menu

Touché Alchemist 00 Prolog

Mode Malam

Prolog
KAREN berkali-kali melihat ke arah jam tangannya. Ayahnya  berjanji bertemu dia di kafe dekat kantor  polisi pukul sembilan pagi untuk sarapan bersama dan sekarang hampir pukul dua belas. Sejak orangtuanya bercerai tahun lalu, Karen hampir tidak pernah bertemu ayahnya. Kesibukan ayahnya sebagai detektif di kepolisian New York, yang juga merupakan penyebab utama perceraiannya, sangat menyita waktu hingga dia hampir tidak bisa dihubungi, apalagi ditemui. Karen menghela napas. Ini sudah kesekian kali ayahnya gagal menepati janji. Dia meletakkan ponsel, lalu mengambil buku dari tas, dan saat mulai membaca, mendengar namanya dipanggil.

”Karen!”

Karen menoleh dan melihat ayahnya masuk ke kafe, tergopoh-gopoh berjalan menuju mejanya. Keringatnya bercucuran.

”Maafkan Ayah,” kata ayahnya sambil mengelap wajah dengan saputangan. ”Tadi ada sedikit urusan di kantor. Kau sudah lama di sini?”

Ayah melirik ke arah jam tangannya. ”Pertanyaan bodoh, sudah tiga jam kau di sini. Sekali lagi maafkan Ayah.”

Karen menutup buku dan tersenyum. ”Tidak apa, Ayah. Aku senang Ayah bisa datang.”

”Aku juga senang melihatmu lagi,” kata ayahnya sambil menggenggam tangan Karen. ”Bagaimana kabar ibumu? Apa dia sudah menikah lagi?”

”Belum,” Karen menggeleng. ”Ibu baikbaik saja.

Ibu kembali memakai nama keluarganya.”

Ayah Karen mengangkat alis. ”Kau juga berubah menjadi…”

Karen mengangguk. ”Karen Hanagawa. Yah… memang tidak cocok, tapi mau bagaimana lagi? Aku  yang memutuskan untuk ikut Ibu.” ”Maafkan Ayah. Ayah sebenarnya ingin kau tetap menjadi Karen Hudson,” kata ayahnya dengan nada menyesal. ”Tapi pekerjaan Ayah…”

Belum sempat ayahnya meneruskan kalimat, ponsel di saku kemejanya berbunyi. ”Sial!”

”Ya, halo, Detektif Hudson di sini,” jawab ayah Karen. Setelah terdiam sejenak, mendengarkan suara di seberang telepon, raut wajahnya lambat laun berubah. ”Mayat wanita? Di mana? Central Park?”

Ayah Karen menutup telepon dan bangkit terburuburu, lalu ingat kembali dengan keberadaan putrinya. ”Karen, mmm… Ayah…” Dia bingung harus berkata apa. Mereka baru bertemu lagi setelah satu tahun, dan sesudah menyuruh anaknya menunggu tiga jam, sekarang dia harus meninggalkannya gara-gara pekerjaan.

”Tidak apa-apa, Ayah,” Karen mengangguk maklum. ”Aku mengerti. Ayah pergi saja.”

Ayahnya mengangguk. ”Terima kasih, Karen. Kita buat janji lagi lain kali.”

Karen memaksakan diri tersenyum, yakin tidak akan semudah itu membuat janji temu dengan ayahnya, bahkan hanya untuk makan siang.

Setelah beberapa langkah, ayahnya berhenti, lalu membalikkan badan dengan wajah berseri. ”Karen! Bagaimana kalau kau ikut Ayah?”

”Memangnya boleh?” Karen mengerutkan kening. ”Kenapa tidak?” Ayahnya langsung menarik tangan

Karen, mengajaknya ke luar kafe.

Karen secepat mungkin menyambar tasnya. ”Tu… tunggu, Ayah, aku belum membayar kopi!”

Ayahnya merogoh kantong celana, lalu melemparkan uang $20 ke meja yang tadi ditempati Karen. ”Sekarang beres.”

*  * *

Sesampainya di Central Park, Karen dan ayahnya ditunggu opsir wanita yang langsung melambai begitu melihat mereka.”Detektif Samuel Hudson?”

Detektif Hudson mengangguk.

”Partner Anda sudah menunggu,” kata opsir itu, lalu memberi tanda agar Detektif Hudson mengikutinya.

”Sherly?” tanya Karen pada ayahnya.

”Bukan, Sherly berhenti enam bulan lalu,” jawab Ayah. ”Nanti kuperkenalkan kau pada partner baruku, Matthew Reagan. Dia masih baru di bagian pembunuh­ an, jadi selain sebagai partner, aku juga menjadi mentornya. Seharusnya gajiku dinaikkan dua kali lipat karena pekerjaanku bertambah.”

Karen tertawa.

Dari kejauhan tampak kerumunan orang mengelilingi semak-semak yang diberi garis kuning.

”Kau tunggu di sini saja,” perintah ayah Karen pada putrinya sebelum melewati garis kuning, lalu berbicara serius dengan orang yang sepertinya partner barunya, Matthew.

Walaupun tidak begitu jelas, Karen bisa melihat wanita tergeletak bersimbah darah di antara semak-semak. Sekilas ia mendengar bahwa ada luka tusuk di dada wanita itu. Korban sepertinya baru saja menghadiri pesta jika dilihat dari bajunya, tapi tidak memakai sepatu. Kedua tangan wanita itu ditangkupkan ke dada sehingga tampak seperti orang tidur.

Siapa yang tega membunuh wanita itu dan membuang­ nya ke sini? pikir Karen sambil mengamati sekeliling tempat itu, bagian selatan Central Park yang tidak begitu jauh dari jalan. Saat pandangannya sedang menyapu sekelilingnya, dia melihat laki-laki yang gerakgeriknya aneh.

Laki-laki itu kira-kira seumuran dengannya atau malah lebih muda dan sama seperti dirinya: keturunan Asia. Rambutnya hitam acak-acakan, mata cokelat tuanya agak sipit, tampak malas, dan berkesan sinis. Alisnya tebal, posturnya tinggi kurus, dan putih.

Laki-laki itu berjalan menunduk, seperti tengah mencari sesuatu di antara rerumputan, sesekali berjongkok, memperhatikan dan mengusapkan cotton bud ke rumput sambil mengulum sesuatu yang di mata Karen terlihat seperti lolipop. Seakan itu masih belum cukup aneh, Karen melihat laki-laki itu menyentuh cotton bud dan tersenyum.

Merasa diamati, laki-laki itu menoleh ke arah Karen, yang serta-merta membalikkan badan dan mengalihkan pandangan pada ayahnya.

”Identitasnya sudah didapatkan?” tanya Detektif Hudson pada partnernya sambil berjongkok mengamati mayat wanita di hadapannya. Wanita itu mengenakan baju pesta putih yang sekarang berubah menjadi merah seluruhnya karena darah. Selain luka tusukan di dada, tidak ada luka lain, bahkan lecet di telapak kaki pun tidak, sekalipun dia tidak memakai sepatu. Wanita itu memakai kuku palsu karena kuku di jari telunjuk tangan kanannya tampak berbeda dari yang lain, sepertinya kuku palsu di jari itu terlepas. Matt menggeleng.

”Perkiraan kematiannya?”

”Antara enam sampai tujuh jam lalu.”

”Bagaimana dengan senjata pembunuhnya?” tanya Detektif Hudson lagi sambil mengamati sekeliling.

”Belum ditemukan.”

”Kalau begitu perluas parameter pencariannya,” perintah Detektif Hudson, ”walau aku yakin dia tidak dibunuh di sini. Dia tidak memakai sepatu, tetapi tidak ada luka lecet sama sekali di telapak kakinya. Artinya dia tidak berjalan sendiri ke tempat ini. Melihat pakaiannya, seharusnya banyak sekali darah yang keluar, tetapi sama sekali tidak ada genangan darah   di sini. Tapi aku tidak ingin berspekulasi.”

Matt mengangguk, lalu pergi berbicara dengan bebe­ rapa opsir, yang kemudian dengan sigap mulai menca ri di tempat yang agak jauh.

Karen sedari tadi hanya mengamati ayahnya dari luar garis kuning. Tiba-tiba tangannya ditarik seseorang.

”Hei!” bentak Karen akibat marah dan kaget. Ternyata yang menarik tangannya adalah laki-laki yang tadi diamatinya.

”Kau anak detektif yang sedang bertugas itu, kan?” tanya laki-laki itu tanpa basa-basi, masih dengan lolipop yang dikulum di mulutnya.

Bagaimana dia tahu? batin Karen. Wajah Karen sama sekali tidak mirip ayahnya yang orang Amerika asli. Gadis itu lebih mirip ibunya yang orang Jepang. Hidungnya mancung, berambut lurus hitam panjang, dan berkulit kuning. Hanya mata bulat besar dan biru yang dia dapatkan dari ayahnya. Tetapi tidak mungkin hanya sekali lihat laki-laki itu bisa tahu.

”Tak perlu kaget seperti itu. Aku melihat kalian datang berdua,” kata laki-laki itu lagi, seolah bisa membaca pikiran Karen.

”Hei, Bocah! Apa yang kaulakukan!” teriak Detektif Hudson yang melihat anaknya tampak diperlakukan kasar. Dia bergegas berjalan ke luar garis kuning dan menghampiri mereka.

”Ah, jawabannya ’iya’,” laki-laki itu tersenyum. ”Hai, Bocah! Apa yang kaulakukan pada anakku?”

tanya Detektif Hudson sambil menarik tangan laki-laki itu dengan marah sehingga orang-orang yang mengerumuni TKP memperhatikan mereka.

”Pelakunya sekarang berada di bandara,” anak lakilaki itu berkata tenang. ”Kalau tidak cepat-cepat, Anda akan kehilangan dia.” Tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu, Detektif Hudson hanya bisa melongo, lalu memandang Karen dengan tatapan apa-aku-tidak-salah-dengar.

Karen yang sama kagetnya hanya bisa mengangkat bahu.

”Hei, Nak, jangan main-main,” kata Detektif Hudson setelah melepaskan tangan anak itu. ”Ini bukan film detektif.”

”Tidak didengarkan juga tidak apa-apa,” jawab anak itu santai. ”Tapi wanita itu tidak dibunuh di sini, aku yakin Anda tahu itu karena tidak ada lecet di telapak kakinya, padahal dia tidak memakai sepatu. Ada jejak tetesan darah dari arah jalan menuju tempat ini. Oh, jangan khawatir, aku tidak merusak barang bukti itu karena tadi mengambilnya dengan cotton bud.” Anak itu mengeluarkan seplastik cotton bud dari saku celana.

”Sudah, jangan main-main denganku, Bocah,” gerutu Detektif Hudson sambil berjalan pergi. ”Ayo, Karen, pergi dari sini. Kita tak perlu mendengarkan anak kecil seperti dia.”

”Dia tinggal di Upper East Side,” seru anak  lakilaki itu sehingga Detektif Hudson menghentikan langkah. ”Tetesan darah itu tercampur parfum korban. Sepertinya korban menyemprotkan parfum di dadanya sehingga ikut tercampur dalam darah yang mengucur dari dadanya. Itu parfum mahal, karena komposisinya tidak banyak mengandung alkohol. Permukiman orang kaya paling dekat dengan tempat kejadian perkara adalah Upper East Side.”

”Bagaimana kau tahu komposisinya?” Detektif Hudson mengernyit.

Anak laku-laki itu hanya tersenyum. ”Forensik akan membuktikannya nanti.”

”Dia juga mengenal pelakunya,” anak laki-laki itu terus berbicara. ”Anda lihat sendiri dari kondisi korban, tidak ada bekas perlawanan, kecuali kuku palsu yang terlepas. Lalu pelaku menangkupkan tangan korban di dada agar tampak seperti orang tidur. Itu bentuk penyesalan.”

”Sam!” Matt berlari menghampiri Detektif Hudson. ”Identitasnya sudah didapatkan. Ternyata dia lumayan terkenal. Dia fashion blogger yang cukup punya nama, sekaligus anak William Stevenson, pemilik toko retail 8­Eleven.” Matt membaca notes kecilnya, ”Namanya Loraine Stevenson. Dia tinggal di apartemen di Upper East Side bersama adik laki-lakinya, Robert Stevenson.”

Karen dan ayahnya langsung berpandangan, kemudian menatap anak laki-laki itu, yang sekarang tersenyum penuh kemenangan.

Detektif Hudson berdeham. ”Katakanlah hipotesismu benar, bagaimana kau tahu sekarang pelakunya ada di di bandara?”

”Ini bukan pembunuhan berencana,” jawab anak itu. ”Karena kalau iya, dia pasti tidak akan membuang korban sembarangan dan meninggalkan jejak seperti ini. Pelaku yang panik akibat tak sengaja membunuh pasti langsung bergegas ke bandara dan karena anak orang kaya, dia punya cukup uang untuk membeli tiket ke luar negeri. Dan tiket yang dia beli pastilah tiket ke negeri yang tidak punya perjanjian ekstradisi dengan Amerika.”

Tak ada yang bersuara.

”Penerbangan ke Rusia paling pagi dijadwalkan jam satu siang ini,” kata anak itu sambil melihat jam tangannya.

”Lalu, menurutmu siapa pelakunya, Bocah?” tanya

Matt.

”Kuku palsu korban terlepas,” jawab anak itu, ”penjelasan satu-satunya adalah dia setidaknya berhasil mencakar atau menancapkan kukunya di tubuh si pelaku, entah di bagian mana.”

”Jadi maksudmu kami harus memeriksa satu per satu orang di bandara yang punya luka cakaran?”  Matt tersenyum mengejek.

Anak itu mengeluarkan cotton bud dari saku baju, lalu menyerahkannya pada Detektif Hudson. ”Oleskan ini di kuku palsu korban karena saya yakin masih ada kulit si pelaku di sana,” katanya. ”Dan saya akan memberitahu Anda siapa pelakunya.”

Mereka semua terdiam.

”Kenapa aku harus memercayaimu?” tanya Detektif Hudson tak lama kemudian sambil menatap kedua mata anak itu dalam-dalam.

”Memercayai saya atau tidak, terserah Anda.” Anak itu membalas tatapan Detektif Hudson. ”Tapi jika menunggu hasil forensik, Anda akan kehilangan kesempatan menangkap si pelaku.”

Detektif Hudson menghela napas sambil mengambil cotton bud dari tangan anak itu, bergegas menuju korban untuk mengorek bagian dalam kuku palsu yang patah di jari korban, yang ternyata ada sedikit darah  di sana. Matt mendelik tak percaya. ”Kau serius?”

Detektif Hudson hanya diam, lalu menyerahkan cotton bud itu pada anak itu.” Aku harap aku tidak akan menyesali tindakanku ini.”

Anak itu tersenyum. Sesaat kemudian ia menyentuh ujung cotton bud yang sudah disentuhkan ke kuku palsu korban. Dia memejamkan mata, seperti sedang berpikir keras. Tak lama kemudian dia membuka mata dan menjawab, ”Pelakunya saudara kandung korban.”

”Kau paranormal, ya?” tanya Matt tak percaya.

Detektif Hudson tampak berpikir sebentar, kemudian menoleh ke arah Matt. ”Secepatnya perintahkan orang untuk menangkap Robert Stevenson di bandara, lalu bawa orang itu ke kantor polisi.”

”Kita mau menangkapnya? Atas dasar apa?” tanya Matt tidak percaya. ”Atas dasar tebak­tebakan bocah ini?”

”Dia punya hubungan dengan korban, kita punya hak mengajukan pertanyaan,” tegas Detektif Hudson. ”Jika dia menolak, kita berhak menahannya 1 x 24  jam. Saat itu kita pasti sudah punya bukti kuat, apakah dia pelakunya atau tidak. Jika kata-kata anak ini benar bahwa ini bukan pembunuhan berencana, si pelaku pasti buru-buru pergi ke bandara karena panik dan meninggalkan bukti, entah darah korban atau malah senjata pembunuhnya di tempat kejadian. Oh iya, minta beberapa orang memeriksa apartemen Loraine. Aku yakin di sanalah tempat pembunuhannya.”

Matt menghela napas, menyerah, lalu mengeluarkan

ponsel dari saku baju dan mulai menelepon.

”Kau puas?” tanya Detektif Hudson pada anak lakilaki itu.

Anak itu hanya mengangkat bahu.

”Bagaimana kau tahu dia tinggal di Upper East Side?” tanya Detektif Hudson penasaran. ”Tak mungkin hanya dari parfumnya, kan?”

Anak itu mengusap-usap rambutnya yang berantakan.

”Tadi aku tak sengaja mendengar nama Loraine Stevenson dari orang-orang yang berkerumun di TKP, tinggal mencarinya di internet. Di internet, semua hal tentang semua orang bisa ditemukan.”

Detektif Hudson manggut-manggut. Kenapa dia tidak berpikir sampai ke sana?

”Yah… kadang-kadang tidak perlu orang genius untuk memecahkan kasus,” kata anak itu sambil berbalik pergi. ”Agak pintar saja sudah cukup.”

”Apa maksudmu dengan kata-kata itu, bocah tengil?” sembur Detektif Hudson. Dua puluh tahun bekerja di kepolisian, baru kali ini dia diremehkan anak kecil. ”Bagaimana kau tahu pelakunya adalah saudara kandungnya?”

”DNA, Tuan Detektif,” jawab anak itu santai sambil mengulum lolipop. ”DNA.”

Bagaimana dia tahu tentang DNA korban hanya dengan menyentuhnya? batin Detektif Hudson.

”Siapa namamu? Di mana sekolahmu?” ”Menemukan seseorang adalah tugasmu, Tuan Detek-

tif,” jawab si bocah sambil melambaikan tangan.

*  * *

”Hiro Morrison!”

Hiro yang tengah membaca buku di salah satu kafe dekat Universitas Columbia mendongak.

”Butuh waktu satu minggu untuk menemukanmu,” kata Detektif Hudson lalu langsung duduk di kursi di depan Hiro.

Hiro hanya menatap si detektif sesaat, kembali membaca. ”Kerja bagus, Detektif. Hanya saja, kupikir kau bisa lebih cepat daripada ini, Detektif Samuel Hudson.” ”Ini karena aku salah mengira kau masih SMA,” jawab Detektif Hudson sambil memberi tanda kepada pelayan untuk memesan kopi. ”Ternyata kau sudah mahasiswa magister jurusan kimia di Universitas Columbia. Tunggu, bagaimana kau tahu namaku?”

”Aku mendengarnya saat di TKP minggu lalu,” kata Hiro tanpa mengalihkan pandangan dari buku. ”Dari umurku, aku memang seharusnya anak SMA.”

Pelayan datang mengantarkan kopi, pembicaraan mereka terpotong.

”Oh ya, pembunuhnya benar adik korban sendiri. Robert Stevenson mengakui semuanya saat kami menangkapnya di bandara dan ternyata ada bercak darah di jok mobilnya yang sesuai dengan darah kakaknya.” Detektif Hudson menyeruput kopi. ”Dia melakukannya karena emosi saat diejek sebagai pengangguran oleh kakaknya sendiri. Dua hari kemudian hasil tes DNA menunjukkan bahwa kulit yang tertinggal di kuku palsu korban memang milik Robert.”

Hiro tidak tampak terkejut.

”Bagaimana kau melakukannya?” tanya Detektif Hudson penasaran. ”Bagaimana kau bisa tahu DNA itu hanya dengan menyentuhnya?”

Hiro hanya mengangkat bahu. ”Lalu bagaimana kau bisa masuk universitas, bahkan magister, padahal seharusnya masih SMA?” tanya Detektif Hudson. Pertanyaan bertubi-tubi.

”Karena aku genius,” jawab Hiro enteng. ”Anda kan bisa melihatnya sendiri. Aku lulus kuliah Universitas Tokyo umur enam belas tahun.”

Detektif Hudson mendengus. Anak ini benar­benar sombong.

”Dari data yang kudapat, kau lahir dan besar di sini hingga berumur sepuluh tahun. Kau pindah ke negara ibumu, Jepang, setelah ayahmu yang orang Amerika meninggal,” Detektif Hudson memaparkan fakta yang belum lama diperolehnya. ”Kenapa tiba-tiba kau memutuskan kembali ke sini?”

”Universitas Columbia menawariku beasiswa,” jawab Hiro malas.

Detektif Hudson mengamati Hiro. Dia sudah membaca semua data tentang anak itu. Bahwa Hiro punya IQ 200 dan menjadi anggota Mensa, perkumpulan orang-orang genius, sejak usianya dua belas tahun. Anak itu punya kemampuan mengamati dan deduksi di atas rata-rata, seperti yang Detektif Hudson saksikan sendiri minggu lalu di Central Park. Hanya saja kemampuan khusus anak itu masih belum dia pahami. Anak itu bisa tahu komposisi parfum dan DNA hanya dengan menyentuhnya? Siapa sebenarnya dia?

Hiro menghela napas, lalu menutup buku. Dia membungkuk untuk mengambil secuil tanah dari sepatu Detektif Hudson.

”Hei! Apa yang kaulakukan?” tanya Detektif Hudson terkejut.

”Detektif Hudson, kau belum lama bercerai,” kata Hiro masih dengan ekspresi malas. ”Setelah bercerai, kau tinggal sendirian di apartemen di sekitar Manhattan Avenue, tepatnya di West 120th Street. Sebelum berangkat, kau membaca koran yang diambilkan anjingmu.”

Detektif Hudson melongo.

”Bagaimana aku tahu?” tanya Hiro seakan bisa membaca pikiran Detektif Hudson. ”Masih ada bekas lingkaran cincin di jari manis tangan kananmu. Dari warnanya, ketahuan belum lama kau melepasnya. Berarti perceraianmu juga belum lama, kuperkirakan sekitar setahun. Kancing lengan kemejamu lepas tapi dibiarkan begitu saja, itu tanda tidak ada wanita yang memperhatikanmu. Ada bekas tinta koran yang kaubaca pagi ini di jempol kananmu. Di celanamu ada bulu anjing, cokelat.” Detektif Hudson masih melongo.

”Bagaimana kau tahu aku tinggal di West 120th Street?”

Hiro menunjukkan kotoran dari sepatu Detektif Hudson. ”Ini campuran tanah dan aspal. Komposisi mineral dalam tanahnya sama dengan tanah di Morningside Park. Artinya, Anda berjalan kaki ke sini melewati Morningside Park. Jika Anda bisa berjalan kaki ke sini jam segini, artinya tempat tinggal Anda tidak jauh, yaitu di sekitar Manhattan Avenue. Dan sekitar Manhattan Avenue, yang sedang diaspal adalah West 120th Street.”

Detektif Hudson sekali lagi terperangah. Dari kom­ posisi mineral?

”Bagaimana? Anda sudah puas, Tuan Detektif?” tanya Hiro. ”Anda ingin melihat kemampuanku lagi, kan? Untuk memastikan apakah yang terjadi minggu lalu kebetulan semata atau bukan.”

”Hah?” Detektif Hudson akhirnya bersuara, meskipun hanya sepatah kata. Bagaimana dia tahu?

Setelah berhasil menguasai diri, Detektif Hudson tersenyum. ”Kau benar. Kemampuan mengamati dan deduksimu mengagumkan. Walau jujur saja, banyak detektif yang kukenal memiliki kemampuan yang sama, bahkan melebihimu. Tapi aku belum pernah, sepanjang karierku, bertemu orang yang bekerja secepat dirimu, ditambah lagi kemampuan anehmu itu.”

Hiro tidak menanggapi.

”Padahal dalam beberapa kasus, kecepatan itulah yang paling penting dalam menyelamatkan hidup seseorang,” lanjut Detektif Hudson. ”Itulah sebabnya aku sampai mencarimu seperti ini.”

Hiro mengerutkan kening. ”Anda ingin mengajakku bekerja sama?”

”Aku ingin mengajukanmu sebagai konsultan pada kepolisian New York.” Detektif Hudson mengangguk. Mantap dan sungguh-sungguh. ”Aku membutuhkan kecepatanmu itu.”

Hiro menatap Detektif Hudson selama beberapa saat sebelum menjawab, ”Aku terima, sepertinya menarik.” Itu saja. Dia membuka buku lagi dan mulai membaca. ”Begitu saja? Kau menerima begitu saja?” tanya Detektif Hudson tak percaya. ”Dan dengan alasan ’seper-

tinya menarik’?”

”Anda ingin aku berkata apa? Demi menolong orang-orang tak berdosa dan menegakkan keadilan?” tanya Hiro santai. ”Itu tugas Anda. Untuk itulah Anda digaji, kan?” Detektif Hudson tidak bisa menjawab.

”Oh ya, tapi ada syaratnya,” kata Hiro kemudian. ”Apa?”

”Jangan bertanya dan mengatakan pada siapa pun tentang kemampuan anehku ini.”

”Kemampuanmu yang bisa mengetahui berbagai hal hanya dengan menyentuhnya?”

”Iya,” jawab Hiro tegas.

Detektif Hudson terdiam sejenak.

”Tapi dengan dasar apa aku mengajukanmu jadi konsultan jika bukan karena kemampuan milikmu yang… apalah itu namanya?”

Hiro menghela napas. ”Katakan saja aku punya daya analisis yang kuat, observasi yang tajam, dan… genius.”

Detektif Hudson melongo. Baru kali ini dia bertemu anak dengan tingkat kepercayaan diri dan kesombongan sebesar ini.

”Oke.” Detektif Hudson akhirnya mengangguk. ”Akan kucoba menggunakan alasan itu, tapi kau harus membantuku menyelesaikan setidaknya tiga kasus lagi untuk mendukungnya.”

”Berarti kita sepakat,” jawab Hiro kalem.

”Katakan padaku, bagaimana kau melakukannya?” tanya Detektif Hudson. ”Bagaimana kau tahu itu DNA si adik?”

Hiro berdeham, mengulang syarat yang tadi dia katakan. ”Jangan bertanya…”

Detektif Hudson mendengus. ”Cih!”  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊