menu

Negeri di Ujung Tanduk Bab 05: Tidak Ada Demokrasi untuk Orang Bodoh

Mode Malam
Bab 05: Tidak Ada Demokrasi untuk Orang Bodoh
AKU memutuskan meninggalkan pelabuhan Makau. Karena Opa memaksa Kadek menemani sarapan, aku yang mengemudi-

kan kapal. Tidak masalah.

Tanganku mantap memegang kemudi. Suara mesin terdengar menderum halus. Aku menggerakkan kemudi ke kanan, perlahan menggeser lambung kapal menjauh dari bibir dermaga. Jangkar sudah dilepas Kadek beberapa detik lalu—setelah dia menyiapkan meja sarapan.

”Maaf kalau ini jadi sedikit menyebalkan, eh maksud saya mengganggu.” Gadis wartawan yang berdiri di sebelahku bergegas menyiapkan bahan wawancara. Jari tangannya menekannekan peranti layar sentuh, membuka berkas, dan mengaktifkan perekam suara.

”Ternyata benar, mengejar jadwal Anda tidak mudah. Aku tiba di Singapura dua hari lalu, berusaha menemui Anda di ruangan transit, hanya untuk mendapatkan kabar Anda sudah menumpang pesawat menuju Hong Kong. Aku segera menyusul, tiba di lokasi konferensi itu, dan lagi-lagi menemukan ruangan kosong. Maggie, sekretaris Anda, sama sekali tidak membantu. Dia hanya bilang Anda pergi ke Makau. Aku terpaksa semalaman memeriksa seluruh hotel untuk menemukan di mana Anda menginap. Tadi pagi tiba di hotel kasino itu, lagi-lagi terlambat, petugas memberitahu Anda sudah pergi ke pelabuhan.” Aku tersenyum—meski tipis saja, mengangguk, tidak masalah. Setidaknya tersenyum sopan menghargai. Menilik ceritanya, dia pasti bersungguh-sungguh mengejar jadwalku. Mood-ku juga jauh lebih membaik, memegang kemudi kapal pesiar. Mengeluarkan angsa besar ini dari dermaga selalu membuatku lebih

rileks.

”Siapa namamu?” aku bertanya santai, memeriksa layar kemudi.

”Eh?”

”Kau tidak akan memperkenalkan diri terlebih dulu sebelum wawancara dimulai?”

”Oh, maaf.” Gadis itu dengan gerakan sedikit patah-patah menurunkan peranti layar sentuh di pangkuan, menjulurkan tangan. ”Maryam.”

”Aku Thomas. Kau bisa memanggilku Thomas.” Aku mencoba bergurau, menerima uluran tangannya.

”Tentu saja aku tahu nama Anda, Thomas.” Gadis itu tidak tertawa. Suaranya datar. Dia memperbaiki posisi berdirinya, menatap ke luar kapal. ”Ini benar-benar tugas gila yang pernah kudapatkan dari pemimpin redaksi selama bekerja di sana dua tahun. Aku hanya punya waktu 48 jam menyiapkan seluruh materi, melakukan riset, menyusun daftar pertanyaan, termasuk mengejar jadwal Anda, membeli tiket, berpindah pesawat, sekaligus mengepak pakaian.”

”Itu berarti kau yang terbaik.” Aku mengangkat bahu. ”Eh?” Gadis itu menatapku.

”Ada banyak wartawan di kantor majalah mingguan kalian, bukan? Salah satu majalah terkemuka. Jika mereka mengirimkan wartawan yang baru bekerja dua tahun, sepertinya juga wartawan paling muda, itu berarti kau yang terbaik.” Aku tersenyum, mencoba berbaik hati basa-basi mengawali percakapan. Sementara tanganku kokoh memegang kemudi, kapal pesiar mulai meninggalkan garis pantai Makau, membelah ombak yang semakin besar. Langit di luar sana terlihat gelap. Opa dan Kadek asyik sarapan di kabin tengah.

”Bukankah demikian?”

”Tidak juga.” Gadis itu menggeleng, nada suaranya sedikit ketus. Dia merapikan ujung poni rambutnya. ”Mereka sengaja mengirimku karena semua orang tahu Anda suka mengolok-olok wartawan sepertiku saat wawancara. Jika diwawancara oleh wartawan senior, apalagi jika itu laki-laki, Anda lebih tertutup, menjawab pendek-pendek, bahkan tidak mau berkomentar. Jadi mereka memutuskan mengirimku, berharap Anda akan lebih terbuka, lebih banyak menjawab pertanyaan, dan selalu merasa dominan, superior, senang sekali menunjukkan lebih tahu, lebih pintar, meskipun harga yang harus kuterima adalah diolok-olok, dianggap bodoh.

”Jadi, inilah yang sedang kulakukan, tugas gila yang pernah kudapatkan. Lebih gila lagi, aku mau saja melakukannya, mengejar jadwal superpadat Anda ke Singapura, lantas ke Hong Kong, pindah lagi ke Makau, dan sekarang kembali menuju Hong Kong. Aku bukan yang terbaik, hanya yang paling bodoh.” Senyumku terlipat, tidak menyangka gadis wartawan yang satu ini akan menjawab selugas itu. Dia berbeda, amat berbeda

bahkan.

***

”Kalian tidak sarapan dulu, Tommi?” Opa untuk kesekian kali bertanya, suara seraknya terdengar berseru dari kabin tengah.

”Tidak, Opa, aku sedang mencoba kemudi otomatis kapal.” Kapal pesiar melaju stabil membelah ombak. Kami sudah se-

paruh perjalanan dari Makau menuju Hong Kong, perjalanan lima puluh menit. Gerimis turun di luar, menerpa kaca-kaca kapal, membuat lukisan air.

”Ayolah, kalian tidak akan menyia-nyiakan masakan lezat Kadek, bukan? Kepitingnya bukan main. Kau bisa meninggalkan Tommi dengan mainan barunya, Maryam. Wawancara bisa dilanjutkan saat tiba di Hong Kong, bukan?”

”Terima kasih, Pak.” Gadis wartawan di hadapanku ikut menggeleng. ”Daftar pertanyaanku masih panjang dan harus diselesaikan segera.”

”Astaga?” Opa menepuk dahinya, menatap Kadek di hadapannya. ”Orang tua ini semakin lama semakin tidak mengerti dunia anak muda. Lihatlah, kita berdua menghabiskan sarapan lezat, mereka berdua entah sedang mengobrol apa. Satu sibuk dengan kapal, satu sibuk dengan alat di tangan, mencatat-catat, sibuk bekerja, seolah dunia akan kiamat dalam hitungan menit. Waktu aku muda seusia kalian, aku jelas lebih memilih menghabiskan kepiting lezat ini. Urusan lain nanti-nanti saja.”

Kadek tertawa pelan. Tanpa sengaja saus muncrat ke taplak meja saat tangannya merekahkan cangkang kepiting.

Aku tidak terlalu mendengarkan obrolan Kadek dan Opa di kabin tengah. Aku sedang asyik mencoba kemudi otomatis kapal, memeriksa layar yang dipenuhi angka dan navigasi canggih. ”Apa pertanyaanmu tadi?” Aku menoleh. ”Oh iya, soal pendidikan demokrasi. Well, menurutku itu sudah jelas. Tidak ada

demokrasi bagi orang-orang bodoh.

”Bagaimana mungkin kita akan memercayakan keputusan pada orang yang tidak mengerti apa yang sedang mereka pilih atau putuskan? Atau yang lebih ekstrem lagi, mereka berkepentingan atas keputusan tersebut.”

”Anda tidak akan bilang demokrasi bukan cara terbaik, bukan?” Maryam memotong. ”Menjadi antitesis bagi mayoritas sistem pemerintahan dunia saat ini?”

”Tentu saja tidak.” Aku tertawa. ”Frankly speaking, demokrasi jelas cara terbaik untuk mencari uang. Misalnya, kau seorang konsultan politik. Atau kau pemilik bisnis, perusahaan raksasa, konsesi pertambangan, perkebunan, dan sebagainya. Karena jelas lebih mudah menyumpal, membeli, eh maksudku dalam bahasa halusnya: menanamkan investasi pada pemerintahan yang dipilih rakyat dibanding memelihara rezim diktator dengan preferensi terbatas.”

”Lantas di mana relevansinya antara bodoh dan demokrasi?” Gadis di hadapanku mendesak, suaranya sedikit tidak sabaran. ”Bukankah Anda tahu kalau suara rakyat adalah suara Tuhan, di mana letak bodohnya?” Aku kembali memegang kemudi, mengembalikan sistem kemudi manual. ”Baiklah, akan aku berikan ilustrasi. Sepertinya pembaca majalah review kalian lebih suka penjelasan yang lebih mudah.

”Nah, kita bayangkan saja ada sebuah perkampungan. Kampung itu dikelilingi sungai besar. Satu-satunya akses keluar adalah jembatan beton yang dibangun berpuluh-puluh tahun lalu oleh pemerintah pusat. Pada suatu hari, salah satu penduduk yang sedang mencari ikan di sungai melihat ada yang ganjil dengan jembatan itu. Fondasinya yang terbenam di air terlihat retak. Karena dia adalah sedikit di antara penduduk kampung yang memiliki pengetahuan tentang konstruksi, dia bergegas mengusulkan pada kepala kampung agar jembatan itu direnovasi. Mendesak, sesegera mungkin.

”Masalahnya, tidak murah memperbaiki sebuah jembatan. Seluruh warga dikumpulkan di balai kampung. Semua orang diminta pendapatnya. Demokrasi. Pertanyaannya adalah apakah mereka segera memperbaiki jembatan itu dengan menggunakan iuran warga atau menunggu pemerintah pusat yang entah kapan baru bisa memperbaikinya. Itu pendekatan mengambil keputusan yang fatal sekali, bukan? Meskipun seluruh dunia bilang itu cara terbaik: demokrasi.

”Karena mereka tidak paham konstruksi sipil, mereka tidak mengerti tentang standar keselamatan, maka mereka berdebat hanya setahu dan menurut perasaan saja. Dan lebih dari itu, tidak banyak warga yang bersedia memberikan iuran perbaikan jembatan. Mereka berkepentingan atas implikasi keputusan tersebut, lebih baik uangnya untuk keperluan lain. Berdebat hingga malam, ketua kampung memutuskan mengambil keputusan dengan suara terbanyak. Bisa ditebak hasilnya, suara menolak menang mutlak. Palu diketukkan di meja. Perbaikan ditunda. Selesai.

”Tiga minggu berlalu, di suatu pagi yang cerah, saat warga sedang banyak-banyaknya melintas di jembatan itu, anak-anak berangkat sekolah ke kampung lain, jembatan itu tiba-tiba runtuh. Tiga mobil angkutan pedesaan langsung meluncur deras bersama kepingan beton. Lima belas anak meninggal ditelan sungai, tertimpa batu, terjepit. Lima anak lainnya meninggal saat dibawa ke rumah sakit terdekat. Benar-benar harga mahal yang harus dibayar dengan ’suara terbanyak’, bukan?”

Aku menghela napas, diam sejenak, menatap gadis wartawan yang juga diam sejenak. Jemari tangannya yang sejak tadi sibuk mencoret-coret berhenti.

”Apakah demokrasi sistem terbaik yang diberikan Tuhan? Difirmankan Tuhan dalam kitab suci? Jelas tidak. Demokrasi adalah hasil ciptaan manusia. Dalam catatan sejarah, sistem otoriter absolut juga bisa memberikan kesejahteraan lebih baik. Tuhan hanya memerintahkan kita memberikan sebuah urusan kepada ahlinya. Silakan cek banyak kitab suci. Hanya itu. Tidak ada model pemerintahan apalagi demokrasi dalam ajaran kitab suci. ”Apakah suara terbanyak adalah suara Tuhan? Omong kosong.

Berani sekali manusia mengklaim sepihak, fait accompli suara Tuhan. Coba kaubayangkan sebuah kota yang dipenuhi pemabuk, pemadat, mereka mayoritas, maka saat undang-undang tentang peredaran minuman keras dan ganja disahkan melalui referendum warga kota, otomatis menang sudah mereka. Bebas menjual minuman keras di mana-mana, mabuk-mabukan di mana pun. Juga masalah lain seperti pernikahan sesama jenis, kebebasan melakukan aborsi bayi. Bahkan dalam kasus ekstrem, jika mayoritas penduduk kota sepakat pembunuhan adalah tindakan legal, maka di mana suara Tuhan?”

”Apakah kau sekarang peduli isu moralitas?” gadis itu bertanya lagi.

”Aku tidak peduli soal isu moral. Ini seperti déjà vu, Maryam. Baru kemarin sore ada orang yang bertanya soal ini padaku di konferensi. Percayalah, orang-orang seperti kami justru menikmati sistem demokrasi. Aku tidak peduli dogma moralitas. Itu urusan masing-masing. Tapi poin yang ingin aku tekankan jelas sekali, tidak ada demokrasi bagi orang-orang bodoh. Lebih jelas lagi, tidak ada demokrasi bagi orang-orang yang berkepentingan. Dia menjadi kontra argumen atas sistem itu sendiri.

”Aku hanya peduli dengan komoditas apa yang paling efektif dijual pada pemilih dengan pengetahuan mereka yang terbatas. Apakah itu isu moralitas, apakah itu sebuah prinsip yang baik, atau apakah itu hanya sejenis emosional keberpihakan saja. Komoditasnya bisa berupa apa saja, sepanjang dibeli oleh pemilih dengan tingkat pendidikan politik mereka. Hanya itu.”

Aku diam sejenak, memandang langit gelap di kejauhan. Gedung-gedung tinggi Hong Kong sudah terlihat, samar oleh kabut. Beberapa burung camar terbang melintas. Suaranya melengking tajam. Laju kapal yang kukemudikan stabil. Opa dan Kadek bahkan bisa menikmati sarapan tanpa goyangan berarti. ”Apakah prinsip itu yang dipahami saat Anda memberikan jasa konsultasi?” Maryam bertanya lagi, dia sepertinya sudah tiba

di bagian paling penting.

”Sejak Maggie bilang kalian hendak melakukan wawancara, aku tahu kalian pasti akan bertanya lebih banyak tentang unit baru dalam perusahaan konsultanku, bukan?” Aku tertawa. ”Baiklah, akan kujawab banyak hal sebelum kau bertanya. Tugas kami sebagai konsultan strategi jelas, Maryam, yaitu memenangi pemilihan. Kami dibayar mahal untuk tugas itu. Jadi apa pun caranya, entah itu dengan manuver politik kelas tinggi, strategi komunikasi sophisticated, atau pencitraan level atas, sepanjang berhasil menarik pemilih, semua sah-sah saja dilakukan. Bahkan hingga rekayasa kasar menjatuhkan lawan, meskipun tidak banyak konsultan politik yang mau mengakui cara kotor ini, memilih bermuka dua, atau berusaha tampil seperti anak baik di mana-mana.

”Apakah kalian juga melakukan hal yang sama?”

Aku tertawa lagi. ”Belum. Semoga tidak pernah. Fondasi kami adalah perusahaan konsultan keuangan, Maryam. Sebagai perusahaan konsultan modern, kami selalu punya pendekatan ilmiah atas segala isu yang ada. Tetapi jika lawan politik kami melakukan hal tersebut kepada kami, aku tidak tahu, boleh jadi mereka harus bersiap berhadapan dengan sisi lain dari perusahaan ini. Saat membuka unit bisnis baru tersebut, aku tahu persis risikonya, dan bersiap atas kemungkinan terburuk.

”Kau wartawan politik, Maryam, jadi pasti tahu sejarah politik dunia. Kau pasti tahu cerita Brutus menusuk Julius Caesar dalam sebuah konspirasi politik besar. Sejarah kelam itu akan selalu diingat siapa pun yang memasuki gelanggang politik. Karena hingga hari ini, kita tetap hidup di alam yang sama atas kejadian tersebut: kerakusan politik. Bedanya, pemain politik hari ini tidak membawa pisau ke mana-mana. Mereka membawa amunisi lain yang boleh jadi lebih kejam dan mengerikan untuk menjatuhkan pesaingnya. Mereka memiliki banyak wajah, memasang wajah manis di depan, tapi di belakang siapa tahu. Tidak ada teman abadi dalam bisnis ini.

”Unit baru perusahaan konsultan kami belum genap satu tahun, tapi kami secara telak sudah memenangi dua pemilihan gubernur. Itu mengubah konstelasi politik nasional. Kompetisi politik ternyata bisa dimenangkan dengan kalkulasi cermat. Tidak lebih seperti sedang berhitung strategi keuangan atau investasi portofolio—yang jelas adalah kompetensi terbaik milik perusahaan konsultan kami.

”Saya tahu, pemimpin redaksi review mingguan kalian tertarik atas fakta tersebut. Apalagi, salah satu klien paling penting kami juga bertarung dalam konvensi partai politik terbesar negeri ini. Hari ini Jumat, tiga hari lagi, Senin, konvensi partai tersebut akan mengumumkan secara resmi siapa yang akan menjadi kandidat calon presiden partai mereka. Pertanyaan besar wawancara ini adalah siapa yang akan menjadi calon presiden partai tersebut di pemilihan tahun depan, bukan? Jawabannya mudah, di edisi spesial kalian lusa, pasang saja besar-besar foto klien kami. Dia akan memenangi konvensi itu. Kami sudah menguasai dua pertiga lebih suara pengurus partai. Dia akan menjadi calon kuat partai paling besar. Dia calon presiden paling serius negeri ini. Tidak akan ada yang bisa menghentikannya.

”Kami memiliki kemasan paling menarik, bersih, muda, sederhana, dan tidak ada kaitannya dengan masa lalu. Kandidat kami juga memiliki profil paling diterima pemilih di antara calon presiden lain. Keberhasilannya menjadi wali kota, kemudian sukses menjadi gubernur adalah catatan prestasi yang tidak bisa dibantah siapa pun. Aku pikir, kau bahkan termasuk yang akan memberikan suara pada kandidat kami saat pemilihan presiden tahun depan, bukankah demikian, Maryam?”

Aku menyibak anak rambut yang berantakan ditiup angin laut. Bibir pantai Hong Kong sudah terlihat jelas, menyusul gedung pencakar langitnya yang sejak tadi samar di antara mendung dan gerimis. Beberapa burung camar terbang di atas kapal, suara melengkingnya bercampur suara angin kencang teluk.

”Sepertinya wawancara kita sudah selesai, Maryam.” Aku tersenyum, menoleh pada gadis wartawan yang sejak kalimat terakhirku tadi terdiam. Entah sedang mencerna, atau boleh jadi sedang senang—karena aku menjawab banyak hal secara gamblang bahkan sebelum ditanya. ”Nah, aku harus membawa kapal ini merapat di dermaga. Karena aku hendak mencoba beberapa manuver, sebaiknya kau bergabung dengan Opa dan Kadek di meja makan. Opa tidak pernah berbohong. Masakan Kadek paling lezat, apalagi kepitingnya. Kau bisa sarapan sambil menunggu kapal ini merapat penuh di dermaga.”

Meski sepertinya dia masih memiliki beberapa daftar pertanyaan, gadis itu terlihat berpikir sejenak, memeriksa peranti layar sentuh di tangannya, akhirnya mengangguk.

”Terima kasih atas jawaban yang Anda berikan.” Aku mengangguk. Tidak masalah.

”Aku akan mengirimkan artikelnya sebelum naik cetak, akan kusiapkan dalam perjalanan kembali ke Jakarta. Semoga Anda bisa segera memberikan persetujuan atas artikel tersebut.”

Gadis itu membereskan peralatannya. Meraih tas di lantai, beranjak ke kabin tengah.

”Hei, kau bisa berhenti memanggilku dengan sebutan Anda, Maryam. Panggil saja kau atau Thomas, itu lebih nyaman didengar.”

Gadis itu mengangguk. ”Baik, akan kupanggil Thomas.” ”Dan hei lagi, selezat apa pun kepiting Kadek, jangan lupa

sisakan sedikit untukku.” Aku kembali berseru pelan, membuat langkah gadis wartawan itu terhenti.

Dia menoleh, tertawa—tawanya untuk pertama kali. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊