menu

Negeri di Ujung Tanduk Bab 22: Pola Awal dan Nama-Nama

Mode Malam
Bab 22: Pola Awal dan Nama-Nama
SOPIR taksi itu masih setia menunggu di parkiran. Dia se-

dang membaca koran saat aku dan Maryam kembali menaiki mobil. Aku menyebut tujuan berikutnya. Dia mengangguk. Taksi meluncur meninggalkan parkiran bangunan hotel.

”Aku belum pernah menyaksikan hal seperti tadi, Thomas,” Maryam berkata, membuka percakapan. Aku sedang menyalakan telepon genggam yang diberikan staf konvensi. Itu telepon baru, meski murah meriah—hei, jelas bukan tabiat kami membagikan telepon mahal sebagai suap dengan alasan alat koordinasi bagi anggota partai. Itu telepon yang dibelikan staf di sekitar lokasi konvensi. Ada banyak counter pedagang resmi untuk memenuhi keperluan ribuan orang di sana, terutama aksesori partai.

”Kau belum pernah menyaksikan rapat partai, Maryam? Bagaimana mungkin?” aku bertanya, pura-pura tidak mengerti apa maksud kalimatnya.

”Tentu saja sering, Thomas,” Maryam berkata sedikit sebal. Dia jelas wartawan politik, meliput kongres atau munas biasa saja. ”Aku belum pernah menyaksikan seseorang bicara begitu mengesankan di hadapan ribuan orang. Begitu mengendalikan. Beruntung kau bukan ketua sekte agama sesat, Thomas, klan bunuh diri misalnya. Kau bisa membuat orang bunuh diri massal dengan cara bicara seperti itu.”

”Itu bukan pujian, Maryam. Kau malah mengolokku.” Aku tertawa, sambil menekan tombol telepon. Ada banyak orang yang harus kuhubungi sekarang.

Maryam memperhatikanku yang mengangkat telepon ke telinga.

Belum genap satu kali nada panggil, suara Kadek terdengar di seberang sana.

”Kau baik-baik saja, Kadek?” aku langsung bertanya.

”Baik, Pak Thom. Tiang baik-baik saja.” Kadek yang mengenali suaraku menjawab riang.

”Opa?”

”Lebih dari baik, Pak Thom.” Kadek tertawa. ”Dia bahkan ingin mencoba naik kapal nelayan penduduk setempat sore ini, Pak Thom.”

”Astaga? Kau harus mencegah orang tua itu, Kadek,” aku berseru pelan, setengah tidak percaya mendengarnya. ”Dia pikir itu waduk Jatiluhur yang tenang di halaman belakang rumah peristirahatan. Itu pantai utara. Ombaknya sedang tinggi bulan-bulan ini. Tidak ada kapal nelayan berukuran besar di sekitar sekolah berasrama. Aku tahu persis, kapal nelayan hanya untuk menangkap kepiting atau rajungan.”

”Opa bilang dia ingin bernostalgia, Pak Thom.”

”Tidak boleh, Kadek. Peduli amat dengan cerita perjalanan heroik mengungsi berminggu-minggu yang dia lakukan dengan kapal nelayan bocor itu. Itu enam puluh tahun lalu, dan jelas dia lakukan saat usianya masih enam belas, bukan tujuh puluh lima.”

”Baik, Pak Thom. Aku akan bilang kalau Pak Thom tidak setuju.”

”Biarkan aku bicara dengannya, Kadek.”

”Eh, Opa sedang memainkan klarinet di ruangan besar, Pak Thom, ditonton murid-murid. Aku kira itu termasuk aktivitas yang tidak bisa disela oleh telepon.”

Aku terdiam sejenak, berpikir, lalu tertawa. ”Baiklah. Sepertinya orang tua itu baru berhenti bermain musik setelah berjamjam kemudian. Menganggap ruangan makan menjadi tempat pertunjukan teater Shanghai, dan murid-murid menjadi penontonnya. Setidaknya dia baik-baik saja. Sampaikan aku telah meneleponnya.”

Percakapan ditutup setelah beberapa kalimat lagi. Aku tidak menceritakan kepada Kadek kejadian ditangkap tadi malam, tidak perlu menambah beban pikiran Opa mendengar cerita tersebut. Sekolah itu tersembunyi. Mereka aman di sana.

Mobil taksi terus menuju bandara, melewati beberapa rombongan turis yang berjalan kaki di jalanan kota. Ini long weekend, turis lokal sama banyaknya dengan turis asing, memadati pulau Bali. Maryam memilih melihat keluar jendela, memperhatikan sekitar. Sekarang sudah pukul dua belas. Aku melirik jam hadiah Rudi di pergelangan tangan. Tiga puluh menit lagi pesawat Hercules milik angkatan udara kembali transit di Denpasar, dan kami bisa menumpang lagi ke Jakarta.

Aku menekan tombol telepon genggam lagi. Dua kali nada panggil, suara khas itu menyapa, ”Halo, selamat siang?”

”Ini aku, Meg.”

”Kau ke mana saja, Thom?” Maggie seketika berseru. ”Sejak tadi subuh aku mencoba menghubungi, tidak ada nomor teleponmu yang aktif. Semua mati.”

Menilik suara cempreng Maggie, aku tidak perlu bertanya apakah dia baik-baik saja. Maggie sehat walafiat dan situasinya terkendali.

”Kau ada di mana sekarang?” Aku memilih pertanyaan lain. ”Di mana lagi, Thom? Di ruangan kerja Kris sejak tadi subuh.

Aku hanya sempat pulang ke rumah sebentar tengah malam tadi, beristirahat tiga jam. Sejak tadi aku terus-menerus memelototi ribuan lembar kertas. Mataku sampai merah berair.”

”Kau tidak punya masalah dengan pasukan tadi malam?”

”Tidak. Mereka pergi cepat bahkan sebelum memeriksa ruangan. Sepertinya bergegas kembali turun, mengejar sesuatu. Mereka tidak mengejarmu, bukan?”

”Mereka mengejarku, Meg. Aku sempat masuk penjara.” ”Ya Tuhan!” Maggie berseru.

”Tapi tidak lama. Semua sudah normal. Nah, apakah Kris sudah ada kemajuan?” Aku segera bicara pada pokok masalah, berhenti basa-basi.

”Justru itu aku berusaha meneleponmu sejak tadi subuh. Kau sudah membuka e-mail, Thom? Kris sudah memberikan progres awal. Dia sudah memberikan daftar awal yang kausuruh kerjakan, lengkap dengan informasi lainnya. Kau bisa membuka dokumen itu dengan kata sandi biasa yang digunakan.”

”Aku belum sempat membuka e-mail. Aku baru punya telepon genggam beberapa menit lalu.” Aku mengangkat bahu. ”Baiklah, akan kuperiksa e-mailnya, semoga telepon genggam ini lebih dari memadai untuk membuka jaringan internet. Ada lagi update?”

”Tidak ada. Hanya ucapan terima kasih dari wartawan dan pengamat politik itu. Mereka menyukai hadiah yang kauberikan. Kau sedang di mana, Thom?”

”Masih di Denpasar, dalam perjalanan kembali ke Jakarta.” ”Kau masih bersama gadis wartawan itu? Jalan-jalan di Bali?”

Maggie menyelidik. ”Alangkah romantisnya, Thomas. Aku saja yang bertahun-tahun kausuruh kerja keras tidak pernah diberi tiket gratis liburan di Bali.”

Aku tertawa. ”Kau berhenti protes, Meg. Tadi malam, aku juga bersama-sama Maryam masuk penjara, di dua sel bersisian. Romantis sekali, bukan?”

Dengusan Maggie terhenti. Diam.

”Nah, aku punya tugas tambahan untukmu, Meg. Aku membutuhkan informasi klien politik kita, JD. Sejak ditangkap kemarin sore, dia ditahan di mana. Apakah dia baik-baik saja. Kau juga cari tahu soal istri dan anak-anaknya. Mereka pasti mengungsi ke tempat yang lebih tenang, jauh dari sorotan media. Cari informasi mereka tinggal di mana. Apakah ada penjagaan dari pihak kepolisian. Apakah mereka baik-baik saja. Kirimkan pesan kepadaku kalau ada beritanya.”

”Kau bosnya, Thom.” Maggie dengan cepat meraih bolpoin dan kertas.

Aku menutup telepon setelah beberapa percakapan lagi, menyandarkan punggung di kursi, dan membuka jaringan internet di telepon murah meriah itu. Cukup memadai, layarnya cukup besar, dan koneksi internetnya cukup cepat. Aku memasukkan nama dan kata sandi e-mail, membuka laporan awal dari Kris yang di-forward-kan Maggie.

E-mail dari Kris ada di antara ratusan e-mail lain yang belum sempat kubuka sejak konferensi di Hong Kong. Aku mengunduh berkas yang dikirim Kris. Dia melampirkan 15 halaman dokumen dengan proteksi kata sandi—aku membiasakan sejak lama seluruh dokumen perusahaan dikirim dengan kata sandi. Laporan Kris ini relatif pendek, tapi cukup membuatku berseru pelan, bahkan saat membaca halaman pertamanya.

”Ada apa, Thom?” Maryam menoleh. Mobil taksi yang kami tumpangi sudah memasuki gerbang bandara. Pengemudinya memperlambat laju kendaraan. Bandara padat oleh pengunjung yang baru tiba atau kembali pulang dari liburan.

”Ini gila!” Aku menggeleng, mengusap rambut.

Aku sudah menduga laporan awal itu akan menyebut namanama penting, dengan pola kasus hukum yang pernah melibatkan mereka. Tapi aku tidak menyangka laporan itu akan menulis hampir seluruh nama-nama penting, pejabat tinggi negeri ini.

Meskipun dari analisis jutaan data, bekerja berjam-jam dengan komputer, mencari pola, Kris membuat laporan itu mudah dibaca. Dia meringkas semuanya dalam sebuah laporan grafis, sistematis, dan sederhana. Ada lima hierarki yang dibentuk Kris, mulai dari level paling tinggi jaringan tersebut—dalam laporan Kris menggunakan istilah ”ring pertama” alias paling penting. Berisi sekitar dua puluh kotak, separuh kotak itu sudah berisi nama, separuh lain masih kosong. Membaca halaman pertama itulah yang membuatku mengusap pelipis. Nama tiga petinggi kepolisian yang muncul tadi malam di konferensi pers ada di kotak-kotak ring pertama. Juga nama lima petinggi partai yang paling kencang suaranya meminta klien politikku didiskualifikasi. Kris membuat garis-garis konektor atas kotak-kotak itu, yang menjelaskan kelompok dan subkelompok. Semua ditulis dengan detail hingga ”ring lima”, yang berisi lebih banyak nama meskipun dengan posisi lebih rendah, seperti pejabat pemerintahan di daerah, birokrat kelas bawah, bintara polisi, jaksa muda, hakim junior, dan pengusaha tidak terkenal lainnya.

Hanya lima halaman yang berisi nama, sepuluh halaman terakhir hanya lampiran, berisi daftar lengkap kasus yang pernah melibatkan kata kunci yang kuberikan tadi malam kepada Kris, ”Liem”. Aku menghela napas dua kali saat memeriksa satu per satu lampiran tersebut. Helaan napas pertama untuk pola yang terlihat. Helaan napas kedua, karena menyadari betapa banyaknya kasus hukum Om Liem selama ini. Nyaris di setiap kasus yang melibatkan Om Liem, beberapa nama di ring pertama muncul, mulai dari penyidik, pihak kejaksaan, dan hakim. Nama itu muncul sejak dua puluh tahun lalu, sejak mereka masih di posisi lebih rendah.

Aku bergumam setengah tidak percaya membacanya. Mereka jangan-jangan sengaja membentuk ”satuan khusus” untuk menangani kasus Om Liem—dan itu pasti tidak murah harganya. Mataku berhenti di kasus nomor 22, halaman 9 lampiran yang disertakan Kris, tertulis Proyek Pembangunan Pusat Olahraga Nasional. Perusahaan properti Om Liem yang menjadi pemenang tender proyek tersebut. Dari analisis atas tiga ribu lebih artikel, berita di media massa dan data lain terkait kasus ini, termasuk celetukan komentar di dunia maya dan data internal yang didapatkan Maggie, nyaris semua nama di ring pertama muncul, bukan hanya aparat penegak hukum, tapi juga namanama lain. Mataku membesar, membaca nama lima petinggi partai politik itu. Mereka muncul sebagai anggota DPR, anggota komisi yang terkait, dan badan anggaran yang menyetujui proyek itu.

Aku mengepalkan tinju.

”Ada apa, Thomas?” Maryam bertanya lagi.

Aku mendengus. Lihatlah, mereka bergaya sekali muncul di televisi sejak semalam, bicara tentang antikorupsi, berwajah manis tanpa dosa, merasa paling suci, padahal mereka sendiri adalah pelaku sekaligus bagian dari jaringan tidak terlihat mafia hukum. 

”Kau masih ingat kasus Proyek Pembangunan Pusat Olahraga Nasional yang sempat ramai lima tahun lalu, Maryam?” Aku menoleh ke sebelah.

”Tentu saja. Semua orang tahu itu. Hanya beberapa orang yang dipenjarakan atas kasus besar itu, sisanya gelap, seperti sudah selesai. Aku pikir beberapa orang yang dipenjara itu hanya dikorbankan untuk melindungi belasan nama lain

”Tepat sekali, Maryam,” aku mengangguk, ”karena terlalu besar dan rapatnya konspirasi yang ada dalam proyek itu. Kau ingat beberapa anggota DPR yang tetap lolos tidak pernah diperiksa? Padahal berkali-kali disebut banyak pihak, termasuk oleh rekannya yang lain saat proses pengadilan, yang telah dihukum, bahwa nama-nama itu juga diduga menerima uang suap?”

”Ya, KPK hingga hari ini tidak memiliki bukti yang cukup untuk menuntut mereka,” Maryam menjawab, menatapku ingin tahu. ”Sebenarnya ada apa, Thomas? Kau terlihat amat bersemangat?”

”Kita akan memberikan pukulan balasan, Maryam. Lebih mematikan dibanding yang telah mereka lakukan. Nah, kau bilang kau akan melakukan apa yang kuminta, bukan?”

Maryam mengangguk, meski belum mengerti arah percakapan.

”Bisakah kau menghubungi siapa saja, agar aku bisa melakukan audiensi diam-diam dengan lima pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi hari ini juga? Aku ingin mereka berlima hadir. Aku akan memberikan mereka bukti yang selama ini mereka butuhkan untuk membuka kembali kasus lama itu. Kesaksian seseorang yang tidak bisa dibantah lagi. Bukti-bukti yang akan menjerat banyak orang. Laporan yang dikirim Kris bisa menjadi peta bagi kasus ini. Sekali kasus ini dibuka, maka seperti api membakar semak belukar kering, dia akan merambat jauh ke mana-mana.”

Maryam berpikir sejenak. ”Itu tidak mudah, Thom. Ini hari libur, apalagi kau meminta kelima pimpinan komisi sekaligus hadir. Tetapi, baiklah, akan kukerjakan sebaik mungkin setiba di Jakarta, mengontak beberapa orang.”

”Terima kasih, Maryam. Itu akan sangat membantu.” Aku sekali lagi mengepalkan tinju.

Lima petinggi partai itu, yang sejak semalam mengotot memaksakan diskualifikasi atas klien politikku dari konvensi adalah orang pertama yang harus segera disingkirkan, agar proses konvensi di Denpasar bisa berlangsung lebih mulus. Mereka sudah telanjur senang, merasa di atas angin, tidak akan menduga ada yang bisa menusuk dari belakang di momen sepenting ini. Sementara nama-nama lain di daftar ini bisa diurus kemudian.

Taksi akhirnya tiba di lobi keberangkatan bandara. Aku membayar ongkos dan tip kepada pengemudinya—uang pinjaman dari Johan.

Saatnya kembali ke Jakarta, menumpang pesawat Hercules yang sudah parkir gagah di sebelah pesawat komersial lainnya, menunggu kami. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊