menu

Negeri di Ujung Tanduk Bab 02: Moralitas dalam Demokrasi

Mode Malam
Bab 02: Moralitas dalam Demokrasi
KONFERENSI internasional tentang komunikasi dan pencitraan politik yang diadakan lembaga riset politik terkemuka

dengan sponsor ADB, Asian Development Bank, itu digelar di salah satu hotel besar Hong Kong.

”Frankly speaking, apa Anda punya daftar dosa yang lebih serius dibanding perselingkuhan istri?” Aku mengangkat bahu, santai balas bertanya.

Separuh isi ruangan plenary hall tertawa pelan.

”Eh, lebih serius? Maksud Anda?” Penanya sesi pertama menatap bingung, dia berdiri di antara ratusan kursi yang dipenuhi peserta konferensi. Sesi tanya-jawab baru saja dibuka, dan dia di antara puluhan peserta yang semangat mengacungkan tangan, membuat moderator di sebelahku terpaksa memilih secara acak. ”Yeah, maksud saya, apakah Anda punya catatan yang lebih buruk dibanding yang baru saja Anda ceritakan. Apakah Anda pernah dipenjara? Ceritakan saja, di ruangan ini pasti banyak yang punya masalah sama, jadi tenang, mereka tidak akan tertarik cerita ke mana-mana, bisa menyimpan rahasia. Apakah Anda punya hubungan di luar nikah dengan wanita di bawah umur? Apakah Anda punya preferensi seksual menyimpang, suka sesama jenis? Maaf, misalnya, apakah Anda homo?”

Ruangan besar itu kali ini benar-benar dipenuhi tawa, tidak peduli meskipun wajah penanya sesi pertama terlihat merah padam.

”Maaf, itu hanya bergurau.” Aku buru-buru memperbaiki posisi duduk.

Moderator sesi presentasiku berbisik mengingatkan.

”Tentu saja aku bergurau, James. Hanya untuk intermezzo.” Aku menepuk lengan moderator di sebelahku, meskipun ini konferensi antarbangsa, dihadiri beragam peserta dengan kebudayaan yang lebih terbuka dan bebas, bicara tentang politik dan pencitraan pula, kalimatku barusan tetap saja sedikit berlebihan. Tetapi aku membutuhkannya untuk menjawab pertanyaan. Ini konferensi penting, strategis untuk reputasi perusahaan jasa konsultasiku, dan aku sedang mengerahkan seluruh kemampuan memengaruhiku untuk mendapatkan perhatian mereka.

”Hadirin!” aku mengangkat tangan, memasang intonasi suara serius dan bertenaga, ”Maafkan saya, tapi saya akan tegaskan di depan kalian semua, bahwa bagi kami, politik tidak lebih adalah permainan terbesar dalam bisnis omong kosong, industri artifisial penuh kosmetik yang pernah ada di dunia.

”Sebagaimana sebuah bisnis omong kosong dijalankan, kita harus berdiri di atas ribuan omong kosong agar omong kosong tersebut menjadi sesuatu yang bisa dijual dengan manis, dan dibeli dengan larisnya oleh para pemilih. Anda boleh saja tidak sependapat. Silakan. Tetapi saya dibayar mahal untuk memoles omong kosong tersebut, menjualnya, dan simsalabim, menjadi king maker, mendudukkan orang-orang di kursi kekuasaan.”

Wajah-wajah peserta konferensi kembali menatapku serius.

Aku menoleh ke sayap kanan kursi, menatap lamat-lamat penanya sesi pertama. ”Anda tadi bertanya, apakah Anda masih punya kesempatan memenangi kompetisi pemilihan umum di negara Anda dengan catatan buruk pernah memiliki skandal dalam keluarga, perselingkuhan, maka jawaban saya adalah: seberapa tangguh Anda menjalankan bisnis omong kosong itu di negara Anda.

”Mari kita lihat catatan yang ada.” Aku menarik kertas di depanku, pura-pura membacanya. ”Check! Menurut catatan ini, di seluruh dunia, hei, kita bahkan punya kepala negara yang dituduh secara serius oleh media massa telah menggelar pesta seks, mempekerjakan gadis-gadis pekerja seksual, tapi dia tetap memenangi pemilu. Saya tidak perlu menyebut negaranya, toh, kalian juga tahu negara mana yang saya maksud.” Aku melirik selintas kursi tempat peserta dari kawasan Eropa duduk, mereka berbisik satu sama lain.

”Check! Kita juga punya kepala pemerintahan yang hidup serumah dengan wanita di luar ikatan pernikahan, bangga menunjukkannya ke rakyatnya, mempertontonkan sesuatu yang boleh jadi merupakan skandal besar di negara lain, tapi atas nama demokrasi, dia justru memenangi pemilu di negaranya, dan wanita pasangan di luar nikahnya menjadi ibu negara, wanita paling terhormat di negeri tersebut. Lagi-lagi tidak perlu kusebutkan negaranya.

”Check! Kita juga punya pemimpin di sebuah negara, yang jelas-jelas mendukung kaum homo, lesbian, bahkan mengangkat menteri-menterinya dari kaum homo tersebut, dan hei, mereka tetap memenangi pemilihan umum di negaranya masing-masing. Ajaib. Mereka punya catatan lebih buruk dibanding Anda, bukan? Anda hanya punya skandal keluarga kecil. Mereka boleh jadi dibakar hidup-hidup di tungku perapian kalau hidup pada zaman dan masyarakat berbeda. Tetapi mereka tetap bisa menjual bisnis omong kosongnya! Menjadi presiden, perdana menteri. Maka, kalau Anda homo, dan Anda jago sekali menjual omong kosong Anda, di kertas yang saya pegang ini, boleh jadi besok lusa kita akan punya catatan seorang presiden homo pertama di dunia dalam zaman demokrasi modern di sebuah negara, yaitu negara Anda. Jadi kenapa tidak? Hadirin... Catat kalimat saya, kenapa tidak?”

Ruangan besar itu lengang, beberapa terdiam—juga gerakan bolpoin.

”Tapi saya tidak homo, Tuan Thomas. Sungguh.” Penanya sesi pertama menjawab pelan, mengusap pelipisnya, memecah hening—wajahnya tidak semerah padam seperti sebelumnya. Seperti halnya kebanyakan peserta konferensi, dia salah satu petinggi partai politik di negaranya, kawasan Eropa Timur.

Aku tertawa lepas. ”Tentu saja saya percaya itu.” Ruangan besar itu kembali ramai oleh tawa.

***

Aku sudah menjadi pembicara dalam berbagai konferensi sejak masih menyelesaikan sekolah bisnisku. Di berbagai kota besar, dalam banyak kesempatan, dengan peserta orang-orang penting. Satu-dua terpaksa kutolak karena alasan teknis, satu-dua karena tidak penting kuhadiri. Tetapi yang satu ini, aku justru menunggu undangannya, mengambil inisiatif mengirimkan portofolio ke panitia konferensi, melengkapi resume bahkan surat rekomendasi dari berbagai pihak. Ini konferensi besar di seluruh kawasan. Kehadiranku—sebagai pembicara salah satu sesi pendek—akan mengungkit reputasi unit baru dalam perusahaan konsultanku. Terhitung baru enam bulan aku membuka unit politik dan unit ini tumbuh dengan kecepatan menjanjikan.

Jadi saat pertama kali Maggie, staf merangkap sekretaris, masuk ke ruanganku, bilang ada e-mail konfirmasi dari panitia konferensi komunikasi dan pencitraan politik di Hong Kong itu, aku berseru nyaring, hampir jatuh dari kursi.

”Ini agak menyedihkan, Thomas.” Maggie membantuku berdiri, menepuk-nepuk kemejaku. ”Sepertinya kalau kau harus membayar mahal, kau tidak peduli akan tetap membayarnya untuk bisa tampil di konferensi ini, Thomas. Seberapa pun mahalnya, bahkan termasuk kalau harus memotong gaji kami.”

Aku tertawa menimpali, ”Tepat sekali, Meg. Kau bahkan orang pertama yang kupotong gajinya demi tampil di sana. Pegang kata-kataku.”

”Terserahlah.” Maggie memperbaiki poni rambutnya, meletakkan tumpukan dokumen yang dibawanya, ”Toh aku bisa menjual perlengkapan kantor sebelum kau melakukannya. Termasuk menjual koleksi mobil kesayanganmu. Itu tercatat sebagai inventaris kantor.”

Aku tertawa lagi, sambil membaca halaman depan dokumen yang diserahkan Maggie. ”Ini materi konferensi yang kuminta, bukan? Kau sudah menyortir hanya dokumen yang penting-penting? Aku tidak punya waktu mempelajari semuanya.”

”Aku juga tidak punya waktu mengerjakan semua request­mu, Thomas. Itu tidak ada di job desc-ku. Kau seharusnya merekrut tim riset sendiri untuk tujuan spesifik seperti ini. Aku hampir melakukan semua pekerjaan untukmu, mulai dari mengangkat telepon, mencari data, membeli tiket, dan kau membayarnya dengan gaji rendah pula, tahu.” Maggie berseru sebal.

”Karena itulah, Meg. Karena kau mau melakukannya dengan gaji rendah, aku tidak perlu tim riset lainnya.” Aku menjawab asal, mengangkat bahu.

”Ya, ya,” Maggie tidak tertarik melanjutkan gurauanku, membahas hal lain, ”aku akan segera menyiapkan tiket perjalanan ke Hong Kong. Kau jadi melanjutkan perjalanan ke Makau sorenya sehari kemudian?”

”Iya, tapi cukup kaupastikan tiket ke Hong Kong saja. Aku akan naik kapal cepat ke Makau, juga hotel, sudah disiapkan oleh mereka. Tidak perlu kausiapkan.”

”Baik, kau bosnya.” Maggie mencoret notes di tangannya. ”By the way, aku harus bilang apa soal perjalanan ke Makau ini jika ada yang bertanya? Tuan Thomas sedang bermain golf setelah seharian konferensi di Hong Kong? Atau kujawab lurus, Tuan Thomas sedang saling melukai dengan eksekutif muda lain yang terlalu banyak memproduksi hormon testosteronnya. Bertinju di klub rahasia?”

Aku tertawa. ”Kau bisa mengarang yang lebih baik lagi, Meg. Aku sedang terapi kesehatan. Kau bisa bilang ekor di pantatku tumbuh semakin panjang, misalnya.”

”Baik, akan kukatakan demikian.” Maggie menyengir. ”Satu lagi, dan ini penting, Thomas, wartawan dari review mingguan politik itu kembali menghubungi, kapan kau ada waktu untuk wawancara?”

”Tidak minggu ini.” Aku menggeleng.

”Dia memaksa, Thom. Kau tahu seperti apa kelakuan wartawan sekarang.”

”Tidak minggu ini, Meg.”

”Ini mendesak, Thom. Aduh, asal kau tahu, itu teleponnya yang ketiga sepagi ini.” Maggie tidak senang mendengar jawabanku. ”Ini jadi mirip sekali dengan siapa Nenek Lampir dulu itu? Wartawan yang kauajak ke mana-mana, kauajak bertemu menteri, jalan-jalan dengan kapal pesiar, tapi sekarang telah kaucampakkan itu? Siapa namanya dulu?”

”Tidak bisa minggu ini. Jadwalku padat.”

”Jika dia terus memaksa? Aku pusing menghadapinya, Thom.” Aku tertawa. ”Tidak minggu ini, Meg. Aku sibuk. Kalau dia tetap memaksa, kauberikan saja itinerary­ku ke Hong Kong dan Makau besok. Suruh dia mengejarku ke sana. Aku akan bersedia diwawancarai di atas pesawat, di dalam toilet perjalanan sekali-

pun. Kita lihat seberapa sungguh-sungguh wartawan ini.” ”Baik, kau bosnya.” Maggie kembali mencoret-coret notes

yang dibawanya, lantas berlalu, kembali ke ruangannya.

Aku menatap punggung Maggie hilang di balik pintu sebelum meraih tumpukan kertas materi konferensi. Dari lima puluh karyawan perusahaan konsultanku, Maggie adalah orang yang paling kuandalkan, paling kupercaya, meskipun aku harus membayarnya mahal. Bukan mahal gajinya, tapi menghadapi tabiat, caranya bekerja, dan hal-hal tidak penting lainnya. ***

Kembali ke ruangan besar tempat konferensi komunikasi politik yang diselenggarakan lembaga riset politik independen terkemuka kawasan Asia Pasifik. Masih sesi tanya-jawab—yang semakin seru dan hangat.

”Anda sepertinya lebih cocok menjadi motivator, atau guru, atau bahkan seorang juru selamat, bukan seorang politikus.” Aku mengangkat bahu, santai menjawab pertanyaan.

Ruangan besar yang dipenuhi peserta konferensi antarbangsa itu menyimak.

”Eh, tidak cocok? Maksud Anda, Tuan Thomas?” Penanya sesi berikutnya jelas terlihat bingung. Dia yang semangat melontarkan kalimat-kalimat pertanyaan, panjang-lebar, hanya ditanggapi demikian.

”Yeah, jelas sekali bukan? Kalau Anda terlalu peduli dengan isu moralitas, Anda lebih cocok mengerjakan profesi lain. Bukan seorang politikus.”

Ruangan besar itu masih diam, tatapanku berpindah-pindah, memperhatikan si penanya dan meja besar di depan tempat aku dan moderator duduk.

”Saya tidak paham, Tuan Thomas,” ujarnya menyela lagi.

Ruangan besar mulai ramai oleh bisik-bisik, menebak-nebak maksudku.

Moderator di sebelahku berbisik agar aku segera menjawabnya, waktu sesi presentasiku sudah lewat lima belas menit.

”Hadirin!” aku mengetuk meja dengan punggung jari, pelan saja, untuk mengumpulkan lantas melipatgandakan seluruh perhatian dari mereka, tersenyum simpul, ”teman kita dari Afrika Barat ini bertanya, apakah politik membutuhkan moralitas? Apakah demikian?

”Maka jawabannya tentu saja. Politik membutuhkan moralitas.”

Diam sejenak, menyapu seluruh ruangan dengan tatapan mata. ”Tetapi jelas sekali panitia konferensi ini mengundang saya sebagai konsultan strategi, seorang praktisi lapangan, bukan sebagai peneliti senior atau profesor politik seperti pembicara sebelumnya. Aku tidak cocok bicara tentang ini, tidak memiliki wisdom dan kalian sebenarnya datang jauh-jauh, membayar mahal-mahal konferensi ini tidak membutuhkan saranku mengenai isu moralitas. Bagi kalian bukankah simpel saja, bagaimana memenangi kompetisi politik, pemilihan. Titik. Maka berbeda dengan pembicara sebelumnya, izinkan saya menjelaskannya dengan cara berbeda.”

Aku diam sejenak, merasakan sensasi menguasai perhatian seluruh ruangan.

”Apakah politik membutuhkan moralitas? Hei, berapa tahun Nelson Mandela dipenjara oleh rezim kulit putih karena isu moralitas yang dibawanya? Menentang apartheid? Puluhan tahun lamanya. Apa kurangnya isu moralitas yang dibangun Nelson Mandela? Kesamaan derajat. Itu perintah kitab suci, perintah Tuhan, dikirim langsung dari surga. Lantas kenapa Nelson Mandela harus begitu lama dipenjara? Apa orang-orang di sekitarnya tidak paham betapa pentingnya isu moralitas yang dibawanya? Apa orang-orang di sekitarnya lupa? Bodoh? Tidak beragama? Kenyataannya, orang-orang di sekitarnya, bahkan termasuk yang paling keras menentang Nelson Mandela, berangkat ke rumah ibadahnya lebih sering dibanding siapa pun, membaca kitab sucinya paling banyak. Maka jawaban sesungguhnya: Karena orang-orang berhitung dengan kepentingan masing-masing, mengukur kekuatan masing-masing.

”Jika politik hanya membutuhkan moralitas, hanya perlu semalam meyakinkan orang-orang untuk mendukung Nelson Mandela. Malam ini dia bicara tentang kesamaan derajat, dan besok pagi-pagi sekali, saat matahari terbit, kita semua siap berperang, mengorbankan nyawa demi kebenaran dan keadilan tersebut, tidak peduli latar belakang, kepentingan, apalagi ukuran lainnya. Nyatanya tidak. Butuh bertahun-tahun, butuh proses panjang hingga sebuah isu moralitas dibeli orang banyak.

”Mari kita lihat kasus kedua, Mahatma Gandhi di India, berapa tahun dia memenangkan ide politiknya? Berapa banyak yang harus dibayar demi ide politik Gandhi? Apa orang-orang begitu bodohnya hingga tidak bisa segera mendukung cita-cita mulia Gandhi? Bukankah itu demi kebaikan mereka sendiri? Mari mengorbankan harta dan jiwa demi isu moralitas yang diusung politik Gandhi. Nyatanya tidak, banyak orang yang tidak membeli ide Gandhi hingga hari ini, bahkan balas menyerang dengan senjata, membunuh Gandhi, tokoh politik yang begitu mulia dalam catatan sejarah.

”Saya tidak akan bilang moralitas adalah fatamorgana indah, tidak, tapi izinkan saya bilang: moralitas sejatinya hanyalah salah satu omong kosong yang bisa dijual dalam bisnis politik. Temukan rumusnya dengan tepat, temukan resepnya dengan pas, maka itu bisa jadi senjata yang efektif memenangi sebuah kompetisi politik.

”Saya tidak akan bilang Nelson Mandela dan Gandhi berjualan moralitas dalam politiknya. Boleh jadi mereka sedikit di antara politikus yang memang memiliki niat kokoh. Tapi hei, apakah mereka manusia sempurna? Bebas dari skandal? Pasti masuk surga? Tidak. Sehebat apa pun ide moralitas yang mereka bawa, entah itu perdamaian dunia, kesejahteraan manusia, itu tetap sebuah politik. Dijual ke masyarakat luas, untuk dibeli, didengarkan, didukung. Tanpa pengikut, tanpa mesin yang melaksanakannya, ide itu kosong. Hanya kalimat-kalimat mengambang, tulisan-tulisan tergeletak. Ide politik selalu bersifat netral. Kita selalu bisa memolesnya menjadi barang dagangan yang menarik dan memiliki kepentingan.

”Lagi pula, kita semua tahu, dalam banyak kasus pemilihan pada zaman demokrasi modern, pemilih lebih sering tidak peduli dengan moralitas jika ada isu yang lebih penting. Di sebuah negara maju, lagi-lagi saya tidak perlu bilang namanya, isu moralitas seperti kepemilikan senjata, pernikahan sesama jenis, hak seorang ibu untuk menggugurkan kandungan menjadi isu moralitas yang jangan coba-coba disinggung atau kalian akan kehilangan pemilih yang signifikan. Moralitas menjadi urusan masing-masing saja, dan bisa kontraproduktif, tidak populer jika memaksakan diri. Pemilih lebih mementingkan angka-angka, ukuran kuantitatif dunia. Tingkat pengangguran misalnya, tingkat inflasi, dan angka-angka lain seperti harga kebutuhan pokok, BBM, listrik, kenaikan upah minimum dan sebagainya. Siapa yang akan bicara tentang pendidikan anak-anak telantar jika perut sendiri kosong?

”Saran saya pendek saja. Temukan hal paling menarik di negara kalian dalam bisnis omong kosong ini, sisi yang paling penting bagi pemilih kalian—termasuk jika itu memang isu moralitas, seperti pemerintahan yang bersih, gerakan antikorupsi, maka kalian akan menemukan amunisi pamungkas untuk memenangi pemilihan.”

”Tetapi bagaimana menemukan hal tersebut, Tuan Thomas? Itu lebih mudah dikatakan, tapi susah dilakukan.” Salah satu peserta memotong, tidak sabaran. Ratusan peserta lain mengangguk-angguk, sependapat dengan pertanyaan tersebut.

Aku tertawa kecil, menepuk lengan James, akademisi salah satu sekolah politik terkenal di Asia Pasifik, yang bertindak menjadi moderator siang itu. ”Well, rasa-rasanya saya harus mulai menagih biaya konsultansi atas pertanyaan ini, Kawan. Kau bisa membantu menghitung hour rate-nya?”

Ruangan besar itu dipenuhi gelak tawa peserta konferensi. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊