menu

Bulan Bab 05

Mode Malam
Bab 05
HUJAN gerimis membasuh lapangan sekolah.

Aku, Seli, dan Ali berlari-lari kecil, meletakkan tas di atas kepala, agar tidak terkena tetes air. Lonceng pulang berbunyi nyaring beberapa menit lalu. Halaman sekolah segera sesak oleh murid yang bergegas.

Salah satu angkutan umum kosong merapat di depan gerbang. Tanpa banyak menunggu, aku, Seli, dan Ali naik. Sopirnya menyuruh kami duduk rapat, agar yang lain juga bisa masuk. Angkutan umum segera penuh. Sopir menginjak pedal gas, beranjak meninggalkan gerbang sekolah.

Jalanan kota tersendat, macet.

”Kamu sepertinya tidak terlalu semangat dengan perjalanan itu, Ra?” Seli bertanya. Kami bertiga duduk di belakang.

Aku mengembuskan napas. Aku tidak tahu. Aku tidak seperti Ali yang antusias dengan petualangan baru. Atau Seli, yang senang bisa mengunjungi tanah leluhurnya.

”Kamu seharusnya semangat, Ra,” Ali berkata santai. ”Mungkin selama di sana, ada orang yang bisa menjelaskan tentang orangtuamu?”

”Benar, Ra.” Seli mengangguk riang. ”Kita akan bertemu lagi dengan Av. Juga orang-orang baru. Mungkin mereka tahu.”

Aku mengangguk, sambil mengusap wajah yang basah oleh tempias hujan dari jendela angkot yang tidak rapat. Mungkin pendapat Ali dan Seli benar, aku bisa menemukan penjelasan.

Kami masih membicarakan beberapa hal lain sepanjang perjalanan pulang. Selain tentang rencana itu, juga tentang ujian semester yang semakin dekat. Setengah jam Seli turun lebih dulu, melambaikan tangan. Rumahnya paling dekat dari sekolah. Lima belas menit kemudian Ali turun. Angkutan umum nyaris kosong hingga akhirnya aku turun.

Aku berlari-lari kecil lagi di halaman rumah.

Si Putih menyambutku di depan pintu, mengeong pelan.

”Hai.” Aku tersenyum, meraih kucingku, menggendongnya.

”Kamu kehujanan, Ra?” Mama bertanya, keluar dari dapur.

”Sedikit, Ma.”

”Aduh, apanya yang sedikit, Ra. Bajumu sampai basah begitu. Ayo, segera ganti baju kering, nanti kamu masuk angin. Itu kucingmu diletakkan dulu. Si Putih atau si Hitam bisa diajak main nanti-nanti.” Mama sudah bergegas melangkah ke tumpukan baju bersih yang habis disetrika, mengambil dua potong pakaian favoritku.

Aku menurut, meletakkan si Putih di atas sofa, menerima juluran baju dari Mama.

Mama sibuk sepanjang sore, mulai dari menyetrika tumpukan baju lembap. ”Hujan terus sepanjang hari, Ra. Jemuran Mama tidak kering. Mana bau apek, jadi Mama setrika saja.” Mama juga mengepel lantai. ”Kayaknya atap di taman belakang harus dipanjangi, Ra, air hujannya masuk ke dalam. Besok Mama mau menelepon Mang Ujang. Kalau dia tidak bisa, Mama saja yang pasang.” Mama juga sibuk memasak. ”Kamu mau sup hangat? Papa pulang cepat hari ini, kita bisa makan malam bersama di rumah.” Mama selalu suka bicara saat bekerja. Aku mendengarkan sambil ikut melipat baju, ikut mengepel, dan ikut menyiapkan bumbu masakan. Dulu waktu aku masih kecil, aku lebih sering meletakkan telapak tangan di wajah, menghilang, agar Mama tidak menyuruh-nyuruhku. Aku duduk di kursi, menonton Mama yang bicara sendiri, mengomeli aku, ”Anak itu selalu saja entah menghilang ke mana jika disuruh bekerja.” Aku hanya nyengir lebar. Mama tidak tahu aku justru duduk di dekatnya. Tapi itu dulu, usiaku sekarang sudah lima belas tahun, aku sudah paham tentang

tanggung jawabku di rumah. ”Bagaimana sekolahmu hari ini, Ra?” Mama bertanya, menyeka tangannya dengan celemek di dada.

”Seperti biasa, Ma.”

”Kamu sudah siap ulangan semester minggu depan?” Aku mengangguk.

Pukul lima sore, semua pekerjaan rumah selesai. Mama menyuruhku mandi. Aku mengangguk. Sejak tadi aku hendak bilang tentang ”perjalanan keluar kota bersama mama Seli”. Tapi setelah ditimbang-timbang, mungkin sebaiknya menunggu Papa pulang.

Si Putih meringkuk di ujung kaki saat aku menghabiskan waktu sore sambil belajar biologi. Aku teringat percakapan Ali dengan Pak Gun tadi pagi. Apakah tubuhku juga mewarisi kode genetik yang berbeda? Kalau Seli punya jutaan baterai superkecil—seperti penjelasan Ali, aku punya apa? Bukankah tubuhku sama seperti orang lain? Lantas bagaimana penjelasannya aku bisa menghilangkan buku ini misalnya?

Pintu depan terdengar didorong dari luar, membuatku sedikit kaget, bergegas meletakkan buku biologi yang sedang kubaca.

”Hei, Ra,” Papa menyapaku.

”Papa pulang!” Aku turun dari sofa dengan riang. Si Putih juga loncat, mengeong.

”Papa kehujanan?” aku bertanya.

”Sedikit.” Papa menyeka rambutnya, menepuk-nepuk ujung kemeja. ”Kalau menurut Mama sih, ini kehujanan banyak, Pa.” Aku tertawa.

Papa ikut tertawa, menjulurkan tas kerja. Aku membantu membawa tas itu, melangkah masuk ke ruang tengah.

”Kalian sedang membicarakan Mama?” Mama keluar dari dapur, menyelidik.

”Eh, siapa? Mama suka ge-er nih.” Papa tertawa, menggoda Mama.

Pukul tujuh makan malam telah terhidang lengkap di atas meja. Mama menyuruhku memanggil Papa yang sedang membaca buku di ruang tamu.

Makan malam yang menyenangkan. Masakan Mama selalu lezat. Sepanjang menghabiskan makanan, Papa sesekali melucu, membuat aku dan Mama tertawa. Juga percakapan ringan lainnya, hingga piring-piring mulai kosong.

Aku sejak tadi ingin bilang tentang ”berlibur selama dua minggu bersama keluarga Seli”, menimbang-nimbang waktu yang tepat. Mungkin sekarang saatnya. Piring-piring hampir kosong, aku menatap Mama dan Papa, bersiap-siap.

Mereka berdua justru juga sedang saling tatap, seperti ada yang hendak mereka bicarakan juga. Papa sedang memberi kode agar Mama bicara segera.

”Ada yang ingin Ra sampaikan, Ma, Pa,” aku berkata pelan.

”Ada yang ingin kami sampaikan, Ra,” Mama berkata pelan. Kalimatku keluar bersamaan dengan kalimat Mama.

Kami saling pandang sebentar.

”Eh, kamu hendak menyampaikan apa, Ra?” Mama jadi sedikit kikuk. ”Mungkin kamu saja duluan.”

”Eh, Mama saja duluan.” Aku menatap Mama, ikut kikuk.

Mama menggeleng, berusaha tersenyum lebar. ”Kamu duluan.”

Baiklah, aku mengangguk.

”Eh, soal libur panjang, Ma... sebentar lagi kan libur panjang sekolah. Mama Seli mengajak Ra jalan-jalan keluar kota, Ma. Liburan panjang ini, selama dua minggu.” Aku berusaha menyampaikan kabar itu senormal mungkin.

Mama diam sejenak, berusaha mencerna kalimatku. ”Dua minggu, Ra?”

Aku mengangguk. ”Ke mana?”

Aku menyebut nama tempat tujuan wisata yang telah disepakati Miss Selena tadi siang.

”Tapi, itu lama sekali, Ra? Bagaimana nanti kalau merepotkan keluarga mereka? Mama tahu, Seli teman baikmu, tapi tetap saja. Lagi pula itu biayanya juga mahal, kan?”

Aku diam sejenak, berusaha mencari jawaban dengan cepat. ”Mama Seli bilang tidak merepotkan kok. Mama Seli kebetulan dapat hadiah liburan dari kantor. Dia juga akan bilang langsung ke Mama soal ini.” Hanya itu yang bisa kupikirkan—mengarang-ngarang. Mama menoleh ke arah Papa, meminta pendapat. ”Kamu tidak ingin liburan bersama kami, Ra?” Papa

tersenyum.

”Ke mana?” Mama langsung memotong. ”Bukankah Papa sibuk sekali di kantor?”

”Iya sih.” Papa tertawa kecil. ”Tapi kalau hanya jalanjalan ke taman kota, mungkin bisa.”

Mama menepuk dahi. ”Raib diajak keluarga Seli ke tempat wisata terbaik, Pa, dua minggu. Dia bisa menyelam dan berlarian puas di pantai. Mana mau Raib menukarnya dengan hanya jalan-jalan ke taman kota kita.”

”Apakah Mama mengizinkan Ra ikut?” aku bertanya, memastikan.

”Entalah.” Mama menggeleng. ”Tapi baiklah, Mama pikirkan dulu.” Mama menghela napas panjang. ”Setidaknya Mama harus menunggu mama Seli memberitahu kami. Dua minggu bukan waktu sebentar. Mama takut kamu merepotkan mereka.”

Aku mengangguk, beranjak merapikan piring-piring kosong.

”Oh iya, tadi Mama mau bilang apa?” aku bertanya. ”Eh, tentang... tidak terlalu penting sih, bisa Mama sampai-

kan kapan-kapan. Tolong bawa piring-piringnya ke dapur, Ra.”

Aku mengangguk lagi. Itu sudah tugasku.

Lamat-lamat dari dapur aku mendengar percakapan mereka berdua. ”Kita harus segera memberitahu Raib, Ma,” Papa berbisik.

”Mama belum siap.... Tidak malam ini, juga tidak minggu-minggu ini. Kita pikirkan tentang liburan Raib saja sekarang,” Mama menjawab pelan.

***

Dua minggu terakhir berlangsung tanpa kejadian serius.

Ulangan umum berjalan lancar. Aku sedikit kesulitan mengerjakan soal-soal matematika, tapi di luar mata pelajaran itu lancar. Apalagi bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, aku yakin sekali nilai ulanganku baik.

Selama minggu ulangan, Mama memberlakukan ”Siaga Satu” di rumah. Itu istilah gurauan Mama, sejak aku SMP. Setiap kali ada ujian, ”Siaga Satu” diberlakukan efektif. Itu artinya Mama rajin memasak makanan favoritku, menyiapkan segala keperluanku, dan meliburkan tugasku di rumah. Aku mendapatkan banyak kemudahan—meski hanya seminggu.

Seli juga terlihat lancar. Wajahnya selalu cerah setiap kali keluar kelas, menyerahkan lembar jawaban ke guru pengawas. Entahlah dengan Ali, dia tetap terlihat tidak peduli. Semoga saja nilai ulangan umumnya cukup, dan dia naik kelas. Aku tidak bisa membayangkan jika Ali tinggal kelas. Si genius itu tidak naik kelas? Tidak masuk akal—meski konon katanya, orang-orang genius banyak yang DO, drop out dari sekolah. Ali hanya semangat jika kami membahas ”liburan bersama keluarga Seli” di sela-sela ulangan semester.

Mama Seli datang ke rumah dua hari setelah aku memberitahu Mama tentang rencana itu. Mama Seli mampir sepulang kerja dari rumah sakit, membawa kotak kado untuk Mama, menghabiskan waktu dua jam pada sore hari. Mama Seli dokter yang ramah. Aku selalu suka melihatnya bicara. Setelah percakapan yang menyenangkan itu, sepertinya Mama tidak punya alasan apa pun melarangku ikut berlibur bersama keluarga Seli.

”Aku hanya khawatir Raib akan merepotkan.” Mama sekali lagi berusaha menolak.

”Tentu saja tidak, Bu.” Mama Seli tersenyum riang. ”Kami justru senang sekali jika Raib bisa ikut. Itu akan membuat perjalanan lebih seru. Anak itu selalu saja bisa membuat suasana lebih asyik.”

Aku dan Seli yang duduk di sofa satunya ikut mendengarkan.

”Tapi biaya liburannya pasti mahal. Kami khawatir...” ”Jangan pikirkan biayanya, Bu.” Mama Seli menggeleng

anggun. ”Kami sudah lama menyiapkan perjalanan ini. Itu bukan masalah besar.”

”Eh, sudah lama? Bukankah Ibu mendapatkan hadiah liburan dari kantor?” Mama bingung.

”Oh,” mama Seli melirik cepat kepadaku.

Aku menelan ludah. Itu kan hanya karang-karanganku saja dua hari lalu. ”Iya, maksud saya, hadiah liburan dari kantor ini sudah diberitahukan sejak setahun lalu. Jadi, kami sudah lama menyiapkan perjalanan ini. Jangan cemaskan soal biayanya, toh kami juga tidak membayar.” Mama Seli segera memperbaiki kalimatnya, demi melihatku yang hanya duduk kaku.

Beruntung Mama tidak bertanya lebih detail. Aku mengembuskan napas lega. Hampir saja. Itu bagian penjelasan yang memang belum kami sepakati. Andai saja Mama tahu bahwa liburan ini bukan ke pantai yang dibayangkannya, melainkan perjalanan menembus portal ke dunia paralel, mungkin Mama dengan wajah supercemas bergegas bilang tidak. Tapi aku tidak punya pilihan bagaimana menjelaskannya. Aku yakin Mama pun akan berseru panik jika dia tahu aku bisa menghilangkan jerawat di wajahku.

Dua minggu terakhir, Miss Selena tidak muncul, mungkin dia sedang sibuk. Tapi itu tidak terlalu kami khawatirkan, karena Miss Selena sudah berjanji akan datang tepat waktu saat hari keberangkatan. Kami juga sedang fokus dengan ulangan semester dan persiapan perjalanan ini.

Dua hari sebelum berangkat, Mama mengingatkanku agar berkemas, menyiapkan keperluan yang akan dibawa.

”Kita harus membawa apa, Ra?” Itu justru pertanyaan Seli saat kami di sekolah.

Aku tidak tahu. Terakhir kami ke Klan Bulan, kami justru tidak membawa apa pun, hanya seragam dan tas sekolah. Ilo yang membantu kami di sana, meminjamkan pakaian hitam-hitam yang keren itu, juga perlengkapan lain. Entah bagaimana di Klan Matahari? Pakaian apa yang sebaiknya kami bawa ke sana? Atau pertanyaan lebih tepatnya, apa yang mereka kenakan di sana?

”Jangan lupa bawa kacamata hitam dan sunblock,” Ali menceletuk, menjawab pertanyaan Seli.

”Kacamata hitam? Sunblock?” tanya Seli lagi.

”Iya. Kan kita akan berlibur ke Klan Matahari. Kita butuh tabir surya dan kacamata biar kulit kita tidak gosong.” Ali tertawa.

Aku ikut tertawa dengan gurauan Ali.

Karena tidak tahu harus menyiapkan apa, sehari sebelum keberangkatan aku menyiapkan koper berisi pakaian seperti hendak berlibur ke pantai dua minggu. Setidaknya agar Mama tidak curiga. Aku membawa pakaian cerah, sandal, topi besar, terakhir memasukkan hati-hati buku PR matematikaku—Buku Kehidupan—ke dalam koper.

Hari keberangkatan akhirnya tiba. Mama dan Papa mengantarku ke rumah Seli pagi-pagi. Musim hujan sudah sempurna berlalu. Pagi ini cuaca cerah, langit terlihat biru sejauh mata memandang. Tidak ada gumpal awan seperti biasanya.

”Hati-hati di jalan, Ra.” Mama dan Papa memelukku. Aku mengangguk mantap.

Mama dan Papa bersalaman dengan mama dan papa Seli, berpamitan, lantas kembali naik ke mobil. Satu menit, mobil yang dinaiki Mama dan Papa hilang di sudut jalan, meninggalkanku di halaman rumah Seli. ”Apakah Miss Selena sudah datang?” aku bertanya pada mama Seli.

”Sebentar lagi, Ra. Dia bilang akan datang pukul delapan,” mama Seli berkata ramah. ”Raib sudah sarapan? Mau ikut bergabung sarapan?”

Aku menggeleng. Tadi Mama memastikan aku sarapan sebelum berangkat.

Aku melirik Ali yang ternyata datang lebih awal, duduk di bangku. Ali hanya membawa ransel punggung.

”Ini akan jadi perjalanan yang seru, Ra,” Ali nyengir menyapaku.

Aku tidak berkomentar. Definisi seru bagi Ali amat berbeda dengan orang lain.

”Kamu membawa Sarung Tangan Bulan-mu, Ra?” Seli yang sedang membantu mengangkat koper besarku bertanya.

Aku mengangguk. ”Kamu juga membawa Sarung Tangan Matahari, kan?”

Seli mengangguk. ”Lihat, Ra. Aku bahkan sudah mengenakannya sejak tadi.”

Jika diperhatikan dengan saksama, koper besarku mengambang di udara. Tangan Seli tidak benar-benar memegangnya. Koper itu bergerak cepat dikendalikan telapak tangan Seli.

”Eh, kamu boleh melakukannya?” aku berbisik cemas.

Seli tersenyum kecil, melirik sekitar. ”Tidak ada yang tahu aku mengenakannya, Ra. Dan tidak ada yang tahu aku membuat koper ini terbang.” Dua sarung tangan itu hadiah dari Av, pustakawan Perpustakaan Sentral Klan Bulan. Sarung tangan milik Seli berwarna putih, milikku berwarna hitam, tapi saat dipakai, sarung tangan itu berubah warna menyerupai kulit, sehingga tidak terlihat sedang dikenakan. Selain berfungsi mengeluarkan cahaya (milik Seli), dan menyerap cahaya (milikku), dua sarung tangan itu bisa menggandakan kekuatan yang kami miliki. Aku dan Seli sempat berlatih menggunakannya saat di Klan Bulan. Seli bisa menggerakkan benda dari jauh—selain mengeluarkan petir. Dengan mengenakan Sarung Tangan Matahari, membawa koper besar jelas pekerjaan mudah baginya. Seli mendaratkan hati-hati koperku di ruang tengah.

Kami menunggu setengah jam, sambil sarapan. Aku akhirnya ikut bergabung, berusaha menghabiskan segelas jus jeruk, hingga akhirnya terdengar bunyi plop pelan seperti gelembung air meletus di ruang makan rumah Seli.

Kami menoleh. Ini persis pukul delapan pagi.

”Selamat pagi, anak-anak,” suara serak berat itu menyapa.

”AV!” aku berseru riang.

Lihatlah! Di depan kami, berdiri kakek tua dengan pakaian serbaputih, rambut putih, janggut putih, membawa tongkat kayu. Wajahnya terlihat bersahabat dan menyenangkan.

”Pagi, Ra, Seli, Ali.” Miss Selena menyusul muncul setelah Av. ”Apa kabar kalian?” Av tertawa melihatku yang berdiri menyambutnya, berbicara dalam bahasa Klan Bulan. ”Astaga, lebih dari enam bulan kita tidak bertemu, dan kamu bertambah tinggi beberapa senti, Ra. Semakin besar.”

”Dia banyak makan, memang, akhir-akhir ini sebagai pelarian kalau sedang marah-marah,” Ali yang menjawab, dengan bahasa Klan Bulan, meski sepotong-potong.

Av terkekeh, bukan karena kalimat Ali yang menyindirku. ”Nah, ini dia si genius dari Klan Bumi. Apa kabarmu, Nak? Bagaimana dengan pelajaran bahasa barumu? Apakah Raib mengajarimu beberapa kosakata baru?”

”Si cerewet itu tidak mau membantuku. Bagaimana aku akan belajar padanya?” Ali nyengir.

Aku hampir menyikut Ali. Dalam situasi menyenangkan pagi ini masih saja dia menyebutku cerewet. Tapi suara plop kecil berikutnya mengalihkan perhatian kami. Miss Selena tidak hanya datang bersama Av, tapi satu orang lagi. Siapa? Apakah Tog, Panglima Timur? Belum habis benakku menerka, sosok baru itu muncul di hadapan kami. Tubuhnya tinggi, perawakannya gagah, masih muda, paling hanya terpisah tiga atau empat tahun dari kami. Wajahnya amat tampan, dengan bola mata hitam.

”Itu Ily. Putra tertua Ilo dan Vey,” Av yang menjelaskan. Aku mendongak menatapnya—Seli di sebelahku bahkan tidak berkedip, seperti sedang menatap bintang film Korea

paling tampan yang pernah ada.

Aku segera ingat. Ily pernah membantu kami saat kejarkejaran kapsul di lorong kereta bawah tanah. Kini Ily sudah lulus dari Akademi di Klan Bulan.

”Hai, senang akhirnya bisa bertemu denganmu, Ra.” Ily mengulurkan tangan, tersenyum. Lesung pipi muncul saat dia tersenyum, membuat wajahnya semakin memesona.

”Aku juga senang. Namaku Seli.” Justru Seli yang menyambut uluran tangan itu.

Aku hampir menepuk dahi. Ya ampun, kenapa Seli jadi aneh begini. Tapi tidak ada yang terlalu memperhatikan kejadian kecil itu. Av di sebelahku sudah menyapa tuan rumah.

”Selamat pagi, maaf jika kedatangan kami mengganggu sarapan, Bapak, Ibu.”

Mama dan papa Seli menggeleng serempak.

”Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan keturunan Klan Matahari yang besar di Klan Bumi. Dua ribu tahun lalu aku memiliki banyak sahabat karib dari sana. Ah iya, namaku Av, penjaga perpustakaan.”

Mama dan papa Seli mengulurkan tangan, berkenalan. ”Kalian sudah siap?” Miss Selena bicara cepat.

Aku mengangguk. Ali menyambar ranselnya. Seli masih asyik diam-diam menatap Ily. Aku menyikutnya, berbisik, ”Tidak sopan, tahu!” Seli mengangkat bahu, memasang wajah tidak berdosa.

”Baik. Kita bisa berangkat sekarang.” Miss Selena mengangguk.

”Kalian tidak sarapan bersama dulu?” Mama Seli bertanya. Miss Selena menggeleng. ”Ini waktu yang tepat untuk berangkat. Kami tidak boleh terlambat.”

Sesuai rencana awal, hanya kami bertiga yang ikut rombongan Miss Selena menuju Klan Matahari. Mama dan papa Seli memang tidak ikut perjalanan itu. Mereka akan tetap pergi berwisata ke pulau pagi ini, berangkat ke bandara. Mereka juga yang akan mengabari Mama dan Papa selama dua minggu, seolah-olah kami bersama mereka berlibur.

”Kamu membawa buku PR matematika, Ra?” Miss Selena menoleh padaku.

Tanpa banyak tanya aku segera membuka koper besarku, mengeluarkan buku kecokelatan itu.

”Hanya buku ini yang bisa membuka portal menuju Klan Matahari. Sejak perang besar dua ribu tahun lalu, seluruh cara lain melintasi portal telah disegel, kecuali Buku Kehidupan yang memiliki kekuatan tersendiri,” Av menjelaskan. ”Aku sudah mengirim beberapa surat melewati perapian di ruangan rahasia perpustakaan. Hanya surat yang bisa melintas, tidak bisa makhluk hidup. Putra teman lamaku di Klan Matahari, anggota Konsil, sudah membalasnya. Dia telah menjelaskan rencana kedatangan kita kepada Ketua Konsil, dan pagi ini mereka bersiap menyambut kita. Hari yang tepat dan waktu yang tepat.”

Semua orang sekarang menoleh, menatapku.

Aku menelan ludah. Tapi bagaimana aku akan membuka portal itu? Aku mendongak ke arah Av, meminta petunjuk. ”Hanya kamu yang bisa membuka portalnya, Ra. Aku tidak tahu.” Av tersenyum hangat.

”Eh, tapi bagaimana?” aku mengeluh tertahan.

”Kamu akan tahu, Ra. Buku itu milikmu,” Av menyemangati.

Aku menelan ludah. Bagaimana aku akan tahu? Selama ini aku bahkan tidak bisa membaca buku ini. Tanganku sedikit gemetar memegang buku PR matematikaku. Semua mata tertuju kepadaku, menunggu. Bagaimana kalau aku tidak bisa? Apakah perjalanan ini jadi batal? 

”Buku itu akan bicara pada pemiliknya, Ra. Kamu jangan tegang. Rileks, biarkan semuanya mengalir seperti air.” Av menyentuh pundakku, terasa hangat. Itu salah satu kekuatan Av. Selain bisa menyembuhkan, Av bisa memberikan rasa tenang, fokus.

Aku mengangguk, mengangkat buku itu lebih tinggi.

Sebelum aku sempat menyadarinya, buku cokelat dengan bulan sabit di sampul buku terlihat mengeluarkan cahaya indah. Seakan ada bulan purnama dalam genggamanku. Mama dan papa Seli berseru takjub. Ali seperti biasa memperhatikan dengan wajah antusias. Belum genap cahaya itu menimpa wajah-wajah kami, buku itu seperti bicara padaku, merambat lewat telapak tanganku. Aku bisa mendengarnya. Dia bertanya lembut, ”Kamu hendak ke mana, Putri?”

Aku menjawabnya dengan suara bergetar, ”Klan Matahari.” ”Perintah dilaksanakan, Putri.”

Persis saat kalimat itu bicara dengan cara menjalar di tanganku, dari buku PR matematika keluar cahaya merah seperti nyala api, jatuh di atas lantai ruang makan rumah Seli. Nyala api itu perlahan membuat sebuah lingkaran, semakin lama semakin membesar. Aku menahan napas. Av tersenyum, berseru pelan, ”Bagus sekali, Nak. Kamu berhasil membukanya.”

Sebuah portal ke dunia lain telah terbuka. Ukurannya setinggi orang dewasa.

”Kita berangkat sekarang. Ali, kamu duluan,” Miss Selena berseru.

Tanpa perlu disuruh dua kali Ali mengencangkan ranselnya di punggung, melompat melewati portal tersebut. Dia bahkan sama sekali tidak cemas akan mendarat ke mana, dan seperti apa perjalanan yang akan ditemuinya saat melintasi portal. Tubuhnya lenyap dengan cepat. Ily menyusul, dengan pakaian serbahitam yang dia kenakan, melangkah melintasi portal. Av menyusul, menyipitkan sebelah matanya kepadaku. ”Sampai bertemu beberapa detik lagi di Klan Matahari, Ra.” Sosok putih Av menghilang di balik portal.

Seli, dengan membawa koper-koper, mendapat giliran berikutnya. Dia melambaikan tangan ke arah mama dan papanya, berpamitan. Mama Seli menyeka ujung matanya, balas melambai, terharu melepas Seli pergi ke tanah leluhur mereka. Andai saja Miss Selena mengizinkan, mama Seli ingin sekali ikut serta, tapi karena perjalanan itu bisa jadi berbahaya, Miss Selena melarangnya.

”Kamu masuk setelahku, Ra. Agar kamu bisa menutup portalnya,” Miss Selena memastikan.

Aku mengangguk, menatap punggung Miss Selena hilang.

Aku menoleh ke arah mama Seli. Tinggal aku di ruang makan itu.

”Selamat jalan, Ra. Hati-hati di jalan.” Mama Seli tersenyum padaku.

Aku mengangguk, menggenggam buku PR matematikaku erat-erat, kemudian loncat ke dalam portal berbentuk lingkaran nyala api itu. Portal itu langsung menutup saat aku melewatinya. Tubuhku seperti terseret arus besar, sekitarku gelap, terenyak dengan cepat. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊