menu

Bulan Bab 03

Mode Malam
Bab 03
SEJAK hari itu kami kembali ke sekolah, kembali ke kesibukan seperti sedia kala.

Aku, Seli, dan Ali beberapa kali menonton perbaikan gardu trafo di belakang sekolah—bersama murid-murid lain. Kami menguping percakapan para insinyur yang bersitegang ke mana tiang listrik itu menghilang. Satu-dua bilang tiang listrik itu hancur lebur menjadi bongkahan semen. Ada banyak bongkahan yang berserakan. Aku dan Seli saling tatap. ”Mereka tidak tahu kalau tiang listrik itu jadi monumen menarik di tengah hutan lebat Klan Bulan.” Ali tertawa kecil.

Masih musim hujan, gerimis turun membasuh kota kami. Di sini tidak ada lorong berpindah yang canggih itu. Aku harus menumpang mobil Papa setiap kali berangkat sekolah, dan naik angkutan umum pulangnya. Papa masih sibuk dengan mesin pencacah raksasa yang rusak di pabrik. Tapi sejak aku pulang, dia tidak pernah membahasnya lagi secara langsung. Papa terlihat riang. Sedangkan Mama seperti biasa selalu seru dan asyik diajak bicara. Entah mereka menyadarinya atau tidak, aku kadang tercekat ketika bicara dengan mereka, tiba-tiba melintas di kepalaku kesadaran bahwa mereka bukan orangtua asliku.

”Kamu tidak perlu membahasnya sekarang, Ra,” saran Seli suatu saat, ”lebih baik menunggu Miss Selena pulang.”

Aku mengangguk. Sebenarnya aku juga tidak berani menanyakannya. Aku bahkan takut mendengar jawabannya. Seminggu setelah kembali, aku sempat memecahkan gelas. Pecahan belingnya mengenai kakiku. Mama bergegas mengambil plester dan obat. Dia mengecup keningku saat selesai membebat lembut betisku—kebiasaan Mama sejak aku balita—dan berkata bahwa lukanya akan segera sembuh. Aku hampir menangis menatap wajah Mama. Lihatlah, bagaimana mungkin Mama bukan orangtua asliku. Mama merawatku dengan penuh kasih sayang. Bahkan urusan luka kecil saja dia penuh perhatian.

”Orangtuamu tewas saat kecelakaan pesawat terbang. Itu sudah jelas. Tamus bilang begitu, bukan?” kata Ali datar, dalam kesempatan lain saat kami membahasnya.

”Kamu tidak perlu menyebut nama sosok seram itu, Ali.” Seli keberatan.

”Kenapa tidak? Dia sudah tersesat di petak penjara Bayangan di Bawah Bayangan. Mungkin dia sekarang sedang menghabiskan waktu bermain catur dengan si Tanpa Mahkota, si seram nomor satu dari seluruh klan.” Ali tidak peduli, bahkan menyebut nama berikutnya.

”Kamu selalu saja merusak suasana,” Seli bersungutsungut, lalu mengajakku meninggalkan Ali sendirian di dalam kelas.

Minggu-minggu berlalu cepat, pelajaran di sekolah semakin banyak, juga PR dan tugas-tugas. Sejauh ini aku dan Seli mematuhi perintah Miss Keriting, tidak pernah membahas tentang Klan Bulan, apalagi tentang kekuatan itu. Kami ikut ekskul Klub Buku, main basket, apa pun yang normal dilakukan remaja. Tapi Ali, dia selalu saja tidak sabaran membicarakannya. Empat minggu sejak Miss Selena pergi, dia bahkan mulai memintaku dan Seli menunjukkan kekuatan tersebut.

”Aku sedang meneliti banyak hal, Ra!” Ali berseru, kecewa dengan penolakanku, memperlihatkan peralatan yang dia bawa dari rumah. Kelas sedang lengang. Murid lain asyik nongkrong di kantin, di lorong, atau bermain basket di lapangan saat istirahat pertama.

”Miss Selena melarang kita...”

”Miss Keriting memang melarang jika kita pamer, atau melakukannya tanpa tujuan. Tapi ini untuk penelitian. Lihat, ini untuk menyempurnakan alat deteksiku, agar aku tahu jika ada orang dari Klan Bulan di sekitar kita. Siapa tahu mereka mengintai. Kamu cukup menutupkan telapak tangan di wajah, menghilang. Lima detik. Aku bisa mengetes alatnya. Dan ini alat penetralisir petir. Aku tidak mau disambar petir jika suatu saat berkunjung ke Klan Matahari. Kamu cukup mengeluarkan petir kecil saja, Seli, dan aku tahu seberapa efektif alat ini bekerja.”

Aku dan Seli menggeleng tegas. Miss Selena melarang kami. Aku tahu Ali memang genius. Dia sejak dulu membuat benda-benda aneh yang tidak kumengerti yang mungkin ada manfaatnya, tapi aku tidak mau melakukannya.

”Kalian selalu menjengkelkan! Aku membuat alat-alat ini sampai tidak tidur semalaman,” Ali berseru ketus, memasukkan peralatannya ke dalam tas. ”Baiklah. Semoga kalian tidak menyesal besok lusa telah menolak permintaan hina dari manusia Klan Bumi yang rendah ini. Alat-alat ini akan berguna buat kalian kelak.”

Ali melangkah sebal ke luar kelas.

Sebenarnya, aku mungkin bertindak tidak adil pada Ali. Karena diam-diam, saat di kamar, sebelum tidur, aku masih sering menggunakan kekuatanku. Aku tidak lagi perlu menutupkan telapak tangan di wajah untuk menghilang. Aku cukup memikirkan agar aku menghilang, konsentrasi, perintah itu dengan cepat membuat tubuhku tidak terlihat lagi. Persis seperti bunglon yang menyesuaikan diri dengan sekitarnya. Bedanya, bunglon hanya mengubah warna tubuhnya, fisiknya masih ada di sana. Sedangkan tubuhku sempurna hilang, seolah tidak ada lagi di ruang kamar. Seperti ada dimensi lain yang terbuka, tubuhku bisa menatap sekitar dari dimensi itu. Aku juga sukses menghilangkan dua jerawat besar di dahi—jerawat itu selalu muncul jika aku banyak pikiran.

Aku juga diam-diam memeriksa buku PR matematikaku. Buku tulis biasa itu sekarang berubah menjadi buku tua kusam kecokelatan yang sudut-sudutnya dimakan rayap. Av pernah bilang, Buku Kehidupan ini adalah harta paling berharga peradaban Klan Bulan—selain Buku Kematian yang terbawa oleh Tamus ke petak penjara Bayangan di Bawah Bayangan. Aku diminta menjaganya sepenuh hati. Ditemani si Putih—yang meringkuk di pangkuanku—aku berkali-kali memeriksanya. Aku bisa membuat buku kusam ini berubah menjadi mengesankan, mengeluarkan cahaya seperti purnama, tapi sisanya kosong. Aku tetap tidak bisa membaca apa pun halaman kosong di dalamnya. Berjamjam aku terus memeriksa, tapi kemudian menyerah, memasukkan buku itu ke dalam tas, dan beranjak tidur.

Tiga bulan berlalu, Ali semakin sering bicara tentang Miss Selena yang tidak kunjung datang. Ali membuat lebih banyak benda-benda aneh, dan kami dijadikan bahan percobaan. Kadang dia memulainya dengan mengajak kami membicarakan Ilo, Vey, dan Ou, apa kabar mereka sekarang. Percakapan yang menyenangkan—selalu asyik membahas keluarga Ilo. Hanya saja kemudian Ali meminta kami menggunakan kekuatan, lantas menggerutu jika aku dan Seli menolaknya. Aku lebih sering bertengkar dengan Ali saat sedang duduk bersama di kantin, di kelas, di lapangan, dan di mana-mana. Si genius ini selalu mencari gara-gara sejak dulu. Bukan dia saja yang penasaran dengan banyak hal. Kalau Ali merasa memiliki banyak pertanyaan, aku jelas lebih banyak lagi, tapi Miss Selena menyuruh kami menunggu.

Di antara kami bertiga, hanya Seli yang punya tempat bertanya. Mamanya yang dokter bedah itu bisa menjawab beberapa pertanyaan Seli. Aku dan Ali beberapa kali juga sempat bercakap-cakap dengannya saat berkunjung. Setelah dua ribu tahun sejak migrasi penduduk antar dunia paralel itu, sebenarnya tidak banyak yang diketahui mama Seli. Dia hanya menerima kisah yang diwariskan diam-diam oleh kakek-kakeknya.

”Dunia Klan Matahari adalah dunia dataran tinggi. Jika kota Klan Bumi tinggal di permukaan tanah, Klan Bulan di bawah tanah, kota Klan Matahari berada di antara awan-awan, mega-mega, dan di lereng gunung-gunung megah. Dunia ini memiliki hewan-hewan menakjubkan. Ada singa raksasa, jerapah bertanduk, lebah seukuran kepalan tangan. Dunia ini juga berteknologi paling maju di antara yang lain.” Mama Seli dengan semangat mulai menjelaskan. Tapi setelah kalimat-kalimat pembuka yang menarik itu, mama Seli terdiam—ternyata hanya itu yang dia ketahui. Kemudian kami lebih banyak menghabiskan waktu membahas kekuatan yang dimiliki mama Seli dan pekerjaannya sebagai dokter. ”Dalam kondisi darurat, Mama bisa menggunakan sengatan listrik dari telapak tangan kepada pasien. Itu amat efektif jika ada pasien gagal jantung dibanding menggunakan peralatan medis. Kemampuannya memulihkan detak jantung nyaris sembilan puluh sembilan persen. Tapi hanya bisa Mama gunakan diam-diam, jika perawat atau dokter lain tidak sempat memperhatikan.” Mama Seli kembali semangat bercerita.

Ali dan Seli antusias menyimak. Beberapa kali Ali terlibat percakapan akademis tentang dunia kedokteran— entah dari mana, si genius ini sepertinya juga tahu banyak soal ilmu medis. Aku hanya mendengarkan lamat-lamat. Apakah orangtuaku juga memiliki kemampuan Klan Bulan? Apakah mereka bisa menghilang? Bisa bertarung seperti Tog, Panglima Timur? Bisa mengetahui banyak hal, pengintai hebat seperti Miss Selena? Bisa mengobati seperti Av? Atau hanya manusia biasa Klan Bulan seperti Ilo, Vey, dan Ou?

”Oh iya, apa yang dimaksud Selena, guru matematikamu, tentang putri itu, Ra?” Mama Seli memotong lamunanku, bertanya dengan amat tertarik—pertanyaan yang selalu dia tanyakan kemudian.

Aku yang tersadarkan dari lamunan bergegas menggeleng. ”Aku tidak tahu, Tante.”

”Apakah kamu putri seperti dongeng-dongeng itu? Eh, maksud Tante, kamu Putri Klan Bulan?” Mama Seli mendesak. Aku menggeleng. ”Aku sungguh tidak tahu. Maaf mengecewakan, Tante. Hanya Miss Selena yang bisa menjelaskannya.”

Mama Seli menghela napas, kecewa.

Dua bulan berlalu lagi dengan cepat. Dalam berbagai kesempatan Ali hampir saja bicara di depan orang lain tentang perjalanan kami ke Klan Bulan. Dia tidak melakukannya dengan sengaja, belum. Tapi dengan peralatan yang dia bawa, mendesakku dan Seli, itu berbahaya, karena bagaimana mungkin Seli tiba-tiba diminta mengeluarkan petir di tengah kantin, ketika puluhan murid lain sedang makan bakso atau somai? Ali semakin tidak sabaran soal kapan kembalinya Miss Keriting. Dia terus mengungkit.

Musim hujan sudah tiba di pengujung. Kami sebentar lagi juga akan ujian akhir semester. Dan akhirnya, hari ini, pagi tadi, Ali benar-benar bertingkah di luar batas. Dia mengajak Pak Gun bertengkar soal belut listrik, kemudian berseru bahwa Seli bisa mengeluarkan petir.

Perkara yang akhirnya membuat kami dipanggil guru BK. Kami menunggu di ruang bergorden hijau yang justru dihindari murid-murid satu sekolah, duduk di ”kursi pesakitan”, menghadap ”meja pengadilan”.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊