menu

Negeri Para Bedebah Bab 06 Menerobos Imigrasi Bandara

Mode Malam
Bab 06 Menerobos Imigrasi Bandara
MOBIL ambulans yang kukemudikan menerobos gerbang halaman rumah Om Liem. Sirenenya meraung, belum cukup, aku menambahnya dengan menekan klakson berkali-kali dan berteriak, meninggalkan belasan polisi yang memaki-maki karena mereka terpaksa loncat menghindar. Aku membanting kemudi, berbelok menaiki fly over, lampu ambulans segera hilang di jalanan lengang.

Rencana menukar Om Liem dengan Tante sejauh ini berhasil. Tadi nyaris saja ketahuan. Selimut Om Liem tersingkap, memperlihatkan lutut hingga sandal. Salah satu polisi yang curiga menahan, hendak memeriksa. Aku segera membentaknya, mencoba mengalihkan perhatian dengan menceracau situasi darurat. Polisi itu menelan ludah, kehilangan fokus beberapa detik— bahkan satu detik amat berharga untuk rencana kabur ini.

Ranjang darurat terburu-buru dinaikkan di belakang ambulans. Empat perawat dan dokter ikut naik. Aku menyuruh sopir ambulans menyingkir, lalu mengambil alih kemudi. Mobil segera melesat, pergi secepat mungkin dari rumah Om Liem. Dua menit, aku kembali membanting kemudi. Ambulans meliuk menuju pintu tol. Waktuku sempit. Paling lama lima belas menit petugas polisi tahu apa yang sesungguhnya telah terjadi. Sekali mereka tahu, proses pengejaran dimulai.

Aku teringat sesuatu, mengambil telepon genggam dari saku.

”Angkatlah, ayo angkat,” aku mendesis, tidak sabaran untuk dua hal: nada panggil dan dua truk yang berjalan di depanku. Lupakan safety driving. Satu tanganku memegang setir, satu tangan lain memegang telepon genggam.

”Maggie, maaf membangunkanmu malam-malam,” aku langsung berseru, sambil menekan klakson panjang. Dua truk di depanku santai sekali di jalur cepat. Apa mereka tidak mendengar sireneku?

”Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan, Maggie. Situasi darurat. Aku tahu, tentu saja aku tahu sekarang pukul dua dini hari, dan aku tidak sedang mabuk. Kau segera berkemas, aku butuh kau berada di kantor saat ini, ada banyak yang harus dikerjakan. Kau dengar aku, Maggie? Segera, bergegas, atau promosimu minggu lalu kubatalkan.”

Satu tanganku memutus pembicaraan, satu tanganku segera membanting setir. Sialan, ternyata ada mobil lain yang bergerak santai di depan dua truk yang baru saja kusalip. Ambulans yang kukemudikan menyerempet pembatas jalan, membuat baret panjang di sisi ambulans.

Aku mendengus, ambulans kembali stabil, mengebut. Telepon genggamku berbunyi, dari Ram. Aku mengangkat-

nya. ”Mereka sudah tahu, Thom.” Suara di seberang sana terdengar tercekat.

”Astaga!” aku berseru, sekaligus menekan klakson. Alangkah banyaknya truk kontainer di jalan tol.

”Kami sudah berusaha menahan mereka, Thom, tetapi mereka mendobrak kamar. Kau sekarang ada di mana? Masih jauh dari bandara?”

Aku mengumpat dalam hati. Baru lima menit, tentu saja masih jauh. Yang dekat itu adalah rumah Om Liem di belakangku.

”Kabar baiknya mereka tidak tahu ke mana tujuan ambulans, Thom. Semua orang di kamar kompak bilang kau telah mengancam, lantas pergi begitu saja melarikan Om Liem, tidak tahu hendak ke mana. Polisi mulai menyebar informasi ke seluruh patroli, melakukan pengejaran.”

”Tiket, Ram. Bagaimana dengan tiket dan dokumen perjalanan kami?” aku memotong.

”Salah satu staf perusahaan sedang menuju bandara. Semua tiket dan paspor dalam perjalanan. Kau tinggal ambil di meeting point pintu keberangkatan.”

”Bagaimana dengan Tante?”

”Komandan polisi yang jengkel hendak menahan Tante Liem. Mereka juga sempat memukul beberapa orang di rumah. Tetapi tidak usah kaucemaskan, mereka akan bermasalah dengan belasan pasal dalam hukum pidana jika berani menahan Tante Liem. Dia baik-baik saja, dokter lain sedang menuju ke rumah. Yang tidak baik itu polisi, mereka terlihat marah sekali.”

Aku menghela napas, setidaknya Tante baik-baik saja.

”Kau suruh salah satu staf lainnya menghubungi rumah sakit, klinik, apa saja yang buka dua puluh empat jam,” aku berseru, teringat sesuatu.

”Eh, buat apa?”

”Lakukan saja, Ram. Telepon sebanyak mungkin rumah sakit, laporkan situasi palsu, bilang ada keadaan darurat di sembarang tempat, suruh mereka mengirim ambulans. Aku ingin satu menit lagi ada belasan ambulans berkeliaran di jalanan kota, itu akan mengelabui polisi yang sedang melakukan pengejaran. Waktuku bukan menit, Ram, tapi detik, jadi bergegaslah.”

Telepon genggam kumatikan. Aku juga harus mematikan sirene ambulans agar tidak menarik perhatian, membanting setir ke kanan, dan ambulans segera menaiki jalur tol menuju bandara, berpisah dengan barisan truk kontainer menuju pelabuhan peti kemas. Aku melirik penanda kilometer di pembatas jalan tol, bandara masih 20 kilometer lagi. Aku menekan pedal gas sedalam mungkin. Dengan kecepatan 140km/jam, aku hanya butuh delapan menit.

Sekali ini, jalan tol lengang, menyisakan pendar cahaya lampu di aspal.

Aku menghela napas, mengusap keringat di pelipis.

Baru beberapa hari lalu aku ceramah panjang lebar tentang sistem keuangan dunia yang jahat dan merusak, tapi sekarang aku melarikan seorang tersangka kejahatan keuangan. Baru beberapa menit yang lalu aku masih terdaftar sebagai warga negara yang baik, bertingkah baik-baik dan selalu taat membayar pajak, tapi sekarang aku menjadi otak pelarian buronan besar.

Aku menepuk dahi, teringat sesuatu, dan dengan cepat meraih telepon genggam.

Kuhubungi satu nomor. Hingga habis nada panggil, telepon tetap tidak diangkat. Aku mendengus, mencoba nomor kedua, tetap sia-sia, tidak aktif. Masih ada nomor ketiga. Dua kali nada panggil. ”Ayolah diangkat,” aku mendesis. Lima kali nada panggil. Hanya ini satu-satunya harapanku. ”Ayo diangkat.”

”Malam, Thom. Kau tidak tahu ini jam berapa? Atau janganjangan kau sengaja hendak mengolok-olokku lagi, mengganggu tidurku? Harus berapa kali lagi kubilang agar kau puas? Yang Mulia Thomas adalah petarung terhebat klub, tidak ada yang bisa mengalahkan Yang Mulia Thomas.”

”Bukan soal itu, Randy,” aku memotong suara mengantuk Randy.

”Lantas... hoaem... apa lagi, Sobat?”

Aku mengutuk Randy yang terdengar amat santai. Dengan cepat aku menjelaskan situasi, butuh akses untuk melewati gerbang imigrasi bandara. Tadi Om Liem bilang surat penangkapannya efektif sejak kemarin siang. Untuk kasus besar, itu berarti seluruh gerbang imigrasi sudah menerima notifikasi pencekalan. Komandan polisi di rumah saat ini juga pasti sedang menghubungi bandara, pelabuhan, terminal, stasiun, dan apa saja yang terpikirkan olehnya sebagai titik pelarian.

”Aku tidak bisa melakukannya, Thom,” Randy akhirnya berkata pelan setelah terdiam.

”Kau akan melakukannya, Randy!” aku berseru galak.

”Ini bisa membahayakan karierku.” Suara Randy ragu-ragu. ”Omong kosong! Kau pernah melakukannya, belasan kali

boleh jadi. Sudah berapa banyak buronan yang kalian loloskan ke luar negeri, hah? Bukankah dengan mudah kalian bisa mengarang-ngarang alasan?”

”Yang ini berbeda, Thom.” ”Apa bedanya, Randy?” Aku mulai jengkel, pintu keluar tol sudah terlihat, jarakku dengan bandara tinggal dua kilometer,. Jika Randy tidak bisa membantu, melewati pintu imigrasi bandara sama saja dengan menyerahkan diri.

”Setidaknya, beri aku waktu setengah jam berkoordinasi dengan petugas imigrasi...”

”Astaga, Randy. Aku butuh sekarang!” ”Aku harus koordinasi dulu, Thom.”

”Segera, Randy. Detik ini juga! Kau sudah berjanji di klub bertarung, jika aku mengalahkan Rudi, kau akan melakukan apa saja, termasuk meloloskan buronan negara. Janji seorang petarung, Randy.”

Randy terdiam sejenak di seberang sana. ”Baik, Sobat. Beri aku satu menit, aku akan memberimu akses melintasi petugas imigrasi.”

Aku menutup telepon, menerobos pintu tol keluar. Penjaganya berteriak, bilang aku belum membayar. Aku hanya bergumam pendek. Tidak pernahkah dia melihat ambulans yang terburuburu? Darurat.

Aku menghentikan ambulans lima belas detik sebelum memasuki gerbang bandara, menyuruh empat perawat dan dokter turun. ”Kalian pulang ke rumah masing-masing dengan taksi, tidur, dan beristirahat. Lupakan kejadian ini. Jika nanti ada polisi yang menginterogasi, bilang saja kalian diancam olehku. Di luar itu, kalian tidak tahu dan tidak berkomentar, paham?” Dokter dan empat perawat mengangguk.

Aku menyuruh Om Liem pindah ke bangku depan. Infus, slang, dan masker yang pura-pura dipasangkan telah dilepas sepanjang perjalanan tol. Om Liem meringis, tubuh tuanya kelelahan. Aku sudah menekan pedal gas, memasuki area bandara.

Telepon genggamku berbunyi saat ambulans sudah terparkir di depan pintu gerbang keberangkatan. Aku menuntun Om Liem agar bergegas menuju meeting point.

Telepon dari Randy. Dia memberikan nomor loket imigrasi yang harus kutuju.

”Terima kasih, Sobat.” Aku tertawa pelan—akhirnya aku tertawa setelah semua ketegangan. ”Aku berjanji, demi bantuan ini, lain kali jika bertarung denganmu, aku tidak akan menghajarmu habis-habisan.”

Randy terdengar mengeluarkan sumpah serapah. Aku sudah menutup telepon.

Salah satu staf perusahaan sudah menunggu di meeting point, menyerahkan amplop cokelat besar.

”Semua tiket, paspor Tuan Liem, ada di dalamnya.”

”Kau tidak kesulitan ke sini?” aku basa-basi bertanya, menghela napas lega melihat isi amplop.

”Saya manajer hotel bandara, Pak. Sekaligus membawahi loket travel agent. Jadwal saya berjaga malam ini. Hotel dan travel agent juga milik Tuan Liem. Kami selama ini yang menyiapkan dokumen perjalanan, termasuk menyimpan paspor keluarga Tuan Liem. Jadi sama sekali tidak ada kesulitan.”

Aku mengangguk, menuntun Om Liem memasuki ruangan

check-in.

Meski tidak seramai siang hari, aktivitas dini hari bandara tetap sibuk.

Cahaya lampu berkilauan. Para calon penumpang mendorong troli berisi koper. Meja check-in penuh dengan antrean. Aku mengangguk lega. Begitu Om Liem duduk rapi di pesawat yang menuju Frankfurt, butuh berhari-hari bagi polisi untuk mengembalikannya ke Jakarta. Itu lebih dari cukup memberi aku waktu untuk membereskan PR lain.

***

Dalam teori ekonomi modern, tingkat suku bunga bank sentral (sering dikenal dengan istilah suku bunga SBI, Sertifikat Bank Indonesia) memegang peranan penting sebagai instrumen pengendali. SBI adalah bunga bebas risiko. Simpanan dalam bentuk SBI tidak mungkin akan gagal bayar—berbeda dengan tabungan atau deposito bank umum, yang bisa default kapan saja dengan beragam alasan.

Jika bank sentral menetapkan suku bunga SBI, misalnya 8 persen, suku bunga itu menjadi patokan seluruh bank umum dalam menetapkan berapa besar bunga kredit yang akan mereka berikan, juga termasuk patokan bagi leasing, asuransi, dan berbagai perusahaan keuangan lainnya.

Coba cek berapa bunga tabungan kalian saat ini? Paling tinggi hanya 4 persen per tahun. Nah, coba pikirkan logika sederhana ini, simpanan uang kalian di bank hanya diberikan bunga 4 persen, tapi bank bisa menggunakan uang kalian untuk membeli SBI (menyimpan uang itu di pemerintah) dengan bunga 8 persen. Jika bank memiliki dana tabungan nasabah 100 triliun, kalikan saja dengan selisih bunga 4 persen. Sambil ongkangongkang kaki, mereka bisa untung 4 triliun setiap tahun. Jangan pernah merasa aneh dengan berita rasio penyaluran kredit perbankan rendah, fungsi intermediasi perbankan memble, jumlah simpanan SBI terus meroket, come on, kenapa pula kalian harus repot menyalurkan kredit (yang bisa saja macet, menjadi non performing loan), kalau ada cara mudah mendapatkan untung selisih bunga? Bahkan jika anak SD dijadikan direktur utama bank, bank tetap akan untung. Siapa yang membayar 4 triliun itu? Pemerintah. Dari mana uangnya? Dari pajak rakyat.

Tetapi ada yang lebih ajaib lagi. Pertanyaannya, bagaimana bank sentral bisa tiba-tiba memutuskan SBI 8 persen? Padahal mereka tahu selisih dengan bunga tabungan bank umum begitu lebar?

Karena mereka diamanahkan oleh undang-undang untuk menjaga stabilitas perekonomian. Stabilitas itu salah satunya tecermin dari angka inflasi. Misalnya, ketika harga-harga diperkirakan naik, perekonomian tumbuh terlalu cepat, overheating, bank sentral mengantisipasinya dengan ikut menaikkan suku bunga SBI. Naiknya suku bunga, secara teoretis akan membuat orang yang punya banyak uang memilih menabung dibandingkan belanja. Akibatnya, uang beredar berkurang, aktivitas jual-beli menurun, harga-harga jadi turun. Juga sebaliknya, ketika hargaharga diperkirakan terlalu turun, perekonomian melambat, bank sentral akan mengantisipasinya dengan menurunkan SBI. Turunnya suku bunga SBI otomatis akan membuat suku bunga pinjaman bank turun, dana murah, orang-orang berbondong pinjam uang, aktivitas jual-beli naik, perekonomian kembali bergairah.

Dari penjelasan satu paragraf di atas, catat kata pentingnya: perkiraan.

Inilah ajaibnya ilmu ekonomi, inflasi adalah fungsi dari ekspektasi (perkiraan, persepsi). Berapa tingkat inflasi tahun depan? 8 persen? 10 persen? Semua hasil dari perkiraan, antisipasi. Berapa inflasi bulan depan? 0,5 persen? 1 persen? Semua keluar dari kalkulasi perkiraan, eskpektasi.

Ajaib, bukan? Kita ternyata selama ini memercayakan nasib perekonomian dunia, nasib periuk nasi banyak orang, kepada orang-orang yang di kelas diajarkan tentang ekspektasi. Bukankah itu tidak beda dengan para penyihir, dukun, juru ramal, atau profesi dunia gaib lain? Sialnya, jika kalian bisa menimpuk tukang ramal yang ramalannya salah (atau malah memilih tidak percaya sama sekali), kalian tidak bisa menimpuk menteri ekonomi atau petinggi bank sentral jika mereka salah mengambil kebijakan, ”Ternyata variabelnya lebih banyak dari dugaan kami. Ini bukan salah kami. Siapa pun pengambil keputusannya, pasti keliru memprediksi turbulensi ekonomi yang ada.” Omong kosong.

Profesor penerima nobel ekonomi yang adalah salah satu dosenku sekaligus menjadi lawan debatku di sekolah bisnis ternama, hanya tertawa mendengar komentarku—dia pastilah terlatih menghadapi mahasiswa model aku. ”Itulah menariknya ilmu ini, Thomas. Sejak zaman Nabi Adam, kita selalu tertarik dengan masa depan, berusaha mengintip rahasia langit, berusaha menjelaskan apa yang akan terjadi esok hari. Nah, dengan pendekatan ilmiah, ilmu ekonomi mengumpulkan bukti-bukti empiris yang ada. Pemegang kebijakan ekonomi bisa menyesuaikan akibat yang terjadi dari kontrol yang mereka punya. Bukan urusanku jika ternyata pemegang kontrol itu orang yang pengecut, korup, dan lebih mementingkan pihak tertentu.”

Diskusi ditutup tanpa kesimpulan.

Aku mengembuskan napas panjang. Aku dan Om Liem sudah duduk rapi di dalam pesawat. Lima menit lalu, petugas imigrasi menatapku datar. Layar komputernya pastilah mengeluarkan alarm setelah proses scan paspor Om Liem, kode merah. Tetapi, tanpa banyak bicara dia menekan tombol, mematikan alarm. Seperti tidak ada yang terjadi, dia menyerahkan paspor kami dan berseru, ”Berikutnya.”

Proses boarding hampir selesai, sebagian besar penumpang sudah duduk. Pramugari bahkan sudah menutup bagasi di atas kepala.

Persepsi? Aku tiba-tiba memikirkan sesuatu. Apa yang sedang dilakukan polisi saat ini? Mereka pastilah telah menghubungi interpol, mengontak seluruh jaringan yang mereka punya di seluruh dunia. Ekspektasi? Kepalaku terus mengingat diskusi di kelas saat itu. Apa yang sedang dilakukan polisi untuk memburu buronan besar mereka sepuluh tahun terakhir? Tersangka kejahatan keuangan yang sudah mereka pegang tengkuknya ternyata berhasil kabur dengan mudah.

Aku menghela napas tertahan. Meremas rambut. Memaki dalam hati.

Tidak, kami bahkan tidak akan melewati loket transit Dubai. Petugas interpol pasti menunggu di sana, dan bersiap menggelandang kami kembali ke Jakarta. Jika aku dan Om Liem tertangkap, urusan semakin runyam, tidak ada celah sama sekali.

Persepsi? Ekspektasi? Aku meremas jemari. Sekarang urusan tidak sesederhana membuat kamuflase Om Liem di atas ranjang darurat. Sekarang aku harus menciptakan persepsi yang keliru di benak mereka. Kabur ke luar negeri adalah reaksi yang sesuai dengan ekspektasi mereka. Ini bukan pilihan yang baik.

Aku harus membuat persepsi yang menipu. Tidak ada waktu lagi. Aku bergegas berdiri, berbisik, ”Kita turun dari pesawat.” ”Hah?” Dahi lelah Om Liem terlipat.

”Bergegas. Mereka hampir menutup pintu pesawat.” Aku sudah membantu melepas safety belt Om Liem. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊