menu

Touché Alchemist Bab 04

Mode Malam
Bab 04
”SELAMAT,  Matt,  namamu  tercantum  di  halaman

depan koran pagi ini,” kata Sam sambil membaca arti-

kel di koran dengan judul ”CEO Kelson Group Ditangkap dengan Tuduhan Pembunuhan terhadap Asisten Pribadinya”.

”Yah… sebenarnya itu lebih karena bantuan Hiro,” kata Matt sambil meneguk kopi. ”Aku masih tak me­ ngerti cara dia melakukannya. Apa kau tahu? Dia bisa merasakan bahwa udara ruangan kemarin karbondioksidanya lebih banyak daripada ruangan normal. Itu gila!”

”Begitulah,” kata Sam pura-pura tidak tertarik. Padahal sudah lama dia ingin mengetahui rahasia kemampuan istimewa Hiro, tapi terikat janji yang mereka buat saat memutuskan bekerja sama.

”Bagaimana dengan kasus bom Museum Intrepid,

ada kemajuan?” tanya Matt.

Sam menggeleng. ”Kami masih tidak tahu apakah bom itu bertujuan untuk melukai seseorang atau mengirim pesan.”

”Detektif Hudson, ada paket untukmu.” Petugas menyerahkan paket berbentuk kotak kepada Sam. Paket itu sama persis dengan paket yang dia terima beberapa hari lalu. Juga tanpa identitas pengirim.

Sam membuka paket itu perlahan-lahan dan lagilagi berisi empat botol: dua botol kosong, satu botol dengan bongkahan kuning, dan satu botol dengan bongkahan berwarna perak.

Mmm… dua botol kosong, satu litium, satu belerang, batin Sam.

Matt berdiri, menghampiri meja Sam. ”Paket yang

sama seperti waktu itu?”

Sam mengangguk. ”Aku merasa ini sudah bukan keisengan belaka.”

”Apa maksud paket itu?” tanya Matt tak mengerti. ”Entahlah.” Sam menghela napas sambil mengamati keempat botol di depannya. ”Aku juga tidak tahu.”

*  * *

”Masuklah,” sahut Profesor Martin dengan suara berat.

Hiro membuka pintu. ”Profesor ingin bertemu saya?”

Profesor Martin menunjuk kursi di depannya. ”Duduklah, ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

Hiro mengangguk, lalu duduk di kursi yang ditunjuk.

”Kita langsung saja,” kata Profesor Martin tanpa basa-basi. ”Aku ingin kau masuk sebagai salah satu timku dalam penelitian pengembangan molekul DNA buatan.”

”Hah?” Hiro mengangkat alis, tak percaya pemberitahuan yang baru saja dia dengar. Pengembangan molekul DNA buatan adalah penelitian yang sedang ramai dibicarakan karena jika berhasil, pintu untuk menyembuhkan semua penyakit genetis terbuka lebar.

”Bagaimana?” tanya Profesor Martin. ”Kenapa saya?” tanya Hiro balik. Kali ini Profesor Martin yang terkejut. ”Aku tidak menyangka Hiro Morisson akan mempertanyakan dirinya sendiri.”

”Bukan itu maksud saya,” jawab Hiro. ”Saya tahu alasan kuat Profesor memilih saya adalah karena saya pintar, genius malah. Betul begitu, kan?”

Profesor Martin tertawa sambil menggeleng-geleng.

Dia mulai terbiasa dengan kesombongan Hiro.

”Yang saya tanyakan kenapa bukan orang-orang yang sudah mengantre masuk sebagai tim Profesor?” lanjut Hiro. ”Mereka yang bahkan rela mati demi mendapat tawaran ini, sepertinya akan lebih berdedikasi dan berguna untuk Profesor.”

”Maksudmu William Kent?” tanya Profesor Martin merujuk pada William, yang bertahun-tahun memohon untuk menjadi asistennya demi masuk ke tim penelitian pengembangan DNA buatan.

”William salah satunya.” Hiro mengangkat bahu. ”Tapi saya yakin yang mengantre ingin menjadi anggota tim Profesor banyak jumlahnya.”

”Jadi kau tidak berambisi menjadi timku?” Kening Profesor Martin berkerut.

”Berminat, iya,” jawab Hiro santai. ”Berambisi, tidak.” ”Kau juga tidak rela mati untukku demi mendapat tawaran ini?” tanya Profesor lagi. ”Ibaratnya, kau tidak akan menangkap belati untukku?”

”Seperti kata orang, Profesor,” Hiro tersenyum. ”Jika saya punya waktu untuk menangkap belati yang ditujukan untuk Profesor, berarti sebenarnya Profesor punya waktu untuk menghindar. Saya tidak akan melakukannya.”

Profesor Martin tertawa lagi, tapi kali ini dengan keras, bahkan sampai terbahak-bahak. Kacamatanya hampir lepas. ”Itulah yang kusuka darimu, Hiro.” Profesor Martin mengusap-usap rambut putihnya yang tinggal sedikit. ”Kau tidak membuang-buang waktumu untuk menjilatku. Aku membutuhkan orang yang berdedikasi pada penelitian, bukan yang berdedikasi untuk mengambil hatiku.”

Hiro tidak mengatakan apa-apa.

”Lalu bagaimana jawabanmu?” Profesor Martin menatap Hiro tajam dari balik kacamatanya. ”Apakah  kau berminat? Apakah kau memang genius? Atau apakah aku terlalu tinggi menilaimu?”

Hiro terdiam, berpikir sambil balik menatap tajam Profesor Martin. Dia tidak suka diremehkan, tetapi ini keputusan besar yang seharusnya dia pertimbangkan dengan benar dampak baik maupun buruknya. ”Apakah dengan menjadi tim penelitian ini, saya harus berhenti menjadi konsultan untuk kepolisian New York?” tanya Hiro.

”Apakah kau masih ingin menjadi konsultan?” Profesor Martin balik bertanya dengan heran.

Hiro mengangguk. ”Kenapa?”

”Pertanyaan saya yang harus dijawab dulu,” kata

Hiro tegas.

Profesor Martin menghela napas. ”Aku benarbenar memerlukan kemampuanmu, jadi aku akan mengalah. Selama tidak mengganggu penelitian, lakukan saja apa pun sesukamu.”

Hiro tersenyum penuh kemenangan. ”Saya terima, Profesor.”

Profesor Martin tersenyum. ”Aku senang mendengarnya.”

”Itu saja, Profesor?”

”Untuk sementara.” Profesor Martin mengangguk. ”Kalau  begitu  saya  permisi  dulu.”  Hiro  beranjak

dari kursi untuk menjabat tangan Profesor Martin. ”Tapi, Hiro,” kata Profesor Martin dengan nada serius, ”jika dedikasimu pada penelitian ini berkurang, aku akan mendepakmu.”

”Silakan,” jawab Hiro santai. ”Tapi Anda akan kesulitan menemukan orang yang kepandaiannya setara dengan saya.”

”Apa kaupikir William Kent tidak cukup pintar?” ”Dia pintar. Sangat pintar malah. Saya dengar dia

bahkan mendapat beasiswa di Oxford untuk gelar master, tapi memilih ke universitas ini karena sangat mengidolakan Anda,” jawab Hiro. ”Kepandaiannya di level stratosfer, lebih tinggi daripada orang-orang pada umumnya, yang hanya berada di tingkat troposfer. Tapi kepandaian saya berada di ionosfer, setingkat lebih tinggi.”

Profesor Martin tertawa lagi. ”Aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa membenci orang dengan kesombongan stadium empat sepertimu.”

”Karena pada dasarnya saya tidak sombong,” jawab Hiro enteng. ”Saya hanya mengatakan fakta yang sebenarnya.”

”Oke… oke… apa katamu saja.” Profesor Martin masih tertawa.

Tiba-tiba ada suara di balik pintu ruangan Profesor Martin. ”Siapa?” tanya Profesor Martin. Tidak ada sahutan.

Hiro mendekati pintu dan menemukan bahwa pintu ruang Profesor sedikit terbuka. Tidak ada siapa pun   di sana. Mungkin tadi dia lupa menutupnya dengan rapat.

”Saya permisi dulu,” Hiro memutuskan sekalian pamit. Profesor Martin mengangguk.

Hiro keluar dari ruang Profesor Martin dengan senyum. Akhirnya dia menemukan tantangan baru. Sejak dia mendengar ada penelitian pengembangan DNA buatan, keingintahuannya terusik. Apalagi pekerjaan sebagai konsultan kepolisian New York baginya tidak menarik lagi. Tak ada kasus yang menantang kecerdasan berpikirnya.

Hiro melihat jam tangan yang menunjukkan pukul satu. Dia berjanji bertemu Karen di kafe di Amsterdam Avenue, dekat kampus, pukul dua siang ini.  Masih ada waktu satu jam untuk mampir ke perpustakaan. Sekarang saatnya mencari buku-buku yang berhubungan dengan penelitian.

Saat menaiki tangga menuju perpustakaan, Hiro melihat pria berkacamata berdiri di anak tangga teratas, memandangnya sambil tersenyum, seakan sengaja menunggunya. Pria itu tampak tidak asing baginya.

Tiba-tiba Hiro teringat kasus pembunuhan asisten pribadi CEO Kelson Group beberapa waktu lalu. Pria di depannya itu jika tidak salah bernama…

”Yunus King,” pria itu tiba-tiba menyodorkan tangan pada Hiro saat Hiro sampai di depan pintu perpustakaan.

Hiro menjawab sodoran tangan itu. ”Hiro Morrison.”

”Maaf, kau pasti heran kenapa aku tiba-tiba ada di sini,” kata Yunus sopan. ”Kau bahkan mungkin tak mengenaliku. Aku tak yakin kau bisa mengeja namaku.”

”Saya memang heran Anda ada di sini, tapi saya tahu Anda,” potong Hiro. ”Yunus King. Y-U-N-U-S K-I-N-G. Anda mendapat nama Yunus, karena Anda separuh Indonesia, dari ibu Anda. Anda CEO King Group. Kita pernah bertemu saat di Gedung Kelson. Saya cukup banyak membaca artikel tentang Anda di internet.”

”Suatu kehormatan.” Yunus tersenyum. ”Benar kita pernah bertemu di Gedung Kelson. Kau konsultan kepolisian New York yang menjebloskan Gerard ke penjara.” ”Saya harap Anda tidak sakit hati karena saya berhasil menemukan bukti bahwa teman Anda pembunuh,” kata Hiro enteng.

Yunus menggeleng. ”Gerard memang harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Lagi pula yang menjadi sahabatku Amanda, istrinya, bukan Gerard. Amanda patut mendapatkan orang yang lebih baik daripada Gerard.”

”Lalu, untuk apa Anda mencari saya?” tanya Hiro tanpa basa-basi.

”Gaya bicaramu ini mengingatkanku pada seseorang,” Yunus tertawa. ”Baiklah, aku akan mengatakan padamu alasanku datang ke sini.”

Yunus mengambil dompet dari saku celananya, mengeluarkan kartu nama. ”Di situ ada nomor pribadiku kalau-kalau kau membutuhkan bantuanku.”

Kening Hiro langsung berkerut. ”Kenapa saya bisa membutuhkan bantuan Anda?” tanyanya sambil mengusap-usap rambutnya yang berantakan hingga menjadi semakin tak keruan. ”Dan kenapa juga Anda sukarela menawarkan bantuan?”

Yunus tidak menjawab, hanya tersenyum penuh makna. ”Kaubuang atau tidak kartu nama itu, terserah padamu,” katanya sambil berjalan meninggalkan Hiro.

Hiro mendengus. Orang aneh. Saat dia hendak membuang kartu nama Yunus King, tiba-tiba Yunus berhen ti berjalan dan bertanya.

”Oh ya, Hiro, bagaimana udara pagi ini?” ”Hah?”

Yunus menuruni tangga tanpa menoleh. ”Apakah karbondioksidanya tinggi? Atau pohon-pohon di depan itu membantu menambah oksigen di kampus  ini?”

Hiro melotot. Dia tidak bisa menyembunyikan kekagetannya.

Orang itu tahu?  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊