menu

Touché Bab 05

Mode Malam
Bab 05

RISKA memegangi lututnya dan terengah-engah.

”Tiga belas koma satu detik,” Pak Joni memberitahu. ”Coba lebih baik lagi, Ris. Bapak tahu kamu bisa.”

Riska mengangguk.

Sebentar lagi kejuaraan atletik antar SMA dan cukup banyak orang yang berharap padanya di kejuaraan lari 100 meter. Riska merasa harus bisa menang, walau dia melakukan ini bukan demi mereka. Dia melakukannya demi dirinya sendiri sebagai pembuktian bahwa dia bisa lebih cepat dari yang dibayangkannya.

Melewati aula, Riska berhenti lagi untuk melihat. Kali ini matanya langsung tertuju pada Indra.

”Kau selalu melihat mereka latihan ya?” tanya Dani pada Riska yang memergokinya masih dalam pakaian lari berdiri di depan aula.

”Begitulah,” jawab Riska. ”Sepertinya kau juga.”

Dani memperhatikan baju Riska. ”Kau ikut atletik, ya?” Riska mengangguk. ”Kau sendiri?”

”Ronin,” jawab Dani dengan bangga. ”Tidak ikut klub mana pun.” ”Lalu kenapa kau di sini?”

Dani mengedikkan kepalanya ke dalam aula.

”Aku mendukung temanku,” katanya. ”Yang sekarang sedang melemparkan lawannya ke lantai.”

Indra tampak berdiri terengah-engah sambil menatap dingin lawannya yang terkapar, nyaris tanpa ekspresi.

”Indra?” tanya Riska. ”Siapa lagi?”

”Sebenarnya, setelah melihat temanmu melemparkan lawannya suatu hari itu, sepertinya ada yang menarikku untuk melihatnya lagi,” aku Riska.

”Terima kasih, aku tersanjung,” kata Dani senang.

Riska menatapnya. ”Aku memujinya, bukan memujimu.”

”Aku mewakilinya, jadi terimalah.”

Riska menghela napas. ”Setelah ini menurutmu apa yang akan terjadi?”

”Setelah apa?”

”Setelah penjelasan Pak Yunus, touché, dan sebagainya.”

Dani mengangkat bahu. ”Aku tak tahu, tapi sepertinya akan ada kejadian besar.”

”Atas dasar?”

”Entahlah, ini insting saja.”

”Jawaban tidak ilmiah, bukti tidak cukup, kasus ditolak.”

”Kau tahu? Seperti katak yang bisa tahu kalau sebentar lagi turun hujan.” Dani masih berusaha meyakinkan pendapatnya.

”Dan kau katak?” tanya Riska.

”Itu tadi majas,” jelas Dani. ”Perumpamaan.” ”Majas dan perumpamaan adalah dua hal yang berbeda,” kata Riska.

”Kata siapa?”

”Kau belum menyerap Kamus Besar Bahasa Indonesia?” ”Apakah ini topik yang semula kita bicarakan?” Dani me-

ngerutkan kening.

”Tidak.”

”Sampai di mana kita tadi?” ”Katak,” jawab Riska.

Dani tertawa. ”Sepertinya aku jadi suka padamu.” ”Terima kasih, tapi aku tidak.”

”Belum,” ralat Dani.

Riska hanya tersenyum lalu mengalihkan tatapannya lagi pada Indra.

***

”Aku tidak tahu kau kenal Dani,” kata Tari. ”Aku tadi melihatmu ngobrol dengannya di depan aula.”

”Aku juga tidak menyangka aku mengenalnya,” kata Riska ”Memangnya dia siapa?”

”Hah! Kau tidak tahu?” tanya Tari tak percaya.

”Dia itu Dani, hanya itu yang kutahu,” jawab Riska. ”Kenapa?”

Tari menghela napas. ”Dia itu peringkat pertama di sekolah kita, bahkan mungkin di kotamadya ini. Dia itu genius, pengetahuannya luas seakan dia telah membaca semua buku yang ada di dunia ini.”

”Kau terlalu melebih-lebihkan,” kata Riska datar. ”Serius!” Tari meyakinkan. ”Bahkan sepertinya dia bisa menyerap isi buku hanya dengan menyentuhnya.

”Walau tentu saja itu tidak mungkin,” tambahnya.

Riska mengangkat alis. ”Yah.. itu lebih menjelaskan semuanya.”

”Satu plus lagi, Dani bersahabat dekat dengan Indra!” kata Tari agak histeris.

”So?”

”Kau tahu sendiri, kan, Indra itu kebanggaan sekolah kita, dia juara judo tingkat propinsi, bahkan mungkin nasional,” lanjut Tari. ”Ditambah lagi wajah ’bukan urusanku’ itu membuatnya tampak cool.”

”Oke,” Riska mengangguk walau agak heran dengan perumpamaan Tari. ”Lalu?”

”Dan dia sulit didekati, misterius, tak ada seorang pun yang bisa mendekatinya,” jawab Tari.

”Kenapa?” tanya Riska.

Tari mengangkat bahu. ”Entahlah, dia bahkan selalu menggunakan sarung tangan. Kesannya tidak mau bersentuhan langsung dengan orang lain.”

”Oh...” Riska termenung.

”Sama sepertimu, sebenarnya,” Tari menatapnya. ”Sama sepertimu yang selalu memasukkan tangan ke dalam jaket atau kantong rok saat istirahat.”

”Kalau aku kan karena tidak tahan dingin,” Riska memberi alasan.

Tari memutar bola matanya. ”Ini di Surabaya, memangnya akan sedingin apa?”

Bel masuk berbunyi. Riska menarik tangannya dari kantong roknya. ***

”YO!!!!!!” Dani berseru begitu Riska membuka pintu rumahnya. Indra berdiri di belakang Dani tapi pandangannya lurus ke jalan

”Bagaimana kalian bisa tahu alamat rumahku?’ tanya Riska heran.

”Malu bertanya sesat di jalan,” jawab Dani. ”Kami ingin menjemputmu.”

”Ke mana?” Riska mengernyitkan dahi. ”Pak Yunus belum menghubungimu?” Riska menggeleng.

”Dia meminta kita berkumpul di Kafe Pelangi malam ini,” jelas Dani. ”Karena kafe itu tidak jauh dari rumahmu, kami berpikir untuk menjemputmu lebih dulu dan berangkat ke sana bersama-sama.”

”Aku ambil jaket dulu,” kata Riska lalu masuk ke rumah.

”Siapa?” tanya Mama.

”Ah... itu... teman,” jawab Riska. Dia belum memberitahukan kepada mamanya tentang apa yang telah terjadi. Dia memang telah berjanji tidak akan menyembunyikan apa pun dari mamanya, tapi karena rahasia ini juga menyangkut orang lain, Riska memutuskan untuk tutup mulut walau dalam hati dia merasa bersalah pada mamanya.

”Teman?” Mama menatap mata Riska.

”Iya, mereka mengajakku pergi ke acara di sekolah,” Riska tak berani membalas tatapan mata mamanya.

Mama Riska terdiam selama beberapa saat lalu mengangguk sambil tersenyum. ”Oke,” Mama duduk di sofa dan menyalakan TV. ”Jangan pulang terlalu larut.”

Riska menarik napas lega. ”Siap!”

Setelah mengambil jaket di kamarnya, Riska bergegas menuju pintu depan.

”Aku pergi dulu, Ma,” pamitnya.

”Ris,” kata Mama. Riska menghentikan langkahnya. ”Apa pun yang kaulakukan,” Mama tidak menoleh sedikit

pun, ”berhati-hatilah.”

Riska tertegun tapi kemudian mengangguk. ”Ya.” ”Kau tidak apa-apa?” tanya Dani sambil berjalan. ”Hah?”

”Wajahmu,” Dani menelengkan kepalanya. ”Seperti sedang memikirkan sesuatu.”

”Itu...” kata Riska, bimbang sesaat. ”Aku masih belum menceritakan yang sebenarnya pada Mama tentang apa yang sedang terjadi. Tentang kalian, Pak Yunus, dan terutama tentang touché padahal aku sudah berjanji sejak Papa meninggal tidak akan pernah menyembunyikan apa pun dari Mama. Tapi aku takut jika menceritakannya, bisa membahayakan kalian semua.”

”Begitu?’

Mereka lalu terdiam.

”Memangnya kau umur berapa?” Indra yang pertama membuka suara. Matanya yang hitam pekat menatap Riska.

”Hah?”

”Jika kau masih mengeluh seperti itu katakan semuanya saja pada mamamu, jangan jadikan kami sebagai alasan,” kata Indra tajam. ”Bingung dengan keputusan yang sudah diambil sendiri, kau pikir berapa umurmu?” Riska langsung merasa tertampar dengan kata-kata Indra. Dia mengernyitkan dahi dan memasang wajah cemberut tapi tak mampu berkata apa-apa untuk membalasnya. Di dalam hatinya, Riska mengakui bahwa kata-kata Indra benar.

”Indra, kata-katamu agak keterlaluan,” kata Dani setelah melihat raut wajah Riska.

”Jika kata-kataku salah, dia bisa membalasnya,” jawab Indra dingin.

Dani melirik Riska, tapi gadis itu hanya diam. Karena tidak melihat jalan, Dani bertubrukan dengan seseorang hingga dia dan orang yang ditubruknya terjatuh.

”Hoi! Kau taruh di mana matamu?”

Orang yang ditubruk Dani sepertinya preman yang agak mabuk dan dia tidak sendirian. Ada sekitar tiga orang yang tampak di belakangnya.

”Maaf, Bang, saya nggak sengaja,” kata Dani sambil berdiri. Dia mengulurkan tangan pada preman itu tapi tangannya ditepis dengan kasar.

”Enak aja cuman minta maaf!” bentak preman itu. ”Kalau tulang rusukku patah, kau mau tanggung jawab? Pokoknya aku minta ganti rugi!”

”Bagaimana kalau saya antar Abang ke dokter, kalau memang tulang rusuk Abang patah, saya ganti semua biaya pengobatannya,” kata Dani ringan.

”Kau!!!” Preman itu melotot karena merasa Dani menantangnya.

Dani membalas tatapannya dengan santai karena mengira preman-preman itu hanya berani di mulut saja, tapi dia salah. Preman yang tadi ditubruknya maju dan menarik kerah Dani lalu menendang perutnya hingga dia jatuh tersungkur. ”Dani!” pekik Riska yang langsung membantu Dani duduk. Dani terbatuk sambil meringis kesakitan.

”Itu akibatnya kalau mau jadi orang sok tahu!” kata preman itu diikuti iringan tawa teman-temannya.

Indra yang dari tadi diam saja, maju dan melepas kedua sarung tangannya.

”Apa?” kali ini preman itu melotot padanya. ”Kau mau membalaskan dendam temanmu, kerempeng?”

Preman itu sudah melakukan ancang-ancang untuk memukulnya tapi Indra sempat mengelak dan memegang tangannya. Si preman mengira Indra terkecoh karena serangan sebenarnya adalah tendangan yang diarahkan ke rusuk. Begitu preman itu menendang, Indra menjegal kaki tumpuannya hingga preman itu kehilangan keseimbangan lalu dengan mudah membantingnya. Indra sudah membaca apa yang dipikirkannya. Ketiga teman preman itu juga mengalami nasib serupa saat ingin menolong temannya. Mereka tak berdaya menghadapi Indra. Melihat semua lawannya terkapar, Indra masih belum berhenti. Dia menarik kerah preman yang tadi menendang Dani, lalu memukulnya berkali-kali. Bahkan sampai akhirnya preman itu memohon ampun, Indra tidak menghentikan pukulannya.

Riska yang melihat kejadian itu membeku. Dia bisa melihat mata Indra yang berkilat seperti orang kesurupan. Tangannya mulai gemetar.

”Indra! Sudah cukup! Hentikan!” teriak Dani. ”Kau bisa membunuhnya!”

Indra tidak menggubrisnya. Dia sudah hendak melayangkan pukulan lagi ketika Dani kembali berteriak. ”Aku tidak apa-apa! Sudah! Hentikan! Aku tidak apaapa!”

Barulah Indra berhenti. Tangannya yang sudah siap untuk memukul lagi dia turunkan.

Indra berjalan mendekati Dani tanpa mengatakan apaapa. Tanpa sadar Riska mundur selangkah ketika Indra datang. Sadar telah membuat gadis itu ketakutan, Indra meminta maaf.

”Maaf.”

Kilatan di mata Indra sudah menghilang, diganti tatapan gelap dan suram lebih dari biasanya.

Dani menghela napas lalu menepuk-nepuk pundak teman baiknya itu. ”Kau kehilangan kendali lagi.”

Indra hanya diam. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊