menu

Bumi Bab 03

Mode Malam
Bab 03
GERIMIS turun sepanjang perjalanan menuju sekolah. Papa mengemudikan mobil dengan cepat, menerobos jutaan tetes air. Aku menatap jalanan basah dari balik jendela. Aku selalu suka hujan. Menatap butiran air jatuh, itu selalu menyenangkan.

”Kamu nanti pulang sore?” Papa bertanya, tangannya menekan klakson, ada angkutan umum mengetem sembarangan, meng­hambat lalu lintas pagi yang mulai macet di depan.

”Tidak ada les, Pa. Ra langsung pulang dari sekolah,” aku men­jawab tanpa menoleh, tetap menatap langit gelap.

”Oh. Berarti kamu bisa ya, menemani Mama ke toko elektronik?” Aku mengangguk. Tanganku menyentuh jendela mobil. Dingin. ”Mesin cuci itu. Kamu pernah memikirkannya, Ra?” Papa sepertinya

masih  tertarik  dengan  percakapan  di  meja  makan  tadi.  Ia  menekan

klakson, menyuruh dua motor di depan yang sembarangan menyelip di tengah kemacetan agar menyingkir.

”Ya?” Aku ikut menatap ke depan.

”Usianya sudah lima tahun, bukan?” Papa tertawa kecil, mem­bayangkan sekaligus berhitung.

”Ya?”

”Kamu tahu, kalau setiap hari mesin cuci itu mencuci pakaian sebanyak dua puluh potong, maka selama lima tahun, itu berarti lebih dari 36.000 potong pernah dicucinya, hingga akhirnya rusak, minta diganti. Hebat, bukan?”

Aku mengangguk pelan, menatap halte yang baru saja kami lewati. Ada lima­enam anak sekolah sepertiku sedang menunggu angkutan umum dan beberapa pekerja kantoran. Lampu kendara­an menyala, 

kedip­kedip. Beberapa pedagang asongan berdiri dan seorang pengamen membiarkan gitarnya tersampir di pun­dak. Pemandangan yang biasa sebenarnya, tapi hujan gerimis membuat suasana terlihat berbeda.

”Konsisten. Eh, bukan, persisten maksud Papa. Ya, itu kata yang lebih tepat. Kamu tahu, Ra, persisten membuat kita bisa melakukan hal hebat tanpa disadari. Seperti mesin cuci itu. Sedikit setiap harinya, tapi dalam waktu lama, tetap saja hebat hasilnya. Coba kamu bayangkan

36.000 potong pakaian, itu lebih banyak dibanding koleksi seluruh department store besar.” Papa tertawa lagi.

Aku mengangguk. Aku tahu kebiasaan keluarga kami. Papa selalu suka ”menasihatiku” dengan caranya sendiri. Seperti mengajak bicara hal unik pada pagi yang basah menuju sekolah ini. Mungkin orangtua kebanyakan lainnya juga seperti itu. Selalu merasa penting mengajak anak­anak remajanya bicara se­suatu, menasihati, dan berharap kalimat­ kalimat itu bekerja baik—meskipun hanya urusan mesin cuci. Terlepas dari kesibuk­annya—juga topik pembicaraan yang kadang tidak me­nyambung dengan situasi—bagiku Papa menyenangkan. Dia se­lalu ada saat aku butuh seorang papa.

”Dan satu lagi, Ra. Urusan mesin cuci ini masih punya satu lagi yang hebat.”

”Oh ya?” Aku memperhatikan wajah Papa yang riang.

”Coba kamu hitung. Jika setiap hari Mama mencuci lima potong pakaianmu, maka selama lima belas tahun terakhir, di­hitung sejak kamu bayi, itu jumlahnya sekitar, eh, 30.000 potong lebih. Atau, untuk Papa, tujuh belas tahun sejak menikah, angka­nya lebih banyak lagi. Bisa

40.000 potong. Papa lebih banyak ganti baju, bukan? Total 70.000 potong lebih. Untung saja Mama tidak menarik uang laundry ke kita ya, Ra? Kalau satu potong Mama tarik seribu perak saja, wuih, banyak sekali tagih­annya.” Papa tertawa.

Aku ikut tertawa, mengangguk.

Pembicaraan mesin cuci ini terus menjadi trending topic hingga mobil yang dikemudikan Papa tiba di depan gerbang sekolah. Gerimis menderas, para siswa yang satu sekolah denganku ber­hamburan turun 

dari angkutan umum, mobil pribadi, motor, atau jalan kaki. Mereka bergegas masuk menuju bangunan yang kering.

”Kamu bawa saja payungnya, Ra.” Papa menoleh, menunjuk ke belakang. ”Tenang saja, di kantor nanti Papa bisa minta tolong satpam mem­bawakan payung ke parkiran. Atau menyuruh siapalah untuk me­markirkan mobil.” Papa seakan mengerti apa yang kupikir­kan.

Tanpa banyak bicara, aku meraih payung di belakang kursi, mencium tangan Papa, membuka pintu mobil, lalu beranjak turun. ”Dadah, Papa!”

”Dadah, Ra!”

Aku menutup pintu mobil. Dua detik kemudian, mobil Papa kembali masuk ke jalanan.

Petir menyambar selintas, disusul gemuruh guntur memenuhi langit. Aku mendongak, sengaja belum mengembangkan payung. Awan hitam terlihat memenuhi atas kepala sejauh mata me­mandang. Bergumpal­gumpal, terlihat begitu suram. Terlihat seperti menyembunyikan sesuatu. Entahlah. Aku selalu suka hujan. Semakin lebat, semakin seru. Aku membayangkan awan­awan gelap itu dan berdiri di antaranya.

Dulu waktu usiaku masih empat­lima tahun, setiap kali hujan aku selalu memaksa bermain di halaman. Sesekali Mama mengizinkan malah menawari. Itu permainan kedua yang kukenal, setelah petak umpet yang berakhir membosankan. Aku berlari melintasi rumput yang basah, menggoyang dahan pohon mangga yang menjatuhkan airnya dari daun, menduduki lumpur, me­lempar sesuatu, menendang sesuatu, dan tertawa gembira. Itu selalu seru.

Sayangnya, Mama memiliki definisi ketat soal main hujan­hujanan. ”Masuk, Ra, sudah setengah jam. Cukup.” Aku menggeleng, tidak mau. ”Ra, tanganmu sudah biru kedinginan. Masuk. Besok kan bisa lagi.” Mama melotot—Papa mengamini, juga menyuruhku masuk. Aku kalah suara, dua banding satu. Aku merengut, terpaksa menerima uluran handuk kering. Atau, ”Aduh, Ra, kan baru kemarin kamu main hujan­ hujanan?” Mama menggeleng tegas. ”Sebentar saja, Ma. Kan kata Mama 

besok bisa main lagi,” kilahku. Mama tetap menggeleng. ”Lima menit?” Tidak. ”Tiga menit?” Tidak. Seberapa pun aku merajuk, me­nangis, jawaban Mama tetap tidak Papa mengamini. Aku kalah suara lagi, dikurung dalam rumah.

Usiaku baru empat­lima tahun. Rambutku masih tampak lucu dikepang dua oleh Mama. Aku hanya bisa protes dalam hati, bukan­kah kemarin­kemarin Mama yang menyuruhku main hujan­hujanan, kenapa jadinya sekarang dibatasi banyak peratur­an? Karena itu, rasanya senang sekali saat aku dapat izin bermain hujan­hujan­an. Aku berlari ke sana kemari dan mem­bujuk dua kucingku agar ikut bermain air kucingku mengeong panik, lari masuk ke dalam rumah. Aku tertawa, membiarkan tubuhku kotor oleh lumpur. Akhirnya setelah lelah, aku duduk di halaman, mendongak menatap langit gelap. Awan hitam. Aku mem­bayangkan apa yang sedang berkecamuk di awan­awan itu.

Tetes air hujan deras menerpa wajahku. Aku meletakkan telapak tanganku, berusaha melindungi mata. Saat itu aku belum tahu, masih terlalu kecil. Tepat saat telapak tanganku melindungi wajah, seluruh tubuhku hilang begitu saja. Tubuhku menjadi lebih bening dibanding kristal air, menjadi lebih transparan di­banding tetes air. Aku asyik mendongak menatap langit, belum me­nyadari bahwa jutaan tetes air hujan itu hanya melewati tubuh­ku, tidak pecah saat mengenai wajah. Ini main hujan yang me­nyenangkan, melamun menatap langit langsung di bawah tetes air dan yang lebih penting lagi, setiap kali aku duduk ber­simpuh di rumput halaman, mendongak melindungi wajah de­ngan telapak tangan, entah bagaimana caranya, aku bisa bermain hujan lebih lama. Mama di dalam rumah hanya sibuk mengomel mencariku, bukan meneriakiku agar bergegas masuk.

”Pagi, Ra,” Seli, teman satu mejaku, berseru membuyarkan lamunanku.

Kepalaku yang mendongak menoleh.

”Kenapa kamu bengong di sini, Ra?” Seli tertawa riang. Dia baru turun dari mobil yang mengantarnya, mengembangkan payung berwarna pink. 

”Eh, tidak apa­apa. Pagi juga, Sel.” Aku menyeka wajah yang basah oleh gerimis.

”Cepat, Ra, sebentar lagi bel.” Seli sudah berlari­lari kecil melintasi gerbang sekolah.

Aku mengembangkan payungku, menyusul langkah Seli, me­nyejajarinya.

”Kamu sudah mengerjakan PR dari Miss Keriting?” Seli me­noleh, wajahnya seperti sedang membayangkan sebuah bencana jika aku menjawab tidak.

Aku tertawa. ”Sudah dong.”

”Oh, syukurlah.” Seli ikut menghela napas lega. ”Aku baru tadi subuh menyelesaikannya. Semalam aku lupa kalau ada PR, malah asyik nonton serial Korea. Miss Keriting bisa mengamuk kalau ada yang tidak mengerjakan PR­nya lagi. Iya kalau cuma dimarahi, kalau disuruh berdiri di dekat papan tulis selama pelajaran? Itu memalukan, bukan?”

Aku tidak berkomentar, menguncupkan payung. Kami sudah tiba di bangunan sekolah, melangkah ke lorong, menuju anak tangga. Kelas sepuluh terletak di lantai dua bangunan sekolah. Bel berdering persis saat kami hendak naik tangga, mem­buyar­kan dengung suara keramaian anak­anak bercampur suara ge­rimis. Sialnya, saat bergegas menaiki anak tangga, Seli ber­tabrak­an dengan teman lain yang juga bergegas.

”Heh, lihat­lihat dong!” Seli berseru ketus.

”Kamu yang seharusnya lihat!” yang ditabrak balas berseru ketus. ”Jelas­jelas kami duluan. Sabar sedikit kenapa?” Seli melotot. ”Duluan dari mana? Aku lebih cepat.”

”Semua orang juga tahu kamu yang menabrak dari belakang!” suara Seli melengking.

Aku menyikut Seli, memberi kode, cueki saja. Pertama, ka­rena sudah bel, teman­teman lain juga terhambat naik, berdiri menonton di 

lorong lantai satu. Kedua, yang lebih penting lagi, kami tidak akan merusak mood pagi yang menyenangkan dengan ber­tengkar dengan Ali teman satu kelas yang terkenal sekali suka mencari masalah. Lihatlah, Ali hanya cengar­cengir, tidak peduli. Dia sejenak menatap Seli, lantas bergegas menaiki sisa anak tangga. Dia sama sekali tidak merasa bersalah.

”Dia selalu saja menabrak orang lain, mengajak bertengkar. Jangan­ jangan matanya ditaruh di dengkul,” Seli mengomel pelan, menepuk lengannya yang terhantam dinding, beranjak ikut naik tangga.

Keributan di anak tangga mencair. Guru­guru sudah keluar dari ruang guru, menuju kelas masing­masing. Tidak ada yang ingin terlambat saat pelajaran dimulai.

”Kayaknya sih Ali matanya bukan di dengkul, Sel,” aku berbisik, menahan tawa.

”Memangnya di mana?” ”Di pantat kayaknya.”

Seli menatapku sejenak, lantas ikut tertawa. Kami berlari­lari melintasi lorong lantai dua, segera masuk kelas, mencari meja. Anak­anak lain sudah membongkar tas. Ali yang duduk di pojokan terlihat menggaruk kepala. Seperti biasa, kemeja se­ragam­nya berantakan, dimasukkan separuh. Aku hanya melihat selintas—paling juga si biang kerok itu sedang mencari buku PR­nya.

Suara sepatu Miss Keriting terdengar bahkan sebelum dia tiba di pintu kelas. Dalam satu bulan, semua murid baru sekolah ini tahu dialah guru paling galak di sekolah. Wajahnya jarang tersenyum, suaranya tegas, dan hukumannya selalu mem­buat murid merasa malu. Aku sebenarnya tidak punya masalah dengan guru galak, tapi itu tetap bukan kabar baik bagiku, karena Miss Keriting mengajar matematika, pelajaran yang tidak terlalu kukuasai.

”Pagi, anak­anak,” Miss Keriting memecah suara hujan. Kami menjawab salam. 

”Keluarkan buku PR kalian. Sekarang.” Kalimat standar pembuka pelajaran Miss Keriting.

Kelas bising sejenak, teman­teman sibuk mengambil buku PR. Aku seketika tertegun. Di mana buku PR matematikaku? Aduh, ini sepertinya akan menjadi pagi yang buruk. Aku me­numpahkan buku dari dalam tas.

”Ada apa, Ra?” Seli bertanya.

Aku tidak menjawab, berpikir cepat. Buku PR itu tertinggal di kamar. Aku menyeka dahi, gerah. Aku ingat sekali tadi malam sudah mengerjakan PR itu, meletakkan buku PR di atas meja. Tadi pagi, saat Papa memintaku buru­buru berangkat, aku lupa memasukkannya.

”Yang tidak mengerjakan PR, sukarela maju ke depan, sebelum Ibu periksa.” Suara tegas Miss Keriting membuatku meng­hela napas tertahan.

”Ayo, maju. Sekarang!” Miss Keriting menyapu wajah­wajah kami. Aku menggigit bibir. Mau apa lagi? Aku melangkah ke de­pan. ”Ra?” Seli menatapku bingung.

Aku tidak menjawab, terus melangkah ke depan di bawah tatapan teman­teman.

”Kamu tidak mengerjakan PR, Ra?” Miss Keriting menatapku tajam. ”Saya mengerjakan PR, Bu.”

”Lantas kenapa kamu maju ke depan?” ”Saya lupa membawa bukunya.”

Teman­teman tertawa. Satu­dua menepuk meja, lalu terdiam saat Miss Keriting mengangkat tangan.

Miss Keriting menatapku lamat­lamat. ”Itu sama saja dengan tidak mengerjakan PR. Dengan amat menyesal, kamu terpaksa Ibu keluarkan dari kelas. Kamu menunggu di lorong selama pelajaran berlangsung. Paham?” Suara Miss Keriting sebenarnya tidak menunjukkan intonasi 

”menyesal”, karena sedetik kemudian, saat aku mengangguk pelan, dia kem­bali sibuk menatap teman­teman lain, tidak peduli, mem­biar­kanku beranjak gontai ke bingkai pintu kelas.

Petir menyambar terang. Suara guntur mulai terdengar meng­gelegar. Hujan turun semakin deras. Udara terasa lebih dingin dan lembap. Aku melangkah malas, mencari lokasi menunggu yang baik di lorong. Nasib, aku menghela napas sebal. Padahal aku sudah susah payah mengerjakan PR itu. Aku melirik jam di pergelangan tangan, masih dua jam lima belas menit hingga pelajaran Miss Keriting usai. Sendirian di lorong yang tempias, basah. Itu bukan hukuman yang menyenangkan meski dibandingkan berdiri di depan kelas ditonton teman­teman.

Aku mendongak menatap langit. Petir untuk kesekian kali menyambar, membuat gumpalan awan hitam terlihat memerah sepersekian detik, seperti ada gumpalan api memenuhi awan­awan hitam itu. Guntur bergemuruh membuat ngilu telinga. Aku menghela napas, suasana hujan pagi ini terlihat berbeda sekali. Lebih kelam daripada biasanya.

Ternyata kabar buruk itu belum berakhir. Diiringi sorakan ramai teman sekelas, Ali juga dikeluarkan Miss Keriting. Ali bertahan beberapa menit, mengaku sudah mengerjakan PR, tapi belum selesai. Dia memperlihatkan bukunya yang hanya berisi separuh halaman. Miss Keriting tanpa ampun juga ”mengusirnya”. Aku mengeluh melihat Ali melangkah keluar kelas, hendak bergabung di lorong lantai dua yang lengang. Kenapa pula aku harus menghabiskan dua jam bersamanya di lorong? Aku me­nyeka dahi yang berkeringat—yang membuatku melupakan sesuatu, kenapa aku terus berkeringat sejak tadi, padahal dingin udara terasa mencekam.

Sial. Aku tidak akan menghabiskan waktu bersama si biang kerok

itu.

Itu situasi yang tidak menarik, menyebalkan malah. Baiklah, se­belum Ali melihatku, aku memutuskan mengangkat kedua telapak tanganku, meletakkannya di wajah.

Petir mendadak menyambar terang sekali, membuatku terperanjat, mendongak ke atas—meski tidak mengurungkan gerak­an tanganku 

menutup mata. Suara guntur terdengar membahana, panjang dan suram. Hujan deras mulai disertai angin kencang, membuat bendera di lapangan sekolah berkelepak laksana hendak robek. Tubuhku segera menghilang sempurna saat telapak tanganku menutupi wajah.

Ali melangkah di lorong. Aku melihatnya dari sela jari, mem­per­hatikan wajahnya yang tidak peduli menatap sekitar mung­kin sedang mencariku. Ali menyeka rambutnya yang berantakan. Dia mengomel sendirian, melintasiku. ”Dasar guru sok galak. Tidak tahu apa, tambah keriting saja rambutnya setiap kali dia marah­marah.” Aku menahan tawa melihat tampang sebal anak lelaki itu. Aku hendak iseng menambahi kesalnya dengan mengait kakinya.

”Halo, Gadis Kecil.”

Suara dingin itu lebih dulu mengagetkanku. Petir menyambar terang sekali. Sosok tinggi kurus itu entah dari mana datangnya telah berdiri di depanku. Matanya menatap memesona.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊