menu

Matahari BAB 04

Mode Malam
BAB 04
"INILAH dia pertandingan final yang kita tunggu-tunggu. Finaaal!" Salah satu murid kelas sebelas yang memegang mikrofon, bertugas sebagai komentator pertandingan, berseru kencang. Aula langsung dipenuhi bising suara suporter dan suara balon tepuk beradu.

Dua tim terbaik akhirnya bertemu.

"Mari kita sambut tim pertama! Inilah sang tuan rumah, yang mencatat rekor final untuk pertama kali. Tim ini lihai dalam strategi menyerang, selalu menang dengan skor telak. dan pemain terbaiknya adalah Ali!" Suara terompet susul-menyusul memenuhi langit-langit aula menyambut Ali dan tim sekolah kami masuk ke lapangan, hampir pekak kupingku mendengarnya.

"Tim kedua! Juara bertahan empat tahun terakhir. Tim ini memiliki strategi pertahanan yang terbaik, memiliki benteng pertahanan yang tidak mudah ditembus, dengan enam pemain raksasanya. Inilah dia sang juara berrahaaan!" Aku menatap anggota cim lawan yang memasuki lapangan.

Lima murid SMA dengan tubuh besar-besar. Bahkan dibandingkan kapten tim sekolah kami yang kelas dua belas, tubuh mereka lebih besar, apalagi dibandingkan Ali, terlihat kecil di antara mereka. Tetapi aula sekolah tetap dipenuhi teriakanteriakan semangat. Seli sudah asyik memukul-mukulkan balon, menyemangati. Suporter kompak meneriakkan yel-yel sekolah, bahkan ada yang mulai menciptakan lagu dadakan khusus untuk Ali.

Aku menatap setiap sudut aula. Mamang tukang bakso memenuhi janjinya. Dia ikut menonton, berdiri di pinggir lapangan sambil menyampirkan kain lap di bahu. Penonton berdiri berdesakan di belakang garis merah agar tidak mengganggu pertandingan.

Di tengah lapangan, sepuluh pemain bersalam-salaman. Wasit melangkah maju, menjelaskan peraturan secara singkat. Kapten kedua tim mengangguk. Beberapa detik kemudian, wasit meniup peluit sambil melemparkan bola ke atas.

"Bola telah dilempar ke atas, hadirin! Pertandingan final telah dimulai!" Suara terompet kembali terdengar.

Tim lawan sangat diuntungkan dengan tubuh tinggi besar mereka. Bola dengan cepat dikuasai mereka.

Lemparan-lemparan mereka tinggi dan akurat. Bola dibawa menuju jantung pertahanan sekolah kami.

Lima pemain lawan merangsek maju. Penonton berseru cemas. Salah satu anggota tim lawan melempar bola ke pojok kanan. Rekannya menyambut dengan baik, siap dalam posisi menembak, lalu mendribel bola sebelum melepas tembakan dua poin. Seli terlihat menahan napas, juga puluhan suporter lain, berdoa dalam hati semoga bola tidak masuk ke keranjang.

Ali! Entah datang dari mana, dia lebih dulu merebut bola yang masih melayang setengah jalan menuju keranjang. Cepat sekali gerakannya, lincah berada di tengah para "raksasa", dan sebelum lawan menyadarinya, Ali telah melesat mendribel bola, membawanya lari ke area lawan tanpa tertahan.

Jeritan penonton membahana. Aku mengusap wajah tidak percaya. Seli memukul-mukulkan balon memberikan semangat. Dua detik kemudian, setelah berhasil menipu dua lawan, berkelit, Ali tiba di lingkaran dalam pertahanan musuh. Seorang diri dia melewati pemain lawan. Ali siap menembak. Aku menahan napas menyaksikannya. Ali lantas meloncat. Tubuhnya melenting lincah. Bola terarah sempurna ke keranjang lawan.

Masuk! Dua poin untuk sekolah kami.

"Ali! Ali! Ali!" Kor teriakan terdengar.

Ali tersenyum lebar, bergaya melambaikan tangan kepada kami, Aku menelan ludah. Tampaknya Ali amat menikmati pertandingan final ini.

Tapi pertandingan segera berlangsung serius, bahkan pada menit pertama.

Terkejut dengan poin pertama sekolah kami, tim lawan yang terkenal sekali dengan pertahanannya, mulai menerapkan strategi defense ketat. Mereka tidak sungkan menggunakan badan besar mereka untuk menghalangi, mengganggu, bahkan bila perlu kontak fisik. Itu sudah menjadi senjata andalan mereka sejak tahun lalu.

"Curang!" penonton berteriak marah.

Satu menit berlalu, Ali terjerembap di lapangan untuk pertama kalinya. Bola terlepas dari tangannya.

Peluit wasit berbunyi. Ali segera bangkit berdiri, dibantu anggota tim lain. Pertandingan dilanjutkan.

"Pelanggaran!" Penonton kembali berteriak-teriak marah.

Untuk kesekian kalinya Ali terbanting jatuh. Lima menit pertandingan berjalan merangkak. Strategi tim lawan sepertinya berhasil, anggota tim sekolah kami satu per satu berjatuhan karena kontak fisik, terutama Ali. Mereka mengincar Ali agar tidak bisa mengembangkan permainan.

Seli menatap cemas ke arah Ali yang masih tertelentang di lapangan. Murid-murid perempuan yang lain juga cemas, seperti sedang menyaksikan idola boyband mereka yang terpeleset di atas panggung pertunjukan musik, khawatir idola mereka lecet atau baret. Kapten tim kami membantu Ali berdiri. Ali terlihat baik-baik saja, menepuk-nepuk kaus timnya. Wasit memberikan hukuman kepada tim lawan, dua kali tembakan bebas.

Tapi lawan tetap tidak menghentikan strategi itu meski dihukum berkali-kali. Mereka sepertinya telah berhitung dengan cermat untuk menahan agresivitas sekolah kami.

Skor berjalan lambat, pertandingan berjalan membosankan, lebih sering terhenti. Dua pemain lawan sudah dikeluarkan dari permainan dan digantikan pemain lain karena telah melakukan lima kali pelanggaran, tapi mereka tetap tidak berhenti melakukannya.

Wasit meniup peluit, babak pertama akhirnya selesai. Skor imbang. Pemain kedua tim menuju sisi lapangan, istirahat sebentar. Di luar hujan deras kembali turun. Kapten tim sekolah kami terlihat berjalan menahan sakit, juga Ali. Mereka melangkah dengan wajah meringis menuju kursi pemain. Ini buruk, tim kami tidak bisa bermain maksimal di babak pertama.

"Apakah kira akan menang, Ra?" Seli bertanya cemas.

Aku menggeleng. Aku juga khawatir, tapi bukan soal siapa yang akan memenangkan pertandingan ini. Aku mencemaskan sesuatu yang lain. Beberapa menit sebelum istirahat antarbabak, aku menyaksikan Ali yang kembali terbanting jatuh, itu mungkin yang kedelapan kalinya. Lihatlah, wajah Ali menggelembung marah.

Tidak seperti sebelumnya yang tetap tenang, tetap rileks meneruskan pertandingan, kali ini tangan Ali terkepal. Bahkan saat kapten tim kami menyemangatinya, Ali tetap kesal. Aku mencemaskan Ali dan marahnya yang mulai serius.

Wasit meniup peluit. Babak kedua segera dimulai. Aula kembali dipenuhi sorak-sorai penonton.

Bola dikuasai tim kami. Kapten tim mengoper bola ke rekannya. Pemain kami maju menyerang. Bola dioper meniti tepi lapangan sebelah kanan, tapi tim lawan bertahan dengan senjata andalan fisik mereka.

Tidak mudah melewatinya, bola tertahan di luar area dua poin. Kapten tim berusaha mengubah Strategi menyerang. Kali ini kami menyerang dari sisi kiri, tetap tidak berhasil, lima pemain lawan seperti benteng kokoh.

Suporter terus menyemangati.

"Serang! Serang!" Kapten tim kami akhirnya memberikan bola kepada Ali yang berdiri di luar lingkaran. Matanya mengedip.

Itu kode agar Ali menembak, tembakan tiga poin dari jarak jauh. Ali mengangguk. Dia menerima bola dengan cepat, kemudian melompat. Ali tidak pernah gagal melakukan tembakan itu.

Penonton di aula berteriak semangat.

Namun. Buk! Bahkan bola belum lepas dari tangannya, Ali sudah terbanting jatuh. Salah satu anggota tim lawan sengaja mendorong bahunya, mencegah Ali melancarkan tembakan tiga poin. Bola tergulir dari tangan Ali, menggelinding. Peluit wasit seketika berbunyi.

"Curang!" Jelas sekali itu pelanggaran serius.

"Woi, jangan curang!" penonton berseru-seru marah.

Seli menutup mulutnya dengan telapak tangan. Itu jatuh yang kencang sekali. Aku menggigic bibir. Seluruh perhatian penonton terarah ke lapangan, menatap Ali yang sedang berusaha bangun. Aku melihatnya.

Tangan Ali gemetar menahan marah. Ini sangat serius. Bagaimana...? Aku menelan ludah. Bagaimana jika Ali yang tidak bisa menahan emosinya mendadak berubah menjadi beruang? "Curang! Dasar pengecut!" "Diskualifikasi tim lawan!" penonton masih berseru-seru tidak terima. Termasuk Seli, dia juga berteriak- teriak marah.

"Seli!" Aku mencengkeram lengan Seli, menyuruhnya memperhatikan.

"Ada apa, Ra?" Ali telah berdiri. Kali ini tidak hanya tangannya yang gemetar, kakinya juga ikut bergetar. Tubuhnya seperti limbung. Matanya merah. Itu fase pertama sebelum Ali menjadi beruang.

"Lihat Ali, Seli! Dia akan berubah!" Seli akhirnya menyadari situasinya. Ini tidak lagi soal pertandingan basket. Ini lebih serius.

"Apa yang harus kita lakukan, Ra?" Seli panik.

Hanya dalam hitungan detik, Ali akan berubah menjadi beruang. Kami tidak sedang berada di Klan Bulan atau Klan Matahari. Ini di Bumi, persis di lapangan basket, disaksikan hampir seribu murid, juga wartawan dari media massa, Bagaimana kami akan menjelaskannya jika semua orang melihat Ali menjadi beruang besar setinggi aula? Itu akan menjadi berita mengerikan di seluruh Bumi.

"Ra, bagaimana ini?" Seli meremas jemarinya.

Aku berpikir keras. Tidak ada waktu lagi. Hanya itu jalan keluarnya. Tanganku yang selalu memakai sarung tangan Klan Bulan dengan cepat terangkat ke atas.

Aula sekolah gelap seketika. Sarung tanganku telah menyedot seluruh cahaya. Aku menggenggam lengan Seli. Sebelum Seli tahu apa yang sedang kulakukan, tubuh kami telah menghilang di atas kursi aula, kemudian muncul di tengah lapangan. Dalam gelapnya aula, tanganku berusaha meraih tubuh Ali.

Aku harus segera membawa Ali pergi. Hanya ini solusinya, toh kota kami akhir-akhir ini memang sering mati lampu. Orang-orang akan menganggap ini hanya mati lampu biasa. Masalah nanti mereka bingung ke mana Ali mendadak pergi, itu bisa dikarang cerita yang cocok. Yang penting saat ini aku harus segera memindahkan Ali ke tempat yang aman, mungkin di lapangan yang sepi atau di manalah agar dia bisa berubah tanpa dilihat orang lain.

Tanganku berusaha menyentuh tubuh Ali. Tetapi. kosong? Aku menelan ludah. Heir Apa yang terjadi? Aku menatap ke depan. Aku bisa melihat normal dalam gelap.

Aku memeriksa lapangan. Tidak ada Ali di depanku. Tubuhnya seperseribu detik lalu telah menghilang.

Entah siapa yang melakukannya, ada yang telah membawa tubuh Ali pergi sebelum aku melakukannya.

Aku menoleh ke segala arah, menatap penonton yang kebingungan dalam gelap. Beberapa penonton mencoba menghidupkan telepon genggam mereka, Mamang tukang bakso menoleh ke sana kemari, Penonton-penonton lain berseru-seru. dan bola basket yang menggelinding sendiri.

Aku menatap pintu aula yang entah sejak kapan sudah terbuka lebar, membawa kesiur angin kencang masuk, butir halus air hujan menerpa wajah. Di sana, di pintu aula, cahaya kerlip berwarna kuning keemasan terlihat samar menjauh, seperti jejak panjang.

Rahangku mengeras, Tidak salah lagi, sesuatu telah menarik tubuh Ali keluar aula, kemudian membawanya pergi. Siapa pun itu, aku tidak akan membiarkannya membawa Ali pergi begitu saja.

Aku memegang lengan Seli. Tubuh kami segera menghilang, dengan cepat muncul di luar aula, memulai pengejaran.

***
 Teleportasi.

"Ada apa, Rae" tanya Seli. Sementara itu, tubuh kami terus melesat berpindah-pindah tempat. "Di mana Ali?" Jalanan terang, Seli bisa melihat kami hanya berdua. "Bukankah kamu harus membawanya pergi dari aula?" "Aku tidak tahu di mana Ali sekarang.

" Aku terus bergerak secepat mungkin, konsentrasi penuh menatap jejak cahaya kuning keemasan yang semakin tipis. Sudah hampir lima ratus meter aku bergerak, mengejar sesuatu yang membawa tubuh Ali. Tubuh kami muncul di halaman sekolah, menghilang, muncul lagi di trotoar jalan, terus menuju arah utara kota.

"Bagaimana kamu tidak tahu, Ra?" Seli bingung. Dia menatap wajahku.

"Ada yang lebih dulu membawa Ali.

" "Ada yang membawa Ali? Astaga! Kamu tidak bergurau?" Seli terlihat panik, lebih panik dibanding sebelumnya.

"Berhenti bertanya dulu. Bantu aku memperhatikan depan, Seli!" aku berseru. Tidak ada waktu untuk bercakap-cakap. Sesuatu yang membawa Ali bergerak cepat sekali, dan entah bagaimana sesuatu itu melakukannya, dia juga sepertinya bisa berpindah-pindah tempat tanpa terlihat.

"Memperhatikan apa, Ra?" "Jejak cahaya kuning keemasan. Kamu melihatnya?" "Cahaya kuning apa?" Seli bingung.

Aku mendengus. Tubuh kami menghilang lagi. Samar aku melihat cahaya itu di sudut jalan gelap. Tubuh kami muncul di sana. Sial! Sama seperti sebelumnya, tidak ada siapa pun, sesuatu itu sudah pindah lagi.

Gerakannya zig-zag ke mana-mana, seperti di luar kendali, tapi sesuatu ini cepat. Mataku memeriksa, mencari jejak cahaya di sekitar.

"Kanan depan, Ra. Aku melihatnya, pendar cahaya kuning!" Seli berseru. Ah, akhirnya dia mengerti.

Aku mengangguk. Tubuh kami menghilang, lalu muncul di depan toko elektronik yang telah tutup. Jalanan lengang. Tidak ada yang mau menghabiskan waktu di luar saat hujan deras turun. Tubuh kami tidak basah walau melintasi kota dengan cepat, karena aku membuat tameng, seperti gelembung transparan yang menutupi seluruh badan.

"Di atas gedung itu, Ra!" Seli berseru.

Aku mendongak. Pendar cahaya kuning itu ada di sana, tipis sekali.

Aku menggigit bibir. Tubuh kami menghilang, dan muncul di atas atap gedung dua lantai.

"Bagaimana kamu melakukannya, Ra?" Seli berseru. Tubuh kami seperti terbang ke atas.

Aku menggeleng. Nanti-nanti saja aku menjelaskannya.

Cahaya kuning itu terlihat di atap-atap rumah, dua puluh meter dari kami. Aku terus mengejarnya. Aku tidak akan membiarkannya lolos. Dengan bantuan Seli, yang ikut memperhatikan jejak, aku bisa bergerak lebih cepat. Jarakku dengan sesuatu yang membawa tubuh Ali semakin dekat. Cahaya kuning itu kembali menjadi terang, lebih jelas jejaknya.

"Kiri depan, Ra. Gedung empat lantai!" seru Seli.

Pengejaran semakin menegangkan. Tubuh kami terus melesat di atap-atap rumah dan gedung.

Aku mengatupkan rahang. Sosok yang kami kejar mulai terlihat. Itu benda, bukan orang, bentuknya seperti kapsul bulat, yang bisa terbang dan menghilang, tidak besar, hanya muat tiga orang di dalamnya. Jejak cahaya kuning keemasan itu datang dari lampu kapsul itu, yang terus bergerak cepat berusaha kabur. Jarak kami tinggal belasan meter.

Seli mengangkat tangannya, melepaskan petir kencang. Dia mengarahkannya ke kapsul itu, tapi tidak kena.

Kapsul itu lebih dulu menghindar. Petir Seli mengenai dinding gedung tinggi, membuat temboknya terkelupas lima senti, semen dan batu berguguran.

"Hei, apa yang kamu lakukan?" aku berseru, tanganku mencengkeram lengan Seli lebih kencang.

"Membuatnya berhenti, Ra," Seli mengangkat bahu.

"Tapi tidak dengan menyetrumnya, Seli!" aku berteriak, hujan deras turun membungkus kami. "Kamu bisa membahayakan Ali di dalamnya, Perirmu bisa membuat seluruh kota jadi menonton kita.

" Seli menyeringai, tidak berpikir sejauh itu.

Aku mengarupkan rahang, mengeluarkan seluruh kemampuan. Jarak kami sudah dekat sekali. Aku hampir menyusul kapsul itu, menghilang untuk kesekian kalinya, lantas muncul persis di sebelah kapsul. Satu tanganku siap menggapai panel luar kapsul itu. Tapi tiba-tiba, kapsul perak itu mengeluarkan petir kencang, sama terangnya dengan petir yang dibuat Seli.

Seli berseru panik, terlambat menangkis. Aku juga terlambat menghindar atau menghilang, Tubuh kami telak terkena petir ini, silau sekali. Kami terpelanting dari atap rumah dua lantai, jatuh berdeham di atas halaman rumput basah.

"Kamu baik-baik saja, Sel?!" Aku mengusap wajah yang basah oleh air, membantu Seli berdiri.

Seli mengangguk. Gelembung transparan yang kubuat agar kami tidak terkena air hujan telah melindungi kami dari sambaran petir kapsul terbang. Gelembung itu meletus saat kami terjatuh di atas rumput.

Seragam sekolah kami segera basah kuyup oleh hujan, juga tas ranselku.

Aku sama sekali tidak menduga kapsul itu bisa mengeluarkan petir.

"Bagaimana dengan Alif?" Seli mendongak, menatap ke arah kapsul itu pergi.

Aku bergumam kesal. Kami telah kehilangan jejak cahaya kuning berpendar.

Kapsul itu berhasil lolos.

***
 Lima menit berlalu setelah pengejaran yang gagal.

"Seli, kita tidak akan kembali ke aula sekolah.

" Aku menggeleng. "Tidak ada gunanya.

" "Tapi pertandingannya?" Seli menyeka sisa air di wajah.

Aku mengangkat bahu, peduli amat siapa yang menang di pertandingan basket. Aula kembali terang setelah kami keluar. Penonton pasti menyangka listrik kembali menyala, kemudian bingung, ke mana Ali, jagoan mereka.

" Guru-guru akan sibuk berusaha mencari tahu, lantas teringat, bukankah begitu tabiat Ali selama ini.

" Selalu tidak bertanggung jawab, pergi begitu saja, tidak peduli. Tanpa Ali, tim sekolah kami pasti kalah, tapi itu tidak penting sekarang. Lima menit, aku dan Seli berteduh di halte kosong, tidak jauh dari tempat kami tadi jatuh. Kami bertanya-tanya dalam hati, apa yang bisa kami lakukan sekarang.

"Siapa yang menculik Ali, Ra?" Untuk pertama kali, secara resmi Seli mendefinisikan kejadian tadi sebagai penculikan.

Aku menggeleng. Aku tidak tahu. Tapi yang pasti, kapsul perak itu bukan dari dunia kami, Tidak ada benda terbang seperti itu.

"Kapsul itu punya teknologi seperti Klan Bulan, Sel, bisa menghilang, juga berteleportasi dengan kecepatan tinggi. Kapsul itu memiliki kemampuan petarung Klan Bulan.

" "Juga mengeluarkan petir, seperti Klan Matahari. Sambaran petirnya sama persis seperti pukulanku," Seli bergumam.

Aku mengangguk. Kepalaku dipenuhi berbagai kemungkinan. Dari mana asal kapsul itu? "Apa yang kita lakukan sekarang, Ra? Kita tidak bisa berteduh di sini lama-lama dengan baju, sepatu, dan tas basah.

" Seli mendesak. Sejak tadi dia mengajakku kembali ke sekolah, atau pulang ke rumah. Orangtua kami pasti cemas menunggu.

Aku mengepalkan jemari. Seandainya di sini ada Miss Selena, atau Av, atau Ily seperti saat kami di Klan Matahari, mereka bisa memberikan usul apa yang harus kami lakukan. Kapsul itu jelas telah membawa Ali. Ke mana aku harus mengejarnya? Di tengah hujan deras, entah ke mana kapsul itu pergi.

"Aku mencemaskan Ali," gumamku.

"Ali akan baik-baik saja, Ra. Dia genius. Dia tahu persis apa yang harus dilakukan.

" Seli berusaha menghiburku. "Lagi pula, aku justru mencemaskan kapsul perak itu. Kalau Ali betul-betul berubah menjadi beruang besar, kapsul itu tidak akan muat, kan?" Aku terdiam. Seli benar juga. Tapi cecap saja, aku tidak bisa membiarkan Ali diculik kapsul tadi. Aku menatap pucuk-pucuk gedung. Kerlap-kerlip cahaya lampu berpendar di antara miliaran tetes air hujan.

Saat ini hampir pukul sembilan malam.

Tiba-tiba aku menyadari sesuatu. Eh, bukankah ini jalan menuju rumah Ali? Aku menggenggam lengan Seli. Kembali berkonsentrasi untuk melakukan teleportasi.

Belum sempat Seli bertanya, kami sudah menghilang, kemudian muncul di atas salah satu gedung berlantai enam. Dari sini, hampir seluruh kota terlihat.

"Itu sekolah kita!" Aku menunjuk cicik kejauhan. Seli menatapku bingung.

Menoleh ke arah utara, aku menunjuk titik tidak jauh dari kami, hanya sekitar sembilan ratus meter. "Itu, bukankah itu rumah Ali?" Seli terdiam. Benar juga.

"Kapsul dengan cahaya kuning keemasan tadi mengarah ke rumah Ali, Sel. Garis lurus, meskipun gerakannya zig-zag, seperti tidak terduga. Kapsul itu tidak pergi sembarangan melarikan diri, kapsul itu memiliki tujuan," aku berkata yakin.

"Tapi kenapa dia menuju rumah Ali?" Aku menggeleng. Aku tidak tahu.

"Ayo, Seli, kita bergegas. Sebelum kapsul itu entah pindah ke mana lagi.

" Untuk kedua kalinya, sebelum Seli sempat mengeluarkan pertanyaan, aku sudah menggenggam lengannya.

Tubuh kami melesat cepat, hilang-muncul di atap-atap bangunan, menuju rumah Ali. Lebih cepat kami tiba di rumah Ali, lebih besar kernungkinan aku bisa menyelamatkannya.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊