menu

Bulan Bab 06

Mode Malam
Bab 06
Kami telah berangkat menuju Klan Matahari.  AMI tidak mendarat di kamar atau ruangan, seperti waktu tersesat di Klan Bulan. Juga tidak di lapangan, stasiun, atau tempat-tempat yang bisa kubayangkan. Kami mendarat di... astaga!

Hampir satu menit aku terseret putaran portal. Akhirnya sekitarku terang. Aku membuka mata. Cahaya matahari pagi menerpa wajahku, dan gemuruh suara langsung terdengar di sekitar. Tepuk tangan meriah, sorakan-sorakan. Seperti ada ribuan orang berkumpul, sedang bersukacita. Kakiku masih sedikit limbung. Ily membantuku, memegang lenganku.

”Kamu baik-baik saja, Ra?” Ily bertanya.

Aku mengangguk, berdiri lebih kokoh. Kita ada di mana?

Terdengar seruan kencang, seperti mengenakan toa raksasa. Bahasanya tidak aku mengerti, seperti kalimat-kalimat komentator pertunjukan besar, disusul tepuk tangan yang ramai dan sorak-sorai.

”Kita mendarat di Stadion Matahari,” Av yang menjelaskan. Av menguasai bahasa setempat karena dia punya kawan korespondensi lewat lorong perapian perpustakaannya.

Apa? Stadion? Aku menatap sekitar lebih baik. Lihatlah. Kami persis mendarat di salah satu tribun se-

buah stadion besar. Stadion itu penuh sesak oleh pengunjung. Ada sekitar seratus ribu orang di sana, duduk di bangku-bangku yang berbaris rapi. Mereka mengenakan pakaian warna cerah, topi dan ikat kepala cerah, membawa syal, atau kain, yang terus dilambai-lambaikan. Wajah-wajah yang justru bersorak-sorai sedang menatap kami. Panjipanji terlihat di seluruh penjuru stadion. Sementara ratusan benda-benda kecil terlihat terbang mengitari stadion, sesekali mendekat ke pengunjung. Benda-benda terbang itu seperti sedang melayani pengunjung.

Terdengar lagi seruan kencang dari toa raksasa. Pengunjung bersorak, bertepuk tangan.

”Mereka bilang apa?” Ali bertanya.

Setelah menyimak kalimat itu, Av akhirnya tertawa. ”Ini sungguh di luar dugaan. Kita mendarat persis di pembukaan Festival Bunga Matahari. Mereka sudah menyiapkan penyambutan untuk kita. Mereka bahkan membuat kuis tentang di tribun mana kita akan mendarat. Itu pengumuman siapa yang berhasil menebak dengan persis.” Kuis? Aku mendongak menatap Av.

”Dari korespondensi yang dikirimkan lewat perapian perpustakaan, aku tahu hari ini mereka memulai festival terbesar di Klan Matahari. Tapi aku tidak menyangka mereka telah menunggu, menyambut kita, dan portal mengarahkan kita ke tempat ini.”

Dari tribun seberang kami, tribun dengan panel-panel berwarna keemasan, terlihat seseorang menaiki benda yang bisa melayang. Dia memegang sebuah mikrofon. Dialah yang sejak tadi bicara lewat speaker, berseru kepada seluruh pengunjung. Setiap kalimatnya disambut tepuk tangan seluruh stadion.

Orang yang memegang mikrofon mendekati tribun kami. Benda yang dipijaknya terbang anggun melintasi lapangan stadion. Dia berseru riang, tertawa. Seluruh pengunjung stadion masih menatap kami dengan rasa ingin tahu besar.

”Dia bilang apa?” Ali bertanya lagi, penasaran.

”Dia bilang: Selamat datang di Klan Matahari kepada rakyat Klan Bulan,” Seli yang menjawab.

Ali menoleh. ”Sejak kapan kamu bisa bahasa mereka?”

”Tentu saja Seli tahu.” Av tertawa. ”Sama ketika Raib juga otomatis tahu bahasa Klan Bulan. Kamu sepertinya juga harus belajar bahasa baru lagi, Ali.”

Benda terbang yang dinaiki orang yang memegang mikrofon tiba di depan kami. Orang itu melompat turun. Dia mengenakan pakaian berwana merah, kuning, dan biru. Semua warna seperti ada di pakaiannya. Dia mengenakan topi kerucut berwarna lembayung. Aku tidak tahu usianya, karena dunia paralel amat memusingkan menilai berapa usia seseorang sebenarnya.

”Kalian sungguh tiba pada waktu terbaik Klan Matahari.” Orang dengan topi kerucut itu menyapa Av—Seli berbaik hati menerjemahkan cepat.

”Aku Saba-tara-taba, pemandu Festival Bunga Matahari. Anda pastilah Av, tetua dari Klan Bulan. Salah satu anggota Konsil kami, Mala-tara-tana II—aku yakin kau mengenalnya—telah menjelaskan tentang kedatangan kalian. Sebuah kehormatan bisa menyambut sekutu setia dari Klan Bulan.”

Av membungkuk, membalas sapaan itu dengan hangat. ”Kami hampir siap memulai Festival Bunga Matahari.

Sebaiknya kalian ikut ke tribun utama. Anggota Konsil menunggu di sana, juga Mala-tara-tana II. Mari bergabung untuk menonton seremonial pembukaan. Tidak lama, hanya satu jam. Dan omong-omong, kehadiran kalian tadi keren sekali. Bum! Sebuah nyala api besar mendadak muncul di antara pengunjung, lantas kemudian, satu per satu kalian keluar. Seumur hidupku, aku belum pernah melihat lorong perapian sekeren itu. Semua pengunjung bersorak antusias—apalagi bagi yang berhasil menebak dengan benar di mana kalian akan muncul, lebih senang lagi dengan hadiah kuisnya. Kedatangan kalian menjadi pertunjukan ekstra bagi pengunjung. Tidak terlupakan.” Saba-tara-taba menoleh, melambaikan tangannya ke ujung tribun. Dari sana, berlari-lari kecil enam orang dengan seragam seperti pasukan keamanan. Mereka membawa enam alat yang bentuknya sama persis dengan alat yang dinaiki Saba-tara-taba.

”Mari, silakan.” Saba-tara-taba menunjuk enam alat itu. Eh? Aku masih belum mengerti.

”Mereka meminta kita menaiki alat itu,” Ali berbisik. ”Naik alat itu? Kita mau ke mana?” aku bertanya gugup.

Benda itu hanya seperti sebilah papan bundar berbentuk nampan, terbuat dari perak. Saat dulu menaiki sofa yang bisa melayang di Klan Bulan, aku jatuh berkali-kali. Apalagi benda sekecil ini?

”Kita diminta menuju tribun utama di seberang.” Ali menunjuk ke seberang, kemudian dengan sigap sudah melompat naik ke ”nampan” itu. Dia tidak kesulitan berdiri.

Ily menyusul kemudian, melompat dengan tangkas—dia pasti terbiasa dengan gadget seperti ini. Juga Seli, sepertinya juga cepat sekali menyesuaikan diri di negeri leluhurnya. Av dan Miss Selena menaiki nampan terbang itu. Aku semakin gugup, tinggal sendirian berdiri. Menyeberangi lapangan stadion dengan benda terbang sekecil ini? Itu jauh sekali.

”Kamu butuh bantuan, Ra?” Ily bertanya padaku, menjulurkan tangan.

Aku menelan ludah, menggeleng. Semua orang sudah naik, menungguku. Baiklah. Aku perlahan menaikkan kaki, bersiap jika aku terpeleset atau terjatuh. Ternyata tidak seseram yang kubayangkan. Nampan ini stabil, bahkan tidak seperti menaiki benda terbang. Hanya bergetar lembut saat kakiku menginjak pertama kali, selanjutnya terasa kokoh.

”Baik. Mari kita berangkat.” Saba-tara-taba terlihat riang saat melihat kami berenam sudah di atas ”nampan” itu.

”Rakyat Klan Matahari! Mari kita sambut dengan hangat, sekali lagi, penduduk Klan Bulan!” Saba-tara-taba berseru lewat mikrofon di tangannya. Suaranya terdengar kencang di langit-langit stadion. Tepuk tangan dan seruan terdengar ramai. Syal dan kain lebih sering dilambaikan. Anak-anak, orang dewasa, wanita, pria, terlihat memenuhi setiap kursi stadion.

Nampan yang kami naiki mulai melesat melewati lapangan. Sensasi terbangnya terasa berbeda bahkan dibandingkan wahana permainan favorit dunia fantasi di kota kami. Aku mengusap wajahku yang sedikit kebas. Kami berada di ketinggian enam meter. Aku mencoba lebih rileks. Ali di sebelahku bahkan terlihat santai, menatap seluruh stadion, seolah terbiasa terbang dengan nampan ini.

”Lepaskan kupu-kupunya!” Saba-tara-taba berseru. Belum genap aku tahu maksud kalimat itu, dari sudut-

sudut stadion tiba-tiba keluar ribuan kupu-kupu, terbang memenuhi stadion. Aku menatapnya tidak berkedip. Itu indah sekali. Seperti kembang api pada siang hari, kupukupu  itu  mekar,  terbang  di  sekitar  kami   membentuk warna-warni indah. Seluruh stadion ramai oleh seruan antusias pengunjung. Bahkan bagi mereka ini pertunjukan hebat—apalagi bagiku yang tidak pernah melihat kupukupu sebanyak ini.

Nampan terbang kami terus melewati lapangan, di antara kupu-kupu. Di antara tatapan ratusan ribu pasang mata. Satu menit, akhirnya tiba di tribun dengan panel-panel keemasan.

Ada enam orang berseragam keemasan menyambut kami, berbaris di ujung tangga. Saba-tara-taba lebih dulu turun, disusul Av, Miss Selena, Ali, dan Seli. Ily lagi-lagi menawarkan bantuan kepadaku. Aku menggeleng. Aku sepertinya bisa turun sendiri. Aku melompat, sedikit kikuk, tapi mendarat dengan baik. Enam orang berseragam menyimpan nampan terbang.

Ada banyak undangan penting Klan Matahari yang menyambut kami di tribun utama. Mereka berdiri, membungkukkan badan. Mereka mengenakan pakaian jubah berwarna-warni, dengan topi-topi kerucut. Beberapa di antara mereka dengan janggut sama putihnya, memeluk Av, berseru sambil tertawa. Itu mungkin kenalan korespondensi Av. Aku hanya memperhatikan, berdiri di belakang orang dewasa. Ali berkali-kali menyikut Seli, meminta agar diberitahu apa yang sedang dibicarakan. Seli terlihat sebal—aku tahu bagaimana perasaan Seli, karena dulu di Klan Bulan, Ali juga melakukan hal yang sama padaku.

”Akhirnya kita bertemu, Kawan.” Seseorang yang sama tuanya terlihat memeluk Av. Itu Mala-tara-tana II, salah satu tetua Klan Matahari, anggota Konsil. Seli menerjemahkan sambutan itu.

Kami diperkenalkan satu per satu. Tetua Klan Matahari menatap antusias saat Seli maju, amat tertarik. Beberapa dari mereka bertanya tentang Klan Bumi, dunia makhluk rendah. Apa kabar keturunan Klan Matahari di dunia itu? Apakah baik-baik saja? Mereka mengangguk-angguk mendengar penjelasan Seli.

Setelah saling berkenalan lima menit, orang yang membawa kami dengan nampan terbang itu mempersilakan kami duduk di bangku-bangku. Acara pembukaan Festival Bunga Matahari akan segera dimulai.

”Ini sangat mengejutkan, Ra.” Av yang duduk di sebelahku mengembuskan napas lega, di tengah ramainya tribun utama dan seluruh stadion. ”Aku kira mereka akan keberatan dengan kehadiran kita. Ternyata sebaliknya, mereka menyambut kita dengan ramah.”

Kami menonton acara pembukaan. Pertunjukan dan rangkaian acara telah dimulai.

”Klan Matahari klan paling maju dibanding Bulan ataupun Bumi. Mereka memiliki teknologi terdepan. Mereka dipimpin Konsil yang berjumlah dua belas orang tetua, yang tadi menemui kita. Salah satunya adalah teman korespondensiku, Mala-tara-tana II. Konsil dipilih seluruh rakyat Klan Matahari. Saat ini Konsil Klan Matahari diketuai Fala-tara-tana IV, yang duduk di bangku paling besar, telah berkuasa hampir empat ratus tahun.” Av menunjuk.

Pembukaan Festival Bunga Matahari berlangsung di tengah penjelasan Av. Baru saja pertunjukan tarian kolosal dilakukan. Kurang-lebih sama dengan menonton pembukaan Olimpiade di dunia kami lewat televisi, tapi ini lebih luar biasa. Bayangkan saja seribu penari melakukan tarian sambil menaiki nampan terbang. Gerakan tari mereka tidak hanya ke samping, ke depan, atau ke belakang, tapi juga naik-turun sambil terbang. Atraksi yang menawan.

Aku baru menyadari bahwa benda-benda terbang yang tadi terlihat mendekati pengunjung adalah mesin minuman dan makanan otomatis. Satu di antara benda itu mendekati bangku kami. Ali—seperti biasa sok tahu—menekan-nekan tombolnya, dan berhasil mengeluarkan beberapa tabung minuman dan makanan. Aku sempat mencicipi minumannya, rasanya seperti limun segar. Sedangkan rasa makanannya seperti cokelat dengan bentuk seperti mi kering. Benda itu masih berdengung di depan kami, tidak mau pergi.

”Apa yang dia tunggu?” Ali berbisik kepada Av, sedikit cemas, karena benda terbang itu terus berputar-putar di depannya, seperti menunggu sesuatu, mulai menyundulnyundul lengan Ali.

Av mengangkat bahu, tidak tahu.

Salah seorang petugas berseragam mendekati kami, memasukkan koin ke dalam benda terbang itu. Sekali koinnya diterima, benda itu segera terbang ke bangku lain. ”Kamu seharusnya memastikan punya uang mereka sebelum mengambil sesuatu, Ali,” Miss Selena berkata pelan, berusaha menahan tawa.

Aku ikut tertawa—bukan karena melihat wajah tanpa dosa Ali, tapi aku sudah lama tidak melihat Miss Selena terlihat riang.

”Kita sekarang berada di Kota Ilios, kota terbesar seluruh Klan Matahari. Posisinya sama dengan Kota Tishri di Klan Bulan, ibu kota seluruh negeri,” Av menambahkan penjelasan. ”Jika aku tidak keliru, kita berada di atas lerenglereng gunung yang indah. Nanti saat keluar dari stadion ini kalian bisa melihat Kota Ilios secara utuh. Kota di tengah-tengah mega, awan berarak.”

Aku mengangguk-angguk. Telingaku mendengarkan Av, tapi mataku menatap penuh ke depan. Di langit-langit stadion ada sekitar dua puluh orang yang sedang melakukan pertunjukan menakjubkan. Mereka mengeluarkan petir dari tangan mereka. Itu kekuatan mendasar Klan Matahari. Mereka juga menari sambil mengendalikan benda dari jarak jauh. Seli di sebelahku juga menatap tidak berkedip saat dua puluh orang itu menggerakkan ribuan daun membentuk berbagai formasi.

”Tidak semua dari mereka memiliki kekuatan itu, lebih banyak yang hanya penduduk biasa. Dua puluh orang yang sedang melakukan pertunjukan adalah anggota Pasukan Cahaya. Mereka terlatih sejak kecil menggunakan kekuatan. Posisi mereka sama dengan Pasukan Bayangan di Klan Bulan,” Av berkata takzim. Sepertinya seremonial pembukaan Festival Bunga Matahari telah tiba di puncaknya. Saba-tara-taba telah berseru dengan mikrofonnya, menyambut kontingen festival.

Aku sebenarnya tidak tahu sama sekali festival ini akan seperti apa. Apakah kompetisi olahraga? Atau hanya karnaval? Atau pertunjukan seni dan budaya? Hingga akhirnya sembilan kontingen festival mulai keluar satu per satu dari gerbang utama stadion.

Satu kontingen terdiri atas empat orang. Usianya ratarata dua puluh lima, pemuda-pemudi terbaik Klan Matahari. Mereka menunggangi hewan-hewan menakjubkan. Kontingen pertama menaiki empat ekor kuda putih. Itu tidak seperti kuda di dunia kami. Yang ini bentuknya lebih besar, lebih gagah, bahkan memiliki tanduk yang lebar. Seluruh stadion ramai oleh tepuk tangan menyambut kontingen pertama itu menuju tengah lapangan.

”Klan Matahari adalah dunia yang amat terjaga. Hutannya lebih alami dibanding Klan Bulan. Sungai-sungainya lebih jernih, siklus alamnya berjalan tanpa gangguan. Tidak ada yang punah, hewan dan tumbuhan bisa berevolusi dengan baik. Mereka memiliki hewan-hewan hebat. Kamu tunggu saja, Ra, akan ada hewan yang lebih mengejutkan,” Av menjelaskan.

Aku menelan ludah. Kontingen kedua sudah keluar. Mereka menunggangi empat ekor banteng bertanduk empat. Banteng-banteng itu berderap gagah menuju tengah lapangan. Para penunggangnya melambaikan tangan ke seluruh penjuru stadion. Tepuk tangan bergemuruh menyambutnya.

”Itu apa?” Seli yang duduk di sebelahku refleks menggenggam lenganku.

Kontingen ketiga datang dengan menunggangi kambing sebesar kuda. Tapi itu bukan kambing biasa. Perawakannya besar. Kakinya kokoh. Dua tanduknya melengkung membentuk lingkaran. Itu tanduk yang mengesankan sekali. Kambing itu mendengus-dengus. Aku menahan napas. Seluruh pengunjung stadion berdiri, memberikan salut saat kontingen ketiga lewat. Empat orang dengan pakaian warna-warni duduk di atas kambing sambil melambaikan tangan, berderap menuju tengah lapangan.

”Festival Bunga Matahari adalah perlombaan paling penting di Klan Matahari. Sembilan kontingen dari sembilan fraksi seluruh negeri berlomba menemukan bunga matahari pertama mekar, di tempat yang tidak diketahui. Kontingen mana pun yang lebih dulu menemukan bunga itu akan memenangi festival. Peserta lomba adalah anak muda terlatih, tangguh, dan menguasai kemampuan bertahan hidup terbaik, karena ada banyak rintangan untuk menemukan bunga itu,” Av menjelaskan.

Aku tidak terlalu mendengarkan penjelasan Av. Aku lebih memperhatikan kontingen-kontingen berikutnya yang terus menuju tengah lapangan. Ada kontingen yang menunggangi kucing dan angsa putih berukuran besar. Juga ada kontingen yang menunggangi cerpelai dan salamander besar. Sekarang kontingen kedelapan masuk stadion. Mereka datang menunggangi kelinci. Itu bukan kelinci kecil seperti di dunia kami. Tubuh kelinci itu besar, bergerak amat lincah saat masuk, mengenakan pelana berwarnawarni. Hanya satu samanya dengan kelinci di Bumi, samasama menggemaskan seperti kelinci yang kukenal. Pengunjung stadion yang masih anak-anak senang sekali melihat empat kelinci itu masuk.

Kontingen terakhir, kontingen kesembilan, datang menunggang serigala. Kontras dengan kelinci sebelumnya yang lucu, empat ekor serigala itu bergerak buas, tubuhnya besar, surainya panjang, dengan taring runcing dan kuku-kuku tajam. Aku jadi ingat kucingku, si Hitam yang bisa berubah menjadi besar. Aku menatap jeri serigala itu. Empat penunggangnya melambaikan tangan. Meski menyeramkan, seluruh stadion tetap bertepuk tangan ramai menyambutnya.

Aku menghela napas. Akhirnya seluruh kontingen muncul, berkumpul di tengah lapangan.

Penonton di stadion kembali duduk. Acara akan dilanjutkan.

Saba-tara-taba menoleh sekilas, tersenyum penuh arti menatap ke arah bangku kami. Kemudian tangannya terentang lebar, menatap seluruh stadion.

”Hadirin, rakyat Klan Matahari yang bercahaya!” Sabatara-taba berseru kencang, suaranya terdengar dari setiap sudut stadion. ”Tahun ini adalah tahun spesial. Festival kali ini adalah festival paling megah, karena pesertanya tidak hanya sembilan kontingen. Tidak hanya sembilan, wahai rakyat Klan Matahari... tapi sepuluh!” Saba-tara-taba diam sejenak, sengaja menunggu reaksi penonton.

Para penonton menatap tribun utama tidak sabaran. Apa yang hendak diumumkan pemandu festival itu?

”Hadirin, tahun ini kita akan memiliki kontingen kesepuluh untuk pertama kalinya dalam sejarah festival. Kontingen ini tidak datang dari Klan Matahari, tapi dari sekutu lama kita, Klan Bulan. Mari kita memberikan salut untuk kontingen kesepuluh.”

Stadion langsung dipenuhi sorak-sorai terkejut. Penonton berdiri lagi, seolah tidak percaya mendengarnya. Itu kabar yang sangat tidak disangka-sangka.

Bahkan Av hampir terbatuk. Miss Selena menoleh tidak mengerti.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊