menu

Matahari BAB 01

Mode Malam
BAB 01 
PUKULsatu siang. Hujan turun deras di luar. Suara petir terdengar susul-menyusul, angin kencang berkesiur. Udara terasa lembap dan dingin.

Namun, itu tidak menyurutkan suasana. Aula sekolah yang seminggu terakhir menjadi tempat pertandingan basket riuh rendah oleh teriakan penonton. Suara tepuk tangan, seruan tertahan, dan sorakan semangat terdengar di sekelilingku. Bahkan Seli, yang biasanya kalem urusan begini, juga ikut berseru-seru, sambil tangannya tak berhenti memukulkan balon tepuk--alat suporter yang terbuat dari balon panjang, seperti pentungan--yang mengeluarkan suara berisik itu.

Aku menatap keramaian. Semua kursi di pinggir lapangan penuh sesak, lebih banyak yang berdiri. Tidak ada sudut aula yang kosong. Semua dipenuhi murid dari sekolah kami dan dari sekolah-sekolah lain.

Menariknya, seruan penonton semakin kencang setiap kali Ali menyentuh bola.

Ali? Iya, si biang kerok itu. Dia menjadi pusat perhatian di lapangan basket.

Aku mengusap wajah, tetap belum terbiasa menatap Ali yang lincah berkelit mendribel bola di lapangan.

Dia lihai melewati dua lawan seperti pemain profesional (penonton berteriak), juga dua lawan berikutnya lagi (teriakan semakin kencang), kemudian tanpa terkawal, penuh gaya Ali lompat menembak ke keranjang. Gerakan tangannya begitu dramatis, bola melengkung. Masuk! Kupingku seperti pekak oleh teriakan histeris fans Ali ketika bola basket menembus keranjang, Satu-dua penonton meniup teromper kegirangan, menyambut poin tambahan dari Ali.

Aku menelan ludah. Ini pemandangan yang musykil--mungkin bisa masuk keajaiban dunia nomor delapan.

Entah bagaimana caranya, si biang kerok, tukang cari ribut, yang pakaiannya selalu kusut, rambut berantakan, sering diusir guru dari kelas karena tidak mengerjakan PR, bertengkar, tidak punya teman (kecuali aku dan Seli), seminggu terakhir mendadak menjadi murid paling populer di sekolah. Semua orang meneriakkan namanya. Ali, Ali, dan Ali! Lihatlah, di tengah lapangan, Ali sudah mengangkat tangannya tinggi-tinggi, tertawa lebar, membalas teriakan fansnya yang semakin gila berseru-seru-termasuk Seli di sebelahku.

Aku menyikut lengan Seli.

"Eh, kenapa, Ra?" Seli menoleh.

Aku melotot, menahan kesal, sambil memperbaiki anak rambut di dahi. Salah satu balon tepuk yang dipegang Seli tidak sengaja mengenai kepalaku. "Lihat-lihat dong, tidak usah berlebihanlah..." Seli tertawa melihat ekspresi wajahku. "Maaf," ujarnya singkat, kemudian dia melanjutkan memukul balon tepuk bersama yang lain.

Tim basket sekolah kami semakin jauh meninggalkan lawan. Poin sementara 42-18, dengan Ali, lagi-lagi menjadi bintang pertandingan.

Minggu-minggu ini, di pertengahan semester, setiap hari Sabtu dan Minggu, OSIS sekolah kami mengadakan kompetisi pertandingan basket antar-SMA seluruh kota. Kompetisi ini rutin diadakan setiap tahun, salah satu kompetisi prestisius dengan banyak sponsor dan liputan media. Hampir semua sekolah di kota kami berpartisipasi mengirimkan tim. Hari ini sudah masuk pertandingan semifinal dan final. Tim basket sekolah kami salah satu di antara empat tim terbaik setelah sepuluh tahun terakhir selalu tersingkir di babak penyisihan. Lagi-lagi, itu semua karena Ali.

Sebulan lalu, aku masih ingat sekali saat Ali bilang dia berhasil bergabung dengan tim basket.

"Tidak mungkin!" Aku mendesis tidak percaya. Kecuali kalau Ali disuruh jadi tukang pel lapangan, arau mencuci seragam tim, itu baru masuk akal. Aku tertawa jahat dalam hati.

"Betulan lho, Ra," Ali mengangkat bahu, tidak peduli. Dia santai melanjutkan menyendok kuah bakso.

Kami bertiga sedang makan di kantin yang baru selesai direnovasi sejak kejadian tiang listrik roboh setahun lalu. Saat bel istirahat pertama berbunyi, Seli langsung mengajak ke kantin. Dia bilang dia lupa sarapan.

"Selamat, Ali.

" Seli ikut bahagia mendengar kabar itu.

"Dia cuma berbohong, Seli," sergahku. Mudah sekali Seli percaya.

"Siapa yang berbohong?" Ali sedikit tersinggung.

"Memangnya sejak kapan kamu bisa main basket?" Mataku menyipit.

"Aku bisa main basket, Ra..." Ali tidak terima.

"Aku tidak percaya. Memasukkan bola ke keranjang saja kamu tidak bisa. Kecuali jika keranjangnya selebar meja kantin ini.

" Aku tertawa. "Dan sejak kapan tim basket merekrut anggotanya sekarang.

" Semua ekskul merekrut murid baru sejak awal tahun ajaran baru. Kenapa mereka mendadak menerima anggota baru di tengah semester, dari kelas sebelas pula.

" Tidak masuk akal.

" "Karena mereka membutuhkan pemain terbaik untuk kompetisi basket bulan depan, Ra. Open recruitment khusus.

" "Pemain terbaik?" Ali mengangguk, menunjuk dirinya dengan sendok, bergaya.

"Tidak percaya.

" Aku mendengus.

"Terserah kamu sajalah.

" Kali ini Ali tertawa, melanjutkan menghabiskan isi mangkuk.

Tapi dengusanku langsung menguap saat serombongan murid kelas dua belas, anggota tim basket sekolah yang sangat populer di sekolah, melewati meja kami.

"Hei, Ali.

" Kapten mereka--semua murid kenal dia--menepuk bahu Ali.

Ali mendongak. Aku dan Seli juga ikut mendongak, bertanya-tanya dalam hati, "Mereka menyapa siapa?" "Kamu bisa ikut latihan sore ini, Kawan?" "Yeah," Ali menjawab singkat.

"Jangan terlambat, ya! Kita harus latihan setiap hari hingga kompetisi dimulai.... Oh iya, kamu mau bergabung di meja kami.

" Kamu sudah menjadi bagian tim.

" Ali menggeleng, menunjuk aku dan Seli, teman makan baksonya.

"Baiklah, sampai ketemu sore nanti.

" Rombongan murid kelas dua belas itu menuju pojok kantin, tempat mereka biasa berkumpul. Satu-dua dari mereka mengacungkan tiga jari, simbol tim basket sekolah.

Aku terpana. Ini sungguhan.

" Seli di sebelahku tersenyum lebar. "Wow, Ali, kamu berteman dengan murid kelas dua belas, anggota tim basket?" Ali mengangguk.

"Itu keren, Ali!" Ali mengangkat bahu. "Itu mudah, Seli.... Tapi lihat, tetap saja ada yang tidak percaya.

" Aku terdiam. Mengusap wajahku.

Hari-hari berikutnya, kejutan itu tetap tidak bisa kupercaya. Bagaimana caranya Ali bisa bergabung dengan tim basket.

" Bagaimana dia melakukannya.

" Tidak hanya bergabung, dia bahkan segera menjadi pemain inti, pemain andalan. Kabar itu menyebar luas di seluruh sekolah, betapa hebatnya anggota baru tim basket.

Dua hari kemudian aku dan Seli memutuskan menonton Ali berlatih. Aku akhirnya memang tahu kenapa Ali bisa bergabung dengan tim basket. Lihatlah, sepuluh kali Ali diminta melemparkan bola ke keranjang dari jarak 6,75 meter, dari area tiga poin, sewaktu latihan shooting, dia tidak gagal walau sekali. Juga saat mendribel bola, gerakan Ali lincah, tidak ada yang bisa merebut bola darinya. Kapten tim dan murid kelas dua belas bertepuk tangan menyemangati, menepuk-nepuk bahu Ali. Itu hebat sekali, bahkan pemain profesional butuh latihan panjang untuk melakukannya, Tapi Ali.

" Jangankan melihat dia memegang bola basket, di benakku, yang ada hanyalah bayangan dia sering diusir guru karena bertingkah saat pelajaran olahraga. Aku menghela napas perlahan. Pasti ada sesuatu di baliknya. Si biang kerok ini pasti berbuat curang.

Setelah latihan yang ramai ditonton murid lain, aku bergegas menyeret Ali ke pojokan aula.

"Kamu pasti menggunakan alat-alat rahasia, kan?" Aku melotot.

"Hei?" Ali tidak mengerti, napasnya masih tersengal-sengal, seragam tim yang dikenakannya basah kuyup oleh keringat.

"Jangan pura-pura bodoh ya!" aku berbisik ketus. Tempat latihan masih ramai. "Kamu pasti menggunakan alat rahasia agar bisa menembak bola ke keranjang dengan tepat.

" "Alat apa?" Ali menatapku bingung. "Aku tidak menggunakan apa pun.

" Seli memegang lenganku, mencoba menengahi, tapi aku menepis tangannya. Aku tidak peduli. Ini tidak mungkin. Sejak dulu Ali suka mengutak-atik sesuatu, membuat alat-alat aneh. Dia pasti menggunakan alat tersebut agar bisa bermain basket dengan baik, menembak dengan jitu misalnya. Atau bisa berkelit dengan cepat.

"Aku latihan keras, Ra! Hanya itu," Dengan sebal Ali mengulurkan tangannya. "Kalau kamu tidak percaya, kamu periksa saja sendiri.

" "Pasti kamu sembunyikan di tempat lain. Di sepatu misalnya.

" Aku kembali berseru setelah setengah menit tidak menemukan apa pun di tangan Ali--tidak ada gelang atau cincin yang mungkin telah dimofidikasi si genius ini hingga dia bisa membuat bola basket selalu masuk keranjang.

"Astaga, Ra..." Seli berbisik. "Kamu berlebihan....

" Ali telah melepas sepatunya. "Periksa saja sendiri!" Dia mendengus, melemparkan sepatunya. "Atau kamu mau aku juga melepas celana dan seragamku?" Tidak ada apa-apa di sepatu Ali. Itu sepatu biasa. Aku mendengus kecewa.

Seli sudah menarikku menjauh sebelum Ali serius melepas seragamnya.

"Dia pasti menyembunyikan sesuatu, Sel.

" "Ya ampun, Ra, apanya yang disembunyikan?" "Mana aku tahu dia menyembunyikan apa. Tapi pasti ada.

" "Kamu seharusnya senang melihat Ali bisa bergabung dengan tim basket sekolah, kenapa malah mengamuk, tidak terima?" Seli terus menarik tanganku menjauhi Ali.

"Karena dia curang. Itu melanggar semangat olahraga, sportivitas.

" "Apanya yang curang?" Seli mengangkat bahu. "Kamu tidak menemukan apa pun, bukan? Dia berlatih dan bermain secara sportif.

" Wajahku terlipat. Tidak sekarang, besok-besok aku pasti menemukannya.

***
 Kembali ke aula sekolah.

Tepuk tangan panjang penonton menutup pertandingan semifinal. Suara terompet sahut-menyahut. Tim sekolah kami menang dengan selisih tiga puluh poin.

Aku memperbaiki anak rambut di dahi. Selesai sudah pertandingannya. Kuembuskan napas pelan. Anggota tim basket sekolah kami menggendong Ali tinggi-tinggi di lapangan, bersorak senang karena sekolah kami masuk final. Sementara murid-murid perempuan berlarian ke tengah lapangan, mengerubungi Ali. Satu-dua membawa spidol, sambil berseru, "Ali, minta tanda tanganmu dong...!" Atau membawa tongsis, berteriak, "Aliiii.

. please. wefie bareng aku!" Aku menepuk dahi, menatapnya tidak percaya. Seminggu lalu, bahkan tidak ada yang peduli Ali melintas di lorong-lorong kelas, menganggapnya si kusam sedang lewat, si biang kerok sedang melintas, lebih baik menjauh atau anggap angin lalu. Sekarang murid-murid perempuan menjadikannya idola sekolah, sudah seperti anggota boyband.

"Perutku lapar, Ra," Seli berseru di sebelahku. "Kamu mau menemaniku ke kantin?" "Kantin? Kamu tidak ikut ke tengah lapangan?" aku bertanya malas.

"Ke tengah lapangan?" "Iya, mungkin kamu juga mau minta tanda tangan Ali di baju sekolah seperti yang lain. Atau malah tanda tangan di tas, sepatu, semuanya..." Seli tertawa, menarik tanganku. "Ayo, Ra, aku sejak tadi belum makan.

" Baiklah. Daripada menyaksikan Ali dikerubuti fansnya, aku ikut melangkah di belakang Seli, keluar dari aula sekolah. Hujan masih turun deras, tempias air membasahi lorong sekolah. Sebagian penonton masih bertahan menunggu di aula, tidak mau kehilangan momen penting, karena setengah jam lagi, pukul dua siang, kompetisi akan dilanjutkan dengan pertandingan semifinal dua sekolah lainnya. Ini hari terakhir kompetisi. Pertandingan dilaksanakan secara maraton. Nanti sore pukul empat ada perebutan posisi ketiga, dan nanti malam pukul tujuh pertandingan final perebutan juara.

Kami tiba di kantin. Seli memesan menu favoritnya, bakso. Aku tersenyum lega. Setidaknya di kantin ini aku aman dari menyaksikan Ali.

"Bagaimana tadi? Menang?" Mamang tukang bakso justru bertanya antusias.

Seli mengangguk.

"Nak Ali bermain hebat lagi?" tanya si Mamang.

Seli mengangguk, lalu menunjuk perutnya, minta agar pesanannya segera disiapkan.

Mamang tertawa, mengepalkan tangan seakan bilang "Yes!". "Nanti pas final jam tujuh malam, saya tinggal saja gerobak sebentar, saya mau menonton Nak Ali bermain basket. Saya penasaran sekali, katanya dia bisa menembak bola ke keranjang dengan mata tertutup.

" Seli mengangguk lagi.

"Bisa loncat seperti terbang. Benar, Nak Seli?" Seli tertawa.

Mamang tukang bakso kembali menatap kami penuh semangat. "Wah. berarti saya harus nonton. Yah... meskipun kantin sedang ramai, demi menonton Nak Ali, tidak apalah saya rugi sedikit kehilangan pembeli.

" Aku menepuk dahi. "Ya ampun...," gumamku.

Kantin segera ramai, ada banyak murid lain berdatangan untuk makan siang. Sekolah kami dikunjungi banyak murid dari sekolah-sekolah lain. Mereka datang mendukung tim masingmasing. Langit-langit kantin dipenuhi percakapan tentang pertandingan barusan, dan hanya soal waktu, nama Ali disebutsebut. Salah satu meja menjadi ramai saat mereka berebut saling menunjukkan tanda tangan dan foto wefie bersama Ali.

"Ra, kenapa kamu sebal?" Seli bertanya, mulai menghabiskan bakso nya.

"Sebal apanya?" Aku menatap Seli.

"Sejak Ali bergabung dengan tim basket, sejak kompetisi, kamu selalu sebal. Wajahmu terlipat, selalu mendengus, menuduh Ali macam-macam. Ada apa sih?" "Itu karena dia curang!" Bagaimana mungkin Seli tidak paham juga.

"Kamu sudah berkali-kali memeriksanya, bukan? Bahkan mengikutinya sambil menghilang--aku tahu kamu melakukannya. Tidak ada yang aneh dengan Ali, kan?" Aku terdiam. Seli benar, seminggu terakhir aku selalu membunturi Ali. Bahkan meskipun Miss Keriting melarang kami menggunakan kekuatan Klan Bulan, aku diam-diam menggunakan kekuatan menghilang untuk mengintai Ali di sekolah. Tidak ada hal yang ganjil pada Ali. Dia latihan basket sungguh-sungguh.

Terkadang saat semua anggota tim sudah pulang, dia terus berlatih shooting atau dribel sendirian. Dengan menghilang, aku bisa leluasa menonton dari pinggir lapangan, menyaksikan Ali yang basah kuyup oleh keringat, terlihat semangat.

Seli benar, sejauh ini, sepertinya Ali memang jago bermain basket secara alamiah. Dia berlatih keras, tidak menggunakan alat-alat canggih ciptaannya.

"Tapi bukankah aneh sekali? Si biang kerok itu tidak pernah bermain basket. Sebelum kompetisi ini, apakah kamu pernah melihatnya bermain basket?" Aku tetap tidak terima.

"Justru itu tidak aneh. Bisa saja Ali memang berbakat. Dia tidak pernah bermain basket, tapi sekali dia menyentuh bola basket, simsalabim, semua bakat besarnya mendadak keluar.

" "Dia hanya berbakat membuat masalah. Kalau yang itu aku yakin sekali.

" Aku mendengus.

Seli tertawa kecil. "Kalau menurutku ya, Ra. hmm. tapi kamu jangan marah ya..." "Apa?" "Tapi kamu janji dulu tidak akan marah.

" Aku manahan napas kesal, tapi akhirnya mengangguk. "Oke.

" "Kamu uring-uringan melihat Ali jago bermain basket, bukan karena Ali curang. Menurutku, itu karena kamu cemburu. Iya, kan? Karena Ali dikerubuti murid-murid perempuan. Kamu sebenarnya suka pada Ali sejak dulu, kan?" Seli tertawa dengan idenya.

Aku hampir refleks melempar Seli dengan sendok.

"Hei, jangan marah, Ra! Kamu kan sudah janji.

" Seli tergelak. "Aku cuma bercanda.

" Aku melotot.

"Lagi pula, ada untungnya jika Ali jago main basket, Ra. Bukankah sejak dia bergabung dengan tim basket, dia berhenti menjadikanmu atau aku sebagai kelinci percobaan penelitiannya? Dia tidak lagi meminta kamu menghilang atau aku mengeluarkan petir. Dia juga tidak bertanya-tanya ke mana Miss Keriting pergi, tidak protes, mengeluh, atau malah mencari perhatian di kelas, bilang bahwa kita dari klan lain seperti sebelum-sebelumnya.

" Aku diam, menurunkan sendok. Ucapan Seli ada benarnya. Sekembali kami dari "liburan di Klan Matahari", meskipun Miss Keriting pergi meninggalkan kami dengan banyak pertanyaan tiga bulan terakhir, Ali tidak resek menggangguku.

Tapi aku tetap tidak terima dia mencurangi pertandingan basket.

"Kalau menurutku lagi ya, Ra..." "Apa lagi, Sel?" Aku menatapnya kesal.

"Tapi kamu janji dulu tidak akan marah seperti tadi..." Seli menahan tawa.

"Apa sih? Siapa yang marah?" Tidak memedulikan komentarku, Seli terus mencerocos. "Kalau kamu marah-marah saat kubilang kamu naksir Ali, itu justru malah membuktikan kamu memang naksir dia. Benar, kan? Ayo, mengakulah, Ra. Ali memang terlihat keren dengan seragam basketnya.

" Kali ini aku menimpuk Seli dengan gulungan tisu.

Seli cekatan menghindar.

Sial! Tisu itu mengenai meja seberang yang diisi murid-murid sekolah lain.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊