menu

Matahari BAB 03

Mode Malam
BAB 03 
KESIBUKAN sekolah segera menyambut kami. Tahun ajaran baru, kelas sebelas.

Esoknya, hari pertama sekolah, Ali, dengan pakaian rapi, telah berdiri di pintu depan. Dia menyapa Mama dengan sangat sopan.

"Eh, Ra! Ada Ali!" Mama berseru dari depan, aku masih sarapan di dapur.

"Apa kabarmu, Ali?" "Baik, Tante.

" "Liburannya seru, bukan? Raib sampai hitam begitu.

" "Raib terus berjemur di pantai, Tante. Tidak mau disuruh pulang ke hotel.

" "Oh ya2 Pantas saja.

" Mama tertawa.

Lamat-lamar percakapan terdengar. Dahiku terlipat. Apa yang diinginkan si biang kerok itu? Pagi-pagi sudah merusak moodku. Ali dengan santai bilang dia sengaja menjemputku. Aku keberatan. Lebih baik berangkat bersama Papa. Tapi Papa lebih dulu berseru dari ruang tengah, "Raib berangkat bareng Ali saja. Papa nanti harus mampir ke pabrik satunya, tidak satu arah dengan sekolah.

" Di bawah tatapan Mama dan Papa, aku segera menghabiskan sarapan, menyiapkan tas ransel.

"Hati-hati ya!" Mama melepas kami berdua.

Ali mengangguk dengan begitu sempurna. Aku siap meninju lengannya. Dia pandai sekali "menipu" Mama.

Tapi ekspresi Mama yang tersenyum menyanjung betapa sopannya Ali membuat gerakan tanganku batal.

"Kenapa kamu menjemputku, hah?" aku berbisik ketus.

Kami sudah naik angkutan umum. Baru kami berdua penumpangnya. Angkot yang kami naiki melintasi jalanan yang mulai padat, menyambut kesibukan pagi kota.

"Percaya atau tidak, aku semalam hanya tidur selama satu jam," Ali justru menjawab lain.

"Apa urusanku kamu mau tidur arau tidak?" Aku tidak peduli.

Ali mengeluarkan tabung kecil yang terbuat dari logam perak, ukurannya sebesar ibu jari, memperlihatkannya padaku.

"Lihat. Aku mendapatkannya dari Av, sebelum kita melintasi portal," Ali menjelaskan.

Aku tahu itu. Aku sempat melihat Av memberikannya kepada Ali. Tapi ini benda apa? "Sebelumnya aku tidak tahu ini benda apa. Kuotak-arik, hingga akhirnya aku tahu cara menggunakannya.

Ini alat penyimpan data, Ra. Seperti jlashdisk, cakram DVD, rapi dengan kapasitas tidak terbayangkan.

Satu tabung ini setara dengan jutaan hard disk di dunia kita.

" Ali berbisik menjelaskan, sesekali melirik sopir angkoc-tapi tidak akan ada yang menguping kami, Sopir angkoc sibuk berteriak-teriak ke calon penumpang sepanjang jalan, kepada kerumunan anak sekolah yang hendak berangkat.

"Av memberikan versi soft copy seluruh buku di perpusrakannya. Seluruh buku itu ada di dalam tabung logam ini, Ra," Wajah Ali tampak riang. Dia selalu antusias dengan pengetahuan, teknologi, dan sejenisnya.

"Kenapa Av memberikannya padamu?" Aku menyelidik.

"Mana aku tahu!" Ali mengangkat bahu. "Mungkin Av sedang memenuhi janjinya. Kamu ingat, dulu waktu pertama kali kita masuk ke Seksi Terlarang Perpustakaan Sentral Klan Bulan, dia pernah menawarkan kesempatan untuk membaca buku-buku di perpustakaannya. Nah, dia baru bisa memberikannya sekarang, dengan cara yang lebih praktis.

" Aku ingat percakapan itu, ketika Av terkesima mengetahui Ali justru sudah memiliki teori tentang dunia paralel meskipun tidak pernah membaca atau berinteraksi dengan kian mana pun sebelumnya.

"Aku tidak bisa tidur semalaman, Ra, mulai membuka-buka beberapa buku. Ini menakjubkan, Ada banyak hal menarik di dalam tabung sekecil ini. Ada buku teknologi, pengetahuan, sejarah, bahkan novel seperti di dunia kita. Ada juga kumpulan cerita pendek dan puisi-puisi. Seru sekali.

" "Bagaimana kamu membukanya?" Aku mulai tertarik--dan mulai paham kenapa Ali sepagi ini mendadak menjemputku di rumah.

"Mudah saja, ini seperti proyektor..." Suara berbisik Ali terhenti. Ada dua remaja seusia kami naik ke atas angkot. Ali buru-buru memasukkan tabung logam ke dalam tas, batal menunjukkannya.

Aku juga kembali menatap ke luar jendela, seolah sedang memperhatikan hal lain. Angkot dengan cepat penuh, membelah kemacetan yang mulai panjang.

Berhari-hari kemudian kami menghabiskan banyak waktu dengan tabung logam itu.

Di kelas, saat kami hanya bertiga, Ali menunjukkan cara menggunakan tabung perak itu. Dia mengetuk kedua ujungnya, kemudian perlahan keluar sinar dari dalam tabung. Kami bisa menyaksikan layar sentuh tiga dimensi yang jernih. Keren! Seperti layar telepon genggam paling canggih, tapi yang ini mengambang di udara. Tombol-tombol transparannya bisa disentuh dengan jari, bisa digeser naik-turun, kiri-kanan. Isi tabung ini tidak hanya berbentuk halaman demi halaman buku, tapi juga ilustrasi, video, dan simulasi, dalam bentuk superinteraktif.

Aku dan Seli ikut membaca banyak hal dari tabung, terutama tentang sejarah Klan Bulan. Di sekolah, di rumah, pura-pura belajar bersama atau mengerjakan PR, kami bergiliran menyentuh tombol navigasi. Aku menyukai membaca sejarah Klan Bulan, mengetahui kota-kota lain selain Kota Tishri, peradaban maju mereka. Seli membaca sejarah Klan Matahari, ada banyak buku yang membahas kian itu. Kami juga menyukai buku-buku cerita, asyik sekali. Klan Bulan juga punya novel fantasi remaja.

Namun, keasyikan itu hanya bertahan seminggu, karena Ali mulai memaksa ingin membuka halamanhalaman yang tidak lagi bisa kami pahami. Si genius itu tertarik sekali dengan teknologi Klan Bulan dan Klan Matahari, dan dia tidak mau mengalah. Ali menyuruh aku dan Seli menyingkir dari depan tabung logam. Dia bisa berkurat lama hanya untuk mempelajari satu halaman penuh rumus dan grafik rumit.

Meskipun Ali tidak mau lagi berbagi akses membaca tabung logam itu, aku tidak keberatan, toh Av memang memberikannya kepada Ali. Hanya saja, sebulan sejak kepulangan kami, masalah runyam muncul: Ali ternyata juga mencari buku-buku tentang Klan Bintang. Dari jutaan koleksi buku Av, hanya ada satu buku yang membahas Klan Bintang, itu pun hanya satu paragraf, tapi cukup menimbulkan masalah serius.

Ali mendadak punya ide mencari tahu tentang kian yang belum pernah kami kunjungi, Klan Bintang.

"Ini hebat sekali, Ra. Menurut tabung logam ini, Buku Kehidupan yang kamu miliki bisa membuka portal menuju Klan Bintang.

" Ali rusuh, pada hari kesekian menemuiku di depan pintu rumah. Itu hari libur.

Aku menatap Ali tidak paham.

"Kita bisa ke sana, Ra! Bayangkan! Kita bisa pergi ke klan paling jauh, bagian dunia paralel paling misterius!" Ali berseru antusias--seolah prospek ke Klan Bintang sarna seperti jalanjalan berwisata ke dunia fantasi penuh kesenangan.

Aku menggeleng perlahan. Itu ide gila.

"Ayolah, Ra, sedikit sekali yang pernah pergi ke Klan Bintang. Bahkan Av tidak tahu-menahu di mana lokasi kian tersebut. Buku-buku di perpustakaannya juga tidak pernah menulis centang kian yang seolah hilang itu. Hanya ada satu paragraf, itu pun hanya memuat informasi bahwa "buku matematika" milikmu bisa membawa siapa pun ke sana. Kita bisa pergi ke Klan Bintang, itu akan menjadi petualangan yang hebat. Ini seru, Ra!" Justru itu ide gila. Tidak ada yang tahu apa yang akan menunggu di Klan Bintang. Jelas Ali mendengar sendiri saat Av melarangku menggunakan buku maternarikaku untuk membuka portal apa pun. Av memintaku mengucapkan janji tersebut.

"Mungkin Seli sependapat denganku.

" Ali tidak patah semangat. Dia bergegas menelepon Seli, memintanya datang.

Satu jam kemudian, Seli juga menggeleng tegas-membuat Ali kecewa.

"Tempat itu bisa menjawab banyak hal, Ra! Mungkin termasuk menjawab siapa orangtuamu," Ali menggerutu.

Aku tetap menggelang, Aku tidak akan mengambil risiko menggunakan Buku Kehidupan untuk pergi ke Klan Bintang hanya demi mengetahui siapa orangtuaku. Lagi pula, Ali mungkin saja hanya mengarang agar aku menyetujui ide gilanya.

Kami bertengkar berhari-hari soal mengunjungi Klan Bintang.

"Raib tidak akan melanggar janjinya kepada Av. Miss Selena menyuruh kita agar bertingkah normal, tidak melakukan apa pun, Ali.

" Seli mengingatkan. Itu perdebatan kesekian kalinya.

"Oh ya? Sementara Miss Selena sendiri melakukan tugas seru dan penting di luar sana, kita disuruh purapura tidak tahu, sekolah seperti remaja biasa, menghadapi pelajaran yang semakin membosankan. Iya jika Miss Selena segera kembali, bagaimana jika dia baru menemui kita enam tahun lagi? Bagaimana jika Miss Selena tidak pernah datang lagi ke sini?" Ali berseru ketus.

Aku menghela napas pelan. Tahun lalu, Miss Selena baru kembali setelah enam bulan. Entah kali ini butuh berapa lama.

"Kita bukan anak kecil lagi, Ra. Kita pernah mengikuti kompetisi paling sulit di Klan Matahari, dan kita hampir menang jika tim lain tidak curang. Kita pernah mengalahkan gorila raksasa, burung pemakan daging, monster danau, bahkan kita menang bertempur melawan Ketua Konsil Matahari.

" Pada mingguminggu berikutnya, Ali kembali membujuk, pantang menyerah.

"Itu hanya keberuntungan, Ali.

" Seli menggeleng. "Di sana ada Ily, Av, Miss Selena, juga Hana yang mengorbankan lebahnya. Kita tidak akan bertahan jauh tanpa Ily" "Tapi kita juga pernah menang melawan Tamus di Perpustakaan Klan Bulan, Seli," Ali tidak mau kalah.

"Ingat tidak kata Miss Selena, 'Raib sudah menjadi petarung terbaik Klan Bulan, dan kamu sudah menjadi kesatria hebat Klan Matahari.

' Petualangan ke Klan Bintang tidak akan serumit klan lain. Aku, meskipun datang dari klan paling rendah, juga bisa bertarung, menjadi beruang misalnya. Kita bertiga bisa menjaga diri sendiri.

" Seli menepuk dahi. "Itu benar, kita pernah mengalahkan banyak musuh. Tapi aku tidak akan mengandalkan sosok beruang raksasa itu, Ali. Saat kamu berubah menjadi beruang, bukankah kamu tidak ingat apa pun? Bagaimana kalau di jalan menuju Klan Bintang kamu tiba-tiba berubah menjadi beruang dan mengamuk tanpa alasan, mengejar, hendak memakanku dan Raib?" Ali terdiam. Aku menahan geli melihat wajah kesal Ali.

Itu telah menjadi PR Ali sejak lama, soal transformasinya menjadi beruang, dan Ali tidak pernah kunjung menemukan jawaban. Satu-satunya yang dia pahami dari proses perubahannya menjadi beruang besar, pemicunya adalah emosi. Ketika kami terdesak, atau saat Ali marah sekali dengan sesuatu, tubuhnya berubah, persis seperti ikan buntal yang terancam, tubuh membesar dan duri-duri tajam keluar.

"Aku akan cari tahu bagaimana memecahkan masalah itu, Seli," Ali menjawab pendek setelah terdiam.

"Nah, aku jelas tidak mau jalan-jalan bersama kamu ke Klan Bintang sebelum masalah itu selesai.

" Seli mengangkat bahu. Aku mengangguk, setuju dengan Seli.

Dua bulan tanpa terasa, Miss Selena tetap belum ada kabarnya. Kali ini aku tidak berharap banyak Miss Selena akan kembali dengan cepat membawa informasi baru dari Klan Bulan. Jadi, aku memutuskan menyimpan banyak pertanyaan, melewati hari-hari dengan kesibukan sekolah, menyimak pelajaran biologi, mendengarkan pelajaran geografi. Saat aku bosan dengan banyak hal, aku diam-diam melatih kekuatanku. Aku tidak bisa melatih pukulan berdentum, karena itu akan mengundang perhatian banyak orang, tapi aku bisa melatih menghilang, berpindah tempat. Ini seru sekali. Gerakanku semakin cepat, semakin lincah. Aku sering berangkat sekolah dengan cara itu. Pura-pura bilang akan naik angkot kepada Mama, lantas melesat berpindah-pindah tempat tanpa terlihat. Dalam situasi tertentu, aku seperti bisa terbang, tubuhku bisa pindah ke atas gedung-gedung tinggi, entahlah, apakah ada petamng Klan Bulan yang menguasai gerakan ini. Aku merasa tubuhku semakin kuat.

Aku juga bisa melatih kernampuanku membuat tameng tak kasatmata. Dulu aku melihatnya dari Miss Selena saat menangkis pukulan mematikan Ketua Konsil Klan Matahari. Entah di hari keberapa, malam hari, saat mati lampu dan hujan deras, aku tidak bisa mengerjakan PR matematika. Aku jail mencoba membuat tameng itu dalam skala besar. Tidak ada yang bisa melihatnya, aku membuat tameng menutupi seluruh rumah, seperti kubah transparan. Air hujan tidak bisa menembusnya. Aku berkonsentrasi penuh, tameng itu semakin besar, memayungi sepuluh rumah, dua puluh rumah, empat puluh rumah, semakin luas, nyaris separuh kota. Kubah transparan itu sempurna sudah menahan air hujan turun.

"Ra! Di luar masih hujan atau sudah reda? Kenapa tidak terdengar lagi suara air? Bisa kamu tolong cek, Mama mau mengantarkan kue ke rumah rantemu," Mama berseru dari dapur, sibuk.

Aku menahan napas. Aku lupa itu. Seluruh kota memang tidak bisa melihat tameng yang kubuat, karena kota gelap mati lampu, tapi tentu saja aneh jika hujan mendadak berhenti karena tertahan kubah transparan, sementara langit masih menumpahkan hujan. Konsentrasiku pecah.

"Aduh, aneh sekali!" Suara Mama menggerutu terdengar lagi dari dapur. "Tadi sepertinya sudah reda, kok jadi deras lagi? Hujannya seperti listrik saja, mendadak padam, mendadak nyala.

" Selain melatih kekuatan itu, saat bosan, aku menghabiskan waktu dengan "buku matematika" milikku. Tapi berbeda dengan latihan fisik, tidak ada kemajuan dengan buku ini. Setiap kali kusentuh, buku ini hanya bertanya, "Putri Raib, kali ini kau hendak ke mana?" Aku mendengus kesal. Siapa pula yang hendak bepergian? Aku mau membaca buku ini, mengetahui rahasia di dalamnya. Tapi berminggu-minggu berlalu, aku tetap tidak tahu bagaimana melakukannya. Buku itu tetap buku tua berwarna kecokelatan, kosong halamannya, seperti benda tak berharga.

Seli juga melewati hari-hari dengan "normal". Maksudku, Seli juga melatih kekuatan miliknya. Dia tidak bisa mengeluarkan listrik di sekolah, di tempat-tempat umum, tapi di rumah, karena mamanya berasal dari Klan Matahari, Seli leluasa berlatih mengeluarkan petir dari tangannya tanpa ada yang terperangah melihatnya. Aku tahu soal itu pada hari kesekian kepulangan kami dari Klan Bulan.

"Kamu sudah mengerjakan PR? Semalam mati lampu, aku tidak bisa mengerjakannya," tanyaku pada Seli.

Bel masuk masih lima belas menit lagi.

Seli mengangguk, mengeluarkan bukunya. "Di rumahku tidak mati lampu.

" "Tadi malam, seluruh kota mati lampu, Seli!" Ali yang juga baru masuk kelas ikutan bicara, dengan pakaian kusam, wajah kurang tidur.

"Eh, iya sih. Tapi di rumahku tidak..." Ali menguap. "Tentu saja di rumahmu tidak akan pernah mati lampu, Apa yang mamamu bilang ke tetangga yang heran? Kalian memasang genset?" Seli tertawa kecil.

Dari Ali aku tahu, Seli menyalakan listrik di rumahnya dengan kekuatan petir. Rumah mereka tidak akan pernah mati lampu lagi. Dari ceritanya, Seli tidak hanya menjadi petugas PLN, menyalakan listrik. Hal menakjubkan dari latihan yang dialakukan tiga bulan terakhir adalah kekuatan kinetiknya, menggerakkan benda dari jarak jauh. "Aku bisa memindahkan benda-benda besar sekarang, Ra. Tenagaku semakin kuat.

" Seli berbisik memberitahuku saat kami sedang pelajaran olahraga, belajar lompat galah.

"Kalau begitu, apakah kamu bisa membuat Ali jatuh, Sel?" Aku balas berbisik, menunggu antrean melakukan lompat galah. Ali sedang mengambil ancang-ancang.

Seli tertawa, menggeleng tidak mau.

"Ayolah..." "Itu jahat, Ra.

" Aku tertawa. Tanpa harus dijaili, lihatlah, Ali tetap jatuh saat galahnya baru separuh berdiri. Tubuhnya berdebam di atas lintasan lari, wajahnya terkena debu. Ali meringis kesakitan. Dia memang tidak berbakat dalam olahraga apa pun.

Seli menyikutku, keberatan aku ikut menertawakan Ali seperei murid-murid sekelas. Aku mengangkat bahu. Wajar saja aku tertawa, kan? Si biang kerok itu setiap hari merecokiku soal pergi ke Klan Bintang.

Aku bahkan khawatir Ali tiba-tiba mencuri "buku matematika" milikku. "Jangan tertawakan teman sendiri, Ra.

" Seli melotot mengingatkanku. Aku mengangguk, masih dengan sisa tawa.

Beruntung beberapa minggu kemudian, Ali tampaknya bosan membujukku. Dalam sebuah pertengkaran di kelas yang kosong, dia akhirnya berseru sebal, bersungut-sungut, "Baiklah, Ra! Jika kamu tidak mau menggunakan Buku Kehidupan itu, aku akan menemukan sendiri bagaimana cara pergi ke Klan Bintang.

Bukan kamu saja yang punya buku ajaib.

" Sejak hari itu, Ali praktis seperti melupakan semua pembicaraan sebelumnya. Dia memilih sibuk dengan tabung logam perak hadiah dari Av, sibuk mempelajari hal-hal baru yang menakjubkan.

Sejak hari itu pula, aku pikir aktivitas sekolah kami akan berjalan tenang sambil menunggu Miss Selena.

Kami bertiga sekarang punya kesibukan masing-masing, berhenti saling ganggu, hingga Ali tiba-tiba bilang dia diterima di tim basket, dan entah bagaimana caranya, dia kemudian justru menjadi bintang basket sekolah kami.

Itu semua di luar dugaanku.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊