menu

Touché Alchemist Bab 01

Mode Malam
Bab 01
”HALO?”

”Hiro! Ini aku,” jawab suara di seberang telepon.

”Aku tahu, Sammy,” jawab Hiro dengan suara serak sambil melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul delapan. ”Ada namamu di layar ponselku.”

”Detektif Hudson,” ralat Detektif Hudson.

”Samuel Hudson… Sammy… Apa bedanya?” desah Hiro malas.

”Ah sudahlah, kita berdebat tentang hal ini lain kali saja,” gerutu Sam. ”Sekarang kau ada di mana?”

”Di tempat tidur,” jawab Hiro sambil mengusapusap mata. ”Dan aku tidak bisa diganggu, Sammy. Ini hari Minggu, hari seharusnya aku bisa tidur hingga jam satu siang nanti.”

”Ini penting, Hiro!” Nada suara Sam meninggi.  ”Kau pasti sudah mendengar tentang penculikan Mary Hamilton, cucu miliuner, dan pengasuhnya kemarin, kan?”

”Aku membaca beritanya di internet,” jawab Hiro dengan nada malas. ”Dia cucu tunggal pengusaha kapal Leonard Hamilton, kan? Putri tunggal Leonard alias ibu kandung Mary meninggal tahun lalu, jadi pewaris Hamilton Group tinggal cucunya itu.”

”Tadinya kami mengira penculiknya adalah pengasuhnya sendiri karena Mary benar­benar dijaga ketat kakeknya. Tak mungkin orang luar yang melakukannya,” jelas Sam. ”Tapi hari ini mayat pengasuhnya ditemukan di tepi Sungai Hudson. Sepertinya dia dibunuh sejak awal penculikan.”

”Dia mati tenggelam?” tanya Hiro.

”Sepertinya begitu,” jawab Sam. ”Tidak ditemukan bekas tusukan, atau bekas perlawanan, atau ikatan. Lengan dan kakinya bersih. Untuk lebih jelasnya memang harus menunggu hasil autopsi, tapi kita tidak punya waktu. Toleransi penculikan anak adalah 2 x 24 jam, jika lebih dari itu kemungkinan si anak yang diculik sudah mati. Waktu kita tinggal  beberapa  jam  saja.”

”Penculiknya meminta tebusan?”

”Mereka menelepon dua jam setelah penculikan dengan menggunakan ponsel sekali pakai,” jawab Sam. ”Mereka meminta tebusan satu setengah miliar dolar yang harus dibayar malam ini atau si cucu akan dibunuh.”

”Kakeknya tidak mau menebus?” tanya Hiro. ”Tidak. Kakeknya malah marah-marah kepada kami

sambil berteriak, ’Itu jumlah pajak yang kubayarkan setiap tahun untuk menggaji kalian! Jadi kalian harus menemukan cucuku hidup-hidup!’” keluh Sam.

Hiro menghela napas. ”Baiklah, aku akan ke sana.

Di mana tadi tempatnya?”

”Jangan khawatir, aku sudah meminta Karen menjemputmu.” Ada nada senang dalam suara Sam. ”Dia sudah pulang dari sekolah.”

Mata Hiro langsung terbuka lebar. ”Kapan kau meminta Karen menjemputku?”

”Setengah jam lalu,” jawab Sam enteng.  ”Saat  ini dia pasti sudah ada di depan kamarmu.”

Tiba-tiba Hiro mendengar pintu apartemennya diketuk. Ah! Sial! Hiro langsung bergegas bangkit dari tempat tidur.

*  * *

Hiro turun dari mobil sambil menguap.

”Nih,” Karen menyodorkan kopi yang tadi dia beli sebelum menjemput Hiro. ”Sepertinya kau memerlukannya.”

Hiro langsung mengambil dan meminumnya. ”Terima kasih kembali,” sindir Karen.

”Kenapa aku harus berterima kasih?” tanya Hiro. ”Karena tadi kau tampak seperti zombie dan aku

menyelamatkanmu dengan memberimu kopi.”

”Apa kau tidak tahu zombie sedang ngetren?” jawab Hiro santai.

”Ingatkan aku lagi agar lain kali tidak perlu membelikanmu kopi,” dengus Karen.

Saat sampai di TKP yang tadi disebutkan Detektif Hudson, ketika hendak melewati garis kuning, mereka diadang polisi yang berjaga. ”Ini bukan tempat bermain anak-anak,” kata si petugas.

Hiro mengeluarkan dompet, membukanya cepat, lalu menunjukkan kartu konsultan Departemen Kepolisian New York.

Polisi itu membaca kartu yang diserahkan Hiro sambil mengernyit. ”Ini serius?”

”Tidak apa-apa, mereka bersamaku,” teriak Sam sambil berjalan cepat menghampiri mereka.

Walau masih tampak tak percaya, polisi itu mengizinkan Hiro dan Karen masuk.

Hiro menengadah pada polisi itu untuk meminta kartunya kembali. ”Ini serius.”

”Sudah setahun aku membantu kepolisian New York, tapi masih saja mereka tidak memercayaiku,” dengus Hiro.

”Wajahmu kurang meyakinkan,” jawab Karen. ”Apakah agar meyakinkan aku harus menumbuhkan

kumis lalu menggemukkan badan hingga perutku buncit seperti Sammy?”

”Hei!” sembur Sam. Karen terkikik.

”Hiro!” Tiba­tiba Matt datang. ”Bukannya kalau

Minggu kau tidak mau diganggu?”

Hiro menyipit, memandang sinis pada Sam. ”Ternya-

ta Matt lebih pengertian.”

”Itu dia,” Sam berpura-pura tidak mendengar, menunjuk mayat di depan mereka, tertelungkup di bibir sungai dan sedang dikerumuni tim forensik.

”Itu pengasuhnya?” tanya Hiro. Sam mengangguk.

Hiro mengambil lolipop dari saku baju dan langsung membuka bungkusnya.

”Kau kan sudah bukan anak kecil lagi,” komentar Karen melihat Hiro mengulum lolipop.

”Aku tidak bisa berpikir tanpa ini.”

Hiro mendekati mayat dan mengamatinya. Tidak ada bekas perlawanan di tangan maupun di kaki mayat. Dilihat dari seluruh tubuhnya yang basah dan tanpa bekas luka pukulan, tikaman, atau tembakan, sepertinya dia memang mati tenggelam. Di bagian belakang baju ada bekas noda cokelat dan di alas sepatunya terdapat serpihan kuning. Ketika Hiro hendak mengambil serpihan itu, salah seorang anggota tim forensik membentaknya.

”Hei, Nak! Apa yang kaulakukan?” Petugas itu menarik tangan Hiro. ”Kenapa ada anak kecil dibiarkan masuk ke sini?”

”Biarkan dia,” sergah Sam. ”Dia konsultan kepolisian New York. Dia tahu apa yang dia lakukan.”

”Kau serius, Detektif?” tanya anggota tim forensik itu, menatap Sam tak percaya sambil melepaskan tangan Hiro. ”Dia bahkan tidak memakai sarung tangan! Dia bisa merusak TKP!”

”Dia tahu apa yang dia lakukan,” ulang Sam, tapi kali ini dengan nada tinggi.

Anggota  tim  forensik  yang  lebih  senior mendekat

untuk melerai. ”Maafkan dia, Sam, dia anak baru.” ”Tak apa, Ted, terima kasih,” jawab Sam ringan. ”Apa  yang  terjadi?”  tanya  anggota  tim  forensik

yang masih baru itu tak mengerti. ”Kenapa kau membiarkannya begitu saja?”

”Kaupikir dia jadi konsultan kepolisian New York karena menang poker?” jawab Ted sambil menarik tangan rekannya agar menjauhi Sam dan Hiro.

Sam menoleh ke arah Hiro. ”Lanjutkan.”

Hiro mengangguk, lalu mengambil serpihan kuning itu. ”Ini kayu dan cat,” katanya. Perhatiannya beralih pada noda cokelat di baju korban. Dia mengambil cotton bud di sakunya, mengoleskannya pada noda cokelat itu, lalu menyentuhnya dan tampak berpikir. ”Besi yang teroksidasi, artinya karat dan…,” gumamnya, ”garam?”

Hiro bangkit berdiri, lalu menghitung jarak antara korban dengan sungai. Jaraknya sekitar 4,5 meter. Dia mengamati sungai itu, lalu mencelupkan tangannya selama beberapa saat.

Karen mengamati di belakang Hiro.

Hiro berpikir sejenak, kemudian berjalan kembali menuju korban. Kali ini dia seperti menghitung langkah dari tempat korban ke jalan raya. Setiap berjalan satu langkah, dia berhenti untuk menyentuh pasir di bawah kakinya. Setelah beberapa saat, tibatiba seperti teringat sesuatu, Hiro mengambil ponsel dari saku bajunya.

”Ada apa?” tanya Karen menghampiri Hiro.

”Aku ingin memastikan apa yang pernah kubaca,” jawab Hiro. Dia mencari artikel di internet dan tak lama kemudian tersenyum. Senyum khas Hiro yang sudah berkali-kali dilihat Karen setiap pemuda itu berhasil menyelesaikan kasus.

”Kau sudah menemukan lokasi anak itu disekap?” tanya Karen ikut senang.

”Bahkan lebih daripada itu,” jawab Hiro sombong. ”Aku sudah tahu pelakunya.”

Hiro dan Karen berjalan bersebelahan, menghampiri Sam yang tampak sudah tidak sabar mendengarkan hasil analisis Hiro.

”Korban tidak dibunuh di sini,” kata Hiro sambil memegang lolipop. ”Dia dibunuh di Pelabuhan New York. Mary Hamilton kemungkinan besar ada di gudang bongkar-muat Hamilton Group di pelabuhan itu, yang belum selesai direnovasi.”

”Bagaimana  kau tahu?”

”Penjelasannya nanti saja,” jawab Hiro tenang. ”Selamatkan dulu cucu miliuner itu sebelum kalian dianggap makan gaji buta.”

Sam mengangguk, seketika berteriak memanggil Matt dan semua polisi yang ada di tempat itu. ”Ikuti aku! Kita ke pelabuhan sekarang!”

Setelah ayahnya pergi, Karen menatap Hiro. ”Bagaimana kau tahu anak itu disekap di pelabuhan?” tanya Karen ingin tahu. ”Ditambah lagi, di gudang Hamilton Group sendiri.”

”Kita tunggu saja kabar dari ayahmu. Dia pasti akan menanyakan hal yang sama dan aku malas menjelaskan dua kali,” jawab Hiro sambil menguap. ”Kopimu murahan, ya?”

Karen mendengus.

”Aku lapar,” kata Hiro seraya berjalan menuju mobil. ”Kita cari tempat makan, lalu beritahu ayahmu untuk pergi ke sana setelah menyelamatkan cucu miliuner itu.” ”Siapa yang bayar?” tanya Karen sambil mengaktifkan kunci mobil.

”Tentu saja kau,” jawab Hiro enteng. ”Kaupikir tenagaku gratis?”

”Tapi yang minta bantuanmu kan bukan aku!” protes Karen.

”Kalau begitu minta ganti saja sama ayahmu.”

*  * *

Hiro menghabiskan kopi sambil membaca koran dan Karen sibuk dengan ponsel saat Sam datang.

”Kupikir kau baru akan datang saat kami selesai makan malam, Sammy,” komentar Hiro tanpa mengalihkan pandangan dari koran.

”Hahaha… lucu sekali.” Sam mendengus, duduk di sebelah anaknya, dan memesan kopi. ”Dan sekali lagi, namaku Samuel Hudson.”

”Kau sudah menemukan anak itu, Sammy?” tanya Hiro tanpa memedulikan protes Sam.

”Tepat seperti yang kau bilang,” dengus Sam. ”Di gudang bongkar-muat milik Hamilton Group yang belum selesai direnovasi, bersama tiga penculiknya. Hanya saja, mereka belum mau bicara tentang dalang penculikan ini karena aku yakin mereka bertiga terlalu bodoh untuk bisa merencanakan penculikan serapi ini. Menurutmu apakah ayahnya terlibat? Oh ya, bagaimana kau tahu dia disekap di sana?”

Hiro meletakkan cangkir kopi.” Pengasuhnya terlibat,” dia mulai menjelaskan. ”Dari tubuhnya tidak tampak bekas perlawanan ataupun ikatan. Tidak mengikat anak yang diculik masih masuk akal, tapi orang dewasa? Tidak mungkin. Lagi pula, seperti yang sudah diduga kepolisian, cucu Hamilton dijaga ketat se­ hingga penculiknya pasti orang yang sangat mengenal situasi di sana dan dipercaya si anak sehingga tidak menimbulkan keributan.”

”Tapi dia dibunuh sejak awal penculikan,” potong Sam.

”Benarkah?” tanya Hiro. ”Jika sudah kena air, kita sulit menentukan waktu kematian. Pengasuhnya dibunuh dengan cara ditenggelamkan untuk mengaburkan waktu kematiannya. Dia sebenarnya dibunuh tadi pagi.”

”Apa yang membuatmu berpikir dia tidak dibunuh pada awal?” tanya Sam heran. ”Bagaimana kau tahu dia dibunuh di pelabuhan? Dan kenapa kau bisa tahu anak itu disekap di gudang itu? Apakah ayahnya terlibat?” Hiro menghela napas. ”Sammy, kalau diberondong pertanyaan seperti itu, aku jadi malas menjelaskan.”

Sam mengangkat kedua tangan. ”Oke… oke… maafkan aku.”

”Jarak korban dari bibir sungai terlalu jauh,” jelas Hiro kepada Sam, ”empat setengah meter.”

”Apa?! Empat setengah meter?” Sam mengernyit. ”Tepatnya lima belas kaki,” jelas Hiro meralat satu-

an ukurannya, lupa orang Amerika tidak terbiasa dengan sistem metrik.

”Korban diletakkan di sana untuk menimbulkan kesan bahwa dia hanyut, tapi sayangnya diletakkan terlalu jauh,” lanjut Hiro. ”Sungai tidak punya ombak yang bisa mengempaskan benda sejauh itu. Lagi pula tadi malam tidak ada bulan purnama, jadi air pasang tidak bisa jadi alasan. Itu sebabnya aku yakin dia tidak dibunuh di sana.”

”Tak ada jejak kaki di sana,”  potong  Sam. ”Petunjuk paling utama terletak di air dan pasir,”

kata Hiro.

”Air dan pasir?” tanya Sam dan Karen hampir berbarengan.

”Tubuh korban basah kuyup, tapi air yang membuatnya basah kuyup itu mengandung garam berkonsentrasi tinggi,” jelas Hiro. ”Sedangkan saat aku cek, air Sungai Hudson tidak mengandung garam setinggi itu.”

Karen dan Sam menyimak.

”Lalu ada dua macam pasir di sana,” lanjut pemuda itu tenang. ”Yang satu pasir yang memang ada di tepi sungai itu dan yang satunya lagi pasir yang mengandung garam untuk menutupi jejak kaki si pembunuh. Aku tebak, setelah meletakkan korban di tepi sungai,  si pembunuh berjalan mundur sambil menaburkan pasir untuk menutupinya.”

”Kenapa dia tidak menggunakan pasir dari tepi sungai itu sendiri?” tanya Karen tak mengerti.

”Karena kalau mengambil dari tempat itu juga, akan ada cekungan bekas mengambilnya.” Hiro memutar bola mata. ”Bisa menimbulkan kecurigaan. Mereka tidak menyangka akan ada yang menyadari bahwa di tempat itu terdapat dua jenis pasir berbeda.”

”Ah!” seru Sam, seakan baru saja mendapatkan ilham. ”Karena itu kau langsung menyimpulkan bahwa dia dibunuh di laut? Kau juga jadi yakin cucu Hamilton disekap di pelabuhan?”

”Bravo, Detektif,” kata Hiro datar. ”Berarti aku tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi.” ”Tunggu! Siapa pelakunya?”

”Berapa kali harus kubilang, Sammy…,” desah Hiro, ”itu tugasmu, dan sepertinya kau harus cepat-cepat menemukannya atau dia akan menghilang ke luar negeri.”

”Sial!” gerutu Sam. Selalu seperti ini. ”Hei, kau belum mengatakan padaku, bagaimana kau tahu dengan pasti gudang tempat anak itu disekap?”

”Keberuntungan,” jawab Hiro singkat.

”Hiro!” Sam mulai kehilangan kesabaran.”Kita tidak punya banyak waktu lagi! Kau sendiri yang bilang bahwa si pelaku akan menghilang ke luar negeri.”

”Aku mengatakan yang sebenarnya.” Hiro menghela napas. ”Beberapa minggu lalu aku membaca artikel di majalah ekonomi bahwa Hamilton Group baru saja membeli gudang bongkar-muat rusak dan berkarat, seperti yang membekas di pakaian si pengasuh, di pelabuhan yang entah mengapa sejak seminggu sebelum penculikan renovasinya dihentikan. Dari artikel yang kubaca sambil lalu itu aku tahu logo Hamilton Group ternyata kuning, seperti serpihan kayu di sepatu pengasuh itu. Beberapa bulan sebelumnya di majalah gosip yang kubaca, dikabarkan menantu Leonard Hamilton alias ayah korban penculikan, Henry Davidson, sepeninggal istrinya terlibat percintaan dengan beberapa wanita, termasuk selebriti dan pengasuh anaknya. Kemudian dua bulan lalu di majalah hukum, Tuan Davidson dituntut mantan rekan bisnisnya senilai satu setengah miliar dolar. Sekarang kau mengerti, Sammy? Aku beruntung karena kebetulan membaca semua artikel itu.”

Sam terpaku.

”Ayah anak itu membutuhkan uang satu setengah miliar, jumlah yang persis sama dengan yang diminta si penculik,” kata Sam, lebih kepada dirinya sendiri. ”Dia nekat merencanakan penculikan anaknya sendiri karena yakin sebagai cucu satu-satunya, mertuanya yang kaya raya itu pasti rela mengeluarkan uang berapa pun. Sebagai direktur Hamilton Group, Henry Davidson dapat menyuruh menghentikan renovasi gudang bongkar-muat di pelabuhan karena tahu tidak akan ada yang menyangka jika anaknya disekap di sana. Dia bekerja sama dengan pengasuh anaknya yang terlibat affair dengannya sehingga terjadilah penculikan itu. Semua berjalan lancar sampai sang Kakek memutuskan tidak mengeluarkan sepeser pun demi cucunya. Si pengasuh yang panik dan mungkin ingin menyerahkan diri dibunuh dengan cara ditenggelamkan agar orang mengira dia meninggal saat penculikan, sehingga bisa menutupi hubungan antara si pengasuh dengan sang pelaku.”

”Analisis bagus. Tidak salah kalau sebentar lagi kau mendapatkan promosi sebagai kapten, Sammy,” kata Hiro. ”Tinggal bagaimana kau mencari buktinya. Oh ya, mungkin sekarang si pelaku yang kaucari sudah berada di bandara karena dia tahu begitu kalian menangkap ketiga penculik itu, cepat atau lambat kalian pasti menyadari keterlibatannya.”

Sam mengumpat, langsung bangkit, dan berlari ke luar restoran.

”Majalah apa saja sih yang kaubaca?” tanya Karen heran mengingat tadi saat menjelaskan Hiro menyebut majalah gosip segala. ”Dan kenapa kau bisa ingat?”

”Aku membaca apa saja dan mengingat apa saja yang kubaca,” jawab Hiro enteng. ”Karena aku genius.”

”Orang genius tidak perlu mengingatkan orang lain berkali-kali bahwa dia genius,” ejek Karen.

”Kalau orang yang diajak ngomong cukup pintar, orang genius tidak perlu sampai harus mengingatkannya berkali-kali,” jawab Hiro tenang.

”Kau pulang sendiri, jangan naik mobilku,” gerutu Karen.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊