menu

Touché Alchemist Bab 02

Mode Malam
Bab 02
”Apa   kau   tidak   bosan?”   komentar   Hiro   melihat Karen  sibuk  mengetik  di  laptop  saat  mereka makan

siang di kafe dekat kampus Hiro. Sejak kasus di Central Park musim gugur tahun lalu, Karen dan Hiro menjadi dekat, atau lebih tepatnya Karen mendekati Hiro. Selain karena mereka seumuran dan sama-sama memiliki ibu dari Jepang, ketertarikan Karen pada Hiro tertuju pada kemampuan analisis pemuda itu yang mengagumkan sehingga merasa perlu mengabadikan semua kasus yang berhasil dipecahkan  Hiro dalam bentuk tulisan. Jadi setiap Hiro menyelesaikan kasus,  Karen  menemuinya  sepulang  sekolah  untuk menanyakan hal-hal penting yang menyangkut kasus itu lebih detail.

”Aku tidak bosan, karena setiap Sherlock memerlukan Watson,” jawab Karen sambil terus mengetik. Dia sedang mendokumentasikan kasus penculikan yang berhasil Hiro pecahkan dua hari lalu. Seperti perkiraannya, si pelaku adalah ayah korban sendiri dan semua alasan serta apa yang terjadi sesuai dengan analisis Hiro.

”Setelah itu mau kauapakan?” tanya Hiro sambil memakan kentang goreng.

Karen menghentikan ketikannya, menatap Hiro heran. ”Setelah setahun, kau baru bertanya? Kenapa tiba-tiba kau peduli?”

”Jawab saja.”

”Mungkin mau kukirimkan ke penerbit.” Karen mengangkat bahu. ”Mau kubukukan. Kenapa?”

Hiro mengangguk. ”Bagus! Berarti aku akan dapat royalti.”

”Aku tidak menyangka kau peduli royalti.” Karen mengernyit.

”Kau pikir aku melakukan ini semua, menemuimu setiap hari, secara sukarela?” kata Hiro kalem.

”Aku lupa, yang baik dari dirimu hanya otakmu.” Karen mendengus, lalu mulai mengetik lagi. ”Morrison!”

Mendengar namanya dipanggil, Hiro menoleh.

Pria berumur tiga puluhan, berkacamata dengan gagang biru tua, mengenakan kemeja biru muda dan celana biru, terburu-buru menghampiri Hiro sambil mengacung-acungkan kertas.

”Ada apa, Will?” tanya Hiro.

”Aku ingin menanyakan sesuatu,” jawab William terengah-engah, mencoba mengatur napas.

Karen berdeham. ”Hiro, kenapa kau tidak mempersilakannya duduk?”

”Karena kalau memang mau duduk, dia sudah melakukannya sendiri,” jawab Hiro santai, sejurus kemudian menepuk kursi di sebelahnya. ”Tapi okelah, duduk di sini, Will.”

William mengangguk, lalu mengeluarkan saputangan biru untuk membersihkan kursi itu sebelum duduk di sebelah Hiro. Dia menatap Karen dengan bingung. Hanya sesaat karena segera mengalihkan tatapannya pada Hiro. Penuh tanda tanya.

”Jangan pedulikan dia,” kata Hiro. ”Anggap saja dia tidak ada. Jadi kau mencariku untuk apa?”

Alis Karen langsung mengerut diperlakukan seperti itu oleh Hiro walaupun paham betul sifat Hiro yang suka seenaknya.

”Karen Hanagawa.” Karen menyodorkan tangan pada William. ”Panggil saja Karen.”

”William Sterling Kent.” William yang beraksen Inggris kental menjabat tangan Karen dengan kikuk. ”Kau bisa memanggilku William... atau Will seperti Hiro.”

Setelah menjabat tangan Karen, William langsung mengelap tangannya dengan tisu. Karen menatapnya heran dan sedikit tersinggung.

”Maafkan aku, ini hanya masalah kebiasaan,” kata William menjelaskan, seolah mengerti arti tatapan Karen.

Karen hanya mengangguk.

”Apakah kau pacar Hiro?” tanya William pada Karen tanpa basa-basi.

”Untungnya bukan,” jawab Hiro.

”Harusnya aku yang bilang begitu,” dengus Karen. ”Aku babysitter-nya. Bayi ini tidak mau membantu ayahku dan kepolisian New York kalau bukan aku yang mengantar-jemputnya.”

”Oh, jadi kau anak Detektif Samuel Hudson.” William membetulkan letak kacamatanya. ”Kenapa aku baru melihatmu sekarang ya, padahal Hiro sudah menjadi konsultan kepolisian New York hampir setahun?”

”Kau mencariku untuk apa?” potong Hiro.

”Aku ingin bertanya padamu tentang perhitungan ini,” kata William sambil menunjukkan kertas di tangannya. ”Profesor Martin bilang, perhitunganku salah dan aku harus bertanya padamu.”

”Sini kulihat.” Hiro membaca kertas itu dengan saksama. ”Kau punya pensil?”

William mengangguk, lalu menyerahkan  pensil biru.

Hiro membuat coretan-coretan di hasil perhitungan William dengan cepat dan menggantinya dengan perhitungannya.

”Sepertinya begini perhitungannya,” kata Hiro tidak lama kemudian.

William membaca perhitungan Hiro. Dahinya berkerut, pertanda dia berpikir keras. ”Kenapa aku tidak berpikir hingga ke sana?” kata William bergumam, lebih kepada dirinya sendiri. Ia mengamati coretan Hiro beberapa saat.

William bangkit dari kursi. ”Terima kasih, Morrison. Pantas saja Profesor Martin lebih memilihmu menjadi asistennya daripada aku.” Hiro mengangkat bahu. ”Aku hanya beruntung.” Karen yang sedang minum es limun hampir terse-

dak mendengar jawaban Hiro. Tidak biasanya dia rendah hati seperti itu.

”Ini pensilmu,” Hiro mengembalikan pensil William.

William menggeleng dengan tatapan jijik. ”Untukmu

saja.”

”Ah, kau tidak bisa memegang apa yang sudah dipegang orang lain.” Hiro mengangguk-angguk. ”Aku lupa.”

William pamit untuk kembali ke kampus, tetapi sebelumnya mengelap dan menata semua benda yang tadi tak sengaja disentuhnya, termasuk meletakkan kursi ke tempat semula dengan tepat. Kemudian dia berjalan cepat, meninggalkan Hiro dan Karen.

”Temanmu itu…,” kata Karen. ”Ya,” jawab Hiro.

Karen mengerutkan alis. ”Aku belum selesai bicara.”

”Aku tahu isi pikiranmu,” jawab Hiro dengan nada meremehkan seperti biasa. ”Kau kan mudah ditebak.” ”Memangnya apa yang ada di pikiranku?” tantang

Karen jengkel. ”’Apakah William penderita Obsessive Compulsive Disorder?’ dan sudah kujawab ’iya’,” kata Hiro sambil memanggil pelayan untuk memesan kopi lagi. ”Seperti yang kaulihat, dia terobsesi biru, kesimetrisan, kerapian, dan kebersihan.”

”Apa yang bikin dia OCD?” tanya Karen. ”Tanyakan saja sendiri  padanya.” ”Kupikir kau genius,” sindir Karen.

”Aku memang genius, tapi bukan psikolog,” jawab Hiro.

Sekakmat. Karen tak berkutik.

”Tadi William bilang, kau jadi asisten profesor, mengalahkannya,” Karen mengalihkan topik. ”Bukannya kau baru masuk kuliah tahun lalu?”

”Aku tidak mengalahkannya. Profesor Martin yang memilihku,” Hiro menguap. ”Kenapa aku bisa jadi asisten profesor padahal baru kuliah setahun? Aku bahkan dipastikan lulus tahun depan dengan predikat minimal magna cum laude. Aku juga ditawari beasiswa Phd. Apa aku harus mengatakan alasannya?”

Karen memutar bola mata. ”Karena kau genius.”

Hiro melihat jam tangannya. ”Sudah waktunya aku kembali ke kampus. Ada yang ingin kautanyakan lagi tentang kasus kemarin?” ”Ya,” jawab Karen tenang. Ia mengambil kue di piring Hiro yang masih tersisa dan memakannya. ”Bagaimana kau melakukannya?”

”Melakukan apa?”

”Mengetahui berbagai hal hanya dengan menyentuhnya,” jelas Karen. ”Kau seperti laboran forensik berjalan. Sudah setahun kau melakukannya, sudah waktunya kau menjelaskan padaku.”

Hiro mengacak-acak rambut. ”Apa kau tidak pernah diberitahu ayahmu bahwa perjanjiannya adalah ’Jangan bertanya dan jangan mengatakan pada siapa pun’?”

”Itu perjanjianmu dengan ayahku, bukan denganku,” jawab Karen.

Hiro mengangkat alis. ”Wow, ternyata kau lebih pintar daripada dugaanku.”

Karen menyipit. ”Aku tak tahu apakah kalimatmu barusan itu pujian atau hinaan.”

Hiro terdiam sejenak, lalu bangkit dari tempat duduk.

”Sebenarnya aku ingin menjelaskannya padamu, tapi tidak bisa melakukannya,” katanya.

”Kenapa?” protes Karen sambil menutup laptop. ”Pertama, karena aku malas,” jawab Hiro asal. ”Kedua, karena penjelasanku tidak akan mampu dicerna otakmu.”

Karen mendengus. ”Bukannya kau baru saja bilang bahwa aku lebih pintar daripada dugaanmu?”

”Aku menduga kau sangat bodoh, tapi ternyata hanya bodoh,” jawab Hiro malas. Dia menaruh beberapa lembar uang di meja, kemudian mengambil tas dan berjalan pergi.

Ingin rasanya Karen melempar kepala Hiro dengan laptop, tapi tidak rela laptopnya hancur. ”Pokoknya suatu saat kau harus menjelaskannya padaku!” teriak Karen hingga pengunjung kafe itu menoleh padanya.

Hiro melambai tanpa menoleh sedikit pun. ”Aku hanya melakukannya kalau akan mati.”

*  * *

Hiro sebenarnya bukan tidak mau menjelaskan kelebihannya pada Karen, tapi bingung cara menjelaskannya. Dia menyadari kemampuannya itu sejak dia kecil. Setiap dia menyentuh benda, maka gugusan dan nama yang saat itu belum dia ketahui maknanya muncul di kepalanya seperti proyektor. Suatu hari, saat  masih SD, dia tak sengaja menemukan jawabannya di internet. Gugusan yang sering muncul itu adalah gugus kimia.

Ketika dia menyentuh garam, di matanya tampak Na yang mengikat Cl. Ketika dia menyentuh karat, yang tampak adalah Fe, O, serta H yaitu besi  (Fe)  yang teroksidasi oksigen (O) dan hidrogen (H). Semakin lama dia menyentuhnya, berarti semakin dalam dan semakin kompleks dia melihat objek tersebut. Dia bisa melihat susunan molekul, elektron, radius atom, titik didih, titik lebur, dan sebagainya dari benda yang dia sentuh. Kimia dan fisika. Jika memegang darah agak lama, dia sanggup mengetahui DNA-nya karena pada dasarnya DNA yang merupakan bagian biologi adalah molekul kimia.

Sejak menyadari kemampuannya itu, Hiro mulai memegang semua benda di sekitarnya dan merekam dalam ingatan satu per satu identitas kimia benda itu. Sehingga jika suatu hari kembali memegang benda yang sama walau hanya berupa serpihan, dia bisa  tahu jenis benda itu berdasarkan identitas kimianya karena database semua benda sudah tersimpan rapi di otaknya. Tentu saja kemampuan menakjubkan seperti itu tidak ada gunanya jika dimiliki orang dengan kepandaian rata-rata. Tidak heran Tuhan yang Mahaadil menurunkan kemampuan itu pada orang dengan otak genius seperti Hiro.

*  * *

”Halo?”

”Hiro, bagaimana kabarmu di sana?”

”Aku baik-baik saja, Ibu,” jawab Hiro sambil menuang larutan ke tabung reaksi sehingga larutan itu mendesis dan berbuih.

”Kau ada di mana?” tanya ibunya khawatir karena mendengar desisan. ”Sekarang jam berapa di sana?”

”Aku di laboratorium,” jawab Hiro sambil melihat jam tangannya. ”Sekarang jam tujuh malam.”

”Jam tujuh malam? Apa yang kaulakukan jam tujuh malam di laboratorium?”

”Sedikit percobaan,” jawab Hiro santai. ”Profesor Martin memberiku kunci ruang laboratorium sehingga aku bisa memakainya kapan pun mau.”

Hiro bisa mendengar ibunya menghela napas panjang.

”Baiklah kalau begitu,” kata ibunya lembut. ”Berhati-hatilah kau di sana.” ”Ibu meneleponku hanya ingin mengatakan itu?” tanya Hiro. ”Atau ada hal lain?”

Ibunya menghela napas lagi. ”Ibu punya firasat

akan ada hal buruk yang sebentar lagi terjadi.”

”Itu hanya firasat, Bu,” jawab Hiro tenang. ”Bukan­

kah Ibu tidak percaya hal seperti itu?”

”Ibu memiliki firasat yang sama sehari sebelum ayahmu meninggal,” kata ibunya. ”Saat itu Ibu tak memercayainya.”

Hiro mendesah. ”Ibu, itu hanya kebetulan.” ”Hiro!”

”Aku tidak akan apa-apa,” kata Hiro menenangkan. ”Aku berjanji.”

”Baiklah, Ibu sayang padamu, Hiro,” kata ibunya lega.

”Aku juga,” jawab  Hiro.  Lalu  telepon  ditutup. Hiro menggaruk-garuk rambut, menghela napas.

Tidak biasanya ibunya menelepon hanya karena memiliki firasat. Hiro paham sekali cara berpikir ibunya yang logis, yang kemudian menurun padanya.

Tidak mungkin, Hiro menggeleng. Tidak mungkin kali

ini firasat ibunya benar seperti saat Ayah meninggal.

*  * * ”Sam, tentang pembunuhan Nyonya Stoner, apa kita tidak minta bantuan Hiro saja?” tanya Matt sambil menawarkan donat pada Sam Hudson. ”Atau kau pikir, kita tidak perlu melakukannya karena ini bukan kasus yang menuntut kecepatan?”

Sam mengambil donat itu, langsung memakannya. ”Semua kasus harus cepat diselesaikan. Bukan hanya kita ingin agar pekerjaan cepat selesai, juga karena keluarga korban membutuhkan jawaban. Tapi kita punya skala prioritas, Matt, mana yang bisa kita selesaikan sendiri dan mana yang membutuhkan bantuan Hiro. Aku hanya meminta bantuannya jika ada nyawa yang dipertaruhkan. Lagi pula jika semua kasus dibebankan padanya, jangan-jangan nanti kita dipecat karena menganggur.”

”Dan dia jadi bisa lebih sering mengejek kita ’makan

gaji buta’.” Matt mengangguk­angguk.

”Tepat!” Sam tertawa.

Saat dia berhenti tertawa, paket diletakkan di mejanya oleh petugas yang bertugas membagi-bagi surat.

”Apa ini?” tanya Sam pada petugas itu sambil mengangkat paket berbentuk kotak dari mejanya. Tidak ada nama pengirim. Petugas itu mengangkat bahu. ”Baru sampai hari ini dari kurir.”

”Apa itu?” tanya Matt penasaran. ”Apakah kau pi­

kir itu bom?”

Sam mencoba mengukur berat paket itu dengan tangannya, lalu mendekatkannya ke telinga. ”Terlalu ringan untuk bom dan tidak ada bunyi apa pun.”

Sam merobek kertas pembungkus paket itu dengan hati-hati. Di dalamnya ada kotak berisi empat botol. Dua botol tampak tak berisi apa pun, satu botol berisi bongkahan kuning, dan botol terakhir berisi bongkahan warna perak.

”Apa maksudnya ini?” Matt mendekati meja Sam,

memperhatikan botol-botol itu.

Sam membuka botol berisi bongkahan kuning. Menciumnya. Begitu menghirup, dia langsung terbatuk keras.

”Belerang,” katanya terbatukbatuk.

”Yang ini?” tanya Matt mengangkat botol berisi

bongkahan berwarna perak.

”Entahlah, biar kubawa ke lab,” kata Sam masih terbatuk-batuk, walau sudah tidak begitu keras lagi. ”Kuharap mereka bisa menemukan sidik jari di botol ini sehingga bisa menangkap siapa pun yang membuat keisengan seperti ini.”

Matt tertawa. ”Mungkin kau pernah meminjam balon seorang anak dan lupa mengembalikannya.” Sam mendengus.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊