

”Tidak apa-apa, Mary,” potong Profesor fischer. ”Mereka memang tidak bisa disuruh menunggu.”

”Kau tidak berubah, Gerard Henry fischer.” Pria yang rambut putihnya sudah menipis berkata riang sambil berjalan menghampiri Profesor fischer.

”Kau juga begitu, kecuali rambutmu yang jauh berkurang, Theodore Richard Martin,” sahut Profesor fischer santai.

Mereka tertawa dan saling memeluk.

”Apa yang membawamu ke sini, Ted?” tanya Profesor fischer. ”Atau aku harus memanggilmu Profesor Martin?”

”Kalau kau tidak masalah kupanggil ‘Profesor fischer’, silakan saja, Gerry,” jawab Profesor Martin tak kurang santai. ”Aku ada seminar di sini, lalu tiba-tiba teringat padamu. Dan di depan British Museum tadi aku bertemu Leon.”

”Aku memang ada perlu dengan Gerry,” ujar Leon alias Profesor Hamilton. ”Tapi mungkin besok saja membicarakannya, sekarang waktunya ngobrol santai karena lama tak bertemu Ted.”

”Walau kita sudah lama tidak bertemu, aku cukup sering mendengar berita tentangmu.” Profesor fischer menepuk-nepuk bahu Profesor Martin. ”Kudengar kau merekrut anak berumur delapan belas tahun dalam tim penelitianmu. Kau sudah putus asa?”

”Oh, maksudmu Morrison,*” Profesor Martin mengangguk-angguk. ”Dia sih luarnya saja yang delapan belas tahun.” Pandangannya kemudian beralih ke edward yang masih berada di ruangan tersebut. ”Tapi kulihat kau juga melakukan hal yang sama.”

”Maafkan saya,” kata Edward bersiap pamit.

”Saya permisi dulu.”

”Tunggu dulu, Kim,” sergah Profesor fischer, menahan agar edward jangan pergi dulu. Dia memperkenalkan edward pada kedua temannya.

* Baca kisah tentang Hiro Morrison dalam Touche Alchemist. ”Dia edward Kim, anak magang di sini  dan  orang kepercayaanku.”

Profesor Martin menyodorkan tangan seraya tersenyum menatap edward yang menghampirinya. ”Theodore Richard Martin. Tapi kau bisa panggil aku ‘Ted’.”

edward menyalami Profesor Martin dengan sopan. ”Saya tidak mungkin berani memanggil Anda seperti itu, Profesor Martin.”

Profesor Martin melirik ke arah Profesor Hamilton saat bersalaman dengan edward.

”Oh, edward sudah kenal denganku,” kata Profesor Hamilton, seolah tahu arti lirikan Profesor Martin. ”Aku sudah beberapa kali ke sini.”

”Walaupun bekerja di bidang sains, Ted juga tertarik dengan arkeologi dan manuskrip-manuskrip kuno,” jelas Profesor fischer, menjawab tanda tanya di wajah Profesor Martin.

edward mengangguk untuk berpamitan. ”Saya keluar dulu, Profesor.”

”Aku dengar ada hal menarik yang kautemukan, Leon,” kata Profesor Martin samar-samar sebelum edward menutup pintu dari luar. *  * *

Jantung Profesor Hamilton berdegup gencang saat dia membaca ulang tulisan dalam buku kuno yang dia dapatkan kemarin. Buku itu ditulis dalam bahasa yang telah mati. Bahasa tersebut sudah tidak digunakan lagi di mana pun di dunia saat ini. Tapi   dia bisa membacanya. Hanya dengan menyentuh tulisan dalam surat itu, dia bisa tahu apa yang terbaca di sana.

Ada beberapa petunjuk penting dalam surat ini.

Saat hendak mencari tahu hal-hal yang disebutkan dalam surat itu, handphone Profesor Hamilton berbunyi.

”Halo?” jawab Profesor Hamilton.

”Apakah kau sudah menerjemahkannya?” tanya suara di seberang.

”Kalau hanya diterjemahkan sih bisa langsung saat kauberikan padaku,” jawab Profesor Hamilton. ”Tapi bukan itu yang kauinginkan, kan?”

”Yah, aku ingin tahu sampai—” Percakapan mereka terpotong suara bel. ”Kau ada janji dengan seseorang, Leon?”

”Ya... katanya dia punya lempengan kuno yang dia dapatkan dari pasar gelap dan memintaku untuk menerjemahkan tulisan di atasnya. Namanya Tuan Darren kalau tidak salah. Oh, aku baru ingat, namanya Mitt Darren. Nama yang tidak umum, kan?”

”Belum pernah dengar. Dan kau mau?”

”Selama bayarannya bagus,” Profesor Hamilton tertawa. ”Hahaha... Kau kan tahu bagiku yang terpenting bukan uang. Lagi pula, bukankah kau juga sering membeli barang-barang di pasar gelap termasuk surat ini?”

Bel berbunyi lagi.

Profesor Hamilton berdiri dan membereskan mejanya. Surat kuno itu dia masukkan ke brankas yang disembunyikan di balik lukisan di belakang meja.

”Nanti kutelepon lagi, Yunus,” kata Profesor sebelum menutup teleponnya.

Profesor Hamilton berjalan menuju pintu dan terkejut saat membukanya.

”Oh... kau. Ada apa? Kupikir orang lain,” katanya sambil mempersilakan orang itu masuk. ”Aku sedang menunggu seseorang...”

”Akulah Mitt Darren.”

*  * * Sementara itu di salah satu kantor polisi di Manhattan, New York, Amerika Serikat, Detektif Samuel Hudson sedang dipusingkan kasus pembunuhan berantai. Pembunuhannya sangat rapi, tak meninggalkan petunjuk apa pun, bahkan tak ada DNA sedikit pun. Pembunuhnya pasti orang yang sangat teliti dan pintar.

Sudah jatuh lima belas korban jiwa yang tersebar di berbagai negara bagian di Amerika Serikat hingga fBI pun ikut turun tangan. Korban paling banyak berada di New York.

Detektif Hudson yang bertugas menyelidikinya bersama fBI bolak-balik mempelajari laporan  autopsi para korban.

Apakah ini pembunuhan berantai yang dilakukan seca­ ra acak? batin si Detektif. Apa kesamaan yang dimiliki para korban ini? Apakah ada yang kulewatkan?

Saat handphone-nya berbunyi, ia melihat nama yang tertera di layar dan menggerutu.

”Halo? Ada apa? Hah? Kau minta salinan laporan autopsi dan DNA para korban pembunuhan berantai?”  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊