menu

Touché Bab 02

Mode Malam
Bab 02

”ADA apa denganmu?” tanya Pak Joni sambil menunjukkan stopwatch-nya. ”Tiga belas koma tujuh detik, jauh lebih lambat daripada sebelumnya.”

”Maaf,” kata Riska.

Pak Joni menghela napas. ”Kalau setiap kali mengatakan ’maaf’ kecepatanmu bertambah, kamu sekarang pasti bisa melaju secepat pesawat concorde.”

”Maaf,” kata Riska lagi tanpa sadar. ”Eh... anu...” ”Sudah, sudah...,” desah Pak Joni. ”Latihan hari ini se-

lesai, kita lanjutkan besok. Kita istirahat saja.”

”Jangan dimasukkan ke hati,” Jena menepuk bahu Riska. Riska mengangguk. ”Thanks.”

Ini pasti gara-gara Pak Yunus, gerutu Riska dalam hati. Riska merasa ada sesuatu yang aneh pada orang itu, seolah Pak Yunus tahu sesuatu tentang kemampuannya.

Riska mengambil handuk lalu berjalan ke ruang ganti. Di antara lapangan dan ruang ganti terdapat aula yang biasanya digunakan untuk berlatih bela diri, terutama judo. Sekolah Riska terkenal karena telah memenangi banyak sekali pertandingan judo hingga tingkat nasional. Tidak heran jika klub judo menjadi anak emas di sekolahnya.

Di depan aula yang dipenuhi teriakan itu, Riska berhenti sejenak untuk melihat latihan yang tengah berlangsung. Beberapa orang berlatih berpasangan. Mereka semua tampak hebat dan tangguh, tapi ada satu yang paling menonjol. Cowok tinggi kurus yang sekarang sedang berlatih di sudut aula. Dia bahkan bisa membanting lawannya tidak sampai lima menit seolah dia sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh lawannya itu.

”Hei kamu!”

Riska menoleh dan melihat murid laki-laki yang masih mengenakan seragam berjalan menghampirinya dari ujung koridor.

”Apa aku mengenalmu?” tanya Riska.

”Tidak,” jawab anak laki-laki yang rambutnya dicat cokelat itu. Belum sempat dia meneruskan kalimatnya, tibatiba terdengar suara menggelegar dari sudut ruangan.

”TOMMY!” Seseorang yang tampaknya sang pelatih judo terlihat sedang memarahi salah satu muridnya.

”Kamu tahu tinggal berapa minggu lagi hingga kejuaraan judo tingkat kotamadaya???” sembur pelatih itu. Murid di hadapannya diam saja tanpa berani mengangkat wajahnya. ”Sudah berapa hari kita latihan intensif seperti ini? Kamu ini bukannya menunjukkan kemajuan, malah mundur

JAUH dibanding sebelumnya!!!” Semua mata tertuju ke arah mereka.

”Kalau memang masalah pribadimu lebih penting daripada kejuaraan ini, lebih baik kamu mundur saja. Jadi Bapak bisa segera mencari penggantimu!” Anak itu masih tertunduk.

”Sekarang pulang!” perintah pelatih itu. ”Bapak beri waktu sampai besok sore. Kalau kamu belum juga menyelesaikan masalahmu, akan Bapak copot nama kamu!!!”

Anak itu mengangguk tak berdaya, lalu pergi mengambil tasnya dan keluar. Semua anak di tempat itu hanya bisa memandangnya iba tanpa bisa berbuat apa-apa. Begitu melihat semua anak menghentikan aktivitasnya, pelatih yang galak itu langsung berteriak, ”APA YANG KALIAN LAKUKAN?! AYO MULAI LATIHAN LAGI!!!”

Riska menelan ludah. Apa pelatih itu mau mencoba melatih dengan gaya Sparta?

Anak yang tadi dimarahi habis-habisan berjalan melewatinya. Wajahnya pucat dan bibirnya bergetar. Dia hampir terjatuh kalau saja Riska tidak memegangi tangannya.

Hawa dingin langsung menyelimuti Riska. Jantungnya berdetak kencang. Napasnya sesak. Apa ini? Frustrasi? Sakit? Sedih?

”Terima kasih,” kata anak itu pelan, lalu pergi.

”Ugh!” Riska menutup mulutnya, merasa mual. Merasa tidak kuat, dia berjongkok. Keadaan anak itu tidak baik, dia tidak bisa dibiarkan sendirian.

”Hoi, kau tidak apa-apa?”

Riska mendongak. Anak laki-laki yang tadi memanggilnya berdiri di depannya dengan wajah khawatir.

”NDRA!” Si anak laki-laki itu memanggil temannya yang berada di dalam aula, cowok tinggi kurus yang tadi diperhatikan oleh Riska.

”Ada apa, Dan?” tanya anak bernama Indra yang masih memakai baju judoka. ”Kenapa dia?” ”Hei, namaku Dani,” kata anak yang berdiri di depan Riska. ”Kau tidak apa-apa?”

”Bu-bukan aku,” sekuat tenaga Riska mencoba bicara sekaligus berusaha meredam rasa mual. ”Temanmu tadi...”

”Temanku kenapa?” tanya Indra bingung.

”Apa kau tidak melihat temanmu tadi tampak pucat?” tanya Riska.

Dani tampak bingung. ”Hah?” ”Tommy?” Indra mengernyit.

”Apa kalian tahu kira-kira dia berjalan ke arah mana?” tanya Riska.

Indra tampak berpikir. ”Mungkin tempat parkir.”

Riska langsung berdiri dan segera berlari sambil berjuang mengatasi rasa mualnya.

”Ikut aku! Aku bakal butuh bantuan kalian!” perintahnya.

Dani dan Indra berpandangan tak mengerti, tapi mereka menurut saja dan mengikuti langkah Riska.

Dugaan Indra benar. Mereka menemukan Tommy terkapar dengan napas tersengal-sengal tidak jauh dari tempat parkir.

”TOM!!!” pekik Indra dan Dani hampir berbarengan sambil berusaha memapahnya.

”Kenapa dia?” tanya Dani, menatap Riska.

”Aku tidak tahu, aku hanya bisa merasakannya,” jawab Riska panik.

”Dia kena asma, inhaler-nya ketinggalan di kelas,” kata Indra. ”Di gedung utara.”

Bagaimana dia bisa tahu padahal Tommy bahkan tidak punya tenaga untuk bernapas apalagi bicara? batin Riska heran. ”Lebih baik bawa saja dulu ke UKS,” saran Dani.

Ternyata begitu mereka sampai di UKS tidak ada siapa pun di sana. Dokter Ronald, dokter UKS, tidak ada di tempat. Napas Tommy sudah tinggal setengah-setengah. Dia ditempatkan di tempat duduk karena satu-satunya pertolongan pertama yang mereka tahu untuk orang yang mendapat serangan asma adalah dia harus duduk tegak.

”Gawat! Jika dia tidak segera dapat obat bisa bahaya,” kata Dani khawatir.

”Aku bisa mengambilnya! Aku toh salah satu pelari tercepat di sekolah ini,” Riska menawarkan diri.

”Tetap saja, kau tidak akan bisa bolak-balik dari sini ke gedung utara kurang dari lima menit!” Indra tampak berpikir keras.

Riska memandang sekeliling ruangan dan menemukan buku cara-cara melakukan P3K di salah satu rak. Secepat mungkin dia mengambilnya dan mencari petunjuk pertolongan pertama untuk orang asma.

”Apa yang kaulakukan?” tanya Indra.

”Mencari pertolongan pertama untuk orang asma,” Riska membolak-balik halaman. Mungkin karena panik, dia malah kesulitan menemukan apa yang dicarinya.

”Dan!” Indra menatap Dani.

Dani mengangguk lalu menghampiri Riska.

”Pinjam bukunya ya,” kata Dani sambil tersenyum. Riska menyerahkan buku tebal itu padanya. Tidak sampai semenit Dani memegangnya, bahkan belum sempat membuka halamannya, dia sudah langsung tahu apa yang harus dilakukan.

”Kopi!” perintahnya. ”Beri dia kopi!” ”Eh, bagaimana kau...?” Riska menatapnya bingung. Dani tidak menggubris pertanyaan itu. ”Sebagai per-

tolongan pertama, kopi bisa membuka saluran udara ke paru-paru. Tertulis begitu di buku itu.”

Tertulis begitu? Dia bahkan belum membuka satu halaman pun! pikir Riska.

Indra melesat ke meja periksa. Ada segelas kopi yang masih agak hangat di sana, entah milik siapa. Tanpa banyak berpikir lagi, dia langsung meminta Tommy meminumnya.

Setelah beberapa teguk, keadaan Tommy agak lebih baik walau dia masih tampak kesulitan bernapas.

Indra menoleh ke arah Riska. ”Sekarang giliranmu.” Riska mengangguk, mengerti. ”Di kelas berapa?” ”Kelas XI-6,” jawabnya.

Secepat yang dia bisa, Riska berlari ke gedung utara menuju kelas paling ujung di gedung itu. Dengan napas terengah-engah, Riska masih harus mencari inhaler Tommy laci demi laci. Untunglah tidak sampai harus merogoh semua meja yang ada di situ, dia menemukannya.

Di UKS bukan hanya ada Tommy, Dani, dan Indra saat Riska kembali karena Pak Yunus juga ada di sana. Riska menyerahkan inhaler pada Tommy, yang segera mengisapnya. Tidak lama kemudian ada mobil keluaran Eropa datang dan berhenti tepat di depan ruang UKS.

Pengemudi mobil itu keluar dengan tergesa-gesa dan langsung menghadap Pak Yunus.

”Ada apa, Pak?”

”Antar anak ini ke rumahnya,” perintah Pak Yunus. Dani dan Indra memapah Tommy ke dalam mobil. Be-

gitu pintu mobil itu tertutup, mobil itu pun melaju. ”Tadi Pak Yunus kebetulan lewat sini,” Dani menghela napas.

”Untunglah,” desah Riska lega.

”Lebih tepatnya, untung ada kalian,” kata Pak Yunus. ”Kalianlah yang memberi pertolongan pertama, bukan saya.”

Mereka bertiga berpandangan.

”Kebetulan yang menyenangkan,” Riska tersenyum. ”Tapi sebenarnya, pertemuan ini bukan hanya kebetulan,

Riska,” kata Pak Yunus sambil menatap lurus ke arah Riska. ”Kami memang bermaksud menemuimu.”

”Eh?”

”Dengan begini, ketiga tokoh utamanya lengkap,” lanjut Pak Yunus.

”Ketiga tokoh utama?” Riska mengernyitkan dahi.

”Of course,” jawab Pak Yunus. ”The mind reader, the empath, and the text absorber.”

Riska tertegun. Semua langsung terdiam. Jantung Riska serasa berhenti berdetak. Berarti benar, orang ini sudah tahu tentang kemampuanku. Eh! Tunggu!

Riska menatap Indra dan Dani. Jika the empath yang artinya orang yang bisa merasakan perasaan orang lain adalah dia, maka pembaca pikiran dan penyerap tulisan adalah...

Mereka berdua!

PLOK!

Tepukan Pak Yunus memecah keheningan.

”Aku akan dengan senang hati menceritakan padamu apa yang sebenarnya terjadi, tapi karena cukup berbahaya jika kita membicarakan hal itu di sini,” katanya. ”Let’s talk about it at my house, if you don’t mind, of course.” Riska mengangguk, dia benar-benar ingin mengetahui apa yang sedang terjadi padanya dan siapa mereka ini.

”Great,” Pak Yunus tersenyum. ”Kalau begitu aku akan memberi kalian waktu untuk berganti pakaian. Kutunggu di gerbang depan.”

”Kalian berdua,” dia menunjuk Indra dan Dani. ”Mungkin sebaiknya kalian juga ikut karena walaupun aku sudah memberitahu kalian, aku belum memberitahu kalian semuanya.”

Setelah berkata seperti itu, Pak Yunus keluar.

Riska segera menuju ruang ganti. Di depan gerbang, Pak Yunus sudah menunggu mereka di dalam mobil yang tadi mengantar Tommy. Tanpa menanyakan apa pun, mereka bertiga menaiki mobil itu.

”Ini rumahku,” jelas Pak Yunus begitu mobil melambat beberapa saat kemudian, tanda mereka sudah mendekati tempat yang dituju.

”Rumah” mungkin bukan kata yang tepat, karena bangunan itu lebih mirip istana. Dua pilar besar replika pilar Kuil Parthenon menyangga rumah bertingkat tiga itu. Tidak ketinggalan taman bunga dengan air mancur berpatung Dewa Cupid.

”Wow!” seru Dani spontan.

Pak Yunus hanya menanggapinya dengan ucapan terima kasih. Mereka lalu dibawa ke ruang tamu, tempat mereka melihat piano tua besar.

”Kalau boleh tahu, apa pekerjaan ayah Bapak?” tanya Dani. ”Mafia?”

”Al Capone sudah ketinggalan zaman. Dan, my father is the CEO of King Group,” jawab Pak Yunus santai sambil meminta pelayannya untuk menyediakan minuman. ”Kalian suka jus jeruk?” 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊