menu

Touché Alchemist Bab 03

Mode Malam
Bab 03
SAM membaca laporan hasil laboratorium atas bongkahan dalam botol yang dikirimkan kepadanya kema-

rin. Bongkahan perak itu ternyata litium. Sam mengerutkan kening, bertanya-tanya kenapa ada orang yang mengirimkan belerang, litium, dan dua botol kosong kepadanya. Tak ada satu pun sidik jari yang bisa ditemukan di keempat botol itu. Apakah ini keisengan belaka?

Matt mulai merapikan mejanya. Sam melirik ke arah jam dinding: pukul tujuh malam. Dia menghela napas, ikut berkemas.

Tiba-tiba seluruh telepon yang ada di kantor polisi berdering. Belum sempat Sam mengangkatnya, Kapten Lewis, sang atasan, keluar dari ruangannya dan berteriak lantang. ”ADA BOM MELEDAK DI MUSEUM INTREPID SEA-AIR-SPACE. SEMUA UNIT HARAP KE SANA!”

Sam dan Matt berpandangan, kemudian tanpa ba­ nyak bicara mengambil jas masing-masing, dan beranjak pergi dari tempat itu untuk sesegera mungkin menuju tempat kejadian.

*  * *

Ledakan bom di Museum Intrepid Sea-Air-Space tidak menimbulkan korban jiwa karena museum itu sudah tutup sejak pukul lima sore tadi. Walau begitu, tiga sekuriti mengalami luka bakar akibat ledakan. Kerusakan cukup parah terjadi di technologies hall terutama pada simulator penerbangan. Kemungkinan besar si pelaku menyamar sebagai pengunjung dan meninggalkan bom di tempat itu.

Sam sedang menanyakan beberapa hal kepada pegawai museum saat mendengar namanya dipanggil.

”Hudson!”

Sam menoleh dan melihat Kapten Lewis yang diikuti beberapa orang, yang tampaknya orang penting, memberi tanda kepadanya agar segera menghampirinya.

Sam mengangguk, bergegas menuju Kapten Lewis. ”Berapa banyak yang sudah kauketahui tentang le-

dakan ini, Hudson?” tanya Kapten Lewis.

”Tidak banyak, Kapten. Kita masih harus menunggu

crime scene unit melakukan tugasnya,” jawab Sam. ”Apakah ada bukti kuat yang  menunjukkan ini aksi

terorisme?” tanya Kapten Lewis lagi. ”Kalian sudah mendapatkan petunjuk tentang pelakunya?”

Sam menggeleng. ”CCTV tidak banyak membantu karena si pelaku meletakkan bom itu di sudut yang tidak terjangkau CCTV. Dari cangklong ransel yang sudah terkoyak, bisa dipastikan si pelaku meletakkan bom di dalam ransel. Sekarang kami sedang mendalami hasil rekaman CCTV, siapa saja yang membawa ransel.”

”Hanya cangklongnya yang tersisa? Bagaimana dengan bagian lain?”

”Habis terbakar, Kapten.”

”Dari cangklong itu memangnya tidak ada sidik jari atau DNA?”

Sam menggeleng. ”Bagaimana dengan bukti untuk menentukan pengeboman ini terorisme atau kriminal biasa? Karena teman-teman kita dari FBI dan Homeland Securities sangat ingin mendengarnya,” kata Kapten Lewis, mengacu pada orang-orang yang datang bersamanya.

”Sepertinya bukan terorisme, karena dari penyelidikan awal ditemukan bahwa bom ini menggunakan timer, bukan detonator seperti yang biasa dilakukan teroris,” jelas Sam. ”Lagi pula teroris umumnya meledakkan bom pada jam puncak kunjungan agar menimbulkan banyak korban. Tapi ini  masih  hipotesis awal.”

”Walaupun tidak merenggut korban jiwa, bom ini tetap menimbulkan rasa takut dalam masyarakat,” sanggah orang dalam tim Kapten Lewis, yang name tag-nya menunjukkan Homeland Securities. ”Dan rasa takut adalah bentuk teror yang ingin diwujudkan teroris.”

”Kita tunggu saja hasil crime scene unit,” Kapten Lewis menengahi. ”Sebaiknya kita jangan membuat kesimpulan apa pun dulu.”

Agen FBI dan Homeland Securities mengangguk. Kapten Lewis beralih lagi pada Sam. ”Percepat pe-

nyelidikan dan laporkan hasilnya padaku agar kita bisa tahu ini terorisme atau hanya kriminal biasa.” ”Baik, Kapten,” Sam mengangguk.

*  * *

”Serius, Matt, kau memanggilku untuk kasus seperti ini?” Hiro mendengus kesal sambil memeriksa korban. Wanita yang tewas itu memiliki luka tusukan di perut. Darah menggenang bersama cairan bening.

Matt mengangkat bahu. ”Aku kehilangan  ide.” ”Apa kau tahu, Matt, setiap kali kepolisian New

York membutuhkan Hiro, akulah yang paling repot,” protes Karen. ”Karena anak manja ini hanya mau datang jika aku yang menjemputnya.”

”Aku tidak pernah memaksamu,” kata Hiro santai, masih terus mengulum lolipop. ”Kalau kau tak mau, berarti aku tak perlu datang. Tapi apa jadinya nama baik ayahmu nanti karena dialah yang merekomendasikanku.”

Karen tidak berkata apa-apa, selain memasang wajah cemberut.

Hiro mengambil cotton bud dari sakunya, lalu mencelupkannya pada cairan bening di sekitar korban. Ketika dia menyentuh cotton bud itu, keningnya berkerut. ”Air?” ”Tebakan yang bagus, Sherlock,” ejek Matt karena

semua orang juga pasti tahu itu hanya air.

Hiro tidak memedulikan ejekan Matt. Ia mengeluar­ kan cotton bud baru. Kali ini dia mengoleskannya di lidah korban, setelah itu menyentuhnya agak  lama. ”Di mana Sam? Bukankah kalian seharusnya bekerja berpasangan?”

”Dia sibuk dengan kasus bom,” jawab Matt. ”Kap­ ten memasangkannya dengan agen FBI, jadi sekarang aku single fighter.”

”Bom di Museum Intrepid, ya? Aku membacanya di koran.” Hiro berpikir sejenak, berkonsentrasi pada korban di hadapannya. ”Siapa yang pertama kali menemukan korban ini?”

”Atasannya, CEO Kelson Group, Gerard Button,” Matt menunjuk laki­laki yang tampak gelisah dan me­ rokok di sudut ruangan dekat tempat sampah. ”Wanita yang tewas ini, Melinda Hills, asisten pribadinya. Sekarang kau mengerti kenapa aku membutuhkanmu? Gerard Button adalah suami Amanda Kelson, pewaris Kelson Group alias pemilik gedung ini. Dia ingin kasus ini cepat selesai.”

”Bagaimana dia menemukannya?”  tanya  Hiro. ”Dia bilang, dia pulang ke rumah jam lima sore karena pada jam itu kantor sudah tutup.” Matt memba­ ca catatan di buku kecilnya. ”Saat itu dia mengira Melinda juga sudah pulang. Sesampainya di  rumah dia teringat ada berkas yang tertinggal sehingga memutuskan kembali ke kantor dan di ruang kantornya inilah melihat Melinda tergeletak.”

”Bagaimana dengan rekaman CCTV?” Hiro melihat CCTV terpasang di ruangan itu.

”Rusak sejak kemarin dan seharusnya besok diper-

baiki,” jawab Matt.

”Perusahaan sebesar ini harus menunggu lebih dari satu hari untuk memperbaiki CCTV?”

”Petugas sekuriti bilang, hari ini CEO tidak mau diganggu.” Matt mengangkat bahu. ”Tapi itu tidak membuktikan dia pembunuhnya, kan?”

”Bagaimana dengan senjata pembunuhnya? Sudah kalian temukan?” Hiro mengamati luka wanita itu dengan saksama. Di pinggir luka tusukan ada bekas terbakar, seakan-akan dia ditusuk dengan benda panas. ”Itulah sebabnya aku meminta bantuanmu,” keluh Matt. ”Tidak ditemukan di mana pun. Kupikir dibawa ke luar gedung ini, tapi berdasarkan CCTV di pintu

gedung, tidak ada orang asing yang keluar.”

Hiro bangkit, mengangkat kedua tangan seperti hendak merasakan sesuatu. ”Kau tahu, aku merasa ada yang janggal dengan ruangan ini.”

”Memangnya kau merasa ada yang hilang?” tanya Karen.

”Bukan,” Hiro menggeleng, ”sebaliknya, justru ada yang bertambah.”

”Apa itu?” tanya Matt.

”Karbondioksida.”

Matt dan Karen berpandangan.

”Apa kau memberinya alkohol sebelum datang ke

sini?” tanya Matt pada Karen.

”Tidak, tapi tadi sepertinya kepalanya sedikit terbentur,” jawab Karen sembarangan.

”Terserah jika kalian tak percaya padaku,” kata Hiro malas. ”Itu fakta penting yang memberiku petunjuk tentang kasus ini.”

”Kau tahu pelakunya?” tanya Matt tak percaya sam­ bil melirik jam tangannya. Hiro baru satu jam di tempat itu dan sudah menyelesaikan kasus ini.

”Berapa kali kukatakan bahwa itu tugas kalian sebagai polisi, Matt?” Hiro mendesah. ”Kalian membayarku sebagai konsultan hanya untuk membantu membangun hipotesis.”

”Apa pun katamu,” kata Matt berseri­seri. Biasanya jika Hiro berkata seperti itu, berarti kasusnya memang sudah terpecahkan.

”Sekarang panggilkan Gerard Button,” kata Hiro.

”Aku ingin memastikan sesuatu.”

”Kau serius?” Matt mengerutkan kening. ”Jangan

sampai salah omong. Dia orang penting.”

”Jika kau tidak percaya padaku, selesaikan sendiri kasusmu ini,” jawab Hiro enteng.

”Oke, oke...” Matt menyerah. ”Tuan Gerard Button!” Gerard Button menoleh, bergegas menjatuhkan ro­ kok yang tadi diisapnya, lalu menginjaknya untuk mematikan apinya. Gelisah, dia berjalan menghampiri

Matt dan Hiro.

”Suruh orangmu mengambil rokok yang tadi dia buang,” bisik Hiro.

”Hah?” Matt bingung.

”Lakukan saja,” lanjut Hiro masih dengan berbisik. ”Jika nanti dia hendak memukulku, kau harus melindungiku dan membiarkanmu dipukul.”

Matt tak mengerti, tapi dia menuruti kata Hiro. Dia memanggil opsir, membisikkan sesuatu, yang langsung dijawab sang opsir dengan anggukan.

”Ada apa kau memanggilku, Tuan Detektif?” tanya

Gerard Button. Wajahnya tampak gusar. ”Saya ingin memperkenalkan diri.” Hiro menyodorkan tangan. ”Hiro Morrison, konsultan untuk kepolisian New York.”

Gerard Button tampak bingung, tapi menjawab so­

doran tangan Hiro.

”Saya sangat senang berkenalan dengan Anda.” Hiro mencoba berlama-lama bersalaman agar bisa ”membaca” hal yang paling penting yang dibutuhkan dalam kasus ini: DNA.

Sekuat tenaga Gerard Button mencoba melepaskan tangannya dari tangan Hiro, tapi gagal. Sampai akhirnya Hiro sendiri yang melepaskannya.

”Bagaimana rasanya berselingkuh dengan asisten pribadi Anda?” tanya Hiro tiba-tiba.

Mata Gerard Button seperti hampir keluar, begitu juga Matt.

”Apa maksudmu menuduhku seperti itu?” bentak

Gerard Button.

”Satu-satunya alasan kenapa DNA Anda ada di mulut korban hanyalah karena Anda menciumnya,” kata Hiro kalem sambil memegangi permen lolipop. ”Mungkin Nona Hills tidak mau lagi menjadi selingkuhan Anda dan berniat membuka semuanya pada istri Anda. Anda ketakutan karena, yah... seperti kita tahu, semua yang Anda nikmati adalah milik istri Anda sehingga Anda memutuskan membunuh Nona Hills untuk menutup mulutnya.”

”DNA apa maksudmu?” Gerard Button mengangkat tangannya yang terkepal. Pada saat yang sama, Matt bersiap­siap maju. Ketika Gerard Button melayangkan tinju pada Hiro, Matt langsung mengalangi dengan badannya sehingga akhirnya kepalan itu mengenai dagunya yang membuatnya jatuh tersungkur. Karen menjerit melihatnya.

”Wah… wah… Tuan Gerard Button, Anda menyerang polisi,” kata Hiro tenang sambil melirik ke arah Matt.

Matt paham kenapa Hiro menyuruhnya menerima pukulan. Dia langsung bangkit berdiri dan menarik tangan Gerard Button ke belakang, segera memborgol­ nya.

”Tuan Gerard Button, Anda ditangkap karena mela­ kukan penyerangan terhadap polisi,” tegas Matt.

”Kau pasti bercanda!” teriak Gerard Button. ”Dia

yang memulainya!”

”Tapi saya yang Anda pukul,” jawab Matt sambil memberi tanda pada dua opsir yang ada di tempat itu untuk membawa Gerard Button.

”Sekarang kau jadi punya waktu untuk membuktikan milik siapa DNA di mulut korban kan, Matt?”

kata Hiro.

”Jadi tadi kau hanya menerka-nerka?” tanya Gerard

Button marah.

Hiro hanya mengangkat bahu.

”Memangnya kalian mau membandingkannya dengan DNA siapa?” Gerard Button tersenyum meng­ ejek. ”Aku tidak sudi memberi kalian sampel DNA-ku. Berdasarkan undang-undang, kalian tidak bisa memaksaku melakukannya.”

”Tidak perlu, kami sudah mendapatkannya di sini.” Matt mengangkat kantong berisi puntung rokok yang tadi diisap Gerard Button.

Gerard Button melotot, tak percaya melihat bekas rokoknya. ”Aku akan memanggil pengacaraku dan menuntut kalian,” ancamnya. ”Lihat saja, tidak butuh waktu lama bagi dia untuk membebaskanku.”

”Sebaiknya cari pengacara yang bagus, yang sekalian bisa membebaskan Anda dari tuduhan pembunuhan,” kata Hiro merespons ancaman Gerard.

Gerard Button berhenti berjalan dan berbalik mena­ tap Hiro. Wajahnya memerah. ”Atas dasar apa kau mengatakan itu? Hanya karena menciumnya bukan berarti aku membunuhnya!” ”Apakah Anda pernah mendengar tentang es kering?” tanya Hiro.

Mendengar pertanyaan Hiro, wajah Gerard Button

tampak sangat terkejut.

”Melihat perubahan wajah Anda, asumsi saya Anda tahu,” kata Hiro tersenyum sinis. ”Es kering sebenarnya bukan es karena tidak berasal dari air, tapi karbondioksida dalam bentuk padat. Es kering lebih kuat daripada es yang berasal dari air dan lebih dingin, sekitar -78°C atau sekitar -104°F. Di suhu ruang, es kering dengan sendirinya menyublim menjadi gas CO2 dalam waktu 24 jam. Proses itu bisa lebih cepat jika ditambah H2O alias air, seperti dalam percobaan kimia waktu SMA. Es kering yang dicampur air menimbulkan asap, yang kemudian di industri hiburan digunakan sebagai efek kabut. H2O ditambah CO2 akan bereaksi menjadi H2CO3, yang kemudian pecah kembali menjadi H2O dan CO2.”

Kening Karen mengerut. Kenapa sekarang malah jadi pelajaran kimia?

”Saya pikir Anda pasti paham benar hal itu,” lanjut Hiro. ”Itulah sebabnya Anda memutuskan membunuh Melinda Hills dengan es kering yang berbentuk runcing. Kemudian untuk menghilangkan barang bukti, Anda mengguyurnya dengan air, sehingga es kering itu kembali menjadi karbondioksida dalam bentuk gas.”

Matt manggut­manggut. Akhirnya dia paham kena­ pa Hiro mengatakan bahwa ruangan ini memiliki terlalu banyak karbondioksida, tapi masih belum tahu cara anak muda itu mengetahuinya.

Tiba­tiba Gerard Button tertawa. ”Cerita yang bagus, Nak. Kau berbakat menjadi penulis novel detektif,” ejeknya. ”Kalau yang kaupaparkan itu benar, berarti kau tak punya bukti apa-apa karena senjata pembunuhnya sudah hilang bersama udara.”

Karen menelan ludah. Orang itu benar, tidak ada bukti yang bisa mengaitkannya dengan pembunuhan Melinda Hills kalau senjatanya tidak ditemukan.

Hiro menghela napas. ”Anda tidak menyimak katakata saya seluruhnya. Es kering lebih dingin daripada es biasa, itulah sebabnya berbahaya jika memegangnya dengan tangan kosong karena menyebabkan luka bakar. Itu juga sebabnya di pinggiran luka tusukan pada korban ada bekas seperti terbakar.”

”Ah!” seru Karen spontan, lalu cepat-cepat berusaha menutup mulut dengan kedua tangan. Ia langsung teringat rasa panas seperti terbakar saat menyentuh potongan es kering. ”Anda tidak mungkin memegangnya dengan tangan kosong,” lanjut Hiro. ”Berani bertaruh, apa pun yang Anda pakai untuk memegang es kering itu ada di tempat sampah dekat tempat tadi Anda berdiri.”

Mendengar itu, Matt menyuruh opsir secepatnya

mengambil isi tempat sampah.

”Ada sarung tangan kulit hitam!” teriak opsir itu sambil mengangkat sarung tangan yang dimaksud dari tempat sampah. Petugas crime scene unit mengoleskan cotton bud ke sarung tangan tersebut, lalu menyemprotkan luminol. Cotton bud berubah warna menjadi ungu. ”Ada bekas darah juga di sarung tangan ini,” teriak si petugas memberitahu.

Matt tersenyum. ”Berani bertaruh, darah yang ada

di situ adalah darah korban.”

”Lalu kenapa?” Gerard Button masih merasa berada di atas angin. ”Tetap bukan berarti aku pembunuhnya. Bisa saja si pembunuh sengaja membuangnya di sana untuk menjebakku.”

”Tuan Gerard Button,” Hiro bicara kembali. ”Apa Anda lupa, untuk memakai sarung tangan Anda pasti melakukannya dengan tangan kosong. Saya yakin di salah satu sarung tangan itu ada sidik jari Anda. Apakah saya keliru?” Senyum di wajah Gerard Button langsung menghi­

lang. Dia juga kehabisan kata-kata.

Matt memberi tanda kepada dua petugas yang men­ jaga Gerard Button untuk membawanya ke mobil.

”Fiuuuuh…,” Matt menghela napas, ”kupikir kita tidak akan pernah bisa mengaitkannya dengan pembunuhan ini.”

”Jangan senang dulu,” kata Hiro. ”Pengacara yang bagus akan membebaskannya dalam sehari dengan mengatakan bahwa dia dijebak. Ruangan ini penuh dengan sidik jarinya, bisa saja si pelaku menempelkan sidik jari Gerard Button di sarung tangan itu.”

”Kau benar…” Matt kembali gusar.

”Ayo, Karen, kita pulang,” kata Hiro menguap. ”Hei! Hei! Kau belum selesai membantuku!” sergah

Matt kebingungan. ”Jadi bagaimana aku bisa membuk­ tikan bahwa dia pembunuhnya? Atau jangan-jangan memang bukan dia pembunuhnya?”

”Itu kan tugasmu, Detektif,” kata Hiro santai sambil berjalan pergi meninggalkan ruangan.

Wajah Matt seketika tampak putus asa.

Karen menepuk­nepuk punggung Matt untuk meng­

hiburnya. ”Kau seharusnya sudah mengenal Hiro.” ”Petunjuk  untukmu,  Detektif,”  seru  Hiro  sebelum menghilang di balik pintu. ”Es kering bukan barang yang bisa dibeli di sembarang toko.”

Matt hanya bisa melongo mendengar petunjuk Hiro.

Dia belum mengerti maksud kata-kata pemuda itu.

Karen yang mengikuti Hiro merasa khawatir. ”Kau

yakin Matt paham petunjukmu?” tanya Karen.

Tiba­tiba terdengar teriakan keras Matt saat mereka berjalan menuju lift. ”Ahhh!!!”

”Ya, aku yakin,” Hiro tersenyum.

Karen menekan tombol lift, pintu pun menutup dan mereka bergerak turun.

”Memangnya apa maksudmu ’es kering bukan barang yang bisa dibeli di sembarang toko’?” tanya Karen.

”Kukira kau lebih pintar daripada Matt,” sindir

Hiro.

Karen menggerutu.

”Di New York hanya toko-toko tertentu yang menjual es kering,” jelas Hiro. ”Apalagi es kering dengan pesanan khusus berbentuk runcing. Jika menemukan toko itu, Matt bisa tahu pembelinya. Nota pembelian es kering merupakan bukti paling kuat untuk mengaitkan Gerard Button dengan pembunuhan Melinda Hills.” ”Berarti kau yakin pembunuhnya Gerard Button?”

tanya Karen.

”Ayolaaah...” Hiro menguap lagi. ”CCTV yang tibatiba mati, mereka berciuman, motivasi ekonomi, sarung tangan kulit yang jelas-jelas mahal, dan tidak sembarang orang bisa memesan es kering untuk kepentingan pribadi.”

Karen manggut­manggut. Denting lift berbunyi dan pintu terbuka. Di depan pintu lift ada pria muda berkacamata, berambut hitam, dan berwajah keturunan Asia seperti Hiro dan Karen.

Saat Hiro keluar, pria itu masuk ke lift. Ada perasaan aneh menyelimuti Hiro, merasa pria itu memperhatikannya. Hiro menghentikan langkah dan sengaja menoleh.

Tiba-tiba petugas sekuriti berlari tergopoh-gopoh menuju mereka sambil mengacungkan ponsel. ”Tuan! Tuan King! Ponsel Anda terjatuh di lobi!” serunya.

Pria berkacamata itu menahan pintu lift. ”Terima kasih, James,” kata pria itu. ”Aku tadi ditelepon Amanda agar segera ke sini karena katanya Gerard sedang dalam masalah.”

”Tuan Gerard sudah dibawa ke kantor polisi, Tuan,” kata petugas sekuriti itu. ”Apa?!” Pria itu tampak terkejut. ”Apakah para polisi masih ada di ruangannya?”

Petugas sekuriti mengangguk.

Sebelum pintu lift benar-benar tertutup, mata pria itu beradu dengan mata Hiro, dan tersenyum.

Siapa orang itu? batin Hiro kaget.

Ketika petugas sekuriti itu akan kembali ke posnya, Hiro mencegahnya. ”Siapa orang yang baru saja masuk ke lift?”

Petugas itu mengernyit. ”Kenapa aku harus mengatakannya padamu?”

Hiro mendesah kesal, lalu mengeluarkan kartu tanda pengenal konsultan kepolisian New York.

”Dia sahabat Nyonya Amanda Kelson,” kata petugas itu setelah membaca kartu tanda pengenal Hiro. ”CEO King Group, Tuan King. Yunus King.”

Yunus King?  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊