menu

Bulan Bab 04

Mode Malam
Bab 04
SUARA ketukan sepatu terdengar semakin dekat di lorong.

Ali ikut memperbaiki posisi duduknya. Guru BK kami, Bu Wiwi, adalah guru paling ditakuti di sekolah. Dia sangat disiplin dan amat tegas. Jangan coba-coba membuat kesalahan serius saat bertemu dengannya, atau besok dia akan memanggil orangtua kami. Belum lagi rentetan hukuman lain yang siap menyusul.

Pintu ruangan dengan gorden berwana hijau itu didorong.

Aku menelan ludah, berusaha terlihat santai. ”Selamat siang, Ra, Seli, Ali.”

Itu bukan suara Bu Wiwi, itu suara lain yang amat kami kenal.

”MISS KERITING!” Bahkan Ali berseru—hingga lupa bahwa dia ”keliru” memanggil nama. Aku menyikutnya. Murid-murid menggunakan nama ”Miss Keriting” jika kami membicarakannya di belakang. Kami tidak pernah menggunakan nama itu di depan Miss Selena langsung.

”Eh, maaf, Miss Selena.” Ali menelan ludah.

”Tidak apa, Ali.” Miss Selena tersenyum. ”Aku tahu kalian lebih suka menyebutku demikian.”

Ali jadi salah tingkah.

”Kalian merindukanku?” Miss Selena bertanya, senyumnya semakin lebar.

Kami bertiga mengangguk serempak. Seli bahkan menyeka ujung matanya.

”Kamu ingin memelukku, Seli?” Miss Selena membentangkan tangan.

Tanpa diminta dua kali, Seli sudah berdiri memeluk Miss Selena. Aku juga melangkah mendekat, ikut memeluknya. Kami sungguh tidak menduga. Setelah hampir enam bulan tidak ada kabar, setelah enam bulan berjalan lambat, hari ini, Miss Selena muncul begitu saja di hadapan kami—gaya khasnya yang selalu datang tidak diduga-duga. Dia datang dengan penampilan biasa saat mengajar, bukan dengan pakaian Klan Bulan. Kemeja dan rok sebetis berwarna gelap. Terlihat anggun, elegan. Rambut keritingnya tergerai di pundak.

”Apa kabarmu, Ali?” Miss Selena menoleh. ”Eh, baik, Miss.”

”Tidak ada yang kamu ledakkan selama enam bulan terakhir, bukan? Atau sudah berapa banyak guru-guru yang kamu ajak bertengkar?” Miss Selena tersenyum.

Ali menggaruk rambut berantakannya, tidak menjawab. Ditilik dari wajahnya, meski Ali tetap seolah tidak peduli, jelas sekali Ali senang melihat Miss Selena. Si biang kerok ini ternyata juga mengenal kosakata ”rindu”. Aku kira dia kebal dengan hal begini.

”Di mana Bu Wiwi?” Seli bertanya.

”Dia sedang cuti hari ini, Seli. Aku yang meminta salah satu murid memanggil kalian ke sini. Tidak ada ruangan kosong. Jadi, aku meminjam ruangan guru BK. Maaf membuat kalian menunggu. Tadi aku sempat bertemu dengan Kepala Sekolah dan Pak Gun, jadi tertahan sejenak,” Miss Selena menjelaskan. ”Kamu tidak usah khawatir soal Pak Gun. Dia hanya menganggap kalimat itu imajinasi remaja. Tidak akan ada yang meminta Seli mengeluarkan petir di kelas.”

Kami tertawa kecil dengan gurauan Miss Selena.

Aku mendongak, menatap wajah Miss Selena lebih dekat. Wajah itu terlihat seperti dulu, garis wajah tegas, bola mata hitam terang. Tapi Miss Selena terlihat lelah, mungkin dia habis melakukan perjalanan jauh.

Miss Selena beranjak duduk di kursi, meminta kami juga ikut duduk.

”Aku minta maaf telah meninggalkan kalian tanpa kabar selama enam bulan. Aku tidak punya pilihan. Av memintaku bergegas menemui banyak orang, mengumpulkan informasi. Aku mengelilingi hampir seluruh Klan Bulan. Ke tempat-tempat yang bahkan jarang sekali dikunjungi manusia. Perjalanan berat.”

Saat kami bercakap-cakap, di luar gerimis mulai deras. Suara lonceng terdengar nyaring, tanda istirahat kedua telah berakhir. Murid-murid bergegas berlarian masuk ke kelas masing-masing.

”Nah, terkait perjalanan itu, ada dua kabar yang hendak kusampaikan.”

Aku, Seli, dan Ali memperhatikan penuh Miss Keriting yang bersiap menjelaskan.

”Yang pertama, kabar baiknya, sejauh ini tidak ada tandatanda Tamus bisa lolos dari petak penjara Bayangan di Bawah Bayangan, meskipun dia membawa Buku Kematian. Aku mengamati banyak tempat karena dia punya banyak anak buah dan mata-mata. Tapi sejak pemimpin mereka dipenjara, mereka berhenti melakukan aktivitas. Termasuk aktivitas di Klan Bumi. Oh iya, apakah ada sesuatu yang aneh mengikuti kalian selama enam bulan terakhir?”

Sesuatu yang aneh? Sepertinya tidak ada. Aku dan Seli menggeleng.

”Maksudku, seperti Tamus yang dulu mengikuti Raib?” Miss Selena bertanya lagi.

”Tidak ada, Miss. Aku bisa memastikannya,” Ali menjawab mantap.

”Bagaimana kamu memastikannya, Ali?” Miss Selena menoleh ke bangku Ali, tertarik. Ali mengeluarkan sebuah alat berbentuk remote control dari dalam tas. ”Butuh berkali-kali mengetes alat ini, tapi aku yakin deteksi Klan Bulan-ku bekerja dengan baik. Lewat alat ini aku bisa memastikan tidak ada manusia Klan Bulan yang mengikuti kami.”

”Tes berkali-kali? Bagaimana kamu melakukannya?” Kali ini giliranku yang menoleh, menyelidik. Bukankah selama ini aku menolak menghilang di hadapannya? Bagaimana si biang kerok ini mengetes alatnya?

”Eh, maafkan aku, Ra.” Ali nyengir sambil menggaruk rambutnya yang berantakan. ”Kamu tidak pernah mau menghilang saat aku minta. Jadi, aku terpaksa menyelundupkan alat ini di tasmu. Benda ini bekerja baik ketika malammalam kamu sendirian di kamar dan mencoba menghilang, atau mencoba menghilangkan dua jerawat besar itu. Aku bisa membaca hasilnya dari jauh, menumpang jaringan lokal nirkabel sederhana.”

Eh? Apa yang Ali bilang? Dia menyelundupkan alat itu ke kamarku?

”Berani-beraninya! Kamu, hah!” Aku sudah lompat, hendak merampas alat itu dari tangan Ali.

”Hei. Aku hanya mengetes alatku, Ra. Tidak lebih tidak kurang.”

”Omong kosong! Kamu pasti melakukan hal lain,” aku menghardik Ali.

”Hei, hei, Ra! Aku hanya mengetes alatku. Cara kerjanya sederhana. Ini bukan kamera. Benda ini hanya mengirimkan sinyal tertentu secara teratur, yang memantul ke dinding, meja, kursi, dan jika menabrak dimensi tidak lazim, pantulan ganjilnya akan memberitahukan ada sesuatu yang tidak normal di sekitar kita. Aku tidak bisa mengintip kamu di dalam kamar. Apalagi mengintip kamu mandi. Sumpah!” Ali berusaha membela diri.

Wajahku merah padam. Aku tersengal, hampir meninju si biang kerok ini. Dulu dia juga memasukkan kamera dan penyadap kecil berbentuk bolpoin ke dalam tasku, mematamataiku, sekarang lebih serius lagi. Aku dijadikan kelinci percobaan alat-alatnya. Aku tidak akan percaya padanya.

Seli di sebelah kami tertawa kecil, mengangkat bahu melihat pertengkaran kami. ”Kalian terlihat serasi sekali lho, jika sedang bertengkar.”

”Jangan ikut campur, Sel!” aku berseru ketus, melotot pada Seli. Tanganku masih berusaha merebut alat itu. Ali terus berusaha bertahan di atas bangkunya.

”Sudah, Ra. Berhenti.” Miss Selena akhirnya melerai. Gerakan tanganku terhenti sejenak.

”Raib berubah jadi pemarah sekali sejak pulang dari Klan Bulan, Miss.... Maksudku, dia memang cerewet aslinya, tapi sekarang lebih cerewet lagi. Mudah sekali marah.” Ali tertawa, berhasil mengamankan alatnya.

Aku melotot kepada Ali. Tanganku siap terangkat lagi. ”Tanyakan saja kepada Seli kalau tidak percaya. Bukan-

kah begitu?” Ali menoleh.

Seli mengangguk. Tertawa. Aku tidak percaya apa yang kulihat. Hah? Sejak kapan Seli satu pendapat dengan Ali? Dan itu membahas tentang aku?

”Sudah, Ra. Cukup,” Miss Selena berkata pelan. ”Bisa aku melihat alat itu, Ali?”

Ali menjulurkan ”remote control” dari tangannya. Sejenak kami berhenti bertengkar.

”Kamu selalu pintar seperti biasanya, Ali.” Miss Selena mengembalikan alat itu setelah memeriksanya. ”Semoga saja saat ulangan semester kamu lebih serius mengerjakannya. Cukup sepuluh persen lebih serius, aku pikir kamu bisa juara umum. Atau aku akan kesulitan mencari penjelasan kepada Kepala Sekolah agar kamu tetap diizinkan naik kelas.”

Wajah Ali terlihat senang dipuji Miss Selena.

”Aku pikir Raib tetap seperti Raib yang dulu, selalu baik hati. Dia tidak bertambah cerewet.” Miss Selena menoleh kepadaku. ”Hanya saja, dia mungkin banyak pertanyaan. Pertanyaan yang belum ada jawabannya. Tentang orangtua aslinya. Bukankah begitu, Ra?”

Ruangan bergorden hijau itu menjadi lengang. Wajah Ali yang nyengir dan Seli yang masih tertawa terhenti, mereka menatapku.

”Selama perjalanan enam bulan terakhir, aku juga mencari tahu tentang orangtuamu, Ra,” Miss Selena berkata pelan, ”tapi tidak ada kemajuan. Hanya informasi yang kamu juga sudah tahu, orangtuamu meninggal saat kecelakaan pesawat. Kamu dititipkan ke orangtuamu sekarang sebelum mereka berangkat. Ada banyak sekali pertanyaan, kenapa orangtuamu bepergian dengan pesawat terbang? Mereka bukan penduduk biasa Klan Bulan yang membutuhkan kendaraan. Mereka keturunan langsung si Tanpa Mahkota, pasti sedikit-banyak mewarisi kekuatan itu. Lantas hendak ke mana mereka pergi? Menemui siapa? Atau lari dari apa? Kamu masih berusia dua minggu saat dititipkan, masih merah. Ditinggal pergi tanpa penjelasan apa pun.

”Entahlah, aku tidak tahu apakah kecelakaan pesawat bisa menewaskan orangtuamu. Aku juga tidak tahu siapa nama mereka. Apakah hanya ayahmu atau ibumu, atau kedua-duanya yang keturunan penduduk Klan Bulan? Terlalu banyak tameng misteri yang menutupi garis keturunan si Tanpa Mahkota ketika diungsikan ke Klan Bumi dua ribu tahun  lalu,  yang  bahkan  ‘pengintai’  sepertiku  pun  tidak tahu. Tameng misteri itu sebenarnya dibuat agar kalian aman dari kejaran siapa pun.”

Aku menunduk, diam. Jika Miss Selena tidak punya penjelasan, kepada siapa lagi aku bisa bertanya? Miss Selena benar, enam bulan terakhir, soal ini membuatku jadi sangat sensitif. Aku mudah sekali marah, tersinggung, atau cerewet atas hal-hal kecil. Seli menyentuh pundakku, memelukku dari samping. Aku menatapnya. Seli tersenyum tulus menyemangati.

”Tapi setidaknya aku bisa memastikan satu hal, Ra,” Miss Selena berkata lembut. Aku mendongak, menatap wajah Miss Selena.

”Ibumu pastilah secantik kamu, Ra. Dengan rambut hitam legam panjang terurai, hidung mancung yang indah. Sedangkan ayahmu, ya, dari dialah sepertinya kamu mewarisi mata hitam cemerlang itu. Juga garis wajah yang sangat memesona. Semua kekuatan yang kamu miliki, itu kamu warisi dari seluruh leluhurmu di Klan Bulan.” Miss Selena tersenyum.

Aku menunduk lagi, berkata lirih, ”Terima kasih, Miss.” Hujan semakin deras di lapangan sekolah.

”Nah, sekarang kita tiba di bagian kabar buruknya, kabar kedua.”

Ali justru terlihat semangat—aduh, si genius ini selalu saja menganggap hal seperti ini menyenangkan.

”Suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, Tamus telanjur dalam sekali menyiapkan rencana mengembalikan si Tanpa Mahkota, untuk menguasai Klan Bulan. Ibarat pohon, akar-akarnya sudah menghunjam ke mana-mana, hingga bagian paling jauh yang tidak terpikirkan. Tamus tidak hanya menguasai sebagian besar Pasukan Bayangan atau Akademi, dia juga menguasai fraksi lain di seluruh Klan Bulan. Aku menemui banyak orang, mengunjungi banyak tempat, hampir semua dari mereka telah ditemui Tamus. Pertemuan mengerikan. Tamus mengancam, membunuh, juga menawarkan hadiah besar, menjanjikan kekuasaan dan materi. Dia menggunakan banyak cara agar memiliki banyak pengikut setia. ”Sejauh ini pendukung Tamus memilih menunggu, setelah gagalnya rencana Tamus di Perpustakaan Sentral. Tapi saat Tamus muncul kembali, perang besar tidak terelakkan. Aku bicara dengan Av dan Tog, kami harus menyiapkan rencana sebelum itu terjadi. Kami harus menyatukan kembali berbagai fraksi di Klan Bulan. Dan yang lebih penting lagi, memberitahu sekutu lama kita, Klan Matahari, tentang kembalinya Tamus. Perang ini akan menyebar ke dunia-dunia lain, dengan sejarah panjang dua ribu tahun lalu. Target pertama Tamus setelah Klan Bulan pastilah Klan Matahari. Jika mereka menolak bersekutu, setidaknya mereka berhak menerima peringatan dari kita.”

Miss Selena diam sebentar. Aku dan Seli terus menyimak, meskipun separuh dari penjelasan Miss Selena tidak terlalu aku pahami. Hanya Ali yang terlihat seperti mengerti semuanya.

”Dua hari lalu, sekembali dari perjalanan ini, saat bicara dengan Tog dan beberapa anggota Dewan Kota, Av memutuskan membuka kembali portal ke Klan Matahari. Dia akan menemui pemimpin Klan Matahari. Dia masih memiliki teman di klan itu, anak sahabat-sahabat lamanya saat perang besar dua ribu tahun lalu.”

”Membuka portal ke Klan Matahari?” Seli memastikan. ”Iya. Tanah leluhurmu, Seli.”

”Apakah kami bisa ikut pergi ke sana?” Ali berseru antusias.

Miss Selena tertawa, sejenak wajahnya yang lelah terlihat bercahaya, lebih segar. ”Aku sudah mengira kamu pasti akan bertanya hal itu, Ali.”

”Apakah kami bisa ikut, Miss Selena?” Ali menunggu tidak sabaran.

”Terus terang, aku tidak ingin melibatkan kalian dalam banyak hal. Beberapa tahun lalu, ketika melakukan pengintaian di kota ini, mengetahui kalian bertiga spesial, aku hanya ingin mengumpulkan kalian agar menjadi teman dekat satu sama lain. Bahwa manusia dari berbagai klan bisa hidup bersahabat, saling menghormati dan saling membantu. Aku tidak punya rencana lain hingga kalian justru tersesat ke Klan Bulan, dan Tamus mengejar kalian.

”Tapi Av dan Tog punya pendapat lain. Kalian sudah terlibat dalam pertempuran di Perpustakaan Sentral. Dan aku akhirnya mengetahui Raib memiliki bagian penting dalam seluruh kejadian. Jadi, Av memutuskan, delegasi pertama yang pergi ke Klan Matahari menyertakan Raib.”

”Hanya Raib yang boleh ikut?” Ali bertanya cemas. Miss Selena tersenyum. ”Setelah perjalanan ke Klan

Bulan, rasa-rasanya tidak mungkin memisahkan kalian bertiga, bukan?”

”Yes!” Ali mengepalkan tinjunya, berseru riang.

Aku dan Seli saling tatap. Pergi ke Klan Matahari?

”Itu bukan kunjungan mudah, Ali. Kita tidak sedang pergi berwisata. Kita melakukan diplomasi antar dunia paralel. Kita tidak pernah tahu seperti apa tanggapan pemimpin Klan Matahari. Dulu mereka yang memutuskan menutup portal, menguncinya ribuan tahun, agar terhindar dari kekacauan perang. Klan mereka tidak menyukai orang asing, apalagi penduduk Klan Bulan. Diplomasi itu bisa gagal total dan berakhir buruk.”

Sepertinya Ali mengabaikan kalimat-kalimat Miss Selena, dia tetap terlihat riang atas prospek perjalanan ke Klan Matahari.

”Kapan kita berangkat, Miss? Besok?” Ali bertanya. ”Dua minggu dari sekarang. Itu waktu yang tepat. Kalian

telah menyelesaikan ujian semester. Aku sudah meminta izin kepada Kepala Sekolah agar kalian libur lebih dulu. Aku juga sudah menyiapkan penjelasan yang baik, terutama untuk orangtua Raib. Mama Seli bisa membantu menjelaskan. Kamu dan Raib seolah-olah ikut berlibur bersama keluarga Seli ke luar kota selama dua minggu. Omongomong, bagaimana kabar mama-papa angkatmu, Raib?” Miss Selena bertanya padaku.

”Baik, Miss,” aku menjawab pendek.

”Bagus. Kamu bisa memberitahukan rencana perjalanan ini sepulang dari sekolah. Pastikan mereka mengizinkanmu. Aku juga akan bicara pada mama Seli agar dia menelepon atau mengunjungi rumah Raib, memastikan liburan itu atas rencana mereka. Dan kamu, Ali, kamu juga harus bicara pada orangtuamu...”

”Mereka tidak peduli aku pergi ke mana, Miss. Mereka bahkan senang jika aku pergi dari rumah, setidaknya tidak ada orang yang harus diteriaki,” Ali menjawab cepat. Miss Keriting mengangguk, masih menjelaskan beberapa hal lagi dengan cepat. Entahlah, apakah aku senang atau tidak dengan perjalanan ini. Mengingat perjalanan terakhir kami di Klan Bulan, kami harus kejar-kejaran di lorong kereta kapsul, tersesat di hutan lebat, bertempur dengan Tamus di Perpustakaan Sentral.

”Baik, kalian bertiga bisa kembali ke kelas sekarang. Aku harus pergi, masih ada beberapa pekerjaan kecil yang harus kuselesaikan.”

”Miss Selena tidak kembali mengajar kami?”

”Guru matematika kalian masih cuti, Seli, hingga tahun ajaran baru.” Miss Selena tersenyum kecil.

”Selamat tinggal, anak-anak. Sampai bertemu dua minggu lagi di rumah Seli. Persiapkan keperluan kalian dengan baik. Kita akan melakukan perjalanan jauh mengunjungi Klan Matahari.”  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊