menu

Touché Bab 04

Mode Malam
Bab 04

”JANGAN terlalu memikirkannya, Ndra,” Dani memukul bahu Indra.

”Terima kasih,” kata Indra datar. ”Nasihat yang bagus.” ”Hey, if it works for me, it works for you too!” ujar Dani. ”Tentu saja, karena kau memang tidak pernah berpikir.” ”Hoi, apa tidak ingat kalau aku adalah komputer dengan

hard disk lebih dari 100 gigabyte?” Dani membela diri merujuk pada kemampuannya menyerap teks.

”Komputer dengan hard disk lebih dari 100 gigabyte,” kata Indra datar. ”Tanpa operating system.”

”Ah, kau hanya iri,” Dani meringis.

”Anggap saja begitu kalau itu membuatmu senang,” jawab Indra.

Dani tertawa.

Jason yang duduk di belakang mereka mengeluh keras hingga menarik perhatian mereka berdua. Jika Jason sampai mengeluh seperti itu, hanya ada satu sebab.

”Cewekmu pasti marah-marah lagi?” tanya Dani pada Jason. Jason mengerang. ”Untuk kesekian kalinya dan aku tak tahu apa sebabnya.”

”Hormonal mungkin.”

”Hanya itu satu-satunya hal yang terpikirkan,” desah Jason. ”Memangnya kau bisa memikirkan apa lagi?” Dani me-

nyeringai.

”Wanita memang membingungkan,” Jason mengeluh lagi lalu merebahkan kepalanya di atas meja. ”Kadang-kadang aku sampai berharap punya kekuatan membaca pikiran seperti Mel Gibson di What Women Want.”

Indra dan Dani berpandangan.

”Hati-hati dengan apa yang kauinginkan,” kata Dani sambil menepuk bahu Jason lalu beranjak dari kursi. ”Ayo, Ndra!”

Indra menyambar tasnya dan segera berdiri. ”Kalian mau ke mana?” tanya Jason bingung.

”Ada senior yang menantang Indra judo,” jawab Dani. ”Hah! Dan hanya demi alasan itu kalian tega meninggal-

kan teman kalian yang sedang les miserables ini?” pekik Jason dramatis.

”Man’s gotta do what a man’s gotta do.”

”Aku berteman dengan orang yang salah,” Jason menghela napas. ”Dan Indra, wajah ’tak ada hubungannya denganku’ itu menjengkelkan!”

Indra mengangkat bahu.

Dani tertawa. ”Manusia tidak bisa memilih takdirnya sendiri.”

Jason berdecak. ”Aku menyerah, kalau begitu sebagai ganti penghiburan kalian yang tidak akan pernah datang, aku ingin bertanya satu hal padamu, Ndra.” ”Apa?” jawab Indra datar.

Jason menatap lurus matanya. ”Kenapa selain saat judo, kau selalu menutupi tanganmu dengan sarung tangan?”

Indra terdiam sesaat.

”Karena kakiku tidak bisa ditutupi dengan sarung tangan,” jawabnya asal lalu pergi keluar kelas diikuti Dani yang tampak sekuat tenaga menahan tawa.

***

Indra mencengkeram judogi lawannya tepat di dada dan sikunya.

”Aku akan mempermalukan anak sombong ini. Lihat saja nanti, kau akan kupermalukan dengan Harai Tsurikomi Ashi!”

Orang ini terlalu banyak berpikir, batin Indra.

”Kaki kiri! Kesempatan!”

Tepat saat lawannya hendak menyerang kaki kiri Indra, dia berhasil menghindar bahkan dengan sigap menendang kaki lawannya itu hingga kehilangan keseimbangan. Tak butuh banyak tenaga, Indra menarik lengannya dan membantingnya lalu...

”IPPON!”

”Siaaaaaaaallll!”

Indra cepat-cepat melepaskan tangannya.

”Aku kalah,” kata lawannya sambil berusaha berdiri. ”Kau memang lebih hebat dariku.”

”Tidak,” jawab Indra. ”Kekuatan kita sama.”

Senior itu tersenyum sinis. ”Kau tidak perlu menghiburku, aku tidak membutuhkannya.” Dia lalu berjalan menuju teman-temannya.

Tidak, kita benar-benar setara, kata Indra dalam hati. Hanya saja aku punya sedikit keistimewaan yang tidak kaumiliki.

Indra sudah memiliki kemampuan membaca pikiran ini sejak kecil, mungkin sejak dia baru dilahirkan. Membaca sebenarnya bukan kata yang tepat karena Indra mendengarkan pikiran seolah-olah melalui telinganya. Bahkan jika orang itu tidak sedang berpikir melainkan membayangkan sesuatu, dia juga bisa melihatnya seakan ada proyektor di kepalanya. Jadi ketika orang yang dia baca pikirannya sedang berpikir sekaligus membayangkan sesuatu, yang terjadi adalah seperti dalam permainan virtual reality. Dan tentu saja, dia harus lebih dulu menyentuh orang itu, karena pikiran tidak disalurkan melalui udara. Ibaratnya jika ingin mendengar suara seseorang yang jauh dari kita, kita masih harus mengangkat telepon terlebih dahulu.

”Yo!” Dani menyambutnya begitu Indra keluar dari ruang ganti. ”Kau memang benar-benar kuat.”

Mereka berjalan menuju tempat parkir.

”Tidak juga,” kata Indra tanpa bermaksud merendah sedikit pun. ”Judo itu hampir sama dengan poker, masingmasing pemain memiliki kartu dan kemenangan terletak pada siapa yang paling cepat membaca kartu lawan.”

”Berarti kau curang,” cibir Dani.

”Et tu—kau juga,” Indra menyipitkan mata padanya. ”Kalau aku curang, berarti et tu.”

Dani tertawa. ”Honestum non est semper quod licet—apa yang diperbolehkan tidak selalu terhormat.”

”Oh iya, tadi itu dia bermaksud menggunakan Harai Tsurikomi Ashi ya?” tanya Dani kemudian. ”Lalu kau membalikkan dengan Deashi Harai?”

”Setelah Proverbia Latina, sekarang apa?” ”Aku membaca Judo for Dummies.” ”Membaca?”

Dani menyeringai. ”Oke, oke, menyerap.”

”Hei, itu si Riska, kan?” tanya Dani saat mereka sudah tiba di tempat parkir, menunjuk ke anak perempuan berpostur tinggi dan berambut panjang yang sedang berjalan menuju lapangan.

”Yeah.”

”Apakah kita perlu memanggilnya?” tanya Dani. ”Mengingat secara resmi sekarang kita sudah berteman,    trois.”

”Apa kau tahu kata arti kata terakhir yang kauucapkan?” Indra menghela napas.

”Tentu saja,” jawab Dani sambil meringis.

Indra melepas sarung tangan kanannya lalu menyentuh bahu Dani.

”Artinya kurasa sesuatu yang cukup keren.”

Indra menarik tangannya lagi. ”Sedikit saran, mungkin sebaiknya kau menyerap kamusnya dulu sebelum mengatakan apa pun dalam bahasa asing.”

”Apa kau tahu yang namanya privacy?” protes Dani. ”Tahu dan aku tidak melihat papan bertuliskan itu di ke-

palamu,” jawab Indra.

Dani menghela napas lalu menyerahkan helm padanya. ”Aku benar-benar ingin tahu apa yang membuatku bisa berteman denganmu selama ini.” ”Kau mau aku membantumu?” tanya Indra. ”Mumpung aku belum memakai sarung tanganku lagi.”

Dani hanya bisa mendengus.

”Omong-omong tentang permintaanku kemarin, apa kau sudah melakukannya?” tanya Dani begitu mereka sampai di depan rumah Indra.

”Ya,” jawab Indra. ”Melisa ingin boneka beruang dengan pita hijau, Sarah ingin candle light dinner di SPI, dan Lucy ingin tahu apa kau mau berenang bersamanya.”

”Sip! Sip! Sip!” Dani mencatat di PDA-nya. ”Para wanita itu memang tidak pernah mau jujur tentang apa yang mereka pikirkan.”

”Aku heran, kau itu punya modal kuat untuk jadi playboy bahkan yang sekelas Casanova,” Dani menatap Indra sambil masih sibuk mengetik. ”Tapi kenapa tak kaulakukan?”

”Sudah kauwakili,” jawab Indra datar.

***

Pelajaran yang paling tidak dikuasai Indra adalah pelajaran yang membutuhkan hafalan. Dia suka sains dan apa pun yang memerlukan hitungan, dia bahkan termasuk di atas rata-rata untuk hal itu. Dia juga suka membaca buku dari novel hingga ensiklopedia, semua bacaan tanpa paksaan. Tapi jika yang dibaca adalah buku pelajaran terutama dengan kewajiban menghafal, dia menyerah.

Hari itu ulangan sejarah dan Indra merasa sudah mulai mual. Semua yang dihafalnya semalam serasa menguap tak berbekas. Susah payah dia berhasil mengingat kapan pembentukan PRRI dan PERMESTA. Sayangnya itu belum cukup karena Pak Heri, guru Sejarah, masih menuntut disebutkannya nama Dewan-dewan berikut pemimpinnya.

Indra menyandarkan tubuh dan menghela napas panjang. Dani yang duduk di depannya tampak sudah hampir selesai. Kehabisan akal, Indra mencondongkan tubuhnya lagi, melepas sarung tangan kanannya lalu menyentuh punggung Dani.

”Dan, pinjam penggaris.”

Dani semula terkejut tapi dia kemudian sadar apa yang sedang Indra lakukan hingga dia pun berlama-lama mencari penggarisnya untuk memberi Indra waktu membaca pikirannya.

Semoga tidak makan waktu lama, batin Indra mengingat Dani menyerap semua isi buku sejarah hingga dia harus memilah mana yang dicari. Ah! Ini dia!

”Sjahrir mengemukakan pendapatnya ini dalam menanggapi pembentukan PRRI pada 15 Februari 1958, dan PERMESTA pada 17 Februari 1958. Sejak Desember 1958 benih-benih kedua kejadian itu sudah ditanam dengan terbentuknya Dewan Banteng di Sumatra Barat, Dewan Gajah di Sumatra Utara, Dewan Garuda di Sumatra Selatan, dan Dewa Manguni di Sulawesi Utara. Dewan-dewan ini berturut-turut dipimpin oleh Achmad Husein, Maludin Simbolon, Barlian, dan Sumual.”

Indra menarik tangannya lagi.

Dani menoleh ke belakang sambil menyerahkan penggarisnya. ”Nih.”

”Thanks,” Indra tersenyum.

Seperti itulah hubungan antara Indra dan Dani, mutualisme. Indra membantu Dani dalam mata pelajaran yang tidak membutuhkan hafalan yang sudah pasti merupakan kelemahannya, sebaliknya Dani membantunya dalam pelajaran yang membutuhkan hafalan. Jika Indra melihat Dani sudah tampak kebingungan atau panik—yang biasanya ditunjukkan dengan seringnya dia menggaruk-garuk kepala—dia akan berpura-pura menjatuhkan lembar jawabnya tak jauh dari meja Dani. Dani akan berbaik hati mengambilnya untuk Indra dan pada saat yang sama menyerap semua yang ditulis di kertas itu. Nasib buruk hanya terjadi jika tempat duduk mereka ditentukan dan diletakkan berjauhan. Saat itu mereka hanya bisa memasrahkan hasil ujian pada Tuhan. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊