menu

Touché Bab 03

Mode Malam
Bab 03

”SAYA ingin memulai pembicaraan ini dengan satu pertanyaan bodoh,” kata Riska, masih terkagum-kagum dengan rumah Pak Yunus. ”Tapi saya sangat ingin tahu enak nggak sih jadi orang kaya? Maksud saya, kita sering mendengar atau membaca cerita pewaris perusahaan besar mendapat tekanan

sejak kecil, nggak happy, hidupnya diatur dan seterusnya sehingga ingin hidup normal sebagai orang biasa. Is it true atau mereka hanya berusaha menjadi drama queen?”

Pak Yunus tertawa.

”Kau terlalu banyak nonton sinetron,” katanya, masih tergelak. ”Are you kidding me? Being rich is a wonderful thing! Aku bisa mendapatkan semua yang kumau, pergi ke semua tempat yang ingin kukunjungi, dan banyak orang rela membunuh untuk bisa berada di posisiku. Dengan apa yang kumiliki itu, mana mungkin aku mau menukarnya hanya agar bisa hidup sebagai orang biasa? You must be joking!”

”Nice,” kata Dani kagum. ”Sepertinya Indra bahkan tidak perlu menyentuh Bapak untuk mengetahui apakah Bapak berbicara jujur atau tidak.” ”Karena kau menyinggungnya, mungkin sebaiknya kita mulai saja,” kata Pak Yunus setelah meminta semua pelayan pergi dari ruangan itu.

”Selama ini kalian pasti punya segudang pertanyaan menyangkut kemampuan yang kalian miliki itu, right?” Pak Yunus memulai. Mereka bertiga mengangguk.

”And still no answer,” kata Dani.

”Not even from the internet,” timpal Riska.

”Hingga Bapak menceritakan pada kami,” kata Dani lagi lalu melirik Riska. ”Tapi belum pada Riska.”

”Kemampuan kita ini diturunkan,” lanjut Pak Yunus. ”Walau tidak pada tiap generasi.”

”’Kita?” ulang Riska. ”Memangnya apa kemampuan Bapak?”

Pak Yunus mendekati piano tua yang ada di ruangan itu lalu duduk di depannya. Dia menyentuh tutsnya selama beberapa saat dan mulai memainkan The Nutcracker dari Tchaikovsky.

”Sejujurnya,” katanya sambil terus memainkan piano, ”aku tidak bisa membaca not balok. Aku bahkan buta nada. Aku juga tidak pernah mengikuti les piano sebelumnya. Aku sudah memberitahukan hal ini pada Indra dan Dani.” ”Jadi Bapak bisa memainkan lagu hanya dengan me-

nyentuh alat musiknya?” Riska ternganga.

Pak Yunus menghentikan permainannya. Dia menatap Riska sambil tersenyum.

”Kemampuan kita tidak berjalan seperti itu,” jelasnya. ”Jadi walaupun kau membaca pikiran dan perasaan seseorang, pada kenyataannya yang kaulakukan adalah menyerap. Your touch absorbs other’s mind or feeling, seperti halnya Dani menyerap tulisan. Hanya saja memang ada beberapa orang dengan pengecualian.”

”Tunggu, apa kita masih berbicara dalam bahasa yang sama? Karena saya tidak mengerti apa yang Bapak katakan,” kata Riska sambil mengernyitkan dahi.

”My ability sama seperti kalian bertiga,” Pak Yunus bangkit lalu berjalan kembali ke kursinya semula. ”My touch menyerap ingatan alat-alat musik itu akan permainan yang sebelumnya pernah dimainkan. Aku bisa memainkan The Nutcracker-nya Tchaikovsky karena sebelumnya sudah ada orang yang memainkannya menggunakan piano tua itu. Hal yang sama juga berlaku ketika aku bermain biola di sekolah kalian.”

”Jadi artinya, jika Bapak diminta untuk memainkan lagu dari alat musik yang benar-benar baru, Bapak tidak akan bisa melakukannya?” tanya Riska.

”Tepat,” Pak Yunus tersenyum. ”Seperti itulah cara kerja kemampuan sentuhan milik kita, kaum touché.”

”TUSYE?”

”That’s how we say it,” Pak Yunus membenarkan. ”Tapi kita menuliskannya T-o-u-c-h-é. It’s a France word.”

”Kalian sudah tahu tentang ini semua?” Riska mengalihkan pandangannya pada Indra dan Dani.

Dani mengangkat bahu. ”Hanya sampai di situ.”

”Bapak tidak sedang mengada-ada kan?” Riska kembali menatap Pak Yunus dengan curiga.

”What for?” Pak Yunus menghela napas. ”Kemampuan kita ini sudah diturunkan secara acak dari generasi ke generasi. Aku sudah menyelidikinya dan memang kaum touché sudah ada sejak dulu. Kalian pasti tidak menyangka siapa saja yang termasuk kaum touché.”

”Shoot!”

”Karl Friedrich May adalah touché,” Pak Yunus memulai. ”Penulis Winnetou dan Old Shatterhand itu?” Riska

menatapnya tak percaya. ”Bohong!”

”Kau pikir bagaimana dia bisa menceritakan dengan detail apa yang terjadi di Amerika padahal dia belum pernah sekali pun menginjakkan kaki di sana?” Pak Yunus menatap mata mereka. ”Dia menggunakan sentuhannya untuk membawa pikirannya ke daerah itu.”

”Dengan cara apa?” tanya Indra, pertama kalinya membuka suara sejak tiba di rumah Pak Yunus.

”Surat kabar,” jawab Pak Yunus. ”Dia menyerap kejadian dan pemandangan yang ditampilkan oleh foto maupun cerita di surat kabar itu tentang Amerika. Kalau tidak salah, saat membuat Winnetou dia sedang di penjara tapi dia diperbolehkan membaca surat kabar sebagai satu-satunya benda yang menghubungkan dirinya dengan dunia luar.”

Mereka bertiga menahan napas.

”Beethoven is a touché,” Pak Yunus melanjutkan. ”Bohong,” desis Dani.

”Dia tuli, remember?” Pak Yunus menatapnya. ”Bagaimana seseorang bisa membuat lagu dalam keadaan tuli? Dengan sentuhannya, dia menyerap partitur sehingga dia bisa menemukan nada yang benar dan tidak. Dia tidak perlu menggunakan telinganya untuk itu, dia menggunakan tangannya.”

”Lalu siapa lagi?” tanya Indra.

”Kau mulai bersemangat, ya?” Pak Yunus tersenyum.” Berikutnya Flavio Blondo, dia adalah arkeolog abad pertengahan. Dia meneliti semua peninggalan Romawi abad pertengahan dan dengan kemampuan sentuhannya, dia bisa merekonstruksi kejadian pada masa itu.”

”Apa yang dia lakukan?” tanya Riska.

”Dia menyerap ingatan bangunan,” jawab Pak Yunus. ”Hampir sama dengan kemampuanku, hanya saja dia tidak melakukannya pada alat musik. Banyak orang yang punya kemampuan seperti ini dan aku berani bertaruh bahwa lebih dari setengah arkeolog terkenal adalah touché.”

”Masih ada lagi?” tanya Indra.

”Aku bisa memberimu jutaan nama,” jawab Pak Yunus. ”Unfortunately, waktu kita tidak sebanyak itu jadi aku hanya bisa memberitahumu satu orang lagi. Dia adalah Dr. Joseph Bell.”

”Siapa tuh?” tanya Dani.

”Inspirasi Conan Doyle untuk membuat Sherlock Holmes,” Indra menjelaskan. ”Dr. Joseph Bell adalah Sherlock Holmes di dunia nyata.”

”Nice, obviously you know a lot,” puji Pak Yunus. ”Benar, karakter Sherlock Holmes dan kemampuan analisisnya didasarkan pada Dr. Bell. Dr. Bell bisa melakukan deduksi hanya dari benda, bahkan menerka dari mana seseorang berasal hanya dari pasir di sepatunya dikarenakan dia adalah touché. Dia menyerap ingatan benda-benda itu.”

Pak Yunus menyesap minumannya lalu memandang mereka. Mereka bertiga hanya diam, terlalu shock hingga tak sanggup berkata apa-apa. Semua informasi itu terlalu tibatiba dan terlalu banyak untuk dapat mereka terima. ”Kereeen...” gumam Dani. Matanya terlihat berbinar-binar. ”Lalu, dari mana sebenarnya kemampuan kami?” tanya Indra, wajahnya tetap dingin. Kalaupun shock, dia bisa

menutupinya dengan baik.

”Sayangnya aku belum berhasil menemukannya,” Pak Yunus menghela napas. ”Penelitianku juga masih belum menyentuh abad sebelum masehi. But i found something.”

”Kekuatan kita diturunkan secara acak dan tidak selalu pada tiap generasi,” lanjutnya. ”I mean, kalau kita memiliki kekuatan ini belum tentu ayah-ibu kita juga memiliki kekuatan yang sama sehingga kemungkinan mereka tahu tentang hal ini nearly zero percent. Bisa jadi generasi terakhir sebelum kita adalah kakek buyut kita.”

Mereka terdiam.

”Dan apakah kalian tahu ada berapa orang yang memiliki kemampuan seperti kita di luar sana?” tanya Pak Yunus sambil melepas kacamatanya lalu menatap mereka bertiga yang langsung menelan ludah. ”Thousands.”

”Tersebar di seluruh dunia,” dia menaruh gelasnya lagi ke meja. ”Dan selama ini kalian merasa sendirian?

”Seperti halnya bakat melukis, kemampuan yang sejenis dengan kita tidak diturunkan pada satu orang,” Pak Yunus melanjutkan. ”Kemampuan menyerap tulisan seperti yang dimiliki Dani, di luar sana juga ada beberapa orang yang memiliki kemampuan yang sama. Milikku pun begitu, dalam pencarian saat melakukan penelitian aku menemukan beberapa orang yang memiliki kemampuan sepertiku.”

”Berarti… bukan hanya aku saja yang punya kemampuan seperti ini…” Dani menatap kedua tangannya dengan wajah terkejut. ”Dengan pengecualian...” Pak Yunus menatap Riska dan Indra. ”The mind reader and the empath. Dalam tiap generasi hanya ada satu orang yang memiliki kemampuan seperti kalian.”

”HEEEEEEEEEE?” Riska dan Dani menjerit hampir berbarengan tapi Indra diam saja. Namun kali ini sorot matanya menunjukkan keterkejutan yang sama.

”Aku sendiri juga tak tahu kenapa,” aku Pak Yunus. ”Tapi dari penelitianku, selalu hanya ada satu orang mind reader dan satu orang empath. Orang yang terakhir memilikinya lahir pada abad ke-18, setiap tiga abad sekali lahir orang dengan kemampuan seperti kalian.

”Ini juga sebabnya banyak yang mengincar kalian,” tambahnya.

”Mengincar kami?” ulang Indra.

”Yes, and especially you,” jawab Pak Yunus. ”KGB, CIA, SAS, Mossad, dan lain-lain akan lebih mudah menentukan mana orang yang berbahaya dan tidak dengan kekuatanmu. Dengan alasan yang sama juga, kemungkinan organisasi-organisasi dan orang-orang jahat di muka bumi mengincarmu untuk dibunuh.”

”Bapak bercanda, kan?” Riska memaksakan diri untuk tertawa.

”Kalian pikir untuk apa aku tiba-tiba datang ke Indonesia?” Pak Yunus menghela napas. ”To warn you! Agar kalian lebih waspada dan lebih berhati-hati dalam menggunakan kemampuan kalian.”

”Tapi bagaimana mungkin mereka tahu tentang kami?” tanya Dani. ”Pasti tidak akan ada yang menyangka pemilik kemampuan yang hanya ada 300 tahun sekali itu ada di Indonesia.”

Pak Yunus mencondongkan tubuhnya ke depan dan memasang wajah serius.

”Kalau aku saja bisa menemukan kalian, why don’t they?” katanya. Mereka bertiga langsung membeku.

”Dari mana Bapak tahu tentang istilah touché?” tanya Indra tiba-tiba. ”Apakah Bapak mengarangnya sendiri?”

Pak Yunus tersenyum. ”Aku menemukannya di tengahtengah penyelidikan tentang kemampuanku. Aku membacanya di naskah asli buku Histoire de Ma Vie yang kudapatkan dari lelang pasar gelap.”

Napas Indra tertahan. ”Casanova.”

”You do know a lot,” Pak Yunus mengangguk. ”Dalam buku Histoire de Ma Vie atau History of My Life yang terbit dan beredar sekarang, touché tidak pernah disinggung karena penerbitnya menyunting habis-habisan agar tidak terjadi kontroversi di dalam masyarakat. As we all know, hal ini bukan sesuatu yang bisa dibuktikan dengan mudah dan pihak penerbit takut Casanova akan mengalami nasib sama seperti Joan of Ark yang mati dibunuh karena dianggap memiliki kemampuan sihir.”

”Jadi Casanova touché?” tanya Riska tak percaya.

”Yes,” jawab Pak Yunus. ”And for your information, he was a mind reader, sama seperti Indra.”

Dani dan Riska langsung mengalihkan tatapannya pada Indra.

”Jadi mind reader terakhir yang lahir di abad 18 yang Bapak maksud tadi itu Casanova?” tanya Dani.

Pak Yunus mengangguk. ”Di Histoire de Ma Vie versi asli dijelaskan bahwa itulah sebabnya dia bisa menjadi womanizer, penakluk wanita, karena dia bisa membaca pikiran mereka.”

”Ternyata begitu...” Riska terpana.

”Kenapa Bapak melakukan ini?” tanya Indra tiba-tiba setelah keheningan yang cukup lama. ”Maksud saya, kenapa Bapak menolong kami sampai sejauh ini?”

Pak Yunus menatap Indra cukup lama sebelum menjawab.

”Aku hanya menolong kaumku,” jawabnya. ”Karena aku pernah melihat dengan mata kepalaku sendiri seorang touché mati dibunuh.”

”EEEEEEEEEEEEEEEHHHHHHHH?” mereka serem-

pak berteriak.

”Oleh siapa?” tanya Indra lagi. ”Musuh abadi kita,” jawab Pak Yunus. ”Paladine?” tanya Dani.

”Sort of.”

”Tapi kita bukan Jumpers.”

”Itu sebabnya kubilang ’sort of ’’.”

”Kenapa dia dibunuh?” tanya Indra masih penasaran. ”He was data absorber,” jelas Pak Yunus. ”Just like Dani

hanya saja dia menyerap data digital, semacam hard disk eksternal berbentuk manusia. Ini fenomena baru karena sebelumnya belum pernah ada touché yang memiliki kemampuan seperti itu. Apalagi di era digital seperti sekarang, kemampuan ini sangat berguna karena sekali sentuh dia dapat menyerap data yang paling rahasia sekalipun.”

”Jadi karena itu dia diincar?” Kali ini Dani yang penasaran. ”Yap!” Pak Yunus mengangguk. ”Bersyukurlah kau hidup di abad 21, jika kau hidup di abad sembilan belas aku yakin touché dengan kemampuan sepertimulah yang diincar.”

”Benar, aku harus berterima kasih pada ayah dan ibuku,” Dani meneguk minumannya dengan lega. Riska tersenyum melihatnya.

”Setelah ini apa?” tanya Indra tiba-tiba. Mereka semua memandangnya.

”I beg your pardon?” Pak Yunus mengernyit.

”Bapak bukan hanya datang untuk menjelaskan tentang siapa kami dan memperingatkan kami untuk waspada, kan?” Indra menatap tajam Pak Yunus.

Pak Yunus terdiam sejenak lalu tersenyum.

”Kurasa terlalu sering membaca pikiran orang membuatmu belajar untuk melihat isi kepala mereka tanpa menyentuhnya ya,” kata Pak Yunus sambil tersenyum. ”Ini pujian, terimalah.”

Tak ada seorang pun dari mereka yang bicara.

”Kau benar, ada satu hal lagi yang ingin kusampaikan pada kalian,” dia menghela napas. ”But I’ll save it for the right time. Setelah ini, berlakulah dan jalanilah hidup seperti biasa walaupun…”

”Walaupun?” ulang Riska.

”Sepertinya tidak lama lagi kalian akan sadar hidup kalian tidak akan pernah sama lagi,” Pak Yunus masih tersenyum tapi matanya menatap tajam. ”Banyak orang mungkin akan memilih untuk tidak tahu akan kebenaran agar mereka bisa hidup normal.”

”Sepertinya tadi kami tidak diberi pilihan,” kata Riska sinis. Benar! setelah mengetahui semua ini, bagaimana mungkin aku merasa hidupku normal!

”My mistake,” Pak Yunus meminta maaf. ”Seharusnya aku tidak mengatakan kebenaran itu, atau mungkin seharusnya sejak pertama aku tidak perlu datang ke Indonesia.”

”Dan Bapak baru memikirkannya sekarang,” kata Indra tajam.

Pak Yunus mengangkat bahu. ”Hey, you can’t please everybody. Lagi pula ini juga untuk kebaikan kalian sendiri agar lebih waspada.”

”Oh ya, ada satu lagi yang harus aku katakan,” dia mengalihkan tatapannya pada Riska. ”Biasanya kemampuan touché hanya diturunkan pada laki-laki.”

”EEEEEEEEEEEEEHHHHH?” spontan Riska berteriak. ”Lalu kenapa Riska...” tanya Indra.

”Dengan pengecualian empath,” Pak Yunus tersenyum. ”Aku juga ingin tahu, dari yang kuteliti sejak dulu empath selalu diturunkan pada wanita. Hingga sekarang aku belum mendapatkan jawabannya.”

”Jangan-jangan sebenarnya semua empath adalah perempuan jadi-jadian,” Dani menatap Riska dengan wajah serius.

”Kau ingin mati muda ya?” gerutu Riska.

***

”Sekarang secara resmi kita sudah jadi anggota Heroes?” kata Riska di dalam mobil Pak Yunus. Mereka akan diantar kembali ke rumah masing-masing kecuali Indra karena sepeda motornya masih tertinggal di sekolah. ”Indra sudah pasti jadi Matt Parkman,” kata Dani. Indra tidak mengatakan apa-apa.

”Menurut kalian, apakah dia melebih-lebihkan?” tanya Riska. ”Tentang kemungkinan bahwa kita diincar.”

”Kurasa iya,” Dani mengangguk. ”Mungkin ini semacam permainan anak orang kaya dan kita jadi bonekanya.”

”Tidak,” kata Indra tiba-tiba. ”Dia tidak sedang berbohong.”

Riska dan Dani menatapnya.

”Seseorang memang telah mati,” lanjut Indra. ”Data absorber itu memang ada dan dia memang baru saja meninggal di depan mata Pak Yunus. Bahkan yang menyedihkan, orang itu adalah kakak Pak Yunus sendiri.”

”Ba...bagaimana kau tahu?” Riska menelan ludah.

”Apa kau lupa?” Indra balas menatap Riska dan Dani. ”Aku ini mind reader, aku menyalaminya saat berpamitan tadi. Aku membacanya.”

Mereka bertiga langsung terdiam.

”Tapi tadi aku juga menyentuhnya,” Riska melihat telapak tangan kanannya. ”Dan yang kurasakan bukan kesedihan.”

Dia lalu menatap Indra dan Dani. ”Tapi kemarahan.” 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊