menu

Matahari BAB 02

Mode Malam
BAB 02 
KAMI kembali ke kota ini empat bulan lalu. Setelah melewati pertempuran hidup-mati di Klan Matahari.

Hana mengorbankan jutaan lebah miliknya agar bisa mengalahkan Ketua Konsil Fala-tara-tana IV, dan pengorbanan paling besar dilakukan Ily. Dengan sisa tenaga, Ily berusaha menutup portal ke Penjara Bayangan di Bawah Bayangan, yang dibuka bunga matahari pertama mekar. Harganya mahal sekali, Ily tewas terkena petir biru mematikan yang dilontarkan Fala-tara-rana IV.

Av menyuruhku menggunakan Buku Kehidupan untuk pulang ke Klan Bulan.

Aku, Seli, Ali, Miss Selena, dan Av yang menggendong tubuh kaku Ily muncul di ruang keluarga rumah Ilo yang berbentuk balon, bertiang tinggi, dan berada di atas hutan lebat. Ilo, Vey, dan Ou sedang berkumpul.

Mereka sedang tertawa menyaksikan film di layar televisi yang bisa muncul-menghilang di ruang keluarga--teknologi mengagumkan Klan Bulan. Waktu seakan membeku saat kami tiba. Ruangan itu menjadi lengang.

Aku ingat sekali. Setelah setengah menit yang membingungkan, keheningan yang ganjil, mencoba memahami apa yang sedang terjadi, Vey sambil menangis tersedu lompat memeluk tubuh kaku putranya yang telah dibaringkan di atas sofa panjang. Sementara Ilo terduduk tidak percaya, menatap terbelalak, meremas jemarinya. Ou melangkah dari belakang orangtuanya, bertanya polos, menggoyang-goyangkan tubuh kakaknya. "Kak Ily sedang tidur, ya? Kenapa tidak bangun? Aduh, aku kan mau nanya oleh-oleh.

Bangun, Kak Ily. Bangun..." Seli menangis terisak. Aku menyeka pipiku. Sedih sekali menyaksikan tubuh Ily.

"Tidak ada yang bisa kulakukan lagi, Vey.

" Av berusaha menghibur Vey yang sekarang pindah memeluk erat betis Av, memohon keajaiban pengobatan Av. "Tidak ada kekuatan di klan mana pun yang bisa menghidupkan putra sulungmu. Aku sungguh minta maaf.

" "Aku mohon, Av. Hidupkan kembali, Ily.

" Tangis Vey semakin kencang.

Av menggeleng, memeluk erat Vey, cucu dari cucunya terpisah empat generasi.

Setidaknya, meskipun Av tidak bisa menghidupkan llo, dia bisa menyentuh bahu Vey, memberikan rasa hangat, rasa tenteram ke hati Vey. Aku tahu itu, aku bisa menyaksikan tangan Av bercahaya. Dulu Av juga pernah melakukannya padaku. Itu memang hanya bertahan beberapa menit, tapi itu amat membantu membuat situasi menjadi lebih terkendali.

Kabar kepulangan kami dari Klan Matahari segera menyebar. Pemimpin Pasukan Bayangan Klan Bulan, Panglima Timur yang bernama Tog. datang beberapa menit kemudian dengan kapsul terbang. Lengkap dengan panglima lainnya. Mereka ikut berbelasungkawa atas meninggalnya Ily, Tog berbicara sebentar dengan Av dan Miss Selena. Aku tidak terlalu mendengarkan kalimat mereka, Av sepertinya menjelaskan secara cepat hasil perjalanan ke Klan Matahari. Aku masih menenangkan Seli yang terus menangis, Sementara Ali duduk bersandar di dinding. menatap lantai. Sejak tadi Ali tidak banyak bicara. Meskipun cuek atas banyak hal, Ali pasti merasakan kesedihan yang sama.

Lima belas menit kemudian, Av, Miss Selena, dan Tog mendekati kami.

"Kalian baik-baik saja?" Miss Selena bertanya pelan.

"Tidak ada yang baik-baik saja setelah menyaksikan kematian teman sendiri, Selena," Av yang menjawab.

Lelaki itu menghela napas panjang.

Kami bertiga hanya diam.

"Raib, Seli, Ali," Tog ikut bicara, "aku sungguh turut berdukacita.

" Aku balas menatap Panglima Timur.

"Dari cerita Av, terlepas dari meninggalnya Ily, perjalanan kalian ke Klan Matahari berhasil. Kita mendapatkan sekutu penting di masa depan. Dan lebih dari itu, kalian berhasil menghalangi si Tanpa Mahkota keluar dari Penjara Bayangan di Bawah Bayangan. Aku sangat bangga, kalian bertiga bersama Ily telah melakukan tugas yang sangat penting. Tetapi, tidak ada lagi yang bisa dilakukan di sini. Ily akan mendapatkan penguburan terbaik sore ini juga. Aku sendiri yang akan melepas salah satu petarung terhebat Klan Bulan. Sedangkan kalian harus kembali ke Klan Bumi, melanjutkan sekolah di sana.

" Aku terdiam. Menoleh ke Miss Selena.

Miss Selena mengangguk. "Tog benar, kalian bertiga harus kembali. Jadwal liburan hampir selesai..." "Aku tidak mau pulang.

" Seli memotong kalimat Miss Selena.

Ali ikut mengangguk.

"Tidak ada lagi yang bisa dilakukan di sini, Seli. Kalian harus pulang. Orangtua Raib dan Ali akan bertanya-tanya jika kalian tidak pulang tepat waktu. Akan susah meajelaskannya..." "Aku masih tetap ingin tinggal di sini!" Seli berkata lebih tegas.

Ruang tengah rumah Ilo lengang. Wajah Seli terlihat galak. Dia jelas tidak mau disuruh pulang, meninggalkan Ily yang masih terbujur kaku di atas sofa panjang.

Av mengambil alih situasi, berbicara sejenak dengan Miss Selena.

"Baiklah, kalian bisa tinggal di sini hingga nanti sore, saat pemakaman Ily dilaksanakan. Tapi setelah itu, kalian harus kembali ke Klan Bumi, melanjutkan kehidupan normal. Kita tidak ingin satu sekolah tahu kalian berasal dari klan lain.

" Miss Selena akhirnya mengalah.

Itu kesepakatan yang bisa diterima Seli. Dia akhirnya mengangguk.

Tidak banyak yang kami lakukan hingga sore tiba. Hanya berdiam diri melihat kesibukan di rumah Ilo.

Ada banyak orang penting Klan Bulan yang datang, mengucapkan dukacita, dengan pakaian terang manyala--warna dukacita Klan Bulan. Vey terlihat lebih tegar. Dia masih sering menangis, tapi Av yang berdiri di sebelahnya terus membantu. Vey lebih banyak mengurus Ou, yang mulai merajuk, berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Ilo menyambut para tamu. Desainer terkenal di seluruh Klan Bulan itu menerima satu per satu tamu dengan mata sembap.

Menjelang sore, tubuh Ily akhirnya dimasukkan ke dalam peti berwarna perak. Enam anggota Pasukan Bayangan datang mengangkat peti dengan khidmat.

Av menoleh kepada kami, memberitahu bahwa acara pemakaman segera dimulai. Aku berdiri, disusul Seli dan Ali. Kami melangkah keluar dari rumah berbentuk balon dengan tiang tinggi ratusan meter. Ada belasan pesawat besar yang mengambang di sekitar rumah, juga ratusan kapsul terbang lainnya. Peti perak itu dibawa ke salah satu pesawat yang paling besar, mungkin itu seperti kapal induk Klan Bulan. Lima menit kemudian, arak-arakan pesawat melesat menuju lokasi pemakaman.

Aku belum pernah menyaksikan pemakaman di Klan Bulan, tapi aku tahu, pemakaman Ily dilakukan dengan sangat spektakuler. Ily dimakamkan di Akademi, tempat dia dulu bersekolah. Lapangan rumput luas Akademi dipenuhi Pasukan Bayangan. Tog memimpin sendiri acara pemakaman. Peti perak Ily diletakkan di atas meja pualam, Matahari sudah beranjak turun di kaki langit, warna jingga terlihat sejauh mata memandang.

"Selamat tinggal, Ily. Salah satu petarung terbaik Pasukan Bayangan," Tog berseru, kemudian memukulkan tangannya ke udara. Suara berdentum kencang terdengar, salju berguguran di sekitar kami. Belum genap suara dentuman itu hilang, ribuan Pasukan Bayangan yang hadir ikut mernukulkan tangannya ke udara, termasuk Miss Selena. Mereka memberikan salut, penghormatan terakhir.

Aku menatap hujan salju di sekitar kami, Suara dentuman terdengar susul-menyusul. Itu hebat sekali, terdengar megah, agung, dan sakral.

Av membimbing Ilo, Vey, dan Ou melangkah maju, memberikan momen terakhir kali bagi mereka. Ilo perlahan menekan tombol di meja pualam. Persis tombol itu ditekan, meja pualam terbelah, peti perak masuk ke dalam lubang, melesat turun, entah pergi ke mana, mungkin ke dalam sistem pemakaman Klan Bulan yang canggih. Meja pualam kembali menutup, setelah mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk seperti kartu, berwarna emas, bertuliskan nama Ily dan lokasi makamnya. Ilo dengan tangan bergetar mengambil "kartu nisan" tersebut, sedangkan Vey memeluknya menahan tangis. Ou masih menatap sekitar dengan penuh tanda tanya.

Aku menelan ludah. Ily, teman petualangan kami di Klan Matahari, telah pergi dengan damai.

Sesuai kesepakatan, setelah pemakaman, setelah arak-arakan kapsul terbang kembali ke rumah Ilo, saatnya aku, Seli, dan Ali kembali ke kota kami, Kali ini Seli tidak protes. Dia mengangguk pelan, menuruti kalimat Miss Selena.

"Jangan menggunakan kekuatan kalian tanpa alasan yang baik. Terutama kamu, Ali, jangan membuat masalah. Kita sudah cukup punya masalah di dua klan saat ini.

" Miss Selena mengingatkan, seperti dulu saat kami pertama kalinya kembali ke kota.

"Miss Selena tidak ikut pulang?" tanya Seli.

"Ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan sang Pengintai, Seli. Selena tidak lagi menjadi guru matematika di Klan Bumi, dia lebih dibutuhkan di sini," jawab Av.

"Tapi aku akan menyusul, mungkin satu-dua minggu dari sekarang, mungkin berbulan-bulan kemudian. Jika ada kabar penting, aku akan datang memberitahu kalian," Miss Selena menambahkan.

Aku mengangguk. Itu juga peraturan yang sama seperti dulu. Kami diminta menunggu, bertingkah seperti anak normal lainnya di Klan Bumi.

"Jaga buku matematikamu, Raib, Itu pusaka paling berharga Klan Bulan.

" Av menyentuh bahuku, mengirim rasa hangat yang menenteramkan. "Jangan digunakan untuk membuka portal apa pun, tanpa sepengerahuanku atau Miss Selena. Kita tidak mau mengambil risiko. Situasi dua kian masih dalam masa transisi, pemulihan. Setelah Tamus dan Fala-tara-tana menyalahgunakan kekuatan mereka, kemungkinan ada kekuatan besar lain yang menunggu kesempatan menyerang.

" Aku menatap Av. Wajah teduh itu menatapku sangat serius.

"Berjanjilah kau tidak akan menggunakannya. Ucapkan, Ra.

" "Aku berjanji, Av.

" "Bagus. Jaga buku itu baik-baik.

" Terakhir, kami bertiga berpamitan dengan Ilo, Vey, dan Ou. "Maafkan aku..." Suaraku tercekat di ujungnya.

Aku menatap Ilo.

Ilo menggeleng.

"Sungguh maafkan aku, Ilo. Aku seharusnya menjaga Ily..." Ilo tersenyum getir, memegang lenganku penuh penghargaan. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Ra. Aku tahu, Ily sekarang pasti bangga sekali. Sejak dulu dia ingin menjadi petarung Klan Bulan seperti dirimu, bukan desainer seperti aku, atau petugas kereta bawah tanah seperti keinginan Vey. Dia ingin melakukan petualangan hebat, dan kalian bertiga telah menjadi teman perjalanan impiannya sejak kecil. Tidak pernah ada penduduk Klan Bulan yang pernah bertarung di Klan Matahari sehebat Ily.

" Aku kehilangan kalimat. Kucahan tangis dengan mengg1g1t bibir.

Vey memelukku, aku balas memeluknya lama. Vey tidak banyak bicara, tapi aku tahu, dari tatapan matanya, dia amat kehilangan. Ou, si kecil itu memegang tanganku, berkata riang, "Kak Ra, kalau besok-besok datang ke rumahku lagi, jangan lupa bawa oleh-oleh. Mainan. Oke?" Aku berusaha tersenyum, menyeka pipi.

"Betulan ya, Kak Ra!" Mata besar Ou bekerjap-kerjap.

"Saatnya pulang, Ra," Miss Selena mengingatkan.

Aku mengangguk, bangkit berdiri, kemudian mengeluarkan "buku maremarika" milikku dari tas. Buku tua warna cokelat itu bercahaya terang saat kusentuh, seperti bulan purnama yang indah.

Selarik cahaya lainnya merambat ke lengan dan bahuku, bicara denganku lewat bisikan lembut, "Putri Raib, kali ini kau hendak ke mana?" Aku menelan ludah, tetap tidak terbiasa mendengar buku ini bicara denganku. Sepuluh detik lengang, semua orang menatapku, aku menyebutkan tujuan tanpa suara. Seli dan Ali telah merapat di dekatku.

Sekejap, Buku Kehidupan membuka portal tujuan kami. Cahaya terang semakin berpendar-pendar, sebuah lubang setinggi kami terbuka di ruang keluarga rumah Ilo. Tepi-tepinya berwarna keemasan, diselimuti kabut tipis.

Aku melangkah ke dalam lubang cahaya itu, disusul Seli dan Ali. Sekilas aku bisa melihat Av memberikan benda kecil ke tangan Ali sebelum tubuh kami menghilang di balik lubang.

Tubuh kami tersentak pelan, ditarik cepat ke dalam teknologi berpindah tempat tiada banding. Aku memejamkan mata, silau, dan tak lama kemudian kami telah muncul di ruang keluarga rumah Seli.

"Liburan di Klan Matahari" telah selesai.

***
 Kami tidak lama di rumah Seli. Mama dan papa Seli masih di luar, rumah Seli kosong. Aku dan Ali segera pulang ke rumah masing-masing, menumpang taksi.

Taksi mengantarku hingga gerbang pagar. Aku berdiri sejenak di depan pintu pagar, berusaha mengubah ekspresi wajahku menjadi lebih riang. Dua minggu lalu aku izin ke orangtuaku. Aku bilang bahwa aku ikut liburan keluarga Seli ke pantai, jadi tidak mungkin wajahku suram oleh kesedihan saat pulang. Itu akan membuat mereka bertanya-tanya.

Si Putih, kucingku, berlari-lari dari teras rumah saat melihatku mendorong pintu pagar. Pukul tujuh malam, cahaya lampu taman menerpa lembut. Langit bersih tanpa awan, memperlihatkan konstelasi bintanggemintang--membuatku teringat danau-danau luas di Klan Matahari.

Aku tersenyum. Si Putih loncat ke pangkuanku.

"Hei, Princess sudah pulang..." Itu suara Papa, terdengar riang, membuka pintu depan.

"Aduh, senangnya! Raib akhirnya pulang.

" Mama berseru tidak kalah riang, bergegas menyambutku.

"Wah, wajah Ra terlihat lebih gelap.

" Mama memelukku eraterat, seperti bertahun-tahun tidak bertemu, kemudian memeriksa seluruh wajahku, setiap sentinya, seperti khawatir ada yang terluka atau kurang.

"Tentu saja, Ma. Dia liburan ke pantai, berjemur di pasir. Setidaknya di wajah Raib tidak ada jerawat, bisa-bisa dia uring-uringan sepanjang hari.

" Papa tertawa, menarik koperku. "Ayo semua masuk, di luar angin kencang dan dingin. Ini sudah mulai musim hujan. Hujan bisa kapan saja turun.

" Aku ikut melangkah masuk. Wajahku memang lebih gelap, tapi itu karena petualangan berhari-hari mencari bunga matahari pertama mekar di Klan Matahari. Untunglah, pakaian yang dipinjamkan Ilo membuat badanku terlindung dari luka. Tidak bisa dibayangkan betapa paniknya Mama jika menemukan baret kecil di lengan--dan aku terpaksa mengarang alasan luka tersebut. Sejak kecil, Mama selalu menjagaku hingga ke hal paling kecil.

"Aku punya oleh-oleh untuk Mama dan Papa.

" Aku berusaha berkata riang, membuka koper.

"Oh ya?" Mama menatap antusias.

Itu topi anyaman rotan yang sudah disiapkan mama Seli agar perjalanan kami terlihat seolah liburan sungguhan. Aku sedikit merasa bersalah telah berbohong saat melihat betapa senangnya Mama menerima hadiah itu, memakainya, memarut diri di depan cermin. Papa juga ikutan mengenakannya. Mereka berdua sudah seperti turis. Mereka saling tertawa.

"Kamu pasti lapar. Mama menyiapkan masakan kesukaanmu, Ra. Ayo, kamu mandi dulu, ganti baju. Kami sejak sore sudah menunggu, sengaja belum makan. Kopernya bisa dibereskan nanti-nanti.

" Mama teringat sesuatu, segera menyuruhku.

Aku mengangguk.

Setengah jam kemudian, aku bergabung di meja makan.

Tubuhku lebih segar, itu mandi pertama sejak sepuluh hari terakhir. Mama benar, dia telah menyiapkan masakan favoritku. Ini makan malam yang sangat spesial, mungkin buruh seharian menyiapkan semua masakan. Si Putih meringkuk di dekat meja, menatap percakapan kami yang seru dan hangat. Seperti biasa, Papa banyak bergurau dan Mama banyak bertanya tentang liburan kami, tentang Seli, orangtua Seli yang dokter, Ali, dan apa yang kami lakukan di pantai.

"Jika Papa tidak terlalu sibuk bekerja, kita bisa liburan ke pantai juga, Ra. Liburan tahun depan deh. Papa janji," tambah Papa memberi janji.

Aku sesekali terdiam, menghela napas, bukan karena harus mengarang jawaban, tapi sejak setahun lalu aku tahu bahwa Mama dan Papa bukan orangtua kandungku, aku selalu merasa ganjil bercakap-cakap bersama mereka. Bagaimana mungkin mereka bukan orangruakur Mama selalu tulus dan Papa selalu ada untukku. Lantas di mana orangtua kandungku? Apakah mereka masih hidup? Kenapa mereka menitipkanku di rumah ini? Aku memperbaiki anak rambut. Entah hingga kapan aku akhirnya berani menanyakannya kepada Mama dan Papa. Akan seperti apa reaksi mereka? Aku tidak berani membayangkannya.

"Ra, mau tambah supnya?" Mama bertanya.

Aku buru-buru mengangguk, segera mengusir lamunan. Habis makan malam, melihatku yang seperti biasa hendak membereskan meja, Mama menyuruhku langsung istirahat. "Malam ini biar Mama saja yang mencuci piring. Besok kan kamu sekolah. Kamu pasti lelah setelah perjalanan pulang sepanjang hari.

" Aku mengalah dan mengangguk. Tubuhku memang letih, kurang tidur berhari-hari.

"Semangat, Ra!" Papa berseru saat aku naik tangga, mengepalkan tangan meniru gaya teman-temanku di sekolah, terlihat lucu. Aku tertawa, balas mengepalkan tangan.

Si Putih ikut berlari-lari naik anak tangga.

Aku merebahkan badan di atas kasur, mengembuskan napas lega. Aku rindu kasur ini, juga rindu kamarku, setelah bertualang dua minggu di Klan Matahari. Si Putih ikut melingkar di sampingku. Aku menatapnya.

"Hei, Put, kamu sudah mengantuk juga?" Si Putih mengeong.

Aku tersenyum lebar. Kucingku ini sejak kecil kupelihara, Dia selalu mengeong jika aku mengajaknya bicara, seolah bisa memahami kalimatku. Tapi senyumku hilang saat ingat kucingku satunya lagi, si Hitam.

Entah di mana si Hitam sekarang. Dulu aku mengira kucingku memang dua. Bahkan saat Mama dan Papa bilang mereka hanya melihat seekor kucing, aku tetap ngotot meyakini kucingku ada dua. Aku baru tahu bahwa si Hitam memang tidak terlihat oleh siapa pun saat Tamus datang. Si Hitam sengaja dititipkan oleh Tamus, orang yang muncul di cermin meja belajarku dan menjadi awal seluruh perualanganku di dunia paralel.

Aku menguap, bergegas mengusir bayangan Tamus, sosok tinggi kurus dengan mata hitam, sebelum dia merusak kantukku.

Gerimis turun di luar. Suara air mengenai genting terdengar menyenangkan. Papa benar, sekarang sudah masuk musim hujan. Langit yang cerah bisa mendadak menjadi mendung dan hujan. Aku memeluk guling lebih erat.

Aku jatuh terlelap, juga si Putih, yang tidur meringkuk di ujung kakiku.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊