menu

Negeri Para Bedebah Bab 02 Nol Koma Dua Persen Penduduk Bumi

Mode Malam
Bab 02 Nol Koma Dua Persen Penduduk Bumi

PESAWAT berbadan besar melaju cepat meninggalkan London. Sekarang kami berada sepelemparan batu di atas wilayah penerbangan Myanmar. Penerbangan nonstop ini menuju Singapura.

Aku tertawa kecil.

”Apa pertanyaanmu tadi? Kau bergurau. Aku konsultan keuangan profesional, aku tidak peduli dengan kemiskinan. Yang aku cemaskan justru sebaliknya, kekayaan, ketika dunia dikuasai segelintir orang, nol koma dua persen, orang-orang yang terlalu kaya.” Kami sudah menghabiskan anggur gelas pertama. Pramugari yang selalu tersenyum itu baru saja lewat (lagi), menawarkan gelas kedua. Aku menggeleng. Selepas mendarat di Singapura, penerbangan lanjutan menuju Jakarta sudah menunggu. Aku harus bergegas menuju lokasi klub tinju. Aku punya per-

tandingan penting malam ini.

”Bisa dijelaskan lebih detail?” Gadis dengan predikat ”wartawan terbaik” di sebelahku bertanya. ”Ya, kaubayangkan, ketika satu kota dipenuhi orang miskin, kejahatan yang terjadi hanya level rendah, perampokan, mabukmabukan, atau tawuran. Kaum proletar seperti ini mudah diatasi, tidak sistematis dan jelas tidak memiliki visi-misi, tinggal digertak, beres. Bayangkan ketika kota dipenuhi orang yang terlalu kaya, dan terus rakus menelan sumber daya di sekitarnya. Mereka sistematis, bisa membayar siapa saja untuk menjadi kepanjangan tangan, tidak takut dengan apa pun. Sungguh tidak ada yang bisa menghentikan mereka selain sistem itu sendiri yang merusak mereka.”

Dahi gadis di sebelahku terlipat, belum mengerti juga. ”Kau tidak mengerti ilmu ekonomi?” Aku menyeringai.

Gadis itu tidak setersinggung sebelumnya. ”Maksud saya, tidak semua pembaca kami memiliki kompetensi pengetahuan ekonomi. Ilustrasi lebih sederhana akan membantu mereka.”

”Baiklah. Coba kita misalkan dunia ini hanya sebesar kota. Ada seribu penduduk di dalamnya. Sebagian menjadi petani, perajin, peternak, tukang, sebagian lainnya menjadi pedagang, tentara, serta semua profesi dan mata pencarian hidup yang kita kenal. Katakanlah berabad-abad mereka hanya mengenal barter, ikan ditukar gandum, jasa cukur rambut ditukar perbaikan atap rumah, atau seporsi masakan lezat dibarter dengan jahitan baju. Hingga salah seorang genius—kita sebut saja Mister Smith—menemukan uang. Kehidupan primitif mereka dengan segera berubah drastis, perekonomian kota kecil itu bergerak maju. Transaksi lebih mudah dilakukan, itu fase pertama muasal kegilaan ini.

”Sejak uang ditemukan, berbagai teknologi juga ditemukan. Era industri datang. Sumber minyak, emas, batubara, timah, dan besi dekat kota mulai ditambang. Tenaga kerja semakin produktif, perhitungan efisiensi produksi dikenal, dan tuntutan atas kemudahan transaksi keuangan meningkat. Mister Smith kembali datang dengan ide mendirikan bank, membuat seluruh penduduk kota terpesona. Benar sekali, mereka butuh modal untuk membuat perekonomian melesat lebih hebat. Tetapi mereka ragu-ragu, siapa yang akan percaya dengan selembar kertas? Mister Smith melambaikan tangan. Tenang saja, bank akan mencetak setiap lembar uang dengan jaminan cadangan emas. Seratus dolar dijamin satu gram emas. Jadi, uang tersebut dijamin aman. Ada nilai pelindungnya di bank, dan semua orang harus menerima transaksi dengan uang. Penduduk kota semakin kagum. Luar biasa, itu ide yang brilian.

”Maka, bank mulai mencetak uang dengan jaminan cadangan emas. Sebagai pemanis, Mister Smith menjanjikan bunga untuk setiap orang yang bersedia menyimpan uang di bank. Mulailah, orang kaya berbondong-bondong meletakkan uang, sedangkan yang membutuhkan uang untuk modal usaha juga datang ke bank dengan janji membayar cicilan ditambah bunga. Kau tahu, salah satu penemuan klasik Mister Smith yang menjadi dasar ilmu ekonomi modern adalah bunga.”

Aku berhenti sejenak, mengangguk kepada pilot pesawat yang keluar dari kabin, ramah menyapa penumpang, lantas tertawa kecil, bergurau pada salah satu anak kecil di seberangku yang cemas kenapa pilot meninggalkan kokpit. ”Tenang, Nak, pesawat ini memiliki sistem otomatis andal.”

”Nah, dengan adanya uang dan bank, akumulasi kekayaan mulai terjadi. Pada tahun nol, total uang beredar hanya seratus dolar, katakanlah begitu. Pada tahun kesepuluh, total uang beredar di kota melesat menjadi satu miliar dolar. Bagaimana bisa? Karena begitulah sistem perekonomian baru bekerja, begitu canggih melipatgandakan kekayaan. Kauletakkan uang seratus dolar di bank yang dijamin setara satu gram emas, lantas uang itu dipinjam orang kedua, si tukang jahit. Orang kedua ini menggunakannya untuk membeli mesin jahit terbaru pada orang ketiga, si pembuat mesin. Si pembuat mesin punya uang seratus dolar sekarang, hasil menjual mesin. Dia bawa uang itu ke bank lagi, ditabung. Jadi berapa uang dalam catatan bank? Dua ratus dolar.

”Bank lantas meminjamkan uang itu kepada orang keempat, si nelayan. Si nelayan membelanjakannya untuk membeli kapal terbaru pada orang kelima, si pembuat kapal. Orang kelima membawa uang seratus dolar itu ke bank, menabungkannya. Begitu terus siklus perbankan yang canggih.

”Jadi, berapa uang seratus dolar itu sekarang dalam catatan bank? Tiga ratus dolar? Kau keliru. Uang itu tumbuh menjadi tidak terhingga, karena semakin banyak yang terlibat dalam mekanisme simpan-pinjam itu. Tanpa regulasi bank harus menyisihkan sekian persen sebagai cadangan, efek pengalinya berjuta-juta tidak terhingga. Padahal, come on, berapa sejatinya nilai uang yang dijamin cadangan emas? Ya, hanya seratus dolar, lantas bagaimana ribuan dolar lainnya? Itu hanya ada di kertas. Benar-benar ada di kertas, dalam catatan bank, dalam catatan kekayaan masing-masing.

”Perekonomian kota tumbuh tidak terbilang. Semua sektor produktif berlomba-lomba melaporkan keuntungan transaksi. Situasi berjalan aman-aman saja hingga puluhan tahun. Pada tahun kesepuluh, uang beredar di seluruh kota menjadi satu miliar dolar, dan situasinya mulai rumit, hanya segelintir orang yang menguasai uang-uang. Mereka adalah penduduk superkaya, yang terus rakus menambah nominal angka kekayaan mereka. Tidak pernah puas.

”Katakanlah, pada tahun itu ada seribu penduduk kota yang meminjam uang untuk membeli rumah, kita sebut saja ‘kredit rumah’. Uang pinjaman dari bank dibayarkan kepada tukangtukang untuk membuat rumah, dan tukang-tukang ternyata tidak menabung uang itu ke bank, melainkan dibelanjakan keperluan sehari-hari. Bank yang dikuasai segelintir orang kaya berpikir keras, kalau begini caranya, lambat sekali mereka bisa menambah kekayaan, uang itu tidak segera balik ke pundi-pundi bank, tidak ada uang yang bisa diputar lagi, lagi, dan lagi. Tanpa uang, sistem bunga tidak bekerja, kekayaan mereka melambat. Mister Smith datang dengan ide lebih cemerlang. Dia ciptakan binatang yang disebut securitization. Bagaimana caranya? Seluruh kredit rumah itu, jumlahnya ada seribu lembar surat perjanjian kredit, dikumpulkan saja jadi satu, lantas dianggap seperti produk, macam seribu potong tempe atau seribu ekor kambing, lantas dijual ke pemilik uang, penduduk superkaya lainnya, dengan imbalan bunga sekian persen yang dibayarkan setiap bulan plus cicilan. Tidak ada yang tertarik? Gampang, tinggal naikkan bunganya, tambahkan bumbu-bumbu janji semua aman, semua dijamin. Kalau ada masalah, rumah-rumah itu bisa jadi jaminan.

”Ide cerdas! Tentu itu brilian. Bank yang tadinya kekurangan uang, dengan cepat kembali punya uang. Banyak malah. Mereka tidak hanya sebagai pemberi pinjaman, tetapi sekarang sekaligus sebagai ‘nasabah’ bagi pembeli aset securitization tadi. Ide itu berhasil tidak terkira. Dengan uang hasil menjual seribu surat perjanjian kredit, bank leluasa mengucurkan kredit berikutnya ke penduduk kota. Bank menerima pembayaran dari nasabah setiap bulan. Uang itu dipergunakan untuk membayar pemegang aset securitization. Semua terkontrol, semua baik-baik saja, hingga tanpa disadari aset yang pada dasarnya hanyalah selembar kertas itu menggelembung tidak terkira.

”Harga properti melesat naik, harga komoditas tidak terkendali. Karena juga bermunculan derivatif transaksi keuangan lainnya, Mister Smith menciptakan transaksi future: minyak bumi atau gandum yang dibutuhkan enam bulan lagi bisa dibeli sekarang, lantas uangnya bisa diputar ke mana-mana, menjadi berkali lipat. Dan boom! Ribuan kredit perumahan tiba-tiba macet total, orang mulai berpikir harga-harga sudah tidak rasional. Harga komoditas jatuh bagai roller coaster, dan mulailah kekacauan merambat ke mana-mana.

”Bank tidak bisa menagih kredit ke penduduk kota, sedangkan pemilik aset securitization sudah mulai menagih. Panik, penduduk kota panik, si pembuat perahu, si pembuat mesin bergegas ingin mengambil uang di bank, padahal uang itu sudah dipinjamkan ke tukang jahit dan nelayan. Tidak ada uang di bank, hanya catatan pinjam-meminjam. Jaminan emas? Orang lupa bahwa itu hanya untuk seratus dolar pertama. Posisi bank terjepit, atas-bawah. Tidak perlu seorang genius untuk menyimpulkan hanya soal waktu seluruh surat berharga terjun bebas, tidak ada lagi harganya. Krisis aset securitization ini merambat ke mana-mana.

”Itulah yang terjadi di kota kecil tadi. Nah, itulah yang terjadi di dunia saat ini. Sama persis. Krisis dunia akibat kredit perumahan. Masalahnya, di dunia yang sebenarnya, nilai akumulasi uang ratusan tahun sejak ditemukan, jumlahnya triliunan dolar, tidak terbayangkan. Kau tahu, Julia, berapa total utang negara kita? Hanya seratus dua puluh miliar dolar, kecil sekali dibandingkan akumulasi uang dunia yang berjuta kali lipat, hanya nol koma nol nol. Uang-uang itu hanya dimiliki nol koma dua persen penduduk bumi, yang terus rakus menelan sumber daya. Uang itu butuh tempat bernaung. Mereka sudah punya mobil, rumah, berlian, pesawat pribadi, dan pulau pribadi. Mereka juga sudah membeli hutan jutaan hektar di Afrika, Asia, dan Amerika Selatan. Karena itu, mereka ciptakanlah berbagai produk keuangan untuk menampungnya. Tidak puas mendapatkan lima persen bunga bank, mereka menyerbu ke obligasi dan saham. Tidak puas juga, mereka menyerbu ke komoditas dan transaksi derivatif yang semakin rumit. Uang itu seperti ratu lebah yang beranak setiap hari, terus tumbuh, serakah. Uang itu butuh tempat untuk berkembang biak, persis seperti mutasi genetik tidak terkendali.

”Padahal kita lupa, semua hanya kertas, bukan? Secara riil, kekayaan dunia tidak berubah sejak uang pertama kali ditemukan. Jumlah cadangan emas yang menjamin uang hanya itu-itu saja. Kau tadi bertanya apa? Julia, aku tidak peduli kemiskinan, peduli setan, karena daya rusaknya itu-itu saja, busung lapar, kurang gizi. Tetapi kekayaan, daya rusaknya mengerikan. Bahkan uang yang berlimpah itu membuat orang tidak peduli wabah, kelaparan, perusakan alam, dan tragedi kemanusiaan lainnya.

”Kau pernah kuliah ekonomi, bukan?” Aku diam sejenak, menatap wajah gadis di depanku yang matanya membulat, masih mengunyah kalimatku. ”Aku pernah, lima belas tahun lalu. Salah satu dosenku adalah profesor penerima nobel ekonomi. Kau bisa membayangkan, mahasiswa model apa aku di kelas. Aku pernah bicara tentang hipotesis bodoh padanya, andaikata dunia ini tetap menggunakan barter, andaikata dunia ini tidak pernah mengenal uang dan bunga, dunia boleh jadi akan jauh lebih adil dan makmur. Profesorku tertawa. ’Thomas, bagi pialang, pengelola danareksa, eksekutif puncak, orang-orang pintar, bagi kalian mahasiswa sekolah bisnis terbaik dunia, kalian pasti akan lebih bersyukur karena uang dan bunga pernah ditemukan.’ Kami berdebat, sia-sia. Profesor itu ringan melambaikan tangan, ’Kau lupa petuah bijak bapak ekonomi modern, pasar memiliki “tangan tuhan”, Thomas. Dia akan selalu membuat keseimbangan, bahkan meski harus meledakkan keseimbangan sebelumnya. Jadi jangan pernah menulis macam-macam di kertas ujian, atau kau tidak lulus di kelasku.’ Nasihat yang bagus. Sejak saat itu aku tidak peduli omong kosong kemiskinan, Julia.”

”Apakah Anda seorang sosialis?” Gadis di sebelahku akhirnya berkomentar setelah terdiam sejenak.

”Apa aku terlihat seperti sosialis, Julia?” Aku tertawa, menunjuk sepatu mengilat yang kukenakan.

Gadis itu tidak menggeleng, apalagi mengangguk. Dia balas menatapku datar. ”Lantas apa peduli Anda dengan jahatnya kekayaan? Bukankah Anda sendiri hidup dari orang-orang itu? Konsultan keuangan dengan bayaran tinggi? Atau Anda janganjangan tipikal orang berpendidikan tinggi, pintar, kaya, memiliki pengaruh, tetapi juga sekaligus paradoks dan memiliki kepribadian ganda?”

Aku menatap mata hitamnya. Nah, sekarang rasa percaya diri dan harga diri gadis ini sudah sempurna kembali. Dia sepertinya siap berdebat banyak hal di luar daftar pertanyaan. Sayangnya aku tidak berselera, aku harus beristirahat sejenak di atas pesawat besar ini sebelum mendarat. Jadwal pertarungan pentingku menunggu. Aku rileks melambaikan tangan. ”Jika kau tertarik, kita diskusikan hal itu di lain kesempatan, Julia, mungkin makan malam yang nyaman. Tetapi kita lihat dulu akan seperti apa hasil wawancara ini di majalah kalian. Semoga kemampuan menulismu se-kinyis penampilanmu sekarang. Selamat malam.” Gadis itu tidak dapat menahan ekspresi geregetan, kesal.

Boleh jadi kalau tidak sedang di kelas eksekutif penerbangan maskapai internasional, dengan pilot masih asyik beramah-tamah menyapa penumpang, dia akan menampar pipiku. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊