menu

Negeri di Ujung Tanduk Bab 31: Sepuluh Pemburu

Mode Malam
Bab 31: Sepuluh Pemburu
PEMIMPIN mafia hukum itu melangkah melewati belasan

anak buahnya yang bersenjata dan orang-orang penting, para penegak hukum yang selama ini dia kendalikan. Dia tidak tinggi besar, rata-rata saja. Wajahnya khas keturunan, meski matanya tidak terlalu sipit. Dia mengenakan tongkat hanya sebagai aksesori, bergaya. Usianya sekitar empat-lima tahun di atas Om Liem.

Dia terus berjalan menyibak kerumunan, melintasi kursi Om Liem, mendekatiku, berhenti saat jarakku tinggal lima langkah darinya.

Dia tersenyum menatapku, senyum yang sama, yang selalu kuingat, saat aku dulu menjadi pelayan di pesta, demi sebuah sepeda. Juga senyum yang sama saat bertemu di gedung Bank Semesta, pura-pura tidak mengerti apa yang sedang terjadi, padahal dia mengirim dua anggota mafia hukumnya bekerja mengkhianati Om Liem. ”Tuan Shinpei,” aku mendesiskan namanya lebih dulu.

Dia menggeleng. ”Bukankah pernah kubilang, Tommi, kau selalu bisa memanggilku dengan Om, Om Shinpei. Jangan panggil aku Tuan Shinpei. Keluarga kalian sudah seperti keluargaku sendiri, dan sebaliknya.”

”Kita tidak pernah menjadi keluarga.” Aku mendengus marah. Andai saja tidak ada enam laras senjata otomatis teracung sempurna di belakangku, juga sebuah pistol dari pemimpin kapal tug yang persis menempel di pelipisku, sejak tadi aku sudah meloncat, merampas salah satu senjata dari tangan orang berkedok, segera menghabisi orang yang amat kubenci itu.

Tuan Shinpei masih tersenyum. ”Kau selalu membuat rumit sebuah masalah sederhana, Tommi. Juga pamanmu, Liem. Selalu saja rumit. Apa susahnya menganggap kita keluarga satu sama lain? Bukankah dibandingkan di luar sana, di dalam keluarga sedarah justru lebih sering terjadi anggotanya saling menyakiti, terluka?”

Rahangku mengeras, tidak menjawab kalimatnya.

Tuan Shinpei mendongak, menatap sejenak dinding ruangan kapal yang tinggi, menatap sekitar, lantas mengangguk takzim. ”Kau mau mendengar sebuah cerita dariku, Tommi? Agar kepalamu lebih dingin, lebih mudah mengerti semuanya?”

Aku diam, jemari dua tanganku terkepal. Moncong pistol yang dipegang pemimpin kapal tug semakin menekan pelipisku, seperti memberikan pesan agar tidak macam-macam, atau sebutir peluru akan membuat berhamburan isi kepala.

”Tidak menjawab berarti iya.” Tuan Shinpei tertawa riang. ”Baiklah.” Dan tanpa kuminta, bedebah di hadapanku itu telah bercerita.

”Zaman dulu kala, Tommi, ada sebuah kerajaan di daratan Cina yang makmur, kaya raya, terkenal hingga ke negeri-negeri seberang. Kerajaan itu masyhur di mata orang. Tidak ada yang tidak tahu kerajaan hebat itu.

”Pada suatu hari, Sang Raja hendak menikahkan putrinya yang telah tumbuh menjadi gadis cantik jelita. Adalah kelaziman pada zaman itu, mencari jodoh melalui sebuah sayembara. Maka Sang Raja mengumumkan ke seluruh negeri, juga negara-negara sahabat, sebuah sayembara yang menarik. Barang siapa berhasil menangkap seekor rusa jantan dengan tanduk paling indah dari hutan terlarang kerajaan, dia akan menikahi putri semata wayangnya. Sekaligus mewarisi takhta dan seluruh kerajaan.

”Itu sayembara yang seolah mudah, bukan? Apalagi dengan hadiah tidak terbilang. Tapi semua orang juga tahu, hutan terlarang kerajaan adalah tempat angker bukan kepalang. Tidak sembarang orang bisa masuk dan kembali dengan selamat dari hutan itu, apalagi ini berburu rusa jantan di dalamnya. Orangorang telanjur gentar bahkan saat mendengar nama hutan terlarang itu. Ketika hari sayembara tiba, tidak terlalu mengejutkan jika hanya ada sepuluh pemburu yang ikut. Sepuluh orang paling gagah, paling berani, paling cekatan, pandai melepas anak panah, berkelahi dengan tangan kosong, datang dari berbagai pelosok negeri dan negara tetangga.

”Kemeriahan menyergap seluruh ibu kota. Semua penduduk bersukacita. Siapa pun yang memenangi sayembara, dia akan menikah dengan putri raja. Itu kabar baik bagi seluruh negeri. Pemenang sayembara itu tentulah seorang pangeran terbaik dari yang terbaik. Hari yang ditentukan telah tiba. Sayembara berburu rusa jantan bertanduk paling indah itu dimulai segera. Raja memukul gong besar di halaman istana, sepuluh pemburu itu segera melesat dengan kuda-kuda terbaik, menuju hutan larangan kerajaan yang jaraknya berpuluh kilometer dari ibu kota. ”Seperti yang kukatakan sebelumnya, Tommi, hutan terlarang tempat berbahaya. Maka tidak sedikit rintangan yang harus dilalui sepuluh pemburu tangguh itu. Melewati pohon rapat, onak duri, lembah dalam, jurang terjal. Menghadapi penghuni hutan, mulai dari beruang besar, singa lapar, ular buas, hingga naga, makhluk legendaris yang menjaga hutan itu. Menangkap rusa jantan lebih susah lagi. Rusa jantan berlari dua kali lebih cepat dibanding kuda. Matanya lebih awas dibanding seekor elang, dan dia bisa membunuh seekor beruang besar dengan tanduknya. Tujuh pemburu tidak pernah kembali, tewas di dalam hutan terlarang. Dua pemburu lain berhasil menangkap rusa

jantan.

”Siapa yang memenangi sayembara itu, Tommi? Siapa di antara dua pemburu yang berhasil menangkap rusa jantan dengan tanduk paling indah yang akhirnya menikahi putri cantik jelita? Tidak kedua-duanya.

”Astaga? Bagaimana bisa? Karena kita tidak boleh melupakan pemburu kesepuluh. Dia bukan pangeran gagah perkasa. Tubuhnya paling kecil dibanding pemburu lain. Dia tidak pandai menunggang kuda, apalagi melepas anak panah, dan dia paling penakut di antara para pemburu itu. Dia hanya dibekali kepintaran, sebuah jenis kepintaran yang licik dan tega. Maka pemburu kesepuluh memutuskan hanya menunggu di gerbang hutan terlarang. Berdiri di sana berhari-hari. ”Ketika salah satu pemburu yang berhasil menangkap seekor rusa jantan keluar dari hutan, pemburu kesepuluh membunuhnya tanpa ampun secara licik. Juga saat pemburu kedua yang berhasil keluar membawa buruannya, pemburu kesepuluh juga membunuhnya secara tega dari belakang. Tugasnya selesai. Dia kembali membawa dua ekor rusa jantan dengan tanduk paling indah. Raja takjub melihatnya. Lihatlah, bukan hanya seekor, tapi dua ekor sekaligus? Ini sungguh hebat. Putri cantik jelita terpesona dan jatuh cinta. Seluruh undangan di halaman istana bersorak-sorai, menyambut pemburu paling gagah yang akan menikahi putri raja.”

Shinpei diam sejenak, suara khasnya yang dalam, seperti suara orang bicara dari dalam sumur, menggantung di langit-langit tinggi ruangan, tersenyum kepadaku dari jarak lima langkah.

”Begitulah kehidupan ini, Tommi. Sama persis. Ayahku adalah petani yang rajin di tanah Jawa. Kami memiliki kebun luas yang subur, dibantu buruh kebun. Bertahun-tahun dirawat, bertahun-tahun menjanjikan masa depan, hingga pada suatu hari pecahlah pemberontakan besar di tanah itu. Gerombolan pemberontak merampas harta kekayaan penduduk. Ternak, hasil perkebunan, semuanya. Ayahku tewas saat membela diri. Ibuku dibawa pergi entah ke mana. Ada ratusan petani yang giat bekerja siang-malam merawat kebunnya. Ada ratusan peternak yang giat bekerja pagi-sore merawat ternaknya, lantas sekejap, ada orang yang juga giat datang, tapi dia giat merampas semua hasilnya. Selesai.

”Aku belajar banyak dari kisah masa lalu itu, Tommi. Tentu saja dari kisah sepuluh pemburu dan putri raja, bukan dari kisah orangtuaku yang berakhir menyedihkan. Aku mengambil sebuah pelajaran berharga, lantas memilih menjadi pemburu kesepuluh.

”Hei, dunia ini sudah diatur sedemikian rupa hingga setiap orang memiliki jalan hidup masing-masing. Ada yang ditakdirkan menjadi pekerja keras, terus-menerus rajin bekerja, maka harus ada yang melengkapinya, menjadi orang kesepuluh, menggenapkan hitungan. Aku memilih menjadi penyempurna kehidupan. Itu takdirku, Tommi.

”Sayangnya ayahmu Edward dan pamanmu Liem tidak sependapat denganku. Mereka dengan bodohnya memilih jalan sembilan orang kebanyakan, padahal aku menawarkan mereka bergabung denganku menjadi pemburu kesepuluh. Saat aku bicara baik-baik, menyampaikan ide itu, mereka menolak mentah-mentah, maka aku tidak punya pilihan lain, memutuskan mengambil bisnis tepung terigu itu. Mengirim orang-orang membakar rumah dan gudang kalian.”

Aku menggerung keras, berseru memotong, ”Bedebah kau!” ”Tidak, tidak, Nak.” Tuan Shinpei menggeleng, menyuruhku

diam. ”Jangan sakit hati, Tommi. Aku hanya melaksanakan takdir langit. Aku melengkapi kehidupan ini. Sama seperti pemburu kesepuluh yang menikah dengan si cantik jelita, mewarisi takhta raja dan seluruh kerajaan. Dia hanya menunaikan takdir hidupnya. Apa salahnya? Dia sama berhaknya dengan sembilan pemburu lain. Bukankah Tuhan tidak menghukum seketika? Justru membiarkan dia menikmati semua kelezatan hidup? Orang banyak juga tidak pernah peduli? Semua baik-baik saja?” Moncong pistol di pelipisku menekan semakin dalam, menyuruhku diam. Aku tersengal berusaha mengendalikan emosi. Tidak sekarang, aku harus menunggu kesempatan terbaiknya. Belum. Pasti ada momen terbaik bagiku untuk mulai bergerak. Tuan Shinpei melanjutkan cerita, ”Nah, setahun lalu, pamanmu Liem juga menolak bekerja sama denganku, menolak mentah-mentah ide yang kusampaikan, maka lagi-lagi jangan salahkan aku jika memutuskan mengambil seluruh perusahaannya,

dimulai dari membuat bangkrut Bank Semesta.

”Sayangnya aku melupakan sebuah variabel kecil... kau, Tommi. Aku melupakan ternyata masih ada orang yang peduli. Kau berhasil menggagalkan rencanaku. Bahkan membunuh dua orang kepercayaanku, dua anggota terbaik jaringanku di Jakarta. Tapi aku tidak sakit hati, Tommi. Kenapa aku harus sakit hati? Kau ditakdirkan untuk melakukan itu. Entahlah, siapa kau dalam seluruh cerita ini, mungkin kau pemburu kesebelas yang tidak pernah ada dalam cerita. Siapa pun itu, kau telah melengkapi jalan cerita, menunaikan takdir langit. Aku tidak pernah sakit hati. Itu hanya bisnis biasa.” Tuan Shinpei terkekeh.

”Enam bulan terakhir, muncullah masalah yang lebih serius. Klien politikmu, mantan gubernur itu, memutuskan ikut konvensi partai besar. Aku tidak peduli dengannya. Dia hanya calon presiden kesekian. Atau kalaupun akhirnya menjadi presiden, dia juga hanya presiden kesekian. Kami tidak pernah punya masalah dengan presiden-presiden sebelumnya. Mereka tidak mengusik kami, maka kami tidak mengusik mereka. Tapi klien politikmu melangkah terlalu jauh. Dia terlalu ambisius. Dia terlalu berlebihan. Dia justru bermimpi menegakkan hukum di seluruh negeri. Astaga, dua puluh tahun lalu, saat dia masih berseragam sekolah, aku telah membakar keluargamu, Tommi. Membangun jaringan tidak terlihat dari bawah, selapis demi selapis, apa istilah yang kalian gunakan untuk menyebutnya di koran-koran? Mafia hukum? Ya, mafia hukum. Itu istilah yang menarik.

”Kami mengirim orang untuk bicara dengannya baik-baik, menceritakan kisah sepuluh pemburu tadi, tapi dia menolak mentah-mentah. Dan lebih mengejutkan lagi, kau ternyata ada di belakangnya. Kau mendukungnya dengan semua ide brilian. Maka masalah ini tidak boleh dibiarkan berkembang di luar kendali. Aku mengirim orang-orang. Kau target pertama. Anak buahku di Hong Kong meletakkan seratus kilogram bubuk heroin dan sekarung senjata di kapal pesiar itu, lantas menghubungi satuan khusus antiteror. Kau, Opa, nakhoda kapalmu, dan gadis malang itu ditangkap. Sialnya kau berhasil lolos. Aku terlalu meremehkan seorang Tommi, sepertinya kau memang pemburu kesebelas.

”Tidak ada pilihan lain, aku memerintahkan seluruh anggota penting jaringan di Jakarta mengeluarkan usaha terbaik untuk mencegah klien politikmu maju di konvensi itu. Klien politikmu ditangkap petinggi kepolisian, mudah saja merekayasa sebuah kasus hukum, perang opini digelar di media massa, posisi klien politikmu terancam didiskualifikasi di konvensi. Sepertinya kami akan menyelesaikan masalah itu, menutup buku, tapi kau muncul di Jakarta, kembali dari Hong Kong dengan banyak rencana, bahkan balas menyerang, menyakiti anggota kami, membuat semua berantakan.”

Tuan Shinpei melangkah ke belakang. Tongkatnya sekarang teracung ke arah Om Liem. ”Kau memanfaatkan Liem untuk melancarkan serangan itu, Tommi. Kau berhasil membujuknya untuk mengkhianati kami. Aku tidak tahu kalimat apa yang kausampaikan padanya. Motivasi apa yang kauberikan hingga setelah berpuluh tahun dia gentar pada jaringan ini, akhirnya berani berdiri tegak melawanku. Lihatlah hasilnya. Liem hanya bisa duduk lemah dengan muka lebam dan kaki terluka di ruangan kapal yang melepas sauh di luar teritorial hukum negara mana pun. Mengenaskan sekali. Entah siapa yang dia harapkan memberikan pertolongan? Ini perairan terbuka, jauh dari mana pun.

”Aku tidak sakit hati karena Liem mengkhianatiku, Tommi. Buat apa? Semua orang memiliki jalan hidup dan takdir masingmasing. Pengkhianatan Liem, itu sudah takdirnya. Kau berusaha melawan, itu sudah takdirnya. Tetapi takdirku adalah menghentikan semua omong kosong ini. Jadi persis seperti pemburu kesepuluh yang menunggu di gerbang hutan terlarang. Lihatlah, aku juga sudah menunggu di sini. Maka mari kita selesaikan semuanya di sini. Hingga ke akar-akarnya, agar aku bisa kembali tidur nyenyak, menikmati seluruh kemegahan hidup dalam bayangan, tanpa seorang pun yang tahu. Bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Tuhan.”

Tuan Shinpei sepertinya sudah tiba di ujung ceramahnya. Wajahnya yang selama ini pura-pura tersenyum terlihat bengis dan menakutkan. Suaranya semakin dalam dan bergema. Tongkatnya teracung sempurna ke leher Om Liem. Detak jantungku mulai kencang, tarikan napasku mulai cepat. Ketegangan menjalar di seluruh ruangan. Ini hampir tiba di puncaknya.

”Nah, dengarkan aku baik-baik, Liem.” Tuan Shinpei menusukkan ujung tongkat ke leher Om Liem, membuat Om Liem mengaduh kesakitan.

”Aku tidak bisa lagi memercayaimu. Maafkan aku harus menyakitimu. Jadi, sekali lagi, di mana kau menyimpan semua barang bukti, rekaman, dokumen yang kaukumpulkan selama ini, hah?” Tuan Shinpei membentak.

Om Liem mengerang. Tidak menjawab.

”Aku tidak mendengarnya, Liem.” Tuan Shinpei menusukkan tongkatnya ke leher Om Liem.

Om Liem tersengal, kesakitan. Aku berseru marah. Pistol di pelipisku menekan lebih dalam, mencegah aku bergerak.

”Baik, kaubisikkan kepadaku. Sepertinya kau kesulitan bicara.” Tuan Shinpei menarik tongkatnya, mendekatkan telinga kanannya ke mulut Liem.

”Di mana semua barang bukti itu, Liem?”

”Kau tidak akan pernah mengetahuinya.” Om Liem berkata dengan suara lemah, nyaris tidak terdengar, lantas meludah.

Tuan Shinpei bangkit dengan wajah merah padam, menyeka pipinya yang terkena ludah, berseru ke jenderal bintang tiga yang sepanjang percakapan tadi selalu berdiri di belakangnya, ”Tembak paha kanannya!”

Jenderal bintang tiga itu mencabut pistol di pinggang, bahkan sebelum aku sempat berteriak marah, berseru mencegahnya menembak, suara letusan pistol terdengar bergema di langit-langit ruangan kapal.

Om Liem mengaduh kesakitan. Dia tidak bisa lagi menjerit. Suaranya sudah parau. Tenaganya sudah lemah. Hanya tubuhnya yang bergetar menahan rasa sakit teramat sangat. Peluru itu menembus paha Om Liem, menembus kursi plastik, berkelontangan menghantam lantai. Darah segar menyembur deras dari paha Om Liem, segara membuat basah celana kain, melewati kursi plastik menetes ke lantai.

Tanganku gemetar menahan marah. Mulai berhitung kapan harus bertindak sebelum semua telanjur fatal. Mengeluh dalam hati, ayolah, kesempatan itu pasti ada, sedetik saja mereka lengah sudah cukup. Apa pun hasilnya, mereka atau aku yang lebih cepat, aku tidak akan pernah menyesalinya. Aku akan melawan mereka dengan sisa-sisa tenaga.

”Sekali lagi, Liem, maafkan aku. Ini hanya bisnis, tidak ada yang boleh sakit hati,” Tuan Shinpei berkata datar, menatap tajam Paman Liem, melemparkan sembarang saputangan untuk menyeka ludah. ”Kau sendiri yang membuatnya menjadi rumit. Nah, untuk kesekian kali, di mana barang bukti yang kausimpan selama ini? Katakan, Liem, maka aku akan membuatnya berakhir dengan cepat.”

Om Liem menggerung. Kepalanya menggeleng. Tatapan matanya jelas sekali. Dia tidak akan memberitahu, apa pun risikonya. ”Itu keputusan yang kauambil. Tembak paha kirinya!” Tuan

Shinpei berseru.

Jenderal bintang tiga itu kembali mendekat.

”Tidak, bodoh! Kali ini bukan paha kiri dia. Kau tembak paha kiri keponakannya. Semoga dia berubah pikiran setelah menyaksikan Tommi tersungkur dengan paha tertembak!” Tuan Shinpei membentak.

Jenderal bintang tiga itu mengangguk, balik kanan, melangkah cepat mendekatiku, pistol di tangannya teracung sempurna ke kakiku.

Aku mendengus pelan. Jantungku berdetak lebih kencang. Napasku tersengal oleh tensi pertarungan. Kesempatan itu akhirnya datang. Entah kenapa, moncong pistol di pelipisku menjauh. Itu memberikan momen berharga sepersekian detik. Aku bisa menghindar bahkan jika pelatuknya ditarik sekarang. Tanganku segera hendak bergerak cepat, merampas senjata otomatis orang di belakangku.

Tetapi aku kalah cepat. Suara letusan lebih dulu menggema di langit-langit ruangan dan jenderal bintang tiga itu telah terbanting jatuh. Peluru merobek dadanya, persis di jantungnya. Dia tewas seketika bahkan sebelum tubuhnya terkapar menyentuh lantai.

”Sudah sejak lama aku ingin menembak bedebah ini. Dia salah satu jenderal yang membuatku menjadi polisi lalu lintas di perempatan setelah begitu banyak yang kulakukan untuknya.” Orang di sebelahku, orang yang memegang pistol, orang yang menembak jenderal bintang tiga itu, pemimpin kapal tug yang membawaku berseru jengkel, melepas topeng di kepalanya.

Aku ternganga. ”Rudi?”

Dan belum habis aku menyebut namanya, sebelas rekannya yang naik dari kapal tug, melepas tembakan ke depan, menyerang orang-orang bersenjata yang berasal dari kapal kontainer. Ruangan besar itu berubah seketika menjadi arena pertempuran besar. Puluhan laras senjata otomatis memuntahkan peluru. Dinding kapal robek di mana-mana. Suara peluru berkelontangan di lantai. Suara teriakan. Beberapa orang menjerit panik, berlarian menuju pintu belakang ruangan.

Dua orang bersenjata yang naik dari kapal tug bersama Rudi melempar beberapa granat asap. Meledak beruntun, dengan segera membuat ruangan besar itu dipenuhi asap pekat. Membuat situasi semakin kacau balau. Tembakan mengarah tidak terkendali. Tidak ada yang tahu dengan jelas mana kawan, mana lawan, dengan asap mengepul, apalagi pakaian orang-orang dari kapal tug sama dengan orang-orang bersenjata dari kapal kontainer.

”Kau tidak ingin ikut berpesta, Thomas?” Rudi merangkak mendekatiku yang jongkok, menghindari peluru beterbangan di atas kepala.

”Bagaimana kau bisa di sini?” Aku menatapnya tidak percaya. Rudi tertawa, sambil gesit mengangkat pistol, melepas dua tembakan cepat ke depan. Dua orang yang hendak mendekati kami dengan senjata teracung jatuh terduduk. ”Jam tanganmu, Thomas. Itu hadiah spesial dariku. Kau lupa? Aku sengaja mem-

berikannya.”

Aku menatap Rudi, masih tidak mengerti.

”Bukankah sudah kubilang, Thom. Bukan hanya faksi jenderal bintang tiga sialan itu saja yang ada di kepolisian. Juga ada faksi lain yang terbentuk karena mereka peduli dengan kesatuan. Masih banyak jenderal-jenderal yang memegang janji setia seorang polisi. Kami diam-diam membentuk satuan tugas. Menunggu momen terbaik untuk menggerakkan revolusi dari dalam. Kasusmu adalah momen paling baiknya. Aku bisa diam-diam menjadikanmu untuk memonitor situasi. Aku bisa mendengar pembicaraanmu, aktivitasmu, mengetahui lokasimu dari jam tangan ini. ”Tadi malam, saat bedebah bintang tiga itu menelepon, memintamu datang ke Hong Kong dalam waktu enam jam, tentu saja aku ikut mendengarnya. Faksi kami memutuskan mengambil kesempatan, menghubungi pihak KPK, juga pihak angkatan udara. Kami bergerak lebih cepat. Sebuah pesawat Hercules langsung berangkat dari Jakarta. Empat pasukan khusus dari militer, dua petugas dari Komisi Pemberantasan Korupsi ikut serta menemani. Kami tiba lebih awal di pelabuhan kontainer, dan dengan sedikit bantuan dari kepolisian Hong Kong, kami bisa mengambil alih kapal tug itu. Melumpuhkan orang-orang mereka, berganti kostum mereka, menunggu kau datang, membawa kau naik ke kapal kontainer ini. Sebuah rencana yang lebih brilian dibanding meracuni sarapan tahanan penjara.” Rudi tertawa.

Aku masih menatapnya tidak percaya.

”Hei, kau berhenti bicara atau mereka akan terus menembaki kita, Rud!” Suara di sebelahku berteriak dalam bahasa Inggris. Dia mendekat dari sela-sela kepulan asap yang semakin tebal. Wajahnya memakai topeng.

”Kau butuh senjata, Thomas.” Orang itu berseru dalam bahasa Kanton kepadaku, lantas melemparkan dua pistol.

Aku memungut dua pistol itu. Menatapnya bingung. Aku kenal dengannya?

”Maafkan aku telah menangkapmu di kapal pesiar itu, Thomas.” Dia tertawa, melepas topeng di kepalanya, mengulurkan tangan. ”Kita mulai lagi dari awal, walaupun suasananya tidak lebih baik. Perkenalkan, Detektif Liu, unit pasukan khusus antiteror Hong Kong SAR. Empat anggotaku ikut serta dalam penyerbuan ini. Kami baru dua jam lalu dihubungi rekan dari Jakarta, Mayor Rudi. Terima kasih banyak, kami bisa mengetahui markas mafia ini atas bantuanmu, Thomas. Kami sudah mengejarnya bertahun-tahun.”

Astaga? Detektif Liu. Ini kejutan kedua.

”Ayo, Thomas, kita selamatkan pamanmu sebelum terlambat!” Detektif Liu sudah berseru, memutus percakapan dan segala kejutan.

”Move! Move!” Dia berteriak garang, meloncat berdiri, meneriaki pasukannya agar terus maju ke tengah ruangan, sekaligus melepas dua tembakan beruntun ke depan, membuat tersungkur salah satu orang bersenjata yang balas menembaki kami.

Juga Rudi, sudah meloncat di tengah kepulan asap. Tangannya bergerak cepat.

Rahangku mengeras. Aku tidak akan ketinggalan ikut berpesta. Beranjak berdiri, dua pistol tergenggam erat di tanganku. Saatnya menghajar para bedebah. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊