menu

Touché Rosetta 00 Prolog

Mode Malam
Prolog
Profesor  Fischer sedang mengamati prasasti yang baru saja dikirim ke British Museum, saat handphone-nya berbunyi. Ia segera meraihnya. ”fischer di sini,” jawabnya, lalu kembali berjalan menuju prasasti. ”Ya, Roland, aku sudah melihat sendiri prasastinya, mungkin besok baru dibawa ke ruang penelitian.

”Aku tidak menyangka Indonesia meminta bantuan kita untuk menerjemahkan tulisan di prasasti ini. Memangnya mereka tidak punya tenaga?” tanya Profesor fischer. ”Sebagai imbalannya, bisakah kita meminta prasasti ini tetap berada di sini? Koleksi kita dari Indonesia kan masih sangat sedikit.”

Penelepon di seberang  belum  menjawab. Profesor fischer menghela napas. ”Aku hanya ber-

canda, Roland. Aku tahu mereka tidak mungkin memberikannya.”

Kemudian Profesor fischer mendengar pintu kantornya diketuk.

”Masuk,” serunya.

Anak laki-laki yang tampaknya keturunan Asia, berpostur tinggi agak kurus, berambut cokelat pendek, dan bermata sipit masuk sambil membawa kertas.

”Saya edward Kim, perwakilan murid dari Latymer School yang baru saja melakukan kunjungan sekolah,” anak itu tersenyum, memperkenalkan diri. ”Kata sekretaris Anda, saya boleh langsung bertemu Anda. Saya hanya ingin meminta tanda tangan—”

Profesor fischer memotong ucapan edward dengan memberi tanda agar dia diam, lalu pergi menuju mejanya dan berdiri membelakangi anak itu.

Mary kurang ajar, batin Profesor fischer. Seenaknya saja menyuruh orang masuk tanpa bertanya dulu pada­ ku. ”Sepertinya aku harus menutup telepon ini,” kata Profesor fischer, kali ini agak berbisik. ”Kau bilang tadi prasasti ini kemungkinan berasal dari Kerajaan Kutai? Oke, akan kuberi catatan di dokumennya agar diperhatikan para peneliti. Apa lagi? Oh... dan dibuat pada masa Mulawarman? Lalu...”

”Telah lahir putra dari sang Tungga Warman. Untuk peringatan itulah tugu ini didirikan para Brahma.”

Profesor fischer langsung menoleh begitu mendengar tamunya berbicara sendiri sambil asyik menyentuh prasasti. Ia buru-buru menutup telepon, ”Nanti kutelepon lagi, Roland.” Setelahnya ia menghampiri edward, tamunya.

”Hei, Nak, apa aku memperbolehkanmu menyentuh benda-benda di ruangan ini?” tegur Profesor fischer agak marah.

”Maafkan saya,” jawab Edward, memundurkan

dirinya, menjauh dari prasasti.

”Untuk apa mencariku?” Profesor fischer bertanya sambil menyuruh edward duduk.

”Saya hanya mau minta tanda tangan,” kata edward lalu menyodorkan kertas-kertas di tangannya. Dia memandangi prasasti itu lagi, tampak masih penasaran—Profesor fischer menyadarinya.

”Kau pernah membaca tentang Kerajaan Kutai?” ”Kerajaan apa?” tanya edward, terkejut.

”Kutai di Indonesia.” edward menggeleng.

”Kenapa tadi kau berkata seperti itu?” tanya Profesor fischer. Setelahnya ia menandatangani kertas-kertas yang diberikan edward.

”Seperti apa?”

”’Telah lahir putra dari sang Tungga Warman...’” ”Ooh...” edward tampak berpikir sebentar. ”Kare-

na memang terbaca seperti itu.”

Anak ini membual, Profesor fischer mendengus. Dia pasti hanya mengarang. Lagi pula Roland bilang, prasasti ini kemungkinan berasal dari zaman Mulawarman, yang berarti jauh sebelum Tungga Warman. Tapi kenapa anak itu berbohong dengan mengatakan bahwa dia tidak tahu Kutai? Agar aku kagum?

Diam-diam Profesor fischer mengamati edward. Tapi dia tidak tampak seperti anak yang suka mencari pujian.

Profesor fischer menyerahkan kembali kertas-kertas yang telah dia tanda tangani. ”Terima kasih,” kata edward lalu pamit. ”Tunggu,” sergah Profesor fischer sebelum

edward keluar. ”Siapa tadi namamu?”

”Kim,” jawab edward sambil tersenyum. ”edward Kim.”

”Dari Latymer School, kan?” edward mengangguk.

”Kau boleh pergi.” Lalu pintu ditutup.

*  * *

Delapan bulan kemudian...

Profesor fischer hampir tak percaya membaca terjemahan laporan penelitian yang baru selesai, atas prasasti Kutai yang dikirim ke British Museum. Tulisan di prasasti itu terbaca: Telah lahir putra dari sang Tungga Warman. Untuk peringatan itulah tugu ini didirikan para Brahma.

Anak itu... anak itu tidak berbohong!

Profesor fischer cepat-cepat menelepon sekretarisnya. ”Mary, delapan bulan lalu saat prasasti Kutai dari Indonesia dikirim ke sini, ada kunjungan dari sekolah mana? Tidak, aku tidak ingat tanggal berapa, kira-kira dalam minggu itulah.”

Hening sejenak.

”Ada lima belas sekolah? Sebutkan semuanya!” perintah Profesor fischer.

Tampak si Profesor menyimak ucapan sekretarisnya di seberang telepon.

”Latymer! Latymer School!” seru Profesor setelah Mary selesai menyebut nama lima belas sekolah itu. ”Apa kau tahu nama anak yang jadi perwakilan muridnya? Yang waktu itu kausuruh ke ruanganku untuk meminta tanda tanganku?” Dalam hati Profesor fischer sangat berharap Mary tahu karena

dirinya benar-benar lupa.

Terdengar Mary membolak-balik kertas. Agak lama setelahnya menyebutkan sebuah nama.

”Kim? Hanya Kim?” ulang Profesor fischer.

Profesor fischer menutup telepon. Di Latymer pasti tidak banyak anak yang memiliki nama keluarga Kim.

Dia bergegas keluar untuk pergi ke Haselbury Road tempat Latymer School berada, dengan harapan bisa segera bertemu Kim.

Anak itu istimewa. Dia bisa sangat berguna bagi mu­ seum. *  * *

Terdengar suara pintu ruang kepala sekolah diketuk dari luar.

”Masuk.”

Seorang anak laki-laki berkacamata membuka pintu dan masuk. ”Anda mencari saya, Nyonya Robinson?”

”Duduklah, Kim,” kata Nyonya Robinson sambil menunjuk kursi kosong di depan mejanya, di samping seorang pria. edward mengenal pria itu sebagai kepala British Museum yang pernah dia temui untuk dimintai tanda tangan.

”Ini Profesor fischer,” Nyonya Robinson memperkenalkan tamunya kepada edward.

Profesor fischer mengulurkan tangan. ”Senang bertemu denganmu, Kim.”

”Senang bertemu dengan Anda juga, Profesor,” sahut edward sambil menjabat tangan Profesor fischer.

”Dia anak yang Anda cari, Profesor?” tanya Nyonya Robinson.

Profesor fischer mengangguk. edward menatap bingung Profesor fischer dan Nyonya Robinson secara bergantian.

”Bisakah Anda meninggalkan kami berdua, Nyonya Robinson?” pinta Profesor fischer. ”Ada yang ingin saya bicarakan secara empat mata dengan Kim.”

”Tapi..”

”Saya mohon,” Profesor fischer mengiba. ”Atau ada ruangan yang bisa saya gunakan untuk berbicara berdua dengan Kim?”

”Baiklah, di sini saja,” kata Nyonya Robinson agak enggan lalu berjalan keluar.

”Apa yang mau Anda bicarakan dengan saya?” tanya Kim setelah Nyonya Robinson menutup pintu.

”Bagaimana kau melakukannya?” tanya Profesor fischer tanpa basa-basi.

”Melakukan apa?”

”Membaca apa yang tertulis di prasasti itu, telah lahir putra dari sang Tungga Warman,” Profesor fischer mencoba mengingatkan.

edward terdiam. Dia menggaruk-garuk kepala dan membuang pandangan ke luar jendela.

Profesor fischer lalu mengeluarkan sebuah tabung dari dalam tasnya. Dia menggunakan sarung tangan dan dengan hati-hati mengeluarkan isi tabung itu. Sebuah gulungan kuno.

edward memperhatikan gulungan kuno berupa perkamen yang telah dibentangkan di meja. Seperti gambar-gambar dari peradaban Mesir Kuno yang pernah dia lihat di TV dan film-film seperti The Mummy. Di bagian atas perkamen terdapat gambar sepuluh orang yang sedang duduk. Tepat di tengah yang menjadi pusat perkamen, terdapat gambar timbangan dan manusia berkepala seperti anjing.

”Kau tahu ini apa?” tanya Profesor fischer. edward menggeleng.

”Coba kau baca,” perintah Profesor fischer pada edward.

edward menatapnya bingung. ”Apa yang dibaca?”

”Bagian huruf-huruf hieoroglyph di antara gambargambar itu,” jelas Profesor fischer.

edward meraba perkamen itu. Matanya memejam dan mulai berbicara. ”Osiris, juru tulis Ani berkata, ’O hatiku yang kudapat dari ibuku! O hatiku yang kudapat dari ibuku! O hatiku yang kudapat dari ibuku! O hatiku dari usiaku yang berbeda-beda! Semoga tidak ada yang melawanku saat penghakiman. Semoga tidak ada penolakan dari penilai. Semoga tidak ada perpisahan antara kau dari aku   di depan dia yang membuat timbangan! Kau adalah...’”

”Cukup!” potong Profesor fischer.

edward membuka mata lalu menatap Profesor fischer.

Profesor fischer menelan ludah. Anak ini benar­ benar bisa membacanya. Dia tidak mungkin menghafal semua isi Papyrus of Ani.

”Kau masih tak tahu apa ini?” ulang Profesor fischer sambil menggulung kembali perkamen itu lalu memasukkannya ke dalam tabung.

edward menggeleng.

”Tapi kau bisa membacanya.” edward hanya diam.

”Yang barusan kuperlihatkan padamu adalah bagian dari Papyrus of Ani,” jelas Profesor fischer. ”Atau yang lebih dikenal sebagai Buku Kematian. Orang-orang Mesir Kuno percaya bahwa setelah mati, mereka tetap butuh sebuah panduan yang ditulis pada kertas papirus. Buku Kematian yang pernah ditemukan dan paling terkenal adalah buku kematian seseorang bernama Ani, itu sebabnya dinamakan Papyrus of Ani.”

edward mengangguk-angguk mendengar penjelasan Profesor fischer.

”Kemampuanmu sangat mengagumkan, Nak,” kata Profesor fischer. ”Sejak kapan kau memilikinya?”

”Mungkin sejak kecil,” jawab edward sambil mengangkat bahu. ”Saya menyadarinya saat saya bisa memahami tulisan mendiang ibu saya bahkan walaupun saya belum bisa membaca.”

”Nilai mata pelajaran bahasa asingmu pasti bagus sekali.”

”Sayangnya tidak.” edward menggeleng. ”Kemampuan saya ini tidak berfungsi untuk tulisan hasil cetakan atau dari alat seperti tablet maupun komputer. Jadi ketika ujian datang, saya tetap harus belajar karena soal ujian pasti hasil cetakan komputer.”

”Jadi kau hanya bisa membaca dari tulisan langsung?” tanya Profesor fischer.

edward membetulkan letak kacamatanya. ”Tulisan, pahatan, apa pun yang dibuat langsung.”

Profesor fischer tersenyum. ”Apakah kau mau bekerja untukku? Akan ada banyak sekali bendabenda kuno yang butuh diterjemahkan seperti Papyrus of Ani tadi dan kemampuanmu akan sangat membantu.”

”Saya?” edward mengerutkan kening. ”Saya menerjemahkan? Siapa yang akan percaya hasil terjemahan anak kecil seperti saya?”

Profesor fischer berdeham. ”Kita akan menggunakan namaku. Nanti hasil kerjamu itu akan diakui sebagai hasil kerjaku.”

Setelah Profesor fischer mengatakan hal itu, suasana menjadi hening. Profesor fischer membatin, Apakah aku baru saja mempermalukan diriku sendiri? Jangan­jangan Kim adalah anak yang punya integritas tinggi.

”Lupakan apa yang baru saja kukatakan,” Profesor fischer berdeham lagi. ”Kalau kau tak mau...”

”Berapa?”

Profesor fischer mengangkat  alis.  ”Hah?” edward menatapnya. ”Berapa yang akan Anda

bayar untuk hasil kerja saya?”  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊