menu

Bumi Bab 15

Mode Malam
Bab 15
SELAMAT pagi, Ra.” Mama sedang menggoreng sosis saat aku menuruni anak tangga. Mama tertawa kecil. ”Wah, ini rekor baru kamu bangun pagi. Jam segini malah sudah siap be­rangkat sekolah.”

”Pagi, Ma,” aku menjawab pendek, menarik kursi, meletakkan tas. ”Tidur  nyenyak,  Ra?”  Perhatian  Mama  kembali  ke  wajan, ti­dak

menunggu  jawabanku.  ”Hujan  deras  semalaman  selalu  bikin  nyenyak

tidur lho.”

Aku menghela napas pelan, menatap punggung Mama yang asyik meneruskan menyiapkan sarapan. Sebenarnya aku tidak bisa tidur tadi malam. Siapa yang bisa tidur nyenyak setelah tiba­tiba ada sosok tinggi kurus berdiri di dalam cermin kamar kalian? Bicara panjang lebar tentang hal­hal yang tidak aku mengerti, penuh misteri.

Belum lagi si Hitam. Itu yang paling susah membuatku ti­dur— tidak peduli seberapa manjur suara hujan mampu me­nina­bobokan. Bagaimana kalian akan tidur jika di atas kasur me­ringkuk kucing kesayangan kalian, yang ternyata selama ini tidak terlihat oleh siapa pun, yang ternyata bisa menembus cermin. Dan itu belum cukup—kucing itu ternyata juga memata­matai kalian se­lama enam tahun terakhir! Itu mimpi buruk yang nyata. Meski­pun si Hitam sebenarnya terlihat biasa­ biasa saja, dia me­natapku dengan bola mata bundar bercahaya, manja menempel­kan badan­nya yang berbulu tebal ke betis, meringkuk tidur.

Setengah jam sejak sosok tinggi kurus itu pergi, situasi ganjil di kamarku masih tersisa pekat. Aku menatap si Hitam dengan kepala sesak oleh pikiran. Sikapku jelas berbeda kalau si Hitam hanya minggat karena naksir kucing tetangga. Ta­ngan­ku gemetar berusaha menyentuh kepala si Hitam. Kucing itu mengeong, me­natapku, sama persis seperti kelakuan kucing ke­sayanganku selama ini. Aku terdiam. Lihatlah, si Hitam amat nyata, sama nyata­nya dengan si Putih yang sejak tadi terus tidur, tidak merasa terganggu dengan keributan. Aku meng­gigit bibir. Bagai­mana mungkin si Hitam ”makhluk lain”? Bagaimana mungkin matanya yang 

indah itu ternyata meng­awasi­ku selama ini? Bagai­mana mungkin dia kucing paling aneh sedunia, bukan hanya karena tidak ada yang melihatnya, tapi boleh jadi dia juga punya rencana­rencana di kepalanya. Melaporkan kepada dunia lain?

”Lho, Ra, kok malah melamun?” Mama menumpahkan sosis goreng ke piring di atas meja. ”Pagi­pagi sudah melamun. Itu tidak baik untuk anak gadis.”

Aku menggeleng, tersenyum kecut.

”Papa semalam baru pulang jam sepuluh. Larut sekali.” Mama memberitahuku—yang aku juga sudah tahu. ”Pekerjaan kantor Papa semakin menumpuk. Seperti biasa, sibuk berat.” Hanya itu penjelasan Mama.

Aku mengangguk.

”Mama senang, dua hari terakhir kamu selalu siap sekolah sebelum Papa berangkat. Jadi Mama tidak perlu teriak­teriak membangunkanmu.” Mama menatapku, tersenyum, tangannya masih memegang wajan kosong. ”Kita semua harus mendukung Papa pada masa­masa sibuknya.”

”Iya, Ma,” aku menjawab pendek. ”Kamu mau sarapan duluan?”

”Nanti saja, Ma. Tunggu Papa turun.”

Mama mengangguk, kembali ke kompor gas, melanjutkan aktivitas masak­memasaknya.

Aku menatap lamat­lamat piring berisi sosis di hadapanku, mengembuskan napas pelan.

Tadi malam, berkali­kali aku menatap si Hitam—aku urung mengelus bulu tebalnya, membiarkan dia meringkuk tanpa diganggu. Aku berkali­kali menatap cermin besar, memastikan tidak ada siapa pun lagi di dalamnya yang tiba­tiba menyapa. Aku berkali­kali meletakkan telapak tangan di wajah, mengintip dari sela jemari, siapa tahu sosok tinggi kurus itu ada di dalam kamarku, hanya kosong, tetap tidak ada siapa­siapa. 

Bahkan aku yang bosan tidak bisa tidur­tidur juga akhirnya memutuskan beranjak duduk. Teringat percakapan dengan sosok itu, aku menatap novel tebal di atas kasur, menghela napas. Aku berkonsentrasi, berkali­ kali menyuruh novel itu menghilang—lima belas menit berlalu, novel tebal itu tetap teronggok bisu.

Akhirnya aku menarik selimut lagi, berusaha tidur, hingga jatuh tertidur pukul dua malam. Di luar sana, hujan deras terus menyiram kota. Lampu seluruh kota terlihat kerlap­kerlip oleh tetes air. Irama konstan air menerpa atap, jalanan, dan pohon.

Aku terbangun mendengar kesibukan Mama di dapur. Me­lihat jam di dinding, pukul lima, rasanya baru sebentar sekali aku tidur. Aku memutuskan turun dari ranjang, memulai aktivitas pagi.

Di luar hujan sudah reda, masih gelap, menyisakan halaman rumput yang basah. Si Putih mengeong riang, menyapa. Aku balas menyapa. ”Pagi, Put.” Tapi tidak ada si Hitam. Kucingku itu jika aku masih bisa menyebutnya ”kucing­ku” tidak terlihat di kamarku.

Aku merapikan poni yang berantakan di dahi, menatap cermin, tidak ada hal yang ganjil di dalamnya. Kuperiksa kamar, si Hitam tetap tidak ke­lihatan. Aku menggaruk kepala, sebaik­nya aku mandi dan ber­siap berangkat sekolah.

”Eh, Ra? Jerawatmu sudah hilang, ya?” Seruan Mama sedikit mengagetkan.

Aku mendongak. Entah sejak kapan, Mama sudah berdiri di hadapanku. Tangannya memegang wajan kosong, habis meng­goreng telur dadar. Aku tadi pasti lagi­lagi melamun.

”Wah, benar­benar hilang! Kamu pencet, ya? Tapi kenapa tidak ada bekasnya?” Mama tertarik ingin tahu.

”Nggak tahu, Ma. Hilang begitu saja.”

”Hilang begitu saja?” Mama tertawa antusias. ”Wah, ini hebat, Ra. Hanya dalam satu malam, jerawat sebesar itu sembuh. Kamu kasih obat 

apa sih? Kita bisa buka klinik khusus jerawat lho. Mahal bayarannya. Nanti Mama suruh tantemu bantu cari modal. Dia relasinya kan luas.”

Aku tersenyum kecut menatap Mama—yang biasa berlebihan kalau sedang semangat. Seandainya Mama tahu bahwa jerawatku memang hilang begitu saja saat aku suruh meng­hilang, Mama mungkin akan berteriak panik. Mama tidak pernah suka cerita horor, kejadian penuh misteri, dan sejenis­nya.

”Pagi, Ra, Ma.” Papa ikut bergabung, menyapa, menghentikan kalimat rencana­rencana Mama tentang klinik jerawat. ”Ternyata Papa terakhir yang bergabung ke meja makan. Padahal tadi Papa sudah mandi ngebut sekali lho.”

Aku dan Mama menoleh. Papa sudah rapi. ”Kalian sedang membicarakan apa?” ”Jerawatnya Ra, Pa.” Mama tertawa.

”Oh ya? Ra jerawatan lagi? Seberapa besar?” Papa ikut ter­tawa. Sarapan segera berlangsung dengan trending topic jerawatku.

Sempat diseling Papa bertanya soal mesin cuci baru yang diganti, Mama bilang sejauh ini penggantinya tidak bermasalah. Mama juga sempat bilang tentang rencana arisan keluarga minggu depan di rumah. Papa diam sejenak, mengangguk. ”Semoga minggu depan Papa sudah tidak terlalu sibuk lagi di kantor, Ma, jadi bisa membantu.” Papa melirikku sekilas. Aku tidak ikut berkomentar. Aku tahu, maksud kalimat Papa sebenarnya adalah semoga masalah mesin pencacah raksasa di pabrik sudah beres.

Lima belas menit sarapan usai, aku berpamitan pada Mama, duduk rapi di kursi mobil di samping Papa. Papa mengemudikan mobil melewati jalanan yang masih sepi. Baru pukul enam, itu berarti jangan­jangan aku orang pertama lagi yang tiba di sekolah.

”Bagaimana sekolahmu, Ra?” Papa bertanya, di depan sedang lampu merah. 

”Seperti biasa, Pa,” aku menjawab pendek, menatap langit mendung. Ribuan burung layang­layang terbang memenuhi atas kota, sepertinya selama ini aku mengabaikan pemandangan itu.

”Kamu tidak punya sesuatu yang seru yang hendak kamu ceritakan kepada Papa?” Papa menoleh, mengedipkan mata, timer lampu merah masih lama. ”Selain soal jerawat lho.”

”Eh, tidak ada, Pa.” Aku menggeleng. ”Sungguhan tidak ada?” Papa tetap antusias.

Aku menggeleng lagi. Aku tahu, Papa sedang mencari topik pembicaraan, lantas memberikan nasihat yang menyambung de­ngan topik itu, menasihati putrinya.

Papa kembali memperhatikan ke depan. Aku menatap jalanan dari balik jendela. Teringat percakapan dengan sosok tinggi kurus tadi malam. Itu benar, bertahun­tahun aku mampu me­nyimpan rahasia itu sendirian. Tidak bocor sedikit pun, tidak tem­pias satu tetes pun. Aku tidak pernah membicarakannya kepada Papa dan Mama. Mereka dengan sendirinya terbiasa, selalu punya penjelasan sederhana setiap melihat hal ganjil di rumah kami. Aku yang tiba­tiba muncul. Aku yang tiba­tiba tidak ada di sekitar mereka. Bahkan tentang kucingku, mereka selalu bilang si Hitam atau si Putih, bukan si Hitam dan si Putih.

”Papa minta maaf ya, Ra.”

”Eh? Minta maaf apa, Pa?” Aku menoleh ke depan. Lampu merah berikutnya.

”Hari­hari ini Papa jadi jarang memperhatikan kamu, meng­ajak ngobrol. Tidak ada makan malam bersama. Sarapan juga serba­cepat. Papa cemas, kemungkinan Sabtu­Minggu lusa Papa juga harus lembur di kantor. Rencana weekend kita batal.”

Aku mengangguk, soal itu ternyata. ”Tidak apa kok, Pa. Ra paham.

Kan demi memenangkan hati pemilik perusahaan.”

Papa ikut tertawa pelan. ”Kamu selalu saja pintar menjawab kalimat Papa.” 

Lampu hijau, iringan kendaraan bergerak maju.

Lima belas menit kemudian tiba di gerbang sekolah, aku meng­angkat tas, membuka pintu, berseru, berpamitan. Mobil Papa hilang di kelokan jalan. Aku menatap lapangan sekolah yang lengang. Langit semakin mendung. Ribuan burung layang­layang masih ada di atas gedung­gedung kota, terbang menari menanti hujan. Aku menghela napas, berusaha riang melangkah masuk ke halaman sekolah. Setidaknya, dengan segala kejadian aneh tadi malam, hari ini aku tidak perlu menutupi jidatku.

Jerawatku sudah hilang.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊