menu

Negeri di Ujung Tanduk Bab 04: Kapal Pesiar Baru

Mode Malam
Bab 04: Kapal Pesiar Baru
BADANKU terasa remuk, jadi tidak sempat memperhatikan betapa mewah kamar hotel yang disiapkan klub petarung untukku menginap malam ini. Sudah pukul dua belas malam saat aku akhirnya bisa sendirian masuk kamar. Aku berendam sebentar di air hangat, berganti pakaian tidur, lantas terkapar kelelahan di atas ranjang empuk.

Sungguh menyebalkan saat aku sudah terlelap, membutuhkan semua istirahat, telepon genggamku justru bergetar. Siapa pula pukul tiga dini hari menelepon? Aku menyambar bantal, menutupkannya ke kepala. Berharap si penelepon menyerah sekian lama panggilannya tidak kujawab. Sialan. Nada getar telepon genggamku tidak menunjukkan akan berhenti. Kenapa pula aku lupa mematikan telepon genggamku agar tidak ada yang bisa mengganggu, seperti mencabut sakelar telepon kamar, memasang tanda ”do not disturb” di pintu kamar.

Baiklah, aku menyerah, melempar bantal ke sembarang arah, beringsut mengambil telepon genggam di atas meja. Kalau tidak darurat, tidak penting, siapa pun orang ini, dia harus membayar mahal atas teleponnya.

”Selamat malam, Pak Thom.” Suara khas itu terdengar empuk, riang sekali.

Aku mengeluh, berseru ketus, ”Kadek! Kau tahu ini jam berapa?”

”Jam tiga lewat lima belas menit, dini hari, Pak Thom.” Kadek tertawa, sama sekali tidak merasakan intonasi marah dalam suaraku. ”Posisi tiang eh saya maksudnya, saat ini ada di 22° 16′ 42″ Lintang Utara, 114° 9′ 32″ Bujur Timur. Tiang yakin, Pak Thom tahu sekali di mana itu, bukan?”

Seruan marahku tertahan. ”Hong Kong? Kau ada di Hong Kong?”

”Tepat sekali, Pak Thom. Kapal baru saja memasuki pelabuhan Hong Kong. Ini tiang sedang merapatkan kapal, bergegas menelepon seperti perintah Pak Thom minggu lalu. Segera beri kabar jika kapal sudah siap. Bukankah begitu, Pak Thom?”

”Kau, kau membawa kapal itu ke Hong Kong, Kadek?” Demi mendengar kalimat terakhir Kadek, intonasi suaraku kembali normal, duduk di atas kasur, melupakan sejenak rasa sakit di badanku. Ini kabar baik.

”Awalnya tidak begitu, Pak Thom. Tadinya saya hendak membawa kapal ke dermaga Sunda Kelapa. Tetapi ada seseorang yang memaksa saya menuju ke sini dua hari lalu, bertemu langsung di galangan kapal, dan saya tidak bisa menolaknya. Beliau bilang mau bernostalgia. Nah, ternyata beliau sudah bangun.” Kadek tertawa, menyapa seseorang. ”Pak Thom mau bicara? Sebentar, saya serahkan telepon satelitnya.”

”Halo, Tommi.” Suara tua yang amat dekat dalam kehidupanku itu terdengar serak, tapi intonasinya tidak bisa salah lagi, seperti biasa terdengar lapang penuh sukacita.

”Halo, Opa.” Aku tertawa senang, balas menyapa. ”Kau masih terjaga larut malam seperti ini, Tommi?”

”Aku sudah tidur nyenyak, Opa. Telepon Kadek yang membangunkanku. Kalau saja dia tidak memberitahu kabar baik, dia kuturunkan pangkat jadi koki kapal selama-lamanya.”

Opa ikut tertawa. ”Ah, kaumaklumi saja dia. Sudah terlalu lama tidak memegang kemudi kapal. Sejak memasuki Laut Cina Selatan dia bahkan tidak sabaran hendak menghubungimu, melapor ” Opa diam sejenak. ”Sebenarnya termasuk orang tua ini

juga, Tommi. Terus terang aku tidak bisa tidur, tidak sabaran terus melihat gelapnya lautan, hafal setiap formasi bintang, mengenang perjalanan masa lalu. Berharap segera tiba di Hong Kong. Ini kejutan yang menyenangkan, bukan?”

Aku tertawa, mengangguk. Tentu saja ini kejutan yang hebat. Sejak kejadian besar setahun lalu aku kehilangan kapal pesiar kesayanganku, hadiah ulang tahun dari Opa. Tidak ada kabar, tidak ada berita, Pasifik, kapal pesiar lama milikku tersebut tidak pernah lagi ditemukan. Hilang ditelan perairan paling lengang, tidak bertuan.

Aku memutuskan membeli kapal baru—sebenarnya Opa yang membelikan, dialah pemilik imperium bisnis, termasuk mengambil alih konglomerasi milik Om Liem sekarang. Meski perusahaan konsultanku besar, penghasilannya tetap tidak cukup untuk membeli sebuah kapal pesiar. Enam bulan lalu, saat mengunjungi rumah peristirahatan Opa di Waduk Jatiluhur, Opa menawarkan kapal tersebut, memberikan brosur dengan foto dua model mutakhir. Itu kapal yang sama baiknya dengan Pasifik, dibuat di galangan kapal nomor satu Eropa, stylish, dengan kecepatan hingga 40 knot, paling cepat untuk ukuran kapal sepanjang 20 meter.

Minggu lalu, Kadek, kapten kapal Pasifik sebelumnya, salah satu orang kepercayaanku, mengambil kapal itu dari galangan, langsung menuju ke Jakarta, tetapi sepertinya Opa telah membelokkan arah kapal. Memberikan kejutan.

”Kau sekarang ada di hotel mana, Tommi? Bermalam di tempat biasa?” Opa bertanya. Suara desau kencang angin pelabuhan terdengar dari speaker teleponku.

”Aku di Makau, Opa.”

”Makau? Astaga? Sekretarismu yang gesit itu bilang konferensimu kemarin siang ada di Hong Kong? Kau tidak sedang berjudi di Makau, Tommi? Karena tidak ada anggota keluarga kita yang suka berjudi selain pamanmu Liem. Lihat nasib dia sekarang, berakhir di penjara untuk kedua kalinya.”

Aku tertawa lagi. ”Tentu tidak, Opa. Aku tidak akan menghabiskan uang dengan cara bodoh.” Selalu menyenangkan bercakap-cakap dengan Opa—meskipun hanya lewat telepon genggam. ”Aku hanya sedang bersantai, Opa, sedikit menyalurkan hobi.”

”Hobi? Oh, bertinju itu, bukan?” ”Begitulah, Opa.”

”Alangkah jauhnya kau bertinju, Tommi. Di Makau? Apa di Jakarta sudah tidak ada lagi yang bisa kauajak saling pukul? Anak muda zaman sekarang aneh-aneh sekali hobinya. Zaman orang tua ini masih muda seperti kalian, paling hobinya hanya memancing. Kalian malah memilih bertinju? Apa asyiknya?”

Aku tertawa, mengusap rambut. ”Kita putar kemudi, Kadek! Tidak jadi merapat,” Opa meneriaki Kadek.

”Berputar?” Suara bingung Kadek terdengar samar dari

speaker telepon genggam.

”Iya, kita menuju Makau. Tommi tidak ada di Hong Kong. Dia berada di sana.” Opa berseru menjelaskan beberapa kalimat lagi, lantas kembali bicara padaku, ”Nah, Tommi, semoga kau tidak bangun kesiangan. Kami menuju Makau sekarang, menjemputmu. Kita bertemu di pelabuhan Makau saat sarapan, lantas kembali ke Hong Kong, bernostalgia menelusuri jalur mengungsi Opa zaman muda dulu. Itu pasti menarik. Kau mau bicara dengan Kadek lagi?”

Percakapan lewat telepon itu berakhir satu-dua kalimat kemudian.

Aku meletakkan telepon genggam di atas meja, kembali beringsut mengambil posisi tidur. Ini kejutan yang menyenangkan. Aku tidak sabaran ingin melihat kapal pesiar baru milikku— meskipun tidak untuk urusan nostalgia Opa. Menelusuri jalur mengungsi Opa puluhan tahun silam itu seharusnya dilewatkan saja. Tetapi Opa akan marah-marah dan sepanjang minggu mood-nya akan rusak kalau aku menolaknya. Dia selalu bangga menceritakan bagian hidupnya tersebut, meski itu cerita yang keseribu kalinya, persis seperti kaset tua yang diputar berulangulang. Tidak bosan-bosannya.

Aku menarik selimut, baiklah saatnya kembali tidur sejenak.

*** Pelabuhan yacht Makau.

Aku sudah membayangkan perjalanan santai yang mengasyikkan bersama Opa dan Kadek, menuju Hong Kong. Mencoba kemudi kapal baru, mencoba alat navigasi mutakhirnya, mungkin sekaligus bermanuver sebentar di pelabuhan, memeriksa setiap jengkal kapal, semua kabinnya, dapur, dan ruangan khusus yang aku pesan pada teknisi galangan kapal tersebut. Tapi ternyata, sepagi ini, jauh di negeri orang, kesibukan terus saja menguntitku.

Aku bangun pagi sekali, tanpa bantuan beker, meneriaki Theo di kamar berbeda, yang masih tertidur, bilang segera berangkat. Theo hanya bergumam tidak jelas. Aku menumpang taksi dari lobi hotel, menuju pelabuhan. Petugas loket imigrasi tidak banyak tanya, menstempel pasporku, dan bilang semoga segera kembali ke Makau. Aku berlari-lari kecil melintasi petugas pabean pelabuhan yang memeriksa kargo kapal secara acak. Kapal pesiar itu terlihat dari kejauhan, merapat anggun di ujung dermaga. Warna peraknya memantul lembut, disiram matahari pagi. Masih pukul tujuh kurang, waktu sarapan yang pas.

”Halo, Tommi.” Opa sedang membantu Kadek menyiapkan masakan spesial saat aku melangkah melintasi pintu kabin tengah. ”Nah, akhirnya pemilik kapal ini datang juga.”

Aku tertawa, memeluk erat Opa yang bercelemek. Kadek menggeleng. Dia masih sibuk menggoreng sesuatu, bilang nanti gosong kalau ditinggalkan, jadi hanya mengulurkan tangan kirinya, beradu kepal tinju denganku.

”Sejak kapan kau bisa bangun sepagi ini, hah?” Opa menepuk bahuku. ”Entahlah. Sepertinya sudah lama sekali.” Aku mengangkat bahu.

”Haiya, coba kaucium aroma masakannya, Tommi, lezat sekali, bukan?” Opa tertawa, mengabaikan jawaban sembarangku. ”Opa yakin kau datang pagi-pagi ke sini jelas bukan karena masakan Kadek yang selalu spesial. Kau semangat datang karena kapal ini, bukan? Mainan baru.”

Opa terlihat sehat. Terlihat bahagia. Gerakannya gesit.

Opa sempat dirawat dua minggu sejak kejadian besar setahun lalu itu. Bukan urusan mudah bagi kakek-kakek seusianya berendam di perairan bebas dengan pelampung seadanya selama dua jam, menunggu bantuan datang. Kabar baiknya, keluar dari rumah sakit, kondisi fisiknya maju pesat. Opa masih berjalan dengan tongkat—tapi itu tidak lebih sebagai aksesori saja. Opa bisa berlari-lari kecil tanpa alat bantu. Usianya lewat tiga perempat abad, rambutnya sudah sempurna memutih, termasuk kumis dan janggut tipis. Mata sipit Opa terlihat teduh. Kalau sedang tertawa seperti pagi ini, gurat wajah Opa terlihat amat menyenangkan—meskipun membuat matanya seperti hilang.

Saat aku tidak sabaran, bergegas hendak membalik badan, mengabaikan tawaran sarapan Opa, hendak menuju ruang kemudi, memulai memeriksa kapal baruku, si pengganggu kecil itu akhirnya tiba. Sama seperti pemburu berita lain yang kukenal selama ini, tanpa perlu merasa melewati prosedur standar, berbasa-basi mengetuk pintu, dia langsung masuk ke kapal.

”Kau mengajak teman, Tommi?” Opa yang pertama kali menyadari kehadirannya, menatap pintu palka, belakang punggungku.

”Eh?” Aku tidak mengerti, ikut menoleh. Gadis wartawan review politik mingguan itu telah tiba. Napasnya sedikit tersengal. Dua tas tersampir di pundaknya, ditambah paspor dan dokumen lain yang masih tergenggam di tangan. Dia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru, syal lembut senada di leher, celana kain berwarna hitam, dan sepatu kets putih. Rambut pendeknya terlihat riap-riap diterpa angin pelabuhan. Dia tersenyum lebar ke arah kami.

”Maaf, aku tidak tahu harus menekan tombol yang mana? Aku bahkan baru kali ini bertamu ke sebuah kapal pesiar, tidak tahu mana pintu ruang tamunya. Tidak tahu di mana belnya, jadi baiklah.” Gadis itu menyengir, lantas jemarinya mengetuk dinding palka di belakangnya tiga kali, seperti sedang mengetuk pintu rumah. ”Boleh aku masuk?”

Opa sejenak menoleh kepadaku, bertanya kedua kalinya. Aku mengangkat bahu. Sama sekali tidak mengenal gadis ini, hanya bisa menduga-duga.

”Boleh aku masuk?”

”Oh, tentu saja tidak masalah, silakan.” Opa akhirnya tertawa—Opa selalu saja rileks dengan orang asing, melangkah maju, menyambutnya.

Aku menghela napas, rencana pagiku sepertinya akan berantakan.

”Aku wartawan salah satu review mingguan terkemuka di kawasan Asia Pasifik.” Gadis itu menyalami Opa, masih tersenyum lebar.

”Wartawan? Kau sudah mengenal Thomas?” Opa bertanya ramah.

”Eh, belum.” Gadis itu menggeleng. Dia menyeka keringat di pelipis. Napasnya masih sedikit tersengal. Dia pasti berlari-lari kecil dari halaman pelabuhan, mengejar kapal pesiar.

”Belum kenal? Nah, ini menarik.” Opa tertawa pelan, menoleh padaku. ”Siapa wartawan satu tahun lalu yang sering bersama kita, Tommi? Ah, orang tua ini pelupa sekali. Aku beritahu sebuah rahasia kecil, jangan terlalu dekat dengan Tommi, karena dia bisa mengundang banyak masalah bagi perempuan mana pun, apalagi kalau itu wartawan.”

Gadis itu menatap Opa tidak mengerti, pindah menatapku.

Aku mengangkat bahu. Menyumpahi Opa dalam hati—selalu begitu, Opa selalu mudah bergurau dengan siapa pun, asal comot topik. Seperti tidak tahu tempatnya.

”Oh, bukan.” Opa menggeleng demi melihat wajah bingung gadis di depannya. ”Tentu saja bukan masalah yang kaubayangkan. Tetapi masalah yang lebih serius, seperti dikejar-kejar petugas, ditembaki, disandera, bertinju, hingga perang dan sebagainya.”

Gadis wartawan itu semakin bingung. Senyumnya terlipat.

Beruntunglah Kadek di dapur terdengar memukul-mukul kuali masaknya, berseru bilang masakannya sudah matang. Percakapan ganjil Opa jadi terputus.

”Kau sudah sarapan? Mau ikut sarapan?” Opa bertanya. ”Aku datang bukan untuk sarapan, maaf, aku harus mema-

wancarai narasumberku.” Gadis itu menggeleng atas tawaran Opa, sepertinya dia fokus sekali dengan tugasnya, lalu menoleh padaku. ”Bisa kita lakukan wawancaranya sekarang?”

”Tidak.” Aku menggeleng tegas.

”Tidak bagaimana?” Gadis itu menatapku. ”Anda sudah berjanji.” ”Berjanji?” Aku balas menatapnya bingung. Sejak kapan aku berjanji bersedia diwawancarai pukul tujuh pagi-pagi, di atas kapal, ribuan kilometer dari Jakarta, saat aku berencana santai menghabiskan waktu mencoba kapal baru ini.

”Anda lupa?” Gadis itu bergegas memeriksa tumpukan kertas di tangannya. ”Sebentar. Nah ini dia, sekretaris Anda yang sama sekali tidak ramah itu mengirimkan itinerary Anda ke Hong Kong dan Makau. Dia menyertainya dengan kalimat pendek jika aku bisa mengejar jadwal itu, Anda bersedia melakukan wawancara di mana pun, termasuk bila perlu di atas pesawat, di dalam toilet perjalanan sekalipun.” Gadis itu menarik salah satu kertas di tangannya, print e-mail dari Maggie, lalu menunjukkannya padaku.

Aku menelan ludah.

”Anda ingat sekarang?” Gadis itu tersenyum penuh kemenangan.

Aku mengusap rambut, mengeluh dalam hati. Aku tidak tahu kalau wartawan ini akan seserius itu mengejar jadwalku. Sedikit menyesal menyuruh Maggie mengirimkan e-mail tersebut beberapa hari lalu.

”Tapi tidak harus sekarang, bukan? Ini masih terlalu pagi. Kita bisa melakukannya setiba di Hong Kong.” Aku berusaha bernegosiasi.

Gadis itu menggeleng. ”Waktuku amat terbatas, aku harus segera kembali ke Jakarta nanti siang. Kami terpaksa mengundurkan jadwal terbit edisi spesial review mingguan kami dua belas jam hanya untuk wawancara ini. Aku hanya butuh waktu Anda sebentar, paling lama satu jam. Tidak lebih.”

Aku sepertinya berhadapan dengan tembok kokoh. ”Kalian bisa mengobrol sambil sarapan, bukan?” Opa menawarkan kemungkinan lain. ”Ayo Thomas, ajak tamu kita ke meja makan. Wawancara sambil sarapan akan lebih santai. Atau kau juga bisa menunjukkan kapal pesiar ini sambil mengobrol dengannya. Mari bersantai, menikmati pagi yang indah.”

Aku menoleh ke arah Opa, yang sudah melangkah menuju dapur, sementara wartawan itu masih memegang kertas berisi janjiku, menunggu jawaban.

Aku menghela napas. Menoleh ke arah Kadek yang sedang menuangkan kepiting saus tiram ke dalam mangkuk. Baiklah, sepertinya aku harus melakukan wawancara ini. Opa benar, aku bisa melakukannya tanpa harus merusak rencana pagiku. Lakukan wawancara ini di atas lautan, sekaligus mencoba kapal baruku. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊