menu

Bumi Bab 14

Mode Malam
Bab 14
SIAPA kamu?” aku berseru dengan suara bergetar bukan karena takut, lebih karena kaget setengah mati melihat ada sosok yang tiba­tiba berdiri di dalam cermin besar.

Ini bukan imajinasiku. Ini nyata, senyata aku berusaha me­ngendalikan napas. Jantungku berdetak amat kencang. Sosok itu benar­benar ada di dalam cermin besar, hanya di dalam cermin, tanpa ada fisiknya di kamarku. Perawakannya tinggi dan kurus. Wajahnya tirus. Telinganya mengerucut. Rambutnya meranggas. Bola matanya hitam pekat. Dia mengenakan—aku tidak tahu, apa­kah itu pakaian atau bukan kain yang seolah melekat ke tubuhnya, berwarna gelap.

Sejenak tersengal menatap sosok itu, aku melompat. Tanganku refleks menyambar apa saja di atas kasur, mencari senjata, dan mengeluh, karena yang ada hanyalah novel tebal. Sementara suara hujan deras di luar semakin keras, membuat keributan di kamar tidak terdengar hingga ruang tengah, tempat Mama sedang menonton televisi—menunggu Papa pulang. Kilau petir dan gelegar guntur susul­menyusul. Napasku menderu kencang.

”Siapa kamu?” aku berseru, suaraku serak.

”Aku siapa?” Suara sosok itu terdengar seperti mengambang di langit­langit kamar, seolah dia bicara dari sisi kamar mana pun, bukan dari dalam cermin. ”Kalau mau, kamu bisa me­manggilku ‘Teman’, Nak.”

Aku menggeleng, beringsut menjaga jarak. Mataku menyelidik setiap kemungkinan. Tanganku bergetar mencengkeram novel. Kalau sosok ganjil ini tiba­tiba menyerangku, akan kupecahkan cerminnya dengan novel tebal di tanganku—dan semoga dia tidak justru keluar dari cemin pecah itu, malah bisa berdiri nyata di tengah kamarku.

”Kamu mau apa? Kenapa kamu ada di dalam cerminku?” aku berseru, bertanya, terus berhitung dengan posisiku. 

Sosok itu tidak langsung menjawab. Diam sejenak lima be­las detik. Kucingku si Putih meringkuk tidur, tidak ter­ganggu de­ngan segala keributan. Menyisakan aku dan sosok tinggi ku­rus di dalam cermin saling tatap dengan pikiran masing­masing.

”Ini menarik, Nak.” Sosok itu akhirnya bersuara setelah me­natap­ku lamat­lamat. ”Kebanyakan orang dewasa menjerit ke­takutan melihat cermin di hadapannya yang tiba­tiba berisi bayangan orang lain. Ini menarik sekali, rasa penasaran yang kamu miliki ternyata lebih besar dibanding rasa takut. Rasa ingin tahu yang kamu miliki bahkan lebih besar dibanding me­mikirkan risikonya. Aku siapa? Kamu selalu bisa memanggilku ‘Teman’. Apa mauku? Apa lagi selain menemuimu?”

Aku menggeleng, memutuskan tidak mudah percaya, berjaga­jaga kalau ada sesuatu yang mencurigakan. Tanganku semakin dekat untuk melemparkan novel tebal ke arah cermin.

Sosok tinggi kurus itu mengangguk. ”Baik, kamu benar, aku mungkin bukan teman. Tidak ada teman yang datang lewat cermin, bukan? Membuat semua akal sehat terbalik. Siapa pula yang akan riang gembira saat sedang menatap cermin tiba­tiba ada sosok lain di dalamnya. Sayangnya, kita tidak leluasa ber­temu. Belajar dari pengalaman dua hari lalu, kini aku tidak bisa berharap kamu akan bersedia menangkungkan telapak tanganmu ke wajah, bukan? Mengintip dari sela jari agar aku bisa terlihat berdiri di kamar ini. Kamu pasti tidak mau melaku­kannya.”

Angin kencang yang menyertai hujan di luar membuat tetes air menerpa jendela kaca. Aku tetap berusaha konsentrasi me­natap sosok tinggi kurus di dalam cermin.

”Sayangnya ini pertama kali kita berbicara. Kamu belum siap mendengar penjelasan, Gadis Kecil. Sebesar apa pun bakat yang kamu miliki sekarang, kamu belum siap. Jadi aku tidak akan lama. Dua hari lalu, amat mengejutkan ternyata kamu bisa me­lihatku, tapi kupikir itu kebetulan. Malam ini, kamu mampu melakukan hal yang lebih menarik, berhasil menghilangkan jerawat di wajah, karena itu aku memutuskan sudah saatnya menyapa.” 

Sosok tinggi kurus itu diam sejenak, mengembuskan napas. Dia sungguh nyata. Lihatlah, cerminku berembun oleh napasnya yang hangat.

”Kamu pasti punya banyak pertanyaan, Nak.” Sosok itu meng­hapus embun di cermin dengan jari­jarinya yang kurus dan panjang. ”Tapi malam ini aku tidak akan menjawabnya. Aku pernah melakukan kesalahan dengan terlalu banyak menjelaskan.” Gerakan tangannya terhenti. Mata hitamnya menatap tajam ke arah lain.

Aku tahu apa yang didengar sosok di dalam cermin. Aku juga mendengar suara mobil masuk ke halaman rumah. Papa sudah pulang.

”Ingat baik­baik yang akan kusampaikan, Gadis Kecil.” Dia menatapku tajam. ”Peraturan pertama, jangan pernah memercayai siapa pun. Teman dekat, kerabat, orangtua, siapa pun. Aku tidak akan mengajarimu agar tidak bercerita ke orang lain, lima belas tahun kamu berhasil menyimpan rahasia sendirian. Itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Jadi, kita hilangkan saja peraturan kedua.” Sosok tinggi itu diam sejenak, kembali menatap tajam ke arah lain.

Suara percakapan Papa dan Mama di ruang tengah terdengar sayup­sayup di antara suara hujan. Papa menanyakan apakah aku sudah tidur atau belum.

”Ingat baik­baik peraturan tersebut. Sekali bercerita kepada orang lain, kamu bisa membuat semua menjadi di luar kendali. Semua bakat besar itu akan berubah melawan dirimu sendiri, dan membahayakan orang­orang yang kamu sayangi.” Mata hitam itu menyapu seluruh tubuhku.

Aku menelan ludah, tidak semua kalimat sosok di dalam cermin itu bisa aku mengerti. Jemariku semakin bergetar men­cengkeram novel tebal. ”Apa yang kamu inginkan dariku?”

Sosok tinggi kurus itu mengangguk. ”Kamu memiliki bakat hebat, Nak. Kamu tidak hanya bisa menghilang dengan me­nangkupkan kedua telapak tangan ke wajah. Kamu bisa melaku­kan lebih dari sekadar mengintip orang dari sela jari. Kita akan segera melihatnya, apa­kah hanya kebetulan kamu bisa meng­hilangkan jerawat atau lebih dari itu. Buku tebal yang kamu pegang, itu tugas pertama, kamu akan 

menghilangkannya dalam waktu dua puluh empat jam ke depan. Aku akan kembali besok malam, memastikan kamu mengerjakan pekerjaan itu dengan sungguh­sungguh.”

Sosok di dalam cermin lantas perlahan menyingkap pakaian­nya— ternyata itu tidak menempel ke kulit, pakaian di pinggang­nya longgar dan menjuntai. Entah dari mana datangnya, dia mengeluarkan kucing berbulu tebal.

Aku hampir berseru tertahan, itu si Hitam!

Sosok tinggi kurus itu tersenyum tipis. Jarinya yang panjang mengelus kepala kucingku. ”Sejak usia sembilan tahun kamu telah diawasi, Gadis Kecil. Itu cara terbaik untuk memastikan kamu tidak bersentuhan dengan sisi lain. Tapi dua hari lalu, keber­adaanmu diketahui, itu memicu semua sinyal di empat klan. Kamu bisa membuat pekerjaan ini menjadi mudah atau sulit, tergantung dirimu sendiri. Camkan baik­baik, kamu tidak pernah dimiliki dunia ini, bahkan sejak lahir. Kamu dimiliki dunia lain. Selalu ingat itu.” 

Aku tidak mendengarkan kalimat berikutnya dari sosok itu dengan baik, aku sedang berseru tanpa suara. Astaga, aku sungguh tidak percaya apa yang kulihat. Itu kucingku, si Hitam, ber­ada di pangkuan sosok yang berada dalam cermin.

”Nah, saatnya mulai berlatih, Nak.” Sosok tinggi kurus itu menepuk pelan kucing di pangkuannya, lalu berbisik, ”Kamu temani dia.” Dengan suara meong yang amat kukenal, si Hitam lompat dari tangannya, menembus cermin, mendarat di meja be­lajarku. Aku tertegun. Si Hitam sudah meloncat ke lantai, lang­sung me­nuju kakiku, seperti biasa, hendak antusias me­nyundul­nyundul­kan kepalanya ke betisku.

Aku terkesiap. Entah harus melakukan apa. Kakiku bergetar saat disentuh bulu lembut si Hitam. Apa yang baru saja kulihat? Kucingku menembus cermin? Aku menatap si Hitam yang manja berada di antara kakiku. Jadi, kucingku ini nyata atau bukan? Atau pertanyaannya adalah, ini kucingku atau bukan? Apa yang dikatakan sosok tinggi kurus itu? Aku telah diawasi sejak lama? 

Kilau petir menyambar terang, aku mengangkat kepala, menatap ke depan. Cermin itu hanya memantulkan bayanganku sekarang, kosong. Sosok tinggi kurus itu telah pergi.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊