menu

Negeri di Ujung Tanduk Bab 03: Gelar Master Politik

Mode Malam
Bab 03: Gelar Master Politik
”APA  yang  kaulakukan  sepanjang  hari  tadi  di  Hong Kong?” Theo, teman klub petarung Jakarta basa-basi bertanya

saat kami masih di taksi limusin. ”Menghadiri konferensi.”

”Oh ya? Konferensi tentang isu keuangan global? Krisis moneter?”

Aku menggeleng. ”Tentang komunikasi politik.”

”Politik?” Dahi Theo terlipat, hanya sejenak. ”Oh, aku ingat, unit baru dalam perusahaan konsultan yang kaumiliki? Kau serius melakukan ekspansi ke arah sana, Thomas?”

Aku mengangguk.

”Sejak kapan kau tertarik dunia politik, Thomas? Bukankah kau selama ini lebih suka mengurus strategi keuangan, instrumen investasi, menguasai sekali intrik dan rekayasa keuangan paling canggih?” Theo bertanya, sambil meluruskan kaki di lantai taksi limusin yang lapang. ”Atau karena kau merasa lebih mudah tipu-tipu calon gubernur, calon presiden dibanding tipu-tipu seorang eksekutif perusahaan? Cuap-cuap sedikit menyakinkan, seolah jago sekali memoles seorang kandidat untuk memenangi pilkada? Atau karena mereka tidak peduli latar belakang pendidikanmu, maka kau membuka unit bisnis itu? Menguntungkan, bukan? Mahal bayarannya. Bahkan dukun pun bisa jadi konsultan politik kudengar. Tinggal mengarang-ngarang kabar baik dan semua cerah sentosa.”

Aku mengacungkan tinju ke arah Theo. ”Enak saja kau bilang. Aku punya gelar pendidikan formal dalam bidang politik, Theo. Bahkan aku menghabiskan waktu di kelas tentang politik jauh lebih banyak dibanding kau dulu menghabiskan waktu di sekolah bisnis, drop out. Memalukan.”

Theo tertawa. ”Kau selalu licik, Thomas. Kau selalu mengungkit masa lalu itu Well, aku pikir kau dulu hanya bergurau

saat bilang sekaligus mengambil dua major. Buku-buku bertumpuk yang kaubaca. Supersibuk berpindah tempat kuliah dari satu gedung ke gedung lain. Gila dengan pelajaran.”

Theo adalah teman dekatku saat menyelesaikan gelar master bisnis di salah satu sekolah bisnis ternama Amerika. Kami bersama-sama menyewa flat dekat kampus. Aku tidak hanya berhasil menyelesaikan gelar master bisnis, tapi juga gelar master politik. Jadi kalaupun Theo drop out, tidak tahu aku mengambil dua major, tidak berhasil menyelesaikan sekolahnya, lebih asyik menghabiskan waktu di garasi mobil, memulai bisnis IT-nya, flat yang kami huni tetap menghasilkan dua gelar master. Dalam banyak hal, sejak kuliah, Theo ”meracuni” kehidupan disiplinku. Termasuk klub petarung ini. Adalah Theo pula yang membujukku ikut klub petarung di Jakarta. Dia yang suka hura-hura dengan kehidupan malam, dan aku tidak mau ikut-ikutan kegiatan mubazirnya, berhasil mencarikan kegiatan yang tidak bisa kutolak dan kami bisa menghabiskan waktu bersama. Bertarung.

”Julukan petarung yang akan kauhadapi itu Monster, Thomas.” Theo sudah kembali ke topik pembicaraan awal, membahas pertarungan, ”Orang-orang menyebutnya demikian, karena dia bertarung mirip monster. Dingin, cepat, menghabisi lawanlawannya tanpa ampun. Dia tidak peduli dengan pertunjukan yang ditonton anggota klub lainnya. Dia hanya peduli memenangi pertarungan. Dia tidak bertaruh uang. Dia bertaruh kehormatan. Siapa pun yang berhasil mengalahkannya berhak atas satu permintaan yang tidak dapat ditolak, sebaliknya, siapa pun yang dikalahkannya, tunduk atas satu request yang tidak bisa diabaikan.”

Aku mengangguk. Taksi limusin terus melaju di jalanan ramai pusat kota Makau.

”Nah bicara tentang bertaruh, aku rasa-rasanya tidak akan meletakkan koin taruhanku di namamu, Thomas.” Theo menyengir. ”Kau selalu menganggap ringan petarungan. Lihat, kau masih berpakaian rapi dengan kemeja, dasi, dan jas, sementara beberapa menit ke depan kau akan bertarung. Kau sepertinya akan dihabisi Monster tersebut.”

Aku mengabaikan Theo. Apa pula yang diharapkan Theo, jadwalku padat sejak tiba di Hong Kong larut malam kemarin. Bangun dini hari, persiapan final konferensi, lantas seharian berada di planery hall itu. Melakukan pembicaraan dengan banyak pihak sebelum dan setelah sesi presentasiku. Baru bisa leluasa meninggalkan lokasi konferensi, berangkat menuju Makau dua jam lalu, menumpang kapal cepat Hong Kong-Makau. Entahlah, ini jenis perjalanan bisnis atau jalan-jalan hobi. Taksi limusin merapat ke lobi salah satu bangunan hotel me-

rangkap kasino. Petugasnya yang berseragam rapi membukakan pintu. Gadis-gadis kasino juga mendekat, menawarkan escort menuju ruangan kasino yang menurut klaim mereka terbesar di Asia Pasifik. Theo menggeleng. Dia berjalan cepat. Aku mengikuti, sambil menepuk-nepuk ujung jas.

Kami tiba di klub itu tepat waktu, saat pertarungan pertama segera dimulai. Menurut cerita Theo, mereka punya peraturan berbeda. Jika di Jakarta ada tiga pertarungan dengan petarung yang berbeda, di sini juga ada tiga pertarungan. Hanya saja, yang memenangi pertarungan akan terus berada di dalam ring, menghadapi petarung berikutnya. Malam ini spesial, sang juara bertahan akan turun bertarung setelah dua bulan tidak memiliki lawan berarti. Dua penantang adalah anggota klub, dan penantang ketiga alias terakhir, adalah aku. ”Kau pasti menghadapi monster itu, Thomas. Jangan cemas. Dia tidak akan kalah oleh dua penantang pertama, itu semacam pemanasan ringan baginya.” Theo berseru saat pertarungan pertama baru dimulai.

Dua pertarungan berlalu cepat, dan tepat pukul sembilan malam, saat keramaian klub mencapai puncaknya, giliranku menantang sang juara bertahan tiba. Aku tidak sempat berganti pakaian. Hanya melepas jas, dasi, menggulung lengan kemeja hingga ke siku. Melempar sepatu sembarang, kaus kaki. Inspektur pertandingan berseru-seru dengan pengeras suara, memanaskan situasi, menyebut-nyebut rekorku di Jakarta. Otomatis penonton lebih antusias. Satu dua mendekat, menepuk bahuku, memberikan semangat. Aku hanya mengangguk pelan. Aku tidak mengenal mereka, wajah-wajah antarbangsa. Bahkan beberapa bahasa mereka tidak kukenal.

Tidak ada sarung tinju, tidak ada pelindung kepala yang kubawa. Hanya dengan tampilan seadanya, aku memutar badan, melangkah menuju lingkaran merah.

Penonton bertepuk tangan saat aku memasuki arena pertandingan.

Sang juara bertahan menatapku tajam. Memeriksa dari ujung ke ujung. Dia menyuruh rekan di sebelahnya melepas sarung tangannya. Juga helm yang dia kenakan. Itu tindakan sportif dari seorang petarung. Ini pertarungan bebas, tidak ada satu pihak yang diuntungkan oleh kelengkapan bertarung. Penonton bersorak-sorak semakin semangat melihat apa yang dilakukan sang juara bertahan, meneriakkan namanya.

Aku melemaskan bahu, leher, ikut menatapnya tajam. Jarak kami hanya dua langkah sekarang, dipisahkan inspektur pertandingan yang masih mengoceh dalam bahasa Portugis dialek Makau tentang pertarungan itu.

Sang juara bertahan mengulurkan tangan. ”Lee.”

Kepalan tangannya keras dan kokoh. Aku balas menyebut namaku.

”Semoga sukses, Thomas,” sang juara bertahan berkata datar. Aku balas mengangguk. Dalam jarak sedekat ini, aku baru bisa membayangkan dengan utuh orang yang akan aku hadapi dalam pertarungan lima ronde, dengan masing-masing ronde tiga menit. Dia jelas bukan monster. Wajahnya bersahabat. Postur tubuhnya tidak jauh berbeda denganku. Dia salah satu petarung paling efektif yang harus kuhadapi. Aku melemaskan bahu untuk kesekian kali, menggerakkan kaki. Jantungku mulai berdetak lebih kencang, dengus napas meningkat, tensi pertarungan segera terasa.

Hanya tinggal hitungan detik. Penonton sudah tidak sabaran. Ini selalu menjadi momen paling menarik sejak pertama kali aku bergabung di klub petarung. Setelah mencari berbagai alternatif hiburan, Theo benar, aku pasti menyukai dunia malam seperti ini. Menghabiskan waktu di kelab malam. Bukan kelab

minum, diskotik, dan sejenisnya, tetapi klub petarung.

Napasku mulai menderu pelan, berirama, dan teratur. Keringat menetes di leher. Aku menatap tajam lawanku di depan. Enam tahun lalu saat pertama kali dikenalkan dalam klub, Theo mengerjaiku dengan menyuruhku ikut bertarung seminggu kemudian. Aku diplonco sebagai anak baru, terkapar dipukuli lawan yang lebih terlatih. Tetapi itu pengalaman mengesankan. Aku merasakan atmosfer pertarungannya, tidak peduli seberapa lebam wajah dan badanku. Itu menakjubkan. Enam tahun berlalu, aku tumbuh menjadi petarung yang baik. Sama efektifnya. Malam ini aku akan menghadapi lawan paling tangguh. Tapi itu bukan masalah, dia juga menghadapi lawan paling tangguh. Aku akan menari lepas, aku akan memainkan sebuah orkestra penuh semangat malam ini. Karena itulah sesungguhnya inti sebuah pertarungan, tidak berbeda dengan pertunjukan musik menawan. Kami berhadap-hadapan. Penonton mulai berteriak serak.

Nama-nama diteriakkan. Taruhan disebutkan.

Inspektur memegang tinju-tinju kami.

”Tidak ada peraturan selain kehormatan. Tidak ada larangan, tidak ada batasan, selain bertarunglah seperti petarung sejati yang terhormat. Kau paham?” Inspektur pertandingan berseru kencang, menoleh padaku. Aku mengangguk.

”Kau paham?” Kali ini bertanya ke sang juara bertahan. Dia mengangguk.

”Bagus. Here we go, pertarungan dimulai!” Inspektur pertandingan sekali lagi berseru kencang, lantas melangkah mundur, memberikan seluruh lingkaran merah untuk kami berdua.

Memberikan panggung tempat kami ”menari”. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊