menu

Bumi Bab 06

Mode Malam
Bab 06
SISA hujan sepanjang pagi sudah menguap di jalanan saat angkot yang kutumpangi merapat di depan rumah. Seli bilang nanti dia yang bayar. Aku mengangguk, lalu turun dari angkot.

Aku berlari­lari di rumput halaman, membuka pintu depan, ber­teriak mengucap salam—suara Mama terdengar menjawab dari dapur. Aku naik ke lantai dua, menuju kamarku, melempar tas sekolah sembarangan ke atas kasur. Mama yang sedang memasak di dapur meneriakiku agar bergegas ganti baju, makan siang, dan bersiap­siap. Pukul tiga kami harus segera be­rangkat ke toko elektronik. Aku balas berteriak, ”Siap, Ma!” Aku tertawa riang. Jalan bersama Mama selalu menyenangkan.

Hal pertama yang kulakukan kemudian adalah melongok ke sana kemari. Ini aneh sekali, biasanya dua kucingku sudah riang menyambut saat aku masuk ke dalam rumah. Tapi tadi yang loncat dari balik pintu hanya si Putih. Si Hitam tidak kelihatan sama sekali.

”Hei, si Hitam mana, Put?”

Si Putih seperti biasa menyundul­nyundul manja betisku, mengeong pelan.

”Kamu lihat di mana si Hitam, Put?” Aku lembut mengangkat­nya dengan kedua telapak tangan, memeluknya, terus memeriksa kamar sambil menggendong si Putih. Aduh, ke mana pula ku­cing­ku yang satu lagi? Tidak ada di kamarku. Juga tidak ada di kamar lain lantai dua. Aku beranjak menuruni tangga, boleh jadi si Hitam sedang malas­malasan di dapur, menghabiskan makanan.

”Kamu belum berganti pakaian, Ra?” Mama menegurku. Aku menggeleng, masih sibuk mencari.

Si Hitam tidak ada di dapur. Tidak ada juga di bawah meja makan, di sebelah lemari, atau di tempat favoritnya selama ini. Aku menghela 

napas. Ini jarang sekali terjadi, bahkan seingatku tidak pernah ter­jadi. Dua kucing ”kembar”­ku ini selalu ber­sama­sama menyambut­ku. Selalu berdua ke mana­mana, ber­main berdua, kompak.

”Apa si Hitam sakit, Put?”

Si Putih yang sedang kugendong hanya mengeong. Mata bulat­nya bekerjap­kerjap. Baiklah, aku beranjak memeriksa ruang tengah, ruang tamu, kamar mandi, bahkan garasi, apa pun tem­pat yang mungkin. Lima menit sia­sia, aku kembali masuk ke dapur.

”Kamu belum berganti pakaian, Ra? Ayo bergegas, kita tidak bisa lama­lama di toko elektronik. Mama harus menyiapkan makan malam, papamu pulang lebih awal malam ini.” Mama me­natapku tidak mengerti. Gerakan tangannya yang sibuk mem­bereskan peralatan masak terhenti sejenak, memperhatikanku yang sedang mencari sesuatu.

Aku menggeleng.

”Kamu mencari apa sih, Ra?” ”Ma, lihat si Hitam?”

”Si Hitam? Bukannya kamu sedang menggendong kucing ke­sayanganmu?”

”Bukan yang ini, Ma. Satunya lagi.” ”Satunya lagi apa?”

”Iya, kucing Ra yang satunya lagi, Mama nggak lihat?”

”Aduh, Mama nggak ngerti deh. Kamu jangan aneh­aneh lagi kayak waktu SD dulu. Jelas­jelas sejak dulu hanya ada satu kucing di rumah ini.” Mama melotot, lantas sedetik kemudian t­angan­nya kembali membereskan peralatan. ”Ayo cepat ganti se­ragammu, lalu makan siang. Jangan keseringan menggoda Mama seperti yang sering papamu lakukan, Ra.” 

Aku menelan ludah. Sebenarnya aku ingin mengeluh, karena Mama terlihat santai­santai saja padahal kucingku hilang satu, tapi aku langsung mengurungkannya. Aku seketika tertegun.

Eh, Mama barusan bilang apa? Satu ekor?

Aku benar­benar baru menyadari hal itu sekarang, detik ini. Seperti ada yang melemparkan pemikiran itu di kepala. Ditam­bah dengan kejadian tadi pagi, melihat sosok tinggi kurus di sekolah, tiba­tiba membuatku berpikir ada yang benar­benar keliru dengan dua ekor kucing ”kembar” kesayanganku selama ini. Setelah enam tahun punya kucing, aku pikir itu semua hanya gurauan Mama dan Papa.

Jangan­jangan...

”Ayo, cepat ganti seragam. Jangan malah bengong,” Mama ber­seru mengingatkan.

***

Sejak usia enam tahun aku ingin punya kucing. Saking inginnya, aku pernah menculik kucing anggora milik Tante Anita, adik Mama, waktu kumpul arisan keluarga di rumahnya. Aku sehari­an bermain bersama kucing itu, memegang bulunya yang tebal seperti beludru KW1, hangat memeluknya sambil tiduran, ber­lari mengejarnya di taman. Akhirnya saat pulang, aku gemas dan me­­masuk­­kan kucing itu ke dalam tas. Dua hari kucing itu ku­sem­bunyi­kan di kamar. Persis hari ketiga, Mama menemukan­nya.

Mama marah besar, bilang tanteku justru cemas mencari ke sana kemari kucing kesayangannya dua hari terakhir. Aku hanya menatap polos. ”Kucingnya lucu, Ma. Lagian Tante juga bilang, kalau Ra mau, kucingnya boleh dipinjam beberapa hari.”

Mama tambah marah. ”Dipinjam itu berarti bilang­bilang. Kamu mencurinya.”

Papa hanya tertawa, meredakan marah Mama, bilang bahwa aku masih enam tahun. Papa lantas mengantar kembali kucing itu pulang ke rumah Tante Anita, membiarkan aku merengek menangis. 

”Nanti­nanti, kalau Ra sudah besar dan bisa mengurus kucing peliharaan sendiri, baru boleh,” Mama tegas berkata, dan itu berarti tidak bisa ditawar­tawar lagi.

Tiga tahun berlalu sejak kejadian itu. Persis ulang tahunku yang kesembilan, kucing ”kembar” itu hadir di rumah kami.

Aku yang tahu hari itu ulang tahunku berseru­seru riang me­nuruni anak tangga. Sambil mengucek mata, me­nguap, masih ileran, rambut panjang berantakan, aku berteriak­teriak, ”Mama! Papa! Ra ulang tahun. Mana hadiahnya?”

Mama dan Papa yang sudah bangun lebih awal tertawa. Mereka menungguku di meja makan sejak tadi. Aku ikut tertawa demi melihat tumpukan kotak hadiah di lantai. Aku langsung loncat bersemangat.

Ada enam kotak hadiah—dua dari Papa dan Mama, yang lain dari saudara dekat dan tetangga. Persis saat aku selesai mem­bongkar kotak keenam dan tertawa membentangkan sweter hi­jau, bel rumah ditekan seseorang, bernyanyi nyaring.

”Biar Ra yang buka.” Aku beranjak berdiri—siapa tahu itu kadoku yang ketujuh.

”Sejak kapan Ra mau disuruh membukakan pintu kalau ada tamu?” Mama tertawa, menggoda. ”Yang ada malah berteriak­teriak menyuruh orang lain.”

Aku menjulurkan lidah. ”Biarin. Hehe.” Aku berlari­lari kecil ke pintu de­pan.

Dugaanku tepat, itu kado ketujuh. Kado paling spesial. Di dalam kardus berwarna pink, beralaskan talam lembut, ditutup kain sutra, hadiah ulang tahunku menunggu. Saat aku membuka kain sutra tipis, dua anak kucing berbulu tebal terlihat mengeong tidak sabar, saling gelitik, bermain satu sama lain. Aku sungguh kehilangan ekspresi terbaik, tidak bisa ber­kata­kata lagi. Aduh, dua anak kucingnya lucu sekali. Mata mereka bundar bercahaya, bulunya lebih lebat daripada yang bisa kubayangkan. Dua anak kucing anggora usia dua minggu. Kedua­nya tampak mirip. Warna bulu mereka hitam dengan bintik­bintik putih, atau 

boleh jadi sebenarnya putih dengan bintik­bintik hitam, saking ratanya warna hitam­putih tersebut. Dua ekor kucing itu tidak bisa dibedakan, kembar.

”Mama yang membelikan kucing?” Papa berbisik. Papa dan Mama sudah berdiri di belakangku.

Mama menggeleng. ”Mungkin dari tantenya.”

”Aduh lucunya.” Itulah kalimat pertamaku setelah terdiam satu menit menatap dua makhluk menggemaskan itu. Aku akhir­nya merengkuh dua ekor kucing itu, menoleh ke Mama dan Papa. ”Boleh Ra pelihara ya, boleh ya, Ma?”

Mama mengangguk, dan aku sudah rusuh membawa kotak itu ke dalam, berlari, bahkan sebelum anggukan Mama ter­henti.

***

Masih enam tahun lalu, saat usiaku sembilan tahun.

”Kamu sudah memberi nama kucingmu, Ra?” Papa ber­tanya, me­letakkan secangkir minuman hangat ke atas meja. Kami se­dang berkumpul di ruang keluarga, habis makan ma­lam ulang tahun­ku. Sekarang jadwal menonton DVD, film kar­tun favorit­ku.

”Sudah, Pa,” aku menjawab pendek, sedang asyik bermain ber­sama dua ekor kucing baruku di atas karpet.

”Papa boleh tahu namanya?” Papa antusias, mendekat. ”Si Hitam dan si Putih,” aku menjawab, tersenyum manis.

”Si Hitam atau si Putih, maksudmu?” Papa mendekat lagi, keningnya berkerut tipis, ikut melihat kucing yang merangkak naik di pahaku.

”Bukan, Pa. Si Hitam dan si Putih.” 

”Eh? Maksudmu, nama kucingnya ada dua? Dikasih dua nama ya, karena warna bulunya tidak bisa dibedakan hitam berbelang putih atau putih berbelang hitam?” Papa bingung.

”Bukan, Pa.” Aku menoleh. Masa Papa nggak ngerti juga, ujarku dalam hati. ”Kucingnya kan ada dua, Pa. Jadi yang satu namanya si Hitam, satunya lagi si Putih.”

Waktu itu aku tidak terlalu menganggap penting percakapan tersebut. Mama menyikut pelan Papa, mengedipkan mata. Papa mengangkat bahu, menoleh, menatap Mama tidak mengerti, lalu kem­bali duduk di sofa.

”Biasa, Pa. Beberapa anak juga begitu. Selalu punya ‘teman lain’,” Mama berbisik.

”Teman lain?” Papa ikut berbisik.

”Teman imajinasi.” Mama tersenyum simpul. ”Bermain dengan imajinasi. Karena kucingnya hanya satu, biar seru, mungkin Ra menganggap ada anak kucing lain, biar ada temannya. Jadilah dia seperti punya dua kucing.”

”Mama serius?” Papa menelan ludah.

”Tentu saja. Coba Papa tanyakan ke teman kantor, tetangga, kenalan, mereka pasti bilang anak­anak biasa mengalami fase itu. Tidak berbahaya, lama­lama hilang sendiri.”

”Tapi Ra kan sudah sembilan tahun, Ma?”

Mama tertawa pelan. ”Bukannya Papa sendiri yang bilang bahwa Ra masih bayi? Setiap malam selalu mengecup dahinya, bilang, ’Selamat tidur, bayi besarku.’”

Papa tertawa, lalu mengangguk. Dia meraih remote DVD player. ”Mama benar. Ra masih anak­anak. Setidaknya dia senang sekali dengan kucing barunya. Bahkan film kartun ke­sayangannya pun diabaikan. Kita nonton yang lain saja. Mum­pung Ra tidak akan protes.” 

Malam itu, aku telanjur senang dengan hadiah kucing di dalam kotak berwarna pink itu. Aku sedikit pun tidak mem­per­hatikan percakapan Papa dan Mama. Dan karena sejak usiaku dua puluh dua bulan, sejak bermain petak umpet itu, keluarga kami terbiasa dengan hal­ hal aneh, soal kucing itu cepat atau lambat juga dianggap biasa saja.

Bahkan saat arisan keluarga diadakan di rumah kami beberapa bulan kemudian, Tante Anita berseru riang, ”Aduh, sejak kapan Ra punya kucing? Kok nggak bilang­bilang sih, Ra. Cantik sekali. Kayaknya lebih cantik di­banding kucing Tante, ya.”

Sebelum aku menjawab, Mama justru memotong, bertanya balik ke Tante, ”Bukannya kamu yang kirim kotak pink itu? Hadiah ulang tahun Ra enam bulan lalu?”

Tante Anita menggeleng bingung. ”Aku kan mengirimkan sweter. Lagi pula kalau kucing­nya secantik ini, lebih baik untuk aku saja.” Tante Anita lantas tertawa.

Tidak ada yang tahu siapa sebenarnya yang mengirimkan kotak berwarna pink, beralaskan beludru dan ditutup kain sutra terbaik itu, dan tidak ada yang berusaha mencari tahu siapa yang me­ngirim­­­kan­nya. Seiring waktu yang berjalan cepat, tidak ada yang terlalu memperhatikan saat aku bermain kejar­kejaran dengan dua kucingku di taman, saling menggelitiki, basah­basahan, memberi­kan susu, dan menyiapkan makanan. Bagiku, kucing itu selalu ada dua, si Putih dan si Hitam. Aku tidak pernah merasa kucing itu ha­nya satu seperti yang dilihat Papa, Mama, tetangga, atau ke­ra­bat. Me­reka hanya tahu aku punya seekor kucing anggora lucu.

***

”Ra!” Suara Mama mengagetkanku. Mama sudah berdiri di depan pintu kamar. Aku menoleh.

”Aduh, berapa kali lagi Mama harus bilang. Cepat ganti baju, lalu makan siang. Kita harus jalan sekarang. Kalau kesorean, nanti toko elektroniknya tidak bisa mengantar mesin cucinya hari ini. Mama juga harus masak makan malam.” Mama seperti­nya ter­lihat marah, menatapku, tidak mengerti kenapa aku masih mengena­kan seragam 

sekolah. ”Ayo, Mama tunggu lima belas menit di garasi, sekalian Mama membereskan garasi. Kalau kamu tidak siap­siap juga, Mama tinggal.”

”Iya, Ma,” aku menjawab pelan.

”Dan satu lagi. Bermain kucingnya bisa nanti­nanti. Si Putih atau si Hitam kan bisa main sendiri. Dari tadi kucingnya di­gendong, dibawa ke mana­mana.” Mama menunjuk kucing yang masih kugendong.

Aku menelan ludah, mengangguk.

Punggung Mama hilang dari bingkai pintu, turun ke lantai satu menuju garasi.

Sekarang suasana hatiku benar­benar berubah. Suram.

Separuh hatiku sedih karena si Hitam tetap tidak berhasil ku­temukan setelah hampir setengah jam memeriksa rumah—aku mulai cemas jangan­jangan si Hitam kenapa­napa, separuh hatiku bingung dengan semua pemikiran baru yang ber­kembang di kepalaku. Bagaimana mungkin kucing itu hanya satu? Aku sendiri yang setiap hari menyusuinya dengan botol susu hingga usia beberapa bulan, memberikan piring berisi makan­an, me­mandikannya, mengeringkan bulunya, menyisir bulu­nya. Mama pasti keliru.

”Kamu lihat si Hitam tidak, Put?” aku berbisik.

Kucing yang kugendong hanya mengeong pelan. Mata bulat­nya terlihat bercahaya seperti biasa, manja menyundul­nyundul­kan kepalanya ke lenganku.

”Sungguhan tidak lihat?” Aku mengelus kepalanya. Kucing yang kugendong tetap mengeong pelan.

Baiklah. Aku menghela napas, meletakkan si Putih di lantai, beranjak merapikan isi lemariku yang tadi kubongkar. Aku me­masukkan kembali kotak berwarna pink yang enam tahun lalu tergeletak rapi di depan pintu rumah kami, tanpa pernah tahu siapa yang mengantarnya, tidak ada siapa­siapa di halaman, tidak ada kurir atau petugas yang mengantarkan kotak itu. 

Baiklah. Urusan ke mana perginya si Hitam bisa kuurus se­telah pulang menemani Mama ke toko elektronik. Saatnya ber­ganti seragam, makan siang dengan cepat. Siapa tahu saat aku pulang dari toko, dua kucingku sudah bermain bersama lagi.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊