menu

Negeri di Ujung Tanduk Bab 01: Tinju Kanan Peruntuh Tembok

Mode Malam
Bab 01: Tinju Kanan Peruntuh Tembok
RUANGAN besar yang disulap menjadi arena pertarungan itu terlihat ramai. Seruan tertahan, suara mengaduh, suara tepisan, bunyi berdebuk, terbanting, teriakan menyemangati, hingga teriakan bersahut-sahutan memenuhi langit-langit ruangan. Satu-dua berseru dalam bahasa yang tidak dipahami bahkan oleh orang yang berdiri di sebelahnya. Wajah-wajah dan perawakan antarbangsa, wajah-wajah antusias bercampur tegang.

Udara terasa pengap meski pendingin ruangan bekerja maksimal.

Dua petarung sedang jual-beli pukulan di tengah ruangan, bertinju. Arena pertandingan tanpa ring pemisah apalagi kerangkeng tertutup. Hanya lingkaran merah di atas lantai, berdiameter dua depa. Percik keringat petarung, dengus napas, suara pukulan menghantam badan, semuanya terdengar langsung, tanpa jarak. Penonton berkerumun di sekitar lingkaran, berdesak-desakan, dan berdiri menonton. Tangan mereka terangkat menyemangati.

Ini jenis pertunjukan yang mengesankan.

Satu tinju lagi menghantam cepat rahang salah seorang petarung. Membuat penonton berseru tertahan, sebagian besar berseru girang, ”Yes!” Sebagian mengeluh, ”Oh, no!” Disusul tinju lainnya mengenai dagu, kali ini lebih telak. Sepersekian detik berlalu, penantang yang beberapa menit lalu masih terlihat segar bugar segera tumbang ke lantai. Knockout alias KO.

Pengunjung serempak berteriak kegirangan, melontarkan kebisingan.

Napas petarung satunya, yang masih berdiri kokoh di tengah arena, bahkan tidak terlihat tersengal. Hanya kausnya yang sedikit basah oleh keringat.

”Fantastico!” ”Bravo!”

Aku menelan ludah, melirik jam besar di tiang ruangan. Hanya dua menit lima belas detik lawan pertamanya dibuat tersungkur.

”Kau tidak akan berubah pikiran, bukan?” Sebuah tangan menyikut lenganku, berkata kencang, berusaha mengalahkan bising.

Aku menoleh, menatap wajah menyebalkan di sebelahku. ”Maksudku, jika kau mau, aku masih bisa membatalkan per-

tarungan. Aku bisa pergi ke mereka, mengarang-ngarang alasan. Kau sakit perut misalnya. Atau asmamu kambuh, mag kronis.” Theo mengangkat bahu, menunjuk salah satu sudut kerumunan, tempat beberapa anggota klub petarung yang bertindak sebagai inspektur pertandingan malam ini. ”Atau kita bisa mengarang cerita, tiba-tiba bisulmu pecah. ”

”Aku tidak akan membatalkan pertarungan,” aku menyergah Theo, memotong kalimatnya, ”simpan omong kosongmu!”

Theo tertawa ringan, menyeka peluh di pelipis.

Salah satu inspektur pertandingan meraih pengeras suara. Dia mengenakan pakaian kerja seperti kebanyakan pengunjung lain—hanya kemejanya terlihat berantakan, keluar dari celana, lengan dilipat, dan dasi entah tersumpal di mana. Dengan bahasa Inggris bercampur Portugis yang sama fasihnya, dia berseru tentang pertarungan yang baru saja selesai.

”Luar biasa. Pertarungan yang luar biasa, ladies and gentlemen. Well, simpan teriakan kalian. Pertarungan kedua akan segera tiba. Kami sudah menyiapkan sang penantang lokal yang telah menunggu giliran bertarung sejak enam bulan.” Wajah inspektur antusias, juga keramaian di ruangan. ”Jangan lupa, seperti yang kami sebutkan pada awal pertemuan malam ini, kami telah menyiapkan kejutan besar di pertarungan terakhir, ladies and gentle­ men. Ini sungguh kejutan hebat. Kalian pasti suka.”

Petarung yang masih bertahan di tengah lingkaran merah menolak duduk di kursi yang disediakan. Dia memilih berdiri, melemaskan bahunya. Tatapan matanya tajam, gestur wajahnya tenang. Sama sekali tidak terpengaruh situasi sekitar. Sementara penantang keduanya bersiap di tepi lingkaran. Dia memasang sarung tinju tipis dan pelindung kepala. Beberapa orang berseru menyemangati, menepuk-nepuk bahu. Detik-detik pertarungan semakin dekat. Suasana semakin panas.

”Lee! Lee!”

Nama sang juara bertahan diteriakkan beramai-ramai. ”Ladies and gentlemen, inilah petarungan kedua malam ini. Sang juara bertahan, Lee si Monster, menghadapi penantang kedua, Chow.”

Aku menelan ludah. Enam tahun mengikuti klub petarung di Jakarta, belum pernah aku menyaksikan seorang petarung begitu terkendali di hadapanku. Bukan postur badannya yang gagah meyakinkan atau gerakan tangan dan kakinya yang gesit mematikan di pertarungan sebelumnya. Sikap dan kehormatanlah yang membedakan seorang petarung sejati dengan petarung lainnya. Aku tidak tahu seberapa terhormat juara bertahan yang berdiri gagah di dalam lingkaran merah tersebut. Aku baru mengenalnya malam ini. Namun, menilik gestur wajah dan tubuhnya, dia memiliki sikap yang menakjubkan.

”Lee! Lee! Monster! Monster!”

Nama sang juara bertahan semakin keras diteriakkan. Sang penantang sudah memasuki lingkaran merah. Kedua petarung saling menempelkan tinju. Inspektur pertandingan berseru singkat tentang peraturan, mengangkat tangannya, dan memberikan tanda. Saat dia mundur, pertarungan kedua malam ini telah dimulai.

Sang penantang mengambil inisiatif menyerang terlebih dulu. Berputar-putar di tepi lingkaran merah. Kakinya lincah. Mulai mendekati sasaran, melepas pukulan. Gerakan tangannya cukup cepat. Dua, tiga, empat pukulan terkirim. Sang juara bertahan menghindari dua tinju sekaligus, tenang menangkis dua tinju lainnya. Lantas tanpa perlu mengambil kuda-kuda, dia bergerak maju, menyelinap di antara pukulan lawan, dan menghunjamkan tinju kanannya, sepersekian detik. Sebelum penantangnya menyadari betapa terbuka pertahanannya, tinju itu telah menghantam dagunya.

Ruangan terdiam, penonton menahan napas.

Sang penantang terduduk di lantai, kemudian tumbang mengaduh kesakitan.

Selesai sudah. KO. ”Yes!”

”Bravo! Sensacional!” Seruan penonton bergema di langit-langit ruangan.

Aku mengusap rambut.

”Dia benar-benar monster.” Theo untuk kesekian kali menyikut lenganku, kali ini suaranya terdengar cemas. Sepertinya tombol panik mulai aktif di kepalanya.

Aku menggeleng. Dia petarung sejati. Monster tidak bertarung dengan ketenangan luar biasa dan kalkulasi matang seperti itu. Dia bahkan bisa melihat pukulan-pukulan lawannya datang, lantas memilih pukulan balasan paling masuk akal untuk menganvaskan musuhnya dalam sebuah gerakan yang amat efisien. Tidak ada monster seperti itu, dan jelas sebutan monster tidak cocok dengan wajahnya yang bersih dan bersahabat. Dia lebih mirip bintang iklan terkemuka dibanding petarung dengan gelar monster. Sebutan itu hanya cocok dengan betapa dinginnya dia menghabisi lawan-lawannya.

”Astaga, hanya tiga puluh detik. Itu rekor KO tercepat, jangan-jangan.” Theo menatap jeri ke dalam lingkaran merah. Tempat sang penantang tergeletak beberapa detik.

Sang juara bertahan berjongkok, bersama inspektur pertandingan dan anggota klub petarung yang bertugas sebagai tim medis, membantu memeriksa apakah sang penantang baik-baik saja. Seruan-seruan semakin ramai di sekitar. Beberapa tertawa lebar karena menang bertaruh kedua kalinya malam ini.

”Kau harus hati-hati, Thom.” Theo memegang bahuku. Aku menoleh. ”Sejak kapan kau mencemaskanku?”

”Well, maksudku, aku tidak mau repot membawamu ke rumah sakit malam-malam seperti ini di negeri orang. Jadi jangan sampai kau pingsan, patah tulang, dan sebagainya.” Theo tertawa kecil.

Aku melotot. Sejak kapan Theo terlihat khawatir? Bukankah sejak tadi sore, sejak kami bertemu di salah satu restoran hotel berbintang di Makau, Theo terus-terusan tertawa, riang dengan prospek pertandingan malam ini? Hei, bukankah sebenarnya sejak tiga minggu lalu, saat dia nyatakan ide gila ini, Theo masih menganggap ini lelucon menarik?

”Kau pasti bosan dengan petarungan itu-itu saja di klub kita, Thomas?” Kami bicara ringan menghabiskan waktu setelah jam kerja. ”Nah, aku punya ide hebat, Kawan. Kau tidak akan mampu menolaknya.” Maka meluncurlah rencana itu.

Walaupun banyak yang tidak menyadarinya, hampir setiap kota besar dunia memiliki klub petarung. Termasuk kota judi terbesar di Asia, Makau. ”Anggota klub mereka ratusan orang, Thomas. Datang dari seluruh dunia. Eksekutif muda yang membutuhkan hiburan berbeda. Kau ingin bertemu petarung dari Cina, Eropa, Afrika, bahkan Amerika, mereka punya. Setiap bulan saat mereka mengadakan pertarungan besar, banyak anggota klub yang datang tidak hanya dari Makau, tapi juga dari Hong Kong, Shenzhen, Shanghai, Beijing, Tokyo, Seoul, bahkan kota-kota yang lebih jauh lagi.” Theo menjelaskan dengan semangat. Sepertinya dia telah mengerjakan tugas mencari tahu dengan baik. ”Apa kau bilang? Aku hanya dengar dari cerita orang-orang? Aku pernah dua kali datang ke sana, Thomas. Tamu kehormatan.” Theo tertawa, mengangkat bahu, menyombong. ”Aku kenal dekat pendiri klub tersebut. Mereka tidak berbeda jauh dengan klub petarung kita di Jakarta. Anak-anak muda mapan, pengusaha sukses, eksekutif papan atas perusahaan multinasional, anggota partai politik, pejabat senior pemerintahan, polisi, bahkan artis tersohor. Kau tahu bintang film kungfu yang terkenal itu? Dia juga anggota klub. Meskipun, yeah, ada perbedaan besar antara jago kungfu di film dan anggota klub petarung yang tidak pernah berani ikut bertarung. Takut wajahnya rusak dan jadwal shooting-nya berantakan. Klub mereka memiliki anggota yang lebih beragam dan lebih luas, termasuk anggota wanita. Itu Makau, Thomas. Tidak perlu kujelaskan itu tempat berkumpul uang, kekuasaan, dan seluruh gaya hidup di kawasan Asia. Termasuk tempat berkumpulnya klan hitam mafia dan sejenisnya.” Theo benar atas dua hal: pertama, ide hebatnya benar-benar gila; kedua, aku tidak bisa menolaknya. Bahkan aku menyetujuinya mentah-mentah. ”Deal, Kawan! Aku akan mempersiapkan pertarungan terbesar untukmu, Thomas. Rileks, biar aku yang mengurusnya. Mereka pasti tertarik mendengar petarung tidak terkalahkan selama dua tahun dari klub petarung Jakarta akan datang. Itu berita besar, tinggal kutambah-tambahkan bumbu, seperti tinju kananmu bisa merontokkan tembok dan sorot matamu bisa menghancurkan baja. Kita bahkan bisa menjual tiket pertunjukan.” Theo tertawa atas gurauannya—yang tidak

lucu.

Tentu saja tidak lucu. Bahkan di Jakarta, kami merahasiakan banyak hal. Tidak ada yang membicarakan klub saat bertemu di dunia pekerjaan. Tahu sama tahu. Apa pun yang terjadi di klub hanya berada di arena pertandingan. Apalagi jika celoteh Theo benar, anggota klub petarung di Makau lebih elite, lebih dalam, mereka tentu lebih berhati-hati lagi menjaga privasi dan kerahasiaan.

Tiga minggu berlalu sejak pembicaraan itu, aku berangkat sehari lebih cepat dibanding Theo. Kedatanganku sekaligus menghadiri konferensi internasional tentang komunikasi politik di Hong Kong, kemudian menyeberang menuju Makau. Theo menyusul tadi siang langsung dari Jakarta. Kami berjanji bertemu di salah satu restoran hotel berbintang pada pukul enam sore, lalu bersama-sama menuju lokasi klub petarung.

Meski tidak punya ide sama sekali tentang siapa yang akan kuhadapi, aku menyambut pertarungan ini dengan baik, melakukan persiapan, berlatih lebih rutin dan disiplin selama tiga minggu terakhir. Theo tidak menjelaskan banyak. ”Dalam lima hal, empat di antaranya dia memiliki kesamaan denganmu, Thomas. Namanya Lee—aku tidak tahu nama lengkapnya. Dia juga tidak terkalahkan. Penerus salah satu konglomerasi terbesar di Hong Kong. Pemilik banyak gedung dan bisnis properti di kawasan Asia Pasifik, terutama Hong Kong dan Makau.

”Pintar, jago berkelahi, terampil mengendarai banyak kendaraan, suka mengebut, dan pernah aktif di pasukan khusus militer Cina selama delapan belas bulan. Apa pun yang ada di resumemu, dia juga memilikinya, sama. Mungkin termasuk perangai keras kepala, susah diatur.” Theo tertawa—aku tidak. ”Nah, satu hal yang mungkin membedakan kalian, dia sudah menikah dan bahagia dengan dua putri kembarnya yang berusia lima tahun. Kau rasa-rasanya bahkan tidak punya prospek akan menikah lima tahun ke depan, bukan?” Itu briefing Theo saat kami menumpang taksi limusin menuju gedung klub petarung. Untuk keperluan bisnis atau personal, aku sering mengunjungi Hong Kong. Ajaibnya, meski jarak Hong Kong dan Makau hanya 66 kilometer, tidak sampai satu jam menggunakan kapal cepat, aku baru pertama kali ini pergi ke Makau. Pulau kecil yang pernah dikuasai Portugis itu surga judi di Asia Pasifik. Hotel merangkap kasino memenuhi tiap jengkal tepi jalanan Makau. Berpadu dengan puluhan bangunan tua bergaya arsitektur Eropa, peninggalan penjajah Portugis—termasuk bahasa resmi yang mereka gunakan saat ini selain bahasa Kanton. Gemerlap lampu menghiasi jantung pulau itu pada malam hari.

Pulau ini semakin malam semakin hidup, sisi dunia yang amat berbeda.

Dugaanku benar. Klub petarung itu berada di salah satu bangunan hotel paling mewah Makau. Tapi tetap saja sulit membayangkan, mereka ternyata menyewa satu sayap sendiri, menyulapnya menjadi arena pertarungan, menyatu dengan jaringan kasino besar. Pintu masuknya bahkan berada di antara keramaian orang-orang berjudi. Tidak semua orang bisa melewati pintu masuknya. Orang yang melintas akan menganggapnya seperti ruangan khusus pejudi kelas atas, bukan level mereka. Theo melintasi dua penjaga berbadan kekar di pintu masuk dengan mudah, tanpa perlu memperkenalkan diri apalagi menunjukkan kartu identitas—sepertinya dia memang pernah ke sini. Theo berjalan di depan, melintasi ruangan yang telah dipenuhi anggota klub, mengajakku berkenalan dengan inspektur pertandingan dan petinggi klub lainnya.

Setelah basa-basi perkenalan, menikmati welcome drink yang diantarkan pelayan klub, salah satu petinggi klub Makau bertanya dengan intonasi serius, sedikit kagum menatapku. ”Senang akhirnya kau datang kemari, Thomas. Bersedia melakukan pertarungan melawan petarung terbaik di klub kami. Anyway, bolehkah saya bertanya sesuatu yang tiga minggu terakhir selalu muncul di kepala?”

Aku mengangguk. ”Silakan, tidak masalah.”

”Apa benar kau bisa meruntuhkan tembok hanya dengan tinju kananmu, Thomas?”

Aku hampir tersedak, kehabisan kata. Theo yang berdiri di sebelahku hanya tertawa lebar dengan wajah tak berdosa. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊